Connect with us

Cerpen

Anton Pavlovich Chekhov: Pertimbangan Cinta

mm

Published

on

a

Di dalam kasus pembakaran rumah,empat orang laki-laki Yahudi didakwa. Mereka lantas dinyatakan sebagai gerombolan penjahat, tetapi, menurut saya, itu sama sekali tidak adil. Selama makan siang saya sangat gelisah, saya benar-benar tidak ingat, apa yang telah saya katakan. Anna Alekseevna hanya menggeleng-gelengkan kepalanya..

Oleh: Anton Pavlovich Chekhov | Penerjemah: Ladinata

Nikanor seorang yang  sangat saleh dan memiliki keyakinan religius yang tidak memperbolehkannya hidup dengan cara demikian, dia meminta Pelageya, agar menikah dengannya dan tidak menginginkan cara yang lain, mencerca-cercanya dan bahkan Nikanor memukulnya, manakala ia sedang mabuk, Pelageya bersembunyi di atas dan menangis sesegukkan; Alyokhin dan pelayan lainnya di saat yang sama tidak keluar dari rumah untuk melindunginya, sekiranya memang diperlukan.

Pada makan pagi di hari kedua disuguhkan pastel-pastel yang begitu lezat, udang dan kotelet[1] daging domba; dan ketika kami makan, juru masak Nikanor datang ke atas menanyakan kepada para tamu, apakah yang mereka inginkan untuk makan siang. Nikanor adalah seorang yang berperawakan sedang dengan wajah gempal dan mata berbentuk kecil-kecil, bercukur, dan kelihatan, bahwa kumisnya bukan tercukur, tetapi seperti bekas dicerabuti.

Alyokhin menceritakan, bahwa Pelageya yang cantik telah jatuh cinta pada juru masak tersebut. Oleh karena Nikanor seorang pemabuk dan bertabiat kasar, Pelageya tidak mau menikah dengannya, namun setuju hidup secara begitu. Nikanor seorang yang juga sangat saleh dan memiliki keyakinan religius yang tidak memperbolehkannya hidup dengan cara demikian, dia meminta Pelageya, agar menikah dengannya dan tidak menginginkan cara yang lain, mencerca-cercanya dan bahkan Nikanor memukulnya, manakala ia sedang mabuk, Pelageya bersembunyi di atas dan menangis sesegukkan; Alyokhin dan pelayan lainnya di saat yang sama tidak keluar dari rumah untuk melindunginya, sekiranya memang diperlukan.

Perbincangan mengenai cinta dimulailah.

“Bagaimanakah munculnya cinta,” Alyokhin berkata, “mengapa Pelageya tidak mencintai orang lain, yang lebih wajar untuknya baik dari sifat-sifatnya yang lembut maupun bentuk lahiriahnya, tetapi dia justru mencintai Nikanor, si wajah jelek ini (di sini kami semua menyebut Nikanor dengan si wajah jelek), karena di dalam cinta terdapat masalah-masalah yang mendasar dari kebahagiaan pribadi: semua ini belum dikenal dan semuanya boleh ditafsirkan secara terserah. Sampai saat ini hanya satu kebenaran yang tak dapat dibantah, yang telah dikatakan mengenai cinta dan tentu saja itu adalah rahasia yang bersifat agung, sedang sisanya, yakni yang telah ditulis dan dibicarakan, masih tidak terselesaikan, tetapi hanya merupakan masalah- masalah yang diangkat, yang dibiarkan berhenti tanpa pemecahan. Makanya penafsiran yang dapat dipakai untuk satu kejadian, kelihatannya, sudah tak sesuai lagi untuk sepuluh kejadian yang lainnya dan menurut saya, yang paling baik, hal seperti itu dapat dijelaskan melalui setiap peristiwa secara terpisah, sambil jangan mencoba untuk menyimpulkan. Sebagaimana dokter-dokter pernah berkata, mestilah menggolongkan setiap peristiwa yang berlainan menurut sifat khususnya masing- masing.”

“Tepat sekali,” Burkin menyetujui.

“Kita, orang Rusia, orang-orang berhati lurus, yang memiliki kelemahan terhadap masalah-masalah, yang ditinggalkan tanpa penyelesaian tersebut. Biasanya kita memuisikan cinta, menghiasinya dengan kembang-kembang mawar dan burung bulbul. Kita juga, orang Rusia, menghiasi cinta kita dengan masalah-masalah mendasar tersebut, terlebih lagi kita memilih yang paling tidak menarik dari masalah-masalah itu. Di Moskow[2], ketika masih menjadi seorang mahasiswa, saya punya seorang kawan setia: seorang nyonya jelita, yang apabila setiap kali saya merengkuhnya di dalam pelukan, dia berpikir tentang, berapakah yang akan saya berikan pada tiap bulan dan mengingatkan, berapakah sekarang harga satu pon[3]daging sapi. Begitulah kami, manakala bercinta, justru tidak berhenti memberikan pertanyaan-pertanyaan pada diri sendiri: jujurkah ini atau tidak jujur, cendikia ataukah pandir, yang dirujuk oleh cinta itu dan lain sebagainya. Baikkah itu atau tidak baik, saya tidak mengetahui. Akan tetapi, bahwa itu mengusik, tak menyenangkan dan menjengkelkan: saya tahu.”

Kelihatannya sama, dia ingin menceritakan sesuatu. Bagi orang-orang yang hidup sendiri, selalu terjadi sesuatu yang demikian di dalam jiwanya, yakni mereka akan bercerita dengan suka hati. Di kota, para bujangan secara sengaja pergi ke tempat pemandian umum dan ke restoran-restoran hanya untuk berbincang-bincang dan terkadang mereka menceritakan peristiwa-peristiwa yang begitu menarik kepada para pekerja di tempat pemandian umum dan para pelayan restoran tersebut; di desa pun para bujangan biasanya mencurahkan isi hati mereka di hadapan tamu-tamunya. Sekarang langit yang mendung dan pohon-pohon yang basah karena hujan, terpampang di jendela, dalam cuaca seperti ini orang tidak akan pergi kemana-mana dan bukanlah suatu masalah untuk tinggal lebih lama, bercerita dengan segera dan mendengarkan.

“Saya tinggal di Sofino[4] dan sudah lama mengurus pertanian,” Alyokhin memulai, “sejak menamatkan universitas. Berdasarkan pada pendidikan, saya orang yang menghindari pekerjaan kasar. Berdasarkan pada kehendak hati, mestinya saya jadi orang kantoran. Akan tetapi, di perkebunan, ketika saya datang ke sini ada tagihan yang cukup besar ditujukan pada saya, karena ayah saya sebagian besar berhutang untuk membiayai kuliah saya yang agak mahal, maka saya memutuskan untuk tidak pergi dari sini dan akan bekerja selama saya belum bisa membayar hutang tersebut. Saya memutuskan begitu dan mulai bekerja di sini, terus terang, bukannya tanpa rasa yang menjijikkan. Tanah di sini tak begitu layak menghasilkan, maka agar pertanian tidak jatuh pailit, semestinyalah mempekerjakan petani dengan sistem persahayaan atau sistem kontrak yang maksudnya hampir sama-sama juga, atau, bekerja membanting tulang, seperti yang dilakukan para petani, yaitu pergi sendiri ke ladang dengan seluruh anggota keluarga. Di sini tidak ada tanah tengah. Akan tetapi pada waktu itu, saya tidak bermaksud sampai pada hal-hal yang remeh seperti itu. Saya tidak membiarkan sejumput tanah pun dalam ketenangan, saya mengerahkan semua petani laki-laki dan perempuan dari desa sebelah. Pekerjaan saya di sini berkembang pesat; saya sendiri pun membajak, menyemai, memotong dan manakala saya merasa jemu, saya mengernyitkan dahi dengan rasa mual: bagai kucing kampung, yang karena saking laparnya makan ketimun di sebuah kebun; badan saya berasa nyeri dan saya tidur di atas kaki. Pada kali yang pertamalah tampak bagi saya, bahwa saya mampu secara mudah mensenyawakan kehidupan bekerja ini dengan kewajaran kultural; untuk itu yang berharga hanyalah, pikir saya, bertumpu pada hidup dengan aturan eksplisit yang dikenal. Di sini saya berdiam pada bagian atas, di kamar yang depan dan mengharuskan begini: bahwa sesudah makan pagi dan siang, saya mestilah diberi kopi dengan liker manis dan sambil berbaring tidur saya membaca Vestnik Europy[5]pada malam harinya. Namun entah mengapa muncul pendeta kita yang tua, bapak Ivan, dan dalam sekali teguk meminum semua liker manis saya, sedang Vestnik Europy pun melayang ke anak perempuannya, karena pada musim panas, terutama pada saat memotong jerami, saya tidak lagi sempat berbaring di tempat tidur dan sayapun tidur di lumbung di atas kereta salju atau di suatu tempat di gardu penjaga hutan: bagaimana saya bisa benar-benar membaca di sini? Berangsur-angsur saya pindah ke bawah, mulai makan siang di dapur umum dan hanya seorang pelayan yang tinggal pada saya dari kemewahan masa lalu, yang dulunya melayani ayah saya dan saya tak sampai hati untuk memberhentikannya.

Di sini pada tahun-tahun pertama pula saya dipilih ke pertemuan an honorary justice of the peace[6]. Kadang-kadang memang ada kesempatan untuk pergi ke kota dan mengambil bagian dalam sidang-sidang a convention of magistrates[7]dan district court[8]; ini menghibur hati saya. Jika engkau tinggal di sini selama kira-kira dua-tiga bulan tanpa pernah beristirahat, apalagi pada musim dingin, maka engkau pada akhirnya akan mulai merasa rindu terhadap black frock coat. Dan frock coat[9] itu, full-dress coat[10] dan tail coats galore[11], semua ahli hukum, orang-orang yang mendapat pendidikan umum yang baik, yakni orang-orang, yang dengan siapa kita berbicara; berkumpul di dalam district court. Dibanding sesudah tidur di atas kereta salju, sesudah makan di dapur umum di atas bangku, maka duduk dengan memakai baju bersih, sepatu tipis, dengan rantai di atas dada, itu adalah sungguh-sungguh suatu kemewahan!

Di kota saya diterima dengan penuh keramahan, dengan suka hati saya berkenalan. Akan tetapi dari semua kenalan yang paling kokoh dan memang yang paling menyenangkan bagi saya adalah berkenalan dengan Luganovich, kepala district court. Anda berdua mengenalnya: manusia berkepribadian elegan. Itu terjadi tepat sesudah selesainya kasus pembakaran rumah yang termasyur, yakni setelah pemeriksaan pengadilan yang berlangsung selama dua hari, kami berdua ketika itu sama-sama sudah penat. Luganovich menatap saya dan berkata:

“Anda tahu tidak? Marilah ke rumah saya untuk makan siang.”

Itu terjadi secara spontan, karena dengan Luganovich saya tidak seberapa kenal, kecuali hanya yang bertalian dengan hal resmi dan saya tidak sekali pun pernah ke rumahnya. Hanya sebentar saya masuk ke dalam hotel, tempat saya menginap; berganti pakaian dan sesudah itu berangkat untuk makan siang. Dan di sana saya diperkenalkan dengan Anna Alekseevna, istri Luganovich. Waktu itu dia masih sangatlah muda, usianya tidak lebih tua dari 22 tahun, setengah tahun sebelum masa itu dia sudah melahirkan anaknya yang pertama. Suatu kejadian yang sudah lalu dan sekarang saya merasa sukar untuk memastikan, apakah saya benar-benar sangat menyukai keluarbiasaan yang ada padanya, namun pada waktu itu juga, saat makan siang, segalanya bertambah nyata; saya melihat perempuan, yang cemerlang, baik budi, cerdas, memikat hati, seorang wanita, yang dulu belum pernah saya jumpai dan sekelebatan saya merasakan sesuatu yang dekat, sesuatu yang pernah dikenal, tepatnya profil wajah itu, sifat-sifat yang ramah tamah, mata yang kelihatan cerdik, yang suatu ketika, pada masa kanak-kanak pernah saya lihat, di dalam album, yang ditaruh pada lemari laci milik ibu saya.

Di dalam kasus pembakaran rumah,empat orang laki-laki Yahudi didakwa. Mereka lantas dinyatakan sebagai gerombolan penjahat, tetapi, menurut saya, itu sama sekali tidak adil. Selama makan siang saya sangat gelisah, saya benar-benar tidak ingat, apa yang telah saya katakan. Anna Alekseevna hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dan berkata kepada suaminya:

“Dmitry[12], bagaimana hal semacam itu bisa terjadi?”

Luganovich adalah seorang yang baik hati, salah satu dari orang-orang yang berjiwa lurus, yang dengan gigih berpegang pada opini, bahwa jika ada orang diseret ke muka pengadilan, maka ia memang jadi bersalah juga dan pengungkapan suatu kesangsian di dalam hukum kebenaran tidak boleh lewat cara yang lain, seperti halnya di dalam sistem yuridis, tertera di atas kertas dan agaknya bukanlah pada waktu makan siang serta bukan pula dalam sebuah perbincangan yang bercorak pribadi.

“Saya dan kamu tidak membakar rumah,” katanya dengan lunak, “dan begitu pun juga, kita tidak diadili, tidak dipenjarakan ke dalam bui.”

Dan keduanya, suami istri itu, berupaya agar saya makan dan minum lebih banyak lagi, melalui beberapa hal yang remeh, misalnya bagaimana mereka berdua bersama-sama menyeduh kopi dan bagaimana mereka satu sama lainnya saling cepat memahami tanpa mengatakan apa-apa, saya dapat menyimpulkan, bahwa mereka berdua hidupnya rukun, bahagia dan menyukai tamu. Setelah makan siang mereka bermain piano dengan berpasangan, kemudian setelah langit jadi gelap, saya kembali ke penginapan. Itu terjadi di awal musim semi. Kemudian saya menghabiskan musim panas tanpa henti-henti di Sofino, bahkan saya tidak pernah memikirkan kota, namun ingatan mengenai seorang wanita dengan rambut pirang terawat rapih tertinggal pada saya di sepanjang hari, saya tidak memikirkannya, tetapi bayangan tipisnya seolah-olah bersemayam di dalam jiwa saya.

Pada musim gugur yang panjang, di kota diadakan sebuah pertunjukkan dengan tujuan amal. Saya masuk ke dalam ruang kegubernuran (saya diundang ke sana saat istirahat), saya melihat, Anna Alekseevna di dekat istri gubernur dan sekali lagi perasaan yang paling tak bisa dibantah mengaliri kecantikan yang mengesankan dan biji mata yang lembut serta manis.

Kami duduk bersebelahan, kemudian menuju serambi.

“Anda tampaknya kurusan,” katanya, “Anda sakit?”

“Ya. Rasanya pundak saya kedinginan dan buruknya saya tidur di udara berhujan.”

“Kelihatannya Anda tidak bersemangat. Saat itu, pada musim semi, ketika Anda datang berkunjung untuk makan siang, Anda tampak lebih muda, lebih segar. Anda waktu itu penuh semangat dan banyak bicara, begitu menarik dan terus terang, saya bahkan sedikit terpikat. Entah mengapa di sepanjang tahun Anda sering muncul di dalam ingatan dan hari ini, justru waktu saya berniat pergi ke teater, saya merasa, bahwa saya akan bertemu dengan Anda.”

Dan dia tertawa.

“Akan tetapi sekarang Anda tidak bersemangat,” ia mengulangi, “itu menjadikan Anda tampak lebih tua.”

Keesokkan harinya saya makan pagi di rumah Luganovich, setelah itu mereka pergi ke vila untuk mengatur segala yang menyangkut musim dingin dan saya pun bersama mereka. Saya kembali ke kota dengan mereka dan pada pertengahan malam saya minum teh di rumah mereka dalam suasana yang sepi, penuh kekeluargaan, ketika tempat pembakaran menyala dan seorang ibu muda yang berjalan-jalan melihat, apakah anak perempuannya sudah tidur. Dan sesudah itu pada setiap kunjungan, saya pasti mampir ke rumah Luganovich. Mereka membiasakannya pada saya dan saya jadi terbiasa. Saya biasanya masuk tanpa perlu melapor, seperti layaknya orang rumah.

“Siapa di sana?” terdengar sebuah suara yang bagi saya terasa begitu indah dari kamar yang agak jauh.

“Itu Pavel Konstantinich[13],” jawab perempuan pelayan kamar atau mungkin pengasuh sang anak.

Anna Alekseevna keluar menghampiri saya dengan wajah yang prihatin dan setiap kali ia bertanya:

“Mengapa Anda begitu lama tidak mampir? Apa terjadi sesuatu?”

Sinar matanya, tangannya yang elegan dan halus: yang dia angsurkan kepada saya, pakaian rumahnya, gaya rambut, bunyi suara dan langkah-langkah kakinya setiap saat memancarkan pada saya segala kesan mengenai sesuatu yang baru, yang luar biasa di kehidupan saya dan yang bersifat fundamental. Kami lama berbincang-bincang dan lama juga berdiam-diam sambil memikirkan masing-masing mengenai diri sendiri atau dia memainkan piano pula untuk saya. Seandainya di rumah tidak ada seorang pun, saya akan tetap tinggal dan menanti, bercakap-cakap dengan si pengasuh, bermain-main dengan anak Anna Alekseevna ataupun rebahan di kamar di atas dipan buatan Turki dan membaca surat kabar dan jika Anna Alekseevna kembali, maka saya akan menjumpainya di ruang depan, mengambil alih segala belanjaannya dan entah mengapa saya membawa semua belanjaan itu setiap kali dengan rasa cinta yang sangat, dengan rasa gembira yang sangat: seperti bocah saja.

Maka ada pepatah: jika perempuan tidak memiliki kesibukan, maka ia akan membeli anak babi. Jika keluarga Luganovich tidak memiliki kesibukan, maka mereka akan berkawan dengan saya. Seandainya saya lama tidak berkunjung ke kota, maka saya tentunya sedang sakit atau sesuatu sedang menimpa saya dan mereka berdua begitu khawatir. Mereka khawatir, bahwa saya seorang yang berpendidikan, yang mengetahui beberapa bahasa asing dan selain itu mempelajari ilmu pengetahuan atau karya-karya susastra, tinggal di desa, bagai seekor bajing di atas putaran roda, banyak bekerja, namun selalu tidak mempunyai uang sepeser pun. Bagi mereka kelihatannya, saya menderita dan bila saya berbicara, tersenyum, makan, maka semua itu hanya untuk menyelimuti penderitaan saya, bahkan di saat-saat yang gembira, ketika saya merasa sedang senang, saya merasakan tatapan mata mereka yang menyelidik. Mereka luar biasa pilunya, manakala kesulitan benar-benar menimpa saya, manakala penagih apa saja menekan saya atau jumlah uang yang tidak mencukupi untuk menutupi pembayaran yang waktunya telah ditetapkan dengan segera; keduanya, suami istri itu, berbisik-bisik di dekat jendela, kemudian Luganovich menghampiri saya dan dengan wajah yang terlihat serius berkata:

“Jika Anda, Pavel Konstantinich, sekarang-sekarang ini memerlukan uang, saya dan istri saya memohon pada Anda, agar tidak usah merasa sungkan dan memakainya dari kami.”

Dan kedua kupingnya jadi memerah, karena gelisah. Namun kembali terjadi, persis sama dengan yang tadi, mereka berbisik-bisik di dekat jendela, Luganovich menghampiri saya dengan kuping berwarna merah dan berkata:

“Saya dan istri saya dengan amat sangat meminta Anda, agar mau menerima pemberian kami ini.”

Dan dia memberikan mata rantai manset, selepah atau lampu meja dan untuk semua itu dari desa, kepada mereka, saya mengirimkan unggas, mentega dan kembang-kembang. Harus dikatakan, secara sambil lewat, mereka berdua adalah orang-orang berpunya. Pada saat pertama kalinya saya sering meminjam dan saya bukan orang yang begitu suka pilih-pilih, saya meminjam hanya di tempat mana yang memungkinkan, akan tetapi tidak ada kekuatan apa pun juga yang dapat memaksa saya untuk meminjam pada keluarga Luganovich. Ya, apa yang bisa dikatakan mengenai hal ini!

Saya adalah orang yang kurang beruntung. Baik di rumah, di ladang, maupun di lumbung saya masih memikirkan Anna Alekseevna, saya berusaha memaklumi rahasia seorang wanita muda, yang cantik dan pintar, yang menikahi seseorang yang kurang menarik, nyaris sudah seperti lelaki tua (usia suaminya lebih dari 40 tahun), dan punya anak darinya. Saya berusaha memaklumi rahasia seorang laki-laki yang kurang begitu menarik, seseorang yang bersifat penuh kebajikan, seseorang yang berjiwa sederhana, yang berhitung dengan pikiran sehat yang menjemukan; di pesta-pesta dansa dan pesta malam laki-laki yang tak bersemangat dan tidak berguna itu bergaul di sekitaran orang-orang berwibawa dengan air muka tunduk dan bersikap tidak pedulian, seperti seekor domba yang di bawa ke sana untuk di jual, meskipun demikian, dia meyakini hak-haknya sendiri untuk bahagia dan memperoleh anak dari Anna Alekseevna dan saya berusaha memahami mengapa Anna Alekseevna justru berjumpa dengan Luganovich, bukan dengan saya dan buat apa ini mesti terjadi, adalah untuk suatu kesalahan yang begitu mengerikan, yang muncul di dalam perikehidupan kami.

Dan setiap kali saya ke kota, setiap melalui sinar matanya, saya melihat, bahwasanya dia menanti; dia sendiri mengakuinya kepada saya: sedari pagi dia memiliki sesuatu rasa yang istimewa, dia telah menduga, bahwa saya akan datang. Kami berbicara lama-lama, berdiam lama-lama, namun kami tidak saling mengaku cinta dan menyembunyikannya dengan rasa takut-takut, dengan rasa cemburu. Kami merasa takut, kalau semua itu akan membuka rahasia kami masing-masing terhadap diri sendiri, untuk apakah cinta kami mampu berjalan seandainya kami tidak memiliki kekuatan yang cukup untuk memperjuangkannya; kelihatannya bagi saya jadi tidak masuk akal, bahwa cinta saya yang muram dan sunyi dengan tiba-tiba membungkam secara kasar kebahagiaan yang mengaliri hidup suaminya, sang anak, segala isi rumah itu, tempat saya merasa begitu dicintai dan begitu dipercayai. Apakah itu jujur? Seandainya dia mau turut dengan saya, ke mana? Ke manakah saya bisa membawa dia? Itu akan menjadi lain masalah, sekiranya saya memiliki kehidupan yang indah dan menarik, seandainya saya, misalnya, berjuang untuk membebaskan negeri sendiri atau menjadi seorang sarjana ternama, aktor, pelukis, tetapi, kalian tahu, saya bukanlah orang yang seperti itu. Jadi saya hanya akan membawanya dari satu kehidupan yang membosankan ke dalam kehidupan lain yang sama-sama membosankan atau bahkan lebih buruk dari itu. Dan berapa lamakah kebahagiaan kami akan berlangsung? Apakah yang akan terjadi dengannya, jika saya jatuh sakit, meninggal dunia atau yang paling sederhana kalau kami tidak saling mencintai lagi satu sama lainnya?

Dan Anna Alekseevna, rupa-rupanya, mempertimbangkan perihal yang sama. Dia memikirkan tentang suaminya, anaknya dan ibunya yang menyukai suaminya seperti anaknya sendiri. Apabila dia mencurahkan perasaannya sendiri, maka itu menjadikan ia berdusta atau juga berkata yang benar, tetapi di dalam posisinya yang sekarang kedua-duanya sama-sama mengerikan dan tidaklah pantas. Dan dia disiksa oleh pertanyaan: apatah cintanya membawa kebahagiaan bagi saya, apatah dia tidak mempersulit hidup saya dan apatah tanpa rasa bahagia, hidup saya menjadi susah, dipenuhi segala kemalangan? Tampaknya Anna Alekseevna merasa, bahwa dia sudah tidak cukup muda lagi untuk saya, tidak cukup lagi rajinnya dan enerjiknya untuk memulai kehidupan yang baru dan dia berbicara dengan suaminya, bahwa saya mestilah kawin dengan seorang wanita yang pintar dan sepadan, yang akan menjadi seorang ibu rumah tangga yang baik, yang merupakan partner. Dan dengan secepatnya dia menambahi, bahwa di seluruh pelosok kota wanita yang begitu itu sulit sekali dijumpai.

