Connect with us

Inspirasi

Apa Dasar Pelukis Menentukan Harga Lukisan “Pesanan”?

mm

Published

on

Oleh: Guruh Ramdani*

Mula-mula mari kita nyatakan bahwa tulisan ini adalah tentang “Lukisan Pesanan”, sehingga seyogya dan sebijaknya untuk tidak lebih dulu mencampur-adukkan dengan andaian bahasan tentang “lukisan idealis”, karena hal itu tentu akan menimbulkan ketidaknyamanan dan malah jadi debat kusir.

Ini bermula tatkala beberapa orang bertanya kepada saya mengenai dasar penentuan harga lukisan pesanan. Sebetulnya saya pribadi tidak punya pengetahuan khusus soal itu, semuanya hanya karena pengalaman bertahun tahun saja, itu pun sebetulnya saya jarang menerima pesanan, karena memang tidak secara terbuka saya umumkan atau sengaja saya cari, berhubung saya disibukkan dengan hal atau pekerjaan lain, utamanya mengajar, termasuk aktifitas melukis atas dorongan pribadi (juga), atau mungkin juga pertimbangan lain dari calon konsumen. Walau pun kalau ada pesanan dan harganya cocok ya saya kerjakan juga. Beberapa informasi didapat juga karena merupakan hasil diskusi (tidak langsung) dengan beberapa teman perupa. Dan hasilnya adalah sebagai berikut:

Kualitas Karya
Tidak bisa dihindari, yang yang menjadi dasar pertimbangan pertama dan utama tentunya adalah kualitas karya. Untuk itu wajib bin kudu seorang seniman menguasai berbagai teknik secara maksimal, dalam hal ini tentunya adalah kemampuan teknis melukis realis, karena suka tidak suka, mayoritas orang yang memesan lukisan adalah “ingin dilukis secara realistis dan indah”, walaupun ada beberapa pengecualian kasus pesanan di dunia seni rupa yang pernah terjadi. Penguasaan teknis di sini adalah menyangkut ilmu melukisnya itu sendiri, maupun pengetahuan dan penggunaan alat dan bahan. Kuasai teknik semua alat dan bahan untuk melukis, jangan hanya terpaku akan satu alat saja. Semakin luas teknik yang kita kuasai akan semakin besar peluangnya. Karena biasanya permintaan konsumen itu suka ada yang ingin dilukis dengan alat dan bahan tertentu.

Kwalitan serta Harga Alat dan Bahan yang Dipergunakan
Seperti yang diketahui bersama bahwa alat dan bahan untuk melukis tidaklah murah. Hal ini harus dipisahkan sebagai indikator memberikan biaya, apakah menggunakan pensil atau cat, di atas kertas atau kanvas, menggunakan pigura atau tidak, harus dihitung dari awal. Sehingga komponen ini bisa menjadi pertimbangan argumentasi kita ketika meminta DP di muka.Kwalitas alat dan bahan pun harus menjadi pertimbangan yang penting dan tidak boleh diabaikan atau sembarangan. Karena perlu diketahui, melukis menggunakan alat dan bahan yang berkualitas secara visual pun akan terlihat lebih keluar kualitas warnanya, dan (justru) penggarapannya pun lebih mudah. Penggunaan alat dan bahan yang berbeda pun (berdasarkan sifatnya masing masing), akan menentukan lamanya waktu pengerjaan, dan itu pun harus diperhitungkan.

Ukurannya
Karena harus diingat, ukuran akan menentukan juga lamanya waktu pengerjaan berikut banyaknya alat dan bahan yang dipergunakan.

Jumlah Kepala Orang yang Akan Dilukis
Hal ini tentunya sudah jadi pengetahuan umum teman teman, karena jika lukisan potret wajah, yang menjadi titik sentral jualannya adalah kemiripan wajahnya. Namun sebaiknya jumlah kepala ini harus dibedakan antara satu orang dengan beberapa orang, jika satu orang nilai jualnya adalah misalkan 600 ribu, maka harus dibagi menjadi dua indikator, yang tiga ratus ribu adalah cat, kanvas, dan kwas yang akan aus; dan yang tiga ratus ribu berikutnya adalah nilai pekerjaan atau jasanya. Sehingga jika harus mengerjakan sebanyak tiga orang dalam satu kanvas, nilai lukisannya adalah 600 ribu ditambah 300 ribu kali dua orang (tambahan), atau satu juta dua ratus ribu rupiah. Tentu biaya ini pun di luar biaya pigura.

Tingkat Kesulitan Pengerjaan
Misalkan, apakah pakaiannya polos atau bermotif rumit (seperti batik)? Apakah background harus digambar secara utuh atau boleh dibuat polos? Kalau memang rumit, baiknya dikenakan saja biaya tambahan, misalkan dari tiga orang, yang menggunakan batik yang rumit satu orang, maka yang satu orang ini dikenakan biaya tambahan misalkan 150 ribu sendiri.

Pengiriman dan Packaging
Seperti yang kita ketahui bahwa pihak jasa pengiriman paket akan menghitung biaya berdasarkan, panjang kali lebar kali berat. Apabila si pemesan ingin dipigura sendiri alias lukisannya dikirim dengan cara digulung, saya tidak membebankan biaya pengiriman apabila masih dalam lingkup pulau Jawa, namun apabila harus ke luar Jawa apalagi ke luar negeri, ya suka tidak suka harus ditanyakan dulu kepada pihak jasa pengiriman. Apabila menggunakan Pigura, apalagi jika menggunakan kaca, maka ukuran lukisan pun akan menjadi lebih besar dari ukuran aslinya, karena jika pinggirannya saja 10 cm, maka lukisan yang berukuran 30 X 40 cm saja akan menjadi 50 X 50 cm, belum lagi beratnya. Belum lagi (kalau pakai kaca) harus dipacking kayu, tentunya akan bertambah berat lagi. Maka bisa dipastikan, efek dari biaya pengiriman semacam ini ini akan membuat rasa terkejut dengan jumlahnya kalau tidak diantisipasi dari awal.

Lamanya Waktu Pengerjaan
Sebaiknya untuk soal ini dihitung berdasarkan jumlah jam, bukan hari, karena bisa saja ada hari yang kosong, dan kita pun harus beristirahat atau mengerjakan soal lain. Atau bisa saja secara teknis jumlah harinya satu bulan, namun jumlah pengerjaannya adalah 60 jam. Maka jika (seandainya) seorang buruh bangunan dibayar 120 ribu per delapan jam kerja, tentunya kita bisa menghitung kapasitas kita, apakah mau dihargai lebih atau kurang dari itu. Kalau selama delapan jam saya dibayar mengajar sekian rupiah, maka saya bagi delapan, dan (kalau saya pribadi) saya naikan menjadi 150 persen dari bayaran yang biasa saya terima tersebut. Karena bagi saya hal tersebut hitungannya adalah lembur.

Sekali tersebut, biaya tersebut hanyalah menyangkut jasa atau waktunya saja, di luar biaya alat dan bahan, apalagi pigura.

Sampai poin di atas harus dibicarakan atau ditanyakan di muka dengan pihak pemesan secara terbuka sebelum menentukan biayanya. Jangan tergesa gesa menentukan harga sebelum dihitung dengan cermat. Lihat dulu fotonya sebelum dilukis, karena dari sana akan bisa ditebak tingkat kesulitannya. Minimal kita bisa menghitungnya dalam kisaran satu atau dua jam. Apalagi untuk pengiriman yang sifatnya di luar kebiasaan atau jauh harus ditanyakan dulu ke pihak jasa pengiriman sebelum diputuskan. Jangan sampai kita merasa nilai pekerjaan kita besar tapi setelah selesai dan dihitung ulang, malah lebih banyak kerja baktinya.

Lingkup Pergaulan (Relasi) dan Citra yang Ditampilkan
Dalam ilmu ekonomi dinyatakan bahwa barang yang sama (misalkan Coca Cola) jika dijual di tempat yang berbeda (di pinggir jalan, di Supermarket, atau di Hotel) akan berbeda pula nilainya. Maka bagi adik adik yang masih sekolah dan lingkup pergaulannya mayoritas adalah teman teman sebaya, mungkin jika mendapat order dari teman teman, sudah bisa ditebak uang saku temannya itu berapa, dan nilai apresiasinya pun terukur. Namun bagi mereka yang cenderung sudah berumur, dan teman temannya sudah banyak yang sukses, apalagi jika orangnya supel, teman dari temannya tersebut juga bisa menjadi pelanggannya. Walau pun demikian, di era teknologi informasi ini, asalkan kita konsisten berkarya, hal hal semacam itu bisa cepat diatasi, yang penting adalah kembali ke poin pertama di atas, “kualitas karya”. Lingkup pergaulan pun bisa dibentuk dengan berpameran, yang akan membuka akses serta kepercayaan publik baik itu masyarakat awam maupun kolektor (akan kesungguhan kita) sebagai perupa, atau juga mengunjungi pameran dan bersilaturahmi dengan sesama seniman biasanya akan membuka akses ke soal ini.

Nilai Inflasi
Kita tahu bahwa semakin lama harga barang juga semakin naik tiap tahunnya. Maka dengan penuh kesadaran kita pun harus memperhitungkan soal ini, dan secara berkala kita harus menaikkan harga setiap tahun secara berkala, entah 5 atau 10%, sehingga tidak terseret perekonomian global. Harus diwaspadai pula kenaikan harga yang terlalu melonjak, karena bisa jadi dalam waktu sesaat anda bisa dapat order dengan nilai sangat besar, tapi puasa dalam jangka panjang.

Atau harga kita di satu sisi sangat tinggi, namun pada saat lain banting harga, sehingga bisa menimulkan ketidakpercayaan di mata konsumen yang pernah memesan. Kenaikan harga itu harus, tapi sedikit demi sedikit dan wajar.

Tingkat Keterkenalan dan Jam Terbang si Pelukisnya.
Suka tidak suka faktor ini akan sangat menentukan nilai jual. Karena tidak mudah juga membentuk nama ini, jadi kita tidak bisa dengan mudah mengatakan, “kok karya saya lebih bagus dari si anu, tapi dia bisa laku mahal sementara saya tidak?” Menyangkut soal ini yang harus dilakukan adalah harus konsisten berkarya dan berpameran, ada atau tidak ada order. Karena tentunya orang yang punya nama itu juga menikmati hasilnya setelah melalui berbagai macam fase perjuangan. Kualitas atau level pameran yang diikuti pun tentunya harus menjadi bahan pertimbangan yang penting pula.

Guruh Ramdani dan karya lukisanya. /Getty Image/ adm/ FB 2016

Jumlah Cadangan Devisa (si Seniman) dan Tingkat Kebutuhannya.
Artinya, jika cadangan devisa, asset atau tabungan) si seniman aman (misalkan si seniman punya tabungan 50 juta rupiah di Bank) maka jadi logis saja jika dia memberikan nilai 5-10 juta untuk satu buah pekerjaannya, karena kira kira, sekian bulan ke depan hidup dia aman. Masa sih dalam satu bulan tidak ada kerjaan sama sekali? Kan kecil kemungkinannya. Atau bisa saja malah dalam satu bulan ada tiga pekerjaan. Maka dari itu, sang seniman pun seharusnya secara berkala menabung penghasilannya, dan secara bertahap (juga) membeli peralatan yang lebih berkualitas.

Hukum Pasar (Menyangkut Permintaan dan Penawaran)
Jika nama kita sudah di atas dan permintaan tinggi, tentunya secara otomatis harga pun akan naik dengan sendirinya.

Sekian mudah mudahan ada manfaatnya. Apa yang ditulis di atas bukan satu satunya dasar pertimbangan atau ketentuan yang tidak bisa ditawar tawar. Dalam prakteknya tentu tidak bisa dihindari adanya negosiasi. Belum lagi pertimbangan lainnya berdasarkan pengalaman masing masing.

“Pak kalau setelah dipraktekkan yang di atas dirasa kemahalan sehingga konsumen nolak, bagaimana?” Kalau saya sih biasanya bertahan, ndak jadi juga tidak masalah. Karena ya itu, menyangkut cadangan devisa tersebut. Lagi pula saya punya penghasilan dan pekerjaan tetap, tidak bergantung dari situ. Di sisi lain, pemesan kita pun mayoritas biasanya sudah bisa mengukur nilai atau kualitas kita. Jadi saran saya anda tetaplah berkarya, ada atau tidak ada pesanan, karena hal tersebutlah yang akan memancing pekerjaan. Syukur syukur (dan ini tidak mustahil) karya yang bukan pesanan tersebut malah dibeli orang dengan nilai lebih tinggi dari karya pesanan. Jika kita baru berkarya satu atau dua buah, namun berharap mendapatkan harga yang tinggi tentu hanya akan berakhir sebagai mimpi, walau pun karya kita bisa dibilang bagus atau luar biasa. Atau dengan kata lain, setelah punya bakat bagus, kita pun harus punya konsistensi berkarya.

Akhirnya seperti saya nyatakan pada awal tulisan ini; yang mau berkomentar, atau urun saran, tolong bingkai diskusinya adalah “Lukisan Pesanan”, sehingga tidak dicampur-adukkan dengan “lukisan idealis”, karena bisa menimbulkan ketidaknyamanan dan malah jadi debat kusir. Terima kasih.. (*)

————————————

*Guruh Ramdani, Pelukis.

Inspirasi

Lima Fakta Menarik Tetang Truman Capote

mm

Published

on

Siapa tidak kenal dengan Breakfast at Tiffany’s, novelet karya Truman Capote yang berhasil menghipnotis seluruh dunia tidak hanya dalam media sastra tetapi juga film, fashion, kuliner dan hampir seluruh budaya pop yang bisa dihasilkan pada zamannya bahkan sampai sekarang. Novel Breakfast at Tiffany’s masih terus diterjemahkan ke berbagai Bahasa hingga hari ini dan terus menambah pembaca setianya tak terkecuali di Indonesia.

Sosok dan keseharian Capote memang mengagumkan, ia sosok yang layak menjadi besar di mana hal itu terlihat jelas bagaimana karya dan pribadinya mampu menginspirasi orang lain dan ragam seni lain. Salah satu contohnya karakter Dill di buku Harper Lee, To Kill a Mockingbird karya Lee tidak lain dan tak bukan adalah pribadi Capote yang dalam kehidupan nyata adalah karib Lee.

Beberapa fakta menarik lain tentang Truman Capote: hidup, pekerjaan, dan keterkaitannya dengan para penulis lain benar-benar tak layak Anda abaikan, simak selangkapnya berikut ini:

  1. Truman Capote mengilhami karakter Dill di buku Harper Lee, To Kill a Mockingbird. Karakter Dill Harris dalam novel Lee didasari oleh tetangga sekaligus sahabat Harper Lee sendiri- Truman Capote. Capote, yang lahir pada tahun 1924 dengan nama Truman Streckfus Persons, mengubah namanya menjadi Truman Capote pada tahun 1935, mengikuti ayah tirinya, Joseph Capote.
  2. Ternyata, Lee bekerja sebagai asisten Capote untuk salah satu bukunya. Karya Truman Capote, In Cold Blood, sebuah karya non-fiksi yang diterbitkan pada tahun 1966, berfokus pada pembunuhan brutal oleh empat orang dari satu keluarga yang sama di Kansas pada tahun 1959. Menulis tentang tragedi terkini tentu saja melibatkan cukup banyak penelitian, sehingga Capote bisa pastikan fakta di karyanya tepat, dan Harper Lee membantu wawancara dan penelitian untuk buku ini. Pembunuhan kemudian akan muncul kembali di dunia Capote dengan cara yang aneh dan paling meresahkan. Yang mengerikan, Capote ternyata mengenal empat korban pembunuhan Manson tahun 1969, masing-masing dari mereka. Capote kemudian mengungkapkan bahwa ‘dari lima orang yang terbunuh di rumah Tate malam itu, saya mengenal empat dari mereka. Saya bertemu dengan Sharon Tate di Cannes Film Festival. Jay Sebring memotong rambut saya beberapa kali. Saya pernah makan siang sekali di San Francisco bersama Abigail Folger dan pacarnya, Frykowski. Dengan kata lain, saya mengenal masing-masing dari mereka.”

Saya tidak peduli apa yang dikatakan orang lain tentang saya selama itu tidak benar. –Truman Capote

  1. Capote menulis drafnya di atas kertas kuning. Pastinya kertas ini adalah ‘kertas kuning yang sangat istimewa’, seperti yang dia ungkapkan dalam sebuah wawancara dengan Paris Review. Kemudian, begitu dia senang dengan drafnya, dia akan mengetiknya di atas kertas putih.
  2. Capote memberi Ray Bradbury jeda lama dalam menulis. Bradbury mendapat jeda penting pertamanya saat dia remaja, di akhir 1930-an. Dia mengajukan sebuah cerita ke majalah Mademoiselle, yang mana seorang Truman Capote muda – yang sebenarnya empat tahun lebih muda dari Bradbury – bekerja sebagai asisten editor. Capote membaca cerita Bradbury, yang berjudul Homecoming, dan merekomendasikan kepada editornya untuk menerbitkannya.

Hidup ialah drama yang lumayan bagus dengan babak ketiga yang ditulis dengan buruk. – Truman Capote

  1. Truman Capote akan berganti kamar hotel jika nomor teleponnya disertai nomor 13. Seperti Stephen King – yang menderita triskaidekaphobia – Capote adalah seorang penulis yang percaya takhayul dan nomor 13 tidak disukainya. Dia juga tidak akan memulai atau mengakhiri sebuah karya pada hari Jumat, karena dia menganggapnya sebagai nasib sial. Terlepas dari kondisi dirinya sendiri, dia berhasil menulis sejumlah karya fiksi dan non-fiksi yang sukses, tidak hanya In Cold Blood, tapi juga novel pendek Breakfast at Tiffany’s (1958), film yang dibintangi Audrey Hepburn. Capote meninggal pada tahun 1984, berusia 59 tahun. Pada tahun 2005, almarhum Philip Seymour Hoffman berperan sebagai penulis dalam film biografi terkenal, Capote.

______________________________________________

*) By Regina N. Helnaz | Editor Sabiq Carebesth

Continue Reading

Inspirasi

Lima Fakta Menarik Tentang Novelis John Steinbeck

mm

Published

on

Saat menulis novel East of Eden jarang yang tahu fakta bahwa ia menggunakan 300 pensil untuk menulis East of Eden. Dia diketahui menggunakan hingga 60 pensil dalam sehari, lebih memilih pensil dibanding mesin tik atau pulpen. Dialah John Steinbeck, novelis Amerika yang karyanya juga digemari sastrawan besar Indonesia Pramoedya Ananta Toer. Fakta unik lain dari penulis ini? Simak selengkapnya:

  1. Draf awal dari novel John Steinbeck, Of Mice and Men, dimakan anjingnya sendiri. Anjing itu bernama Max, salah satu anjing yang dipelihara Steinbeck semasa hidupnya, yang melahap habis draf novel itu dan karenanya, menjadi kritikus pertama buku itu. Buku itu mungkin adalah buku Steinbeck yang paling terkenal, dan terinspirasi dari pengalaman pribadinya sebagai bindlestiff (pekerja yang suka berpindah tempat) di Amerika Serikat pada tahun 1920-an. Judul novel yang terkenal itu terilhami puisi Robert Burns ‘To a Mouse’: ‘The best laid schemes o’ mice an’ men / Gang aft agley’ (atau ‘sering tidak terjadi sesuai rencana’). Judul asli dari novel itu adalah ‘Something That Happened’.
  2. Pada 1980-an, muncul rumor bahwa novel Steinbeck, The Grapes of Wrath, telah diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang dengan judul ‘The Angry Raisins’ (. Namun rumor ini ternyata tidak benar adanya. Ini adalah contoh menarik bagaimana orang menyukai cerita tentang ‘tersesat dalam terjemahan’, dan rumor itu telah berkali-kali dibantah.
  3. Steinbeck menggunakan 300 pensil untuk menulis East of Eden. Dia diketahui menggunakan hingga 60 pensil dalam sehari, lebih memilih pensil dibanding mesin tik atau pulpen. Hemingway juga penggemar grafit dibandingkan tinta, meskipun ‘Papa’ rupanya juga gemar menajamkan pensil saat dia mengerjakan sebuah novel, untuk membantunya berpikir!
  4. Steinbeck menulis buku tentang King Arthur. Ini adalah topik yang tidak biasa bagi penulis novel di era Depresi, namun penjelajahannya ke dalam dunia fantasi Arthur baru ditulis di penghujung karirnya. Seperti T. H. White (yang menulis sekuel The Once and Future King, didahului dengan The Sword in The Stone) dan Tennyson (yang menulis novel bersyair panjang, Idylls of the King, pada abad ke-19), Steinbeck terilhami epos abad ke-15 karya Sir Thomas Malory, Le Morte d’Arthur, untuk materi novelnya. Fantasi Arthurian Steinbeck adalah The Acts of King Arthur and His Noble Knights. Mulai ditulis pada 1956, buku itu tidak terselesaikan dikarenakan kematian Steinbeck pada tahun 1968, dan tidak diterbitkan hingga 1976.
  5. Dia menulis salah satu surat cinta terbaik yang pernah ada dalam kesusasteraan– sebuah surat tentang jatuh cinta. Pada sebuah surat di tahun 1958, Steinbeck merespon surat yang ditulis putranya, Thom, untuknya. Thom berkata pada ayahnya kalau dia benar-benar jatuh cinta pada seorang gadis bernama Susan (saat itu, Thom tinggal di asrama). Steinbeck meresponnya dengan nada suportif dan jujur di sepanjang surat itu, mempertimbangkan dengan seksama perasaan anaknya namun juga menawarkan nasihat tentang ‘apa yang harus dilakukan’ – pastinya hal yang ingin diketahui oleh setiap anak remaja dalam masa-masa sakit hati karena cinta, “Tujuan dari cinta lah yang terbaik dan paling indah,” katanya pada Thom. “Cobalah untuk hidup dengan mengingat itu.” Ia mengkahiri suratnya dengan meyakinkan putranya, “Dan jangan khawatir akan kehilangan. Jika harus terjadi, maka terjadilah – yang paling penting jangan terburu-buru. Sesuatu yang baik tidak mungkin terlepas darimu.”

*) Diterjemahkan oleh: Regina N. Helnaz

Continue Reading

Inspirasi

Alice Munro: Menulis Harus Disiplin dan Percaya Diri

mm

Published

on

foto: The New York Times

“Saya tidak pernah menunjukkan karya yang masih dalam tahap penyelesaian kepada siapapun”. Hal itu bisa jadi salah satu ungkapan paling rahasia dalam proses kreatif  penerima Penghargaan Nobel Sastra (2013) Alice Munro.

Alice termasuk penulis yang sangat prolifik dengan reputasi tinggi. Seperti Anton Chekhov, Alice tidak pernah menulis novel utuh—namun setiap ceritanya mengandung elemen-elemen novel yang membuatnya terkesan ‘penuh’. Meski karyanya telah diganjar Nobel Sastra, ia kerap mengaku bahwa setiap penulis membutuhkan rasa percari diri lebih. Juga bagaimana menghadapi kritik yang kerap membuat sakit hati.

Edit dan Kritik

Dalam sebuah wawancara dengan Paris Review, Alice mengisahkan pengalaman pentingnya terkait pengeditan yang ‘serius’. Moment itu terjadi ketika cerpennya akan diterbitkan dalam majalah The New Yorker. Menurutnya itu adalah pengalaman sangat serius ketimbang sekedar copyediting yang biasanya sangat sedikit usulan.

“Karena harus ada kesepakatan antara si editor dan saya tentang apa-apa saja yang perlu diganti, dikeluarkan serta ditambahkan ke dalam sebuah karya. Editor saya yang pertama di The New Yorker bernama Chip McGrath dan dia adalah seorang editor handal. Saya sangat terkejut mendapati betapa besar komitmen yang dia berikan terhadap karya saya. Terkadang kami tidak melakukan perubahan besar, tapi ada juga saat di mana dia memberikan arahan yang cukup signifikan kepada saya. Suatu kali saya pernah menulis ulang sebuah cerita pendek berjudul The Turkey Season yang sudah ia beli untuk diterbitkan di The New Yorker. Saya pikir dia akan menerima perubahan yang saya berikan begitu saja, tanpa banyak protes. Namun saya salah. Katanya, ‘Ada beberapa hal dalam revisian ceritamu yang saya suka dan ada juga hal lain yang menurut saya lebih menarik dalam versi draft sebelumnya. Kita lihat saja nanti ya’. Dia tidak pernah memberikan kepastian yang mutlak, karena sebuah cerita selalu punya potensi untuk dikembangkan. Saya rasa metode pendekatan seperti itu cukup manjur dalam menghasilkan versi akhir yang lebih menarik.” Kisah Alice sebagaimana ditayangkan dalam wawancara khususnya bersama Paris Review.

Hal paling penting dalam menulis salah satunya, menurut pengarang Friend of My Youth ini adalah kepercayaan diri. Ia sendiri sering merasa, sebagai penulis perempuan, profesi menulis dianggap tabu.

“Karenanya dalam menulis, saya selalu punya rasa percaya diri yang tinggi—tapi saya juga punya kekhawatiran bahwa rasa percaya diri itu tumbuh di tempat yang tidak seharusnya. Menurut saya, rasa percaya diri yang saya miliki datangnya dari kebodohan saya sendiri. Karena karya saya bukan karya populer, saya tidak pernah tahu bahwa profesi menulis seringkali dianggap tabu bagi kaum wanita ataupun mereka yang datang dari kelas menengah ke bawah. Bila kita tahu kita bisa menulis dengan baik di tengah lingkungan di mana orang-orangnya bahkan merasa kesulitan membaca, tentu saja kita berpikir bahwa bakat yang kita miliki sangatlah spesial.” Ujar penulis Too Much Happiness tersebut.

Sementara itu terkait opini kritikus atas karya penulis, ia berpendapat bahwa hal itu bisa jadi penting bisa jadi tidak. “Sebagai penulis, tak ada yang bisa kita pelajari dari kritik pembaca; tapi kita bisa menuai perasaan sakit hati dengan mudah dari kritik. Bila karya kita dinilai tidak bagus, kita cenderung merasa dipermalukan di depan umum. Meski kita meyakinkan diri bahwa tidak ada kritik yang perlu untuk diperhatikan, namun ujung-ujungnya kita selalu berusaha untuk mencari tahu. Jadi…” katanya dengan nada ambigu.

Disiplin

Menulis membutuhkan disiplin tinggi. Alice mengaku bahwa ia menulis sepanjang hari. Pada pagi hari, hampir 5 jam dan itu berlangsung tanpa libur.

Ia mengisahkan bahwa ketika anak-anak saya masih kecil, ia selalu menyempatkan menulis setelah mereka berangkat sekolah. Bisa dibilang ia bekerja sangat giat di masa tersebut. Ia bersama suaminya memiliki sebuah toko buku, dan bahkan jika gilirannya tiba untuk jaga toko, ia takkan berangkat dari rumah sampai pukul dua belas siang.

“Seharusnya saya membereskan rumah, tapi saya justru banyak menghabiskan waktu menulis.” Kisahnya.

Beberapa tahun kemudian, saat ia tidak lagi bekerja di toko buku, ia akan menulis sampai keluarga pulang untuk makan siang, dan disambung lagi saat mereka keluar rumah sehabis makan siang—sampai sekitar pukul 2.30 siang. Setelah itu ia akan minum secangkir kopi dan membereskan rumah sebelum anak-anak dan suami saya pulang pada malam.

“Sekarang saya menulis setiap pagi, tujuh hari seminggu. Saya mulai menulis pukul 8 dan selesai pada pukul 11. Setelah itu saya akan melakukan hal lain selama seharian penuh. Kecuali saya sedang menyelesaikan draft terakhir sebuah cerita atau saya sangat terdorong untuk menulis sesuatu—pada saat itu saya akan bekerja seharian, dengan sedikit sekali waktu istirahat.” Jelas Alice.

Ketika ditayanyakan padanya apakah dia menulis dengan kerangka tulisan dan akan menepatinya sampai tulisan selesai, Alice tegas menjawab sebaliknya. “Dalam menulis sebuah cerita, saya jarang sekali mengetahui detail plot yang akan terjadi. Bagi saya cerita yang baik selalu mengalami perubahan saat masih dalam proses penulisan.” Katanya.

Contohnya, menurut Alice sendiri,  saat ia sedang memulai sebuah cerita ia menulisnya setiap pagi dan meski menurutnya tulisannya sudah sangat rapi, kerap ada perasaan ia belum sepenuhnya menyukai hasil akhirnya; dan ia berharap, entah kapan, akan mulai menyukainya.

“Biasanya saya harus mengenal cerita yang hendak saya sampaikan sebelum saya mulai menuliskannya. Ketika saya tidak punya jadwal menulis yang tetap, saya terbiasa memikirkan cerita yang ingin saya sampaikan di kepala—maka saat saya menulisnya, saya sudah mengenal betul setiap elemen dalam cerita itu.” Ujar Alice.

Untuk hal itu ia mengaku menuliskan ketidaksukaanya pada tulisannya dalam sebuah buku catatan.

“Saya punya banyak sekali buku catatan berisi tulisan yang semrawut. Saya tidak perduli apa yang saya tulis di dalamnya, karena intinya saya hanya ingin menulis bebas. Saya bukan penulis yang bisa menulis kilat dan menyelesaikan sebuah cerita hanya dengan satu draft saja. Biasanya saya akan melintasi jalur yang salah, sebelum akhirnya saya harus kembali ke titik awal dan memulai perjalanan cerita itu kembali.” Kisahnya. (GBJ/ SC)

Continue Reading

Classic Prose

Trending