Connect with us

Inspirasi

Bung Hatta: Pribadinya dalam Kenanganku

mm

Published

on

Oleh: Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono *)

Saya berkesempatan pula melihat perpustakaan Prof. Mohammad Yamin S.H. yang telah berpindah… Apa yang saya lihat sungguh menyedihkan. Perpustakaan itu tidak sebagaimana yang seharusnya, buku-buku tidak teratur menurut katalog, bahkan pada satu sisi yang panjang, terjemur oleh sinar matahari yang menembus langsung dari jendela yang tak bertirai. Perpustakaan ini jelas tidak terawat, bahkan tak ada tenaga khusus yang ditugaskan mengurusnya sepenuhnya.

Pada saat itu langsung terlintas di pikiran saya, betapa akan sangat menyedihkan apabila perpustakaan ayah menemui nasib yang sama. Sejak itu saya bertekad, bagaimana pun juga, anak-anak Hatta harus merawat sendiri buku-buku ayah, milik pribadi beliau yang bagi ayah sendiri tak ada taranya.                  

Buku Cerita

Ayah mencintai buku, dan beliau berusahan pula menanamkan rasa cinta buku kepada kami bertiga. Oleh karena itu, sejak kecil saya diberi bacaan yang bermutu, dimulai dengan buku cerita kanak-kanak. Pada usia 8 tahun, saya sudah mempunyai koleksi buku cerita yang jumlahnya mencapai 3 deretan rak buku, sebagian besar merupakan buku-buku cerita yang paling bermutu di masa kecil saya. Ayah juga menyesuaikan pilihan atas buku menurut tingkatan usia saya, sehingga perkembangan bacaan saya teratur baik.

Setelah timbul kegemaran mengumpulkan buku-buku ceria, dengan sendirinya saya terbiasa untuk menyimpan buku-buku pelajaran dari kelas yang sebelumnya, bahkan sampai sekarang pun, buku-buku pelajaran saya sejak dari SD masih merupakan bagian dari koleksi buku saya, yang tentunya berguna bagi anak saya kelak.

Biasanya adik meniru kakak. Maka kegemaran mengumpulkan buku yang ditanamkan ayah kepada saya diwarisi pula oleh adik-adik saya.

Sayang sekali bahwa saya kemudian tidak cermat mengawasi peminjaman buku-buku oleh sahabat-sahabat saya di sekolah, sehingga sebagian besar dari buku-buku saya yang paling menarik hilang untuk seterusnya.

Setelah dewasa barulah saya lebih menyadari bahwa saya membutuhkan buku-buku lama yang pernah saya miliki untuk diceritakan kepada anak saya. Buku-buku seperti Anak Jawi dan Anak Harimau karangan Bagindo Saleh, atau Cerita Nenek Putih Rabiah karangan Ny. Limbak Tjahaja, Pak Madong, Si Samin yang saya lupa pengarangnya, saya anggap sungguh menarik untuk dibaca oleh anak-anak sekarang. Sayang sekali jika anak-anak lebih mengetahui cerita anak-anak dari negara lain atau cerita dari Indonesia sendiri tetapi yang lebih mementingkan segi komersial daripada soal mutu.

Kegemaran membaca buku yang ditanamkan ayah sejak kecil ternyata menguntungkan kami bertiga dalam hal memperolah nilai yang baik dalam pelajaran tata Bahasa Indonesia. Keuntungan lainnya, kami memperoleh pengetahuan tentang adat istiadat beberapa masyarakat di Indonesia atau karya-karya sastra.

Ketika saya masih kuliah, dosen “Kesusteraan Nusantara” yang memberikan kuliah mengenai kesusateraan Hindu dan inti cerita-cerita wayang merasa bangga bahwa kuliah beliau dapat dipahami oleh mahasiswa non-Jawa, sebab saya, yang (dianggapnya) orang Minangkabau, dapat memperoleh nilai baik sekali dalam ujian matakuliah tersebut. Beliau tidak tahu bahwa bekal pengetahuan dasar saya tentang isi kuliah beliau sebetulnya saya peroleh melalui bacaan waktu kecil, termasuk di antaranya komik Mahabarata karangan R. A . Kosasih, yang diberikan oleh ayah.

Semasa mahasiswa, terutama waktu saya dan ayah tinggal di Hawai selama 6 bulan, ayah turut memberi saran-saran tentang buku-buku yang perlu dibeli mengenai bidang saya, antropologi. Kami sering pergi ke took buku universitas untuk memilih buku-buku dengan tenang, dan pulang dengan taksi karena ternyata tanpa disadari buku-buku yang kami beli sudah terlalu banyak dan tak terangkat lagi.

Milik Ayah yang Paling Berharga

Ketika saya harus mengurus penerbitan majalah dengan Pertamina pada tahun 1976, saya berkesempatan pula melihat perpustakaan Prof. Mohammad Yamin S.H. yang telah berpindah ke Pertamina. Pada saat perpustakaan beliau itu dibeli, Pertamina sedang berada dalam “zaman kejayaannya”.

Apa yang saya lihat sungguh menyedihkan. Perpustakaan itu tidak sebagaimana yang seharusnya, buku-buku tidak teratur menurut katalog, bahkan pada satu sisi yang panjang, terjemur oleh sinar matahari yang menembus langsung dari jendela yang tak bertirai. Perpustakaan ini jelas tidak terawat, bahkan tak ada tenaga khusus yang ditugaskan mengurusnya sepenuhnya.

Pada saat itu langsung terlintas di pikiran saya, betapa akan sangat menyedihkan apabila perpustakaan ayah menemui nasib yang sama. Sejak itu saya bertekad, bagaimana pun juga, anak-anak Hatta harus merawat sendiri buku-buku ayah, milik pribadi beliau yang bagi ayah sendiri tak ada taranya.

Pada suatu hari ayah memanggil saya ke ruang kerjanya. Dengan mimik yang biasa, beliau berkata, “Meutia, pilihlah buku-buku dari bibliotik ayah di atas yang berguna bagi studi Meutia.”

“Buat apa yah?” saya bertanya.

“Buat Meutia sendiri. Sebab kalau ayah meninggal nanti, mungkin kalian bermaksud menjual buku-buku ayah untuk biaya hidup ibu dan kalian. Meutia kan tahu, pensiun ayah…..”

Belum sampai selesai kalimat itu, saya sudah merasa bahwa beliau mau mengatakan bahwa pensiun ayah takkan cukup untuk membiayai hidup kami, terutama ibu, yang ditinggalkan. Kalau kini ada keluarga yang masih membantu, bagaimanakah bila Ayah meninggal nanti?

Karena saya sudah merasa tahu akhir kalimat itu, saya cepat memutus beliau, “Jangan ayah! Saya tidak mau ambil buku ayah dari atas. Buku-buku ayah tidak boleh kami jual. Masih banyak barang lain yang bisa kami jual kalau memang diperlukan”

Ayah tertegun memandang saya sehingga saya merasa “risi”, karena saya menyangka beliau tertegun karena saya potong kalimatnya, yang hampir tak pernah saya lakukan sebelumnya. Maka saya mencoba menjelaskan kepada yaha, mengapa saya tidak setuju, “ayah tahu, apa yang terjadi dengan buku-buku Yamin? Tidak terurus, menyedihkan…. Saya dan adik-adik seharusnya wajib mengurus bibliotic ayah nanti.” Ayah agak cerah wajahnya mendengar keterangan saya. Lalu saya lanjutkan, “Kalau toh ayah mau memberi saya buku, saya minta yang ayah punya dua.”

Ayahku, betapa mulia hatinya! Buku-buku yang merupakan benda-benda kesayangannya melebihi barang apa pun, yang dikumpulkannya sejak beliau berusia 19 tahun, direlakannya untuk kami jual guna biaya hidup bila ayah sudah meninggal. Bukan rumah yang lebih dulu direlakannya untuk kami jual, melainkan buku kesayangannya. Mungkin beliau berpikir bahwa buku hanya sangat bernilai bagi ayah, sedangkan bila ayah meninggal nanti, keluarga lebih membutuhkan rumah sebagai tempat berlindung. Padahal ibu dan adik-adik pasti juga sependapat dengan saya, tak rela menjual buku-buku ayah untuk kepentingan kami sendiri dari segi materi. Menjelang tidur pada malamnya, terkenang kembali saya pada kata-kata ayah itu, dan tak terasa air mata pun menetes terharu.

Waktu ayah mengatakan soal buku itu, apa yang terbayang di kepala saya hanyalah nasib buku-buku Prof. Yamin, sehingga tanpa berpikir panjang lagi saya menolak tawaran buku dari ayah yang sesuai dengan bidang saya. Namun kemudian, ada hikmah lain dari penolakan saya itu.  Kalau dulu saya menerima, bukankah tak mustahil keluarga lain merasa dianak tirikan? Bagaimana perasaan adik-adik kalau hanya saya yang memperoleh, terutama persaan Halida? Bidang studinya ilmu politik, cukup banyak buku ayah yang bisa dipergunakannya. Lalu, kalau buku-buku ayah sudah dikurangi, apa lagi yang istimewa dari “perpustakaan pribadi Mohammad Hatta”, yang selalu terkenal sebagai perpustakaan pribadi terbesar di Indonesia?

Percakapan antara saya dan ayah itu tetap saya simpan bagi diri saya sendiri sampai ayah wafat. Tidak saya ceritakan kepada siapa pun. Saya takut bahwa jika orang luar mengetahui mereka akan menganggap bahwa ayah memang bermaksud menjual perpustakaannya, barang yang paling dicintainya. Saya takut pula bahwa hal itu bahkan akan menimbulkan ide tertentu pada orang luar yang tidak saya kehendaki, juga tak dikehendaki ibu dan kami semua!

Syukurlah bahwa sejak itu, bila orang menanyakan kepada ayah tentang buku-buku bleiau sesudah ayah meninggal nanti, beliau selalu menjawab, “ketiga anak saya yang memutuskan.” Kepada Pak Wangsa beliau juga antara lain menyebut nama saya untuk mengurus buku beliau. Sudah tentu ini bukan berarti bahwa saya menguasainya sendiri, melainkan saya diberi kewajiban mengambil keputusan terakhir setelah musyawarah dengan adik-adik, tentang apa yang dilakukan terhadap buku ayah sesudah beliau wafat. Dan keputusan saya sejak dulu masih tetap sama: anak-anak Hatta mengurus perpustakaan ayahanda kami sendiri, sebagai tanda bakti kami kepada orang tua. Beliau telah memberikan pendidikan yang tinggi bagi ketiga anaknya, karena itu kami akan dapat mempergunakan buku-buku itu, selain memeliharanya, sesuai dengan bidang ilmu yang kamimiliki. Keyakinan saya semula benar, ibu dan adik-adik, suami dan ipar saya, setuju bahwa kami merawat sendiri buku-buku ayah sebagai tanda bakti kami kepada beliau yang telah tiada.

Saya juga bersyukur bahwa tidak lama kemudian sesudah percakapan kami itu, ayah memberikan kepada saya buku antic The History of Java karangan Thomas Stamford Raffles, jilid I dan II, terbitan tahun 1817, karena ayah memiliki 2 seri. Beliau rupanya ingat akan permintaan saya tersebut di atas. Buku itu dianggapnya sebagai hadiah ulang tahun saya yang ke-30, meskipun tidak tepat diberikannya pada hari itu. Tentu saja buku ini tidak ternilai artinya bagi saya.

Syukur alhamdulillah pula bahwa kurang dari 3 tahun sesudah itu, Pemerintah mengadakan peraturan baru tentang besarnya pension ayah. Maka saya berkata, “Sekarang betul-betul ayah tidak perlu lagi memikirkan tentang buku ayah, dengan adanya pensiun baru ini.” Maksud saya, mengingatkan kembali tentang percakapan kami itu. Ayah tersenyum gembira. (*)

*Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono, adalah seorang ahli antropologi Indonesia. Pernah menjabat sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden sejak 25 Januari 2010. Sebelumnya ia menjabat sebagai Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dalam Kabinet Indonesia Bersatu (2004 hingga 2009). Meutia adalah putri mantan wakil presiden dan proklamator Indonesia, Mohammad Hatta. Ia mendapatkan gelar doktor dalam bidang antropologi dari Universitas Indonesia pada tahun 1991. Pada tahun 2002–2005 ia adalah Ketua Umum Yayasan Hatta.

**Catatan Redaksi: Tulisan ini dicuplik dari buku “Bung Hatta: Pribadinya dalam kenanganku” yang juga disunting oleh Meutia Farida Hatta Swasono. Tulisan “Ayahanda: Pribadinya dalam Kenanganku” adalah tulisan memoir Meutia dalam buku tersebut. Galeri Buku Jakarta menayangkan tulisan tersebut dalam laman galeribukujakarta.com dengan tujuan menggugah semangat membaca bangsa indonesia, mengenang Bung Hatta dan bagaimana ia memberi inspirasi dalam bidang pendidikan, merawat buku dan budaya membaca dan menulis dalam pribadinya. Semoga bermanfaat.

Continue Reading
Advertisement

Inspirasi

Jassin Bicara tentang Dasar Bagi Pengarang

mm

Published

on

Dasar pokok menjadi pengarang menurut HB Jassin salah satunya adalah bacalah buku-buku pengetahuan dan filsafat.

by Hasan Aspahani

YANG mendorong HB Jassin menulis esai-esai sastra saya yakin hanya satu: dia ingin melihat sastra Indonesia maju dan menjadi bagian dari sastra dunia, apa yang kelak menjadi judul orasi ilmiahnya saat menerima gelar doktor kehormatan. Maka sejak awal tulisannya selalu beraroma penyemangat, dan  kritiknya melecut perih.

Kekejamannya menghantam karya yang buruk dalam timbangannya menjadikannya legenda yang ditakuti, meskipun kelak itu dia sesali. Ia seakan menjadi sang paus pembabtis seorang menjadi sastrawan.

Nanti pada satu masa ia mulai memperhalus gaya kritiknya. Hasrat Jassin untuk mendorong mutu karya sastra yang ditulis sastrawan Indonesia memang besar tapi ternyata tak cukup untuk mencapai tingkat yang ia bayangan. Ia bahkan sempat tiga belas tahun berhenti menulis kritik. Putus asakah Jassin? Kecewakah dia dengan perkembangan dan pencapaian mutu sastra Indonesia yang padanya ia mengabdikan nyaris seluruh hidupnya? Ini pertanyaan menarik yang bisa dibahas panjang. 

Kali ini di esai ini, saya ingin membicarakan hal lain. Yaitu soal bagaimana Jassin ‘mengajari’ para peminat sastra yang hidup dalam ‘Kesusastraan Indonesia yang masih muda remaja’. Tentu saja lewat warisannya yang bernilai yaitu esai-esainya.

Pada 1949 di mingguan Mimbar Indonesia Jassin memulai rubrik bernama “Bimbingan Sastra”. Jelas tersurat apa yang ingin ia sampaikan di rubrik itu, meskipun kemudian rubrik itu berganti nama menjadi “Tifa Penyair dan Daerahnya”, nama yang kemudian menjadi judul ketika tulisan-tulisannya dibukukan pada 1952 .

Salah satu tulisan dalam rubrik itu berjudul “Dasar bagi Pengarang”. Tulisan itu dimulai dengan sebuah paragraf pendek: Seorang peminat sastra menanyakan apakah yang harus dibacanya untuk memajukan diri dalam kesusastraan.

