Connect with us

Inspirasi

Apa yang Anda Ketahui Setelah Nongkrong Bareng Emma Stone?

mm

Published

on

Bintang ‘La La Land’ bercerita tentang film musikal, serangan kecemasan dan beradu akting dengan Joaquin Phoenix

Oleh Jonah Weiner / http://www.rollingstone.co.id

Beberapa waktu yang lalu Emma Stone keluar sebagai pemenang kategori aktris film terbaik (komedi atau musikal) di Golden Globe berkat perannya dalam film komedi-musikal, La La Land. Kontributor Rolling Stone Jonah Weiner mendapat kesempatan menghabiskan waktu dengan Emma Stone selama beberapa hari. Berikut hal-hal menarik tentang Emma Stone:

Film La La Land membuatnya bergerak lebih leluasa dibandingkan dengan film-film sebelumnya
“Saya tidak ingin Emma menghindari sesuatu yang masih mentah dan rentan, dan salah satu kenikmatan terbesar membuat film ini adalah melihatnya pergi ke suatu tempat yang lebih dalam dan gelap dari sebelumnya. Musikal merupakan genre dimana kamu harus benar-benar bersedia terbalik, jatuh, dan tersandung –kamu tidak bisa pergi kesana dengan terlalu banyak perlindungan. Apa yang menakutkan dari genre ini adalah apa yang menyenangkan, yang memaksamu untuk menggunakan hati untuk menggerakan lengan,” jelas Damien Chazelle berharap Emma Stone mengerahkan kemampuannya dalam film musikal La La Land.

“Aku sering memikirkan ini setiap waktu, tentang membangun karakter Mia. Damien akan menulis, dan menulis ulang, kemudian aku membacanya dan menghubunginya jam enam pagi. “Aku akan memerankannya, kita harus mengganti ini,” lalu kita akan menambahkan dan menulisnya lagi,” ungkap Stone saat proses membangun karakter Mia dengan Chazelle.

Dia hanya memiliki 10 kali kesempatan untuk menyelesaikan satu adegan menari
Salah satu adegan duet menari di Griffith Park dengan satu shot panjang, Stone dan Gosling berusaha keras satu sama lain. “Kami memiliki waktu dua hari untuk mengambil gambarnya. Sebelumnya kami sudah berlatih sekitar empat bulan, tetapi ini perlu keajaiban. Kami hanya memiliki lima kali take setiap harinya sebelum cahaya menghilang. Itulah tekanannnya,” kata Stone. Ia juga mengatakan jika ia dan Gosling gagal sekali maka kesempatannya tinggal sembilan.

Sejak kecil Emma Stone sering berlebihan mengkhawatirkan sesuatu
“Ketika aku berusia tujuh tahun, aku yakin akan terjadi kebakaran di rumah. Aku bisa merasakannya. Ini bukan halusinasi karena ini menyesakkan dada sampai aku merasa tidak bisa bernafas, seperti dunia akan segera berakhir. Begitulah kejadiannya aku tetap merasa khawatir,” ungkap Stone menceritakan masa kecilnya. Ia juga mengatakan bahwa orang tuanya pernah membawanya ada ahli terapi dan hal itu cukup membantu, begitu juga dengan bermain peran merupakan salah satu cara melawan kekhawatiran.

Emma Stone/ getty image

Jonah Hill mengatakan bahwa Stone adalah orang yang merakyat
Jonah Hill yang pernah beradu peran dengan Leonardo DiCaprio dan Brad Pitt mengatakan bahwa Emma Stone merupakan salah satu aktris terbaik yang pernah bekerja sama dengannya. Hill menambahkan, “Ketika ia diminta memerankan seseorang yang cantik dan menarik, dia tidak perlu mencarinya dalam diri orang lain, itulah Emma –dia salah satu yang terbaik di dunia, dan dia tidak pernah membuat orang merasa kurang darinya.”

Selama menjadi aktris, pengalaman yang paling diingatnya adalah saat beradu akting dengan Joaquin Phoenix
Saat produksi film Irrational Man karya Woody Allen bersama Phoenix, Stone bercerita, “Aku merasa seperti seseorang yang belum pernah melewatinya, itu adalah kegagalan yang menyedihkan –Joaquin sering mengubah arahnya. Dia sering kali mengambil keputusan yang berbeda dalam satu adegan, dan kamu tidak tahu kemana dia akan mengarah. Kamu harus siap dan mengukutinya.”

Dia dan Jennifer Lawrence suka menonton film komedi ’90-an yang dibintangi Bette Midler
Teman-teman sepermainan Stone termasuk aktris Martha MacIsaac – berperan sebagai sahabat Stone dan yang membuat Michael Cera tergila-gila dalam film Superbad, Sugar Lyn Beard, dan Jennifer Lawrence. “Kami pergi bersama-sama, kami nongkrong bersama di rumah satu sama lain, menonton hal-hal gila,”kata Stone. Ia juga menambahkan, bulan lalu ia sempat mampir ke rumah Jen dan menonton Hocus Pocus.

Dia memakai pin pendukung Hillary Clinton
“Ini sangat sulit untuk mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya, atau apa yang akan dilakukan,” ujar Stone. “Ini menakutkan untuk tidak mengetahuinya. Namun aku tidak bisa berhenti memikirkan orang yang mudah diabaikan dan dicampakkan –terpinggirkan lebih dari mereka yang pernah merasakannya selama ratusan tahun– dan bagaimana planet ini akan mati tanpa bantuan kita. Hal itu banyak berdatangan.” (rb/wnz)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Inspirasi

Kesusastraan Rusia Dan Maxim Gorky Di Mata Soesilo Toer

mm

Published

on

“Tradisi kesusastraan Rusia terbentuk karena pembacaan juga, mereka termasuk pembaca berat, makanya pengarang dapat berproduksi dengan baik. Pengarang di sana dihargai, karena kerja intelektual”.

Begitulah komentar Soesilo Toer, Ph.D, M. Sc, Direktur Perpustakaan Pataba yang juga merupakan adik kesayangan sastrawan besar indonesia (alm) Pramoedya Ananta Toer.

Lalu apa pandangannya dengan sastra realisme? Ia menuturkan kalau (kita) menulis cerita tentang ketidakadilan dalam masyarakat, sosial, itu namanya realisme sosial. Kalau kemudian dikaitkan dengan organisasi, negara, ditunggangi oleh negara, ide-ide dari negara, itu baru namanya realisme sosialis.

Tentu saja ia juga mengajukan pendapat penting tentang proses kreatif dan kesadaran yang terbangun dalam diri dan karya-karya kakaknya Pramoednya, ia menyebut Pram Menerima karyanya sebagai realisme sosialis, namun demikian Soesilo menuturkan Pram dalam gaya menulis banyak belajar pada Multatuli dan Hemingway.

“Pram mengakui. Secara ide, dia menerima realisme sosialis itu. Tapi secara pemikiran Pram banyak bergantung pada Multatuli dan Hemingway. Pram mempelajari cara menulisnya. Pram membaca Multatuli dari perpustakaan bapaknya. Kesimpulan Multatuli itu luar biasa, “tugas manusia adalah menjadi manusia itu sendiri”. Disimbolkan oleh bapaknya Pram, “untuk menjadi manusia, Anda harus melalui tiga periode, tiga tingkat: belajar, bekerja, berkarya”.

Bagaimana pendapatnya tentang dunia sastra, politik dan kemanusiaan lebih luas? Simak wawancara berikut yang dikerjakan oleh Ladinata Jabarti dan kawan-kawan, selengkapnya:

Bagaimana karakter kesusastraan Rusia menurut Pak Soesilo sebagai pengelola Pataba?

Kalau zaman saya itu ‘kan sedang populernya realisme sosialis, jadi buku-bukunya Dostoyevsky itu tidak dianjurkan untuk dibaca karena berbau pesimisme. Tapi belakangan, semua boleh dibaca, nggak ada batasan. Kalau di sini (Indonesia) ‘kan Bumi Manusia dilarang, dianggap mengandung ajaran marxisme-leninisme, kalau di sana (Rusia) nggak ada.

Saya membaca Multatuli yang diterjemahkan ke dalam bahasa Rusia, yang bahkan Lenin memberi komentar untuk buku itu. Saya membeli buku itu di pinggir jalan. Buku-buku yang di pinggir jalan dan di toko besar itu isinya sama. Orang-orang Rusia sangat menghargai buku. Di mana-mana, misalnya di bus, mereka membaca buku atau koran. Kalau sedang istirahat juga rata-rata buku yang dipegang. Jadi (tradisi) kesusastraan Rusia terbentuk karena pembacaan juga, mereka termasuk pembaca berat, makanya pengarang dapat berproduksi dengan baik. Pengarang di sana dihargai, karena kerja intelektual.

Kesusastraan Rusia yang bersangkutan dengan Maxim Gorky, bagaimana (Maxim Gorky) menurut Bapak?

Gorky menganggap sastra Rusia itu harus melihat kepada rakyat. Yang utama bagi mereka kalau secara perabadan, peradaban dari yang pertama, taruhlah perbudakan sampai yang terakhir, kapitalisme-imperialisme terbentuk dengan sendirinya. Dari sana kemudian lahir berbagai teori seperti Adam Smith, Malthus, jadi fakta menghasilkan teori. Peristiwa dulu, baru timbul teori. Nah ini oleh Marx dan Lenin dibalik: teori menciptakan fakta. Mereka jalan seperti di dalam lubang hitamnya Hawking. Walaupun disebut sebagai ajaran ilmiah, tapi tetap utopia, berjalan di dalam gelap. Jadi kalau menurut saya, nantinya, kalau terjadi perubahan setelah imperialisme itu nggak mesti sosialisme atau komunisme. Apa saja namanya, yang penting terjadi perubahan lanjutan yang melawan kapitalisme maupun imperialisme. Dan akan terjadi perubahan dengan sendirinya secara alami. Bagi saya, fakta dulu baru teori.

Soesilo Toer, Ph.D, M. Sc, Direktur Perpustakaan Pataba

Soal realisme sosialis Gorky, itu bagaimana?

Kalau (kita) menulis cerita tentang ketidakadilan dalam masyarakat, sosial, itu namanya realisme sosial. Kalau kemudian dikaitkan dengan organisasi, negara, ditunggangi oleh negara, ide-ide dari negara, itu baru namanya realisme sosialis. Seperti (contohnya) Kuprin itu ‘kan banyak menulis kejelekan-kejelekan di masyarakat, itu masih realisme sosial. Tapi kalau sudah campur tangan seperti bukunya Gorky Mother atau Mat’ (dalam bahasa Rusia)”, itu ‘kan tokohnya, Pavel, tadinya peminum seperti ayahnya. Anak-bapak itu peminum berat, yang ditindas adalah ibunya. Nah, suatu kali anak ini punya kesadaran, “orang tua saya kok saya perlakukan seperti budak.” Dalam buku itu sudah masuk campur tangan negara, karena dia pegawai di pabrik (yang berkaitan dengan pemerintah). Dilibatkannya unsur-unsur negara di dalam karya, itu sudah masuk realisme sosialis, bedanya di situ.

Dalam Cinta Pertama, Maxim Gorky memiliki semacam prinsip dalam kesusastraan. Pandangan dunia Gorky sangat kuat, seperti juga dalam Mother yang (digambarkan) begitu kuat. Menurut Bapak, apa yang membuat Gorky jadi sedemikian tangguh dalam berprinsip dan berkesusastraan?

Gorky itu ‘kan menderita waktu kecil, nama sebenarnya Aleksey Peshkov, Peshkov itu artinya pasir atau debu. Kemudian Gorky itu artinya getir, pahit. Dia merasa kuat karena pengalamannya banyak. Ditinggal ibunya, ditinggal ayahnya. Ia menjadi kuat karena pengalaman hidupnya sendiri. Luntang-lantung keliling Rusia selama lima tahun. Gorky pernah mencoba bunuh diri, tapi gagal. Maka dari itu ia pernah istirahat di Italia untuk menyembuhkan luka tembaknya, sambil menulis cerita anak-anak. Gorky menjadi kuat karena proses hidup yang dijalaninya begitu.

Kenali hidup sendiri. Dari mana Anda bisa kuat? Semakin besar dan berat penderitaan Anda, semakin berat Anda merenung. Bukan berputus asa, tapi merenung. Makanya setiap hinaan yang saya terima (pun) saya pakai sebagai kekuatan.

Lalu bagaimana pada akhirnya Gorky menjadi beraliran realisme sosialis?

Pada awalnya realisme sosial. Setelah terjun ke dunia politik baru kemudian menjadi realisme sosialis, walaupun ia bukan anggota partai komunis. Ia hanya mendukung pembangunan negara sosialis dan mengerti tujuan sosialisme itu untuk apa.

Pramoedya (Ananta Toer) terlihat sekali terpengaruh Maxim Gorky…

(Dia) Pram mengakui. Secara ide, dia menerima realisme sosialis itu. Tapi secara pemikiran Pram banyak bergantung pada Multatuli dan Hemingway. Pram mempelajari cara menulisnya. Pram membaca Multatuli dari perpustakaan bapaknya. Kesimpulan Multatuli itu luar biasa, “tugas manusia adalah menjadi manusia itu sendiri”. Disimbolkan oleh bapaknya Pram, “untuk menjadi manusia, Anda harus melalui tiga periode, tiga tingkat: belajar, bekerja, berkarya”. Berkarya disimbolkan oleh Pram “menulis adalah bekerja untuk keabadian”. Nah, saya, saya ikuti lagi, “supaya Anda hidup, harus bekerja”.

Bagaimana realisme sosialis Gorky itu bagi Pak Soesilo?

Saya membaca buku dia, tapi ya saya bukan seorang sastrawan yang dari mula kepengin jadi sastrawan, hanya suka membaca saja. Gorky tidak seberapa memengaruhi pemikiran saya, karena saya sudah bandingkan dengan yang lain-lain, kebetulan pendidikan saya cukup ada, sehingga tidak begitu tergila-gila terhadap sesuatu.

Pada saat Bapak kuliah di Rusia (berkisar pada tahun 60-an), bagaimana nama Gorky dalam ingatan masyarakat ketika itu?

Di sana itu Gorky bacaannya para tokoh muda sosialis, diwajibkan untuk mahasiswa Rusia, apa lagi untuk institute yang berkaitan dengan sastra. Tapi secara umum itu dianggap sebagai bacaan standar untuk semua anak sekolah.

_________________________________

*) Team Pewancara:

Ladinata Jabarti

Mochamad Luqman Hakim

Randolph Jordan

Muhammad Yunus Musthofa

Firmansyah

**) Wawancara penuh mengenai diri Soesilo Toer Ph.D, M.Sc (sebagai Direktur Perpustakaan Pataba), Perpustakaan Pataba (Pramoedya Ananta Toer Anak Semua Bangsa) dan Kesusastraan Rusia dan Maxim Gorky. Kami mengambil penggalan wawancara mengenai Kesusastraan Rusia dan Maxim Gorky.

Setelah salat asar dan magrib, dengan sajadah yang dipinjamkan oleh keluarga Toer, di dalam perpustakaan,  setelah juga menyantap sate Blora, yang ditraktir oleh seorang kawan baik, yang pernah bekerja di Athan di Moskow, dan sekarang menjadi Lurah Pojokwatu, Pak Suwondo, wawancara dilakukan dengan dikawani oleh Benee Santoso, pemilik Penerbitan Pataba Press, putra tunggal dari Soesilo Toer, Ph.D, M. Sc.

Continue Reading

Inspirasi

Joyce Cary: Dari Mana Datangnya Ide Menulis?

mm

Published

on

Seringkali aku tidak mengetahui asal mulanya. Belakangan aku mempunyai pengalaman aneh yang memberiku pandangan sekilas atas prosesnya, sesuatu yang tak pernah kusangka.

Aku sedang berkeliling Manhattan menaiki kapal uap dengan seorang teman dari Amerika, Elizabeth Lawrence dari majalah Harper. Dan aku menyadari seorang gadis duduk sendirian di ujung lain geladak-seorang gadis berusia kira-kira tiga puluh tahun, mengenakan rok yang lusuh. Dia sedang menikmati kesendiriannya. Sebuah ekspresi yang bagus, dengan dahi yang berkerut, kerutan yang banyak sekali. Aku mengatakan pada temanku, “Aku dapat menulis tentang gadis itu—menurutmu dia itu siapa?”

Elizabeth mengatakan bahwa mungkin saja gadis itu seorang guru yang sedang berlibur, dan menanyakanku mengapa aku ingin menulis tentang gadis itu. Aku menjawab sebenarnya aku tak tahu-aku membayangkan gadis itu seorang yang peka dan cerdas, dan mengalami kesulitan karenanya. Mempunyai hidup yang sulit tetapi juga menghasilkan sesuatu darinya. Pada saat-saat seperti itu aku sering membuat catatan. Tapi aku tidak melakukannya—dan aku melupakan seluruh peristiwa itu.

Lalu, kira-kira tiga minggu setelah itu, di San Fransisco, aku bangun di tengah malam, kupikir, dengan sebuah cerita dikepalaku. Aku membuat uraian ceritanya saat itu juga—cerita itu tentang seorang gadis Inggris di negerinya—sebuah dongeng Inggris murni. Hari berikutnya sebuah pertemuan dibatalkan dan aku memiliki sehari penuh yang kosong.

Aku menemukan catatanku dan menuliskan ceritanya-itu adalah peristiwa-peristiwa utama dan sejumlah garis penghubung. Beberapa hari kemudian, di dalam pesawat-waktu yang ideal untuk menulis-aku mulai mengerjakannya, merapikannya, dan aku berpikir, ada apa dengan kerutan-kerutan di wajah itu, itu ketiga kalinya mereka muncul. Dan aku tiba-tiba tersadar bahwa pahlawan Inggrisku adalah gadis di atas kapal Manhattan. Entah bagaimana dia masuk ke dalam alam bawah sadarku, dan muncul kembali dengan sebuah cerita yang utuh.

*) Joyce Cary: Novelis Irlandia

Continue Reading

Inspirasi

Jhon Barth: Bagaimana Saya memulai Menuils?

mm

Published

on

Buku yang berbeda dimulai dengan cara-cara yang berbeda. Aku terkadang berharap bahwa aku semacam penulis yang memulai dengan ketertarikan yang bergairah dengan sesosok karakter dan kemudian, sebagaimana kudengar penulis-penulis lain mengatakan, berikan saja karakter itu sedikit ruang dan lihat apa yang ingin dia lakukan.

Aku bukan penulis semacam itu. Lebih sering aku memulai dengan sebuah bentuk atau wujud, bisa jadi sebuah gambar. Perahu yang mengambang, sebagai contoh, yang menjadi tokoh sentral dalam The Floating Opera, merupakan photo dari sebuah kapal pertunjukkan sesungguhnya yang aku ingat pernah melihatnya saat masih kecil. Namanya ternyata Captain Adams’ Original Unparalleled Floating Opera, dan ketika alam, dengan cara yang tak menyenangkan, menghadiahimu gambar itu, satu-satunya hal mulia yang harus dilakukan adalah menulis sebuah novel tentangnya.

Ini mungkin bukan pendekatan yang paling mulia. Aleksandr Solzhenitsyb, sebagai contoh, hadir dalam media fiksi dengan sebuah tujuan moral yang tinggi; dia ingin, dunia literatur, mencoba untuk mengubah dunia melalui media seperti novel. Aku menghormati dan mengagumi maksud itu, tetapi seringnya seorang penulis besar akan menuliskan novelnya dengan tujuan yang tidak lebih mulia dibandingkan dengan upaya mengecilkan pemerintahan Soviet.

Henry James ingin menulis sebuah buku dalam bentuk sebuah jam pasir. Flaubert ingin menulis sebuah novel tentang nothing. Apa yang kupelajari adalah bahwa keputusan dari inspirasi-inspirasi untuk bernyanyi atau tidak bukan didasarkan pada keluhuran dari tujuan moralmu—mereka akan menyanyi atau tidak, apapun keadaannya.

*) John Barth: Penulis Amerika, dikenal dengan karyanya  “Postmodernist” dan “Metafictional”. 

Continue Reading

Classic Prose

Trending