Tahun-tahun terus berlalu. Anna Alekseevna telah mempunyai dua orang anak. Ketika saya berkunjung ke rumah Luganovich, seorang pelayan tersenyum dengan ramahnya, anak-anak menjerit meneriakkan, bahwasanya paman Pavel Konstantinich datang berkunjung dan mereka bergelayutan pada leher saya; keduanya merasa gembira. Mereka tidak mengerti, apakah yang berkecamuk di dalam jiwa saya; mereka pikir, saya gembira juga. Keduanya melihat sifat-sifat insan berbudi pada saya. Anak-anak yang mulai akil baliq itu merasa, bahwa di sepanjang kamar berjalan insan yang mulia dan sifat mulia ini memunculkan suatu daya tarik yang spesifik pada sikap mereka terhadap saya, persisnya terhadap keberadaan saya dan perikehidupan mereka yang menjadi lebih bersih dan indah. Saya dan Anna Alekseevna bersama-sama pergi ke teater, selalu berjalan kaki; kami duduk bersebelahan di atas bangku, pundak kami bersentuhan, dengan diam-diam saya mengambil binokel[14] dari tangannya, pada saat itu pula saya merasakan, bahwa dia teramat dekat dengan saya, bahwa dia adalah milik saya, bahwa kami tidaklah mungkin hidup tanpa satu sama lainnya, akan tetapi, lantaran adanya suatu bentrokan yang aneh, sekeluarnya dari teater, kami saling mengucapkan selamat jalan dan bersimpangan, bagai orang lain. Sementara di kota orang-orang sudah membicarakan kami entah mengenai apa, namun dari semuanya, tidak satu pun kata yang mengandung kebenaran.

Pada tahun-tahun belakangan ini Anna Alekseevna jadi lebih sering berkunjung, kadang kepada ibunya, kadang ke saudara perempuannya; perasaan tidak suka tengah menerpa hatinya, kesadaran terhadap hidup yang berakhlak busuk dan tidak memuaskan sedang menghampirinya, manakala ia tidak mempunyai keinginan untuk melihat pada, baik suaminya maupun anak-anaknya. Dia sudah melakukan terapi lantaran rasa gelisah yang sangat.

Kami berdiam diri dan berdiam, sebaliknya saat seperti orang asing dia merasakan suatu kejengkelan yang aneh untuk menentang saya; apa pun hal yang saya katakan, dia sudah tidak lagi setuju dan jika saya berdebat, maka dia akan mengambil sudut yang berlawanan dengan saya. Kalaulah saya menjatuhkan sesuatu barang, maka dengan dingin dia berkata:

“Saya katakan selamat untuk Anda.”

Jika saat pergi ke teater, saya lupa membawa binokel, maka dia kemudian berkata:

“Saya sudah tahu, bahwa Anda memang akan lupa.”

Beruntung atau tidak beruntung, pada kehidupan kami tidak terjadi apa-apa, tidak berakhir dengan pasti. Waktu berpisah datang, karena Luganovich diangkat menjadi seorang kepala di guberniya[15] bagian barat. Dengan demikian segala barang furniture, kuda-kuda dan vila mestilah dijual. Ketika kami pergi mengunjungi vila dan kemudian pulang kembali, kami menoleh untuk melihat taman dan atap berwarna hijau buat penghabisan kalinya, maka segalanya jadi menyedihkan dan saya mengerti, bahwa waktunya sudah tiba untuk mengucapkan selamat jalan bukan hanya dengan sebuah vila. Keputusan telah diambil, bahwa pada Agustus akhir kami akan mengantarkan Anna Alekseevna ke Krim, ke tempat mana dokter-dokter mengirimnya dan sebentar lagi Luganovich akan pergi dengan anak-anak ke guberniya bagian barat.

Kami mengantarkan Anna Alekseevna di dalam kerumunan yang padat. Ketika dia telah berpamitan dengan suami dan anak-anaknya, maka tinggallah waktu sesaat sampai bunyi lonceng yang ketiga, saya berlari masuk menjumpainya di kompartemen[16] untuk meletakkan ke atas rak penyimpanan salah satu dari tas-tasnya, yang hampir-hampir dia lupakan dan saya harus mengucapkan selamat jalan. Saat di sana, di dalam kompartemen, sinar mata kami saling berjumpa, daya kehidupan di dalamnya sudah meninggalkan kami berdua, saya mendekapnya, dia menjatuhkan wajahnya ke dada saya dan airmata mulai mengalir dari kedua matanya; menyelimuti wajahnya, pundak, tangan, yang jadi basah lantaran airmata. O, betapa malangnya dia dan saya! Saya mengungkapkan cinta kepadanya dan dengan kepedihan yang ada di dalam hati, saya mengerti, bahwa ketika engkau mencintai, maka segala pertimbangan mengenai cinta haruslah berasal dari sesuatu yang lebih tinggi, lebih fundamental, dari sekedar bahagia ataukah tidak bahagia, berdosa ataukah bermoral di dalam pola berpikir kita, atau tidak perlu mempertimbangkannya sama sekali.

Saya menciumnya untuk yang terakhir kali, menggenggam tangannya dan kami pun berpisah: buat selama-lamanya. Kereta sudah berangkat. Saya duduk di kompartemenyang sebelah, kompartemen itu kosong dan sampai di stasiun yang pertama saya duduk di sana dan menangis. Kemudian saya pulang ke Sofino dengan berjalan kaki.

Selama Alyokhin bercerita, hujan telah berhenti dan matahari mulai tampak. Burkin dan Ivan Ivanich keluar menuju ke balkon; dari sana terlihat suatu pemandangan yang indah ke arah taman dan bentangan sungai, yang sekarang berkilauan di bawah sinar matahari, bagaikan sebuah cermin. Mereka berdua sama-sama kagum pada hamparan pemandangan tersebut dan pada saat yang bersamaan mereka menyayangkan, bahwa laki-laki dengan mata yang memancarkan kebaikan dan kecerdasan itu, yang bercerita kepada mereka dengan hati yang begitu tulus, sesungguhnya di sini, di perkebunan yang sangat luas ini, berjungkir-balik, bagaikan seekor bajing di atas putaran roda dan dia tidak mempelajari ilmu pengetahuan atau sesuatu yang lain, yang akan membuat hidupnya jadi menyenangkan dan mereka juga, rupanya, memikirkan mengenai, bagaimana berdukanya wajah seorang perempuan muda, manakala Alyokhin mengucapkan selamat jalan kepadanya di dalam sebuah kompartemen dan kemudian menciumnya di wajah dan di pundaknya. Di kota mereka berdua pernah melihatnya, Burkin bahkan berkenalan dengannya dan dia berpendapat, bahwasanya Anna Alekseevna adalah seorang wanita yang memang cantik. (*)

 

1898

 

Sumber            : Iz russkoy khudozhestvennoy prozy, Russky Yazyk Publishers, Moscow, 1989

Judul asli         : O lyubvi (dibaca A lyubvi)

Penerjemah      : Ladinata, staf pengajar jurusan bahasa dan sastra Rusia FIB Unpad

*Foto Cover    : kawanku.magz

[1] Makanan khas Rusia yang terbuat dari daging cacah halus sebagai bahan utama dan dibentuk seperti perkedel, oval kepipihan

[2] Ibukota Rusia sekarang. Kota ini dikenal pertama kali dari manuskrip tahun 1147. Yury Dolgoruky dianggap sebagai pendirinya. Anggapan terbaru mengemukakan, bahwa seseorang bernama Kuzma, yang sebenarnya mendirikan kota tersebut

[3] Ukuran berat Rusia kuno, setara dengan 405,5 gram

[4] Terletak di Boksitogorsky rayon, Leningradskaya oblast(region)

[5] European Herald. Jurnal bulanan mengenai masalah sosial-politik dan sastra, terbit di Saint Petersburg (1866-1918)

[6] Peradilan kehormatan setempat: berdasarkan reformasi pengadilan tahun 1864, di dalam setiap Uyezd, selain ada hakim yang mengurus kasus minor sipil dan kriminal, terdapat juga jabatan hakim kehormatan yang menjalankan fungsi-fungsi hakim yang tidak hadir

[7] Pertemuan para hakim, yang diberi wewenang untuk merevisi keputusan hakim-hakim atas permintaan salah satu pihak yang bersengketa

[8] Pengadilan distrik: pada masa sebelum revolusi Rusia merupakan pengadilan pertama untuk kasus sipil dan kriminal

[9] Jenis jas panjang berkancing ganda, biasanya sampai ke pinggang

[10] Pakaian seragam sipil

[11] Jas panjang berbuntut lancip

[12] Dmitry Luganovich

[13] Pavel Konstantinich Alyokhin

[14] Semacam teropong berlensa, untuk melihat jauh lebih jelas di dalam teater

[15] Provinsi, divisi teritorial dan administratif utama di Rusia (1708-1929). Sekarang diubah menjadi oblast (region) dan kray (territory)

[16] Ruang duduk tersendiri bagi penumpang kereta api

Continue Reading
Advertisement

Cerpen

Janin Badai

mm

Published

on

Oleh Ken Hanggara

Di perutku badai asing tumbuh dan beranak-pinak. Hitam, garang, dan liar. Jika ia mengamuk, badanku berputar seratus delapan puluh derajat; kepala di bawah, kaki melayang. Ketika badai itu reda, hidupku hambar. Dan saat ia marah, aku mau mati saja.

“Badai asing melukaiku,” ujarku tersengal-sengal, “jadi kubunuh dia.”

Tapi, kata Ibu, kalau kamu bunuh badai di perutmu, bisa saja kamu yang mati. Aku takut dan belum tentu Tuhan menaruhku di surga kalau aku mati. Tapi badai ini sudah keterlaluan. Di perutku ia menggila. Tak tahu apa yang badai itu mau atau bagaimana ia beraktivitas hingga seolah-olah kulihat gambaran: lumatan nasi di lambung campur baur dengan cairan asam berlebih akibat derasnya badai.

Selama badai marah, aku melingkar di kasur, berputar-putar mirip gasing. Kadang diam dan memejamkan mata, atau mengejan dengan maksud mengusir badai itu, dengan harapan bisa kentut, meski ternyata tidak. Sakit luar biasa!

Ibu melarangku mengejan begitu, karena badai dikhawatirkan keluar lewat lubang kentut dengan kekuatan superbesar dan membikin gubuk kami roboh. Kalau rumah ini hancur, mau tinggal di mana kita? Mau menggelandang, ha?

Kubantah kata-kata Ibu. Kita tidak akan menggelandang dan rumah jelek ini tidak mungkin roboh hanya karena kentut. Tidak masuk akal. Bagaimana bisa badai dari perut gadis kurus sepertiku membuat bangunan ini roboh?

Tapi, untuk satu kata ‘logis’, badai yang tumbuh dan beranak-pinak di perut saja tidak bisa dibilang logis. Ia antara ada dan tiada. Bagi orang waras yang tidak tahu, aku pasti dianggap sinting.

“Kamu yakin ada badai di perutmu?” tanya temanku.

“Tidak sih. Di saat tertentu aku tenang. Tapi di saat lain aku mengejan-ngejan, atau berputar-putar seperti gasing. Kukira itu pertanda bahwa badai asing ini mengamuk.”

“Bagaimana kamu menyimpulkan kalau itu adalah badai?”

“Soalnya perutku seperti diputar, digiling. Kamu tahu digiling, nggak?”

Temanku tidak bisa berkata lain selain menyuruhku ke dokter. Anak ini sudah tidak beres, begitu katanya berulang-ulang, diam-diam, bisik-bisik ke yang lain; sayangnya aku dengar, Tolol!

Kataku, pergi ke dokter bukan solusi, meskipun Ibu menyarankan hal yang sama. Barangkali ahli meteorologi bisa memberiku penjelasan mengapa ada badai di perut manusia, sebuah badai yang tidak diketahui asal usulnya, yang tumbuh, berkembang, mengamuk, dan beranak-pinak di sana. Itulah kenapa kusebut dia ‘badai asing’.

Pertanyaan lain, yang sesungguhnya juga kutanyakan: Bagaimana aku yakin badai asing beranak-pinak di perutku? Aku tidak tahu. Aku semakin bingung setelah ada satu malam di mana badai itu menangisi anak-anaknya. Dia tenang dalam kondisi menangis, seperti danau di tengah hutan tanpa seekor binatang atau manusia atau pengaruh musim yang menimbulkan riak di permukaan air. Sikap menangis wanita lemah.

“Kalau badai itu menangis, aku ikut menangis. Tapi aku bingung, buat apa badai menangis? Apa badai asing ini bernyawa? Apa dia makhluk, seperti hewan, tumbuhan, manusia, jin, malaikat…”

Kurasa ini petunjuk Tuhan. Mungkin badai di perutku termasuk makhluk semacam malaikat—atau jin, tapi beda jenis. Kalau benar, ini penemuan besar. Mungkin sudah takdirnya begitu, sehingga aku lega karena ada alasan di balik misteri badai di perutku. Secara teori, badai ini tidak cuma bisa menembus benda material sebagaimana malaikat atau jin, tetapi juga memiliki akal dan nafsu dalam dirinya.

Saat pertama kuberi tahu soal badai di perutku, Ibu diam. Beberapa jam Ibu tidak bicara dan sekalinya bersuara, dia bilang tidak terima saat kukatakan badai asing bisa beranak-pinak karena dia satu dari sekian jenis makhluk di dunia ini.

“Kamu bicara apa? ‘Kan sudah Ibu bilang, kamu bawa saja ke dokter!”

“Ibu tidak tahu badai asing ini makhluk berbahaya! Dokter tidak bisa melawannya. Kalau bisa, tidak satu pun dokter di dunia ini yang meninggal!”

“Kamu ini kacau, ya!”

“Memang, Bu. Kalau badai ini ngamuk, badanku berputar seratus delapan puluh derajat; kepala di bawah, kaki di atas. Ibu tahu, nggak? Benar-benar biadab! Beraninya main di perut. Coba berhadapan langsung, sudah kubunuh dia!”

“Ya Tuhan, cobaan apa ini!”

Ibu pergi dan membanting pintu.

Setelah itu Ibu jarang bicara denganku dan aku bergelut dengan sakit luar biasa akibat badai dalam perut yang aneh dan lama-lama menakutkan. Ini pasti ada akhirnya. Tapi, betapapun kuatnya keyakinan bahwa si badai asing makhluk bernyawa dan kelak akan mati sebagaimana janji Tuhan bahwa setiap yang berjiwa pasti akan diambil, aku tidak tenang. Badai ini, jika beranak-pinak, suatu saat memenuhi seluruh bagian perut; ini juga ada waktunya. Kubayangkan lambung, usus, dan sebagainya, tak lagi cukup menampung hal lain selain badai asing dan anak turunnya. Dan badanku mungkin meledak!

Yang paling kuingat dari malam penemuanku, badai ini menangis dan memohon agar anak-anaknya tidak nakal dan kabur. Dia rela berbagi tubuh dengan mereka: “Satu sisi di puncak untukmu, Mata, Akal, Telinga. Sisi di samping untuk kalian, Jantung, Hati, Perasaan. Dan bawah badanku bagimu, Nafsu, Bencana, Aib…”

Dasar sinting! Ibu macam apa itu? Akal, perasaan, nafsu…? Jangan sok bijak, Setan! Tujuan dia menetap di perutku karena ingin menyiksaku. Mungkin badai ini semacam benalu, yang numpang hidup dalam tubuh makhluk lain, tapi tak sedikit pun memberi manfaat.

“Ya! Itulah dirimu, wahai badai asing!”

Aku sering berputar. Tubuhku tak lagi melingkar. Aku bergelinjang seperti belut di penggorengan. Aku mengejan sekuat tenaga seperti membuang tinja sebesar buaya. Ketika badai reda, tubuhku normal, tetapi pikiranku lari ke mana-mana. Aku tidak bisa menebak bagaimana mulanya badai asing tumbuh. Sesuatu yang ada pasti datang dari ketiadaan. Dulu tidak ada badai di perutku, tapi sejak lima bulan lalu, sejak badai itu datang, hidupku mulai berbeda.

“Kukira kamu perlu ke ahli meteorologi,” kata teman yang sama. “Karena asal-usul badai bisa dilacak. Badai di perutmu mungkin sama dengan badai umumnya. Mungkin ada perubahan atmosfer dalam tubuhmu, meski aku tidak yakin.”

“Dia bukan badai biasa. Dia makhluk seperti jin dan malaikat.”

“Kamu selalu sok tahu!”

“Ya.”

“Dari mana kamu tahu?”

“Aku tahu karena dia beranak-pinak dan menangis, dan aku juga tahu dia ingin membagi raganya untuk anak-anaknya.”

“Tak masuk akal!”

“Memangnya masuk akal, ada badai dalam perutku? Bisa bayangkan?!”

Aku mencoba cara lain, yang sudah jadi keputusan akhir. Aku tidak tahan lebih lama. Setiap badai asing mengamuk, badanku tidak lagi berputar seratus delapan puluh derajat, atau mengejan, atau menggelinjang, atau melingkar dan mengerang di kasur, tapi aku lari ke sana kemari persis orang gila, karena amukan badai sangat menyakitkan!

Aku harus bunuh badai itu.

Aku tidak yakin diriku tidak terluka oleh rencana ini, tapi badai itu bisa mati kalau aku tahu titik pusatnya.

Jadi begini, saat badai tenang, kuraba perutku, kupijat, lalu kuremas bagian-bagian tertentu. Di sanalah titik pusatnya. Aku tidak menunggu badai mengamuk. Selagi ada kesempatan, ia kubunuh pada detik itu. Bisa dengan pisau atau pedang panjang, sehingga aku menusuknya melalui pusarku dan tembus sampai punggung. Aku tak punya pedang dan tak perlu berpikir rumit untuk sekadar membunuh badai dalam perutmu, bukan?

Aku hanya perlu mencari tempat di mana ia bisa kukubur, setelah kubunuh nanti. Aku percaya kematian badai membuatnya mudah kukeluarkan. Tidak lewat lubang anus, karena anak-anak badai sungguh amat sangat banyak. Hampir tiap malam ia melahirkan anak dan membagi dalam kelompok sesuai kebutuhan fisiknya: bagian atas, samping, bawah…. Tidak heran, hari ini anak-anak itu membuatnya lebih ganas. Aku bahkan tidak yakin selamat usai membunuh badai asing itu. Tapi satu yang pasti: percobaan ini jelas membunuhnya.

Kiranya ada hal yang membuat Tuhan tersinggung, aku minta maaf. Aku penemu sekaligus pembasmi makhluk jenis baru serupa jin dan malaikat yang bisa hidup dan beranak-pinak dalam perut seorang gadis tanpa diketahui bagaimana ia bermula.

Maka dengan tenang kuucap, “Badai asing kurang ajar yang masuk ke perutku, beranak-pinak tanpa peduli betapa susah fisikku karena menampung bobotmu yang kian hari kian berat, kuucapkan selamat tinggal.”

Dalam pandangan lamur, pisauku berlumuran darah. Tidak ada makhluk serupa jin atau malaikat, atau tiupan angin hingga gubuk roboh.

Setelah perut terbelah, yang ada seonggok daging, segumpal rambut, dua bola mata, dan bau amis. Tuhan bercanda. Terbuat dari apa badai yang tumbuh dan beranak-pinak dalam perutku sih? [ ]

Gempol, 2015-2019

 

*) KEN HANGGARA lahir di Sidoarjo, 21 Juni 1991. Menulis puisi, cerpen, novel, esai, dan skenario FTV. Karyanya tersebar di berbagai media. Bukunya Museum Anomali (2016), Babi-Babi Tak Bisa Memanjat (2017), Negeri yang Dilanda Huru-Hara (2018), dan Dosa di Hutan Terlarang (2018).

 

Continue Reading

Cerpen

Evolusi Homo Sapiens

mm

Published

on

Oleh: Sasti Gotama

 Seekor Homo sapiens terjatuh begitu saja dari langit. Untung saja ia terjatuh di atas tumpukan rumput kalanjana. Meskipun begitu, tetap saja ia merasa kesakitan lalu menguik    –yang bunyinya lebih mirip suara bekantan di rimba Kalimantan. Jika saja ia tidak terlalu berkonsentrasi dengan nyeri di pantatnya, tentu ia akan sadar bahwa suaranya  mengejutkan sepasang kupu-kupu hitam yang hinggap di pucuk ilalang hingga keduanya terbang berpencar, tak jadi melakukan ritual perkawinan.

Homo sapien itu bangkit sambil berusaha mengingat-ingat, bagaimana ia bisa terjatuh di tumpukan rumput ini. Seingatnya, terakhir kali yang  ia lakukan –beserta kawanannya– adalah mengejar seekor kukang tanah setinggi pohon yang melarikan diri menuju rimbunan  pakis haji raksasa. Ia mengejarnya sambil mengayunkan tombak batu yang baru diasahnya tadi malam. Ujung daun-daun itu sempat menggores kulit lengan sebelum ia merasa kakinya menginjak sesuatu yang lembut dan lunak.  Rawa. Tanah lembek itu mengisapnya ke dalam. Semakin dalam, hingga ia tak sempat berteriak ketika tanah hitam lembap itu masuk ke dalam lubang hidung dan mulutnya –terasa pahit dan asin– sebelum akhirnya ia melihat kegelapan yang berganti cahaya menyilaukan. Kemudian ia terjatuh begitu saja.

Ia melihat ke sekelilingnya. Dunia yang asing. Ia melihat tanaman  sejenis rerumputan yang dikumpulkan dalam berpetak-petak tanah. Ia pernah melihat tanaman sejenis rumput ini yang berbuah biji-bijian di suatu tempat di tengah hutan sebelum ia dan kawanannya berpindah tempat di musim kemarau panjang. Namun, rumput yang pernah dilihatnya hanya  serumpun, bukannya hamparan   kuning keemasan yang sepertinya sengaja ditanam dan terlihat seperti rimbunan bulu-bulu kukang terbentang di bawah kaki bukit.

Ia mendongak dan melihat langit sudah mulai terang. Bola api  raksasa merayap keluar dari balik bukit. Homo sapiens itu  memutuskan berjalan menuju ke arah sinar  dengan menyusuri parit buatan.

***

Sementara itu, seorang Homo sapiens lainnya berjenis kelamin laki-laki dan berbaju hitam  bernama Toha sedang berjalan mondar-mandir di depan pintu rumah. Ia menunggu Imron, sepupunya, yang berjanji akan datang secepatnya setelah selesai nyabis ke Kyai Soleh.   Toha tak menghiraukan istrinya – Maemunah—juga kopi panas yang diletakkan di atas meja. Ia juga tak  peduli  kelopak mata istrinya bengkak karena menangis semalaman. Yang ada dalam pikirannya adalah harga diri yang harus dibela.

Seminggu yang lalu, Bukad  –pamannya– baru saja memenangkan pemilihan  klebun   di alun-alun Wirakrama. Sayangnya, Sugali, klebun yang lama menolak menyerahkan tanah percaton  karena menganggap sudah melakukan tukar guling dengan tanah miliknya di pinggir desa.  Bukad tidak terima, karena tanah percaton hasil tukar guling terletak jauh dari pusat desa dan tanahnya tidak begitu subur. Sugali berkilah bahwa ini sudah disahkan oleh pemerintah pusat. Ia menunjukkan berbagai macam surat yang menetapkan perihal ini. Tentu saja, Bukad tak terima. Ia mencium adanya persekongkolan dan  mencurigai bahwa tanda-tangan yang tertera di surat-surat itu dipalsukan. Ia lalu mengajak pendukungnya untuk beramai-ramai menyerbu rumah Sugali.

Sebagai kerabat yang baik, tentu saja Toha merasa berkewajiban membela pamannya. Ini masalah kehormatan. Bagi sukunya, kehormatan harus dijunjung tinggi. Lebih baik putih tulang daripada putih mata.

Tepat pukul delapan lebih lima belas menit, Toha melihat Imron datang. Segera diraihnya celurit –berukuran enam puluh sentimeter dengan ujung melengkung– yang telah diasahnya tadi malam . Ia menghampiri Imron yang juga membawa senjata yang sama. Tekad mereka bulat. Membela kebenaran.

Maemunah melepas keduanya dengan mata  sembab. Percuma saja meminta seorang lelaki sukunya yang sudah bertekad bulat untuk mengurungkan niat. Seperti halnya yang terjadi pada kisah-kisah sebelumnya, hal-hal seperti ini  –perihal membela kebenaran–  sering berujung pada carok masal. Padahal entah itu memang sebuah kebenaran atau kepentingann seseorang, Maemunah tak yakin. Sama tak yakinnya ia  bahwa Toha akan pulang selamat. Perlahan ia menutup sepasang pintu jati rumahnya, lalu jatuh terduduk dan bersandar pada pintu. Ia menangis tanpa suara.

Sementara itu pasukan pembela Bukad, termasuk Toha dan Imron,  sudah berkumpul di depan rumah Sugali. Mereka berteriak-teriak sambil mengacungkan celurit yang mereka bawa. Sebagian dari mereka memanggil nama Sugali. Sisanya memaki-maki.

Sugali terdiam di balik pintu. Bukannya ia gentar, tapi ia merasa melakukan hal yang benar. Akhir bulan Mei, lima tahun yang lalu, ia melihat atap salah satu sekolah dasar di pinggir desa tampak miring. Pemandangan yang lebih mengenaskan terlihat saat ia masuk ke dalam ruangan kelas. Dinding banyak yang rusak dan kayu-kayu penyangga rapuh dimakan rayap. Seolah-olah, jika ia bersin, maka bangunan ini akan rubuh begitu saja. Belum lagi letak sekolah ini jauh dari pusat desa. Anak-anak yang bersekolah harus menempuh jalan yang cukup jauh, melewati bukit kapur dan persawahan warga. Sugali berpikir, seandainya saja tanah pecaton di tengah desa bisa ia tukar dengan tanahnya di pinggir desa, mungkin bisa ia bangun sekolah yang lebih bagus.

Teriakan-teriakan semakin keras terdengar. Sugali sempat berpikir untuk keluar dan menjelaskan, tapi sesuatu berbisik di telinganya bahwa itu sama saja dengan bunuh diri dengan sadar. Jadi, ia memutuskan menunggu. Pendukungnya akan segera datang. Rencana Bukad untuk menyerbu rumahnya sudah bocor sejak tadi malam sehingga ia dan pendukungnya sudah menyiapkan taktik balasan. Tadi malam, ia gelorakan semangat pendukungnya. “Mereka melakukan fitnah sistematis. Mengatakan saya melakukan persekongkolan dan tipu muslihat. Padahal saya melakukan kebenaran. Kebenaran harus ditegakkan. Dibela sampai titik darah penghabisan!” Tentu saja ia tak mengatakan darah siapa yang harus dialirkan. Yang pasti bukan darahnya sendiri.

Ketika masa Bukad semakin beringas dan hendak merobohkan pagar rumah Sugali, dari arah belakang, ratusan masa pendukung Sugali menyerbu. Di tangan mereka ada celurit dan kelewang. Carok! Ujung-ujung celurit itu mulai liar. Menghujam kulit, menyobek daging, memenggal leher, hingga darah mengalir deras. Tak ubahnya  medan perang Kurukshetra.

Semuanya sibuk berperang hingga tak memperhatikan seekor Homo sapiens telanjang yang terdiam di pinggir jalan. Ia telah  menempuh empat puluh lima menit menyusuri jalan makadam dan terhenyak ketika melihat sekumpulan makhluk yang mirip dirinya saling menghujamkan senjata tajam.

Homo sapiens itu terheran-heran. Selama hidupnya, tak pernah kawanannya saling melukai seperti itu. Biasanya  mereka memburu bison atau kukang tanah raksasa bersama-sama. Menombak, memenggal kepala, dan mengulitinya, tapi tak pernah kawanannya saling memburu sesama. Ia bertanya-tanya, apakah mereka berperang karena memperebutkan daging  bison atau kambing liar atau kukang raksasa. Tetapi ia melihat  di sekitar mereka  tak ada bangkai binatang yang diperebutkan. Lagipula perut mereka membulat dan otot-otot mereka tampak pejal. Yang pasti mereka tak tampak kelaparan.

Homo sapiens itu tak pernah tahu, bahwa berpuluh-puluh tahun yang lalu, seorang Homo sapiens lain bernama Sigmund Freud telah menemukan  hal penting yang membuat Homo sapiens saling berperang. Ego. Ego yang tunduk pada id. Tentu saja ini adalah hasil evolusi otak dari seekor Homo sapiens. Jika saja Homo sapiens dari masa lalu itu tahu, bahwa ini hasil evolusi dari otak besarnya, mungkin ia akan menolak berevolusi dan tetap memilih menjadi lutung jantan.

***

Sebelas orang meninggal dan puluhan luka berat. Dan berminggu-minggu kemudian, dari kedua belah pihak –baik Bukad maupun Sugali—mengatakan bahwa masing-masing dari masa mereka disusupi oleh pembuat onar. Begitu kata mereka saat diwawancarai oleh reporter wanita cantik berambut pendek yang datang dari ibu kota. Tak  ada satu pun dari mereka menyebutkan keberadaan seekor Homo sapiens telanjang yang melenggang di tengah desa dengan wajah heran.

SELESAI

___

Keterangan:

Keterangan:

Nyabis: diisi tenaga dalam

Klebun: kepala desa

Percanton: tanah bengkok

Continue Reading

Cerpen

Tentang Maria, Gedung Bioskop, dan Buku Harian yang Tertinggal

mm

Published

on

Getty Images/ The Lovers by Rene Magritte

Aku dan Maria tidak punya masalah apa-apa tentang cinta, tetapi kami tak pernah bisa punya anak. Aku tidak menceritakan lebih detail, bahkan pada buku harian, andai aku punya. Aku ke luar dan mencari Toni, tapi tak menemukannya. Aku tidak menyusul pemuda itu ke rumahnya, melainkan duduk untuk meneruskan bacaanku terhadap buku harian Maria.

 

Oleh Ken Hanggara *)

Pada sore hari setelah Maria pergi, aku duduk di teras dan membuka-buka sebuah buku harian. Di sampul depan buku harian tersebut terdapat suatu cap yang dahulu aku buat di sana untuk kenang-kenangan agar Maria tak melupakanku.

“Ini hadiah dariku, Bung,” kataku kepada seorang tetangga.

“Kau yakin kalian benar-benar saling mencintai?”

Aku berdiri dan mengajaknya masuk ke ruang tamu. Toni tetangga baruku, dan ia belum pernah menyapa Maria. Tiga hari yang lalu Toni datang dengan membawa mobil pick up berisi berbagai perabot, dan kepadaku yang kebetulan berada di teras rumahku, ia mengaku semua benda tersebut warisan. Ia akan tinggal di rumah sebelah yang sudah sepuluh tahun lebih kosong.

Aku mengenal Toni sejak itu, dan karena ia bujangan, aku bisa mengajak pemuda itu mengobrol apa saja sampai larut malam. Maria tidak pernah mau kuajak bercumbu sebelum tidur dan itu tidak kuceritakan pada Toni.

Karena tidak pernah kuungkit-ungkit soal Maria, dan begitu tahu pasanganku pergi tanpa pamit, Toni berpikir Maria tidak benar-benar mencintaiku. Ia berkata, sambil kami melangkah ke dalam, “Kalau tidak begitu, ada sesuatu yang salah.”

Aku berhenti dan bermenung di depan foto diriku dan Maria yang berdiri sambil berpelukan di depan gedung bioskop tujuh tahun lalu, waktu kami pengantin baru. Aku tidak berkata apa-apa sampai akhirnya sadar ada Toni di sini, dan kujawab, “Sebetulnya tidak ada yang salah.”

Aku tahu ada yang beda di wajah Toni, dan kukira dia tidak enak saja padaku yang lebih tua beberapa tahun, tapi sudah dituduh macam-macam. Soal asmara bagi beberapa orang bisa jadi sensitif. Mungkin karena itu Toni memutuskan diam.

Kami tidak berkata apa-apa sampai kuajak Toni ke ruang tengah. Ada lebih banyak fotoku dan Maria dari tahun ke tahun. Ada beberapa yang sengaja dibuat khusus untuk mengenang bahwa kami tidak akan berubah soal cinta.

“Foto-foto macam ini,” jelasku pada Toni, yang terlihat agak lega, karena aku bisa bersikap santai, “dimulai dari ketidaksengajaan. Itu foto waktu kami pertama jadian.”

Kutunjuk sebuah foto, dan kemudian jariku beralih ke foto lain di samping kanan foto tadi.

“Ini setahun pertama kami jadian. Posisiku dan Maria terlihat sama seperti di hari ketika kami bersumpah akan terus bersama. Dia di kanan dan aku di kiri. Kami tetap berpelukan. Lihat, senyum kami juga sama. Ketika itu Maria bilang, ‘Aku tidak mau kita pacaran, dan kelak selesai begitu saja tanpa ada yang bisa dikenang.’ Maka kusodorkan ide foto dengan pose yang sama dari tahun ke tahun, dan perempuanku itu setuju. Dan kini, kamu lihat hasilnya!”

Toni mengangguk-angguk selagi kujelaskan itu. Ia sesekali bicara soal keakuratan senyum kami.

Senyumku dan Maria dari tahun ke tahun nyaris tak pernah terlihat beda dari foto di tahun sebelum dan sesudahnya. Bagi Toni, merancang foto seperti ini tidak semudah yang orang pikir, apalagi yang kami lakukan melebihi dari foto dengan pose tunggal. Yang kami lakukan membeku untuk urusan asmara. Ada beberapa yang beda di wajahku, yang jadi agak bulat, tapi senyumku dan Maria tak pernah beda.

Lalu kami melompat ke topik lain soal ayah dan anak di suatu belahan bumi, yang berfoto dengan pose tunggal setiap tahunnya, dan ketika si bocah semakin lama semakin besar, posisi ayah yang menggendong anaknya dapat dibalik sewaktu-waktu.

“Di foto kalian, tidak ada yang bakal terbalik, sebab kalian saling berpelukan, dan kita bisa memeluk siapa pun tanpa harus menjadi kuat. Apa yang tadi sempat kukatakan soal kalian yang sama-sama saling mencintai, harus kutarik dan aku menyesal sudah mengatakannya,” tutur Toni dengan memandangku lesu.

Aku mengangguk. Urusan percintaan saat manusia sudah berusia tiga puluh ke atas, atau empat puluhan, atau bahkan lima puluh hingga seratus tahun, sangat berbeda dari kisah cinta yang pada umumnya orang percayai.

“Aku dan Maria sering bertengkar dari waktu ke waktu setelah tahun keenam kami. Bayangkan, itu baru enam tahun kami menikah. Aku menikahi Maria pada saat umurku dua puluh delapan, dan dia dua puluh tujuh. Jadi, sekarang ini kami masih cukup muda, padahal kenyataannya aku dan Maria merasa sama-sama menua.”

Aku tidak ingin menjelaskan lebih jauh. Kuajak Toni berjalan lagi ke depan setelah puas melihat hampir semua fotoku dan Maria yang ada di ruang tengah.

Begitu aku ingat sudah menunjukkan foto-foto kami dengan pose tunggal kepada seorang tetangga baru, aku berbelok ke kamar dan mencari sesuatu di sana.

“Kau tunggu di depan,” kataku pada Toni.

Tak butuh waktu lama untuk tahu betapa Maria sudah membawa kamera dan setiap file dalam laptopku yang menyimpan seluruh foto dengan pose tunggal tadi. Itu adalah bukti untuk, paling tidak, dua kemungkinan. Pertama, Maria tidak ingin melupakanku sehingga foto-foto yang kami buat akan ia simpan selamanya meski kami tak bersama. Kedua, ia hapus seluruh file tersebut sehingga tidak ada lagi yang tahu bagaimana cara kami menyimpan cinta yang dulu begitu kami agungkan.

Aku dan Maria tidak punya masalah apa-apa tentang cinta, tetapi kami tak pernah bisa punya anak. Aku tidak menceritakan lebih detail, bahkan pada buku harian, andai aku punya. Aku ke luar dan mencari Toni, tapi tak menemukannya. Aku tidak menyusul pemuda itu ke rumahnya, melainkan duduk untuk meneruskan bacaanku terhadap buku harian Maria.

Di gedung bioskop,” desisku.

Itulah potongan kalimat pertama di buku harian Maria. Ia pernah bilang bahwa ia sengaja memindah catatan hariannya ke buku baru, setelah ada lelaki yang memenuhi kebutuhan cintanya, yakni aku. Jadi, hari ketika kami berdua bertemu itu Maria jadikan halaman pertama di buku harian barunya yang tebal.

Aku pernah bertanya, “Kamu menyiapkan buku setebal itu untuk tahun-tahun yang manis bersama orang paling beruntung, ya?”

“Aku yakin buku ini tidak akan pernah putus, karena ketika dia sudah kehabisan halaman kelak, akan kutambah dengan buku harian yang juga tebal, lalu mereka berdua kujahit, begitu seterusnya. Bisa dibayangkan? Kelak anak cucu kita akan tahu betapa nenek moyang mereka adalah penulis yang romantis!”

Aku bahagia dan merasa terhormat mendapat tempat seistimewa itu di hati Maria. Dia pernah dikhianati lelaki sewaktu masih SMA, dan sejak itu hingga berumur dua puluh tujuh, tidak sekali pun jatuh cinta. Dengan kata lain, akulah pria pertama yang ia cintai setelah bertahun-tahun membenci cinta.

Di gedung bioskop, seorang lelaki datang menyapaku, dan dia bertanya film apa yang bagus ditonton seorang diri? Kalimat pertama itulah yang ditulis Maria, dan aku ingat betapa dengan konyolnya aku bertanya soal film yang baik ditonton oleh orang yang kesepian. Waktu itu pilihan filmnya hanya romansa. Aku dan Maria dengan senang hati menonton bersama. Ia mudah menerima teman baru sepertiku, yang baginya lucu. Memang ketika itu aku merasa bodoh dan lucu.

Pulang dari bioskop kami mengobrol seperti teman biasa yang baru berkenalan. Ia kumintai nomor telepon, dan sejak itu, kami sering pergi ke bioskop. Sering juga kami menonton film yang dibuat untuk mereka yang tidak punya pasangan. Film-film macam superhero dan hal-hal tak masuk akal yang cenderung kekanak-kanakan. Aku tahu film semacam itu tidak benar-benar dibuat khusus untuk mereka yang single, tetapi tentu saja aku dan Maria ketika itu senang bercanda.

Begitulah, aku membaca halaman demi halaman buku harian Maria yang ditinggal, entah sengaja atau tidak. Buku harian itu kutemukan di lantai ruang tengah, tergeletak begitu saja bersama beberapa brosur liburan murah ke luar negeri serta beberapa buah buku bacaan yang Maria sukai. Benda-benda ini tersimpan di salah satu tas yang kukira harus Maria bawa, namun tak sengaja ditinggalkan. Aku tahu dia pergi dari rumahku dengan tergesa-gesa. Tidak ada alasan lain selain karena takut aku melarangnya.

Memikirkan Maria yang merasa tidak akan ada gunanya kami hidup tanpa pernah ada calon bayi di perutnya, membuatku sedih dan mungkin baiknya aku juga berkemas malam ini dan pergi dari rumah. Aku pergi untuk mencari Maria, atau mungkin pergi ke tempat mana pun yang kusuka untuk menghibur diri. Tapi, tubuhku lemas dan tak ada kemauan mewujudkan pikiran gila apa pun.

Mungkin esok keputusan itu ada. Mungkin juga tidak. Tapi, untuk saat ini tak ada hal apa pun yang ingin kulakukan selain tetap di sini. (*)

Gempol, 2017-2019

 _______________

*) KEN HANGGARA lahir di Sidoarjo, 21 Juni 1991. Menulis puisi, cerpen, novel, esai, dan skenario FTV. Karyanya terbit di berbagai media. Bukunya Museum Anomali (Unsa Press, 2016), Babi-Babi Tak Bisa Memanjat (Basabasi, 2017), Negeri yang Dilanda Huru-Hara (Basabasi, 2018), dan Dosa di Hutan Terlarang (Basabasi, 2018).

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending