Connect with us

Kolom

Baik dan Buruk

mm

Published

on

Oleh: Ignas Kleden

Memang harus dikatakan bahwa kontradiksi adalah suatu pengertian filsafat pengetahuan dan bukan suatu pengertian filsafat keindahan. Dalam pengetahuan diandaikan bahwa kita bisa menetapkan salah benarnya suatu pengetahuan, berdasarkan criteria-kriteria yang telah disepakati bersama, sekalipun criteria itu bersifat sementara. Dalam filsafat keindahan atau estetika, kontradiksi tidak dimungkinkan, karena de gustibus non est disputandum (tidak mungkin kita berdebat tentang selera). Sudah jelas bahwa baik dalam ilmu pengetahuan maupun dalam kesenian selalu terdapat subyektivitas. Namun, sementara ilmu menuntut agar subyektivitas itu dikontrol dan dibatasi, seni membiarkan subyektiitas itu berkembang dan bahkan digalakkan. Tidak mungkin mendapatkan kontradiksi antara indah dan tidak indah, seperti halnya kontradiksi di antara benar dan tidak benar (kontradiksi epistemologis) atau antara ada dan tidak ada (kontradiksi ontologism).

Selama dua millennium, filsafat etika masih juga berdebat tentang satu masalah yang sama, yaitu apakah etika itu berurusan dengan soal baik dan buruk (etika teleologis) atau berurusan dengan soal benar dan salah (etika deontologist). Pertimbangan tentang baik dan buruk selalu didasarkan pada sesuai tidaknya suatu tindakan dengan tujuan.Eduard Spranger, psikolog yang menjadi rujukan dan pujaan Sutan Takdir Alisjahbana, akan mengatakan bahwa tujuan setiap orang masih akan ditentukan oleh tipologinya. Untuk seorang homo oeconomicus, baik adalah tindakan yang mendatangkan kerugian. Sebaliknya, seorang homo politicus akan melihat suatu tindakan menjadi barik kalau mendatangkan kekuasaan, dan buruk kalau membuat kekuasaan berkurang atau hilang sama sekali. Kritik umum terhadap etika teleologis bahwa dia pada dasarnya bersifat terlalu pragmatis atau serba ontologism (misalnya, bahwa baik adalah tindakan yang sessuai dengan kodrat manusia).

Etika deontologist menunjukkan peranan manusia dalam menetapkan apa yang dianggap sebagai benar dan salah (bukan berdasarkan tujuan yang bersifat pragmatis atau  ontologism, tetapi berdasarkan persetjujuan dan ksnsensus bersama). Hukum positif adalah contoh suatu etika deotologis. Mengatakan hahwa negara RI merupakan negara hukum adalah menerima bahwa kehidupan bersama dalam negara ini didasarkan pada berbagai peraturan yang telah ditetapkan berdasarkan persetujuan bersama dank arena itu mengikat semua yang terlibat dalam persetujuan tersebut. Etika ini mempunyai dua kelebihan. Pertama, memberi peran aktif kepada anggota masyarakat untuk menetapkan sendiri apa yang benar dan salah berdasarkan criteria yang disepakati. Kedua, antara benar dan salah dimungkinkan munculnya kontradiksi yang tegas dan jelas. Tidak mungkin perbuatan membunuh orang yang berbeda pendirian politik itu sekalgus benar dan salah. Sebaliknya, secara teleologis, membunuh orang mungkin sesuatu yang baik karena dapat mengurangi kepadatan penduduk misalnya.

Debat teoritis itu kedengarannya amat mengawang, tetapi mempunyai konsekuensi yang amat konkret untuk kehidupan politik dalam suatu negara hukum seperti Indonesia. Kalau mengadili mantan Presiden Soeharto dianggap tindakan yang tidak baik karena membahayakan integrasi bangsa atau tidak menghormati orang tua yang sakit-sakitan, kita terjebak lagi dalam etika teleologis yang pragmatis. Dengan pragmatism seperti ini tidak bisa diputuskan apakah mengadili mantan Presiden Soeharto sesuatu yang baik atau buruk. Masalahnya, baik dan buruk selalu tergantung dari suatu tujuan, sedangkan selalu bisa diciptakan tujuan baru untuk membuat tindakan kita menjadi baik karena sesuai dengan tujuan baru tersebut.

Demikian pun kalau hukum didasarkan kepada etika teleologis ini maka asas hukum positif justru menjadi kabur. Sistem hukum positif baru efektif kalau kontradiksi antara salah dan benarnya suatu tindakan dibuat sejelas-jelasnya secara normative, sekalipun dalam penerapannya perlu memperhitungkan sikumstansi empiris di mana suatu tindakan dilakukan. Pada titik itu terjadi pertarungan antara suatu peristiwa politik dan peristiwa hukum. Moralitas politik adalah moralitas telelogis yang bergantung pada tujuan suatu perbuatan. Moralitas hukum merupakan moral deontologist, yang bergantung pada peraturan hukum yang telah disepakati bersama. Dalam politik kontradiksi menjadi tidak jelas, karena tujuan selalu bisa diubah sehingga suatu tindakan dapat dibenarkan berdasarkan kesesuaiannya dengan tujuan baru itu. Dalam hukum peraturan yang berlaku tak dapat diubah sesuka hati, dank arena itu kontradiksi dimungkinkan. Kalau moralitas salah-benar ini tidak ditegakkan, perubahan structural yang paling revolusioner pun tidak akan membawa banyak kemajuan kualitatif, justru karena kita tidak bisa memutuskan apa yang salah yang harus ditinggalkan dan apa yang benar yang harus ditegakkan.

Tanpa menerima kontradiksi ilmu pengetahuan, juga tidak akan dimungkinkan. Pada prinsipnya, ilmu pengetahuan berkembang karena pengetahuan yang salah disingkirkan untuk memberi tempat bagi pengetahuan yang lebih teruji kebenarannya. Tentu dalam praktek hal ini tidak selalu mudah, karena penentuan salah-benar masih akan bergantung pada metode dan teori yang dianut oleh masing-masing mazhab. Namun, demikian prinsip kontradiksi itu diterima secara umum, bahwa tidak mungkin suatu pengetahuan itu bersifat salah dan benar sekaligus. Kontradiksi logis dalam pengetahuan adalah parallel dengan kontradiksi empiris dalam ilmu, dan juga parallel dengan kontradiksi etis dalam moralitas dan hukum.

Tentu tidak kurang orang Indonesia yang telah menghayati moral deontologist ini, barangkali tanpa banyak peduli tentang teori yang mendasari. Bulan Desember 1999, seorang intelegensia muda Indonesia, Soe Hok Gie, genap 30 tahun meninggal dunia di puncak Gunung Semeru. Berdasarkan perjuangannya dan teks-teks yang ditinggalkan, Soe Hok Gie adalah prototype moral deontologist ini atas cara yang hampir untuh dan sempurna. Dasar pertimbangan untuk semua tindakannya adalah kontradiksi antara salah dan benar, bukan keadaan tanpa kontradiksi antara baik dan buruk.

Dengan mudah bisa disebutkan apa yang menjadi “teori kebenaran” pada tokoh ini. Untuk dia, tindakan benar adalah tindakan yang sesuai dengan hati nurani (keberanian dan kejujuran bukan sekadar pembawaan prikologis, melainkan hasil kesimpulan filosofis), yang menyesuaikan perbuatan dengan keyakinan dan ucapan (karena itu, dia amat membenci kemunafikan), yang membela pihak lemah terhadap mereka yang lebih kuat (karena itu, penting mengenal masyarakat keicl dari dekat dengan banyak berjalan dan mendaki gunung), yang menolakk tunduk kepada ketakutan (baik ketakutan terhadap kekuasaan maupun ketakutan terhadap penyingkiran social oleh teman-teman sendiri), yang tidak mendiamkan kejahatan atau ketidak-adilan yang ada di depan mata (karena dengan itu melakukan the crime of silence), dan yang menolak kebenaran resmi yang ditawarkan tanpa menguji terlebih dahulu (entah kebenaran yang ditawarkan oleh doktrin politik atau yang diberikan oleh doktrin agama).

            Pilihan seperti itu yang oleh John F. Kennedy dinamakan keberanian, yaitu kesediaan secara sadar untuk mengabaikan akibat suatu pilihan dan tindakan karena hendak berpegang teguh kepada prinsip dan nilai yang diyakini. Keberanian dalam pengertian ini merupakan kebajikan manusia yang oleh John F. Kennedy dianggap paling tinggi dan paling mulia.

Dengan mengutip Hemingway, dia mengatakan bahwa keberanian adalah grace under pressure, yaitu semacam keagungan yang tetap bermartabat dan tidak hilang keanggunannya sekalipun berada di b awah tekanan dan represi. Dengan kata lain, kesediaan untuk menghadapi kontradiksi antara keadaan nyata dan prinsip yang diyakini.

Kehidupan politik memang bukan dua bidang hitam putih yang terpisah oleh satu garis lurus. Seperti juga spectrum cahaya, warna-warna yang muncul dalam suatu prisma hanya mungkin timbul kalau ada kontradiksi antara warna putih dan warna gelap. Rahasia kebudayaan barangkali terletak di sana, bahwa bersikap jelas dengan mempertegas kontradiksi, justru memudahkan kita melihat aneka warna yang muncul di antara ujung spectrum yang satu ke ujung yang lain. Sebaliknya, menghilangkan kontradiksi justru akan membuat segala sesuatunya tunggal-makna, seragam, dengan nuansa yang buyar karena kehilangan tenaga yang diberikan oleh dua titik yang tadinya tentang-menentang dan tarik-menarik. Ketakutan terhadap kontradiksi merupakan kecenderungan prosaic yang tak sanggup memahami bahwa kata-kata dalam sajak tidak sekadar bunyi bahasa yang dituliskan, tetapi suatu rancang-bangun dunia potensial yang belum ada  sekarang dan mungkin selamanya tak pernah ada, tetapi bukan sesuatu yang tak mungkin. Sebaliknya, menghormati kontradiksi akan memungkinkan seseorang melihat makna dari daun yang luruh, terbawa angin lalu menjelma dalam sajak. Pada saat itu, politik sebagai seni kemungkinan menemukan diri kembali dari puisi sebagai dunia kemungkinan. (*)

_________________________

IGNAS KLEDEN:

Atau Dr. Ignas Kleden, M.A. (lahir di Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, 19 Mei 1948; umur 68 tahun) adalah sastrawan, sosiolog, cendekiawan, dan kritikus sastra berkebangsaan Indonesia. Dia merupakan salah satu penerima Penghargaan Achmad Bakrie tahun 2003 karena dinilai telah mendorong dunia ilmu pengetahuan dan pemikiran sosial di Indonesia ke tingkat yang lebih tinggi dan tajam melalui esai dan kritik kebudayaannya.

Ignas Kleden lahir dan besar di Waibalun, Larantuka, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, 19 Mei 1948. Sempat bersekolah di sekolah calon pastor berkat lulus dengan predikat terbaik di sekolah dasar. Namun keluar dari sekolah tersebut lantaran tidak dapat berkhotbah dengan baik. Lalu ia memilih menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Filsafat Teologi/STFT Ledalero, Maumere, Flores (1972), meraih gelar Master of Art bidang filsafat dari Hochschule fuer Philosophie, Muenchen, Jerman (1982), dan meraih gelar Doktor bidang Sosiologi dari Universitas Bielefeld, Jerman (1995). Ketika masih di tinggal Flores, ia sudah mengenal majalah Basis Yogyakarta dan rutin mengirimkan tulisannya ke majalah itu. Dia juga menulis artikel di majalah Budaya Jaya Jakarta, dan menulis artikel semipolemik untuk majalah Tempo. Ignas juga pernah bekerja sebagai penerjemah buku-buku teologi di Penerbit Nusa Indah, Ende, Flores.

Setelah hijrah ke Ibu Kota, tahun 1974, Ia makin aktif menulis, baik di majalah maupun jurnal, dan menjadi kolumnis tetap majalah Tempo. Sempat pula bekerja sebagai editor pada yayasan Obor Jakarta (1976-1977), Yayasan Ilmu-Ilmu Sosial, Jakarta (1977-1978), dan Society For Political and Economic Studies, Jakarta.Tahun 2000 turut mendirikan Go East yang kini menjadi Pusat Pengkajian Indonesia Timur, yang mengkaji penguasaan beberapa bahasa asing, teologi, filsafat, dan sosiologi banyak membantu peningkatan kariernya. Esainya mengenai sastra dimuat di majalah Basis, Horison, Budaya Jaya, Kalam, harian Kompas, dan lain-lain. Buku Anjing-Anjing Menyerbu Kuburan (Cerpen Pilihan Kompas 1997) juga memuat esainya, Simbolis Cerita Pendek. Tahun 2003, bersama sastrawan Sapardi Djoko Damono, menerima Penghargaan Achmad Bakrie. Ia dinilai telah mendorong dunia ilmu pengetahuan dan pemikiran sosial di Indonesia ke tingkat yang lebih tinggi dan lebih tajam lewat essai dan kritik kebudayaannya. (*)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kolom

Potret Membaca Kita

mm

Published

on

Persoalan membaca kini mulai diresahkan oleh pemerintah. Pemerintah pun bergeliat membuat gerakan literasi. Ini sudah dimulai dari artikel Kemendikbud Rintis Gerakan Literasi di Sekolah (Republika, 8/8/ 2015),  menyatakan bahwa terdapat kegiatan membaca buku 15 menit sebelum belajar, maka gerakan literasi ini perlu dilakukan. Sekolah mulai mencoba mengawali gerakan ini. Sayang, aturan pemerintah ini memasygulkan murid dan gurunya. Boleh jadi, ini dikarenakan kita tidak terbiasa membaca sastra. Kita bisa berprasangka, kita hanya melek huruf, tidak melek membaca. Wajar bila yang terjadi sekolah ogah-ogahan dengan gerakan literasi.

Mungkin kita dapat membanding dulu dan sekarang. Dulu, adanya perasaan membaca dan menulis merupakan kebutuhan utama. Kita dapat melihatnya dari majalah kuncung, bobo, majalah teen, dan lain sebagainya. Dalam majalah, terlihatnya antusias anak-anak sampai orang tua gemar merangkai kata. Melalui surat-menyurat, kata digunakan untuk menuangkan semua keluh kesah. Biasanya surat di muat di rubrik surat pembaca.

Entah surat berisikan pemikirannya tentang politik, ekonomi, atau kehidupan rumah tangganya dituliskan. Barangkali surat juga menyuguhkan kata-kata heroik, pembangkit minat baca. Layaknya Asrul Sani, dalam buku Surat-surat Kepercayaan yang menyatakan bahwa buku memberi pengetahuan mengenai peninggalan dan pemikiran seluruh pelosok dunia. Dari ungkapan ini Asrul mengisyaratkan bahwa kegiatan membaca membuat jarak tidak berarti. Kita bahkan bisa membaca pemikiran apa pun di dunia, cukup dengan berhadapan dengan buku.

Mungkin, ini juga membuat orang akrab dengan perpustakaan.  Buku-buku seolah dianggap  teman. Bahkan, saat menjalani hukuman pengasingan ataupun di penjarakan orang lebih bisa membangkitkan dunia literasinya. Syahrir, Soekarno, Tan Malaka, Moh. Hatta,   atau Pramoedya, merupakan tokoh yang doyan membaca. Pemikiran dan kisah mereka pun, bisa kita ketahui dengan buku-buku sejarah dan cerita-cerita pendek.

Bukan hanya itu, beberapa dari mereka, mencontohkan untuk lebih mencintai buku. Boleh jadi kita dapat tengok Gerson Poyk di buku Nostalgia Flobamora, ia mewariskan buku-buku untuk anaknya. Dengan harapan buku dapat dijadikan harta yang paling berharga. Sebab, buku seolah menjadi identitas diri dalam membentuk pemikiran si pembaca. Refleksi dari kehidupan yang sudah tidak nyaman. Ketika segala hal terlihat buruk dalam keadaan yang sebenarnya, buku membawa mereka pada kisah-kisah nan menarik.

Bila kita kembali lagi ke masa kanak-kanak di tahun ‘90an, mungkin kita dapat disajikan majalah Bobo. Di dalamnya memuat rubrik kisah Nurmala dan Boni si gajah panjang. Cerita itu penuh peran moral yang disajikan. Tidak lupa soal-soal sekolah dasar diselipkan untuk mengasah kepandaian anak. Di majalah itu anak bebas membaca, bebas memilih, bahkan berkarya. Anak-anak pun bisa mengirim puisi, cerita pendek atau gambar kepada redaksi bobo. Sayang, kini majalah Bobo yang tidak lagi terlalu tenar dan diminati. Ia kini telah digantikan google, anak cukup mengasah bacaan dan bertanya lewat internet.

Saat teknologi seperti televisi dan gawai pintar belum ditemukan, satu-satunya hiburan adalah membaca. Membaca membuat imajinasi kita bermain dan bebas untuk menjelajah. Tak ayal, dunia literasi yang terbangun membicarakan pergaulannya dengan buku. Buku yang menjadi sahabat dalam mencurahan segala kepelikan hidup. Seolah dengan membaca kita dapat merefleksikan kembali pemikiran yang ada dalam kata.

Pembaca seolah dapat terbius dengan rangkaian kata dari penulis. Turut serta merasakan pemikiran yang tertuang dalam buku. Kita dapat mengetahui alurnya hingga dengan membaca seseorang makin terbebas dari dunia realitas. Sayangnya, ingatan tentang buku sebagai alat yang menyenangkan mulai hilang. Pelbagai tantangan hadir dalam menurunkan minat membaca buku.

Seiring dengan zaman yang serba canggih, kita malah sibuk dengan dunia maya. Semua mulai tenggelam dengan kegiatan di dunia media sosial. Kebanyakan remaja yang makin ketagihan dengan media sosial. Dikutip dari data kominfo di kominfo.go.id menuliskan bahwa pengguna internet di Indonesia saat ini mencapai 63 juta orang. Dari angka tersebut, 95 persennya menggunakan internet untuk mengakses jejaring sosial.

Mirisnya, kita hanya aktif berselancar di dunia maya sambil memposting segala kegiatan. Bak artis yang ingin selalu diperhatikan penggemarnya. Waktu pun dibuang untuk berselancar di dunia maya. Seolah melupakan waktu untuk kegiatan yang lebih menggali ilmu pengetahuan. Cita-cita yang terbangun pun dapat menjadi viral dan artis di dunia maya. Atau lebih parahnya kita menjadi komentator untuk persoalan orang lain, yang belum tentu kebenarannya.

Kegiatan menjadi komentator ini memudahkan kita terbawa arus dan kurang mengontrol kometar. Bahkan, sering kali kita memberikan komentar suatu persoalan remeh temeh. Apalagi disokong dengan menjadi komentator yang miskin bacaan. Alhasil, komentar yang terlontar di media sosial kebanyakan bukan komentar yang berbobot. Hanya sekedar komentar yang ditulis dari kefanatikan. Tidak heran bila kemudian komentar hanya seputar memuji atau mencela. Kadang mencaci, saling menghujat dan menuding.

Tentu bila komentar masih seputar itu, akan berdampak pada daya nalar. Bila kita masih menjadi komentator yang miskin bacaan, tentu mudah tergiring dengan opini orang lain. Lebih dikhawatirkan lagi menjadi partisipan yang dimanfaatkan oleh kaum tidak bertanggung jawab. Maka dari itu, penting bagi kita untuk membaca dan mengkritisi pemikiran orang lain. Tidak hanya menuangkan komentar yang tidak berbobot.

Penting bagi kita untuk kembali berkaca diri dalam memanfaatkan teknologi. Dengan media sosial kita memang dimudahkan untuk dapat berkenalan dengan seluruh manusia di bumi. Ini dapat dimanfaatkan untuk bertukar pikiran. Mengenai persoalan politik, budaya atau lainnya. Bukan hanya curahan hati ungkapan kekesalan atau kesenangan. Kemudian batasi pemakaian media sosial dan manfaatkan waktu senggang.

Boleh jadi kita dapat menggugat diri sendiri, untuk menggunakan waktu senggang dengan lebih banyak membaca. Membaca membuat kita memahami pelbagai hal. Selain itu, segala perubahan dapat kita ikuti bila kita terus membaca. Laiknya Manusia memiliki otak yang setiap harinya harus diperbaharui pengetahuannya. Untuk itulah membaca menjadi perlu dan penting. (*)

*) Ayu Rahayu: Mahasiswi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan di Universitas Negeri Jakarta (UNJ).

 

 

Continue Reading

Kolom

Bahasa di Tangan Komentator Bola

mm

Published

on

Pertandingan sepak bola yang ditayangkan di televisi selalu menyisakan keseruan yang menarik dibahas. Salah satunya adalah lontaran sang komentator. Komentator yang biasanya ditemani pemandu acara hadir di studio untuk memberikan ulasannya seputar pertandingan yang baru berlangsung. Komentar-komentar tersebut bisa juga disiarkan usai pertandingan berakhir. Kemunculan komentator bola kian meramaikan kompetisi di lapangan. Penonton di rumah pun pasti menantikan celoteh-celoteh yang lahir dari mulut komentator.

Publik yang menyenangi tayangan liga sepak bola tentu ingat dengan salah satu kata yang meluncur dari komentator bola, yakni kata jebret. Kata tersebut menjadi fenomenal dan melekat di telinga para pemirsa yang setia menyaksikan tayangan perlombaan antar tim sepak bola. Jebret pun seolah masuk dalam daftar kosakata baru.

Valentino Simanjutak, adalah pria yang secara spontan meneriakkan kata tersebut saat timnas U-19 bertarung melawan timnas Vietnam pada 22 September 2013. Kala itu, pria jebolan abang-none DKI Jakarta tersebut belum menjadi komentator, ia bertugas sebagai pembawa acara. Komentator yang berpasangan dengannya kala itu adalah Abdul Harris.

Kata jebret keluar saat Valentino memerhatikan pergerakan bola yang dibawa pemain Indonesia mengarah ke gawang Vietnam yang dijaga Le van Truong. Jagad media sosial pun langsung penuh dengan tagar jebret saat itu. Kata jebret kian menghiasi percakapan sehari-hari. Masyarakat menjadi akrab dengan kata hasil eksplorasi Valentino itu.

Seiring waktu, Valentino pun didapuk menjadi komentator bola. Ia tidak henti-hentinya menciptakan istilah-istilah baru untuk merujuk makna tertentu. Ia tidak bosan-bosannya menyegarkan pertandingan sepak bola lewat ujaran-ujaran komentar, yang kebanyakan justru membikin pemirsa yang mendengarnya terpingkal. Pembawaannya selama mengampu acara bola meninggalkan jejak baru dalam dunia kebahasaan.

Valentino mungkin tidak merencanakan kata-kata unik yang ia pakai untuk menyebut gerakan tertentu dalam pertandingan bola yang ia komentari. Pasalnya, perputaran bola di kaki pemain tidak bisa ditebak. Perpindahan bola dari satu posisi ke posisi lain sangat cepat. Tentu butuh kejelian dari komentator untuk mengamati setiap detil kejadian dalam pertandingan. Inilah yang membuat Valentino refleks mengeluarkan komentar unik.

Kamus Sepak Bola

Keunikan komentar bola tidak berhenti di jebret saja. Penggemar bola pasti familiar dengan kata-kata berikut; tendangan LDR, tendangan SLJJ, umpan manja, rumah tangga, umpan antar benua, umpan membelah lautan, Messi kelok 9, harmonisasi rumah tangga, gerakan 362, blusukan, peluang 24 karat, tendangan depresi, umpan membelai, aksi tipu daya, gocek keliling dunia, tendangan PHP, tendangan menepati janji, membuat retak hati, gerakan 378, bon jovi, menjaga koordinasi keutuhan rumah tangga, umpan cuek, umpan mubazir, gratifikasi umpan, umpan tega, dan gelandang penimba sumur. Pertandingan bola yang menegangkan berubah kendur dan kaya humor setelah mendengarkan komentar semacam itu. Penonton dibikin berkerut sekali menahan tawa ketika memikirkan arti dari komentar unik kreasi para komentator.

Kata yang digunakan para komentator sebagai perumpamaan gerakan para pemain adalah buah dari proses skema. Skema menurut Chaplin (1981) merupakan kumpulan ide yang tertata rapi dalam sebuah peta kognitif. Manusia menempatkan skema sebagai model. Peristiwa yang dialami manusia diolah untuk dijadikan acuan dalam melihat kejadian serupa pada lain kesempatan. Sebab skema merupakan kerangka dasar yang mengandung respon yang pernah disampaikan. Respon tersebut dirancang sebagai landasan dalam memberikan standar bagi respon selanjutnya. Chaplin menjabarkan definisi skema dalam Dictionary of Psychology.

Proses skema berlangsung ketika komentator bola menghubungkan konsep hubungan jarak jauh atau long distance relationship (LDR) yang pernah ia dapatkan untuk mengibaratkan tendangan jarak jauh. Maka tercetuslah ungkapan tendangan LDR. Skema terancang karena adanya asosiasi yang terjadi. Kata unik yang diteriakan oleh komentator bola merepresentasikan pengalaman yang dipunyai.

Skema juga mempengaruhi penangkapan pesan yang disampaikan. Apabila pemirsa tidak memiliki latar pengalaman yang sejalan dengan yang dianut komentator bola, maka kata-kata unik tersebut sulit dipahami. Rekayasa dibutuhkan untuk mengecoh skema lama yang dipegang penonton. Tujuannya adalah memasukkan skema baru sesuai dengan yang diinginkan komentator. Ini bisa dilakukan lewat penjabaran setelah kata-kata unik terpekikan. Pemandu acara yang mendampingi juga bisa mengarahkan pertanyaan ke komentator untuk mengorek jawaban atas makna dari kata-kata baru yang unik buah kreasi.

Kamus bola perlu disusun supaya skema antara penonton dan komentator tidak saling tumpang tindih. Penonton yang minim pengalaman hanya akan merasakan hambarnya pertandingan bola karena terbebani dengan meraba-raba mencari definisi kata unik. Masing-masing pihak sebaiknya saling memperkaya skema supaya komunikasi terjalin dua arah. Skema yang kurang menjadi penghalang dalam membaca pemahaman.

Keraf menyebutkan, usaha untuk menemukan makna yang sesuai dengan konteks dari ujaran membutuhkan komunikasi. Tuturan kehilangan maknanya tatkala para pembaca atau pendengarnya tidak mampu menerjemahkan maksud yang ada. Makna dianggap penting sebab ia merupakan arti yang melekat pada sebuah kata. Interaksi antara kata dengan makna leksem lain dalam sebuah aturan memunculkan makna itu sendiri. Penjabaran ini memuat deskripsi yang bisa dipergunakan untuk mengkaji kata-kata unik komentar bola.

Kata dan bahasa yang dipilih komentator bola melibatkan emosi penonton. Rasa yang terbangun dibiarkan terus hidup supaya pertandingan tidak monoton. Kata unik yang melejit berkat komentator bola harus ditinjau dari makna konotatif, bukan makna denotatif. Landasan utama makna konotatif adalah perasaan atau pikiran yang tercipta atau diciptakan pada pembicara (penulis) dan pendengar (pembaca). Selanjutnya dimanfaatkan sebagai pijakan untuk memaknai kata. Rasa yang tersemat dalam kata unik menjadi syarat kata tersebut digolongkan makna konotatif. Makna konotatif mengandung tambahan makna. Dengan demikian, makna yang sebenarnya tertutupi.

Makna kiasan dan majas turut melengkapi pemaknaan komentar dari komentator bola. Pergeseran dan perbedaan makna tak terhindarkan dari ujaran komentator bola. Metafora melingkupi setiap ujaran yang disampaikan komentator bola. Metafora membantu komentator mengkomparasi hal yang ingin dikatakan dengan objek lain. Metafora adalah cara untuk mengutarakan pesan secara terselubung dengan membandingkan topik abstrak dengan hal yang konkret. Komentator bola menyebut pemain jangkar atau gelandang bertahan dengan frasa gelandang penimba sumur. Penautan ini mempertimbangkan dengan analogi yang seimbang menurut komentator.

Kata-kata unik yang dipakai komentator bola turut menerapkan disfemia. Komentator bola mengubah kata yang bermakna biasa dengan kata yang bermakna kasar. Disfemia yang dilakukan komentator bola diklasifikasi dalam kata, frasa, dan ungkapan. Masing-masing merupakan bentuk satuan gramatik. Komentator bola memainkan nilai rasa dari sebuah makna kata. Disfemia terbentuk akibat membuncahnya rasa kecewa, frustasi, kesal, dan tidak suka yang diluapkan melalui kata-kata. Pangkal dari semua itu bisa ditelusuri dari konteks kejadian atau kalimat yang mendahului. (*)

*) Shela Kusumaningtyas: Lahir di Kendal, 24 November 1994. Seorang penulis. Tulisannya seperti puisi, opini, dan feature pernah dimuat di berbagai media massa. Di antaranya di Kompas, Suara Merdeka, Wawasan, Tribun Jateng, Bangka Pos, Bali Pos, Radar Lampung, Malang Voice, dan Koran Sindo.

Continue Reading

Essay

Setelah Edward Said

mm

Published

on

Nono Anwar Makarim *)

EDWARD Said meninggl pada 25 September 2003. Kanker darah yang menyiksa badannya sejak tahun 1991 akhirnya menang. Umurnya baru 67. Kofi Annan mengeluarkan pernyataan belasungkawa. Dia bilang bahwa Said berbuat banyak sekali dalam menjelaskan dunia Islam kepada dunia Barat, dan sebaliknya. Sekretaris Jenderal PBB itu tidak selalu setuju dengan pendapatnya, tetapi senantiasa suka berbincang dengan Said. Annan suka pada humor Said, dan kagum pada semangatnya memperjuangkan perdamaian antara Israel dan Palestina.

The New York, Beirut, menulis editorial yang menyebut Said sebagai orang besar yang, seperti figur-figur besar lain di dunia, kurang dihargai semasa hidupnya. Pada suatu ketika si pembela gigih nasib orang Palestina ini bahkan diusir Yasser Arafat dari Tepi Barat. Ediward Said terlalu keras mengecam korupsi di kalangan pemimpin Palestina. Arafat, si pengusir Said, sekarang berkata bahwa kematiannya membuat dunia kehilangan seorang jenius besar, seorang penyumbang kultur, intelek, dan daya-cipta universal.

N o s t a l g i  d i  E l a i n e ‘ s

Elaine’s, suatu restoran kecil di 2nd/88-89th Street, Manhattan adalah tempat pengarang, editor, profesor, seniman, dan intelektual berkumpul. Makanannya bernuansa Italia, harganya tidak semahal Daniel. Musim panas 1997. Kami berempat menanti kedatangan Edward Said untuk makan bersama. “Belum tentu dia bisa datang. Tapi, kalau serangan-serangan penyakitnya mereda, dia pasti datang!” kata temannya. Restoran kecil milik Elaine Kaufman cepat memenuh dengan orang dan suara orang diskusi sambil makan.

Tiba-tiba pintu dibuka dan Edward Said masuk. Seorang perempuan setengah baya dan tampak menarik bangun dari mejanya, menghampiri tamu yang terlambat datang, dan memeluknya erat-erat. “Itu Elaine, yang punya restoran ini!” bisik teman saya. Mereka berpelukan datang ke meja kami. Baru duduk, seorang perempuan lain bangun dari kursinya sambil berseru “Edward!” Sekali lagi teman saya berbisik, “Itu Joan Didion!” Sekali lagi Edward Said dipeluk dan dicium mesra.

Dua jam kami duduk, makan dan minum. Said hampir sepenuhnya bicara dengan seorang saja di antara kami, anak diplomat senior Inggris, kawan lama keluarga. Mereka berbicang tentang masa lalu. Memang begitu perangai orang yang sudah lama tak jumpa. Saya berupaya memutus dialog Inggris-Palestina yang terus berlangsung di meja kami. “Banyak orang di Indonesia mengira bahwa perjuangan Palestina itu adalah antara orang Islam dan orang Yahudi! Saya tahu itu tidak benar, akan tetapi, mengapa yang muncul di permukaan media hanya Hizbullah, Hamas, dan Fatah? Di mana Habbash sekarang?” Jawaban Said tidak memuaskan: “George (nama depan Habbash) sudah rusak! Tak ada yang bisa diharapkan lagi dari dia.” Said tidak menjelaskan mengapa hanya yang beragama Islam yang mengemuka di kalangan pejuang Palestina. Saya agak kesal menyaksikan konsentrasi perhatian Edward Said pada kenangan persahabatan di masa lalu. Tapi masa lalunya memang lebih menyenangkan daripada masa kininya. Anak orang kaya, hidup mewah, masuk sekolah terbaik di Palestina, Mesir, dan Amerika. Raja Hussein dan Omar Sharif adalah teman sekelasnya di Kairo. Bandingkan dengan masa kininya: Masuk dalam daftar orang yang harus dibunuh dari Liga Pembela Yahudi. Teror setiap hari melalui pos, telepon, faks yang ditujukan pada dirinya dan anggota keluarganya. Kemudian penyakit kronis yang enggan pergi, dan terus-menerus menciptakan penyakit sampingan: leukemia. Ia ditanya apakah ancaman akan dibunuh dan kanker darah tidak mengganggu semangat hidupnya. Said menjawab bahwa bahaya kelumpuhan semangat jauh lebih besar daripada leukemia dan ancaman pembunuhan. Karena itu ia berupaya tidak terlalu memikirkan nasib yang buruk itu. Tampang keren, otak cemerlang, latar belakang berduit, pekerjaan mengajar di universitas terkemuka di Amerika terjamin kesinambungannya sampai mati. Ketika saya tanyakan mengapa ia memilih tinggal di New York, metropolis yang begitu didominasi oleh orang yang mengancam akan membunuhnya, ia menjawab: “Apa ada kota lain?”

Konon, sebagai pribadi, Edward Said adalah orang yang sangat egosentris, memikirkan diri melulu, kurang pertimbangan akan orang-orang dekat yang mencitainya pun. Orang berbisik, “Tidak mudah hidup dengan jenius!” Lalu apa makna inti yang diwariskan almarhum pada kita? Di sini saya melihat dua unsur.

E s e n s i  E d w a r d  S a i d

Pada gelombang pasang nafsu perang di AS, jauh sebelum debakel Afganistan dan Irak yang kini sedang dialami negara adikuasa itu, saya bertanya kepada seorang cendekiawan Amerika: Kaum liberal Amerika kok tidak bersuara? Mengapa begitu sedikit orang menganut pandangan Chomsky dan Said? Jawabnya mengambang: Chomsky ekstrem. Orang tidak lagi mendengarkan suara dia. Edward Said sudah menggadaikan kecemerlangannya pada politik. Ia sudah menjadi partisan Palestina. Ia hanya mengkritik Israel dan Amerika. Ia berdiam ketika orang Palestina yang melakukan teror. Saya termenung mendengar jawaban itu. Kemudian mengingat kembali jauh ke masa lalu. Pada saat gelombang pasang suatu kampanye politik melanda masyarakat, intelektualnya kebanyakan cenderung menyesuaikan diri, atau berdiam. Mereka cemas akan tercampak keluar dari lingkungan masyarakatnya, terasing dari bangsanya. Ada juga pikiran: “Kalau begitu banyak orang setuju, jangan-jangan mereka benar: jangan-jangan pandangan saya keliru.” Periuk nasi sudah tentu paling keras membujuk agar mereka berpihak pada gelombang pasang, atau netral. Noam Chomsky dan Edward Said tegak berdiri di tengah badai kampanye perang George Bush. Mereka tidak menyesuaikan diri, mereka tidak berdiam. Mereka buka suara. Dan suaranya keras kedengarannya di seantero dunia.

Yang kedua ditinggalkan oleh almarhum adalah suatu penjernihan pikiran kita bahwa suatu teori besar yang diciptakan pemikir cemerlang tidak patut diuji pada setiap pernik keadaan konkret, buka mata. Teori orientalisme Edward Said digempur habis-habisan. Terlalu main pukul rata, terlalu gegabah, terlalu ekstrem. Akan tetapi suatu teori memang menyangkut garis besar, umum, abstrak, dan rrgeneralisasi. Yang perlu ditanyakan adalah apakah ia membuka mata.

Edward Said sudah pulang ke bukit-bukit hijau Palestina yang diimpikannya seumur hidup. Singkirkan karakternya yang egosentris; kesampingkan sulitnya orang hidup di sampingnya; maafkan sifat tak pedulinya pada perasaan orang lain, sebab dia bukan manusia biasa. Edward Said adalah orang luar biasa, orang abnormal. Lalu ambil sifat “intifadah” intelektualnya dan kecemerlangan bintangnya di langit pemikiran. Saya kehilangan seorang teladan lagi. (*)

*) Nono Anwar Makarim lahir di Pekalongan, Jawa Tengah, 25 September 1939. Pada 1960-an hingga 70-an ia dikenal sebagai wartawan dan pemimpin redaksi harian KAMI. Setelah keluar masuk Fakultas Hukum UI, ia memperdalam hukum hingga memperoleh gelar doctor of juridical science dari Harvard Law School, AS. Disertasinya berjudul Compainies and Business in Indonesia. Pendiri Kantor Konsultan Makarim & Taira ini hingga kini juga dikenal sebagai penulis kolom yang tajam.

Sumber: TEMPO, Edisi 29 September – 5 Oktober 2003, halaman 124-125.

Continue Reading

Classic Prose

Trending