Connect with us

Inspirasi

Bung Hatta: Pribadinya dalam Kenanganku

mm

Published

on

Oleh: Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono *)

Saya berkesempatan pula melihat perpustakaan Prof. Mohammad Yamin S.H. yang telah berpindah… Apa yang saya lihat sungguh menyedihkan. Perpustakaan itu tidak sebagaimana yang seharusnya, buku-buku tidak teratur menurut katalog, bahkan pada satu sisi yang panjang, terjemur oleh sinar matahari yang menembus langsung dari jendela yang tak bertirai. Perpustakaan ini jelas tidak terawat, bahkan tak ada tenaga khusus yang ditugaskan mengurusnya sepenuhnya.

Pada saat itu langsung terlintas di pikiran saya, betapa akan sangat menyedihkan apabila perpustakaan ayah menemui nasib yang sama. Sejak itu saya bertekad, bagaimana pun juga, anak-anak Hatta harus merawat sendiri buku-buku ayah, milik pribadi beliau yang bagi ayah sendiri tak ada taranya.                  

Buku Cerita

Ayah mencintai buku, dan beliau berusahan pula menanamkan rasa cinta buku kepada kami bertiga. Oleh karena itu, sejak kecil saya diberi bacaan yang bermutu, dimulai dengan buku cerita kanak-kanak. Pada usia 8 tahun, saya sudah mempunyai koleksi buku cerita yang jumlahnya mencapai 3 deretan rak buku, sebagian besar merupakan buku-buku cerita yang paling bermutu di masa kecil saya. Ayah juga menyesuaikan pilihan atas buku menurut tingkatan usia saya, sehingga perkembangan bacaan saya teratur baik.

Setelah timbul kegemaran mengumpulkan buku-buku ceria, dengan sendirinya saya terbiasa untuk menyimpan buku-buku pelajaran dari kelas yang sebelumnya, bahkan sampai sekarang pun, buku-buku pelajaran saya sejak dari SD masih merupakan bagian dari koleksi buku saya, yang tentunya berguna bagi anak saya kelak.

Biasanya adik meniru kakak. Maka kegemaran mengumpulkan buku yang ditanamkan ayah kepada saya diwarisi pula oleh adik-adik saya.

Sayang sekali bahwa saya kemudian tidak cermat mengawasi peminjaman buku-buku oleh sahabat-sahabat saya di sekolah, sehingga sebagian besar dari buku-buku saya yang paling menarik hilang untuk seterusnya.

Setelah dewasa barulah saya lebih menyadari bahwa saya membutuhkan buku-buku lama yang pernah saya miliki untuk diceritakan kepada anak saya. Buku-buku seperti Anak Jawi dan Anak Harimau karangan Bagindo Saleh, atau Cerita Nenek Putih Rabiah karangan Ny. Limbak Tjahaja, Pak Madong, Si Samin yang saya lupa pengarangnya, saya anggap sungguh menarik untuk dibaca oleh anak-anak sekarang. Sayang sekali jika anak-anak lebih mengetahui cerita anak-anak dari negara lain atau cerita dari Indonesia sendiri tetapi yang lebih mementingkan segi komersial daripada soal mutu.

Kegemaran membaca buku yang ditanamkan ayah sejak kecil ternyata menguntungkan kami bertiga dalam hal memperolah nilai yang baik dalam pelajaran tata Bahasa Indonesia. Keuntungan lainnya, kami memperoleh pengetahuan tentang adat istiadat beberapa masyarakat di Indonesia atau karya-karya sastra.

Ketika saya masih kuliah, dosen “Kesusteraan Nusantara” yang memberikan kuliah mengenai kesusateraan Hindu dan inti cerita-cerita wayang merasa bangga bahwa kuliah beliau dapat dipahami oleh mahasiswa non-Jawa, sebab saya, yang (dianggapnya) orang Minangkabau, dapat memperoleh nilai baik sekali dalam ujian matakuliah tersebut. Beliau tidak tahu bahwa bekal pengetahuan dasar saya tentang isi kuliah beliau sebetulnya saya peroleh melalui bacaan waktu kecil, termasuk di antaranya komik Mahabarata karangan R. A . Kosasih, yang diberikan oleh ayah.

Semasa mahasiswa, terutama waktu saya dan ayah tinggal di Hawai selama 6 bulan, ayah turut memberi saran-saran tentang buku-buku yang perlu dibeli mengenai bidang saya, antropologi. Kami sering pergi ke took buku universitas untuk memilih buku-buku dengan tenang, dan pulang dengan taksi karena ternyata tanpa disadari buku-buku yang kami beli sudah terlalu banyak dan tak terangkat lagi.

Milik Ayah yang Paling Berharga

Ketika saya harus mengurus penerbitan majalah dengan Pertamina pada tahun 1976, saya berkesempatan pula melihat perpustakaan Prof. Mohammad Yamin S.H. yang telah berpindah ke Pertamina. Pada saat perpustakaan beliau itu dibeli, Pertamina sedang berada dalam “zaman kejayaannya”.

Apa yang saya lihat sungguh menyedihkan. Perpustakaan itu tidak sebagaimana yang seharusnya, buku-buku tidak teratur menurut katalog, bahkan pada satu sisi yang panjang, terjemur oleh sinar matahari yang menembus langsung dari jendela yang tak bertirai. Perpustakaan ini jelas tidak terawat, bahkan tak ada tenaga khusus yang ditugaskan mengurusnya sepenuhnya.

Pada saat itu langsung terlintas di pikiran saya, betapa akan sangat menyedihkan apabila perpustakaan ayah menemui nasib yang sama. Sejak itu saya bertekad, bagaimana pun juga, anak-anak Hatta harus merawat sendiri buku-buku ayah, milik pribadi beliau yang bagi ayah sendiri tak ada taranya.

Pada suatu hari ayah memanggil saya ke ruang kerjanya. Dengan mimik yang biasa, beliau berkata, “Meutia, pilihlah buku-buku dari bibliotik ayah di atas yang berguna bagi studi Meutia.”

“Buat apa yah?” saya bertanya.

“Buat Meutia sendiri. Sebab kalau ayah meninggal nanti, mungkin kalian bermaksud menjual buku-buku ayah untuk biaya hidup ibu dan kalian. Meutia kan tahu, pensiun ayah…..”

Belum sampai selesai kalimat itu, saya sudah merasa bahwa beliau mau mengatakan bahwa pensiun ayah takkan cukup untuk membiayai hidup kami, terutama ibu, yang ditinggalkan. Kalau kini ada keluarga yang masih membantu, bagaimanakah bila Ayah meninggal nanti?

Karena saya sudah merasa tahu akhir kalimat itu, saya cepat memutus beliau, “Jangan ayah! Saya tidak mau ambil buku ayah dari atas. Buku-buku ayah tidak boleh kami jual. Masih banyak barang lain yang bisa kami jual kalau memang diperlukan”

Ayah tertegun memandang saya sehingga saya merasa “risi”, karena saya menyangka beliau tertegun karena saya potong kalimatnya, yang hampir tak pernah saya lakukan sebelumnya. Maka saya mencoba menjelaskan kepada yaha, mengapa saya tidak setuju, “ayah tahu, apa yang terjadi dengan buku-buku Yamin? Tidak terurus, menyedihkan…. Saya dan adik-adik seharusnya wajib mengurus bibliotic ayah nanti.” Ayah agak cerah wajahnya mendengar keterangan saya. Lalu saya lanjutkan, “Kalau toh ayah mau memberi saya buku, saya minta yang ayah punya dua.”

Ayahku, betapa mulia hatinya! Buku-buku yang merupakan benda-benda kesayangannya melebihi barang apa pun, yang dikumpulkannya sejak beliau berusia 19 tahun, direlakannya untuk kami jual guna biaya hidup bila ayah sudah meninggal. Bukan rumah yang lebih dulu direlakannya untuk kami jual, melainkan buku kesayangannya. Mungkin beliau berpikir bahwa buku hanya sangat bernilai bagi ayah, sedangkan bila ayah meninggal nanti, keluarga lebih membutuhkan rumah sebagai tempat berlindung. Padahal ibu dan adik-adik pasti juga sependapat dengan saya, tak rela menjual buku-buku ayah untuk kepentingan kami sendiri dari segi materi. Menjelang tidur pada malamnya, terkenang kembali saya pada kata-kata ayah itu, dan tak terasa air mata pun menetes terharu.

Waktu ayah mengatakan soal buku itu, apa yang terbayang di kepala saya hanyalah nasib buku-buku Prof. Yamin, sehingga tanpa berpikir panjang lagi saya menolak tawaran buku dari ayah yang sesuai dengan bidang saya. Namun kemudian, ada hikmah lain dari penolakan saya itu.  Kalau dulu saya menerima, bukankah tak mustahil keluarga lain merasa dianak tirikan? Bagaimana perasaan adik-adik kalau hanya saya yang memperoleh, terutama persaan Halida? Bidang studinya ilmu politik, cukup banyak buku ayah yang bisa dipergunakannya. Lalu, kalau buku-buku ayah sudah dikurangi, apa lagi yang istimewa dari “perpustakaan pribadi Mohammad Hatta”, yang selalu terkenal sebagai perpustakaan pribadi terbesar di Indonesia?

Percakapan antara saya dan ayah itu tetap saya simpan bagi diri saya sendiri sampai ayah wafat. Tidak saya ceritakan kepada siapa pun. Saya takut bahwa jika orang luar mengetahui mereka akan menganggap bahwa ayah memang bermaksud menjual perpustakaannya, barang yang paling dicintainya. Saya takut pula bahwa hal itu bahkan akan menimbulkan ide tertentu pada orang luar yang tidak saya kehendaki, juga tak dikehendaki ibu dan kami semua!

Syukurlah bahwa sejak itu, bila orang menanyakan kepada ayah tentang buku-buku bleiau sesudah ayah meninggal nanti, beliau selalu menjawab, “ketiga anak saya yang memutuskan.” Kepada Pak Wangsa beliau juga antara lain menyebut nama saya untuk mengurus buku beliau. Sudah tentu ini bukan berarti bahwa saya menguasainya sendiri, melainkan saya diberi kewajiban mengambil keputusan terakhir setelah musyawarah dengan adik-adik, tentang apa yang dilakukan terhadap buku ayah sesudah beliau wafat. Dan keputusan saya sejak dulu masih tetap sama: anak-anak Hatta mengurus perpustakaan ayahanda kami sendiri, sebagai tanda bakti kami kepada orang tua. Beliau telah memberikan pendidikan yang tinggi bagi ketiga anaknya, karena itu kami akan dapat mempergunakan buku-buku itu, selain memeliharanya, sesuai dengan bidang ilmu yang kamimiliki. Keyakinan saya semula benar, ibu dan adik-adik, suami dan ipar saya, setuju bahwa kami merawat sendiri buku-buku ayah sebagai tanda bakti kami kepada beliau yang telah tiada.

Saya juga bersyukur bahwa tidak lama kemudian sesudah percakapan kami itu, ayah memberikan kepada saya buku antic The History of Java karangan Thomas Stamford Raffles, jilid I dan II, terbitan tahun 1817, karena ayah memiliki 2 seri. Beliau rupanya ingat akan permintaan saya tersebut di atas. Buku itu dianggapnya sebagai hadiah ulang tahun saya yang ke-30, meskipun tidak tepat diberikannya pada hari itu. Tentu saja buku ini tidak ternilai artinya bagi saya.

Syukur alhamdulillah pula bahwa kurang dari 3 tahun sesudah itu, Pemerintah mengadakan peraturan baru tentang besarnya pension ayah. Maka saya berkata, “Sekarang betul-betul ayah tidak perlu lagi memikirkan tentang buku ayah, dengan adanya pensiun baru ini.” Maksud saya, mengingatkan kembali tentang percakapan kami itu. Ayah tersenyum gembira. (*)

*Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono, adalah seorang ahli antropologi Indonesia. Pernah menjabat sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden sejak 25 Januari 2010. Sebelumnya ia menjabat sebagai Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dalam Kabinet Indonesia Bersatu (2004 hingga 2009). Meutia adalah putri mantan wakil presiden dan proklamator Indonesia, Mohammad Hatta. Ia mendapatkan gelar doktor dalam bidang antropologi dari Universitas Indonesia pada tahun 1991. Pada tahun 2002–2005 ia adalah Ketua Umum Yayasan Hatta.

**Catatan Redaksi: Tulisan ini dicuplik dari buku “Bung Hatta: Pribadinya dalam kenanganku” yang juga disunting oleh Meutia Farida Hatta Swasono. Tulisan “Ayahanda: Pribadinya dalam Kenanganku” adalah tulisan memoir Meutia dalam buku tersebut. Galeri Buku Jakarta menayangkan tulisan tersebut dalam laman galeribukujakarta.com dengan tujuan menggugah semangat membaca bangsa indonesia, mengenang Bung Hatta dan bagaimana ia memberi inspirasi dalam bidang pendidikan, merawat buku dan budaya membaca dan menulis dalam pribadinya. Semoga bermanfaat.

Continue Reading

Inspirasi

Meniti Bahagia, Menapaki Jalan Sunyi Siddhartha

mm

Published

on

Kebahagian adalah ketika seseorang dapat mengalahkan egonya sendiri, demikian intisari utama moralitas yang diajarkan Siddhartha Gautama.

Siddharta Gautama, atau kemudian lebih terkenal dengan nama ‘Buddha’ adalah pribadi ‘Yang Tercerahkan’ jiwanya, setelah melewati jalan panjang dalam kesunyian. Gautama hidup di masa di mana agama dan mitologi dipertanyakan. Di Yunani, pemikir seperti Pythagoras menguji kosmos menggunakan akal, dan di China, Laozi dan Confucius melepaskan etika dari dogma agama.

Buddhisme sebagai filsafat

Brahmanisme, agama yang telah berevolusi dari Vedaisme—kepercayaan kuno berdasarkan teks suci Veda—adalah kepercayaan yang paling banyak dianut di India pada abad ke 6 sebelum masehi, dan Siddharta Gautama adalah orang pertama yang menantang ajarannya dengan nalar filosofis.

Gautama, meskipun dipuja oleh para penganut ajaran Buddha karena kebijaksanaannya, bukanlah seorang mesias atau seorang nabi, dan dia tidak bertindak sebagai perantara antara Tuhan dan Manusia. Ide-idenya datang melalui penalaran, bukan wahyu ilahi, dan inilah yang menandai buddhisme sebagai filsafat dari pada sebuah agama. Pencariannya adalah suatu proses yang filosofis – untuk menemukan kebenaran–dan Gautama percaya bahwa kebenaran yang dia usulkan tersedia bagi kita semua melalui kekuatan nalar.

Seperti kebanyakan filsuf timur, dia tidak tertarik pada pertanyaan metafisik yang tak terjawab dan hanya sebatas menyibukkan orang-orang Yunani. Gautama menilai bahwa manusia yang bersikeras berurusan dengan entitas di luar pengalaman yang dimiliki sebagai manusia, dapat berujung pada spekulasi yang tidak masuk akal. Gautama sendiri percaya, kesibukan mencari sesuatu yang ada ‘di luar’ dirinya akan menegasikan hal penting yang seharusnya dilakukan oleh manusia; yaitu mempertanyakan pada dirinya sendiri tentang tujuan hidup yaitu merumuskan bagaimana sejatinya konsep kebahagiaan, kebajikan, dan kehidupan yang ‘baik’.

Jalan Tengah

Di kehidupan awal, Gautama menikmati kemewahan dan semua kesenangan indra. Namun, Gautama menyadari bahwa apa yang dimiliki pada saat itu tidak cukup untuk membawa dirinya pada kebahagiaan sejati. Dia sangat sadar akan penderitaan di dunia, dan melihat bahwa penderitaan manusia datang dari beragam bentuk, mulai dari penyakit, menjadi tua, kematian, dan kemiskinan.

Gautama mengakui bahwa kesenangan indra yang kita nikmati untuk menghilangkan penderitaan sejatinya jarang memberikan rasa puas yang utuh, ia percaya bahwa kesenangan itu bersifat sementara. Gautama kemudian menemukan pengalaman asketisisme ekstrim, dalam bentuk kesederhanaan dan berpantang. Namun apa yang ditempuh Gautama saat itu tidak membawa pada titik yang lebih dekat dengan pemahaman tentang kebahagiaan itu sendiri.

Akhirnya Gautama sampai pada kesimpulan bahwa harus ada ‘jalan tengah’ antara kesenangan diri dan penyiksaan diri. Jalan tengah ini, menurutnya, harus mengarah pada kebahagiaan sejati, atau ‘pencerahan’ dan untuk menemukannya, ia menggunakan penalaran berdasarkan pada pengalamannya sendiri.

Gautama menyadari bahwa penderitaan bersifat universal. Di mana penderitaan itu sendiri adalah bagian integral dari keberadaan, dan akar penyebab penderitaan kita adalah kefrustrasian manusia antara keinginan dan harapan.

Keinginan-keinginan ini dia sebut ‘keterikatan’, dan keterikatan yang dimaksud tidak hanya keinginan-keinginan indra dan ambisi duniawi kita, tetapi naluri kita yang paling dasar untuk mempertahankan diri kita sendiri. Memuaskan keterikatan ini, menurutnya, dapat membawa kepuasan jangka pendek, tetapi bukan kebahagiaan dan kedamaian pikiran.

Bukan Kehendak Diri

Langkah berikutnya dalam penalaran Gautama adalah bahwa penghapusan keterikatan akan mencegah kekecewaan, dan menghindari penderitaan. Namun untuk mencapai hal ini, dia menyarankan menemukan akar penyebab dari keterikatan kita, yaitu keegoisan itu sendiri. Gautama percaya bahwa keegoisan lebih dari sekedar kecenderungan kita untuk mencari kepuasan dan membuat kita terikat.  Jadi membebaskan diri kita dari keterikatan yang menyebabkan kita kesakitan tidak cukup hanya dengan meninggalkan hal-hal yang kita inginkan—kita harus mengatasi keterikatan kita dengan apa yang diinginkan oleh “diri kita sendiri”.

Tapi bagaimana kita bisa mencapai titik itu? Keinginan, ambisi, dan harapan adalah bagian dari sifat manusia, dan bagi sebagian besar manusia merupakan alasan untuk hidup. Jawabannya, bagi Gautama, bahwa dunia ego adalah ilusi—sebagaimana ia tunjukkan, sekali lagi, oleh proses penalaran. Dia berpendapat bahwa tidak ada di alam semesta yang disebabkan oleh diri sendiri, karena semuanya adalah hasil dari beberapa tindakan sebelumnya, dan masing-masing dari kita hanyalah bagian sementara dari proses kekal lainnya—yang pada akhirnya tidak kekal dan tanpa substansi.

Pada kenyataannya, tidak ada ‘diri’ yang bukan bagian dari entitas yang lebih besar—atau dari ‘bukan kehendak diri’—dan penderitaan disebabkan oleh kegagalan kita untuk mengenali hal ini. Namun, bukan berarti kita mengingkari keberadaan atau identitas pribadi, sebaliknya kita harus memahami diri sendiri apa adanya, bahwa manusia atau ‘diri’ hanya bersifat sementara dan insubstansial.

Dalam pada itu, menuju jalan Gautama, manusia sejatinya memahami konsep ‘bukan kehendak diri’ dimana  tidak ada yang abadi dari hasrat, ambisi dan ekspetasi, alih-alih melekat pada gagasan menjadi “pribadi” yang unik, adalah kunci untuk kehilangan keterikatan itu, dan menemukan pelepasan dari penderitaan.

Jalan Berunsur Delapan

Gautama menelaah sebab-sebab penderitaan yang dialami manusia dengan melihat lebih dalam ke dalam filosofi “Empat Kebenaran Mulia”. Lewat ajaran tersebut, Gautama menelaah bahwa penderitaan itu bersifat universal; keinginan adalah penyebab dari penderitaan; penderitaan dapat dihindari dengan menghilangkan hasrat atau keinginan; dan cara terbaik untuk menghilangkan hasrat adalah dengan mengikuti ‘Jalan Berunsur Delapan’.

Kebenaran terakhir ini mengacu pada apa yang menjadi panduan praktis untuk mencapai “jalan tengah” yang diberikan oleh Gautama bagi para pengikutnya untuk mencapai pencerahan. Jalan Berunsur Delapan (tindakan yang benar, niat yang benar, penghidupan yang benar, usaha yang benar, konsentrasi yang benar, ucapan yang benar, pemahaman yang benar, dan perhatian yang benar) adalah kode etik—resep untuk kehidupan yang baik dan resep kebahagiaan yang pertama kali ditemukan oleh Gautama.

Menuju Nirwana

Gautama melihat tujuan akhir kehidupan di Bumi adalah untuk mengakhiri siklus penderitaan (kelahiran, kematian, dan kelahiran kembali) di mana kita dilahirkan. Dengan mengikuti Jalan Berunsur Delapan, seseorang dapat mengatasi egonya dan menjalani kehidupan yang bebas dari penderitaan dan menikmati pencerahannya. Terpenting, melalui Jalan Berunsur Delapan, sesorang dapat menghindari rasa sakit dari reinkarnasi ke dalam kehidupan dan penderitaan yang lain. Orang yang memahami filosofi dari Jalan Berunsur Delapan akan lebih menyadari nilai “bukan kedirian” dan menjadi satu dengan yang kekal. Pada titik itu, orang telah terlepas dari hal ‘kedirian’ telah mencapai titik Nirwana—yang secara beragam diterjemahkan sebagai “ketidakterikatan”, “tidak-menjadi”, atau secara harfiah “menerangi” (baca: sebagai lilin).

Dalam brahmanisme sewaktu masa Gautama, Nirwana dipandang sebagai satu dengan Tuhan, tetapi Gautama secara hati-hati menghindari penyebutan Tuhan atau tujuan akhir untuk hidup. Dia hanya menggambarkan Nirwana sebagai “tidak dilahirkan, tidak beradab, tidak diciptakan dan tidak berbentuk”, dan melampaui segala pengalaman inderawi.

Setelah melewati masa pencerahannya, Gautama menghabiskan bertahun-tahun berkeliling India, ia berkhotbah dan mengajar. Selama masa hidupnya, ia memperoleh banyak pengikut dan Buddhisme menjadi mapan sebagai agama sekaligus filsafat. Ajarannya diturunkan secara lisan dari generasi ke generasi oleh para pengikutnya, sampai abad ke-1, para pengikutnya mulai menulis ajaran Gautama untuk pertama kalinya. Berbagai aliran mulai muncul ketika Buddhisme tersebar di seluruh India, dan kemudian menyebar ke timur ke Cina dan Asia Tenggara. Buddhisme kemudian menyaingi popularitas Confusianisme dan Taoisme.

Ajaran Gautama menyebar hingga ke kekaisaran Yunani pada abad ke-3 SM, tetapi memiliki pengaruh kecil pada filsafat barat. Namun, ada kesamaan antara pendekatan Gautama terhadap filsafat dan filsafat orang-orang Yunani, yaitu  penekanan Gautama pada penalaran sebagai sarana untuk menemukan kebahagiaan, dan disiplinnya menggunakan dialog filosofis untuk mendidik ajaran-ajarannya.

Pemikiran Gautama akhirnya menemukan gema dalam ide-ide filsuf barat kemudian, seperti dalam konsep David Hume tentang diri dan pandangan Schopenhauer tentang kondisi manusia. Tetapi baru pada abad ke-20, Buddhisme memiliki pengaruh langsung terhadap pemikiran Barat. Sejak saat itu, semakin banyak orang Barat yang beralih ke Buddhisme sebagai pedoman tentang cara hidup. (*)

*) diterjemahkan Susan Gui (ed; Sabiq Carebesth), dari “Happy is He Who Has Overcome His Ego”  (The Philosohy Book; DK London, 2011).

Continue Reading

Cerpen

Doa Kang Suto

mm

Published

on

Ahmad Tohari *)

Pernah saya tinggal di Perumnas Klender. Rumah itu dekat mesjid yang sibuk. Siang malam orang pada ngaji. Saya tak selalu bisa ikut. Saya sibuk ngaji yang lain.

Lingkungan sesak itu saya amati. Tak cuma di mesjid. Di rumah-rumah pun setiap habis magrib saya temui kelompok orang belajar membaca Al Quran. Anak-anak, ibu-ibu dan bapak-bapak, di tiap gang giat mengaji. Ustad pun diundang.

Di jalan Malaka bahkan ada kelompok serius bicara sufisme. Mereka cabang sebuah tarekat yang inti ajarannya berserah pada Tuhan. Mereka banyak zikir. Solidaritas mereka kuat. Semangat agamis, pendeknya, menyebar di mana-mana.

Dua puluh tahun lebih di Jakarta, tak saya temukan corak hidup macam itu sebelumnya. Saya bertanya: gejala apa ini?

Saya tidak heran Rendra dibayar dua belas juta untuk membaca sajak di Senayan. Tapi, melihat Ustad Zainuddin tiba-tiba jadi superstar pengajian (ceramahnya melibatkan panitia, stadion, puluhan ribu jemaah dan honor besar), sekali lagi saya dibuat bertanya: jawaban sosiologis apa yang harus diberikan buat menjelaskan gairah Islam, termasuk di kampus-kampus sekular kita? Benarkah ini wujud santrinisasi?

Di Klender yang banyak mesjid itu saya mencoba menghayati keadaan. Sering ustad menasihati, “Hiasi dengan bacaan Quran, biar rumahmu teduh.” Para “Unyil” ke mesjid, berpici dan ngaji. Pendeknya, orang seperti kemarok terhadap agama.

Dalam suasana ketika tiap orang yakin tentang Tuhan, muncul Kang Suto, sopir bajaj, dengan jiwa gelisah. Sudah lama ia ingin salat. Tapi salat ada bacaan dan doanya. Dan dia tidak tahu. Dia pun menemui pak ustad untuk minta bimbingan, setapak demi setapak.

Ustad Betawi itu memuji Kang Suto sebagai teladan. Karena, biarpun sudah tua, ia masih bersemangat belajar. Katanya, “Menuntut ilmu wajib hukumnya, karena amal tanpa ilmu tak diterima. Repotnya, malaikat yang mencatat amal kita cuma tahu bahasa Arab. Jadi wajib kita paham Quran agar amal kita tak sia-sia.”

Setelah pendahuluan yang bertele-tele, ngaji pun dimulai. Alip, ba, ta, dan seterusnya. Tapi di tingkat awal ini Kang Suto sudah keringat dingin. Digebuk pun tak bakal ia bisa menirukan pak ustad. Di Sruweng, kampungnya, ‘ain itu tidak ada. Adanya cuma ngain. Pokoknya, kurang lebih, ngain.

“Ain, Pak Suto,” kata Ustad Bentong bin H. Sabit. “Ngain,” kata Kang Suto.
“Ya kaga bisa nyang begini mah,” pikir ustad. Itulah hari pertama dan terakhir pertemuan mereka yang runyem itu. Tapi Kang Suto tak putus asa. Dia cari guru ngaji lain. Nah, ketemu anak PGA. Langsung Kang Suto diajarinya baca Al-Fatihah.

“Al-kham-du …,” tuntun guru barunya. “Al-kam-ndu …,” Kang Suto menirukan. Gurunya bilang, “Salah.”
“Alkhamdulillah …,” panjang sekalian, pikir gurunya itu.
“Lha kam ndu lilah …,” Guru itu menarik napas. Dia merasa wajib meluruskan. Dia bilang, bahasa Arab tidak sembarangan. Salah bunyi lain arti. Bisa-bisa kita dosa karena mengubah arti Quran. Kang Suto takut. “Mau belajar malah cari dosa,” gerutunya.

Kang Suto tahu, saya tak paham soal kitab. Tapi ia datang ke rumah saya, minta pandangan keagamaan saya.

“Begini Kang,” akhirnya saya menjawab. “Kalau ada ustad yang bisa menerima ngain, teruskan ngaji. Kalau tidak, apa boleh buat. Salat saja sebisanya. Soal diterima tidaknya, urusan Tuhan. Lagi pula bukan bunyi yang penting. Kalau Tuhan mengutamakan ain, menolak ngain, orang Sruweng masuk neraka semua, dan surga isinya cuma Arab melulu.

Kang Suto mengangguk-angguk.

Saya ceritakan kisah ketika Nabi Musa marah pada orang yang tak fasih berdoa. Nabi Musa langsung ditegur Tuhan. “Biarkan, Musa. Yang penting ketulusan hati, bukan kefasihan lidahnya.”

“Sira guru nyong,” (kau guruku) kata Kang Suto, gembira.

Sering kami lalu bicara agama dengan sudut pandang Jawa. Kami menggunakan sikap semeleh, berserah, pada Dia yang Mahawelas dan Asih. Saya pun tak keberatan ia zikir, “Arokmanirokim,” (Yang Pemurah, Pengasih).

Suatu malam, ketika Klender sudah lelap dalam tidurnya, kami salat di teras mesjid yang sudah tutup, gelap dan sunyi. Ia membisikkan kegelisahannya pada Tuhan.

“Ya Tuhan, adakah gunanya doa hamba yang tak fasih ini? Salahkah hamba? duh Gusti, yang hati-Nya luas tanpa batas …”

Air matanya lalu bercucuran. Tiba-tiba dalam penglihatannya, mesjid gelap itu seperti mandi cahaya. Terang-benderang. Dan kang Suto tak mau pulang. Ia sujud, sampai pagi …

*) Ahmad Tohari, 1971 

Continue Reading

Inspirasi

Kreativitas Tanpa Batas Bersama Warga Lapas dan Muhidin M Dahlan

mm

Published

on

Oleh: Danang Pamungkas *)

Dari dulu saya paling takut dengan penjara, isinya adalah bangunan kotak kosong, dinding yang tinggi membatasi interaksi, dan besi yang menutupi ruangan. Penjara selalu identik dengan kelompok kriminal, penjahat, dan tempat terburuk bagi manusia. Namun di hari sabtu tepatnya tanggal 5 Mei 2018, saya menginjakkan kaki di tempat yang saya takuti. Saya melihat dengan jelas jeruji paku yang panjangnya melingkari luas tahanan seperti stadion sepak bola. Dinding lapas lebih tinggi ketimbang apa yang saya bayangkan dalam mimpi, sementara puluhan petugas keamanan sudah mengawasi beserta kamera tersembunyi di balik dinding dan jeruji. Saya seperti orang yang diawasi oleh mata di setiap sudut lokasi, gerak-gerik tubuh, dan sorot mata-pun bisa dianalisa oleh piranti canggih era-milenial.  Terbersit dipikiran saya ketika membayangkan bagaimana tokoh utama di dalam  Novel George Orwell berjudul “1984” yang diawasi ketat oleh sistem keamanan yang canggih dan membuat pikirannya di penjara oleh sistem.

Lalu pertanyaan saya muncul, bagaimana bisa warga lapas disini malah membuat pameran literasi, komunitas baca, dan membuat karya?

Saya pun berjalan lebih cepat, melewati pintu demi pintu untuk sampai di gedung pameran. Benar saja, ruangan lapas di dipenuhi lukisan, komik, kata-kata mutiara, kerajinan tangan, dan puisi. Ruangan ini mirip dengan pamertan arsip ketimbang lapas narkotika. Entah ruangan ini yang mendesain adalah warga lapas atau petugas, yang jelas hampir mustahil mendesain ruangan sedemikian rupa tanpa ide, kreatifitas, dan kerja keras.

Saya-pun bertemu dengan warga lapas yang saya lupa namanya. Ia yang mendirikan merek dagang “Patub-Porx” di bidang ukiran kulit, sablon kaos, drawing gambar, dan aneka seni rupa. Merek ini bisa dilihat di Instgram @patub_porx. Berperawakan tatoan di sekujur badan dan tindik di dua telinganya, dibalut pakaian biru-kuning, saya agak canggung untuk ngobrol dengannya. Maklum lingkungan saya adalah kumpulan orang-orang yang tidak tau seni.

Mas Patub-Porx bercerita bagaimana tahun 2017 lalu, , ia membantu temannya yang menjadi warga lapas – mendesain ruangan, dan memamerkan karya. Namun pada 2018 ini ia malah masuk menjadi penghuni lapas bersama temannya. Ia tertawa tak habis pikir, bagaimana nasibnya kini sama dengan temannya.

“Kalau pameran ini saya bersama teman-teman saling sharing dan belajar bareng untuk membuat pameran. Kalau disini semua orang bisa belajar apapun mas. Sudah lihat lukisan saya di lantrai dua belum? Kalau saya melukis bisanya dengan metode Drawing. Nah Mas Danto itu yang menggerakkan teman-teman untuk membuat komunitas baca Kopiku, dan berkesenian disini,” Ucapnya sambil tertawa.

Saya pun berjalan ke ruang pameran lantai dua untuk melihat lukisan Mas Patub_Porx, sekaligus mengikuti workshop penulisan tanpa batas yang dipandu oleh Muhidin M Dahlan (Gus Muh). Acara ini diinisiasi oleh Komunitas Pecinta Buku Lapas (Kopiku), Pustaka Bergerak, Rumah Baca Komunitas, Kemenkumham Yogyakarta, dan Lapas Narkotika Klas IIA Yogyakarta.

Lukisan dari Patub_Porx mempunyai kesan dan pesan yang dalam akan religiusitas dan moral. Ia seperti sedang mengirimkan pesan kepada semua orang bahwa ke-egoisan, kemunafikan, dan kejahatan adalah sifat keduniawian yang harus dihindari. Enam buah lukisannya memiliki ciri khas, dan pesan yang kuat. Orang awam-pun pasti paham makna yang ingin disampaikan oleh si pelukis.

Diskusi-pun dimulai. Banyak orang yang berkumpul termasuk warga lapas, penjaga, pegiat literasi, komunitas, mahasiswa, orang tua, dan aktivis. Saya sebenarnya takut untuk duduk bersebalahan dengan warga lapas, entah pengaruh stereotype lingkungan saya yang diskriminatif atau memang pikiran saya  yangcselalu negatif. Suasana gembira tanpa beban terlihat dari wajah para warga lapas, mereka minum kopi seperti sedang duduk di Cafe Legend, Kota Baru Jogja.

Warga lapas dengan antusias mendnegarkan ceramah Gus Muh  yang berdiri sambil mengerakkan tubuhnya untuk mempraktekkan cara penulis dalam mengimajinasikan subjek dan benda. Gelak tawa tahanan pun pecah, melihat Gus Mus dengan semangat memberikan trik dan tips dalam proses menulis.

“Jangan selalu ingin menulis  tokoh besar seperti Sukarno atau Pramoedya Ananta toer. Menulislah dengan cara kalian sendiri. Materi disekitar kita itulah yang paling mudah untuk kita tulis. Saya pernah membaca pernyataan Pram, bahwa ia tak mungkin bisa produktif menulis menghasilkan banyak buku kalau tidak di penjara. Nah di penjara inilah daya kreatifitas bisa dimaksimalkan lebih jauh. Saya selalu menolak anggapan bahwa biografi selalu identik dengan tokoh besar, saya kemudian menulis biografi tokoh yang bukan siapa-siapa, dan banyak orang yang meremehkan tokoh tersebut, buku saya itu berjudul “Tuhan Izinkan Aku Jadi pelacur.” Dan ternyata benar cerita tokoh tersebut dipahami dan dianggap berharga oleh banyak orang, sampai sekarang bisa tercetak hingga 100 ribu eksemplar. Setelah itu saya yakin semua individu memliki cerita yang unik dan rahasia. Sebenarnya  semua orang bisa dijadikan bahan untuk menulis, jadi menurut saya sekarang ini teman-teman (warga lapas) bisa belajar menulis biografi temannya di satu ruangan atau beda ruangan, bayangkan berapa puluh cerita yang akan bisa di tulis dan diterbitkan.”

“Kalau saya ketemu teman-teman saya, hal yang paling saya sukai adalah melakukan wawancara. Saya selalu mencatat, dan catatan itu saya jadikan bahan cerita untuk buku-buku saya. Nah mungkin teman-teman bisa mencobanya, tulis saja pengalaman teman kalian, bahkan sedetil  mungkin sampai bentuk wajah, hidup, sifat, dan karakternya. Saya yakin itu akan menjadi tulisan yang luar biasa menarik.”

Ia juga membahas bagaimana benda-benda disekitar lapas bisa ditulis menjadi beragam tema. Bagaimana batu, besi, jeruji, dinding, dan baju bisa dibuat tulisan sederhana yang bisa menguraikan kata-kata menjadi tulisan.

Setelah diskusi selesai, saya pun menyapanya untuk berdiskusi mengenai kegiatan literasi penjara. Ia duduk santai sambil menandatangani buku-bukunya, dan sesekali berbincang dengan warga lapas. Saya mearsa beruntung bisa ngobrol dengannya.

“Penjara itu kan batasan, tapi menulis membuatnya tidak terbatas. Tapi harus tahu caranya, menjadikan hal yang biasa menjadi tidak biasa. Bagi mereka benda-benda di dalam lapas itu sudah biasa, sehingga pikiran mereka sudah terstruktur (merasa biasa saja). Itulah yang membuat mereka merasa biasa sekali. Nah bagaimana cara membuat itu tidak biasa. . . kita belajar sastra itu tidak di dapatkan, dari SD dan SMP itu – kita hanya belajar Bahasa Indonesia bukan Sastra Indonesia. Kita belajar menulis sastra kan hanya di luar (komunitas) bagaimana menulis sejak kecil hanya di suruh menulis pergi ke rumah nenek atau kenakalan remaja, sebenarnya kan ada banyak tema yang bisa di eksplorasi. Menulis itu  pekerjaan jalan-jalan dan senang-senang. . . Menurut saya (Literasi penjara) merupakan terobosan, ternyata buku dan kreatifitas bisa masuk dalam penjara – untuk pembekalan mereka bagaimana nanti keluar.”

Gus Muh adalah seseorang yang sangat menginsiprasi banyak anak muda di generasi saya.  Ia banyak menulis buku, dan esai di beberapa media online. Ketika ia bersama  pegiat literasi mendirikan Radio Buku dan Warung Arsip, teman-teman saya merasa terwadahi dan sering nongkrong disana. Meskipun begitu, sampai sekarang saya belum pernah nongkrong di Radio Buku karena  faktor kemalasan.

Pameran literasi pun resmi di tutup oleh penampilan Band Reggae yang membuat suasan begitu berkesan. Beberapa warga lapas ikut bernyanyi dan bergoyang bersama, gelak tawa, dan candaan begitu bising di ruangan. Saya pun juga ikut menggerakkan badan sambil berfoto selfie dengan mereka. Sehari berada di dalam lapas, membuat pandangan saya tentang warga lapas berubah. Lapas bukanlah tempat haram, dan  bukanlah sarangnya penjahat. Lapas hanya tempat yang kebetulan dibuat oleh pemerintah untuk menampung sahabat kita yang sedang tidak beruntung dan butuh perhatian. Di dalam lapas ini semua kreativitas muncul dan terwadahi dengan baik, meskipun terbatas dengan fasilitas maupun aturan.

Saya menjadi heran mengapa di dunia yang lebih bebas, saya seperti berada di penjara dan kehilangan kebebasan. Benar memang kata pepatah Jawa, urip kui mung sawang sinawang[1]!

_______________

*) Danang Pamungkas, lahir di Rembang 2 Desember 1994. Penulis paruh waktu untuk beberapa media online. twitter: @danangpnp, instagram: @danangpnp.

[1] Kosakata Bahasa Jawa yang artinya kurang lebih: hakekat hidup itu hanyalah persoalan bagaimana seseorang memandang atau melihat sebuah kehidupan

Continue Reading

Classic Prose

Trending