© 2016 GALERI BUKU JAKARTA. ALL RIGHTS RESERVED.

DATA BUKU

Judul: Di Bawah Bendera Merah
Penulis: Mo Yan
Penerjemah: Fahmy Yamani
Penerbit: PT. Serambi Ilmu Semesta
Cetakan: I, Juli 2013
Tebal: 114 hlm

 

Di tangan Mo Yan (novelis asal Cina pemenang Nobel sastra 2012) truk rongsokan dapat menjadi gagasan hidup lantaran impresi-impresi prosaiknya. Dalam novel bertajuk Di Bawah Bendera Merah, Gaz 51 (truk militer buatan Soviet), tak sekadar ornamen, tapi terpancang sebagai tiang pengisahan. Dari awal hingga akhir, setiap cabang dan ranting cerita tak bisa lepas dari riwayat kendaraan militer yang telah berjasa bagi Cina itu—utamanya dalam urusan pengiriman logistik semasa perang melawan agresi AS (1950).

Novel yang dicetuskan sebagai memoar ini dibuka dengan kisah ketakmujuran Mo Yan di masa SD di Gaomi, provinsi Shandong. Ia dikeluarkan dari sekolah setelah ketahuan mengejek seorang guru yang bermulut besar, hingga kawan-kawannya menggelari guru itu dengan Liu Mulut Besar. Padahal, Mo Yan sekadar membandingkan ukuran mulutnya—yang juga besar—dengan mulut guru itu. Ia sedang menakar buruk muka sendiri, meski dalih itu tak pernah diungkapkan.

Mo Yan terobsesi ingin menyetir Gaz 51, truk yang saban hari mengepulkan debu jalan desanya. Pemiliknya adalah ayah Lu Wenli, perempuan paling cantik di kelasnya. Baginya, Gaz 51 tangguh dan berkuasa. Bebas melindas ayam dan membuat anjing-anjing kudisan berhamburan masuk selokan. Bila ada hewan yang tertabrak, ia akan terus melaju kencang. Tak ada yang berani protes, apalagi menagih ganti rugi. Maklum, ayah Lu Wenli bekas sopir Tentara Pembebasan Rakyat yang dikaryakan di wilayah pertanian negara. Itu sebabnya Mo Yan tak ragu bercita-cita; ingin menjadi sopir truk. Obsesi serupa juga dimiliki oleh teman kelas Mo Yan yang lain, He Zhiwu. Tak sekadar ingin bisa menyetir Gaz 51, tapi impian utamanya adalah menjadi “ayah” Lu Wenli. Di masa itu, tak seorang pun tahu, termasuk guru Liu, guru Zhang, perihal maksud dari cita-cita ganjil Zhiwu.

Sejarah menggiring Mo Yan pada peruntungan yang lebih cemerlang. Bermula dari tugas menulis surat dari komandan, keterampilan menulisnya terasah, hingga pada 1981 cerpen pertamanya, Malam Musim Semi Berhujan,  tersiar di majalah lokal. Lalu, ia menekuni dunia kepengarangan di jurusan sastra Institut Seni Ketentaraan. Tak lama berselang, novelnya Red Sorghum (1986) beroleh apresiasi luas, bahkan difilmkan oleh sutradara kondang, Zhang Yimou. Aktor handal Gong Li dan Jiang Wen bermain di film itu. Dunia Mo Yan berubah drastis. Ia ternobat sebagai pengarang ternama. Redaksi judul Di Bawah Bendera Merah, sementara edisi Inggrisnya berjudul Change (2010), dan sampul depan dengan ilustrasi bocah berseragam tentara yang duduk di atas truk militer sambil mengangkat bendera merah, mengesankan novel ini berkisah tentang pencapaian politis Mo Yan menjadi komunis, padahal hanya perihal cita-cita kecil, pahit-getir anak petani miskin, hingga pencapaian literer Mo Yan menjadi novelis kawakan.

Kritikus buku Arman Dani, dalam ulasannya terhadap Big Breasts an Wide Hips (2011), menyebut Mo Yan  sebagai paradoks hidup. Ia meraih Nobel sastra karena karya-karyanya berbicara tentang represi, narasi kecil, dan segregasi jender yang masih ketat di Cina, tapi di sisi lain ia mendukung sensor oleh Partai Komunis Cina, dan menolak untuk mendukung petisi pembebasan aktivis pro demokrasi, Liu Xiaobo. Tapi, dalam pidato anugerah Nobel 2012, Mo Yan mendesak pemerintah Cina untuk segera membebaskan Liu Xiaobo.

Gaz 51 sebagai artefak kenangan yang diperlakukan sebagai benda hidup, menghubungkan Mo Yan dengan He Zhiwu, lebih-lebih dengan Lu Wenli. Saat bertugas sebagai tentara, ia bertemu dengan truk sejenis, yang diandaikannya sebagai kembaran dari Gaz 51 milik ayah Lu Wenli. Ia ingin pulang ke Gaomi guna mempertemukan dua Gaz 51, yang menurutnya bagai sepasang kekasih yang lama terpisah. Mo Yan menghadirkan romansa lapuk He Zhiwu, yang ternyata sejak masa bersekolah di Gaomi  telah mencintai Lu Wenli. Itu sebabnya ia mengaku tidak punya cita-cita, kecuali hasrat ingin menjadi “ayah” Lu Wenli. Bukan untuk menjadi sopir truk, tapi ingin mempersunting gadis itu kelak bila ia sudah kaya. Zhiwu membeli Gaz 51 dari ayah Lu Wenli dengan harga yang terbilang gila; 8000 yuan. Bukan perkara truk uzur itu, tapi soal cara menaklukkan hati gadis pujaannya. Lu Wenli menolak, karena ia telah bertunangan dengan laki-laki terpandang, putra seorang petinggi partai komunis.

Menimbang gelagat pengisahan novel ini, agaknya Mo Yan juga menyimpan hasrat pada Lu Wenli, meski ia tak pernah menegaskannya. Pada sebuah kesempatan berkunjung ke Gaomi, ia mencari Lu Wenli ke tempat kerjanya. Tapi, karena respon gadis itu dingin, Mo Yan mundur. Mo Yan tak pernah mengungkapkan kisah cintanya, meski senantiasa ada keinginan untuk mendengar kabar tentang Lu Wenli. Patut dicurigai, baik He Zhiwu maupun Mo Yan tiada sungguh-sungguh menggilai Gaz 51, tapi sama-sama mencintai Lu Wenli.

Lu Wenli akhirnya bercerai dengan suaminya. Pada He Zhiwu ia mengaku sudah salah pilih. Ia bermohon agar Zhiwu berkenan menikahinya, tapi Zhiwu telah menikahi perempuan peranakan Rusia yang bersetia padanya. Lu Wenli kemudian jatuh ke pangkuan guru Liu, si Mulut Besar. Kenyataan yang tak pernah diduga Mo Yan.

Mo Yan makin berkibar, wajahnya kerap muncul di layar kaca. Undangan juri festival Maoqiang (seni drama budaya Cina), membuat ia kembali berkunjung ke Gaomi. Dalam keterpurukan setelah kematian suami, sekali lagi Lu Wenli memberanikan diri menemui kawan lama. Ia tidak minta dikasihani lagi, tapi sekadar memohon pada Mo Yan, agar putrinya lolos sebagai peserta festival. Mo Yan sadar, tubuh Lu Wenli sudah rongsok, bagian-bagian yang seksi di masa belia telah bengkak di sana-sini, sebagaimana nasib truk Gaz 51. Tapi tiada alasan untuk tidak berbaik hati. Truk sisa perang saja membuat ia tergila-gila, apalagi Lu Wenli, perempuan masa silam, yang boleh jadi amat disayanginya. Inilah asmara bersahaja garapan novelis kelas dunia. Sederhana tapi tidak murahan. Para pelakunya bagai tak terluka, padahal eskalasi kepedihannya berpotensi menjadi kekal di sepanjang usia. (DAMHURI MUHAMMAD)

Share Post
No comments

LEAVE A COMMENT