Kata kuncinya adalah: memajukan diri. Artinya bergerak ke depan. Artinya meningkatkan kemampuan menulis sastra. Dan itulah yang dipaparkan Jassin sepanjang tulisannya itu, tulisan kedua dalam buku “Tifa…”

Saya meringkas tulisan tersebut dalam butir-butir yang saya kira masih sangat relevan bagi pengarang kapanpun dia mulai menulis dan mengajukan pertanyaan yang sama.

  • Untuk mengenal bentuk sastra, baca dan perhatikan contoh hasil kesusastraan yang telah maju. Jassin juga menyarankan baca juga esai-esai telaah, kritik, penyelidikan, dan pemandangan sastra di majalah kesusastraan. Baca karya-karya termasyhur, karya terjemahan dari negara lain, yang terbukti telah melewati ujian tempat dan zaman.
  • Baca buku-buku pengetahuan dan filsafat, carilah pengalaman sebanyak-banyaknya, cernakan apa yang dibaca dan apa yang dialami hingga jadi sebagian dari jiwa sendiri. Apa yang kita baca itu, kata Jassin, apa yang kita cerna itu harus jadi bahan, rujukan, dan kemudian keluar dalam karya kita sebagai keyakinan dan visi, pandangan diri kita sendiri.
  • Jangan menunggu ilham! Jika ilham saja yang ditunggu dengan tidak banyak berusaha, maka biasanya yang keluar hanya getaran perasaan yang dangkal. Ya, dangkal. Seperti kerut-kerut air di permukaan danau tenang ditiup angin. Jassin tak terlalu percaya pada ‘seniman alam’. Seniman yang mengandalkan bakat alam dan kemudian malas mengembangkan diri.
  • Bentuk seni penting, tapi isi juga sama pentingnya. Untuk mencapai kesempurnaan isi sastrawan harus berani bikin eksperimen, percobaan dengan kehidupan. Apa artinya? Segala rahasia hidup harus dicari, senang-susah, yang biasa saja juga yang luar biasa. Pengalaman batin tidak datang kalau seniman hanya duduk menunggu ilham. Seniman harus masuk, menggabungkan diri dengan kehidupan orang banyak.
  • Kejarlah kebaruan. Jangan selalu berjalan di atas garis pikiran yang lama, karena kalau hanya tetap di situ, orang tak akan pernah mendapatkan yang baru-baru. Melibatkan diri dengan kehidupan orang banyak, itu yang disebut oleh Jassin sebagai eksperimen untuk mengenal manusia yang sesungguhnya. Ekspresimen sosial itu melibatkan diri kita sebagai penulis, manusia dan kehidupan di sekitarnya. Hanya dengan begitu, kata Jassin, tercapai kematangan jiwa sendiri dan kematangan karya-karya ciptaannya.
  • Kesusastraan seharusnya melingkupi seluruh kehidupan dipandang dari mata dan keinsyafan peninjau dan pengarang, dan sebab itu tidak mungkin serupa saja semua. Karena itu karya sastra menjadi kaya. Sekian banyak sastrawan dan penyair, sekian banyak cara pandang dalam melihat kehidupan. Itu sebabnya, banyak sekali hasil dan corak kesusastraan dari masa dan bangsa yang berbeda.
  • Isi kesusastraan ialah kehidupan. Kehidupan manusia dengan jiwanya, pikirannya, dan perasaannya. Bagi Jassin kesadaran itu penting sekali. Segala yang terpikir, dirasakan, dan yang mengusik-gelisahkan jiwa manusia, adalah wilayah perhatian sastrawan. Ya, dengan demikian, itu soal manusia dan kemanusian. Maka, bidang apapun yang membantu sastrawan untuk memahami manusia – filsafat, sosial, politik, teknik, kesehatan, psikologi, hingga mistik –  penting bagi sastrawan untuk diketahui bahkan dikuasai.

Depok, 10 Februari 2020.   

Continue Reading

Inspirasi

Buku Harian Steinbeck dan Proses Kreatifnya

mm

Published

on

Dia, Steinbeck, sangat tidak percaya pada pengakuan publik dan rasa puas yang dihasilkannya: “Kehormatan yang aneh. Hal yang paling menyedihkan di dunia.

 

From “How Steinbeck Used the Diary as a Tool of Discipline, a Hedge Against Self-Doubt, and a Pacemaker for the Heartbeat of Creative Work” by BY MARIA POPOVA | www.brainpickings.org |  (p) Virdika R Utama (ed) Sabiq Carebesth

____

Bagaimana Steinbeck Menggunakan Buku Harian sebagai Alat mendisiplinkan diri? membebaskan dirinya dari keraguan dan menjadikan hal itu sebagai alat pacu bagi detak jantung kreatifnya? “Cukup atur pekerjaan satu hari di depan pekerjaan hari terakhir. Begitulah caranya. Dan itulah satu-satunya cara.”

Banyak penulis terkenal telah memperjuangkan manfaat kreatif dari membuat buku harian, tetapi tidak ada yang menempatkan buku harian itu untuk penggunaan praktis yang lebih mengesankan dalam proses kreatif daripada John Steinbeck (27 Februari 1902 – 20 Desember 1968).

Pada musim semi 1938, tak lama setelah melakukan salah satu aksi keberanian artistik terbesar—yaitu mengubah pikiran seseorang ketika sebuah proyek kreatif berjalan dengan baik, seperti yang dilakukan Steinbeck ketika dia meninggalkan sebuah buku yang dia rasa tidak sesuai dengan tugas kemanusiaannya.—dia memulai pengalaman menulis paling intens dalam hidupnya. Buah publik dari kerja ini akan menjadi karya utama tahun 1939, The Grapes of Wrath—sebuah judul yang disetujui isterinya, seorang politisi radikal, Carol Steinbeck, setelah membaca The Battle Hymn of Republic oleh Julia Howe. Novel ini menghasilkan Hadiah Pulitzer Steinbeck pada tahun 1940 dan merupakan landasan bagi Hadiah Nobelnya dua dekade kemudian. Tetapi buah pribadinya dalam banyak hal setidaknya sama pentingnya dan instruktif secara moral.

Bersamaan dengan novel, Steinbeck juga mulai membuat buku harian, akhirnya diterbitkan sebagai Hari Kerja: Jurnal The Grapes of Wrath.

Jurnal The Grapes of Wrath (perpustakaan umum)—buku harian Steinbeck, berisi catatan hidup yang luar biasa dari perjalanan kreatifnya. Hal utama dari buku harian itu adalah pemandangan ambigu: di mana penulis yang luar biasa ini berselisih dengan keraguan diri yang luar biasa bertubi, terkadang penderitaan dan juga kesepian—tetapi ia tetap maju ke depan, dengan semangat dan putaran antusiasme yang setara, didorong oleh tekad yang teguh untuk melakukan yang terbaik dan mungkin. Buku harian menjadi praktik baik penebusan dan bagaimana pun, tampak sebagai sesuatu yang juga transenden.

Steinbeck hanya memiliki dua permintaan untuk buku harian itu—bahwa itu tidak akan dipublikasikan pada masa hidupnya, dan bahwa itu harus dibuat tersedia untuk kedua putranya sehingga mereka dapat “melihat ke belakang mitos dan desas-desus dan sanjungan dan fitnah seorang pria yang hilang menjadi dan untuk mengetahui sampai batas tertentu seperti apa manusia ayah mereka. ”Ia berdiri, di atas segalanya, sebagai bukti tertinggi akan fakta bahwa satu-satunya substansi kejeniusan adalah tindakan harian yang muncul.

Steinbeck in 1959

Steinbeck menangkap ini dengan sempurna dalam catatannya yang berlaku juga untuk bidang usaha kreatif apa pun:

Dalam menulis, kebiasaan tampaknya menjadi kekuatan yang jauh lebih kuat daripada kemauan atau inspirasi. Akibatnya harus ada sedikit kualitas keganasan sampai pola kebiasaan sejumlah kata ditetapkan. Tidak ada kemungkinan, setidaknya dalam diriku, untuk mengatakan, “Aku akan melakukannya jika aku menginginkannya.” Seseorang tidak pernah merasa seperti bangun setiap hari. Bahkan, mengingat alasan terkecil, seseorang tidak akan bekerja sama sekali. Sisanya adalah omong kosong. Mungkin ada orang yang bisa bekerja seperti itu, tetapi saya tidak bisa. Saya harus menurunkan kata-kata saya setiap hari apakah itu ada gunanya atau tidak.

*

Jurnal itu kemudian menjadi alat disiplin diri (dia bersumpah untuk menulis di dalamnya setiap hari kerja, dan melakukannya, menyatakan dalam salah satu catatan pertama: “Bekerja adalah satu-satunya hal yang baik.”), Sebuah mekanisme mondar-mandir (dia memberi dirinya tujuh bulan untuk menyelesaikan buku itu, mengantisipasi itu hanya akan memakan waktu 100 hari, dan menyelesaikannya dalam waktu kurang dari lima bulan, rata-rata 2.000 kata per hari, lama, tidak termasuk buku harian), dan papan suara untuk diri positif yang sangat dibutuhkan -Berbicara dalam menghadapi keraguan terus-menerus (“Saya sangat malas dan hal di depan sangat sulit,” ia putus asa dalam satu catatan; tetapi ia meyakinkan dirinya sendiri di catatan lain: “Keinginan saya rendah. Saya harus membangun kembali keinginan saya. Dan saya bisa melakukannya. ”) Yang terpenting, ini adalah alat pertanggungjawaban untuk membuatnya terus maju meskipun ada banyak gangguan dan tanggung jawab dalam hidup. “Masalah menumpuk sehingga buku ini bergerak seperti siput Tide Pool dengan cangkang dan teritip di punggungnya,” tulisnya, namun yang penting adalah meskipun ada masalah, terlepas dari teritip, ia bergerak. Dia menangkap ini dalam salah satu catatan yang paling pedih, tak lama sebelum menyelesaikan paruh pertama novel:

“Setiap buku tampaknya merupakan perjuangan seumur hidup. Dan kemudian, ketika sudah selesai – pouf! Sudah! Tidak pernah terjadi. Jadi hal terbaik adalah menurunkan kata-kata setiap hari. Dan sekarang saatnya untuk memulai kembali. Dan beberapa hari kemudian, ia kembali ragu-ragu: “Banyak kelemahan saya mulai menunjukkan kepada mereka. Saya harus mengeluarkan benda ini dari sistem otak saya. Saya bukan seorang penulis. Saya telah membodohi diri sendiri dan orang lain. Aku berharap begitu. Keberhasilan ini akan menghancurkan saya dengan pasti. Mungkin tidak akan bertahan lama, dan itu akan baik-baik saja. Saya akan mencoba melanjutkan pekerjaan sekarang. Hanya menjalankan tugas setiap hari. Saya selalu lupa.”

Memang, setelah memulai buku harian itu, Steinbeck memiliki tujuan jelas, pendisiplinan dan perannya sebagai pengingat kemajuan kerjanya saban harian yang semakin meningkat, sering lambat dan kecil, justru yang menghasilkan keseluruhan yang lebih besar. Dalam salah satu catatan pertamanya pada awal Juni, ia menulis:

“Ini adalah buku harian terpanjang yang pernah saya simpan. Tentu saja bukan buku harian tetapi upaya untuk memetakan hari dan jam kerja novel yang sebenarnya. Jika satu hari dilewati maka akan terlihat mencolok pada catatan ini dan akan ada beberapa alasan yang diberikan untuk hal seperti kekeliruan..”

Komitmen Steinbeck terhadap disiplin bukan hanya kesombongan moral atau fetisisme produktivitas—keinginannya sungguh-sungguh untuk menciptakan karya terbesar dalam hidupnya, puncak kemampuannya sebagai manusia yang sadar dan kreatif. Dalam salah satu catatan awal, ia memutuskan:

“Ini pasti buku yang bagus. Itu harus. Saya tidak punya pilihan. Pasti jauh dan jauh dari hal terbaik yang pernah saya coba—lambat tapi pasti, menumpuk detail pada detail sampai gambar dan pengalaman muncul. Sampai semuanya berdenyut-denyut muncul. Dan saya bisa melakukannya. Saya merasa sangat kuat untuk melakukannya.”

Tetapi menurut Dani Shapiro, ada perbedaan tajam antara keyakinan dan keberanian, ini adalah pernyataan yang terakhir, kebajikan yang lebih benar—Steinbeck sangat menyadari segala sesuatu yang mungkin menggagalkan usahanya, kekesalan baik eksternal maupun internal, namun ia tetap memutuskan untuk mengerahkan dirinya, untuk sepenuh hati tentang upaya, meskipun kurangnya kepercayaan diri yang mendalam. Inilah keberanian, hidup yang berdenyut, dari catatan awal lainnya:

“Segala macam hal mungkin terjadi dalam perjalanan buku ini tetapi saya tidak boleh lemah. Ini harus dilakukan. Kegagalan kemauan bahkan untuk satu hari memiliki dampak buruk pada keseluruhan, jauh lebih penting daripada hanya kehilangan waktu dan kata-kata. Seluruh dasar fisik novel ini adalah disiplin penulis, materialnya, bahasa. Dan cukup menyedihkan, jika salah satu dari disiplin itu hilang, semuanya menderita.”

Menulis kadang seperti sebuah tujuan yang puncak, dalam satu catatan ia menyatakan:

Setelah buku ini selesai, saya tidak akan peduli seberapa cepat saya mati, karena pekerjaan utama saya akan berakhir.

Dan di tempat lain:

Ketika saya sudah selesai saya akan bersantai tetapi tidak sampai saat itu. Hidup saya tidak terlalu lama dan saya harus menulis satu buku yang bagus sebelum berakhir.

Tetapi beberapa hari, tekadnya nyaris mengalahkan keraguan dirinya:

“Kalau saja saya bisa mengerjakan buku ini dengan benar, itu akan menjadi salah satu buku yang sangat bagus dan buku yang benar-benar Amerika. Tetapi saya diserang oleh ketidaktahuan dan ketidakmampuan saya sendiri. Saya hanya harus bekerja dari latar belakang ini. Kejujuran. Jika saya dapat menjaga kejujuran, itulah yang dapat saya harapkan dari otak saya yang buruk – jangan pernah marah kepada prasangka pembaca, tetapi bengkokkan seperti dempul untuk pengertiannya.”

Dan beberapa waktu kemudian, keraguan diri itu menjadi sangat luar biasa:

Jika saya bisa melakukan itu semua …. Karena tidak ada orang lain yang tahu kurangnya kemampuan saya seperti yang saya lakukan. Saya mendorongnya sepanjang waktu. Kadang-kadang, saya tampaknya melakukan pekerjaan kecil yang baik, tetapi ketika hal itu dilakukan, itu akan menjadi biasa-biasa saja.

Pada orang lain, ia bisa mengenali keraguan tetapi tidak setuju:

Untuk beberapa alasan saya sedikit gugup. Itu tidak selalu berarti apa-apa. Saya hanya akan menyelam lari dan mengatur apa yang terjadi.

John and Elaine Steinbeck in 1950

Di satu sisi, ini adalah kualitas jurnal (Catatan Harian) yang paling berani—hampir merupakan tulisan suci Buddhis, beberapa dekade sebelum Bradbury’s Zen dalam Seni Menulis, ketika Steinbeck menghadapi pasang surut dan aliran pengalaman. Dia merasakan perasaan keraguannya sepenuhnya, membiarkannya melewatinya, namun mempertahankan kesadaran yang lebih tinggi bahwa mereka hanya: perasaan, bukan Kebenaran.

Namun, yang paling mengejutkan dan paling aneh meyakinkan semua – terutama bagi mereka yang juga bekerja di kuali mendidih ketidakpastian yang merupakan karya kreatif – adalah kasus kronis dan akut Sindrom Impostor milik Steinbeck. Meskipun ia telah mencapai keberhasilan yang kritis dan finansial dengan pekerjaannya sebelumnya, ia tampaknya tidak hanya tidak percaya tetapi juga meremehkan keberhasilan itu, melihat di dalamnya bukan sumber kebanggaan tetapi juga rasa malu. Dalam jurnal awal, ia menulis:

Untuk saat ini, beban keuangan telah dihapus. Tapi itu tidak permanen. Saya tidak dibuat untuk sukses. Saya menemukan diri saya sekarang dengan reputasi yang berkembang. Dalam banyak hal itu adalah hal yang mengerikan … Di antara hal-hal lain saya merasa telah meletakkan sesuatu. Bahwa keberhasilan kecilku ini curang.

Dia sangat keras pada dirinya sendiri, sampai-sampai membiarkan kecurigaannya atas keberhasilannya sendiri membengkak menjadi kecurigaan terhadap keberanian pribadinya dan kebaikan dasar karakternya: Saya harus yakin untuk memilih mana yang cinta dan yang menyesal. Saya bukan orang yang sangat baik. Terkadang murah hati dan baik dan baik dan lain kali berarti dan pendek.

Seperti kebanyakan seniman, ia berulang kali mempertanyakan validitas seni dan kualifikasinya. Bahkan ketika dia hampir menyelesaikan novel yang kelak akan memenangkan Pulitzer dan membawanya mendapatkan Hadiah Nobel, dia masih tidak percaya pada kelebihan dan bakatnya: “Buku ini menjadi kesengsaraan bagiku karena ketidakmampuanku”.

Tak lama sebelum memulai The Grapes of Wrath, Steinbeck menangkap dalam jurnal lain sifat penyelamatan diri yang palsu. “Saya bosan dengan perjuangan melawan semua kekuatan yang telah membawa kesuksesan yang menyedihkan ini terhadap saya. Saya tidak tahu apakah saya bisa menulis buku yang layak sekarang. Itu adalah ketakutan terbesar dari semua. Saya sedang mengerjakannya tetapi saya tidak bisa mengatakannya.”

Dia sangat tidak percaya pada pengakuan publik dan rasa puas yang dihasilkannya: “Kehormatan yang aneh. Hal yang paling menyedihkan di dunia.

Memang, ia mengukur kesuksesannya bukan dari pendapatan atau pujian tetapi dari pekerjaan hari itu. “Inilah buku harian sebuah buku dan akan menarik untuk melihat bagaimana hasilnya. Saya telah mencoba untuk menulis buku harian sebelumnya tetapi mereka tidak berhasil karena keharusan untuk jujur. Dalam hal-hal di mana tidak ada kebenaran yang pasti, saya condong ke arah yang sebaliknya. Kadang-kadang di mana ada kebenaran yang pasti, saya merasa jijik dengan keangkuhannya dan melakukan hal yang sama. Namun dalam hal ini, saya akan mencoba hanya untuk menyimpan catatan hari kerja dan jumlah yang dilakukan di masing-masing dan keberhasilan (sejauh yang saya tahu) hari itu.”

Steinbeck sama-sama tidak terganggu oleh prospek komersial, pekerjaanya adalah sebagai kebutuhan moral: “Tidak tahu siapa yang akan menerbitkan buku saya. Tidak tahu sama sekali. Tidak ada alasan untuk membiarkannya. Harus terus melakukannya. Perlu.”

Proses itu, baginya, didorong oleh apa yang oleh Anne Lamott disebut pendekatan “burung demi burung” untuk ditulis beberapa dekade kemudian. Jurnal kemudian menjadi mekanisme mondar-mandir. Steinbeck menulis:

“Saya bertanya-tanya apakah saya akan pernah menyelesaikan buku ini. Dan tentu saja saya akan menyelesaikannya. Hanya bekerja dalam jangka waktu tertentu dan poco a poco akan selesai. Lakukan saja pekerjaan hari itu.”

__
Selengkapnya dalam Majalah “Book Coffee and More” by Galeri Buku Jakarta

Continue Reading

Inspirasi

Etos Kepengarangan Pramoedya Ananta Toer

mm

Published

on

Pramoedya menjawab, “Saya punya hak untuk menentukan apa yang saya tulis, yang dapat memberikan kepuasan individual pada saya. Dalam hal ini saya tidak peduli apa orang lain suka atau tidak.”

Oleh Hasan Aspahani *)

TIAP pengarang punya cara kerja sendiri. Tapi ada etos dasar yang harus dimiliki oleh siapa saja yang ingin menjadi pengarang yang bersungguh-sungguh. Kita bisa menemukan teladan itu pada Pramoedya Ananta Toer (1925-2006).

Sebagian masa hidupnya dihabiskan di dalam penjara. Tapi ia tak pernah berhenti mengarang. Banyak pengarang dibuang bersamanya dan 800 tapol lain yang dibawa ke Pulau Buru, tapi sepertinya hanya dari Pramoedya kita mendapatkan karya yang monumental.

Banyak tapol yang jatuh dan rusak mentalnya, sakit fisiknya, bahkan meninggal di Pulau Buru. Tapi Pram tidak. Ia bertahan sebagai manusia. Saya yakin kepengarangannyalah yang mengguatkan dia. Dia tegar karena dia – sesulit apapun – masih bisa menulis.

Bagaimanakah etos kepengarangan seorang Pram? Banyak sisi yang bisa kita teladani. Saya membaca “Nyanyi Sunyi Seorang Bisu” (Hasta Mitra, 2000), dan dari situ, saya butirkan empat hal yang menurut saya adalah yang terpokok dan terpenting:

  • Menulis dalam Keadaan Apapun

Ketika rombongan wartawan datang ke Pulau Buru, pada 1973, dan diberi kesempatan mewawancarai para tahanan politik, Rosihan Anwar dan sejumlah sastrawan lain bertanya jawab dengan Pramoedya Ananta Toer. Rosihan bertanya, “Pram, Jij masih menulis?”

Jawab Pram, “Ya, baru-baru ini hampir separoh dari roman tentang periode kebangkitan nasional telah aku selesaikan.”

Dalam tahanan, dalam buangan dan pengasingan, dengan harga diri yang direndahkan, dengan akses pada bacaan bahkan alat tulis yang terbats, serta diperlakukan dengan tak manusiawi, Pram tetap menulis.

  • Tulis Hanya Apa yang Ingin Kita Tulis

Dalam kesempatan yang sama, Gayus Siagian bertanya pada Pram. Ia menanggapi jawaban Pram atas pertanyaan Mochtar Lubis tentang kenapa Pram menulis cerita berlatar sejarah. Pram bilang ia muak dengan hal-hal yang tidak menyenangkan kala itu.

“Bukankah justru yang memuakkan itu yang harus ditulis?” tanya Gayus.

Pramoedya menjawab, “Saya punya hak untuk menentukan apa yang saya tulis, yang dapat memberikan kepuasan individual pada saya. Dalam hal ini saya tidak peduli apa orang lain suka atau tidak.”

  • Bertekadlah untuk Menghasilkan Karya Besar

Roman Tetralogi Pulau Buru adalah karya yang lahir dari tekad itu. Pram menuliskannya dengan hasrat untuk menghasilkan karya yang abadi. Tak pernah berhenti dibaca, tak pernah kehilangan relevansi.

Ia menulis: … Aku ingin menulis roman besar dalam hidupku, dan setiap pengarang bercita-cita menghasilkan karya abadi, dibaca sepanjang abad, dan lebih baik lagi: dibaca oleh umat manusia di seluruh dunia sepanjang zaman.

  • Bangun Dokumentasi dan Arsip Pribadi

Pramoedya adalah penulis yang mengandalkan riset. Ia percaya bahwa inspirasi adalah produk dari pemikiran, bacaan, serta pengalaman. Karena itu baginya sumber bacaan itu sangat penting.

Rangkaian roman Bumi Manusia dan tiga serialnya, sudah ia rancang sebelum ia ditangkap dan dibuang ke Pulau Buru, 1965. Ia memulai dengan riset dan mengumpulkan bahan sejarah.

Ia menghimpun data-data otentik, wawancara, membaca buku, dan menyiarkan bahan-bahan yang didapat itu sedikit demi sedikit, untuk memancing masukan.

Ia juga menyalin bahan dari perpustakaan museum. Ia membayar tenaga pembantu untuk pekerjaan itu. Memang, perlu biaya dan kerja keras untuk menghasilkan karya besar.

Dokumentasi adalah tulang punggung bagu kerja seorang pengarang. Juga “…kekuatan, pedoman kenyataan di tangan, yang dengannya suatu kerja cipta dibangun.”

  • Kesempurnaan Dicapai dengan “Rasa Tidak Puas”

Pram adalah pengarang yang kritis pada diri dan karyanya sendiri. Ia melayani idenya. Ketika ia merasa harus berhenti dahulu menulis “Bumi Manusia”, roman tentang kebangkitan nasional itu, ia merasa perlu  menulis tentang masa-masa “kejatuhn Nusantara”, agar pemahamannya tentang kebangkitan nasional lebih utuh.

Maka ia pun menulis roman lain, yaitu “Arus Balik”.  Ia selesaikan karya itu dengan perasaan tak puas. Karena tak tersedi pustaka yang cukup.  Kalaupun roman itu akhirnya selesai, dia menganggap itu sebagai “naskah belum sempurna”.

__

CTI, Depok, 2019 

Hasan Aspahani
Lahir, di Handil Baru, Samboja Kutai Kartanegara, 1971. Jurnalis di grup Jawa Pos, penyair dengan sejumlah buku dan penghargaan, penulis nonfiksi dan fiksi antara lain ‘Biografi Chairil Anwar” (Gagasmedia, 2016), “Ya, Aku Lari” (DivaPress, 2018).
Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending