Connect with us

Interview

Bagaimana Hidup Dalam Seni dan Menghidupi Seni?

mm

Published

on

Dalam catatan harian Bertolt Brech ia menulis tentang sesuatu yang disebut esensi dari seni, yang mana ia deskripsikan sebagai “kesederhanaan, keagungan, dan kepekaan,” dan wujudnya adalah ketenangan.

Menelusuri jurnal-jurnal yang kusimpan dalam hati, sebagaimana orang katakan, tentang kehidupan kepenulisanku dari tahun 1962 dan seterusnya, aku tidak menemukan kesimpulan semacam ini. Ada lebih banyak nama ketimbang ide-ide, tidak selalu nama-nama terkenal dan terkadang nama-nama yang tidak dapat kukenali-Irin Gazelle, siapa pula itu? Jay Julian. Terdapat cukup banyak deskripsi dan banyak sekali percakapan-percakapan-pembicaraan-tetapi lebih sedikit dari yang kukira soal kepenulisan-apa yang saat itu kutulis, apa yang aku rasakan tentang apa yang telah kutulis. Jurnal-jurnal itu sendiri ditulis seadanya. Mereka dimaksudkan untuk kupergunakan, bukan untuk dibaca oleh orang lain. Beberapa halaman ditulis dengan lebih rapi, hal-hal yang akan kusesali untuk tidak mengingat detail-detail terkecilnya.

Aku menulis catatan harian atau jurnal-jurnal sejak pertengahan usia duapuluhan, tetapi seperti kegiatan menulis itu sendiri, saat itu aku tidak mengetahui bagaimana cara melakukannya. Aku mulai dengan menuliskan apapun-begitu saja, jika aku memang benar menuliskan sesuatu. Pada akhirnya aku menyadari bahwa tak seharusnya aku menyimpan sampah.

Aku telah menulis beberapa cerpen tetapi mereka samasekali tidak bagus. Aku tidak tahu bagaimana caranya untuk terus menulis. Persoalan dengan ceritanya adalah mereka tak memiliki bentuk dan kesungguhan. Aku membaca cerita-cerita di The New Yorker dan Esquire dan aku menncoba untuk menirunya. Proses meniru ini merupakan hal yang mengecilkan hati. Cerita-ceritaku terlihat seperti milik mereka, tetapi entah bagaimana mereka dapat dibedakan dari yang asli, atau begitulah yang kupikirkan. Tentu saja dalam beberapa hal mereka hanyalah tiruan dari tiruan, dan tidak ada orang yang mencari hal semacam itu.

Permasalahanku juga soal keyakinan, bahkan setelah aku menyelesaikan sebuah novel. Ketika aku akhirnya memutuskan untuk mengubah jalan hidup, untuk meninggalkan komisiki dan memulai hidup baru, itu adalah keputusan yang sederhana secara fisik; Aku menulis sebuah surat pengunduran diri dan menyampaikannya langsung. Aku pikir akan ada semacam reaksi, seseorang akan menggelengkan kepala dengan perasaan menyesal atas kepergian seorang petugas yang telah mengabdi selama 12 tahun, tetapi tidak ada sama sekali. Hal itu dianggap biasa saja, seumpama aku hanya mengembalikan sepasang boot. Siang itu, aku merasa terguncang dan tertekan. Aku ingin berbicara dengan seseorang yang mungkin dapat mengerti. Mantan komandan sayapku, yang aku hormati dan menyukaiku, saat itu dia sedang ditugaskan di Washington, dan aku meneleponnya. Dia dengan segera mengundangku untuk makan malam. Aku mengatakan padanya apa yang baru saja aku lakukan dan mengapa, dan apa yang aku ingin lakukan. Dia mengatakan, kau idiot.

Aku tidak ingin menulis di kota. Di kota, setiap orang bekerja atau sedang dalam perjalanan untuk bekerja, atau setelah itu dan mereka telah menyelesaikan pekerjaan mereka pada hari itu. Dan selalu saja ada dengung halus perkotaan seperti beberapa generator raksasa dikubur dalam di bawah tanah yang akan diam sesekali, tetapi tak sungguh-sungguh diam. JIka kau mendengarkan, di dalam kesunyian mereka selalu saja bersuara.

Aku memiliki dua atau tiga teman seniman, yang juga mempunyai hidup tak biasa, tetapi mereka tidak menikah atau tidak mempunyai anak, meskipun salah satu dari mereka telah menikah dengan Yoko Ono-ini jauh sebelum adanya John Lennon-dan mereka benar-benar menikah.

Aku mencoba bekerja di sejumlah tempat yang dipinjamkan, tapi aku tidak dapat membawa sedikit keyakinan denganku. Aku merasa hal itu hanya mungkin dilakukan di rumah, di dalam rumah saat pagi-pagi sekali sebelum istriku dan dua putriku bangun atau ketika mereka telah pergi tidur. Aku menulis di dalam kamar tidur kami di atas meja yang panjang. Baru kemudian aku bisa merasakan ketenangan dengan diriku sendiri. Pada siang hari, aku khawatir tentang bagaimana aku dapat menghasilkan uang untuk hidup. Aku mempunyai sedikit uang hasil penjualan film dari satu novelku, novel yang membuatku percaya bahwa aku dapat mengubah hidupku, tapi uang itu tak akan bertahan lama. Aku telah menjadi petugas penerbangan yang berpengalaman, jadi aku bergabung dengan Pasukan Udara Nasional. Pekerjaan itu memberi sedikit uang.

Salah satu tulisan pertamaku yang dipublikasikan bercerita tentang Barcelona. Terdapat dua orang gadis Jerman di dalam cerita itu, keduanya tak bahagia. Aku kemudian mendeskripsikannya lebih jauh dengan mengatakan bahwa tidak banyak yang terjadi. Salah satu gadis itu didasarkan pada seseorang yang aku temui di sebuah pesta dansa Fasching (perayaan 40 hari sebelum paskah atau sebelum puasa di mulai, umumnya dilaukakn di daerah Jerman Selatan dan Austria. pener)Aku tidak mengingat kostumnya dengan jelas, tetapi itu seperti sebuah jubah mandi dengan timbangan emas dan sepotong rok. Temannya-seorang pria-yang di Barcelona merupakan seorang pujangga dan juga terlihat sedikit playboy. Pria itu tahu segala sesuatu tentang kota ini tetapi menghilang setelah malam pertama. Hari berikutnya kami pergi ke pantai. Dan begitulah akhirnya. Itu saja ceritanya, tetapi perbedaannya kali ini adalah aku dapat menuliskannya. Bahasanyalah yang memberikan kepastian. Aku hanya tahu sedikit sekali tentang gadis-gadis Jerman itu, tetapi aku memerasnya, kira-kira begitu. Entah bagaimana aku menjadikannya berarti.

Aku mengharapkan orang-orang akan terkesan dengan ceritanya. Kebanyakan dari mereka tidak mengerti judulnya, yang memang tak perlu dituliskan dalam bahasa Jerman, atau mengetahui bahwa itu juga merupakan judul sebuah lukisan. Tidak terpikirkan olehku bahwa tak seorang pun tertarik untuk mengetahuinya-orang yang berkuasa atas hal itu juga akan memaksa mereka.

Apakah ceritanya bagus? Sulit untuk diketahui; dulu itu bagus. Sekarang cerita itu menarik bagiku karena sindirannya pada keseluruhan usaha nihilistik dari Tangier (sebuah kota di Maroko yang bernuansa Eropa, seringkali menjadi tempat pelarian para penulis-penulis besar. pener)-Paul Bowles, Ginsberg, Burroughs, tetapi khususnya Francis Bacon dan kekasihnya yang sadistik, mantan pecinta RAF yang pemabuk, Peter Lacy dan lukisan lanskap yang menyentuh yang Bacon buat tentang Tangier.

Biasanya seorang penulis bukanlah orang yang akan mengevaluasi karyanya sendiri, dalam kondisi apapun. Aku mendengar Joe Heller suatu sore bertanya pada seorang perempuan apakah ia sudah membaca Something Happened, novelnya yang kurang dikenal namun signifikan. Ya, perempuan itu sudah membacanya. Bukankah itu buku yang sangat bagus? dia berkata.

Dia bertindak konsisten. Aku tidak sengaja mendengarnya dalam sebuah wawancara dengan seorang jurnalis Prancis ketika sedang berlangsung sebuah konferensi penulis di Paris. Setelah beberapa pertanyaan, jurnalis itu berkata, Tapi, Tuan Heller, setelah Catch-22 kau tidak pernah menulis hal sebaik itu lagi.

Memangnya siapa yang sudah, jawab Heller.

Penulis selalu menilai penulis lainnya, tetapi akan bertentangan dengan kepentingan mereka untuk secara mendalam mengevaluasi tulisannya sendiri.

Penulis menuliskan sesuatu. Karena panjangnya buku dan bermacam-macam atau bahkan hanya perbedaan sedikit saja, makna dari kata-kata tertentu, cara penggunaannya, pembaca mungkin saja membaca sesuatu yang berbeda, bahkan untuk pembaca yang ditargetkannya.

Pada dasarnya, menulis itu sederhana. Itu adalah hal yang fundamental, seperti sebuah palu dan paku-paku, atau melihatnya dengan cara lain, seperti menyanyikan sebuah lagu. Atau berbicara pada dirimu sendiri. Benar hal itu mempunyai aturan-aturan penyusunan. Tulisan itu mempunyai tatabahasa dan sintaksis, bentuk dan struktur kalimat-kalimat dan hubungan dan susunan kata-kata, yang kebanyakan kau pelajari, bahkan mungkin secara tidak tepat, sebagai seorang anak yang mendengarkan dan menirukan, pengulangan. Winston Churchill dulu seorang murid yang payah. Di sekolah persiapan dia dianggap terlalu bodoh atau terlalu keras kepala untuk bisa mempelajari bahasa Latin dan Yunani dan sebaliknya ditempatkan di kelas Bahasa Inggris dengan orang-orang dungu lainnya yang dianggap tidak cocok untuk mempelajari hal yang lebih sulit. Seperti yang dia katakan,

Kami dianggap anak-anak dungu sehingga kami hanya bisa mempelajari Bahasa Inggris…. benar-benar cuma Bahasa Inggris… Karena kejadian itu aku menjadi sangat paham struktur esensial dari kalimat umum British -yang mana merupakan hal yang mulia. Dan ketika setelah bertahun-tahun teman sekolahku yang pernah memenangkan hadiah-hadiah dan penghargaan istimewa karena menulis puisi berbahasa Latin yang sangat indah….mereka harus berpaling lagi ke bahasa Inggris yang umum, untuk menghasilkan uang atau untuk mempermudah jalannya, aku tidak merasa diriku sendiri tidak beruntung.

Untuk membuat bentuk dan ritme dari kalimat-kalimat dapat dirasakan dengan sungguh-sungguh adalah bagian dari metode pengajaran di sekolah menulis yang mana James Jones dan seorang perempuan bernama Lowney Handy dirikan di Illinois beberapa tahun setelah perang. Jones sedang berada dalam proses panjang penulisan novelnya From Here to Eternity, dan Lowney Handy merupakan inspirasinya. Murid-murid di sekolah itu duduk selama beberaoa jam setiap hari menyalin dengan tulisan tangan baris-baris yang dituliskan oleh Hemmingway, Faulkner, dan Thomas Wolfe untuk meneguk kekuatan dan kualitas mereka. Itu merupakan metode peniruan, mungkin tak seburuk kedengarannya.

Aku akan katakan bahwa pengajaran menulis lebih mirip dengan pengajaran menari. Jika seseorang mempunyai kepekaan terhadap ritme, kau mungkin dapat mengajarkannya sesuatu. Terdapat keinginan yang besar pada manusia untuk dapat menulis, dan pengajaran tentangnya, fiksi dan puisi, telah menjamur di kampus-kampus dan universitas-universitas dan juga diluar keduanya. Pengajar-pengajarnya seringkali orang yang terkenal dan sangat dicari-cari. Beberapa orang merupakan guru spiritual sejati dengan doktrin-doktrin dan para pengikut. Di berbagai kota ada kelas-kelas khusus dengan murid-murid pilihan. Kau pernah mendengar tentang seorang figur dramatis yang mencengangkan dalam penampilannya memakai boot dan jodhpurs (celana panjang bernuansa India dengan potongan menggembung di bagian pinggang hingga lutut. pener), mungkin sekali dengan rambut putih panjang seperti seorang nabi, dan membawa semacam ichor literatur, cairan di dalam pembuluh darah para dewa. Di ujung jarinya dia memiliki dalam jumlah tak terhingga buku-buku hebat yang terkenal dan yang kurang terkenal-buku-buku dan pengarang-pengarang, seperti halnya musisi mengetahui ribuan karya musik. Dia hanya mengatakan kebenaran, kebenaran mendalam tentang segala sesuatu dan kebenaran tentangmu, sebagai seorang penulis dan sebagai seorang manusia yang tentu saja sangat mungkin menjadi sulit. Sesi kelasnya sangat panjang, berlangsung selama berjam-jam, dan tidak dapat diganggu. Pertanyaan-pertanyaan tak diperbolehkan. Dalam atmosfer yang sungguh membebani ini, murid-murid membacakan cerita-cerita mereka dengan keras, dan dia menghentikan mereka ketika mereka melakukan cukup banyak kesalahan. Untuk beberapa orang, itu hanya setelah beberapa kalimat. Yang lainnya ada yang dibiarkan hingga akhir. Pentingnya kalimat pertama, dia bersikeras, tak bisa terlalu ditekankan.  Ia menuntun jalan ke dalam ceritanya. Ia menentukan karakter dan mendikte kalimat-kalimat berikutnya. Jangan pernah memulai kalimat dengan sebuah kata keterangan-itu hanya akan memberitahu apa yang kalimat itu ingin ungkapkan.

Jadi, hasrat, energi, dan komitmennya sangatlah besar. Ini adalah metode boot-camp. Kau akan keluar sebelum selesai atau menjadi salah satu dari mereka. Entah bagaimana itu menyalahi ide tentang kebebasan dalam seni. Dan meskipun begitu, dia mengungkapkan sesuatu kepada mereka. Aku tidak pernah meneukan salah satu mantan muridnya yang tidak loyal atau bahkan mencintainya.

Kukira itu adalah Turgenev, atau, jika bukan, itu adalah de Goncourts, yang mengatakan bahwa kapanpun laki-laki makan bersama, pembicaraanya selalu tentang perempuan dan cinta. Namun demikian, hal itu sungguh terjadi pada Saul Bellow, setidaknya di tahun-tahun aku mengenalnya, antara tahun 1970an dan 80an. Perempuan terutama ada di pikirannya semenjak mantan istrinya-yang ketiga-menuntutnya untuk mendapatkan lebih banyak uang, mengetahui bahwa dia akan menerima hadiah Nobel dan $160,000 yang didapatkan bersamanya. Kasusnya sedang disidangkan di Chicago, dan dia merasa takut jurnya telah disuap. Aku tidak pernah bertemu mantan istrinya, meskipun aku merasa bahwa aku mengenalnya. Dia berada dalam genggaman, katakanlah, seorang pendongeng yang hebat. Bellow berada dalam genggaman para juri, dan dia berada dalam genggaman Bellow. Dia menginginkan tunjangan perceraian dan tunjangan anak yang lebih besar. Ini terjadi di Aspen, diaman dia diundang selama musim panas oleh institusi itu; selagi dia berenang, dengan gaya katak – terdapat sebuah kolam renang – dia memberikan alasan-alasan mengapa dia mencurigai para juri dan mengapa itu sangat jelas bahwa mantan istrinya menginginkan uang hadiah itu. Lebih dari matanya.

Aku senang mendengarkan ceritanya tentang hal itu. Aku iri pada mereka, pada cerita-ceritanya, hanya itu. Sisanya terlihat sakit kepala yang sangat buruk. Ini bukan hanya tentang mantan istrinya, sang feminis kenamaan yang cantik, ini tentang sejumlah perempuan lainnya, yang beberapa diantaranya kukenal. Apa yang telah kupikirkan tentang mereka? Yang satu ini sepertinya menyenangkan, bukan? Perempuan itu ingin mempunyai hubungan istimewa dengannya-Aku tidak seharusnya mendengarkan, dia berkata.

Aku tentu saja lebih muda, meskipun hanya sekitar sepuluh tahun, dan aku mungkin saja terlihat lebih bebas dan tidak terlalu bermasalah seperti dirinya. Aku tidak mempunyai sejumlah mantan istri. Kami sedang berkendara menuruni pegunugan menuju Glenwood, padang rumput berbukit-bukit yang indah di lembah dibawah sana. Akan sangat menakjubkan untuk memiliki sebuah kabin di atas sana, dia mengatakan, berada jauh dari segala hal hanya bersama beberapa teman, dimana bisa datang dan menulis. Kami akan berbagi sebuah kabin, Dia kan berada disana beberapa bulan dalam setahun, dia berkata, dan aku akan memilikinya selama waktu yang tersisa.

Menjauh dari perempuan tidaklah masuk akal karena perempuan merupakan sumber nyala kehidupannya, tetapi kami tetap melakukannya dan membeli sebidang tanah dan pada akhirnya mempunyai sebuah kabin disana yang mana diantara kami tak adan yang menggunakannya. Tidak lama setelah ini, entah bagaimana, aku memulai halaman-halaman pertama tentang sesuatu yang dia sarankan untuk kutulis, yang mana adalah memoriku tentang Virginia sejak hari-hari pertama aku mengenal istriku, dan kemudian setelah kami menikah. Dia mendorongku untuk melakukannya. Saat itu seorang prajurut baru dan aku menaruh begitu banyak keyakinan atas kata-katanya.

Pada waktu itu aku punya sebuah novel yang sedang kutulis. Novel itu adalah Light Years, yang aku deskripsikan sebagai menjadi seperti batu-batu yang terkikis dalam kehidupan perkawinan: semuanya menjadi biasa saja, semuanya menakjubkan, semua yang menjadikannya sempurna dan menjadikannya menyakitkan hati- hal itu berjalan selama bertahun-tahun, beberapa dekade, dan pada akhirnya terlihat seperti telah berlalu layaknya benda-benda yang terlihat dari atas sebuah kereta, sebuah padang rumput disana, pohon-pohon, rumah-rumah, kota-kota yang meredup, sebuah stasiun yang terlewati. Segala yang tak tertulis lenyap kecuali untuk beberapa momen-momen terakhir, orang-orang tertentu, hari-hari. Binatang-binatang mati, rumah itu terjual, anak-anak tumbuh dewasa, bahkan pasangan itu sendiri menghilang, dan meskipun begitu terdapat puisi ini.

Aku membacanya kembali sekitar sepuluh tahun lalu. Komposisi musikal inilah, jalin-menjalin, melankoli yang tepat jatuhnya, menyamar sebagai sebuah buku. Ini ditujukan untuk menjadi heroik, bagaimana seseorang harus menggunakan hadiah dari kehidupan- Aku benci untuk mengatakannya, itu terdengar terlalu besar hati. Perempuan itu dulu cantik, tapi itu sudah tiada lagi. Laki-laki itu setia tetapi tidak mampu untuk mengendalikan hidup. Judul awalnya adalah Nedra and Viri-dalam buku-bukuku perempuan selalu lebih kuat. Jika kau bisa mempercayai buku itu-dan buku itu benar-terdapat dunia yang rapat didirikan atas ikatan perkawinan, sebuah kehidupan disertakan, sebagaimana itu dikatakan, diantara dinding-dinding waktu yang berharga. Ini tentang memori pada masa-masa seperti itu.

Aku memberikannya pada Saul untuk dibaca sebelum novel itu diterbitkan. Dia tidak benar-benar melihat semuanya. Dia mengatakan sesuatu yang luar biasa. Dia mengatakan buku itu sebenarnya tentang ketidakberperasaan seksual dari perempuan-peran baru mereka, dan mereka hancur di dalamnya.

Hal-hal yang kau tuliskan tidak menua bersamamu, setidaknya itulah yang kurasa. Benar adanya mereka mungkin terlihat ditandai oleh waktu, tetapi tidak mungkin menjadi up-to-date ketika waktu sudah berlalu. Entah mereka berlanjut diluar waktu terntentu atau menuju ketiadaan. Literatur bekerja dengan cara ini. Buku-buku menandai sebuah periode atau tempat, dan kemudian perlahan-lahan mereka menjadi tempat dan masa itu.

Burning the Days, yang merupakan sebuah autobiografi, hanya dituliskan karena dorongan dari penerbitku, Joe Fox-Aku sekarang menganggapnya sebuah dorongan yang keliru. Kenapa pula dia menginginkan aku menulisnya? Aku jelas sekali tak menginginkannya. Aku tidak ingin menampakkan semua hal-hal pribadi yang menjadi pondasi, secara psikologis dan factual, untuk apapun yang sebaliknya mungkin kutulis. Aku tidak ingin menyia-nyiakan dalam satu buah buku semua material-sebut saja itu materi, karena banyak dari hal itu yang merupakan milik orang lain selain diriku-yang telah terakumulasi, katakanlah selama lima puluh tahun. Tetapi beberapa hal membuatku memulai.

Rust Hills pada waktu itu adalah editor fiksi majahal Esquire, salah satu dari dua atau tiga majalah yang mencetak cerita-cerita karyaku. Waktu itu Esquire disegani dan sistem pembayarannya cepat. Daftar milik Hills dimulai dengan Richard Ford dan DeLillo, dua dari penulis-penulis favoritnya, tetapi dia adalah seorang laki-laki yang sangat ramah, dan aku pernah minum-minum dengannya dari waktu ke waktu. Suatu hari dia menelepon dan menanyakan padaku apakah aku bisa datang ke kota dan makan siang dengan kepala editornya, yang bernama Lee Eisenberg dan yang mana tak pernah kutemui.

Saat makan siang dijelaskan padaku bahwa Esquire dengan tujuan melakukan hal yang baru berencana untuk mengeliminasi halaman-halaman rutinnya yang meliputi teks dan ilustrasi-ilustrasi atau photo-photo dan menyuguhkan penampilan yang lebih berani terdiri dari gambar-gambar tajam dan teks yang tidak terpotong-potong. Akan hanya ada empat blok-blok penting dengan tulisan, sebagaimana mereka deskripsikan, yang menjadi jangkar bagi tiap terbitannya dan menandai periode waktunya. Subjek material mereka akan memiliki kategori-kategori yang penting bagi para laki-laki, persoalan-persoalan inti. Mereka menginginkanku menulis salah satunya. Kategori olahraga sudah terisi.

Eisenberg mengatakan, Kau adalah lelaki yang telah sangat mengenal dunia. Kau telah menikah tiga atau empat kali. Kami ingin kau menulis tentang seks dan pernikahan.

Aku mengatakan ada sejumlah kekeliruan. Aku belum pernah menikah sebanyak tiga atau empat kali. Aku hanya menikah satu kali dan tidak ingin bersikap sebagai seorang ahli sejauh subjek-subjek lain berjalan.

Setelah hening sebentar aku menyebutkan hal yang mungkin berhubungan dengan gagasan mereka. Sebagai seorang lelaki muda aku pernah benar-benar jatuh cinta-itu terjadi di Honolulu, ketika aku ditugaskan disana-dengan istri dari teman terdekatku. Ini akan berisi tentang cinta dan loyalitas. Kesetiaan. Pada akhirnya esai itu diberi judul “The Captain’s Wife.” Dan dari situ, setelah beberapa tahun, muncul sebuah buku.

Untuk menulis tentang diriku dengan cara yang tidak egois itu sulit. Ini bukan persoalan teknik. Aku tidak yakin seberapa jauh harus memberikan pengakuan, untuk membuka lapisan-lapisan itu. Pada saat yang sama, mengapa pula orang akan tertarik dengan hidupku kecuali itu dituliskan seperti sebuah novel? Sampai pada tingkat tertentu buku itu bercerita tentang diriku. Buku itu berakhir seperti ini:

Pada minggu terakhir sebelum tahun baru aku membuat sejumlah daftar, mencatatkan beberapa hal, sungguh: Kesenangan-kesenangan, semua yang masih tersisi untukku; Sepuluh teman terdekat; Buku-buku yang telah kubaca. Aku juga memikirkan tentang beragam orang seperti yang kau lakukan pada akhir tahun. Did Not Make the Voyage: adik perempuan ibuku yang meninggal ketika masih bayi, aku kira, belum diberi nama; George Cortada; Kelly; Joe Byron; Thomas Maynard, diusia delapan tahun; anak Kay yang keguguran; anak-anak anjing milik Sumo…

Menjelang malam aku berjalan ke pantai yang terabaikan.

Setelah itu, aku mansi, berpakaian, mengenakan sebuah baju berpotongan leher tinggi, dan melihat ke arah cermin, menyisir rambutku. Aku sudah melihat yang lebih buruk. Keseharan, baik. Harapan-harapan, cukup baik.

Karyl Roosevelt dan Dana putramya datang untuk minum-minum. Dia merupakan perempuan yang paling cantic. Mungkin itu konsekuensi dari hidupnya yang diabdikan kepada laki-laki. Bahwan setelah itu dia berbicara tentang mereka dengan rasa kasih saying.

Dia telah menikah dengan seorang lelaki yang sangat kaya. Pertama kali mereka pergi ke Eropa, mereka terbang langsung ke Yugoslavia dan mendarat di kapal pesiar milik marsekal Tito. Tito, dengan kaus lengannya tergulung, mengayuh sendiri untuk membawanya mengelilingi sebuah teluk dekat Dubrovnik.

Kami berkendara untuk makan malam di Billy’s. Sangat sedikit pengunjung. Lalu kembali kerumah sebelum tengah malam, dimana kami membuat api unggun, bersulang, dan membaca keras-keras dari buku-buku favorit. Aku membacakan ucapan terakhir dalam Cavalcade milik Noel Coward, pada bagian dimana sang istri mengangkat gelas untuk suaminya. Mereka telah kehilangan kedua anak mereka dalam perang dan dia minum-minum untuk mereka, untuk apa yang mungkin dapat mereka lakukan, dan untuk negeri Inggris. Kay membaca dari Ebenezer Le Page. Karyl, membaca bagian terakhir karya Joyce “The Dead,” dimana salju turun di seluruh Irlandia, juga dari Anna Karenina, Humboldt’s Gift, dan The Wapshot Chronicle. Dana membaca Robert Service, Stephen King, dan Poe, sesuatu yang panjang dan tidak terpahami. Mungkin karena minumannya. “Seperti ungkapan orang Prancis, comment?” Kay berucap.

Apinya sudah terbakar hingga menjadi bara, tamunya sudah pergi. Kami berjalan dalam kegelapan yang beku dengan seekor anjing tua yang kakinya pincang. Tidak ada apapun di jalanan yang kosong, tak ada mobil, taka da bunyi-bunyi, tak ada cahaya. Tahun berganti, bintang-bintang yang dingin di atas. Lenganku merangkulnya. Merasakan keberanian. Hasrat besar untuk terus hidup.

Kami terus hidup, tidak semua orang. Dana terbunuh dalam sebuah kecelakaan pesawat terbang lima belas tahun kemudian. Itu adalah salah satu pesawat yang dibuat dari bagian-bagian yang kau rakit sendiri. Dia mampir untuk mengucapkan halo kepada kami di hari kecelakaan itu terjadi. Dia adalah seorang buyut dari FDR.

Aku merasa seharusnya aku menuliskan semua ini dalam bentuk yang berbeda. Novel itu adalah dewa, dan para penulis yang kukenal hanya melibatkan diri dengan sedikit hal lain. John Updike adalah pengecualian. Selain dia, James Jones dan William Styron berteman, dan Styron dan Mailer juga dulunya berteman sampai mereka bertengkar hebat tentang sesuatu yang Mailer dengar Styron katakan tentang dia atau tentang istrinya. Mereka, semua dari mereka selalu berbicara tentang novel besar Amerika. Pernahkah itu ditulis? Siapa yang akan menuliskan itu? Mereka tidak memperhitungkan Melville atau Faulkner. Itu akan menjadi salah satu dari mereka, dan mereka selalu bekerja untuk itu. Mailer paling sering berbicara tentang hal itu. Aku tidak atahu apakah penulis berbicara tentang karya yang besar dan mistis ini lagi, atau, haruskan kutakatan, sekarang ini. Sikapnya seperti masa kejayaan novel sudah berakhir, novel literatur yang tradisional dan kekhawatiran utamanya atas karakter dan nasib. Beberapa penulis veteran mengatakan bahwa itu telah berakhir-Roth, Margaret Atwood, Doris Lessing. Aku tidak begitu yakin. Aku tidak berpikir itulah cara menuliskannya, dengan membidik ke arahnya. Aku pikir kau harus mencarinya di tempat lain. Kita akan memiliki yang hebat-hebat-bagaimanapun-Kupikir kita bisa mengasumsukan begitu-Maksudku di abad ini.

Penulis yang kutempatkan paling tinggi adalah Nabokov, Faulkner, dan Saul Bellow dan Isaac Singer-Aku menempatkan dua yang terakhir bersamaan karena kedekatan kualitas yang miliki. Aku menyukai Nobokov karena kecerdikannya dan kecemerlangan lisan, suaranya dan gayanya. Aku telah katakan aku mempercayai hal semacam itu akan bertahan, subjek-subjeknya terpinggirkan. Dia sangat jenaka. Aku suatu kali berbincang dengannya selama hampir satu jam di bar hotel tempatnay tinggal di Montreux. Itu terjadi pada musim dingin-Montreux bukanlah tempat yang menyenangkan, terlihat kosong, dan hotel tua yang besar itu juga. Tidak ada orang lain di bar-Nabokov dan Vera, istrinya, dalam setelan Rodier berwarna biru. Tempat makan di malam sebelumnya juga hampir kosong, dengan sejumlah pelayan dalam balutan jas berwarna putih berdiri di sekeliling tak bergerak. Di bar itu, Nabokov berhati-hati, memerintahkan, sopan. Dia mengucapkan beberapa hal lucu, tetapi istrinya hanya duduk tenang.

Kau lihat? dia berkata. Dia tidak pernah tertawa. Dia menikah dengan salah satu badut terhebat sepanjang jaman, tapi dia tak pernah tertawa.

Secara kebetulan, beberapa tahun kemudian, Aku bertemu seorang laki-laki-Kukira seorang ahli matematika-yang berbagi kantor dengan Nabokov di Cornell.

Apa yang kalian bincangkan? Aku bertanya.

Oh, dia berbicara tentang hal-hal yang di abaca di National Enquirer. Dia membelinya setiap hari. Dan dia suka berbicara tentang waktu.

Waktu? Ada apa dengan waktu?

Dia mengangkat pergelangan tangannya dan berkata, “Aku menebak sekarang jam 8:26. Bagaimana denganmu?”

Aku merasakan koneksi tertentu dengan Faulkner, meskipun aku tidak pernah bertemu dengannya atau melihatnya. Aku tahu dia ingin menjadi seorang pilot dan terbang pada perang dunia pertama, tapi dia tak mampu-saat itu dia ditolak. Beberapa waktu kemudian dia benar-benar terbang dan untuk sementara waktu memiliki sebuah pesawat, terbang kemana-mana dan berpartisipasi dalam pertemuan-pertemuan bahkan balapan-balapan udara sebelum akhirnya berhenti.

Aku tahu sebuah cerita tentangnya dan soal penerbangan, tidak secara langsung-tapi dari cerita orang lain, melalui seorang lelaki bernama Delmont Sylvester yang merupakan seorang pilot di sayap yang sama denganku. Sylvester sedikit payah dan terlihat seperti pernah dipermalukan meski aku tak pernah tahu apa alasan dibalik itu. Sekitar tahun 1952 dia ditugaskan di sebuah lapangan udara di Greenville, Mississippi, dipanggil kembali untuk tugas aktif selama perang Korea. Dia dulu merupakan petugas huma di sayap Greenville, dan seorang pustakawan di kota itu yang menjadi temannya menawrkan untuk memperkenalkannya dengan Faulkner jika dia tertarik. Lalu dia dan Faulkner bertemu, Sylvester berkata. Faulkner saat itu mabuk dan dia memiliki sebotol minuman di kantungnya. Mereka berbincang tentang penerbanagan dan hari-hari dimana Faulkner menjadi seorang penerbang di Prancis, yang sebenarnya tidak pernah terjadi, tetapi itu menyenangkan baginya untuk mengingatnya seperti itu. Keseluruhan scenario tentang penerbang dalam perang busuk keagungan. Faulkner pernah menulis puisi tentang hal itu. Dia menyatakan bahwa dia adalah penulis cerita pendek karena gagal menjadi seorang penyair, dan seorang penulis novel telah gagal sebagai seorang penulis cerita. Ide tentang kegagalan juga muncul saat dia ditanya, lebih dari sekali, siapakah penuis terbaik Amerika. Dia akan mengatakan semuanya telah gagal, tetapi Thomas Wolfe berusaha lebih keras dan bertaruh lebih banyak dan menjadi kegagalan terbaik.

Hari itu di Greenville, Faulkner menawarkan untuk menulis sebuah cerita tentang angkatan udara sebagai ganti untuk tumpangan di sebuah jet. Terdapat sebuah peraturan yang mengizinkan masyarakat sipil untuk diberikan penerbangan jika hal itu menyangkut kepentingan angkatan udara, dan Sylvester dengan cepat menelepon komandan markasnya, yang merupakan seorang kolonel, dan menjelaskan proposalnya. Sang kolonel mendengarkan semuanya. Pada akhirnya dia berkata, Siapa itu Faulkner?

Faulkner dan Nabokov keduanya menulis naskah film, Nabokov hanya satu. Aku menulis lusinan. Sejauh itulah koneksinya berjalan.

Film. Sinema layar lebar. Semua penulis menyukai sinema-sinema layar lebar, tetapi ada semacam keengganan untuk mengakuinya sebagai bagian dari literatur. Penghargaan Writers Guild secara hati-hati dibedakan menjadi Writers Guild Timur dan Barat, dan dalam American Academy of Arts and Letters terdapat arsitektur, musik, seni, dan penulisan, termasuk di dalamnya puisi, tetapi tidak ada sama sekali film, yang merupakan wadah untuk menggabungkan semuanya. Dalam kesempatan apapun, mereka mempunyai akademi mereka sendiri.

Suatu sore, kembali ke masa dimana aku baru menulis satu buah buku. Aku diajak seorang teman kerumah seorang sutradara Inggris, yang pada penghujung makan malam bertanya padaku apakah aku tertarik menulis skenario film. Aku sangat tertarik. Rumah itu sangat mewah, di dekat Fifth Avenue. Aku tak tahu apapun tentang film kecuali sebagai penonton. Tentu saja itu tidak benar, setiap orang tahu sesuatu tentang film. Sang sutradara memberiku sebuah buku untuk dibaca, sebuah versi paperback yang murah, dia mengatakan, tentang seorang model yang muda di Roma yang bisa jadi seorang pelacur-untuk alasan-alasn yang tak diketahui hal itu menarik perhatiannya. Dia ternyata bukan pelacur, tetapi kecurigaan ada dalam pikiran suaminya menghancurkan kehidupan mereka.

Itulah awal dari periode panjang pencarian pekerjaan sebagai penulis skenario, sebagian besar tak teratur waktunya. Di antara itu, akau menjual kalender dan bekerja di toko buku. Film-filmnya hanya sesekali dibuat. Seni membuat film ternyata merupakan seni mengumpulkan uang. Pada beberapa film, itu bisa memakan waktu bertahun-tahun. Kadang itu terlihat semakin sedikit jumlah yang dibutuhkan, semakin sulit untuk mengumpulkannya. Orson Welles adalah tokoh yang paling penting, dia menciptakan Citizen Kane dan banyak lagi. Dia mempunyai ambisi yang tertahan lama untuk membuat sebuah film tentang Falstaff (salah satu karakter dalam drama Shakespeare. pener). Tubuh dan suara Welles penuh keagungan, dan dia amat sangat cocok untuk peran itu, salah satu yang paling diingat dalam drama Inggris.

Dia tidak pernah berhasil mengumpulkan uangnya. Itu sudah terlambat dalam karirnya, dan dia dianggap tidak dapat diandalkan, perangai artistiknya telah sangat merugikan bagi begitu banyak orang. Dia oleh karena itu mulai mengambil gambar sepotong demi sepotong untuk filmnya kapanpun dia mampu, membubarkan pekerja-pekerja yang sedikit itu dan kemudian mencoba mengumpulkan mereka lagi saat dia mampu untuk mengambil gambar lagi. Hal itu sangat mengecilkan semangat. Itulah sebuah perjuangan. Istrinya yang seorang Italia sudah memberikan semua dorongan yang dia mampu. Orson, dia berkata pada akhirnya, jika mereka mengambil semua film yang ada di dunia dan meletakannya dalam sebuah ruangan dan membakarnya, apakah akan ada perubahan?

Jika bukan soal uang, itu merupakan persoalan mengejar aktor dan aktris, menunggu untuk mendapat jawaban. Pada waktu itu, perfilman Eropa sedang menanjak ke pucak gengsi dan dilihat dengan perasaan iri. Sutradara-sutradara Prancis dan Italia yang inovatif yang menuliskan naskah mereka sendiri disebut auteurs, pengarang film. Godard sudah seperti bintang rock. Orang-orang di Paris dapat membawamu ke jalan dimana Belmondo mati dalam Breathless. Truffaut dan Fellini saat itu dipuja-puja. Aku juga terbius. Sangat mudah untuk dikecilkan semangatmu dengan apa yang budaya kagumi, tetapi disini hal itu terlihat baik. Roberto Rossellini, menggemuk dan mulai botak menikahi Ingrid Bergman-secara efektif begitu. Dia meninggalkan suaminya yang seorang dokter bdeah dan anak dan mempunyai dua anak perempuan dan seorang anak lelaki dengan Rossellini. Tidak ada yang menandingi sanjungan baru. Antonioni-Michelangelo Antonioni-sedang mengambil gambar Blow-Up, dengan Peter Bowles. Mereka berbincang di tempat pengambilan gambar tentang hal special yang dia mendesak Bowles untuk melakukannya. Bowles meras frustasi.

Percayalah padaku, dia mengatakan. Aku bukanlah Tuhan. Aku Michael Angelo Antonioni.

Ini bukan Hollywood dan studio-studio besar berpagar, pabrik-pabrik itu. Di Eropa hal itu terjadi di jalanan, kira-kira begitu. Aku pergi ke London untuk menemui Polanski-lebih kepada, untuk dilihat olehnya. Dia melihatku seperti seseorang yang secara esensial tidak memiliki sentimen. Meskipun begitu, aku dipekerjakan. Film yang muncul darinya, Downhill Racer, benar-benar dibuat, meski pada waktunya Polanski tidak ada hubungannya dengan itu. Dia memanggilku Jimmy. Elsa Martinelli menyebutku Jeemy. Terdapat sebuah nuansa tentang semua itu-begitu rebut, penuh hasrat, dan sedikit murahan. Semuanya dapat dikompromikan. Aku tidak berpikir banyak orang berusaha untuk membuat sesuatu yang indah, tapi taka da orang yang berusaha untuk membuat sebuah film yang buruk.

Selama masa inilah dan karena keterlibatan-keterlibatan itu aku bertemu Sonnerberg, seorang pencinta buku yang dalam upaya menghabiskan semua warisan miliknya, mendirikan majalah literature Grand Streey dimana dia mempuplikasikan cerita-ceritaku, “cerita yang tak kau serahkan ke Esquire,” dia mengeluh.

Aku akan menemuinya di Division Street di sebuah restoran. Saat itu gelap. Bank-bank tutup. Orang-orang Cina keluar dari mobil. Seorang pemuda duduk di sebuah meja dengan beberapa buku dan empat botol bir Jepang.

Kau tahu masakan Cina? Dia bertanya padaku. Dia memiliki suara yang lembut, jernih dengan nada Inggris yang samar.

Aku menjawab tidak.

Jadi izinkan aku memesankan untukmu, dia berkata.

Dia berhenti sekolah sebelum menyelesaikan sekolah menengah atas, dia bercerita padaku, untuk dapat hidup dengan caranya send    iri. Dia tidak pernah belajar di kampus. Sebaliknya dia pergi ke London, untuk budibahasa yang halus dan untuk membeli buku-buku dan pakaian.

Terdapat semacam kupasan elastis di dalam sup nya. Aku menanyakan padanya apa itu.

Ya, itu hal yang mengherankan juga bagiku, dia berkata. Babat ikan.

Dia memiliki hidup dengan membaca dan pergi ke teater. Dia juga menerjemahkan naskah-naskah drama, naskah-naskah jalanan besar Belgia yang terlupakan. Aku mengira itu hanya bentuk kegemaran atas tantangan lainnya. Dia senang berbicara tentang film dan berapa persen profitku seolah-olah aku memilikinya. Bagaimanapun, tidakkah aku mendapati penulisan dramatis itu melemahkan kekuatan yntyk menulis fiksi? Hal itu begitu ringkas, dan tidak memiliki deskripsi, tidak samasekali. Ditambah lagi, itu secara kejam begitu dramatis, dia mengatakan, bukan suatu cara yang penuh kesabaran, tulisan yang menyingkapkan sesuatu.

Dia membuatku merasa tidak nyaman, tetapi kemudian aku bersyukur untuk hal itu.

Aku tidak memberitahukannya tentang novel yang baru kubuatkan beberapa catatan awalnya. Judulnya, Toda, muncul dari simbol-simbol kode milik Victor Hugo dalam buku-buku catatannya yang merahasiakan kegiatan-kegiatan seksualnya dari Juliette Drouet, kekasih gelapnya untuk waktu yang lama. Disamping nama-nama perempuan atau insisal-inisial, dia mungkin menandai huruf yang berarti “telanjang”; huruf lain untuk “membelai”; suisses untuk “buah dada”; dan seterusnya-dalam semacam susunan yang meningkat Untuk semua hal itu, keseluruhan tindakannya, dia menulis toda, “semua.” Selalu ada hal yang dicatat hampir setiap harinya.

Di restoran Cina lain di ujung jalan, dia memberikanku buku-buku itu untuk kupegang selagi dia pergi untuk menggunakan kamar kecil. Aku berdiri di depan pintu-sebuah buku dari drama masa Elizzbeth, sebuah novel karya V. S. Naipaul, majalah Sunday Observer. Aku membaca beberapa halaman dari Naipaul, lima halaman yang luar biasa.

Mengapa, kupikir, aku hidup begitu jauh dari orang-orang yang menarik bagiku?

Sonnerberg tak lama setelah itu jatuh sakit, sesungguhnya aku menyaksikan hal itu. Aku menyadari dia membuat jari kakinya lecet ketika berjalan masuk. Dia memiliki sedikit masalah dalam berjalan, dan di waktu berikutnya aku menemuinya, dia menggunakan sebuah tongkat yang sangat elegan. Dia barus ekitar tiga puluh lima tahun dan telah didiagnosis dengan multiple sclerosis. Pada akhirnya penyakit itu menjadikannya lumpuh dari leher hingga ke bawah. Dia bahkan tak bisa lagi membalikkan halaman sebuah buku. Istrinya membacakan untuknya, dan rekan-rekan datang untuk membaca. Dia melanjutkan mengedit Grand Street sampai uangnya habis, pada momen itu dia menjualnya. Dia tidak pernah kehilangan selera untuk hal-hal indah atau memori tentangnya, meskipun kata-kata “hal yang indah” akan membuatnya menggerenyit.

Aku mulai menulis Toda ketika sebuah deskripsi yang menginspirasi tentang akan bagaimana jadinya novel itu datang padaku larut malam selagi aku duduk begitu Lelah di dalam ruangan yang meredup di dalam sebuah hotel dekat taman Gramercy. Aku pergi ke kamar mandi, menyalakan lampu, dan dengan cepat menuliskannya. Sepanjang satu halaman. Aku sadar keberuntungan besar tengah menganaiku. Apa yang telah kutuliskan, persoalan-persoalan di buku itu, sangatlah jernih. Masalahnya, aku menghilangkan sepotong kertas itu-Aku benar-benar tak dapat menemukannya lagi-meskipun itu tidak memberikan banyak perbedaan, karena pada waktu itu aku sudah berubah pikiran tentang tokoh utamanya, siapa itu seharusnya.

Aku menulis selayaknya semua orang, kukira. Aku mencoba dan menulis dengan rutin. Aku kesulitan memulai setiap harinya. Jika aku bisa meninggalkan satu baris atau beberapa kata bagiku untuk memulai lagi, itu menjadi lebih baik. Hari-hari kadang berlangsung baik. Lebih sering tidak begitu. Aku berdamai dengan kenyataan bahwa aku akan merasa kecewa dengan apa yang telah kutulis. Aku menulis saat aku sedang tidak ingin, tapi tidak ketika hal itu menangkisku. Kupikir aku menulis untuk orang-orang tertentu- Aku tidak akan menjelaskan siapa sebenarnya, mungkin seorang perempuan-tetapi tidak untuk semua orang. Seorang perempuan yang cerdas, seperti kata Babel.

Aku menulis dengan tangan menggunakan pulpen. Kemudian aku mengetiknya di atas mesin ketik elektrik. Aku bisa dengan mudahnya menggunakan sebuah laptop, tapi aku menyukai bunyinya, sedikit tak beraturan, tombol-tombol yang menghujam. Aku mengetik dengan dua jari.

Dari sudut pandang tertentu, sebenarnya aku sedang membuat komposisi. Aku mendengarkan kata-kata itu selagi aku menuliskannya, pada kelompok-kelompok kata-kata. Aku ingin terus dan terus lagi karena bunyi itu menuntunku ke kalimat-kalimat selanjutnya. Terkadang aku menulis sedikit hal yang aku maksudkan untuk kutulis, beberapa kata untuk memperlihatkan bagaimana kelihatannya, dan mungkin aku ingin untuk memasukannya, tapi semua itu tergantung.

Hal yang utama adalah pengorganisasian-menemukan keteraturan. Ada begitu banyak hal-terlalu banyak-untuk disimpan dikepalamu tentang sebuah novel atau bahkan sebuah bab. Tidak boleh ada kebingungan. Untuk Toda aku membuat garis kronologis untuk memulai-bukunya adalah buku semacam itu-dan menandai semuanya sepanjang garis itu. Aku mempunyai kertas-kertas yang ditancapkan di sebuah papan besar, satu atau dua untuk setiap bab, dan catatan-catatan aneh dan rincian-rincian untuk babnya, aku tempelkan disana.

Kau tdak menulis semuanya di mejamu. Kau melakukannya di tempat lain, membawa buku itu bersamamu. Buku itu adalah temanmu, kau memilikinya sepanjang waktu di kepalamu, memikirkannya, mewaspadai penghubung-penghubung dengannya. Itu menjadi teman terbaikmu, dalam makna yang sesungguhnya. Kau bisa bicara padanya dengan sunyi. Itu menjadi satu-satunya temanmu.

Penulisannya mungkin berlangsung selama sepuluh hari, seperti misalnya Georges Simenon, atau berminggu-minggu, atau berbulan-bulan, atau bertahun-tahun. Itu sama saja bagi semua orang.

Aku menghasilkan dua catatan tebal untuk buku ini, buku-buku referensi dibagi menjadi golongan-golongan yang menyimpan hal dari jurnal-jurnalku yang mungkin berguna: cuaca, tempat-tempat, percakapan, wajah-wajah, kematian-kematian, cinta, seks, orang-orang. Toda. Aku bahkan tidak menggunakan seperempatnya.

Aku mengerjakan buku itu selama satu tahun, mungkin lebih, dan kemudian kehilangan kepercayaan diri di dalamnya. Ini soal  karakter utama yang salah. Setelah beberapa waktu aku memulai lagi, tetapi saat kau mengubah hal sentral itu dengan sendirinya mengubah hal-hal lain.

Aku sebelumnya menyebutkan kebebasan dalam seni. Yang kumaksud dengan kebebasan itu tidak terikat dengan ide-ide umum tentang moralitas atau dengan katekismus apapun. Yang juga kumadsudkan dengan kebebasan itu-benar-benar kebutuhan-untuk terlepas dari segala hal yang menengahi. Tak boleh ada larangan-larangan untuk apa yang boleh kau pikirkan atau imaginasikan.

Bahsa, bahasa Inggris yang kita gunakan-ia tak mempunyai pengawal-bagaimanapun ia penting, hampir-hampir hal yang sakral. Ia membawa apa saja bersama bersamanya dan melaluinya. Jadi aku mencoba dan memperhatikan itu.

Pada akhirnya, mereka katakana, Kau tidak dapat menyebut buku ini Toda. Tidak ada yang tahu artinya. Aku berdebat dengan mereka, tapi penerbitnya mengatakan, Tidak, kau harus mempunyai judul yang berbeda. Jadi aku menyebutnya All That Is.

Aku akan membacakan epigrafnya:

Akan datang waktu ketika kau menyadari bahwa semuanya adalah mimpi, dan   hanya hal-hal yang dipelihara melalui tulisan yang mempunyai kemungkinan menjadi nyata. (GBJ)

________________

*) Ketika James Salter meninggal pada bulan Juni, di usia sembilan puluh tahun, majalah Review kehilangan salah satu pengaruhnya yang sangat berarti. Selama empat dekade terakhir, Jim telah mempublikasikan cerita-cerita pendek, memorial dan sebuah wawancara tentang seni fiksi di majalah Review; novelnya A Sport and a Pastime pertamakali muncul dalam edisi-edisi Paris Review yang tidak bertahan lama di tahun 1967. Tahun 2011 dia menerima penghargaan prestasi seumur hidup dari kami, yaitu Hadada Prize. Jim menyampaikan kuliah berikut pada Oktober lalu di University of Virginia. Kami sangat berterimakasih kepada keluarga Salter telah mengizinkan kami untuk mencetaknya disini.

 

Interview

Adania Shibli tentang Mengisahkan Palestina dari Dalam

mm

Published

on

Adania Shibli / Spesial

Kisah itu menggambarkan dengan jelas momen saat Adania dan keluarga menerima panggilan telpon yang tak biasa dari tentara Israel: pesannya adalah untuk meninggalkan bangunan tempat mereka berada karena akan segera dibombardir. Dalam tiga halaman singkat karangan Adania tampil menonjol tanpa sekali pun mengabaikan sisi puitis dari hal-hal umum. Itulah Adania Shibli: lembut tapi menggelisahkan, tenang dan efektif; mendalam, jenaka, dan ampuh.

“Sebuah wawancara dengan pengarang ‘We Are All Equally Far from Love’”

(p) Marlina Sophiana (e) Sabiq Carebesth

 

Gaya khas Adania Shibli datang dari upaya menahan diri. Kesunyian dalam dua novelnya (We Are All Equally Far from Love dan Touch) menghasilkan suspense yang mengerikan, semuanya dilatari suasana Palestina yang indah dan penuh problema. Dan melalui kebiasaan sehari-hari dunia itu meledak dengan gaduh.

We Are All Equally Far from Love merupakan sebuah kisah cinta dan juga sebuah tragedi. Kekuatan misterius novel ini juga terletak di tengah-tengah penggambaran yang sulit dipahami- sama seperti kisah dalam Touch, di mana dinamika keluarga sama menarik dan sama kusutnya seperti pembantaian di Sabra dan Shatila yang bertalian dengan segala hal. Kekerasan dalam karya Adania meriak tanpa sentimentalitas berlebih-lebihan.

Kepelikan yang sama juga muncul dalam cerita pendek terbarunya, yang masuk dalam terbitan Freeman’s family. Kisah itu menggambarkan dengan jelas momen saat Adania dan keluarga menerima panggilan telpon yang tak biasa dari tentara Israel: pesannya adalah untuk meninggalkan bangunan tempat mereka berada karena akan segera dibombardir. Dalam tiga halaman singkat karangan Adania tampil menonjol tanpa sekali pun mengabaikan sisi puitis dari hal-hal umum. Itulah Adania Shibli: lembut tapi menggelisahkan, tenang dan efektif; mendalam, jenaka, dan ampuh.

Jose Garcia 

Apakah itu merupakan keputusan yang disengaja untuk tidak secara eksplisit menyebut Palestina dalam karyamu? Untuk membiarkan pembaca tenggelam dalam drama ketimbang suasananya?

Adania Shibli

Kedua novel itu, dapat saya katakan, sangat kental dengan lanskap Palentina dan bahkan didesain melalui lanskap itu. Mungkin hal-hal yang tak nampak dalam pandangan dunia luar tentang Palestina, yang sangat didominasi oleh liputan media yang terus-menerus.

Sebagai contoh, dalam format yang spesifik media menceritakan peristiwa penting seperti pembantaian di Sabra dan Shatila pada masyarakat luas non-Palestina. Sementara di dalam konteks penduduk Palestina sendiri merasakannya secara berbeda dan melalui berbagai cara-hal itu termasuk kesulitan anak-anak untuk memahami peristiwa itu, atau para orangtua yang mencoba menyelamatkan anak-anak dari peristiwa semacam itu, yang mana merupakan keseharian bagi orangtua di Palestina. Touch menelusuri kegiatan yang utama dan sangat nyata ini di Palestina; tapi ini merupakan bentuk pengalaman yang seringkali luput dari berita-berita yang menjangkau mereka di luar Palestina. Jadi buku ini berhubugan dengan Sabra dan Shatila sebagai sebuah pembantaian yang tak mungkin dipahami oleh anak-anak. Tapi tentu saja, ini hanya salah satu cara memahami pengalaman itu, dan hal ini berlaku untuk beragam peristiwa lainnya, peristiwa-peristiwa politik, sosial, dan ekonomi.

Kemudian di dalam We Are All Equally Far from Love, lanskap Palestina didesain dalam novel ini dalam kesukaran karakter-karakternya untuk bergerak. Jadi, ketimbang mendeskripsikan pos pemeriksaan atau pencegahan pergerakan, buku ini mengisahkan konsekuensi dari pembatasan-pembatasan pergerakan itu. Karakter-karakternya terperangkap dalam ruang klaustraphobia atau lumpuh secara fisik dan mental. Dan dalam kaitannya dengan yang terakhir-kelumpuhan emosional- novel itu melukiskan akibat dari kebrutalan hidup di dalam kondisi opresi politik pada tingkat personal, di mana jiwa manusia, dan kemampuannya untuk mencintai, tergerus. Jadi, daripada menampilkan eksterioritas pengalaman penduduk Palestina, dengan jalan mengubahnya menjadi tontonan bagi orang lain, kedua novel itu mengisahkan konsekuensi-konsekuensi kehidupan sehari-hari penduduk Palestina, lewat hal-hal yang biasa dan banal.

Jose Garcia

Bagaimana tanah air dan kebangsaan membentuk pengalaman-pengalamanmu masa kecilmu?

Adania Shibli

Sebagai orang yang hidup di tempat yang tampak seperti sebuah hukuman untuk kajahatan yang tak pernah mereka lakukan, di usia yang masih sangat muda hal itu memunculkan pertanyaan-pertanyaan tajam dalam kaitannya dengan ide-ide sederhana seperti keadilan, atau ketiadaannya. Saat masih anak-anak Anda tidak benar-benar memisahkan antara keduanya, antara ketidakadilan tentang mengapa sebagian orang memiliki lebih banyak hak istimewa dibanding orang lain.

Itu merupakan pertanyaan-pertanyaan yang saya coba untuk atasi juga di usia yang masih sangat muda; antara melawannya dengan suara lantang, atau memilih berada di samping orang-orang kuat, atau menciptakan duniamu sendiri di mana Anda bisa membayangkan realitas-reaitas yang berbeda-inilah satu-satunya yang terus menarik perhatian saya. Apakah melalui membaca atau menonton diam-diam apa yang terjadi saat itu, saya mengubah sedikit peristiwa-peristiwa itu, membayangkan dunia yang lain. Itu merupakan permainan yang adiktif, dan saya ingat mendapati diri saya tenggelam dalam imajinasi sampai saya terkadang merasa malu karena tak mengingat peristiwa-peristiwa masa lalu seperti yang diingat orang-orang di sekitar saya. Jadi mungkin kesadaran atas ketidakadilan yang terus terjadi yang tak dapat dihindari dalam konteks penduduk Palestina merupakan kekuatan pertama yang mendorong saya ke dunia literatur sejak dini.

Jose Garcia

Touch dan We Are All Equally Far from Love keduanya memiliki banyak rupa karakter-karakter perempuan kuat. Dan saya bukan hanya mengartikan kuat sebagai seorang perempuan independen. Akan tetapi mereka sangat lantang, rumit, dan terkadang karakter yang tercela. Mereka menyembul dari halaman-halaman itu dengan kepribadian dan kecacatan-kecacatan mereka. Seberapa penting feminitas-dan karakter-karakter perempuan-dalam karya Anda?

Adania Shibli

Sejujurnya, Saya tak pernah memikirkan soal perempuan atau laki-laki. Saya bisa bilang, saya tak pernah mengaitkannya dengan diri saya sebagai perempuan; itu hanyalah perspektif dalam hidup. Bisa jadi kebetulan bahwa karya-karya saya memiliki banyak karakter perempuan. Ini bisa saja berubah, mungkin juga tidak.

Di dalam novel baru saya, yang teridiri dari dua bab, tiap bab mempunyai satu protagonis, satu laki-laki dan satu lainnya perempuan. Tapi Anda benar, saat saya menulis bab pertama dengan karakter protagonis seorang laki-laki, saya benar-benar merasakan itu seorang laki-laki, karena menceritakan dunia keteraturan dan kekuasaan-dunia yang saya tak ingin menjadi bagian di dalamnya. Cukup menghibur untuk memainkannya, bahkan dalam kaitannya dengan imajinasi, tapi tak terlalu menarik. Karakter perempuannya cenderung ragu-ragu, berantakan; dia gagap dan berjalan dalam kesia-siaan. Saya lebih tertarik pada karakter-karakter semacam itu, seperti karakter laki-laki dalam Belle de Jour karya Bunuel-karakter laki-laki yang memiliki luka buruk rupa di wajahnya.

Saya tidak mengaitkan feminitas dengan seksualitas. Bagi saya feminitas soal perlawanan terhadap kuasa dan aturan dengan cara yang amat kejam.

Jose Garcia

Ada banyak kesunyian dalam cerita-cerita Anda. Banyak misteri dan juga begitu intim. Bagaimana Anda menyeimbangkan kesunyian yang pekat itu dengan aksi?

Adania Shibli

Anda bisa menemukan jawabannya dalam musik. Saat saya mendengarkan musik, saya menyadari bahwa keseluruhan aksi dan gerakan musikal hanyalah mungkin karena adanya kesunyian yang meresap sebuah karya musik. Saya begitu tertambat pada kesunyian itu dan apa yang dia lakukan, atau apa yang bisa dia lakukan sebelum bunyi bermunculan, atau bahkan apa yang mendorongnya.

Jose Garcia

Kedua buku Anda juga sangat kental nuansa keluarga. Apa peran keluarga dalam proses menulis Anda?

Adania Shibli

Kita terlahir dalam sebuah keluarga, tanpa memilih mereka, dan itulah pengalaman pertama bagi sebagian besar orang. Ketiadaan pilihan itulah yang saya pertanyakan: bagaimana menjalani hidup yang tidak Anda pilih, dan apakah Anda pada akhirnya akan memilih secara sadar. Saya sebetulnya masih heran.

Jose Garcia

Ini membawa saya pada karya cerita pendek Anda untuk terbitan Freeman;s: Family. Apa yang menginspirasi Anda untuk menghampiri topik yang begitu luas (keluarga) melalui cerita itu?

Adania Shibli

itu sesungguhnya momen di mana saya pertama kali menyadari bahwa saya memaksakan ketiadaan pilihan ini pada orang lain, pada anak-anak saya. Ayahnya dan saya punya pilihan untuk hidup bersama, mereka tidak. Jadi anak-anak saya terdampar di sana, di momen yang sangat ekstrem itu-“Seperti inilah panggilan yang dilakukan oleh tentara Israel saat mereka hendak embombardir sebuah bangunan perumahan. Saat seeorang mengangkat telponnya, mereka melepaskan haknya untuk menuntut sang tentara atas kejahatan perang.” Inilah sebuah pemahaman yang didorong oleh ketakutan: ketakukan atas keselamatan mereka. Hingga hari ini saya masih bertanya bagaimana mereka memahami peristiwa itu, dan apakah mereka akan mengingatnya. Tulisan dalam Freeman’s merupakan testimoni untuk mereka ketahui, bukti bahwa itu pernah terjadi untuk anak-anak saya lihat kemudian hari.

Baca Juga: Eksplorasi yang indah nan suram tentang kejiwaan manusia: novel baru karya Adania Shibli

Jose Garcia

Saya menduga panggilan telpon itu sangat mengerikan. Namun, saya sendiri datang dari negeri yang penuh kekerasan dan tak terduga-duga, Saya sadar bahwa orang cenderung menjadi kurang peka dan menjadi terbiasa terhadap kekerasan. Apa yang bisa kita lakukan untuk melawan “jadi biasa saja” itu?

Adania Shibli

Adakah yang bisa kita lakukan untuk melawannya? Saya sendiri heran.

Saya selalu menemukan tempat lewat kata-kata untuk menciptakan kemungkinan-kemungkinan paralel di mana dehumanisasi tumbuh subur. Namun, dalam kehidupan nyata, Anda harus menetralisasi seluruh emosi Anda dan menjadi mati rasa, tapi kemudian menulis menetralisasi penetralisasian tersebut. Orang lain tak memiliki dunia kata-kata untuk menyelamatkan mereka. Tapi ada hal lain, berjalan kaki, trotoar, sebuah pohon, sebuah batu, objek-objek minor tak terhingga yang digubah menjadi tempat bagi mereka melakonkan kemanusiaannya, tempat di mana opresi tak bisa menjangkaunya atau menghancurkannya.

Tahun ini saya mengunjungi sebuah pameran di Palestina, judulnya City Exhibition 5. Pameran itu didedikasikan untuk gagasan tentang “Reconstructing Gaza,” sebuah term yang telah kita dengar berulang-ulang sejak 2014. Para peserta dalam peretunjukkan itu, pelajar dan anak muda, merekonstruksi kota menggunakan puing-puing kota itu sendiri. Kemudian mereka menawarkan benda-benda kesayangan mereka kepada orang-orang Gaza, dari bunga kering sampai gantungan kunci. Sangat menarik untuk mengetahui apa yang dipilih orang-orang itu. Salah seorang bahkan menawarkan untuk membawa bantuan untuk orang-orang Gaza dengan menawarkan sebuah buku puisi dari penyair yang tak dikenal.

Jose Garcia

Apakah Anda mengartikan “jadi biasa saja” itu sebagai mekanisme pertahanan diri?

Adania Shibli

Sesungguhnya saya mengartikan itu sebagai sebuah gerakan seni bela diri. Opresor pertama-tama ingin menghancurkan hasrat hidup Anda, dan kemudian Anda menetralisasinya dengan bertindak seolah ini hal yang normal. Tapi nyatanya Anda menyimpan rahasia di tempat tersembunyi yang mana si opresor anggap terlalu remeh, mereka tak merasa perlu untuk menghancurkanya. Saya ingat saya dua kali pernah diinvestigasi oleh petugas intelijen Israel yang ingin tahu tentang apa yang saya tulis. Ketika saya katakan pada mereka itu semua tentang kisah-kisah cinta yang gagal, mereka kehilangan minatnya terhadap saya.

Jose Garcia

Apakah pemilu AS membutuhkan semacam model “jadi biasa saja” yang baru dibanding yang ada di negeri asal Anda, ataukah sama saja?

Adania Shibli

Bagi saya sepertinya kita tak dapat menyalahkan meluasnya agenda kebencian yang kita saksikan belakangan ini sebagai akibat dari pemilihan umum yang baru terjadi. Saya tidak yakin, bila saja hasilnya berbeda, akan ada perbedaan dalam hal ini. Pemerintahan AS sebelumnya tidak berusaha keras untuk menetralkan kebencian itu. Mungkin akan menjadi semakin parah, tapi hal ini sudah memburuk untuk waktu yang lama, hingga tingkat di mana saya merasa agenda kebencian itu memiliki temponya sendiri, kehidupannya sendiri, dan sepertinya tak terpengaruh oleh pemilu. (*)

Diterjemahkan dari “Adania Shibli on Writing Palestine from the Inside” wawancara oleh Jose Garcia, Februari 2017.

Continue Reading

Interview

Menulis dan Jalan Hidup Isabel Allende

mm

Published

on

Hidup. Menulis cerita, adalah satu-satunya hal yang ingin Saya lakukan. Menulis itu seperti bernafas. Sastra telah memberi Saya suara, memberi arti pada hidup Saya

Dari wawancara Alison Beard dengan Isabel Allende | Judul asli “Life’s Work” |

Harvard Business Review Edisi Mei 2016 | (p) Addi Midham | (e) Sabiq Carebesth

 

Novel pertama Isabel Allende, yakni “The House of the Spirits,” bermula dari surat yang ia tulis untuk kakeknya yang sedang menghadapi hari-hari terakhir sebelum wafat. Novel ini telah menjadi best seller internasional. Namun, Isabel tampaknya masih berambisi menulis karya yang jauh lebih sukses lagi sebelum memutuskan untuk pensiun. Daftar karyanya sekarang sudah mencakup lebih dari 20 judul, termasuk “The Japanese Lover” yang dirilis tahun lalu. Berikut ini wawancara dengan Isabel Allende.

Apa arti ‘menulis’ bagi Anda?

Hidup. Menulis cerita, adalah satu-satunya hal yang ingin Saya lakukan. Menulis itu seperti bernafas. Sastra telah memberi Saya suara, memberi arti pada hidup Saya dan menghubungkan Saya dengan jutaan pembaca di seluruh dunia.

Menerbitkan buku itu susah, bagaimana Anda bertemu Carmen Balcells?

Novel pertama Saya, “The House of the Spirits” ditolak beberapa penerbit. Suatu hari resepsionis di salah satu perusahaan penerbitan mengatakan bahwa buku Saya tidak akan bisa terbit tanpa perantara agensi yang baik dan dia menyebutkan nama Carmen Balcells. Kemudian, Tomas Eloy Martinez, penulis Argentina, memberi Saya alamat Carmen Balcells di Spanyol dan merekomendasikannya sebagai agen terbaik untuk sastra Amerika Latin.

Di salah satu wawancara, Anda mengaku memiliki visi sinematografi ketika menulis. Teknologi baru mengubah hidup kita saat ini, banyak orang berkomunikasi lewat facebook atau twitter setiap hari dan kemudian ada juga revolusi e-book: Bagaimana Anda berkomunikasi dengan kebanyakan orang, baik sebagai penulis dan sebagai pribadi? Apa pendapat Anda tentang e-book?

Saya tidak punya facebook dan Saya tidak bermain twitter, karena Saya tidak punya waktu. Saya terlalu sibuk menulis. Setiap malam ada setumpuk buku di meja yang menunggu giliran untuk Saya baca. Saya suka menyentuh dan mencium buku. Meski demikian, Saya lebih suka membaca E-book saat dalam perjalanan, karena Saya bisa membawanya sebanyak mungkin yang Saya mau dengan iPad. Saya memperkirakan, tak lama lagi, buku cetak akan menjadi barang langka, hanya menjadi simpanan para kolektor dan perpustakaan, karena kita akan membaca semua tulisan lewat layar.

Anda mulai menulis setiap buku pada tanggal yang sama ketika Anda mulai menulis “The House of the Spirits.” Mengapa?

Pada awalnya, sebenarnya itu takhayul saja, karena buku pertama Saya sangat beruntung. Kalau sekarang, itu soal disiplin. Jadwal Saya padat, jadi Saya perlu menyediakan waktu beberapa bulan dalam setahun untuk retret. Saya butuh waktu dan kesunyian, atau Saya tidak akan pernah bisa menulis. Memiliki kebiasaan mulai menulis di tanggal tertentu baik untuk Saya dan semua orang di sekitar Saya. Mereka tahu bahwa pada setiap tanggal 8 Januari, Saya tidak punya waktu selain untuk menulis.

Apakah Anda selalu memikirkan konsep terlebih dahulu sebelum menulis buku?

Seringkali—tetapi sangat samar-samar. Saya tidak pernah punya rancangan naskah. Saya mungkin punya waktu dan tempat sebagai obyek penelitian. Misalnya, ketika Saya menulis sebuah cerita tentang pemberontakan budak di Haiti pada 200 tahun yang lalu, Saya mempelajari peristiwa tersebut terlebih dahulu. Akan tetapi, setelahnya Saya tidak memiliki karakter, alur cerita, maupun akhir kisah. Sementara di lain waktu, Saya duduk di depan komputer dan membiarkan kalimat pertama keluar. Itulah kalimat pembuka untuk sebuah cerita, tetapi Saya sempat tidak tahu tentang apa itu.

Bagaimana Anda melanjutkannya?

Perlahan. Beberapa pekan awal seringkali mengerikan karena Saya tidak kunjung menemukan narasi, nuansa dan alur cerita. Ini menyebalkan, karena Saya cemas bahwa semua halaman yang sudah Saya tulis akan berakhir di tempat sampah. Tapi ini biasanya hanya pemanasan: Saya harus menemukan bentuk cerita dulu. Setelah beberapa minggu, karakter-karakter mulai muncul dan menceritakan kisah mereka kepada Saya. Kemudian Saya merasa berada di jalur yang tepat.

Apa yang Anda lakukan ketika ide cerita tak kunjung muncul?

Terkadang, Saya merasa mungkin tidak seharusnya menulis cerita itu. Tetapi, setelah lama saya terus berupaya menemukan cerita tanpa henti, cepat atau lambat semuanya terjadi. Saya sudah belajar untuk meyakini kemampuan Saya, tetapi memang itu butuh waktu lama. Semula, Saya kira setiap buku seperti hadiah dari langit, namun sekarang tidak lagi — karena setelah 35 tahun menulis, Saya tahu bahwa jika Saya mencurahkan cukup waktu untuk mendalami sebuah topik, Saya dapat menulis hampir tetang apa pun. Hal ini memberi Saya kepercayaan diri sehingga Saya bisa dengan santai menikmati proses menulis.

Anda pernah mengaku punya bakat sebagai pendongeng alami. Menurut Anda, bakat atau latihan yang lebih penting dalam mengarang?

Saya pernah mengajar menulis kreatif di beberapa perguruan tinggi. Saya bisa mengajari mahasiswa tentang cara menulis cerita, tetapi tidak mungkin mengajari mereka cara mendongeng. Mendongeng itu seperti memiliki telinga untuk mendengarkan musik. Anda memilikinya, atau tidak. Jadi, semacam insting mengetahui apa yang harus dikatakan, apa yang sebaiknya disimpan lebih dulu, lalu bagaimana menciptakan ketegangan dan membangun karakter dalam tiga dimensi hingga cara memainkan bahasa—Saya pikir hal itu bakat sejak lahir.

Saya memiliki gen pendongeng yang tidak dimiliki semua orang. Namun, saya pernah kesulitan untuk menulis. Saya mampu mendongengkan cerita secara lisan, tetapi tidak bisa menulisnya. Sampai akhirnya Saya berlatih dan terus berusaha sehingga bisa menguasai keterampilan itu. Saya malah merasa menguasai keterampilan itu baru-baru ini saja.

Anda bekerja sebagai jurnalis, pembawa acara TV dan pengelola sekolah sebelum menjadi penulis di usia 39 tahun. Bagaimana prosesnya hingga Anda memutuskan menjadi penulis?

Saya tidak merasa telah membuat pilihan. Saya tidak pernah mengatakan, “Saya akan menjadi seorang penulis.” Itu terjadi begitu saja. Jadi, ketika saya tinggal di Venezuela sebagai pelarian politik setelah kudeta militer di Chili, Saya tidak dapat menemukan lowongan pekerjaan sebagai jurnalis. Lalu, Saya bekerja di sekolah, dan Saya merasa memiliki banyak cerita di dalam diri Saya, tetapi tidak ada jalan keluar bagi mereka. Dan kemudian pada 8 Januari 1981, Saya menerima kabar bahwa kakek Saya sedang sekarat di Chili, dan Saya tidak bisa kembali untuk mengucapkan selamat tinggal. Maka, Saya mulai menulis surat untuk memberi tahu kakek bahwa Saya ingat semua yang pernah dia ceritakan kepada Saya. Kakek adalah pendongeng yang hebat.

Sampai meninggal dunia, kakek tidak pernah menerima surat itu. Tetapi, Saya terus menulis di dapur setiap malam setelah bekerja, dan dalam setahun, Saya merampungkan 500 halaman, sesuatu yang jelas bukan surat. Tulisan itu kemudian menjadi novel “The House of  The Sprits.” Novel itu terbit dan sangat sukses, sehingga membuka jalan bagi buku-buku Saya yang lain. Namun, Saya tidak langsung melepas pekerjaan saya, karena saya sempat mengira menulis bukan karir yang tepat. Semua seperti keajaiban yang terjadi secara kebetulan.

Apa yang akhirnya membuat Anda memutuskan berkarier sebagai penulis?

Saya mendapat penghasilan lumayan. Buku-buku Saya diterjemahkan ke 35 bahasa dan laris seperti kacang goreng. Setelah itu, Saya mulai meyakini, jika terus menulis maka Saya dapat mencari nafkah untuk keluarga.

Pernahkah Anda benar-benar berusaha membuat buku-buku Anda, yang paling banyak mendapat pengakuan, menjadi karya yang sukses?

Ketika agensi Saya, Carmen Balcells—ibu baptis dari setiap buku Saya, yang Sayangnya meninggal belum lama ini—menerima naskah “The House of the Spirits” di Spanyol, dia menghubungi Saya yang sedang di Venezuela dan berkata, “Semua orang bisa menulis buku pertama yang bagus, karena mereka mencurahkan segala yang mereka miliki ke dalamnya—masa lalu, ingatan, harapan, segalanya. Kemampuan seorang penulis dibuktikan di buku kedua.”

Oleh karena itu, Saya mulai menulis buku kedua pada 8 Januari di tahun berikutnya, untuk membuktikan kepada Carmen Balcells, bahwa Saya bisa menjadi seorang penulis. Novel “The House of the Spirits” sukses di Eropa, dan pada saat Saya mengetahuinya, Saya sudah menyelesaikan buku yang kedua. Tentu saja, setiap buku membawa tantangan yang berbeda. Cara bercerita di dalamnya juga berlainan. Saya pernah menulis memoar, novel sejarah, fiksi, novel remaja, bahkan novel kriminal. Namun, Saya tidak pernah membandingkan, atau bilang, “Apakah ini lebih baik atau lebih buruk daripada ‘The House of the Spirits’?” Setiap buku adalah sebuah persembahan. Anda cukup meletakkannya di atas meja dan melihat siapa yang akan membacanya.

Interview selengkapnya dalam buku “Memikirkan Kata”

yang akan diterbitkan Galeri Buku Jakarta (2019)

 

Continue Reading

Interview

Jokpin Yang Tak Pernah Lelah Menghisap Bahasa

mm

Published

on

Yogyakarta, saat itu mungkin tahun 2004 atau 2005, di kamar kos teman saya di daerah Papringan, menjelang petang teman saya datang, kemudian dengan antusiasme yang mencolok menyeru pada saya “Ada puisi, lucu ! coba baca!”

Dia menyodorkan saya koran Kompas, hanya beberapa lembar, halaman-halamannya sudah lusuh dan tidak utuh. Saya tidak tahu dia memungut di mana, yang pasti bukan beli karena harga koran itu mahal saat itu, dan juga hanya ia bawa separuhnya. Dan tentu saja itu koran edisi beberapa hari atau beberapa pekan yang lalu atau mungkin tahun lalu..

Saya malas, saat itu bahkan saya bukan pembaca rutin halaman Puisi harian kompas, saya tidak menyukai puisi. Teman saya memaksa, dengan mambacakan kutipan puisi “lucu” tadi dengan cergas seingat bait yang ada dalam benaknya; “Celananya pas, paksah celananya?”. Saya merespon biasa saja, “Maksudnya, Bung..” katanya lebih antusias, “Paskah—perayaan paskah ditakoni Yesus celananya pas tidak?”

Oh sialan! Dibuat lucu begitu bab agama! Saya lekas merasa tertarik karenanya. Saya pun duduk dan membaca sendiri puisi itu—puisi berjudul “Celana Ibu”.

Begitulah ingatan saya pada penyair Joko Pinurbo atau yang kini akrab dengan sapaan “Jokpin” mudah dibentangkan; puisinya lucu !

Lucu memang idiom konyol bagi sebagian orang, tapi banyak dari kita juga paham, hanya orang dengan kapasitas intelektual tertentu bisa menghasilkan hal lucu—terlebih dalam wahana yang memang bukan komedi seperti halnya puisi.

Jokpin dan puisi-puisinya memang tidak bisa disebut sebagai “puisi lucu” atau “penyair yang lucu”—jelas itu salah besar lebih-lebih jika dipahami secara literal saja. Puisi Jokpin bagaimana pun kaya dengan bobot yang bahkan memendam tragedi manusia yang sublim; sosoknya juga tak ada penampakan seorang yang lucu, garis pipinya kaku, matanya tajam, malah lebih terkesan seperti seorang perenung yang memikirkan terlalu banyak untuk diketetahui muasal atau realitas asalinya—seperti seorang filsuf. Hanya saja dia menuangkannnya dalam sajak dan puisi.

Subjektifitas yang demikian menuntun rasa ingin tahu saya, apa dan bagaimana laki-laki kelahiran Sukabumi 11 Mei 1962 itu sebagai penyair. Sesederhanakah hal itu seperti penampilannya sehari-hari? Saya ingin tahu bagaimana dia menghasilkan puisi, bagaimana dia menulis dan dengan dunia seperti apa dia menghimpun peluru untuk untuk ditembakkan ke dunia kita melalui puisi-puisinya itu.

Dalam proses kreatifnya berpuluh tahun hingga kini, Joko Pinurbo telah diganjar berbagai penghargaan seperti Puisi Terbaik Dewan Kesenian Jakarta. Hadiah Sastra Lontar, Sih Award, juga Tokoh sastra versi majalah TEMPO. Dan yang terpenting adalah penghargaan dari pembaca berupa rasa hormat dan menjadi penyair penting zaman ini bagi begitu banyak pembaca dan penikmat sastra indonesia.

Saya tak terkecuali, sebagai penikmat puisi, saya memupuk rasa penasaran untuk bertanya pada sang penyair tentang dunianya. Saya mengajukan beberapa pertanyaan untuk keperluan penerbitan buku “Memikirkan Kata” ini, dan itu terbalas dengan antusiasme! Tentu hal itu suatu keberuntungan, mengingat bagaimana sibuknya ia sekarang, harus membagi waktu dengan keinginannya untuk terus tinggal dalam ruang batin kreatifnya tapi dunia kini meminta waktunya lebih banyak, untuk mengisi kelas menulis, diskusi, bedah buku, atau menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti yang saya ajukan kepadanya.

Dan Berikut wawancara dengan penyair yang bagi saya, seperti seorang yang tak pernah lelah menghisap bahasa dari kebakaran yang melanda rumahnya.

Apakah dari awal anda memang tertarik menulis? Dan menulis Puisi?

Saya tertarik menulis sejak di bangku SMA. Awalnya karena suka membaca. Kebetulan koleksi perpustakaan sekolah/asrama saya mengagumkan. Banyak koleksi bacaan sastra yang bagus-bagus. yang membuat saya tergerak untuk belajar menulis. Di samping itu, tradisi penerbitan majalah di sekolah/asrama saya juga sangat hidup. Saya beruntung tumbuh di sekolah/asrama yang budaya baca dan budaya tulisnya berkembang subur.

Kapan pertama kali puisi-puisi anda dipublikasikan media?

Akhir tahun 1970-an. Tahun 1978 kalau tak salah. Saat di SMA puisi saya sudah dimuat di media (majalah) luar.

Bagaimana Anda menulis? Dengan pensil atau perangkat seperti laptop?

Pada mulanya dengan bolpoin, lalu dengan mesin ketik, lalu dengan komputer (PC), dan terakhir dengan laptop.

Apakah Integritas struktural dan nada sangat penting

dalam puisi-puisi Anda? Atau lebih bebas?

Tentu. Saya termasuk penulis yang sangat memperhatikan ketertiban dan keteraturan berbahasa. Koherensi dan logika, misalnya, sangat penting.

Meskipun banyak puisi saya yang cair dan “bebas”, saya tetap menjaga nada dan irama supaya kata-kata mengalir lancar dan enak.

Apakah anda membuat draft pertama dan banyak draft untuk satu buah puisi sampai Anda mengatakan “ya, ini final” dan mempublikasikannya?

Pada mulanya adalah draf, kemudian disunting puluhan kali sampai tersusun bentuk yang “final”. Bagian terberat dan menyita waktu adalah penyuntingan.

Apakah secara bombastis anda pernah atau bahkan seriang marah tentang titik koma yang digunakan secara buruk?

Sering. Saya sangat memperhatikan gramatika dan kaidah berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Titik koma pun tak luput dari perhatian saya karena bisa menentukan logika dan makna.

Dengan penyair siapa Anda pernah duduk santai dan berbicara  apa saja kemudian anda mengenang dari satu dua obrolan yang sangat penting meskipun tampak remeh?

Saya pernah duduk santai dan mengobrol dengan banyak penyair: Sapardi Djoko Damono, Acep Zamzam Noor, Hasan Aspahani, Aan Mansyur, dan banyak lainnya. Salah satu yang paling saya kenang adalah pembicaraan tentang akik dengan Acep. Kebetulan Acep penggemar dan kolektor akik. Dia mengumpamakan pekerjaan mengolah dan mengasah kata seperti menggosok batu akik sedemikian rupa sampai diperoleh sebutir akik yang halus, cemerlang dan memancarkan “aura”. Perlu kesabaran, ketelatenan, dan ketelitian.

Apakah mungkin untuk mengajar seseorang, atau belajar, bagaimana menulis dengan baik?

Sangat mungkin. Banyak hal teknis yang bisa dipelajari, dilatihkan,  dan “diajarkan”. Menulis toh bukan klenik atau ilmu gaib.

Ngomong-ngomong, pernah dengar afrizal mengatakan berhenti menulis puisi? Atau pertanyaanya apakah penyair bisa dan bijak pada titik tertentu memutuskan berhenti menulis puisi? Anda Punya rencana berhenti menulis puisi?

Saya pernah dengar itu. Kenyataannya, sampai saat ini Afrizal masih menulis dan masih terus bereksplorasi. Memang ada kalanya seorang penulis merasa jenuh dan bingung harus menulis apa dan bagaimana lagi. Saya pun pernah mengalami situasi seperti itu. Tak ada cara lain selain bahwa seorang penulis harus mampu memotivasi dirinya sendiri. Biasanya, setelah membaca karya orang lain, motivasi itu akan hidup kembali.

Bisakah Anda menggambarkan hari rutin Anda? Bagaimana Anda menghabiskan hari?

Tak ada yang istimewa dengan hari-hari saya. Saya menjalani hidup seperti manusia (dan warga negara) pada umumnya. Yang pasti, setiap hari saya pasti bergaul dengan kata-kata—antara lain untuk menjaga hubungan batin dengan kata-kata.

Apakah ada sesuatu yang anda lakukan agar mendapatkan suasana hati untuk menulis? pergi ke suatu tempat atau melakukan sesuatu untuk memulai berfikir?

Saya orang yang “gampangan”. Saya tidak punya kiat dan ritual khusus untuk itu. Cukup dengan kopi/teh dan rokok.

Apa saran menulis terbaik yang pernah anda terima? Dari siapa dan bagaimana ceritanya?

Saran terbaik saya terima dari Aristoteles: “Akar pendidikan itu pahit, tapi buahnya manis.” Saya mengalami sendiri bagaimana bersabar, berjuang, dan berjerih payah untuk dapat menghasilkan karya yang baik. Setiap kali menulis saya memperlakukan diri saya sedang belajar dan berlatih menulis.

Buku-buku yang paling anda gemari dan dalam benak anda sangat penting karena memberi pondasi bagi karya-karya Anda?

Injil, karya-karya Budi Darma, Iwan Simatupang, Sapardi Djoko Damono, Anthony de Mello, Carlos Maria Dominguez.

Yang terakhir, 1 judul puisi milik anda yang paling berkesan bagi anda pribadi?

Ha-ha-ha…. Sulit. Enggak nemu.

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending