Connect with us

Tips Menulis

Bagaimana Menulis Resensi Buku? Belajar Pada Damhuri Muhammad

mm

Published

on

Resensi atau timbangan buku–belakangan disebut juga kritik buku, dapat dikatakan sebagai tulisan popular berisi ulasan kritis dan komprehensif terhadap pokok-pokok pikiran dari sebuah buku baru, baik fiksi maupun non-fiksi. Corak penulisannya ringan, lugas, ringkas, sesuai dengan ketersediaan ruang pemuatan di media massa–koran, majalah, dan tablod. Panjang resensi biasanya berkisar antara 6.000 hingga 7.000 karakter (with space). Resensi dilengkapi dengan gambar sampul depan buku, dan data buku yang menjelaskan; nama penulis, penerjemah, editor, ketebalan, bulan dan tahun terbit, serta harga jual buku.

Ukuran kebaruan sebuah buku yang layak diresensi dan layak pula dimuat oleh media, biasanya berkisar antara 1 sampai 6 bulan setelah terbit. Meskipun belakangan ada juga media yang menerima resensi terhadap buku-buku lama, terutama yang mengalami cetak-ulang.

Para penulis resensi buku di media-media luar negeri, katakanlah yang biasa muncul di www.newyorker.com, www.theguardian.com, atau www.amazon.com, biasanya berasal dari kalangan akademisi atau editor profesional. Namun, tidak demikian halnya dengan kelaziman penulisan resensi buku di Indonesia. Para peresensi yang biasa tampil di media-media nasional banyak yang bermula dari komunitas-komunitas pembaca buku, dan hanya sesekali ditemukan peresensi buku dari kalangan akademisi. Namun karena keterampilan menulis yang handal, hingga kini media tetap mempercayai dan menampilkan karya-karya mereka. Sebutlah misalnya nama-nama seperti Anwar Holid, Hikmat Darmawan, Nur Mursidi, Hernadi Tanzil, Muhidin M Dahlan, Adi Thoha, dan lain-lain.

Oleh karena sifatnya kajian, resensi lazim menggunakan sudut pandang keilmuan sosial tertentu, seperti sosiologi, antropologi, arkeologi, sejarah, atau psikologi. Bila jenis buku yang ditimbang adalah buku fiksi, perspektif yang biasa digunakan penulis adalah kritik sastra, linguistik, filsafat seni (estetika), fenomenologi, semiotika, hermeneutika, dan lain-lain.

Namun, resensi berbeda dengan esai kajian yang tersiar di jurnal-jurnal akademik. Resensi menghindari penggunanaan istilah-istilah teoritis yang rigid. Penulis resensi biasanya berupaya menyederhanakan pemahaman teoritis tersebut dengan kalimat-kalimat praktis yang dapat dicerna oleh sebanyak-banyaknya pembaca. Mengingat koran, majalah, atau tabloid yang menyediakan rubrik buku, adalah media publik dengan pembaca umum dari berbagai kalangan.

Tujuan utama dari sebuah resensi buku adalah menunjukkan keunikan, kekuatan, kelebihan atau bahkan keistimewaan dari sebuah buku. Cara mengukurnya sederhana. Bila setelah membaca sebuah resensi, pembaca langsung tergerak untuk mencari buku tersebut di toko buku, atau memesannya secara online, maka resensi dapat dikatakan telah berhasil. Dengan begitu, unsur marketing tak dapat dihindarkan dari sebuah resensi. Penerbit akan menyukai peresensi yang mahir meresapkan strategi promosi dalam tulisannya. Meski begitu, media tidak bisa menerima begitu saja resensi yang terlalu berbau iklan. Media tetap mempertimbangkan ulasan kritis yang berkedalaman terhadap kandungan buku. Dan, yang lebih penting lagi, media akan sangat menyukai resensi yang dikontekstualisasikan dengan persoalan-persoalan aktual, terutama hal-ihwal yang sedang menjadi perhatian media.

Tahap-tahap Latihan Menulis Resensi Buku

(khusus untuk buku fiksi)

1      

Mendeskripsikan Pengalaman Baca

Setiap peserta melaporkan pengalaman baca terhadap buku-buku fiksi, baik fiksi serius maupun fiksi popular. Masing-masing peserta setidaknya dapat melaporkan pengalaman baca sekitar 1-2 buku¾bila lebih akan lebih baik. Variabel yang dapat dilaporkan, antara lain:

  1. Apa tema utama buku yang sudah tuntas Anda baca?
  2. Apa masalah utama yang Anda temukan dalam buku tersebut?
  3. Sebutkan nama-nama tokoh rekaan pengarang yang menurut Anda penting dari buku tersebut! Rinci perannya satu per satu!
  4. Deskripsikan perwatakan yang telah Anda dalami dari masing-masing tokoh rekaan tersebut!
  5. Menurut Anda, apakah kisah yang tersuguh dalam buku tersebut menarik dan patut diperbincangkan?
  6. Bila menurut Anda kisahnya tidak menarik, seperti apa semestinya kisah tersebut dirancang dan diakhiri?
  7. Menurut Anda, apakah kisah tersebut penting bagi khalayak pembaca di Indonesia?

Laporan bacaan ditulis dalam bahasa yang lugas. Instruktur akan memberikan waktu 15 menit. Setelah itu, masing-masing peserta akan mempresentasikannya secara lisan.

  1.       

Cara Menemukan Gagasan Utama

Bila agama melihat benar-salah secara hitam-putih, begitu juga dengan etika, yang selalu memposisikan “yang buruk” di bawah derajat “yang baik,” sastra agak berbeda dalam melihat persoalan ini. Tokoh rekaan bernama Aziz–dalam roman Tenggelamnya Kapal Van der Wijk, mahakarya Buya Hamka–adalah sosok lelaki jahat, karena dengan cara sewenang-wenang ia merampas Hayati dari tangan Zaenuddin–laki-laki miskin yang amat dicintainya. Setelah Hayati dipersuntingnya, dalam waktu yang tidak terlalu lama, perempuan itu memang hidup dalam keberlimpahan dan kemewahan menurut ukuran kurun itu, tapi kemudian Aziz menzalimi istrinya. Bukan hanya dengan kata-kata kasar, tapi juga dengan kekerasan fisik, hingga akhirnya Hayati tidak merasa berbahagia. Namun, bukan berarti Aziz bejat seutuhnya. Meski suka berfoya-foya, berjudi dan main perempuan, bukankah ia tidak pernah melalaikan tanggung jawab sebagai suami? Bahkan pada saat posisinya terjepit–jatuh miskin dan terlilit utang¾ khususnya ketika ia bertugas sebagai pegawai Belanda di Surabaya, ia mati-matian berupaya menyelamatkan kehidupan keluarganya, menyelamatkan Hayati istrinya dari ancaman kemiskinan. Aziz rela mengemis bantuan pada Zaenuddin, mantan kekasih Hayati yang sedang bertabur bintang masa itu. Bahkan Aziz berani menumpang tinggal di rumah laki-laki yang telah ia buat menderita seumur-umur. Inilah yang disebut dengan wilayah abu-abu dalam ranah sastra. Para ahli menyebutnya “wilayah ambigu”. Dalam yang jahat masih ada yang luhur. Dalam kelam masih ada secercah cahaya. Dalam keriuhan ternyata ada kesendirian. Begitu seterusnya. Dan, persoalan ini dapat menjadi gagasan utama dalam resensi Anda. Uraian ini sekadar contoh tentang cara menemukan ide yang akan menjadi penyangga dalam resensi Anda.

  1. Dari 1-2 buku fiksi yang telah Anda laporkan, dapatkah Anda menemukan sebuah ide yang bakal menjadi perhatian utama dalam resensi Anda?
  2. Masing-masing peserta dapat mengajukan ide atau gagasan utama secara lisan, lalu instruktur akan mengajukan sejumlah pertanyaan kritis guna menstimulasi berkembangnya layar kreatif Anda dalam menulis resensi.
  3. Dapatkah Anda membandingkan gagasan utama tersebut dengan gagasan serupa yang pernah Anda temukan pada buku fiksi yang lain? Apa keistimewaan buku yang sedang Anda resensi, dan apa kelemahannya bila dibandingkan dengan buku-buku lain yang pernah mengusung persoalan serupa di masa lalu?
  4. Setelah merasa yakin dengan pilihan ide masing-masing, instruktur akan mempersilahkan peserta untuk mulai menulis. Waktunya sekitar 20 menit. Tidak perlu langsung jadi. Cukup 1 halaman saja. Cukup menjadi sebuah resensi mentah saja…

Evaluasi

Masing-masing resensi mentah yang sudah dikumpulkan oleh peserta akan dievaluasi, dan yang dianggap kuat oleh instruktur, akan dibahas satu per satu. Pembahasan akan melibatkan semua peserta. Instruktur akan membacakannya di hadapan peserta, hingga semua peserta dapat mengajukan pertanyaan, menanggapi, menambahkan, atau bisa juga menyangkalnya dengan argumentasi-argumentasi yang dapat dipertanggungjawabkan. Oleh karena waktu yang mungkin terbatas, instruktur akan memilih 3 esai mentah terbaik. Berikut sejumlah kriteria yang dapat menjadi pokok perhatian dalam sesi pembahasan:

  1. Pilihan tema
  2. Pilihan judul
  3. Penguasaan terhadap materi bacaan
  4. Keluasan wawasan
  5. Keterampilan berbahasa
  6. Ketajaman analisa

Finishing  

Gagasan-gagasan pendukung yang diperoleh dari tahap evaluasi, dapat langsung ditulis untuk menyempurnakan resensi mentah menjadi resensi yang utuh. Resensi yang tidak terpilih untuk diperbincangkan secara bersama-sama tetap dilanjutkan dengan cara yang merujuk pada ide-ide kreatif, sebagaimana yang diperoleh dari tahap evaluasi. Waktu yang tersisa digunakan untuk finishing esai. Masing-masing resensi dikumpulkan, untuk dinilai oleh instruktur, dan diserahkan kepada panitia penyelenggara.

Publikasi

Resensi yang dinilai kuat gagasannya, relevan dengan persoalan-persoalan kekinian, tajam analisanya, dan menarik cara penyajiannya, akan mendapatkan ruang pemuatan di media cetak, khususnya koran atau majalah yang menyediakan rubrik buku. Perlu dicatat, resensi Anda akan beroleh imbalan yang setimpal. Harian Kompas, memberikan honor esai sastra antara 750 rb s/d Rp. 1 juta. Harian Jawa Pos, sekitar Rp.750 ribu. Bila Anda merasa tertantang untuk menjadi peresensi profesional¾dan itu pasti tidak akan menyita waktu Anda dalam kesibukan lain¾ikutilah tips ringan di bawah ini:

  1. Pilihlah tema yang unik dan menarik bagi pembaca umum¾dari semua kalangan. Misalnya “Korupsi dalam Teks Fiksi.” Konsekuensi dari pilihan tema ini adalah mengumpulkan sejumlah karya fiksi, apapun bentuk dan genrenya, yang gagasan utamanya bertolak dari kompleksitas persoalan korupsi. Lalu, kajiannya dikontekstualisasikan, atau dihubungkaitkan dengan persoalan-persoalan kekinian, hingga menjadi sebuah ulasan yang up to date dan menarik untuk diperbincangkan.
  2. Sesuaikan panjang tulisan dengan ruang yang tersedia di koran. Resensi yang terlalu panjang, meskipun menarik, tidak akan dimuat.
  3. Kenali media yang akan Anda kirimi resensi. Setiap media selalu memiliki kepentingan. Tema “Tuhan dalam Karya Sastra” bisa saja sulit mendapatkan akses di media yang terbilang alergi dengan isu-isu agama. Namun, bila penggarapannya dilakukan dengan pertimbangan dan kehati-hatian, sensitifitas yang biasa dihindari media dapat tertutupi. Maka, setiap istilah yang digunakan mesti dijaga dan diperiksa secara cermat, hingga tidak berbenturan dengan kepentingan media tertentu, apalagi dengan kepentingan pembaca pada umumnya.
  4. Upayakan resensi bersifat informatif bagi pembaca, terutama info-info terkini perihal buku yang sedang menjadi perhatian. Lakukan perbandingan dengan buku-buku yang terbit sebelumnya, begitu pula dengan kajian yang pernah ada sebelumnya. Bila perlu tambahkan dengan kajian-kajian terhadap tema serupa yang pernah dilakukan oleh esais atau peneliti sastra di luar negeri. Dengan begitu, resensi akan menjadi kaya, dalam pengetahuan, luas daya jangkaunya.
  5. Provokasilah pembaca dengan keterampilan berbahasa, hingga pembaca akan tergesa mencari buku yang Anda resensi ke toko buku atau memesannya secara online. Buatlah pembaca tidak akan pernah tenang sebelum memiliki bukunya.
  6. Mungkin Anda perlu sedikit berdoa…

Happy writing!

*Damhuri Muhammad, lahir 1 Juli 1974. Alumnus Pascasarjana Filsafat Universitas Gadjah Mada ini bermukim di Jakarta. Ia menulis cerpen, esai seni, dan kritik buku di media-media nasional. Karya fiksinya: Laras (2005) Lidah Sembilu (2006), Juru Masak (2009). Cerpennya Ratap Gadis Suayan, Bigau, dan Orang-orang Larenjang terpilih dalam buku cerpen pilihan Kompas, pada tahun pemilihan yang berbeda-beda. Buku esainya; Darah-daging Sastra Indonesia (2010). Sehari-hari ia bekerja sebagai redaktur sastra di harian Media Indonesia, Jakarta. Preview karya-karyanya dapat dibaca di: www.damhurimuhammad.blogspot.com. Ia dapat dihubungi via akun twitter: @damhurimuhammad

Continue Reading

Tips Menulis

Mengapa Ribuan Karya Dibuang Editor ke Tong Sampah!

mm

Published

on

Setiap editor karya fiksi pasti menyadari bahwa ia memiliki tiga tanggung jawab. Dalam memilih naskah, dia harus menyenangkan pembaca. Tetapi dia juga harus menyenangkan para pemilik penerbit. Selain itu, dia juga akan mengikuti hasrat dirinya sendiri alias soal suka tidak suka.

Editor bekerja di bawah kontrak tidak tertulis untuk mengemban tanggung jawab memikirkan nasib pembaca. Dengan begitu, editor harus memahami siapa pembaca terbitan perusahaannya dan bagaimana membuat sebuah karya memenuhi kebutuhan mereka.

Tapi, perlu juga diakui, banyak editor lebih mengutamakan kepentingan penerbit sehingga lebih mementingkan aspek komersial dari sebuah karya. Padahal, karya fiksi jelas tidak bisa dinilai dengan harga setumpuk kertas atau barang pabrikan lainnya.

Editor juga harus diakui tak bisa melepas hasrat pribadinya saat menilai karya. Setiap penerbit atau terbitan majalah pasti memiliki karakter khas yang membedakannya dari semua pesaing. Nah, karakter khas ini dibentuk oleh para editor, yang tidak bisa melepas ketertarikan pribadinya untuk menyukai suatu karya tertentu. Editor pasti enggan mempublikasikan cerita yang dianggapnya sampah, meskipun penerbit lain menerbitkannya.

Para editor juga memiliki kiat berbeda saat menyeleksi karya. Misalnya, ada yang selalu membaca setiap karya yang ditawarkan penulis. Tapi, ada juga editor yang hanya membaca karya dari penulis yang sudah dia ketahui reputasinya. Cara lain, editor memilih karya berdasar tema yang sedang diinginkan oleh mayoritas pembaca. Meskipun demikian, banyak editor yang lebih memperhatikan kualitas karya saat menyeleksi cerita yang hendak diterbitkan.

Berikut ini, daftar enam alasan umum dari para editor saat menolak karya yang dikirimkan pengarang ke penerbit:

  • Meskipun suatu karya layak dibaca, isinya tidak sesuai dengan karakter penerbit buku atau media calon pemuat karangan penulis.
  • Isi cerita menyerupai dalam hal tema, plot maupun situasi di sejumlah cerita yang belakangan sudah dipublikasikan penerbit tempat editor bekerja. Hal ini tidak terkait dengan plagiarisme, melainkan lebih mengenai variasi karya terbitan sebuah penerbit. Tapi, plagiarisme tetap bisa menjadi alasan utama membuang sebuah karya ke tong sampah.
  • Karya terlalu panjang atau terlalu pendek. Atau isi karya terlalu bertele-tele. Untuk jumlah kata dalam sebuah karya, setiap penerbit biasanya memiliki ketentuan berbeda.
  • Karakter, plot, dan atmosfer sebuah karya lemah. Faktor yang paling penting dalam sebuah cerita adalah karakter, yakni orang-orang harus tampak nyata dan hidup. Plot juga harus menarik dan suasana tempat dalam cerita betul-betul menarik diceritakan.
  • Karya berisi propaganda. Perlu diingat, propaganda tak memiliki tempat dalam fiksi. Khotbah mengenai agama dan politik partisan adalah topik paling berbahaya untuk karya fiksi. Kalaupun, karya bercerita soal ideologi tertentu, sebaiknya penulis hanya menempatkannya sekedar sebagai komedi kehidupan dan bukan pusat cerita.
  • Karya ditulis secara sembarangan dan bahasa tak tertata rapi. Jadi, selain memperhatikan kualitas narasi dalam cerita, editor juga akan mempertimbangkan kisah-kisah yang ditulis dengan baik.

Tips terbaik bagi para penulis untuk memikat editor ialah membaca dengan seksama karya-karya yang sudah dipubikasikan oleh penerbit tujuannya.

Penulis memang tidak seharusnya patuh pada keinginan editor. Sebab karya fiksi berkualitas haruslah ekspresi kedirian yang bebas dari rasa takut pada kritikus atau editor.

Akan tetapi, penulis juga harus bersiasat agar tidak jatuh pada kesalahan tak perlu yang membuat editor menganggap karyanya terlalu jauh melanggar pakem. Misalnya, kesalahpahaman banyak penulis pemula bahwa fiksi yang menarik harus romantis dan memuat kisah mendebarkan. Atau, kisah yang memuat urutan kronik, tanpa plot.

Hal yang perlu mendapat perhatian lebih adalah soal puisi. Karya ini biasanya jauh lebih banyak dikirimkan ke penerbit ketimbang jenis fiksi lain. Tak heran, editor penerbit besar akan sangat selektif untuk memilih karya penyair terbaik. (*)

__________

*) diterjemahkan dari “WHY I REJECT TEN THOUSAND MANUSCRIPTS” Karangan Louis Dodge, oleh Addi M Idham, di editori oleh Sabiq Carebesth.

 

Continue Reading

Tips Menulis

Pengarang dan Gaya Penulisannya

mm

Published

on

Banyak penulis pemula yang menekuni penulisan sastra kerap terjebak pada motivasi membentuk gaya tulisan indah. Padahal, ide soal gaya penulisan, bisa jadi adalah mitos. Pemenuhan ambisi itu tak menjamin para penulis pemula akan menjadi pengarang besar.

Nasihat terbaik kepada setiap pemula dengan ambisi seperti itu adalah: “Kalau mau menulis dengan baik, tulis saja kalimat yang lengkap diawali huruf kapital dan diakhiri tanda titik. Jika ingin tulisan berkualitas maka sampaikanlah sesuatu, ungkapkan sebuah gagasan!”

Tidak pernah ada cerita bagus di dunia ini tanpa membawa ide segar dan otentik. Jadi, gaya penulisan buruk bukan datang dari karakter penulisan yang membosankan. Tapi, karena sang pengarang memang hanya punya sedikit gagasan untuk diungkapkan.

Kisah-kisah dari masa silam, seperti Mahabharata atau Seribu Satu Malam, mampu langgeng dan memikat pembaca di zaman-zaman berbeda tentu bukan karena ditulis dengan bahasa indah, melainkan karena memuat ide dan gagasan otentik mengenai siapa itu manusia.

Ketika anda menemukan seorang penulis dengan gaya penulisan menawan, pasti dia adalah pengarang yang menawarkan gagasan besar untuk pembaca. Ia punya sesuatu yang layak diketahui dunia, sesuatu yang mungkin membuat setiap pembaca menemukan suluh untuk melihat ujung kegelapan.

Banyak kritikus sebenarnya enggan menyebut tulisan Pramoedya Ananta Toer indah dan menawan. Bahkan, sebagian menilai tetralogi buru dipenuhi melodrama. Karya bung Pram memikat justru karena sang pengarang menyampaikan “sesuatu” tentang nasionalisme yang begitu menggetarkan, hasrat melawan penindasan kolonial dan pembelaan pada kemanusian yang meluap-luap. Sebelum bung Pram, tak ada pengarang mengungkapkan gagasan nasionalisme Indonesia dengan daya dobrak sekuat tetralogi buru.

Contoh lain, banyak pembaca sastra di awal abad 20 memuja gaya penulisan Joseph Conrad (1857-1924). Tentu saja dia memiliki gaya luar biasa. Tetapi, ini bukan karena Conrad lihai menyulap bahasa. Itu karena dia memiliki banyak hal untuk dikatakan dan jarang diungkapkan pengarang lain.

Conrad mampu dengan saksama mengamati apa yang terjadi pada pikiran saat manusia berada di laut maupun tempat terpencil. Conrad juga menyampikan hal ini ke pembaca dengan cara sesederhana yang dia tahu.

Di Novel Nostromo (terbit pertama 1904), Conrad bercerita soal tempat terpencil sekaligus keserakahan dan intrik politik untuk memperebutkan tambang di negara imajiner bernama Republik Costaguana. Di sini, ia bercerita ke pembaca soal kekelaman jiwa, saat manusia beradab menjadi beringas karena terputus dari hubungan dengan sesama manusia.

Saya berani menyatakan, bahwa ketika menulis, Conrad tidak memikirkan bahasa, tetapi malah berkonsentrasi pada fakta, episode, adegan yang akan dipaparkan ke pembacanya. Dan, dia pun berhasil mengatakan “sesuatu” kepada kita.

Bisa jadi ketika penulis muda disarankan membentuk gaya bahasa, yang sebenarnya dimaksudkan, adalah cara menyampaikan gagasan. Mungkin pula yang dimaksud dengan cara menyampaikan dan gaya penulisan adalah satu hal yang sama. Namun, cara penyampaian kata-kata menentukan kesan bagi pembaca.

Perlu diingat, cerita sebagaimana juga orang, lebih disukai jika apa adanya. Analoginya, lebih baik mendengar cerita seorang pengemis dengan kisah nyata berisi luka dan duka daripada ocehan diplomat hebat yang bertopeng.

Soal gaya penulisan ini, mungkin nasihat yang bisa bermanfaat bagi penulis pemula ialah: “Jangan berpikir panjang tentang bagaimana mengatakan sesuatu, tapi berfokuslah memilih hal yang tepat untuk diceritakan.”

Banyak penulis berpengalaman tentu saja pernah berlama-lama serius belajar tata bahasa, sintaksis dan etimologi, dan biasanya kemudian lupa hal-hal seperti itu, karena fokus terbesarnya ialah: mengungkapkan gagasan. Ini sama seperti petinju yang mungkin berlatih keras mempelajari cara Muhammad Ali atau Mike Tyson saat bertanding, tapi ketika di atas ring, yang dia ingat hanya satu: bagaimana menjatuhkan lawan.

Pengarang berkualitas akan terus menerus berfokus menyeleksi dan menghapus paragraf atau kalimat dalam cerita, jika tidak mengatakan apa-apa, tanpa peduli betapa indah bahasanya. Sebab, kalimat atau paragrap “tanpa isi” adalah penyusup yang bisa menghancurkan minat pembaca dan tujuan utama penulis untuk menyampaikan gagasan.

Percayalah, setiap pembaca akan melihat hal-hal tak perlu atau pengulangan karya lain. Mereka pasti berharap menemukan “sesuatu” yang segar dan baru. (*)

*) diterjemahkan dari “The Author and his style” Karangan Louis Dodge, oleh Addi M Idham, di editori oleh Sabiq Carebesth.

Continue Reading

Milenia

Tradisi Puisi “Imagism”: Mencari yang Konkrit, Menyepuh yang Abstrak

mm

Published

on

Kelompok penyair Imagism  (gambar, visual—bukan dalam makna “imajinasi”/ “Imagination“) berbeda dengan kelompok penyair romantik. Yang terakhir disebut adalah lebih pendahulu. Kelompok penyair pertama, ‘terkesan’ menjadi konservatif dan tradisional pada awal abad 20—persisnya ketika semua seni dipolitisasi dan dipancarkan oleh revolusi—dengan slogan dan abstraksi-abstraksi. Kelompok penyair imagism (imajis)  ini kembali pada tradisi Yunani klasik, tradisi Roma, dan Prancis abad 15 untuk menyusun semacam “manifesto” yang mengungkapkan prinsip-prinsip kerja puitis mereka.

F.S. Flint adalah penulis esai utama gagasan puisi imagism (imaji) ini, meski kemudian Ezra Pound mengklaim bahwa dia, Hilda Doolittle dan suaminya, Richard Aldington, telah lebih dulu menuliskan gagasan tentang aliran puisi imagism ini.

Pada kesimpulan umumnya ada tiga standar yang dengannya puisi (imajis) harus diadili yaitu: (1) Perlakuan langsung terhadap “sesuatu”, apakah subjektif atau objektif, (2) Sama sekali tidak menggunakan kata yang tidak berkontribusi pada presentasi (citra), (3) Seperti tentang ritme: untuk menyusun urutan frase musik, tidak berurutan dari metronom.

Agaknya tiga rumusan tersebut terlalu “mengawang” khususnya bagi mereka yang kurang akrab dengan peristilahan dalam teknis dan teori penulisan puisi. Pembaca membutuhkan konsep lebih deskriptif terkait aturan dan model kerja puisi imajis ini. Aturan main yang dibutuhkan dalam detail puisi seperti pemilihan kata, aturan bahasa, matra dan rima. Ezra Pound sepertinya menyadari hal tersebut dan dia menyusun presentasi lebih detail untuk menjelaskan prinsip-prinsip puisi ala para penyair imagist seperti dirinya dan F.S. Flint.

Beberapa artikel tentang aliran imagism ini—jika tidak salah dan karena gegabah menyimpulkan, penulis ingin menyebut inti dari konsentrasi puisi imajis ini adalah: citra.

Catatan F.S. Flint dalam “A Few Don’ts by an Imagiste,”–“Sedikit Larangan oleh Imagiste,” yang hasil akhirnya juga ditandatangani oleh Ezra Pound sendiri, memulai dengan sebuah definisi berikut:

“Citra ‘adalah sesuatu yang menghadirkan kompleksitas intelektual dan emosional dalam sekejap waktu—secara konstan.”

Inilah tujuan utama  para penyair imajis—untuk membuat puisi yang memusatkan perhatian semua penyair pada komunikasi citra. Untuk menyaring pernyataan puitis menjadi gambar daripada menggunakan perangkat puitis seperti matra bahasa dan sajak-keprosaan untuk mengesankan sulit dalam menghias narasi. Seperti dikatakan Pound, “Lebih baik menyajikan satu gambar dalam seumur hidup daripada menghasilkan berjilid-jilid karya (antologi)”.

Untuk sampai pada konsentrasi “citra” di dalam menghasilkan puisi imajis, saran Ezra Pound berikut akan terdengar akrab bagi mereka yang telah membaca kaidah menulis puisi atau menekuni dunia puisi:

  • Potong puisi sampai ke tulang dan hilangkan setiap kata yang tidak perlu – “jangan gunakan kata yang tidak berguna dalam keutuhan puisi, jangan gunakan kata sifat, yang itu tidak mengungkapkan sesuatu pun… Gunakan ornamen atau hiasan yang bagus. “
  • Jadikan semuanya konkret dan khusus – “takutlah pada terjerumus dalam abstraksi”
  • Jangan mencoba membuat puisi dengan menghias prosa atau memotongnya menjadi garis puitis – “Jangan menceritakan kembali dalam puisi yang biasa-biasa saja apa yang telah dilakukan dengan sajak-prosa yang baik. Jangan berpikir ada orang yang cerdas yang akan tertipu saat Anda mencoba mengelak dari semua kesulitan seni prosa dengan cara memotong komposisi.”
  • Pelajarilah alat musik puisi untuk menggunakannya dengan keterampilan dan kehalusan, tanpa mengubah suara alam, gambar dan makna bahasa – “Biarkan orang tua mengetahui penyatuan dan ungkapan, sajak langsung dan tertunda, sederhana dan polifonik, seperti yang diharapkan musisi. tahu keharmonisan dan tandingan dan semua hal kecil dari keahliannya … struktur ritmis Anda seharusnya tidak menghancurkan bentuk kata-kata atau suara alami atau maknanya. “

“Manifesto” gerakan imagism  dan Antologinya

Antologi pertama penyair imagism, “Des Imagistes,” diedit oleh Ezra Pound dan diterbitkan pada tahun 1914, menampilkan puisi oleh Pound, Doolittle dan Aldington, serta Flint, Skipwith Cannell, Amy Lowell, William Carlos Williams, James Joyce, Ford Madox Ford, Allen ke atas dan John Cournos. Merekalah para aktor utama aliran puisi imagism ini.

Pada saat buku “Des Imagistes” terbit, Lowell (Amy Lowell)telah melangkah ke dalam peran “promotor” gagasan imagism—dan Pound, khawatir bahwa antusiasmenya akan memperluas gerakan di luar pernyataannya yang ketat, sehingga dikhawatirkan aliran imagism beralih dari apa yang sekarang dijuluki “Amygism” atau “Vortisisme.” Meski demikian Lowell kemudian menjabat sebagai editor serangkaian antologi, “Beberapa Penyair Imagist,” pada tahun 1915, 1916 dan 1917.

Dalam kata pengantar antologi yang pertama, Amy Lowell menawarkan garis besar prinsip-prinsip (puisi) imagism-nya:

  • “Untuk menggunakan bahasa ucapan umum tapi selalu menggunakan kata yang tepat, bukan kata yang hampir pasti, dan bukan dekoratif saja.”
  • “Untuk menciptakan ritme baru – sebagai ungkapan suasana hati yang baru – dan tidak menyalin ritme lama, yang hanya menggemakan suasana hati lama. Kami tidak menekankan ‘puisi bebas’ sebagai satu-satunya metode penulisan puisi. Kami memperjuangkannya seperti sebuah prinsip kebebasan. Kami percaya bahwa individualitas seorang penyair mungkin lebih baik diekspresikan dalam puisi bebas daripada bentuk konvensional. Dalam puisi, irama baru berarti sebuah gagasan baru.”
  • “… bukan hal buruk di dalam seni untuk menulis dengan baik tentang masa lalu. Kami percaya dengan penuh semangat nilai artistik kehidupan modern, tapi kami ingin menunjukkan bahwa tidak ada yang begitu membosankan dan juga tidak kuno untuk misalnya menulis tentang pesawat terbang tahun 1911. “
  • “Untuk menyajikan sebuah gambar (maka namanya: ‘imagist’). Kami bukan sekolah pelukis, tapi kami percaya bahwa puisi harus memberi keterangan secara tepat dan tidak sesuai dengan generalitas yang kabur, betapapun luar biasa dan nyaring. Kami menentang penyair kosmik, yang tampak bagi kita seperti tengah menghindari kesulitan nyata dari seni. “
  • “Untuk menghasilkan puisi yang keras dan jernih, tidak kabur atau menjadi tidak pasti.”
  • “Akhirnya, kebanyakan dari kita percaya bahwa konsentrasi adalah inti dari puisi.”

Dalam sejarahnya volume ketiga adalah publikasi terakhir dari para penyair imagism—namun pengaruh dari gerakan para penyair imajis ini dapat ditelusuri dalam banyak jenis puisi sesudahnya pada abad ke-20, dari puisi bebas hingga ritmis (sajak)sampai penyair bahasa (keprosaan).

Menurut analisis Banua (2004) dan Abdul Wachid B.S. (2005:23), puisi-puisi yang ditulis oleh Sapardi Djoko Damono adalah salah satu contoh puisi imajis—lihat terutama pada puisi “Hujan Bulan Juni”. (*)

*) Ditulis oleh Sabiq Carebesth, dari berbagai sumber bacaan dan artikel. Makalah ini hanya bersifat catatan ringan dan pengantar saja. Demi mengisi ‘kekosongan’ waktu menjelang libur tahun baru 2017.

 

 

Continue Reading

Classic Prose

Trending