Connect with us

Tabloids

Bagaimana Perpustakaan Dapat Meredam Populisme?

mm

Published

on

“Setelah pemilihan umum tahun 2016, Mark Zuckerberg menulis sebuah surat publik yang mengklaim bahwa Facebook akan menjadi sebuah infrastruktur sosial yang penting yang menghidupkan kembali demokrasi. Akan tetapi sejak saat itu, kita telah melihat bahwa sosial media lebih banyak mempromosikan kebencian, propaganda dan perpecahan daripada menghasilkan “komunitas penuh makna” yang dijanjikan Zuckerberg.” Ia membuka sebuah rahasia dan inilah faktanya: “Jika Anda ingin tahu jenis infrastruktur sosial yang benar-benar dihargai oleh para pemimpin industri teknologi, lihatlah dengan seksama bangunan-bangunan yang didirikan di Silicon Valley: Kantor-kantor yang didesain untuk pertemuan-pertemuan tak sengaja antara anggota dari tim-tim yang berbeda. Kafetaria-kafetaria dengan meja bersama dan makanan gratis. Lapangan-lapangan olahraga, jalan-jalan setapak, taman-taman di atap bangunan, ruang-ruang untuk pesta. Mengapa? Karena mereka ingin pekerjanya merasa begitu senang di kantor hingga mereka tak ingin pergi. Dan, seperti yang Mr Zuckerberg ketahui lebih dari siapa pun, cara untuk melakukannnya bukanlah dengan membiarkan para pekerja menghabiskan waktu dengan sosial media lebih lama.

 

Oleh: Sabiq Carebesth & Marlina Sophiana *)
(Redaktur dan Editor Utama Galeri Buku Jakarta)

Dunia abad kita hari ini membutuhkan infrastruktur sosial jika ingin kemanusiaan dan perdamaian dunia terus bisa dijaga dan dimajukan. Infrastruk sosial yang nyata, difasilitasi oleh instrumen penentu kebijakan pubik dan pada saat sama sedikit mengabaikan utopia maya tentang komunitas bersama seperti di janjian sosial media. Kenapa?

Di tengah gejala bahkan telah faktual berkembangnya populisme di banyak negara di dunia dan telah menyebabkan dampak-dampak mengerikan yang nyata, dunia membutuhkan infrastruktur sosial untuk menampung kohesi bersama dan mewujudkan kemanusiaan yang diimpikan seluruh manusia. Ketika banyak pemimpin pemerintah di dunia membangunan insfrastruktur dalam logika pembangunanisme, infrastruktur sosial kerap kali terabaikan, sementara dunia digital terutama sosial media yang diklaim mampu menghubungkan semua dan berbagi kebaikan untuk semua terbukti gagal memenuhi janji kemanusiaanya. Infrastruktur pembangunan dan sosial media justeru berkontribusi paling besar pada makin tinggi dan kokohnya tembok pembatas yang kian memisahkan manusia dari sesamanya dan dari kemanusiaan. Sementara dalam keterasingan yang terus memuncak itu, populisme merebak seperti jamur di musim pancaroba keadilan ekonomi dan politik.

Itulah pesan menarik dari buku terbaru karya Eric Klinenberg, seorang sosiolog di New York University dan pengarang “Palaces for the People: How Social Infrastructure Can Help Fight Inequality, Polarization, and the Decline of Civic Life” (Crown, 2018) mengungkapkan gagasan menarik tentang sosiologi kenapa populisme khususnya di barat menjadi begitu mengerikan. Buku itu memulai wacananya dengan fakta di mana tahun-tahun ini beragam gagasan telah dikemukakan untuk menjelaskan bangkitnya populisme di Barat: dari mulai ketidakamanan ekonomi, reaksi negatif dari persoalan imigran dan berita palsu. Hal lain yang masuk daftar itu mungkin kurangnya ruang-ruang bersama di mana orang dari berbagai dimensi kehidupan dapat bertemu dan bergaul.

Secara spesifik Eric Klinenberg juga menyatakan jika politik menuju semangat kesukuan, mungkin hal itu akibatnya jika orang-orang diberikan tembok pemisah satu sama lain-dalam beberapa kasus tembok betulan-mengikis perasaan kesamaan dan komunitas.

Krisis infrastruktur sosial dinilai menjadi salah satu pemicu utama krisis global yang melanda dunia saat ini. Bagi Klinenberg, infrastruktur sosial merupakan ruang-ruang publik yang membawa orang-orang bersama sehingga dapat terbentuk suatu ikatan. Dalam bukunya, dia mencatatkan bagaimana hal tersebut memberikan manfaat mulai dari pertumbuhan ekonomi hingga laku pemerintahan yang lebih baik, di masa di mana sosial media tampak mendorong orang untuk saling menjauh.

Sosial Media dan Kesemuannnya

Perkembangan dunia digital terutama ditandai oleh lahirnya era sosial media pernah menjanjikan kemajuan global sekaligus perdamaian umat manusia yang cemerlang. Tetapi kenyataanya justeru sebailiknya.

Melalui Program Inisiatif Open Future, The Economist, Eric Klinenberg dalam satu sesi wawancara bahkan menuding sosial media menjadi perkakas utama masifnya kebencian dan populisme menyebar seperti virus mematikan yang endemik.

“Setelah pemilihan umum tahun 2016, Mark Zuckerberg menulis sebuah surat publik yang mengklaim bahwa Facebook akan menjadi sebuah infrastruktur sosial yang penting yang menghidupkan kembali demokrasi. Akan tetapi sejak saat itu, kita telah melihat bahwa sosial media lebih banyak mempromosikan kebencian, propaganda dan perpecahan daripada menghasilkan “komunitas penuh makna” yang dijanjikan Zuckerberg.”

Ia membuka sebuah rahasia dan inilah faktanya: “Jika Anda ingin tahu jenis infrastruktur sosial yang benar-benar dihargai oleh para pemimpin industri teknologi, lihatlah dengan seksama bangunan-bangunan yang didirikan di Silicon Valley: Kantor-kantor yang didesain untuk pertemuan-pertemuan tak sengaja antara anggota dari tim-tim yang berbeda. Kafetaria-kafetaria dengan meja bersama dan makanan gratis. Lapangan-lapangan olahraga, jalan-jalan setapak, taman-taman di atap bangunan, ruang-ruang untuk pesta. Mengapa? Karena mereka ingin pekerjanya merasa begitu senang di kantor hingga mereka tak ingin pergi. Dan, seperti yang Mr Zuckerberg ketahui lebih dari siapa pun, cara untuk melakukannnya bukanlah dengan membiarkan para pekerja menghabiskan waktu dengan sosial media lebih lama. Caranya adalah dengan mendesain dan membangun infratruktur sosial terbaik yang dapat disediakan.”

Peran Pemerintah dan “Minus”nya Philantropi

Pemerintah dinilai tetap menjadi aktor kunci yang harus memfasilitasi dan membangun infrastruktur sosial. Klinenberg meragukan hal semacam itu bisa diatasi sendirian oleh misalnya gerakan philantropi yang memiliki beban watak dasarnya untuk memiliki kecenderungan untuk tidak adil pada semua komunitas. Philantropi selalu memihak, pilih-pilih, dan tidak terdistribusi secara merata. Satu-satunya cara kita mendapatkkan infrastruktur sosial yang komprehensif adalah jika sarana publik itu disediakan oleh pemerintah.

Perpustakaan Modern Aleksandria di kota Aleksandria, Mesir. | Perpustakaan ini dalam sejarahnya merupakan salah satu perpustakaan terbesar dan terpenting pada zaman kuno. Perpustakaan ini merupakan bagian dari sebuah lembaga penelitian yang lebih besar, Mouseion, yang dipersembahkan untuk para Musai.

Sebagai gantinya ia menandaskan kerjasama pemerintah-swasta sealu memainkan peran penting dalam pembangunan infrastruktur sosial—menggaris bawahi peran pemerintah dalam hal inisitif politik dan dana pengelolaan-perawatannya.

Sebagai contoh, untuk kasus Amerika. Andrew Carnegie, bagaimanapun, menyumbangkan uang untuk membangun hampir 1700 perpustakaan umum di Amerika, dengan syarat bahwa pemerintah lokal menanggung semua biaya untuk operasional dan perawatannya. Kemurah hatian Carnegie muncul di saat tidak ada pajak penghasilan negara bagian. Bayangkan berapa banyak “palaces for the people” yang dapat dibangun di Amerika jika negara membebankan pajak yang adil padanya dan para pelaku industri sukses lainnya.

Jadi tidak efektif sama sekali untuk misalnya memberikan kebijakan memotong pajak bagi orang-orang yang paling kaya dan berharap kedermawanan mereka dapat meolong persoalan-persoalan pubik, apakah itu berkaitan dengan keadilan ekonomi dan kesejahteraan atau pun infratruktur sosial.

Infrastuktur Sosial dan Perpustakaan

Kesadaran pembangunan infrastrutur fisik pada saat bersaa harus diimbangi dengan investasi sama besar pada infrastruktur sosial menjadi hajat kesadaran kita bersama dan menyorongkannya terutama pada pengambil kebijakan publik.

Untuk dijadikan contoh, beberapa negara telah mengembangan porsi adil akan hal itu dan terbukti mampu menyelamatkaan kota dan generasinya dengan lebih baik.

Belanda disebut Klinenberg sebagai pelopor dan merupakan rujukan utama dalam pengintegrasian infrastuktur sosial ke dalam strategi-strategi  adaptasi dan mitigasi iklim. Orang Belanda telah belajar membangun taman-taman, plaza dan taman bermain yang berfungsi ganda sebagai sistem manajemen banjir, jadi investitasi keamanan ekologis juga menigkatkan kulaitas kehidupan sosial sehari-hari.

Jepang telah memasukkan infrastruktur sosial ke dalam infrastruktur sistem transitnya. Stasiun-stasiun di Tokyo berupa bangunan bawah tanah yang luas dan terlindungi dari bahaya banjir yang dialami kota New York selama badai Sandy. Stasiun-stasiun di sana juga bersih, dirawat dengan baik dan dihidupkan dengan berbagai aktivitas komersil. Beberapa stasiun kini menjadi destinasi sosial-sangat jauh dibandingkan dengan apa yang kita alami di New York, di mana kegiatan transit menjadi perang antar semua.

Dalam kasus yang lebih umum infrastruktur sosial sangat terkait dengan ruang bersama untuk memajukan penalaran dan pikiran kritis publik dengan pada saat bersamaan kohesi dan empati kemanusiaan ditumbuhkan. Ruang publik semcam itu paling mungkin dan mudah dibayangkan dalam bentuk perpustakaan.

Perpustakaan

Ketika The Economist menanyakan apa relasi langsung dan lebih mendalam infratruktur sosial dalam menjawab persoalan populisme, otoritarianisme, post-truth dan masyarakat terbuka—bukan sekadar kohesi sosial, yang merupakan efek langsung… –wujud paling konkrit yang bisa diterapkan dengan konstan, Klinenberg menjawab lugas: Perpustakaan.

Baginya, perpustakaan memainkan peran yang begitu penting dalam mempromosikan budaya demokrasi-dan menantang otoritarianisme-karena cara mereka diisi oleh pegawai-pegawai, dikelola, dan deprogram. Mereka sangat inklusif. Mereka diatur oleh professional yang patuh pada norma-norma kejuruan: mengejar pengetahuan dengan peralatan terbaik yang kita punya; tak menghakimi; menghargai martabat setiap orang; menjaga privasi; memperlakukan semua orang secara setara, tak peduli kelas sosial, ras, etnsitas, usia, kemampuan atau pun status kependudukan. Jika di sisi lain peperangan ini, para demagog dan jawara teknologi mendorong kita kepada era post-truth, di sisi lain, para pustakawan menarik kita kembali.

This slideshow requires JavaScript.

[Photos: Identity is celebrated at Katikati’s new library in its sculptural building design and the vibrant colours woven through its double-height interior. Serving a population of just over 4600, the Katikati library and adjacent community hub must cater for a wide range of age groups and interests. With a vibrant local artistic community and the Kaimai Range nearby, First Principles Architects has developed an architectural and interior design language to celebrate local identity.]

Sebaliknya, penelantaran persputakaan bisa menjadi preseden buruk tidak hanya tampaknya tapi juga dalam relasi ekonomi dan sosial politik yang lebih luas.

Kenyataanya justeru menyedihkan bahwa abad kita sekarang justeru cenderung menelantarkan perpustakaan-perpustakaan justru di saat kita sangat membutuhkannya.

Di New York, mayor Bill De Blasio yang dikenal “progresif” ingin memotong jutaan dolar dari anggaran perpustakaan, yang berarti dapat menutup beberapa cabang penting di akhir pekan. Di Ontario, Kanada, pemerintahan kota Doug Ford memotong anggaran layanan perpustakaan hingga setengahnya. Jika kamu tak menganggap hal ini penting, coba kunjungi perpustakaan lokalmu minggu ini dan lihat hal-hal luar biasa yang terjadi di sana. Tiap kali perpustakaan ditutup masyarakat kita menjadi agak kurang terbuka, demokrasi kita sedikit lebih rapuh. Jika kita tidak berinvestasi ulang pada perpustakaan, dan pada infrastruktur sosial secara umum, apa yang akan menjaga kita dari zaman kegelapan yang ditakuti banyak orang itu?

Kita tidak perlu menalar dan membayangkan rumit bagaimana hal itu bisa dilangsungkan. Dalam buku “Palaces for the People: How Social Infrastructure Can Help Fight Inequality, Polarization, and the Decline of Civic Life” (Crown, 2018) Klinenberg telah memberikan laporan pandanan matanya:

“Saya sudah melihatnya, dalam kunjungan saya ke Oodi Library di Helsinki. Itu merupakan perpustakaan yang terasa seperti sebuah kapal luar angkasa di tengah-tengah kesibukan metropolis. Perpustakaan itu punya ruang-ruang yang terbuka, terang, dan berangin untuk membaca dan menulis. Perpustakaan itu punya ruangan untuk berbagai jenis kegiatan kolaborasi, dari video gaming hingga pembuatan podcast dan menjahit. Tempat itu punya ruangan untuk pertemuan-pertemuan komunitas, sebuah teater, makanan terjangkau dan beragam program. Lebih hebat lagi, tempat itu buka setiap hari, dari jam 8 pagi hingga 10 malam di hari kerja, dan hampir dengan jam kerja yang sama di akhir pekan.

Tapi tempat seerti Oodi ada juga di luar negara-negara Skandinavia. Kota-kota di penjuru bumi telah berinvestasi pada perpustakaan-perpustakaan modern baru yang didesain sesusai kebutuhan abad 21. Lihatlah perpustakaan baru di Austin, Texas, yang menyediakan ruang khusus bagi pelaku teknologi lokal dan banyak sekali ruang terbuka untuk anak-anak dan orang dewasa. Atau yang lebih kecil, perpustakaan di sururban Cuyahoga County, Ohio yang disibukkan dengan aktivitas siang dan malam-pembacaan buku oleh pengarang, 3D printing, waktu bercerita untuk keluarga, pertemuan-pertemua komunitas terkait isu-isu lokal yang perlu disiarkan. Sementara di Kanada, deskripsi tersebut mungkin mengingatkanmu dengan perpustakaan baru di Calgary. Di tiap-tiap kota itu, penduduk secara kolektif memutuskan bahwa investasi publik pada infrastruktur sosial akan membawa beragam manfaat. Di Columbus, Ohio, voter memutuskan untuk membebani diri dengan pajak untuk mendapatkan keistimewaan dari perpustakaan yang lebih baik.”

Begitulah dunia di sana mengabarkan pentinganya infrastruktur sosial khususnya perpustakaan, bahkan orang-orang, kelompok milenial, membebani dirinya sendiri untuk pajak demi terbangunnya ruang perpustakaan yang lebih baik. Di sini? Perpustakaan yang lebih megah di bangun, di pusat kota sementara di kota-kota lain yang lebih kecil? Peran pemerintah daerah?

Di sisi lain komunitas-komunitas baca tumbuh meski malah terlihat menyedihkan dengan tidak adanya dukungan dari lebih banyak orang sekitar bahkan pemerintah sendiri, kegiatan mereka kerap dilarang dan dicurigai. Bisa kita bayangkan sendiri situasinya, anggaran yang… pelarangan.. pembiaran terhadap aksi-aksi brutal terhadap buku dan komunitas baca. Tidakkah itu hal mengerikan yang seharusnya meminta perhatian lebih dari kita semua? (*)

_________
*) Ditulis oleh Sabiq Carebesth & Marlina Sophiana: disarikan dari interview Eric Klinenberg dengan The Economist dalam program Open Future dan ihtisar dari Buku “Palaces for the People: How Social Infrastructure Can Help Fight Inequality, Polarization, and the Decline of Civic Life” (Crown, 2018)

 

Milenia

‘Memikirkan Kata’ Panduan Berpikir atau Menulis?

mm

Published

on

Buku ini memuat catatan dari mereka yang telah begitu lama memikirkan kata, tersesat dalam kegelapannya, mengambil dari wilayah pribadi kata-kata untuk menghasilkan cerita dan pencerahan yang dibutuhkan manusia. Para editor media ternama, para penyair, esais dan para sastrawan berkumpul dalam buku ini

Editor’s Note

Menulis dan buku-buku adalah sebuah seni. Melampaui keliteraturan—dalam arti kenikmatan yang dikandung di dalamnya memerlukan hampir seluruh dari diri kita, menghabiskan nyaris semua waktu yang kita miliki jika ingin mencecap nikmatnya.

Seorang bisa saja memiliki kenikmatan itu—dengan membeli buku-buku terbaik karya para pengarang. Seorang juga bisa memasak untuk dirinya sendiri, atau menghidangkan kreasi final masakannya bagi yang lain agar bisa turut mencecap kenikmatan puncak yang bisa dicapainya.

Apa pun pilihannya meski tidak semua harus menjadi Chef, setiap orang harus bisa memasak—bisa menulis. Paling tidak untuk memberi makan batinnya sendiri.

Buku “Memikirkan Kata” dikerjakan salah satunya dengan motif semacam itu. Agar setiap kita, para pembaca, bisa memasak, menulis paling tidak untuk diri sendiri. Sebab bagaimana pun membaca dan juga menulis adalah aktivitas yang memberi pengayaan batin dan intelektual. Jika kita percaya lebih dari itu, bahwa dengan menulis seorang bisa berkontribusi bagi kebaikan dan majunya peradaban, maka motif yang tampaknya sederhana tersebut mungkin juga mengandung motif politik (kebudayaan).

Sementara itu untuk bisa memasak, orang butuh tahu ragam bumbu-bumbu yang pada setiap masakan yang dikehendaki, berbeda pula rupa bumbu maupun teknik mengolahnya; juga kapan memasukkan masing-masing bumbu, kapan mengurangi atau membesarkan apinya, semua itu butuh dipelajari dan hasilnya selalu khas, unik dan personal—bahkan dengan bumbu sama, bisa menghasilkan rupa dan rasa hidangan yang berbeda-beda—juga penikmat yang khas dan berbeda pula.

Pemesanan Buku “Memikirkan Kata” bisa hubungi kontak Whatsapp: 082111450777

Dalam andaian semacam itu, teknik memasak, teknik menulis, pengetahuan akan bumbu-bumbu, cara mengolah dan cara menghidangkan perlu dipelajari dan dimiliki, meski hasil akhir, dan pada tahapan “pengalaman dan jam tempuh”, semua fase kaidah dan pelajaran teknik itu boleh dilanggar dan dilampaui. Tak terkecuali dalam seni menulis, berlaku juga hal serupa.

Seperti para pendaki menuju puncak, ia sudah lagi berjalan dengan spirit, ketenangan, serta kematangan batin yang didapat tak lain dari semua proses tidak mudah dan tidak sebentar dalam melampaui kaidah-kaidah teknis tersebut. Ia telah menempa diri dengan kejujuran, komitmen dan kesadaran malampui pencapaian subjektif semata. Hemingway suatu kali berujar: “Hal tersulit yang harus dilakukan penulis adalah menuliskan prosa dengan sejujur-jujurnya. Pertama, ia harus tahu subjek yang hendak diceritakkan, lalu tahu caranya menulis—keduanya butuh latihan seumur hidup.”

Sementara Natalie Goldberg pada puncaknya menyeru hal senada: “Soalnya akan seperti seorang master Zen yang mengajarkan kepadamu tentang bermeditasi selama setahun, dan pada tahun berikutnya dia berkata, ‘Abaikan rasa iba kasihan. Berdiri dengan kepala kita sendiri itu juga termasuk ke dalam meditasi’.”

Meski demikian buku “Memikirkan Kata” bukan pertama-tama disusun untuk menjadi “buku panduan” ia dikerjakan untuk membuat kita memiliki kesadaran akan pentingnya dunia buku, membaca dan juga menulis. Juga segala kemungkinan kemajuan yang bisa dibuat dengan “berpikir” dan “kata”.

Ia adalah awalan dan pondasi: pikiran yang kritis, logis, sebab luasnya wasasan dan berlimpahnya pengalaman, bisa menjadi bahan baku utama bangunan peradaban yang kita harapkan—tetapi ia membutuhkan perangkat, dan “kata” adalah bahan baku utamanya, ia disusun menjadi kata-kata, menjadi kalimat, sehingga memiliki makna dan dengan cara itu ia memperlihatkan eksistentinya untuk dipahami, memberi harapan dan sekalian menghadirkan keindahan. Saya rasa itu juga maksud dari judul yang dipilih untuk buku ini—Memikirkan Kata.

This slideshow requires JavaScript.

*

Sementara itu  mari kita bicara realitas faktual. Tetapi tidak dalam bahasan tentang angka dan pencapaian memerangi buta huruf, tinggi dan rendahnya minat baca, angka perpustakaan dan toko buku yang bangsa ini meiliki, atau kualitas pendidikan dan penyelenggaraanya, itu terlampau besar untuk bisa diwacankan dengan pengerjaan buku ini.

Faktualitas yang menjadi pijakan keinginan menghadirkan buku ini adalah faktualitas kultural: bahwa nyaris tanpa perdebatan untuk menyebut budaya literasi, khususnya “budaya menulis” masyarakat kita belum lagi memadai, atau terfasilitasi dalam kaitannya dengan kebijakan publik, atau untuk mengatakan secara lebih konstan: membaca dan menulis belum menjadi budaya bangsa ini. Pada tahap budaya artinya ia menjadi cara hidup masyarakat—bukan sekadar kebutuhan praktis misalnya karena soal pekerjaan atau sekolah barulah seseorang menulis. Budaya menulis itu penting, tetapi harus dimulai juga dari kesadaran bahwa membaca dan menulis adalah begitu penting bagi kemajuan peradaban kita.

Secara praktis, pentingnya kemampuan menulis sebenarnya tidak hanya baik dan diperlukan mereka yang butuh berkembang dalam dunia sastra dan menulis buku-buku, tapi juga dunia industri, iklan, film, kampanye lembaga sosial, kebutuhan dalam ruang pendidikan, benar dan hoaks dalam relatifitas dunia politik, bahkan juga kebutuhan personal branding di era serba digital saat ini.  Di sisi lain perkembangan dunia digital dan teknologi informasi saat ini butuh diimbangi dengan kemampuan literasi dalam artinya yang luas. Dan menulis adalah salah satu pokok yang bisa menjadi pondasi penting khususnya bagi generasi muda dalam peningkatan kapasitas dan perkembangan logika berpikirnya sehingga dapat berkompetisi dan memahami dinamika sosial yang bergerak kian lekas—disruptive. Kemampuan dan kemajuan budaya literasi semacam itu tidak hanya memberi dampak kemajuan tapi juga sekaligus penangkal yang diharpkan mampu mengalahkan lubang hitam puritanisme dan radikalisme. Karenanya yang terpenting dari hal itu adalah terawatnya kemanusiaan dan empati sosial.

“Memikirkan Kata” bisa anda dapatkan dengan harga Rp. 235.000,- |  Kajian atas buku ini klik artikel ‘Memikirkan Kata’ deciphers one of the greatest writing conundrums: Producing words | Pemesanan buku sila hubungi melaui whatsapp 082 111 450 777.

Buku “Memikirkan Kata” sendiri terdiri dari 9 bab utama, yaitu:  (1) Pengantar tentang berpikir, membaca dan pada akhirnya menulis. (2) Voice of Editor; Menilik Dapur Pikiran Para Editor Tentang Dunia Kepengarangan (3) The Prose Reader: Retorika Pengantar Tentang Teknik Penulisan (4) Tulisan Bermutu Tinggi: Panduan Tidak Sederhana Tentang Cara Menulis Bermutu  (5) Tentang Inspirasi: Bagaimana ide bekerja—dari Saul Bellow hingga Gabriel Marquez (6) Writing Tips: Menulis Itu Terkadang Mudah (7) Artist at Work—Bagaimana Pengarang itu Begitu Keras Bekerja. (8) Interview—Merayakan Obrolan Tentang Semesta Seni. (9) Nasihat Mengarang dari Penulis Buku Best Seller Dunia.

Kesembilan bab tersebut ditujukan untuk tiga pondasi utama yaitu; Pertama: melalui bab 1-2 para pembaca disuguhi “spirit” dunia buku, dunia menulis, bahwa menulis bukan pekerjaan mudah dan untuk menjadi penulis bermutu para penulis dunia telah melalui proses yang tidak satu pun gampang dan instan, bahkan memerlukan waktu belajar seumur hidupnya. Kedua; melalui bab 3-5 pembaca akan mendapatkan dasar teknikal bagaimana menullis baik dan bermutu, bahwa menulis bukan sekedar “mengarang”, ia membutuhkan kapasitas, wawasan pengetahuan, dan pendidikan teknis yang tuntas tentang bahasa, tentang tema, tentang ide dan teknik yang dibutuhkan dalam dunia tulis-menulis lainnya. Ketiga: melalui bab 6 pembaca mendapat “bonus” berupa tips atau panduan untuk menjadikan kerja menulisnya efektif. Dan Keempat: melalui bab 7-8 pembaca akan mendapatkan keluasan perspektif bahwa menulis bukan hanya soal teknik, kemampuan bagus dan tujuan menjadi penulis besar, tapi dunia menulis memiliki tanggung jawab moral sebagaimana pengakuan puncak yang ditulis para peraih nobel dalam bab tersebut. Terakhir adalah bonus bagaimana para penulis dunia terkini, umumnya penulis best seller dunia menghasilkan karya-karya terbaik mereka.

Buku ini memuat catatan dari mereka yang telah begitu lama memikirkan kata, tersesat dalam kegelapannya, mengambil dari wilayah pribadi kata-kata untuk menghasilkan cerita dan pencerahan yang dibutuhkan manusia. Para editor media ternama, para penyair, esais dan para sastrawan berkumpul dalam buku ini melalui ulasan atas karyanya, penerjemahan dan juga wawancara atas proses kreatifnya. Semua untuk membantu kita hidup dalam seni, hidup dalam kata-kata; untuk menjadi pribadi yang tumbuh, khas, berbahagia dan memberi makna bagi kehidupan—dengan menjadi pembaca, pemikir dan pada akhirnya penulis dalam artinya yang paling luas.

Pada ujungnya, saya ingin menutup dengan keyakinan Virginia Wolf yang pemikirannya tentang kata-kata dan seni menulis juga tertuang dalam buku ini: “Kata-kata seperti halnya kita, untuk dapat hidup dalam ketenangannya, membutuhkan wilayah pribadi mereka. Kata-kata, menginginkan kita untuk berpikir, dan mereka menginginkan kita untuk merasa; sebelum kita menggunakannya; tetapi mereka juga ingin kita berhenti sejenak; untuk menjadi tak sadar. Ketidaksadaran kita adalah wilayah pribadi mereka; kegelapan kita adalah cahaya bagi mereka…”

Selamat membaca, selamat memikirkan kata…

*) Sabiq Carebesth, editor dan Pendiri Galeri Buku Jakarta

____

“Memikirkan Kata” bisa anda dapatkan dengan harga Rp. 235.000,- |  Kajian atas buku ini klik artikel ‘Memikirkan Kata’ deciphers one of the greatest writing conundrums: Producing words | Pemesanan buku sila hubungi melaui whatsapp 082 111 450 777.

 

Continue Reading

Milenia

Penyair, Identitas, dan Hal-hal yang Membuatnya Kembali Diperbincangkan

mm

Published

on

Ambisi meluap berbarengan dengan dorongan kuat untuk bisa diterima, tapi untuk membentuk suatu arus baru. “Bahkan jika kami semua sudah pernah memuat karya di The New Yorker, apakah itu menjadi tujuannya?” Namun, peralihan ke arus utama jarang terjadi tanpa adanya turbulensi.

___

JESSE LICHTENSTEIN | Diterjemahkan dari “How Poetry Came to Matter Again”, SEPTEMBER 2018 ISSUE | (p)  Gabriel (ed) Sabiq Carebesth

______

DUNIA PUISI agaknya bukan tempat ‘adu warna kulit’, atau ‘race row’ menurut koran The Guardian pada 2011, yang isinya lebih ke debat kusir mengenai klaim sastrawi. Seorang kritikus tersohor (dan berkulit putih), Helen Vendler, mencibir seorang penyair terkenal (dan berkulit gelap), Rita Dove, atas karya yang ia seleksi ke dalam seri terbaru Penguin Anthology of Twentieth Century American Poetry. Rita, kata Vendler, lebih mengutamakan “inklusifitas multikultur’ daripada kualitas. Dia disebut “mengubah haluan” dengan menampilkan terlalu banyak penyair dari latar belakang minoritas, dan meminggirkan penulis yang lebih baik (dan lebih dikenal). Puisi dalam antologi tersebut “umumnya pendek” dan “cenderung ditulis dengan perbendaharaan kata yang terbatas,” dakwa Vendler, si kritikus pengawal kanon sastra abad ke-20 ini.  Sementara itu di Boston Review, Marjorie Perloff, kritikus (yang juga berkulit putih) sekaligus ahli poetika avant-garde Amerika, juga tertarik beropini. Marjorie menyesalkan bahwa penyair baru terpaku pada suatu formula lirik yang pada tahun 1960 dan 70an saja sudah dianggap jadul – biasanya berupa memori pribadi yang “dipuitiskan,” yang memuncak pada “rasa mendalam atau semacam kabut kesadaran.” Dia mengambil contoh sebuah puisi dari penyair terkenal (dan berkulit hitam), Natasha Trethewey, yang menggambarkan rutinitas pelurusan rambut yang terpaksa dilakukan ibunya .

Di sisi lain, Rita menepis persoalan pola yang dikemukakan para kritikus terkenal yang berkulit putih itu. Apakah mereka, tanya dia, sedang mati-matian menyetop gerombolan penyair masa kini yang punya warna kulit dan kesipitan mata berbeda? Apakah kami – kaum Afro-Amerika, suku asli Amerika, Latino-Amerika, Asia-Amerika – harus menghadap para kritikus yang berjaga di depan pintu, yang memeriksa CV kami sebelum mereka mempersilakan kami masuk satu per satu?

Hal ini dimulai sejak dulu, dan sejak itu pula pintu depan itu berusaha dijebol lepas dari engselnya. Coba telusuri daftar isi jurnal sastra ternama, termasuk majalah puisi se-trendi Poetry, dan juga majalah mingguan yang topiknya lebih umum dan beroplah besar macam The New Yorker dan The New York Times Magazine. Lalu, tengoklah penerima berbagai hibah, penghargaan dan undangan mengajar, yang prestisius nan bernominal besar, yang diberikan setiap tahun kepada para penyair muda potensial di Amerika Serikat. Mereka adalah para imigran dan pengungsi dari Tiongkok, El Salvador, Haiti, Iran, Jamaika, Korea, Vietnam. Dari mereka ini ada para lelaki berkulit hitam dan wanita dari Oglala Sioux. Mereka terdiri dari para gay eksentrik, atau kita sebut queer, sekaligus para heteroseksual, dan keduanya bersikap sungguh-sungguh dalam memilih bagaimana mereka harus dipanggil. Wajah kepuisian di Amerika Serikat terlihat sangat berbeda saat ini ketimbang 10 tahun lalu, dan lebih mencerminkan demografi generasi millennial Amerika. Gampangnya, bakat-bakat penyair muda saat ini bakal menjadi wajah Amerika muda 30 tahun kelak.

Para pendatang ini, sejak awal karir mereka, sudah berada di dalam – dan mereka tidak semata tinggal di dalam kompleks pertapaan puisi yang mendengar namanya diberi hukuman mati setiap bulan April, ketika Bulan Puisi Nasional tiba. Di festival sastra, banyak dari para penyair ini menjadi magnet penonton dalam jumlah besar, seperti yang saya lihat November lalu ketika ratusan orang antri di bawah guyuran hujan untuk mendengar Danez Smith dan Morgan Parker berdiskusi tentang topik “New Black Poetry” di Portland Art.

Musim semi lalu, ketika saya ketemu dengan Danez, yang bersikeras dipanggil dengan kata sebut orang-ketiga jamak, ‘mereka’ (maksud saya, Danez) baru saja kembali dari Inggris untuk tur kumpulan puisi Don’t Call Us Dead, yang merupakan finalis National Book Award. Penerbit di Inggris terkesima pada karya puisi yang mendapat apresiasi kritis di The New Yorker dan ditonton 300.000 kali di Youtube. “Ada banyak cerita yang kami telah ceritakan, yang kini mulai diceritakan secara lebih terbuka di publik,” kata Danez, tanda ia menyadari energi kolektif generasi masa kini, juga para penyair dengan warna kulit gelap atau queer, secara lebih luas. Tiap buku baru dan apresiasi atasnya memantik kompetisi yang sehat untuk berkarya dengan lebih berani. “Aku nggak mau jadi satu-satunya bahan perbincangan,” lanjut Danez. “Kemenangan seseorang itu sebenarnya juga kemenangan untuk puisi, untuk para pembaca dan untuk orang-orang yang memiliki latar belakang yang sama.”

Tidak sedikit dari garda depan generasi ini yang pertama kali menemukan puisi melalui pentas pertunjukan, atau yang tumbuh dalam komunitas di mana “bahasa lisan” dan “puisi” adalah dua sejoli. Beberapa penyair telah menunjukkan bakat dalam membangun basis penonton lewat cara-cara yang lebih subtil. Sebelum Kaveh Akbar menerbitkan koleksi debutnya pada tahun 2017, Calling a Wolf a Wolf, dia sudah dikenal lewat seri wawancara di situs web Divedapper, di mana ia menawarkan perkenalan secara dekat dan mendalam tentang para penyair Amerika mutakhir. Dia juga tak kenal lelah dalam berbagi bahan bacaannya ke 28,000 pengikut Twitter-nya. Dia rutin mengunggah tangkapan layar dari halaman buku yang membuat dia terkesan.

Penyair baru dari generasi digital ini siap mengupayakan agar karya dan nama mereka dikenal luas. Mereka memiliki agensi dan juru bicara (dalam sejarahnya, ini bahkan tidak lazim!). Beberapa orang berkarya lintas-genre, melawan keterasingan puisi. Saced Jones (Prelude to Bruise, 2014) sudah dikenal luas sebagai host dari acara BuzzFeed News. Fatimah Asghar (If They Come for Us, 2018). Ia juga menulis dan turut memproduksi web series berjudul Brown Girls, yang sedang diadaptasi ke HBO. Ada pula Eve L Ewing (Electric Arches, 2017), seorang sosiolog dan komentator isu tentang ras yang sangat dikenal di media sosial.

Para penyair yang lebih uzur mungkin akan menggerutu soal membangun jejaring dan menampilkan diri, namun, para junior mereka tanpa ragu menggamit aktivitas ini. Mereka yakin bahwa puisi, lewat kanal yang tepat, mampu “masuk ke arus utama dalam wacana nasional terkini,” seperti kata Saced. Mereka sadar satu hal: sebuah survey terkini dari National Endowment for the Arts mengungkapkan bahwa jumlah pembaca puisi meningkat 2x lipat di antara masyarakat usia 18-34 tahun selama lima tahun terakhir.

Energi yang terlihat ini lebih dari sekadar marketing jitu atau kehebohan sesaat. “Menurut pandanganku,” kata Jeff Shoots, editor utama Graywolf Press yang menyunting tiga dari 10 antologi yang berhasil masuk ke long list National Book Award 2017 bidang puisi, ”ini tanda munculnya suatu renaisans.” Dan yang paling mencolok dari para pelopor kebaruan ini adalah kembalinya puisi liris orang-pertama – suatu hal yang pada era 1970an dianggap ketinggalan jaman oleh para “pujangga bahasa”. Dakwaan-dakwaan tajam – puisi yang terlalu pribadi, terlalu sentimentil, terlalu gampang dipahami, tak cukup ‘cerdas’ untuk menstimulasi budaya postmodern yang tersaturasi media – ditujukan ke generasi avant-garde yang menanggalkan “si Aku” demi poetika yang buram dan hanya dipahami grup kecil pembaca yang lebih eksklusif lagi. Namun, generasi baru ini – sambil menggandeng teknik avant-garde (lewat penggunaan kolase dan inkoherensi radikal beserta gado-gado acuan budaya “tinggi” dan “rendah” sekaligus) – tidak serta-merta mengusung pesan yang sama. Muncul di tengah suburnya politik identitas, para penyair terkemuka, yang karakternya berlainan, saat ini tengah mengklaim lagi “Aku-yang-demokratis”, seturut ungkapan penyair Edward Hirsch

Si “Aku” ini, yang diasuh dalam berbagai bahasa dan dialek, tak bisa dikatakan terdera perbendaharaan kata yang terbatas, kata Helen Vendler. Puisi liris, bagi generasi ini, tak perlu selalu pendek. Muncul pertama kali lewat kehadiran karya laris Claudia Rankine, Citizen: An American Lyric (2014), para penyair dengan berani mematahkan tren kebanyakan buku, lewat nuansa historis dan bentuk hibrida, sejak awal mula. Si “Aku”, menyadari betapa tersisihkannya “kita” di mana ia berada, menautkan sisi personal ke sisi yang kelewat politis. Kemunculannya memantik pertanyaan puitis yang menggairahkan mengenai identitas.

Para penyair muda yang berhasil mengemuka, telah turut menjadikan ras, seksualitas dan gender sebagai episentrum kepuisian saat ini, dan mereka memperlebar sebanyak mungkin batas-batas. Mereka sungguh-sungguh dalam mengubah gagasan soal kedirian dan keberadaan seseorang dalam sebuah kelompok. Belajar dari berbagai jenis tradisi, mereka menggali kompleksitas laten dari sisi lirik “Aku”. Pada dasarnya, hal terakhir yang diinginkan si “Aku” adalah pada pengejawantahan dirinya secara utuh.

UPAYA KERAS untuk melepas engsel pintu seleksi ini sebenarnya sudah dimulai sejak puluhan dekade lalu. Ketika para pujangga bahasa sedang memperluas batas kepenyairan Amerika di akhir abad ke-20 – upaya pembalikan konstelasi kuasa dengan mengangkangi adat kesusastraan- penyair-penyair kecil juga sedang mencoba menghubungkan dunia sastra dan kanon sastra, sembari terus mengedepankan cara-cara baru dalam berekspresi. The Black Arts Movement di era 1960an dan ‘70an, dan sejumlah organisasi yang dipantiknya, memperjuangkan kanal penerbitan tersendiri bagi seniman kaum kulit hitam, Asia-Amerika, dan Latino. Namun, mulai era ‘80an, dorongan telah merambah ke permintaan akan jatah kursi yang lebih banyak bagi kaum tersebut.

Itu tidak mudah terjadi di dalam budaya kepuisian yang lebih merepresentasikan kulit putih, baik sekarang maupun di masa lalu, dan yang tak terlalu niat untuk mempertanyakan fakta tersebut. Di tahun 1988, setelah lelah menjadi sebatas pemandangan ganjil di berbagai workshop penulisan puisi, dua mahasiswa Harvard dan seorang komposer membentuk The Dark Room Collective di sebuah gedung bergaya Victoria di kota Cambridge, yang kelak menjadi ruang untuk memajukan karya penyair-penyair muda kulit hitam. Selama 10 tahun berikutnya, sejumlah bakat menemukan rumahnya di sana, mulai dari Natasha Trethewey dan Tracy K. Smith (keduanya kelak menjadi poet laureate Amerika Serikat), Kevin Young, Carl Phillips dan Major Jackson. Ambisi meluap berbarengan dengan dorongan kuat untuk bisa diterima, tapi untuk membentuk suatu arus baru. “Bahkan jika kami semua sudah pernah memuat karya di The New Yorker, apakah itu menjadi tujuannya?” Kevin, saat itu masih menjadi mahasiswa semester akhir di Harvard, berkata pada koran The Harvard Crimson  di tahun 1992. “Anda tak menangkap maksud kami jika Anda menyangka kami sekadar sopir baru yang mengendarai truk yang lama.”

Dalam beberapa tahun kemudian, wajah-wajah baru ini bila bukan menjadi orang berpengaruh, telah lebih dikenal dan diterima di dunia puisi. DI tahun 1993, Rita Dove menjadi poet laureate Amerika Serikat. Di tahun yang sama, dalam pembukaan antologi The Open Boat, karya yang berisi kumpulan puisi Asia-Amerika pertama yang disunting oleh seorang keturunan Asia-Amerika, Garrett Hongo mengarahkan perhatian pada penerimaan dari arus utama: “Saat ini, beberapa dari kami berkarya di sejumlah yayasan dan panel Hibah Seni Nasional, menjadi juri penghargaan tingkat nasional, mengajar dan membimbing program penulisan kreatif, dan menyunting majalah sastra.”

Di lanskap kepuisian yang saat itu didominasi program M.F.A (Master of Fine Arts, magister seni), sebuah jaringan dari berbagai institusi kemudian menawarkan workshop dan pelatihan gratis bagi para penyair muda dari kelompok terpinggirkan. Cave Canem, yang dibentuk pada 1996 untuk mendukung penyair kulit hitam, kemudian diikuti oleh Kundiman (bagi penulis Asia-Amerika) dan CantoMundo (bagi penyair Latino). Yayasan Sastra Lamda sampai sekarang menyediakan dukungan serupa bagi penyair LGBTQ. Penjaga tradisi dunia puisi – jurnal ternama, penerbit tersohor (baik besar maupun kecil), komite penghargaan – kini tahu ke mana mereka bisa menemukan spektrum yang lebih kaya, yang berisikan karya-karya yang telah menjalani suatu proses saringan sebelumnya.

Namun, peralihan ke arus utama jarang terjadi tanpa adanya turbulensi. Alumni The Dark Room mendapat kritikan tajam setelah mereka duduk kursi mengitari meja yang telah diperluas, hanya saja, masih di ruangan yang didirikan oleh era sebelumnya. Inklusi ke dalam makna dominan dari “kita” memunculkan tekanan untuk mencipta dan mendukung karya yang lebih mudah diakses dan telah di-depolitisasi. Antologi The Open Boat segera didapuk untuk mewakili kepenyairan Asia-Amerika melalui lensa narasi imigrasi dan asimilasi yang tidak asing di telinga. Kemunculan Kevin Young sebagai penyunting puisi di The New Yorker di usianya yang ke-47 memunculkan pertanyaan: bakal sebaru apa truk yang mereka kendarai ini?

Suasana tegang mulai mengusik bahkan di tempat paling nyaman, paling terbuka di antara berbagai zona minoritas, dimulai dari The Dark Room dan kemudian: mereka menggandeng sapaan “kita” yang telah dipakai dunia luar, beserta narasinya, sambil menyertakan sejumlah tekanan. Para penyair telah merasa kesal, dan berhasil melampaui, seluruh tekanan itu. Tentu saja: Bagaimana lagi agitasi puitik akan terjadi? Belakangan Carl Phillips menulis tentang perasaan bahwa ia telah benar-benar diasingkan dari The Dark Room karena ia “tidak menulis puisi ‘kulit hitam’ sejati.” Di esai berjudul “A Politics of Mere Being,” dia bertanya-tanya mengenai dampak dari keharusan untuk benar secara politik, namun juga “tekanan untuk politis secara benar” – yaitu dengan berkarya mengenai “isu identitas, pengasingan, ketidakadilan.” Tidakkah seharusnya, kata dia, “penyair yang terlempar ke luar, dalam konteks apapun,” menolak pandangan bahwa sekadar “resistensi” saja bisa mendefinisikan apa hal-hal yang politis?

Penyair Iran-Amerika, Solmaz Sharif, dua-puluh lima tahun lebih muda dari Phillips – yang buku puisi pertamanya, Look (2016) menjadi finalis National Book Award – juga melihat nilai dari suara “yang terus-menerus berada di luar, mempertanyakan dan menanggapi apapun yang dimaksudkan dari kata ‘di sini’ atau ‘kita’ atau ‘sekarang’.” Idealisme puitisnya adalah semacam “keadaan nomaden, atau pikiran yang terus-menerus terpacu dan mencegah momen politis ini membatu.” Sebagai upaya untuk merangkum si “Aku” yang terus berubah dan mengundang tanya, sangatlah susah untuk berbuat sesuatu yang lebih baik. Upaya untuk mewadahi seluruh keberagaman – untuk meneliti berbagai wajah kedirian (protean self) dan masyarakat yang membentuk dan mengubahnya – dalam suatu bentuk liris yang koheren masihlah sebuah eksperimen yang radikal. (*)

________

Selengkapnya dalam Majalah “Book Review and More”

 

Continue Reading

Tabloids

Kitab Suci dan Asmara

mm

Published

on

Novel berakhir dengan puncak kedukaan. Pembaca sulit mengelak dari timbunan konflik ditanggungkan para tokoh, terutama pendeta, Gertrude, Jacques, dan Amelie. Novel bergelimang duka, menguak iman dan asmara. Novel itu menuntun pembaca ke pergumulan sastra dan religiositas.

Bandung Mawardi *)

Andre Gide (1869-1951), pengarang kondang asal Prancis. Di Indonesia, ia sudah terbaca sejak masa 1940-an. Chairil Anwar menjadi pembaca cerita-cerita gubahan Andre Gide, memberi terjemahan ke pembaca di Indonesia. Hasil terjemahan itu berjudul Pulanglah Si Anak Hilang (1948). Cerita menafsir Alkitab. Buku tipis itu jadi pembuktian keampuhan Chairil Anwar sebagai pembaca sastra dunia dan menjadikan bahasa Indonesia memiliki kekuatan dalam kerja penerjemahan. Chairil Anwar rajin menulis puisi tapi memiliki gairah atas prosa dunia. Di Indonesia, buku itu semakin membesarkan pengaruh sastra Prancis dalam perkembangan sastra modern di Indonesia.

Pembaca bersabar untuk mendapatkan terjemahan buku Andre Gide. Kerja lanjutkan dilakukan oleh Ali Audah dengan penerjemahan Theseus (1979). Buku tipis, 64 halaman. Buku mujarab bagi pemuja atau pembaca berselera sastra Prancis. Khazanah buku terjemahan sastra dunia berasal dari Prancis mendapat pembaca menggairahkan berbarengan acuan ke filsafat sedang bergolak di sana. Novel itu ditulis Andre Gide saat tua (70 tahun) dan berada di Afrika Utara. Ia melihat Prancis merana dalam Perang Dunia II. Theseus bisa dituduh “puisi berwujud prosa”. Theseus menambahi kemonceran Andre Gide di Indonesia (Jakob Sumardjo, Dari Khazanah Sastra Dunia, 1985). Jarak penerbitan Pulanglah Si Anak Hilang dengan Theseus cukup lama. Penerjemahan buku sastra asal Prancis di Indonesia sering Emile Zola, Alexander Dumas, dan Antoine de Saint-Exupery.

Pada 1987, pembaca disuguhi novel berjudul Simfoni Pastoral diterjemahkan oleh Apsanti Djokosujatno. Novel masih tipis, 74 halaman. Novel diterjemahkan dari edisi bahasa Prancis: La Symphonie Pastorale. Pembaca sudah mendapat tiga hasil terjemahan, berbeda cita rasa dan pesona pengisahan. Tiga buku masih bersandar ke Alkitab. Andre Gide memang berada di sastra religius dengan sekian kejutan makna dan dokumentasi situasi zaman. Andre Gide mungkin mulai diakui sebagai pengarang tenar oleh para pembaca di Indonesia meski jumlah buku diterjemahkan ke bahasa Indonesia masih sedikit. Penggemar Andre Gide tentu bertambah dengan keberadaan jurusan sastra Prancis di sekian universitas. Novel berjudul Simfoni Pastoral memberi kesan berkepanjangan bagi pembaca ingin mengetahui pengabdian sastra Andre Gide, dari masa ke masa.

Novel itu teranggap bukan puncak capaian bersastra oleh Andre Gide. Di Kamus Karya Sastra Perancis (1991) susunan M Bouty, kita tak menemukan ulasan untuk Simfoni Pastoral. Pilihan buku-buku di kamus mengacu ke patokan “paling mewakili dari chanson de geste dan roman berbentuk syair dari Abad Pertengahan, hingga roman dan drama kontemporer”. Sekian buku jarang dibaca tapi dianggap berpengaruh pun mendapat halaman-halaman ulasan. Simfoni Pastoral tak ada di situ. Pembaca mendapat ulasan buku-buku gubahan Andre Gide: Les Naourritures terrestres (1897), L’Immoraliste (1902), La Porte etroite (1909), Les Caves de Vatican (1914), Les Faux-Monnayeurs (1925), dan Si le grain ne meurt (1926). Tiga buku hasil terjemahan Chairil Anwar, Ali Audah, dan Apsanti Djokosujatno di luar kamus.

Pada 2008, kita mendapatkan lagi novel gubahan Andre Gide diterjemahkan ke bahasa Indonesia berjudul Pendidikan Istri terbitan YOI. Judul mungkin tak menarik. Pembaca awam menduga itu buku mendidik istri seperti buku-buku pernah terbit sejak masa 1950-an. Di toko buku, Pendidikan Istri bisa salah tempat, ditaruh di rak bertema perempuan atau keluarga. Kita mencatat lagi Andre Gide tetap sedikit mendapat perhatian dari pembaca, kalah bersaing dengan Emile Zola, Alexander Dumas, dan Antoine de Saint-Exupery. Pengetahuan kita agak bertambah dengan membuka Ensiklopedia Sastra Dunia (2019) susunan Anton Kurnia. Ada keterangan hampir sehalaman mengenai Andre Gide. Pengarang besar itu meraih Hadiah Nobel Sastra 1947.

Pada 2019, kita berhak membuat peringatan 100 tahun penerbitan Simfoni Pastoral meski bukan novel terampuh dari Andre Gide. Kita menempatkan novel dalam jalinan sastra dan religiositas. Kita agak meniru YB Mangunwijaya meski Simfoni Pastoral bukan pilihan penting di buku berjudul Sastra dan Religiositas (1982). Esai-esai garapan Romo Mangun terbit dulu, sebelum kita membaca Simfoni Pastoral. Kita menduga Romo Mangun mengenali dan membaca sekian cerita gubahan Andre Gide. Kita simak saja penjelasan Romo Mangun: “Religiositas lebih melihat aspek yang ‘di dalam lubuk hati’, riak getaran hati nurani pribadi; sikap personal yang sedikit banyak misteri bagi orang lain, karena menapaskan intimitas jiwa, du coeur dalam arti Pascal, yakni cita rasa yang mencakup totalitas (termasuk rasio dan rasa manusiawi) kedalaman si pribadi manusia.” Penjelasan mendalam dan mengena. Konklusi terpenting: “Semua sastra yang baik selalu religius”.

Ida Sundari Husen dalam buku berjudul Mengenal Pengarang-Pengarang Perancis: Dari Abad ke Abad (2001) memberi keterangan: “Andre Gide sangat terpengaruh oleh pendidikan Protestan yang ketat yang diterima semasa kecil. Tetapi, setelah dewasa ia sering mempersoalkan kepercayaannya kepada Tuhan, keragu-raguan serta rasa tidak percaya. Lama ia meninggalkan kepercayaannya itu. Namun pada tahun 1905 kembali ia merindukan seusana keagamaan yang pernah diyakininya.” Kedirian itu terasa di gubahan novel-novel.

Simfoni Pastoral bertokoh pendeta di kebimbangan dan keputusasaan. Kewajiban berdalih agama, rasa kemanusiaan, dan asmara-berahi memicu konflik demi konflik. Alkisah, ia mendatangi rumah dihuni orang-orang nestapa. Di situ, ia melihat wanita tua meninggal dalam derita. Di rumah buruk dan kelam, ia melihat pula gadis berusia belasan tahun dalam nasib tak tentu. Para tetangga mengatakan si gadis itu buta dan jarang bicara. Pendeta tak tega meninggalkan si gadis dalam penderitaan. Gadis itu diajak turut pulang ke rumah. Di perjalanan, pendeta itu berkata: “Dalam tubuh yang buram itu tentu ada jiwa yang menghuni, yang terkurung. Semoga suatu cahaya berkat-Mu menyentuhnya, ya, Tuhan! Dan mungkin Engkau akan memperkenankan kasihku menguakkan kegelapannya yang mengerikan.” Semula, tindakan membawa gadis itu ke rumah mendapat tanggapan kurang baik dari istri dan anak-anak.

Hari-hari berganti, gadis bernama Gertrude mengalami perubahan setelah diajari berbusana rapi, makan, dan bicara. Pendeta merasa bakal ada nasib terang bagi Gertrude. Pengharapan itu perlahan menumbuhkan masalah di rumah. Sang istri merasa ada tambahan tanggungan dan menganggap ada masalah sedang berbiak mungkin menghancurkan pelbagai hal. Pendeta tetap berdalih itu kewajiban agama dan kemanusiaan dalam memberi pengasuhan dan keselamatan untuk orang nestapa.

Hari demi hari bergerak dengan pesona dan petaka. Gertrude perlahan tampil anggun dan menerbitkan pesona sulit ditampik oleh pendeta. Putra tertua pun mulai terpikat ke Gertrude. Asmara pun bersemi. Pendeta tetap berdakwah dan menunaikan tanggung jawab bagi keluarga. Ia berada di kubangan masalah, menanggung pergolakan iman dan asmara. Pendeta mengetahui bahwa putra tertua mencintai Gertrude. Ia belum rela. Ia pun ingin memiliki Gertrude, memadu kasih “terlarang” dengan memicu pedih dan dendam di keluarga. Novel memang tipis tapi pembaca sulit reda dari gejolak-gejolak para tokoh. Novel mengabarkan tafsir Alkitab, situasi zaman, tata keluarga demokratis, kemajuan ilmu kedokteran, dan penguatan humanisme.

Tokoh paling menderita buka pendeta tapi Gertrude. Ia menghadapi dua lelaki: bapak dan putra. Getrude sedang menempuhi jalan iman melalui khotbah dan cerita pendeta tapi “terlena” dalam percakapan manusiawi bersama putra tertua pendeta. Dua lelaki itu berseteru. Gertrude “terluka” saat mulai mendapatkan berkat dengan menekuni Alkitab. Di luar penerimaan kitab suci, asmara mendera tak keruan. Hari-hari menjadi amburadul dengan kebohongan dan kesakitan.

Pada suatu hari, Gertrude memiliki nasib “baik” dengan operasi mata. Ia bisa mentas dari gelap. Ia melihat dunia: terpana dan tersiksa. Pada hari-hari menjelang operasi, pendeta dan Gertrude berjalan berdua dalam ketegangan. Mereka bercakap tentang kitab suci dan asmara. Gertrude berkata lembut menumpahkan sindiran ke pendeta: “Kebahagiaan bukan hal utama bagiku. Aku lebih suka mengetahui. Ada banyak hal, tentunya yang sedih-sedih yang tidak dapat kulihat. Tetapi, Bapa tidak berhak membiarkan aku tidak mengetahuinya. Lama aku berpikir selama bulan-bulan musim dingin yang lalu. Bapa tahu, aku khawatir dunia seluruhnya tidak seindah yang Bapa gambarkan, bahkan mungkin jauh dari itu.” Gadis itu belum melihat dunia tapi menanggungkan seribu duka, khawatir, dan ragu. Ia mungkin tak terlalu ingin melihat dunia, melihat pendeta, dan melihat “kekasih” atau putra pendeta bernama Jacques. Dosa demi dosa dimengerti dengan keterbatasan: bertambah dan memberi siksaan batin.

Operasi itu berhasil. Gertrude melihat dunia dengan mata-duka. Ia malah memilih mati, menenggelamkan diri ke sungai. Gertrude tak melihat terang tapi berada di kegelapan perasaan. Iman menjadi peringatan atas nasib diri dan wanita bernama Amelie (istri pendeta). Tubuh dalam sakit dan perasaan tak keruan. Di ranjang, Gertrude berucap kepada pendeta: “Tetapi ketika aku tiba-tiba melihat wajahnya, ketika aku melihat wajahnya yang malang begitu banyak kesedihan, aku tidak dapat lagi menanggungkan pikiran bahwa kesedihannya itu adalah akibat perbuatanku. Tidak, tidak, jangan membantah. Biarkan aku pergi dan kembalikan kebahagiaannya padanya.” Pengakuan mengharukan bagi gadis menginginkan kematian. Gertrude sempat mengingatkan perkataan Kristus: “Sekiranya kamu buta kamu tidak berdosa.” Perempuan itu mati.

Novel berakhir dengan puncak kedukaan. Pembaca sulit mengelak dari timbunan konflik ditanggungkan para tokoh, terutama pendeta, Gertrude, Jacques, dan Amelie. Novel bergelimang duka, menguak iman dan asmara. Novel itu menuntun pembaca ke pergumulan sastra dan religiositas. Di akhir cerita, pendeta mengaku dalam sendu: “Aku sebenarnya ingin menangis, tetapi aku merasa hatiku lebih kering daripada gurun pasir.” Kini, kita mencatat Simfoni Pastoral berusia 100 tahun tapi usia “duka” berkaitan kitab suci dan asmara masih terasakan sampai sekarang. Begitu. (*)

 

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending