Connect with us

Tips Menulis

Aturan Dasar Meresensi Buku ala John Updike

mm

Published

on

Resensi atau timbangan buku, belakangan disebut juga kritik buku, dapat dikatakan sebagai tulisan popular berisi ulasan kritis dan komprehensif terhadap pokok-pokok pikiran dari sebuah buku baru, baik fiksi maupun non-fiksi. Corak penulisannya ringan, lugas, ringkas, sesuai dengan ketersediaan ruang pemuatan di media massa baik koran, majalah, dan tablod. Panjang resensi biasanya berkisar antara 6.000 hingga 7.000 karakter (with space). Resensi dilengkapi dengan gambar sampul depan buku, dan data buku yang menjelaskan; nama penulis, penerjemah, editor, ketebalan, bulan dan tahun terbit, serta harga jual buku. Tapi bagaimana tips meresensi buku yang efektif dan akan membantu Anda?

Berikut adalah 5 tips yang menjadi aturan dasar meresensi buku ala John Updike yang akan membantu Anda bekerja lebih cepat dan fokus:

  1. Cobalah mengerti pesan apa yang ingin disampaikan si penulis, dan jangan salahkan penulis karena tidak mencapai sesuatu yang memang sejak awal tidak jadi tujuannya.
  2. Berikan cukup ruang untuk memuat kutipan langsung dari karya yang diresensi—setidaknya satu paragraf pendek—agar pembaca resensi dapat membentuk pendapat mereka sendiri dan menentukan apa yang mereka suka atau tidak suka.
  3. Selaraskan penjabaran Anda terhadap karya yang diresensi dengan kutipan langsung dari dalam karya itu, meskipun hanya satu frasa saja. Hal ini lebih baik daripada Anda menyuguhkan rangkuman yang tak jelas.
  4. Jangan menceritakan seisi karya yang Anda resensi hingga pembaca tak lagi tertarik untuk membaca karya tersebut. Berikan sedikit bocoran plot, tapi jangan sampai ending-nya bisa ditebak. (Saya sering merasa kaget, sekaligus marah, saat mendapati para reviewer membocorkan jalan cerita buku saya dalam hasil resensi mereka! Ironisnya, satu-satunya pembaca yang hendak diraih penulis, pembaca yang masih penasaran terhadap isi buku, adalah para reviewer yang melakukan hal tersebut. Lalu, bertahun-tahun kemudian, mereka yang membaca buku itu tanpa ketersengajaan.)
  5. Bila Anda menilai bahwa karya yang Anda resensi itu tidak bagus, maka berikan contoh karya serupa yang lebih baik. Mungkin dari koleksi karya penulis yang sama, atau karya lainnya. Coba mengerti di mana penulis itu gagal menyampaikan pesannya. Apakah Anda yakin kesalahannya ada di pihak penulis dan bukan di pihak Anda sebagai reviewer?
Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Milenia

Tips Menulis Prosa Dari Ernest Hemingway

mm

Published

on

Siapa yang tak mengenal dan belum membaca novel klasik—tapi selalu terasa aktual karena pembacanya yang tak pernah habis:The Oldman and the Sea karangan Ernest Hemingway? Hampir semua penikmat sastra khususnya novel dipastikan telah membaca novel tersebut. Novel yang juga membawanya menadapatkan Nobel Sastra dan menjadikannya salah satu novelis legendaris paling dikagumi. Tak terkecuali dari teknik bercerita yang ia miliki.

Hemingway adalah novelis dengan teknik bercerita yang efektif serta permainan karakter yang menarik. Dalam buku Hemingway: On Writing kita bisa mengambil beberapa pesan dan tuntutan untuk menulis efektif dan menarik. Berikut 6 (enam) di antara penuntun penting menulis prosa dari Hemingway yang layak kita renungkan:

  • “Semua penulis amatir selalu jatuh cinta pada kisah-kisah epik.”
  • “Hal tersulit yang harus dilakukan oleh seorang penulis adalah menuliskan prosa tentang manusia dengan sejujur-jujurnya. Pertama, kalian harus tahu subyek yang hendak diceritakan; lalu kalian harus tahu caranya menulis. Dua-duanya butuh latihan seumur hidup.”
  • “Semua buku berkualitas itu memiliki sifat yang sama: setelah Anda selesai membacanya, maka Anda akan merasa seolah semua yang terjadi di dalam buku itu telah terjadi pada Anda; dan semua pengalaman yang tertera di dalamnya menjadi pengalaman Anda juga—termasuk yang baik dan buruk; kegirangan, penyesalan dan kesedihan; serta orang-orang, tempat dan cuaca disana.”
  • “Tulisan yang berkualitas akan selalu membuat Anda bertanya-tanya tentang proses kreatifnya. Tak peduli seberapa sering Anda membaca tulisan itu, Anda takkan pernah menemukan jawabannya. Hal itu dikarenakan semua tulisan yang berkualitas selalu mengandung misteri; dan misteri itu takkan pernah bisa dipecahkan. Misteri itu akan terus berlanjut. Setiap kali Anda membaca tulisan itu, Anda akan selalu melihat atau mempelajari hal-hal baru yang tidak Anda temui sebelumnya.”
  • “Bagian terbaik dari sebuah buku biasanya berasal dari sesuatu yang tak sengaja didengar oleh si penulis atau kehancuran dari seluruh hidup si penulis—dan keduanya sama-sama efektif.”
  • “Berkah paling penting bagi seorang penulis adalah indera pencium kebohongan, kemunafikan serta kepura-puraan. Ini adalah radar bagi si penulis; dan semua penulis-penulis hebat dunia memilikinya.”

Apa yang terpenting? Barangkali pertama-tama untuk menjadi penulis baik Anda harus mulai belajar menulis sejujur-jujurnya. Anda yang sepanjang hidup telah mencoba menulis tentu memahami konteksnya. Selamat menulis para penulis ! (*)

Continue Reading

Editor's Choice

Tentang Inspirasi, dari Gabriel Marquez hingga Tennessee Williams

mm

Published

on

Kutukan terbesar bagi seorang penulis bisa jadi adalah ketika ia tak memiliki inspirasi, ia tak punya rencana apa yang akan dikerjakannya esok pagi setelah pada hari sebelumnya ia tidur sangat larut. Tapi apakah inspirasi itu? Bagaiamana penulis menemukan dan memegangi inspirasinya? Bagaimana ia bekerja untuk proses kreatif penulisan? Dari mana-mana kata-kata itu datang dan sajak-sajak itu terbentuk? Bagaimana cerita itu menemukan alurnya dan titik mulanya?

Berikut adalah beberapa inspirasi tentang inspirasi dari para maestro yang bisa dipastikan akan menginspirasimua, tentu saja itu harus ditautkan dengan kerja kerasmu selama ini dan membaca inspirasi ini dengan perlahan dan mendalam. Mari kita simak..

“Salah satu hal tersulit adalah paragraf pertama. Aku menghabiskan berbulan-bulan pada paragraf pertama dan saat aku mendapatkannya, paragraf selanjutnya muncul begitu saja dengan sangat mudah. Pada paragraf pertama kau mengatasi semua masalah dengan bukumu. Temanya ditentukan, gaya penulisannya, nadanya. Setidaknya dalam kasusku, paragraf pertama seperti sebuah sampel bagaimana keseluruhan buku itu nantinya. Itulah mengapa menulis buku kumpulan cerpen jauh lebih sulit daripada menulis sebuah novel. Setiap kali kau menulis cerpen. Kau harus memulai dari awal lagi”.

-Gabriel Garcia Marquez

“Terdapat dua teori tentang inspirasi. Salah satunya bahwa puisi dapat benar-benar didiktekan padamu, seperti yang terjadi pada William Blake. Kau berada dalam suasana halusinasi, dan kau mendengar sebuah suara atau bahkan kau sedang berkomunikasi dengan sesuatu di luar dirimu, seperti sajak baru milik James Merril, yang dia katakan didiktekan melalui papan Ouija oleh Auden dan orang-orang lain.

Gagasan lainnya adalah milik Paul Valery, apa yang dia sebut une ligne donnee, bahwa kau diberikan satu baris dan kau mencoba mengikuti petunjuk ini, menghasilkan keseluruhan sajak dari baris itu. Pengalamanku sendiri adalah bahwa sebuah ritme atau sesuatu muncul di kepalaku yang kurasakan harus kulakukan, aku harus menuliskannya, menciptakannya.

Contohnya, aku ingat sedang melihat ke luar jendela di atas kereta dan menyaksikan sebuah pemandangan industrial, pabrik-pabrik, tumpukan ampas bijih, dan baris itu muncul di kepalaku: “Sebuah bahasa tentang daging dan mawar-mawar.” Latar belakang pemikiran ini adalah bahwa pemandangan industrial itu merupakan sebuah bahasa, yang orang ciptakan dari alam, perbedaan mencolok dari alam dan industrial, ”A language of flesh and roses.” Persoalan dengan sajaknya adalah bagaimana mempertemukan koneksi ini, mencoba mengingat kembali apa yang sebenarnya kau pikirkan pada saat itu, dan mencoba untuk menciptakan ulang hal itu. Jika aku memikirkan sebuah sajak, aku mungkin saja menghabiskan enam bulan menulis, tapi apa yang benar-benar kucoba lakukan adalah mengingat apa yang kupikirkan pada saat itu.”

-Stephen Spender

“Sesuatu yang kubaca atau kulihat menetap di kepalaku selama lima atau enam tahun. Aku selalu mengingat tanggal, tempat, ruangan, jalan, ketika pertama kali aku menemukannya. Misalnya. World Enough and Time, aku dan Katherine Anne Porter kami berdua di Library of Congress sebagai Fellows. Kami berada di bangku gereja yang sama, memiliki kantor yang bersebelahan. Dia datang masuk suatu hari dengan sebuah pamflet, pengadilan bagi Beauchamp untuk pembunuhan terhadap kolonel Sharp. Dia mengatakan “Ya, Red, kau sebaiknya membaca ini.” Begitulah. Aku membacanya selama lima menit. Tetapi aku menghabiskan enam tahun membuat bukunya. Buku apa pun yang kutulis dimulai dengan sekelebat namun menghabiskan banyak waktu untuk mewujud. Semua versi pertamamu ada di kepalamu jadi pada saat akhirnya kau duduk untuk menulis kau memiliki sejumlah baris yang dikembangkan di kepalamu.”

-Robert Penn Warren

“Proses dimana ide untuk pertunjukkan datang padaku selalu merupakan sesuatu yang tak dapat kugambarkan dengan tepat. Sebuah pertunjukkan terlihat mewujud begitu saja, seperti sesuatu yang aneh dan muncul tiba-tiba hal itu menjadi semakin jelas dan semakin jelas dan semakin jelas. Idenya sangat samar pada awalnya, seperti pada kasus Streetcar, yang muncul setelah Menagerie. Aku tahu-tahu saja mempunyai penglihatan tentang seorang perempuan di penghujung masa mudanya. Dia sedang duduk di atas sebuah kursi sendirian di samping sebuah jendela dengan cahaya bulan mengalir jatuh pada wajahnya yang muram, dan dia kemudian berdiri di samping seorang lelaki yang akan dinikahinya.

Aku yakin aku sedang memikirkan saudara perempuanku karena dia benar-benar jatuh cinta dengan seorang lelaki muda di International Shoe Company yang memacarinya. Lelaki itu sangatlah tampan, dan saudara perempuanku sedalam-dalamnya mencintai lelaki itu. Kapan pun telepon berdering, dia hampir pingsan. Dia akan berpikir lelaki itu yang menelpon untuk mengajaknya berkencan, kau mengerti? Mereka bertemu setiap malam, dan suatu hari dia tidak menelpon lagi. Itulah saat pertama Rose mulai mengalami sebuah kemerosotan mental. Dari penglihatan itu Streescar berevolusi. Aku menyebutnya, pada saat itu, Blanche’s Chair in the Moon, yang merupakan judul yang sangat jelek. Tapi dari gambaran itulah, kau paham, tentang seorang perempuan duduk di samping jendela, begitulah Streetcar datang padaku.”

-Tennessee Williams

Apakah Anda menemukan inspirasi untuk proses kreatifmu? Jika sama sekali tidak sebaiknya anda merubah rencana dan mencari pekerjaan lain selain menulis…

————————-

*Diolah dari berbagai sumber oleh Marlina Sopiana dan Sabiq Carebesth. Arikel lengkap tentang inspirasi bisa dibaca lengkap dalam edisi perdana Halaman Kebudayaan “Book, Review & Culture” yang akan terbit tahun ini.

Continue Reading

Editor's Choice

Tips Utama untuk Tulisan yang Lebih Baik

mm

Published

on

Ada banyak jenis tulisan yang berbeda-beda: esai, laporan, surat-surat, pidato, surel pekerjaan. Apapun alasanmu untuk membubuhkan kata-kata di atas halaman, dan apapun gaya penulisanmu, ada beberapa tips universal yang akan membantumu merangkai pesan dan memperbaiki tulisanmu:

1. Tegas akan tujuanmu

Pertanyaan paling mendasar untuk ditanyakan pada dirimu sendiri sebelum memulai adalah mengapa kamu menulis.

Dalam esai atau tugas akademik, tujuanmu adalah untuk menyampaikan informasi dan fakta-fakta dan menarik kesimpulan-kesimpulan. Tapi jika kamu menulis sebuah laporan bisnis, kamu mungkin akan membuat rekomendasi untuk langkah-langkah spesifik. Dalam sebuah surat pengaduan kamu akan mencari hasil tertentu, misalnya pengembalian dana.

Selalu simpan tujuanmu di dalam kepala untuk menghindari keluar dari topik. Bahkan lebih baik: tuliskan tujuanmu dalam beberapa kata sesingkat mungkin, cetak itu, dan letakkan kertas itu di sampingmu selagi kamu menulis.

2. Pilih gaya yang cocok

Dalam percakapan, kita secara alami mengadaptasikan apa yang kita katakan dan bagaimana mengatakannya agar pantas bagi orang yang kita ajak bicara. Kita berbicara pada manajer atau dosen kita dengan satu cara, kepada teman dengan cara lain, dan seterusnya. Untuk tulisan yang baik sangatlah penting melakukan hal yang sama: pilihlah sebuah gaya penulisan dan kata-kata sehingga orang yang ditujukan tulisanmu akan merasa nyaman dan bereaksi dengan baik pada tulisanmu. Tulisan akademik memiliki satu gaya, tulisan bisnis gaya yang lain, penulisan blog berbeda lagi.

3. Memulai dengan sebuah rencana

Terlalu sering orang menulis tanpa rencana. Hasilnya seringkali tulisan yang tidak berkesinambungan, dengan bagian-bagian yang tidak berkaitan, tidak masuk dengan cara yang jelas, dan tidak ada jalan keluar yang jelas. Tak peduli kamu menulis sebuah laporan dengan 10.000 kata atau sebuah surat pengaduan, menciptakan sebuah rencana yang jelas dan terstruktur adalah langkah pertama untuk membuat pesanmu tersampaikan dengan cepat dan dengan cara yang paling efektif. Peta pikiran, atau penyusunan informasi secara visual dengan diagram-diagram dapat menjadi alat yang berguna.

4. Menulis untuk pembaca, bukan dirimu sendiri

Tujuanmu dalam menulis adalah untuk mengomunikasikan ide-ide dan informasi kepada orang lain, dan kamu harus mengingatnya dengan setiap kata dan kalimat yang kamu tulis. Secara berulang tanyakan dirimu sendiri untuk siapa tiap-tiap informasi itu ditujukan.

Karena kamu memiliki pemahaman yang jelas tentang apa dan mengapa kamu menulis, sangatlah mudah untuk terbawa arus dan memasukkan informasi yang hanya penting bagimu-dan tidak bagi orang lain. Jika kamu menuliskannya kamu akan menyia-nyiakan waktumu dan waktu orang lain.

5. Tuntun pembaca ke dalam tulisanmu

Tugasmu adalah untuk membantu pembaca memahami pesanmu dengan cepat dan tepat sekali. Untuk melakukan ini, sangatlah perlu untuk memperlihatkan dengan jelas bagaimana bagian-bagian yang berbeda saling berkaitan satu sama lain.

Setiap kalimat, setiap paragraf harus relevan dengan apa yang ditulis sebelumnya dan apa yang dituliskan kemudian. Kamu harus menggunakan kata-kata dan frase-frase yang menghubungkan atau membedakan untuk memperlihatkan kaitannya, misalnya, sebagai hasilnya, dengan cara ini, berbeda dengan. Kepala tulisan yang informatif juga membantu pembaca mengikuti alur pikiranmu, jadi jangan takut untuk menggunakannya.

6. Gunakan kata kerja pasif dengan tepat

Dalam jenis tulisan tertentu, seperti konteks-konteks saintifik, kata kerja pasif secara tepat dan sering digunakan. Tetapi dalam tulisan yang lebih umum orang seringkali menggunakannya dengan tidak tepat, atau secara berlebihan.

Persoalannya adalah hal itu dapat membuat sebuah tulisan menjadi tidak personal saat seharusnya tulisan itu menjadi personal karena ia menggarisbawahi tindakannya bukan orang yang melakukannya. Tapi sangat sering siapa orang yang melakukan suatu tindakan merupakan bagian yang sangat penting dari pesannya. Penting untuk mengerti kapan kata pasif berguna dan kapan tidak.

—————————–

Diterjemahkan dari Top Tips for Better Writing. Oxforddictionaries.com

Continue Reading

Classic Prose

Trending