Connect with us

Pemikiran

Anatomi Politik Kekuasaan Niccolo Machiavelli

mm

Published

on

Il Principe (Pangeran)

Selama empat abad sebutan”berkecondongan Machiavelli” alam pikiran dunia sama artinya dengan sesuatu yang berkencongan iblis, serong, busuk, kejam dan jahat. Pengasal sebutan ini, Niccolo Machiavelli, adalah sebuah lambang yagn populer buat para politikus yang suka menghasut, licik, hipokritis, tak kenal moral, tak kenal pirnsip dan yang seluruh filsafatnya membenarkan, bahwa tujuan dapat menghalalkan cara-cara yang dipakai untuk mencapai tujuan tersebut. Umumnya orang berpendapat, bahwa undang-undang yang tertinggi bagi Machiavelli, adalah undang-undang oporunisme politik, Di Inggris abad ke-XVII, “Old Nick” adalah sebuah pemeo yang sekaligus dapat digunakan bagi syaitan dan Machiavelli. Apakah terdakwa ini dapat dibela, dan apakah ada keadaan tertentu yang dapat meringankan tuduhan-tudukan yang dilancarkan terhadapnya?

Rerputasi Machiavelli yang menyeramkan i ni boleh dikatakan seluruhnya bersumber pada sebuah buku, Pangeran, yang ia tulis  dalam tahun 1513, tapi yang baru diterbitkan dalam tahun 1532, lima tahun sesudah pengarangnya meninggal. Tidak ada buku yang dapat dipisahkan dari kurun zaman ia diciptakan. Dan kenyataan ini belum pernah digambarkan begitu jelas sebagimana halnya dengan buku Pangeran. Sungguhpun begitu, seperti juga setiap karangan besar, buku ini megnandung petunjuk-petunjuk yang berlaku untuk semua jaman.

Sampai tahun 1498 – pada waktu mana, dalam usia 29 tahun ia menjabat kedudukan sekretaris republik Florence – sangat sedikit sekali diketahui orang tentang kehidupan Machiavelli. Selama delapanbelas tahun ia mengabdi kepada negara-kota ini. Perutusan-perutusan diplomatik telah membawanya sampai-sampai ke Tuskani, menyebarang Apenina ke Roma, dan kemudian sampai kebalik pegunungan Alpina. Ia berkenalan dengan Contessa Caterina Sforza, dengan Pandolfo, Petrucci, adikara dari Siena, Ferdinand dari Aragon. Loui XII dari Perancis, Kaisar Maximilian, Paus Alexander VI, Paus Julius II dan Cesare Borgia. Sengketa politik antara Florence dan negara-negara kota lainnya seperti Cenesia, Pisa, Milan, dan Napoli waktu itu berlangsung dengan tak henti-hentinya. Politik dijaman itu luar biasa korupnya. Machiavelli, sebagai seorang penelaah sifat-sifat manusia yang tajuam merasa dirinya seperti kan didalam air, dan dipelbagai kesempatan ia telah memperlihatkan keahlian dan kesanggupannya dalam melangsungkan perundingan-peruindingan sulit. Realisme dan sinisme yang kemudian ia perlihatkan dalam soal-soal politik, tak sangsi lagi tentu bersumber pada pengalaman-pengalamannya; dimana ia belajar untuk tidak menghiraukan alasan apapun juga kecuali alasan ketamakan dan egoisme.

Suatu perobahan nasib kemudian terjadi atas diri Machiavelli. Berkat bantuan Spanyol, Keluarga Medici berhasil menggulingkan republik tersebut dan menegakkan kekuasaan mereka di Florence. Machiavelli dipecat, dipenjarakan, disiksa, dan akhirnya dibuant ke tanah miliknya di pedalaman tidak jauh dari San Casciano. Dan – kecuali selama beberapa masa yang singkat – ia mengasingkan diri sampai ajalnya tiba, yaitu dalam tahun 1527. Pekerjaan yang terutama ia kerjakan selama itu untuk pengisi waktu, yang olehnye dirasakan sebagai tahun-tahun yang panjang dan mengisengkan, ialah menulis kitab-kitab: Pangeran, Pelbagai Istikarah, kecakapan Berperang dan Sejarah Florence – buku-buku mana semuanya menbicarakan masalah politik yang telah lewat dan yang masih berlangsung kala itu.

Dalam soal-soal yang berhubungan dengan urusan-urusan umum tidak terdapat peluapan-peluapan rasa dalam sifat Machavelli, tapi dalam hubungan dengan satu soall ia menunjukkan perasaan yang sangat meluap dan dalam. Ia adalah seorang patriot sejati dengan kerinduan besr kepada Italia yang bersatu. Mungkin ia adalah seseorang pebmahas yang keras dan skeptis, seorang manusia intelek murni yang sinis, tapi jika mulai ia membicarakan persatuan Italia, maka ia didorong oleh suatu gelora hati, kebijakan, semangat serta kelincahan. Memang setiap patriot akan menangis melihat keadaan Italia dipermulaan abad ke-XVI yang begitu menyedihkan.

Suatu berncana politik, ekonomi dan agama yang hebat sedang berlangsung di Italianya Machiavelli. Ditempat lain, di Inggris, Perancis dan Spanyol, setelah mengalami pergulatan yang lama. Italia, konsepsi dari suatu organisasi nasional atau federal tidak dikenali sama sekali. Pada saat itu ada lima kesatuan politik besar yang menguasai negeri t ersebut; Milan, Florence, Venesia, Negara Gereja dan Napoli. Yang terkuat dan terbesar adalah Venesia. Perpecahan politik yagn tak berhingga adalah pangkal kelemahan-kelemahan yang tetap bagi Italia, dan karena itu dengan sendirinya seolah-olah menghimbau-himbau hasutan dan campur-tangan luar negeri. Penyerangan dimulai oleh Charles VIII dari Perancis dalam tahun 1494. Beberapa tahun kemudian setelah ia mengundurkan diri, Lois XII dan Ferdinand dari Aragon bersepakat untuk membagi Kekrajaan Napoli diantara mereka. Kaisar Maximilian mengirimkan pasukan-pasukannya untuk merebut Venesia. Tentara-tentara dari Jerman, Swis, Perancis dan Spanyol  mara dan bertempur diatas bumi Italia.

Sementara itu diantara bangsa Italia sendiri, cekcok sesama mereka, dendam umum, perampokan dan pembunuhan bersimaharajalela. Republik berperang melawan rebuplik, yang satu iri hati melihat kekuasaan yang lain sehingga dengan cara demikian mereka tidak berhasil sama sekali untuk membentuk suatu barisan bersama buat menangkis musuh dari luar. Gereja, yang tatkala itu sedang berada dalam jaman yang paling kotor dari seluruh sejarahnya, karena khawatir akan naiknya seorang saingan yang mungkin merebut puncak kekuasaan yang ia duduki, lebih menyukai perpecahan dari persatuan bagi Italia.

Machiavelli menyadari, barangkali lebih dalam lagi dari siapapun juga dalam jamannya, bahaya-bahaya yang mengencam Italia. Ditempat peristirahatan yang dipaksakan kepadanya, ia memikirkan dan merenungkan bencana-bencana yang menimpa tanah airnya yang tercinta, dan ia yakin bahwa satu-satunya harapan untuk selamat tergantung pada kemungkinan timbulnya seorang pemimpin besar – seorang pemimpin yang cukup besar dan bertangan besi, yang sanggup memaksakan kewibawaannya kepada negera-negara Italia yang kecil-kecil itu, supaya berpadu menjadi negara yang satu, yang dapat mempertahankan diri sendiri dan menghalaukan orang asing yang dapat dicari? Pangeran adalah konsepsi Machiavelli tentang macamnya pemimpin yang dikehendaki ituu dan kumpulan petunjuk-petunjuk yang cukupp mengenai jalan-jalan yang harus ia tempuh untuk mencapai hasil tersebut.

Biarpun pangeran dipersembahkan pada Lorenzo de Medici, penguasa baru Florence, tapi tokoh utama buku ini ialah Cesare Borgia. Putra Paus Alexander VI, yang diangkat menjadi kardinal waktu ia berumur tujuhbelas tahun, seorang pemimpin militer yang cakap, penakluk Romagna, dan seorang diktator yang kejam dan tak kenal kasihan. Dalam tahun 1502, Machiavelli pernah dikirim sebagai duta keistananya, dan sebagai diulaskan oleh Nevins, Machiavelli telah “melihat dengan penuh kekaguman, bagaimana cekatannya Borgia mempergilirkan pemakaian kehati-hatian dengan kekurang-ajaran, kata-kata yang manis dengan tindakan berdarah; bagaimana dingin sikapnya dalam menggunakan sifat chianat dan hipokrasi; bagaimana ganasnya ia mempergunakan terror untuk memelihara kepatuhan mereka yang telah ia taklukkan; dan betapa keras dan tepat genggamannya pada suatu negara yang telah rebut”. Dengan jalan mempergunakan lidah yang bercang, keganasan dn kelancungan Cesare mencapai suatu hasil yang gemilang tapi yang pendek umurnya. Machiavelli adalah seorang pengikut yang gigih dari bentuk pemerintahan yang bercorak republik, tetapi setelah ia pelajari keadaan Italia yang mengkhawatirkan dan yang menyedihkan ia yakin, bahwa Cesare Borgia adalah seorang pemimpin yang seyiogyanya, untuk mengakhiri keadaan kacau-balau ini.

Demikianlah, dengan semangat cinta tanah air yang diilhamkan oleh pandangannya tentang sebuah negera yang bersatu, sadar akan kebutuhan-kebutuhan yang mendesak pada kala itu dan sadar akan kesempatan baik yang terbuka bagi seorang pengusa baru. Machiavelli melepaskan segala tenaga dan kegembiraannya yang telah bertumpuk, kedalam penciptaan buku Pangeran. Buku ini ditulis waktu enam bulan terakhir dari tahun 1513, dan beberapa waktu kemudian disampaikan keistana Lorenzo, dengan penjelasan-persembahan pengarangnya, “ setelah melihat bahwa mustahil untuk memberikan pemberian yang lebih berharga dari pada suatu keskempatan untuk memahamkan dalam waktu sesingkat-singkatnya segala yang telah saya pelajari selama bertahun-tahun dengan begitu susah dan dalam ancaman bahaya yang begitu banyak.”

Dalil ajaji dari kitab Pangeran ini, ialah, bahwa kesejahteraan negara menghalalkan segala tindakan dan bahwa terdapat perbedaan ukuran dalam soal kehidupan umum dan kehidupan prive. Menurut ajaran i ni, tidak ada salahnya jika seorang negarawan melakukan tindakan kekerasan dan kedustaan untuk kepentingan umum, biarpun tindakan ini adalah suatu tindakan yang sangat tercela, bahkan boleh dianggap bersifat pidana jika ia berlangsung dalam hubungan prive. Pendeknya, Machiavelli memisahkan etika dari politik.

Buku Pangeran adalah sebuah buku penuntun bagi para pangeran (atau sebagai dikatakan orang: sebuah buku pegangan bagi para adikara), untuk mengajar mereka bagaimana cara merebut dan mempertahankan kekuasaan – kekuasaan, bukan untuk kepentingan penguasa, tapi untuk kepentingan rakyat banyak; supaya rakyat ini dapt diberi suatu pemerintahan yang kukuh, terhindar dari revolusi dan penyerangan-penyerangan dari luar. Dengan cara-cara bagaimana kekukuhan dan keamanan ini dapat dicapai?

Monarchi yang bersifat turun-temurun dibicarakan secara singkat, karena sekiranya penguasa itu mempunyai kecerdasan dan ketajaman pikiran, ia akan dapat mempertahankan pengawasannya atas pemerintahan. Sebaliknya masalah suatu monarchi baru jauh lebih ruwet lagi. Sekiranya wilayah-wilayah yang baru ditaklukkan mempunyai kebangsaan dan bahasa yang sama dengan negara yang menaklukkannya itu, pengawasan boleh dikatakan mudah juga, apa lagi jika kedua gasar yang berikut dituruti; “ pertama, supaya dihancurkan garis silsilah lama dari para pangeran; kedua, supaya jangan diadakan perubahan dalam soal hukum dan pajak.

“Tapi sekiranya negara-negara yang ditaklukkan itu berada di daerah dimana terdapat perbedaan bahasa, adat-istiadat dan hukum, maka kesulitan jadi berlipat ganda. Dalam hal ini nasib yang baik dan perlakuan yang tepat diperlukan untuk mengatasinya”. Cara-cara yang dapat dipakai untuk kepentingan pengendalian, demikian Machavelli melanjutkan sarannya, ialah, Penguasa itu sendiri pergi dan bermukim di daerah itu; dengan jalan mengirimkan koloni-koloni (ini lebih murah ongkosnya dari membelanjai sebuah tentara pendudukan): dengan jalan mengikat persahabatan dengan tetangga-tetangga yang lebih lemah dan berusaha melemahkan tetangga-tetangga yang kuat. Karena tak menghiraukan petunjuk-petunjuk dasar inilah, maka Louis XII dari Perancis telah menderita kekalahan dan kehilangan jajahannya.

Dalam sebuah istikarah mengenai “Bagaimana propinsi-propinsi harus diperintah”, Machiavelli mengusulkan tiga cara supaya sebuah negara yang biasa “hidup dibawah undang-undangnya sendiri dan dalam kemerdekaan ….. dapat dikendalikan. Pertama dengan jalan menghancurkannya; kedua, dengan pergi dan berdiam di tempat itu sendiri; ketiga, dengan jalan mewajibkan ia membayar upeti dan menyerahkan pemerintahannya kepada sekelompok bumi-putera yang harus mengusahakan supaya penduduk yang lain tetap merasa bersahabat dengan kita”. Diantara pilihan-pilihan yang ada, salah satu dri kedua pertama dipujikan sebagai paling selamat.

Tapi sekiranya kota atau propinsi yagn baru direbut itu telah biasa hidup dibawah seorangn pangeran, dan silsilah keluarganya telah habis, maka mustahillah bagi penduduk, yang pasa satu pihak biasa patuh dan dipihak lain direnggutkan dari penguasanya yang lama, untuk semufakat biat memilih seorang pemimpin diantara mereka sendiri; dan karena mereka tidak tahu bagaimana caranya hidup sebagai orang merdeka, sehingga mereka akan lamban sekali dalam soal mengangkat senjata, seorang asing akan dapat menarik mereka dan mempergunakan mereka untuk kepentingannya sendiri.

Dalam uraian selanjutnya “Mengenai luhak-pangeran baru” Machiavelli memperingantkan, “Supaya orang jangan lupa bahwa tabiat orang banyak tidak teguh adanya, dan bahwa, memang mudah untuk meyakinkan orang banyak mengenai sesuatu, tapi sangat susah untuk menjaga supaya mereka tetap taat kepada keyakinan itu. Sebab itu, semuanya harus disusun begitu rupa, sehingga sekiranya orang tidak lagi yakin dengan sukarela, maka keyakinan itu bisa dipaksakan.”

Pengarang kemudian meneruskan dengan menyanjung dan memuji perjalanan hidup Cesare Borgia, sebagai seorang kuat par excellence. Dan ia memintakan maaf atas pembunuhan dan pengkhianatan yang telah dilakukan.

Sekiranya dibayangkan kembali tindakan-tindakannya, saya tidak tahu bagaimana menjalankannya, malahan menurut hemat saya …” saya harus menyajikannya sebagai contoh bagi mereka yang karena nasib atu atas kehendak orang lain dijadikan untuk memerintah. Karena ia sebagai seseorang yang mempunyai jiwa yang agung dan cita-cita yang jauh akibatnya, mustahil akan dapat menyalurkan perbuatan-perbuatannya dengan cara lain ….. Karena itu mereka yang menginginkan dirinya terjamin dalam luhak barunya, yang ingin beroleh sahabat, yang ingin mengatasi segalanya baik dengan paksaan ataupun tipu-muslihat, mereka yang ingin dirinya dicintai dan ditakuti oleh rakyat, ingin menghancurkan mereka yang punya kekuatan atu akal-akal yagn dapat merusak dirinya, ingin mengganti susunan lama dengan susunan yang baru, ingin keras dan bijaksana, ingin berjiwa besar dan liberal, ingin menghancurkan keperajuritan yang tak setia dan menciptakan yang baru, menjaga tali persahabatan dengan raja-raja dan pangeran-pangeran begitu rupa sehingga mereka bersedia menolong dengan penuh semangat dan berhasti-hati apabila menghina, tidak akan menemui contoh yang lebih hidup dari pada beliau ini.

Seorang penakluk yang telah merebut suatu negaara “harus secepat mungkin menjalankan tindakan penghancuran dengan satu kali pukul, sehingga ia tidak suah mengulanginya setiap hari. Dengan cara begitu ia mendapat kesempatan untukmenenterampkan pikiran orang dan sesudah itu merebut hati mereka dengan memberikan keuntungan-keuntungan ………. Dan keuntungan-keuntungan ini harus dianugerahkan sedikit demi sedikti sehingga dapat dinikmati dengan cara yang lebih besar.”

Ketakutan kepada hukuman adalah Cuma salah satu dari jalan-jalan yang dapat ditempuh oleh penguasa yang cerdik dalam mengendalikan rakyatnya:

Bagi seorang pangeran adalah amat penting untuk tetap mengadakan hubungan yang ramah dengan rakyat, karena sekiranya tidak, maka ia tidak akan boleh sokongan dalam masa-masa buruk……….. Jangan coba mengingkari saja dengan menunjukkan kepada peribahasa lama, “Ia yang bertupang atas rakyat sama dengan bertupang atas pasir.” Ucapan ini mungkin benar jika seorang warga-negara secara pribadi bertupang pada rasa cinta rakyat padanya dan berharap akan beroleh pertolongan mereka, jika ia dikalahkan oleh seteru-seterunya atau oleh alat-alat hukum. Tapi seorang pangeran, seorang laki-laki yang perkasa yang sanggup memimpin, yang tau bagaimana menjaminkeamanan dalam negaranya, tak pernah akan menyesal karena ia telah menegakkan keamanan dirinya diatas rasa cinta rakyat kepadanya.

Dalam memperbincangkan luhak-luhak pangeran agama, yaitu luhak-luhak yang langsung berada dibawah pemerintahan gereja, Machiavelli menyodorkan ulasan-ulasannya yang paling menghancurkan dan paling mencemoohkan.

Luhak-luhak ini diperoleh berkat jasa atau nasib yang baik, tapi dipertahankan tanpa kedua hal ini; luhak-luhak pangeran ini didukung oleh peraturan-peraturan agama yagn suci, yang mempunyai fitri dan akibat begitu rupa sehingga dapat menjamin kewibawaan pangeran-pangeran mereka, apapun juga yang mereka lakukan atau bagaimanapun juga cara hidup mereka. Pangeran—angeran ini memiliki daerah-daerah yang tidak mereka pertahankan dan rakyat yang tidak mereka perintah.

Disini dan ditempat lain dalam karangannya, keberangsangan Machiavelli yang paling geram terhadap gereja Rumawi pada permulaan abad ke-XVI, adalah disebabkan oleh karena gereja ini supaya diadakan pemisahan yan tegas antara gereja dan negara.

Karena sebuah pemerintah yang kuat memerlukan tentara yang baik, maka Machiavelli menganggap soal-soal emiliteran sebagai soal yang amat penting. Ia telah membicarakan soal ini denganpanjang lebar. Kebanyakan negara-negara italia dalam jamannya telah biasa mempergunakan pasukan-pasukan sewaan, yang sebagian besar teridri dari bangsa asing, untuk membela mereka. Pasukan-pasukan seperti ini, kata Machiavelli, adalah “tak berfaedah dan berbahaya.” Sebuah tentara kebangsaan yang terdiri dari warga-negara akan lebih tepat lagi dan akan lebih dapat dipercayai. Karena keselamatan nasional mungkin tergantugn dari kekuasaan bersesenjata, seorang pangeran yang memerintah harus mengaggap soal-soal militer sebagai pokok perhatian dan telaahnya yang utama.

Beberapa bab telah diisi oleh Machiavelli untuk menjelaskan tingkah-laku para pangeran – tingkah laku yang tepat dalam keadaan yang tepat.

Antara cara seseorang hidup dan cara bagaimana semestinya ia hidup terdapat perbedaan yang sangat besar……….. Bagi seorang pangeran yagn ingin mempertahankan kedudukannya perlu sekali berlaku lain disamping berlaku baik, dan memakai atau tidak memakai kebaikannya sesuai dengan kehendak keadaan ……….. Saya tahu, setiap orang akan membenarkan bahwa amatlah terpujinya jika seorang pangeran dianugerahi segala sifat-sifat yang dianggap orang baik; tapi, karena tidak mungkin ia memiliki atau menjalankan semua sifat-sifat ini …… ia setidak-tidaknya harus cukup cendekia untuk mengarifi bagaimana caranya mengelakkan noda-noda dari kekurangan-kekurangan yang mungkin menyebabkan ia kehilangan, pemerintahannya.

Seorang pangeran tak usah takut akan disebut seorang kedekut, dalam “membelanjakan apa yang termasuk miliknya dan milik rakyatnya atau yang termasuk milik o rang lain …………. Mengenai milik yang tak masuk milik kita sendiri atau milik rakyat kita harus bersifat dermawan …………… karena berlaku dermawan dengan harta orang lain (yang diperoleh dengan jalan penaklukan militer) tidaklah akan menurunkan derajat kita malahan menaikkan. Yang merugikan ialah memberikan harta milik sendiri. Tidak ada sifat yang begitu merusak bagi diri sendiri sebagai sifat kita akan kehilangan alat yang memungkinkan sifat itu, lalu kita jatuh miskin dan hina orang; atau untuk mengelakkan kemiskinan kita lalu menjadi tamak sehingga dibenci orang.”

Kekejaman harus dianggap oleh seorang pangeran sebgai salah sebuah senjata untuk menjaga supaya rakyat tetap bersatu dan patuh, “Karena ia yang menindas kekacauan dengan memberikan beberapa contoh yang dapat dipakai sebagai peringatan, akhirnya akan lebih pemurah jadinya, dari pada seseorang yang karena terlalu lembut membiarkan keadaan berlarut dengan semaunya dan dengan demikian akhirnya mengakibatkan penggarongan dan pertumpahan darah; yang terakhir ini akan mencederai seluruh negara, sedangkan kekerasan seorang pangeran hanya akan membencanai individu.”

Machiavelli berkata dalam sebuah bait yang termasyur:

Dari ini timbullah pertanyaan manakah yang lebih baik; lebih dicintai dari pada ditakuti, atau lebih ditakui dari pada dicintai. Barangkali orang akan menjawab, bahwa pada diri kita sebaiknya dilekatkan keduanya. Tapi karena cinta dan ketakutan mustahil bisa hidup berdampingan, sekiranya kita harus membuat pilihan diantara keduanya, maka akan lebih aman jika kita lebih lagi ditakuti dari pada dicintai. Karena umumnya bolehlah dipastikan, bahwa manusia tak tahu berteria kasih, cerewet, seorang akal, cepat untuk mengelakan bahaya, tamak akan keuntungan, hanya setia kepada kita selama kita masih dapat melimpahkan keuntungan padanya, dan siapsedia untuk menumpahkan darah mereka, dan mengorbankan harga-benda mereka, nyawa mereka, anak-anak mereka buat kita, asal bahaya itu masih jauh; tapi dalam saat-saat yang genting mereka akan mengkhianati kita.

Ucapan ini adalah ucapan yang sinis, biarpun Machiavelli mengakhiri pertimbangannya dalam soal cinta lawan ketakutan ini dengan memberikan nasihat kepada seorang pangeran, bahwa “ia harus melakukan segalanya untuk mengelakkan kebencian orang.”

Tidak ada bagian dari Pangeran ini yang umumnya begitu dikutuk dan dibenci seperti halnya dengan bab kedelapanbelas mengenai “bagaimana caranya seorang pangeran harus memenuhi janji.” Sebutan yang berarti busuk dan “berkecondongan Machiavelli” sebagian besar disebabkan oleh bab inilah, jika dibandingkan dengan bagian-bagian lainnya dari buku itu. Dalam bab ini pengarang mengakui, bahwa menepati janji adalah sesuatu yagn terpuji, tetapi ia juga mengatakan, bahwa kelicikan dan kelancungan, hipokrisi dan melanggar janji adalah perlu dan dapat dimaafkan untuk kepentignan penjaminan kekuasaan politik.

Ada dua jalan untuk memperjuangkan sesuatu; pertama dengan jalan hukum, kedua dengan jalan kekerasan; yang pertama dalah wajar buat manusia, sedangkan yang kedua buat hewan. Tetapi karena cara yang pertama sering tam memberikan hasil, maka perlulah dipakai cara yang kedua. Jadi seorang pangeran harus tahu mempergunakan sebaik-baiknya tindakan-tindakan baik yang bersifat manusia maupun yang bersifat hewan ……… Tapi karena seorang pangeran harus arif bagaimana memakai sifat hewan dengan cendekia, ia harus memilih diantara hewan-hewan itu, singa dan rubah; karena singa tak dapt membela diri dari perangkap sedangkan rubah tak dapat membela diri terhadap serigala ………. Seorang pangeran yagn pandai tak mungkin dan tidak perlu menepati janjinya jika hanya akan merugikan dirinya sendiri dan jika sebab-sebab yang memberikan alasasn padanya untuk menjunjung janji itu sudah tidak ada lagi. Sekiranya semua manusia baik, tapi karena manusia tidak jujur dan tidak memegang janji terhadap mereka; dalam hal ini belum pernah ada pangeran yang tak tahu memperoleh alasan yang masuk alan untuk menutupi sebuah janji yang dilanggar …………… Tapi manusia begitu mutlak dikendalikan oleh kebutuhan-kebutuhannya yang da pada satu saat, sehingga seseorang yang ingin menipu tak akan pernah sia-sia mencari korban yang bersedia ditipu ………….. karena itu, adalah baik utnuk berlaku seolah-olah kita pemurah, setia pada janji, berperikemanusiaan, alim, suka terus-terang dan juga betul-betul seperti itu; tapi pikiran harus diatur begitu rupa sehingga jika perlu, kita harus tahu dan sanggup untuk berubah menjadi sebaliknya …………. Setiap orang tahu bagaimana lahirnya kita kelihatannya, tapi hanya sedikit sekali yang mengetahui bagimana kita sebenarnya.

Amatlah pentingnya bagi seorang pangeran, demikian Machavelli berpetua, untuk mengelakkan kebencian dan kutukan orang. Dua sebab yang mungkin sekali menerbitkan dendam orang banyak padanya, adalah: “jika pangeran ini suka merampok dan suka menjamah harta benda dan isteri rakyatnya ………. Seorang pangeran dijauhi orang jika ia kelihatannya banyak tingkah, genit, kebetina-betinaan, pengecut dan tidak tegas.” Selanjutnya seorang penguasa harus mempopulerkan diri dengan membagi-bgikan anugerah secara pribadi, “dan menyerahkan pada alat-alat hukum kewajiban utnuk membagi-bagikan hukuman, ya bahkan pencitaan segala yang mungkin menimbulkan rasa tidak senang.” Benteng-benteng sekalipun, tidak akan dapat menyelamatkan seorang pangeran sekiranya rakyat benci kepadanya.

Dalam memberikan petunjuk kepada seorang pangeran tentang “Bagaimana ia harus bersikap” Machiavelli menganjurkan supaya:

………….. seorang pangeran memperlihatkan, bahwa ia adalah seorang “pembela pahala” dan pebmeri anugerah kepada mereka yang telah menunjukkan hasil luar biasa dalam kepandaian apapun juga. Sesuai dengan ini ia harus mendorong rakyatnya dengan jalan mebmeri kemungkinan kepada mereka  buat mencapai panggilan jiwa masing-masing, baik panggilan ini bersifat dagang, tani ataupun yang lain, dalam suasana terjamin, sehingga mereka tidak usah takut utnuk memperindah milik mereka, karena khawatir akan direbut dari tangannya, atau mengundurkan diri dari pembukaan perusahaan karena takut kepada pajak.

Kenang-kenangan Roma purba, yang b egitu dikagumi oleh Machavelli, dijadikan nasihat bagi seorang pangeran, “supaya pada musim yang tepat rakyat dihiburkan dengan pesta-pesta dan tontonan-tontonan.

Machiavelli adalah seorang yang sangat yakit kepada nasib dan takdir. Barangkali keyakinan ini adalah sutau cermin dari sikap orang dalam jamannya terhadap astrologi. “Menurut kiraan saya adalah sangat mungkin,” demikian ia menulis, “bahwa nasib mengendalikan sebagian dari tindakan-tindakan kita, sedangkan pengendalian paroh yang lain, atau sedikit lebih kurang dari itu, diserahkan kepada kia sendiri.” Pendiriannya ini sebetulnya tidaklah begitu bersifat tawakkal, karena disamping itu ia yakin, bahwa manusia memiliki kekuasaan tertentu terhadap nasibnya, dan  “karena adadlah lebih baik jika kita bersifat garang dari pada bersifat ahti-hati. Karena nasib ini adalah seorang perempuan yang harus dipukul dan diperlakukand engan kasar supaya ia menurut; dan ia lebih sedia dituani oleh orang-orang yang memperlakukan dia seperti itu dari pada oleh mereka yang lebih malu-malu dan lunak dalamperlakuannya. Dan selalu, seperti halnya dengan seorang perempuan, ia lebih menyukai yang muda, karena orang muda lebih berani dan keras, dan akan mengendalikan dia dengan kelancangan yang lebih besar.”

Buku Pangeran diakhiri dengan “Sebuah peringatan untuk membebaskan Italia,” sebuah seruan lantang kepada rasa kebangsaan. Masa sudah masak bagi seorang pangeran baru, “seorang pahlawan Italia” untuk maju kedepan, karena Italia dalam “keadaan yang hina sekarang,” “lebih ladi berkedudukan budak belian dari orang Ibrani, lebih tertindas lagi dari orang Paris, lebih terpecah-belah dari orang Athena, tak punya pemimpin, tak punya susunan, terpukul, rusak, dirobek-robek, dilunjah-lunjah dan dibiarkan hancur dalam segala cara ………….. Kita lihat bagaimana ia berdoa kepada Tuhan supaya merngirimkan seseorang utnuk menyelamatkannya dari kekejaman-kekejaman yang biadab dan tindasan-tindasan ini. Kita lihat juga bagaimana sedia dan inginya ia mengikuti setiap panji-panji asal saja ada orang yang mengibarkannya.”

Machiavelli mengakhiri pembelaannya yang lancar ini dengan kata berikut:

Kesempatan bagi Italia untuk akhir-akhirnya berseru kepada pembelanya tidak boleh dibiarkan lewat. Alangkah besarnya cinta yagn disediakan orang untuk menerimanya (pangeran baru itu) disegala propinsi-propinsi yang telah menderita karena bencana asing, alangkah dahaganya rakyat kepda pembalasan dendam, alangkah teguhnya kesetiaan, alangkah besrnya pengabdian mereka, da alangkah banyaknya air mata, tidak dapat saja teakan dengan kata-kata. Gapura manakah yang tidak akan terbuka baginya? Rakyat yang manakah yang akan menolak untuk patuh kepadanya? Iri hati yang manakan yang ingin menghambatnya? Orang Italia yang manakan yang tidak akan memujinya? Tindihan yang biadab sekarang ini telah memualkan dengan tak ada taranya.

Tapi tigaratus limapulu tahun harus lewat dahulu sebelum persatuan Italia, bebs dari pendudukan penguasaan bangsa asing, seperti yang diimpikan Machiavelli dapat terlaksana.

Salinan-salinan naskah buku Pangeran telah bereda semasa perangnya masih hidup dan selama beberapa tahun setelah ia meninggal. Penerbitannya dalam tahun 1532 telah disetujui oleh Paus Clement VII, saudara sepupu dan pangeran kepada siapa buku ini telah dipersembahkan. Dalam masa duapuluh tahun sesudahnya, telah diterbitkan duapuluh lima edisi. Lalu mulailah tofan berkumpul. Dewan Trente memerintahkan supaya karya-karya Machiavelli dimusnahkan. Di Roma ia dituduh sebagai seorang atheis dan karangan-karangannya disana dan ditempat-tempat lain di Eropah dilarang. Kaum Jeuit di Jerman membakar patung-patungnya. Baik kaum Katolik maupun Protestan bersatu dalam hantaman-hataman mereka terhadap dia. Dadlam tahun 1559 semua kerja machiavelli dimasukkan kedalam Index Buku-buku Terlarang.

Baru dalam abad ke-XIX  reputasi Machiavelli dibersihkan sedikit dan beroleh pengakuan Gerakan-gerakan revolusioner di Amerika, Perancis jerman dan ditempat-tempat lain menimbulkan suatu dorongan yang tak tertahan kerah penduniawian negera, kearah pemisahan negera dan gereja. Perjuangan Italia untuk mencapai kemerdekaan yang mencapai puncak kejayaannya dalam tahun 1870, memperoleh ilhamnya dari patriot besar Machiavelli. Dalam sebuah essay yang sangat jelas. H. Douglas Gregory memperlihatkan, bahwa degnan jalan mengikuti petunjuk-petunjuk Machiavelli pemimpin Italia, Cavour, telah berhasil mempersatukan Italia dan mengusir penjajahnya. Sekiranya ia mengikuti jalan lain, maka hasil yang akan ia peroleh tidak akan melebihi kekandasan dan kehancuran adanya.

Bahwa para diktator dan adikara-adikara dari setiap jaman telah banyak menemukan petunjuk-petunjuk yang berguna dalam kitab Pangeran tak dapat disangsikan lagi. Daftar dari pembaca-pembacanya yang khusyuk sungguh menakjubkan; Kaisan Carlos V dan Catherina de Medici mengangumi karangan ini; Oliver Cromwell memperoleh salinan naskahnya lalu menyadur prinsip-prinsip yang ia temui didalamnya dan memasukkannya kepemerintahan. Kemakmuran Bersama di Inggris; Henry III dan Henry IV dari Perancis kedapatan menyimpan buku ini waktu mereka dibunuh; buku ini telah menolong Frederik Agung membentuk politik Prusia; Louis XIV memakai buku ini sebagi “kalang-hulu” yang disukai; sejilid dari buku ini yang berisi catatan-catatan ditemui dalam kereta Napoleon Bonaparte di Waterloo; pendapat-pendapat Napoleon III mengenai pemerintahan sebagian besar diambil dari buku ini; dan Biasmarek adalah seorang pengikut yang yakin. Dan belum lama berselang. Adolf Hitler, menurut ucapannya sendiri, selalu menyediakan kitab Pangeran disamping ranjangnya, sebagai  sumber ilham yang tetap; dan Benito Mussolini menerangkan, “Saya percaya bahwa Pangeran karangan Machiavelli patut dijadikan pembimbing tertinggi bagi seorang negarawan. Ajaran-ajarannya sekarang ini masih hidup karena selama empatratus tahun tidak ada perubahan-perubahan besar yang terjadi dalam pikiran manusia ataupun dalam tindakan-tindakan negara-negara.” (Kemudian Mussolini merobah pendiriannya, karena dalam tahun 1939, dalam daftar pengarang-pengarang modern dan lama, yang dimasukkan kedalam Index buku-buku fasis yang tidak boleh diedarkan oleh ahli-ahli perpustakaan Roma, tercantum nama Machiaavelli).

Sebaliknya pengurai-pengurai kejadian, sejarah yang bersemangat telah menjelaskan, bahwa orang-orang lalim seperti Hitler dan Mussolini umumnya menemui akhir mereka yang menyedihkan karena mereka tidak memperdulikan atau salah menafsirkan prinsip-prinsip fundamentil tertentu yang dimaskhurkan oleh Machiavelli.

Para penelaah Machiavelli bersepakat untuk mengatakan, bahwa pikiran-pikirannya tak mungkin difahamkan dengan lengkap jika disamping Pangeran orang tidak membaca istikarah-istikarahnya (Discourses). Kitab Istikarah-istikarah ini, yang telah ditulis selama lima tahun dan yang diterbitkan untuk pertama kalinya dalam tahun yang sama dengan Pangeran, adalah sebuah hasil-kerja yang jauh lebih besar. Salah satu perbedaan yang terdapat antara kedua buku ini menurut pendapat yang ada, ialah bahwa Istikarah-istikarah membicarakan “bagaimana seharusnya” sedangkan Pangeran seluruh luhak-luhak pangeran, yaitu negara-negara yang diperintah oleh monarchi tunggal. Istikarah-istikarah mengemukakan prinsip-prinsip yang harus diikui oleh sebuah republik.

Jika kedua buku ini dibaca dan dibandingkan, maka orang akan beroleh kesimpulan yang mengherankan. Kesimpulan ini memperlihatkan bahwa Machiavelli adalah seorang republikein yang yakin. Ia tidak menyukai despotisme dan ia menganggap kombinasi pemerintahan monarchi dan rakyat sebagai suatu pemerintahan terbaik. Tidak ada satu penguasapun yang selamat tanpa kecintaan rakyatnya. Negara-negara yang paling kukuh kedudukannya adalah negara–negara yang diperintah olehpangeran-pangeran yang kekuasaannya dibatasi oleh undang-undang dasar. Dalam pandangan Machiavelli timbangan rakyat adalah sehat. Hal ini dapat dilihat pada serangannya terhadap peribahasa purba yang berbunyi, “Bertupang pada rakyat sama artinya dengan bertupang atas pasir”. Pemerintahan yang ia cita-citakan ialah pemerintahan republik Roma purba, dan dalam kitabnya Istikarah-istikarah ia selalu kembali kepada cita-cita ini.

Kalau begitu, mengapa Machiavelli yang diatas segala-galanya lebih tinggi menghargai pemerintahan republik bagi suatu rakyat yang merdeka, menulis buku Pangeran? Buku ini ditulis untuk suatu masa yang chas dan untuk suatu keadaan yang chas. Tak sangsi lagi Machiavelli rupanya menyadari, bahwa adalah mustahil membangunkan suatu republik dengan berhasil di Italia abad ke-XVI itu. Buku Pangeran ditulis sematma-mata dengan maksud menarik pertolongan seorang kuat untuk menyelamatkan rakyat Italia dari kedudukannya yang celaka dan korupsi politik yang sedang berlangsung. Dihadapan pada suatu krisis yang mendesak italia tidak bisa bersikap banyak pilihd alam mencari senjata untuk menyelamatkan dirinya.

Biarpun banyak suaha sudah dilakukan untuk memulihkan namanya kembali, tapi masih saja pendapat yang beragam-ragam mengenai Machiavelli tersiar luas. Keadaan yang dijelaskan Giuseppe Prezzolini beberapa tahun yang lalu masih saja berlangsung sampai saat kini.

Kita kini memiliki Jesuit Machiavelli, seorang musuh gereja; patriot Machiavelli, Imam  Mahdi untuk kesatuan Italia dan keluarga Savory; militer Machiavelli, pelpor tentara-tentara nasional; ahli filsafat Machiavelli yang telah menemui suatu cara berpikir baru—jiwa yang praktis; dam Machiavelli sastrawan—banyak kaum sasterawan yang mengangumi gayanya yang jantan dan bentuk-kalimatnya yang lancang. Dan kesemua Machiavelli ini adalah Machiavelli yang syah.

Susah untuk diingkari, bahwa ada orang sebelum Karl Marx yang sebagai seorang revolusioner, mempunyai pengaruh begitu besar pada pemikiran politik seperti halnya dengan Machiavelli. Jadi pada tempatnya sekalilah jika padanya diberikan julukan “Pembina Ilmu Politik.” (*)

*Dari berbagai sumber. Dikelola oleh Tim Redaksi Galeri Buku Jakarta. All rights reserved

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Editor's Choice

Soekarno: Laki-laki dan Perempuan

mm

Published

on

Allah telah berfirman, bahwa Ia membuat segala hal berpasang-pasangan. Firman ini tertulis dalam surat Yasin ayat 36:”Mahamulialah surat Az-Zukhruf ayat 12: “Dan Dia yang menjadikan segala hal berpasang-pasangan dan membuat bagimu perahu-perahu dan ternak, yang kamu tunggangi”; dalam surat Adz-Dzariyat ayat 49: “Dan dari tiap-tiap barang kita membuat pasang-pasangan agar supaya kamu ingat.” Perhatikan: Segala barang, segala hal! Jadi bukan saja manusia berpasang-pasangan, bukan saja kita ada lelakinya dan ada wanitanya. Binatang ada jantannya, bunga-bunga pun ada lelakinya dan perempuannya, alam ada malamnya dan siangnya, barang-barang ada kohesinya dan adhesinya, tenaga-tenaga ada aksinya dan reaksinya, elektron-elektron ada positifnya dan negatifnya, segala kedudukan ada tese dan antitesenya. Ilmu yang maha-hebat, yang maha-mengagumkan ini telah keluar dari mulutnya Muhammad S.A.W. di tengah-tengah padang pasir, beratus-ratus tahun sebelum di Eropa ada maha-guru-maha-guru sebagai Maxwel Pharaday, Nicola Tesla, Descartes, Hegel, Spencer, atau William Thompson. Maha-bijaksanalah mulut yang mengikrarkan perkataan-perkataan itu, maha-hikmalah isi yang tercantum di dalam perkataan-perkataan itu! Sebab di dalam beberapa perkatan itu saja termaktublah segala sifat dan hakekatnya alam!

Alam membuat manusia berpasang-pasangan. Laki-laki tak dapat ada jika tak ada perempuan, perempuan tak dapat ada jika tak ada laki-laki. Laki-laki tak dapat hidup normal dan subur jika tak dengan perempuan, perempuan tak dapat hidup normal dan subur jika tak dengan laki-laki. Olive Schreiner, seorang idealis perempuan bangsa Eropa. Di dalam bukunya “Drie dromen in de Woestijn,” pernah memperlambangkan lelaki dan perempuan itu sebagai dua mahkluk yang terikat satu kepada yang lain oleh satu tali-gaib, satu “tali-hidup,” – begitu terikat yang satu dengan yang lain, sehingga yang satu tak dapat mendahului selangkah pun kepada yang lain, tak dapat maju setapak pun dengan tidak membawa juga kepada yang lain. Olive Schreiner adalah benar: memang begitulah keadaan manusia! Bukan saja laki dan perempuan tak dapat terpisah satu dari pada yang lain, tetapi juga tiada masyarakat manusia satu pun dapat berkemajuan, kalau laki-perempuan yang satu tidak membawa yang lain. Karenanya, janganlah masyarakat laki-laki mengira, bahwa ia dapat maju dan subur, kalau tidak dibarengi oleh kemajuan masyarakat perempuan pula.

Janganlah laki-laki mengira, bahwa bisa ditanam sesuatu kultura yang sewajar-wajarnya kultur, kalau perempuan dihinakan di dalam kultur itu. Setengah ahli tarih menetapkan, bahwa kultur Yunani jatuh, karena perempuan dihinakan di dalam kultur Yunani itu. Bnazi-Jerman jatuh, oleh karena di Nazi-Jerman perempuan dianggap hanya baik buat Kirche-Kuche-Kleider-Kinder. Dan semenjak kultur masyarakat Islam (bukan agama Islam!) kurang menempatkan kaum perempuan pula ditempatnya yang seharusnya, maka matahari kultur Islam terbenam, sedikit-sedikitnya suram!

Sesungguhnya benarlah perkataan Charles Fourrier kalau ia mengatakan, bahwa tinggi-rendahnya tingkat kemajuan sesuatu masyarakat, adalah ditetapkan oleh tinggi-rendahnya tingkat-kedudukan perempuan di dalam masyarakat itu. Atau, benarlah pula perkataan Baba Olllah, yang menulis, bahwa “laki-laki dan perempuan adalah sebagai dua sayapnya seekor burung.” Jika sayap itu sama kuatnya, maka terbanglah burung itu sampai puncak udara yang setinggi-tingginya; jika satu dari pada dua sayap itu, maka tak dapatlah terbang burung itu sama sekali.

Perkataan Baba O’lllah ini sudah sering kali kita baca. Tetapi walaupun perkataanya itu hampir basis, – kebenarannya akan tinggal ada, buat selama-lamanya.

Jadi: laki-laki dan perempuan menetapkan sifat-hakekatnya masing-masing. Tali-hidup yang ditamsilkan oleh Olive Schreiner itu, bukanlah tali-hidup sosial saja, bukan tali-hidup yang karena bersatu-rumah atau bersatu-piring nasi saja. Lebih asli daripada pertalian perumahan-yang-satu dan piring-nasi-yang-satu, adalah talihidupnya kodrat alam sendiri. Tali-hidup “sekse!” Laki-laki tak dapat subur jika tak ada tali-sekse ini, perempuan pun tak dapat subur jika tak ada tali sekse ini. Dan bukan tali-sekse yang tali-seksenya fungsi biologis saja, tapi juga tali-seksenya jiwa. Tiap-tiap sundal yang setiap hari barang kali menjual tubuhnya lima atau sepuluh kali, mengetahui, bahwa “tubuh” masih lain daripada “jiwa”. Dengan menjual tubuh yang sampai sekian kali setiap hari hari itu, masih banyak sekali sundal yang dahaga kepada cinta. Tali-sekse jasmani dan tali sekse rohani, – itulah satu bagian dari “tali-hidup” yang dimaksukan oleh Olive Schreiner, yang mempertalikan laki-laki dan perempuan itu. Memang tali-sekse jasmani dan rohani inilah kodrat tiap-tiap makhluk, dus juga kodrat tiap-tiap manusia. Manakala tali-sekse rohani dihilangkan dan hanya tali-sekse jasmani saja yang dipuaskan, maka tidak puaslah kodrat alam itu. Pada permulaan diadakan kultur-baru di sovyet-Rusia, maka ekses perhubungan anatara laki-laki dan perempuan adalah keliwat. “Tali-sekse” dianggap sebagai suatu keperluan tubuh saja, sebagai misalnya tubuh perlu kepada segelas air kalau tubuh itu dahaga. “teori air segelas” ini di tahun-tahun yang mula-mula sangat laku di kalangan pemuda-pemuda di Rusia. Madame Kollontay menjadi salah seorang penganjurnya. Siapa merasa dahaga seksuil, ia mengambil air yang segelas itu, – “habis minum,” sudahlah pula. Beberapa tahun lamanya teori air segelas ini laku. Tetapi kemudian … kemudian kondrat alam bicara. Kodrat alam tidak puas dengan segelas air saja, kodrat alam minta pada minuman jiwa. Kodrat alam minta “cinta” uang lebih memuaskan “cita,” “cinta” yang lebih suci. Lenin sendiri gasak teori air segelas ini habis-habisan dari semulanya ia muncul. Dan sekarang orang di sana telah meninggalkan sama sekali teori itu, orang telah mendapat pengalaman bahwa Alam tak dapat didurhakakan oleh suatu teori.

Semua ahli-ahli filsafat dan ahli biologi seia-sekata bahwa tali-sekse itu adalah salah satu faktor yang terpenting, salah satu motor yang terpenting dari perikehidupan manusia. Di sampingnya nafsu makan dan minum, ia adalah motor yang kuat. Di samping nafsu makan dan minum, ia menentukan perikehidupan manusia. Malahan ahli filsafat Schopenhauer ada berkata: “Syahwat adalah penjelmaan yang paling keras dariapda kemauan akan hidup. Keinsyafan kemauan-akan-hidup ini memusatkan kepada fi’il membuat turunan,” begitulah ia berkata.

Kalau tali-sekse diputuskan buat beberapa tahun saja, maka manusia umumnya menjadi abnormal. Lihatlah keadaan di dalam penjara, baik penjara buat orang laki-laki, maupun penjara buat orang perempuan. Dua kali saya pernah meringkuk agak lama dalam penjara, dan tiap-tiap kali yang paling mendirikan bulu saya ialah ke-abnormalan manusia-manusia di dalam penjara, yang seperti seperempat gila! Laki-laki mencari kepuasan kepada laki-laki dan direksi terpaksa memberi hukuman yang berat-berat.

Pembaca barangkali tersenyum akan pemandangan saya yang “mentah” ini, dan barangkali malahan menyesali kementahannya. Nabi Isa, nama Gandhi, nama Mazzini, yang menjadi besar, antara lain karena tidak mempunyai isteri atau tidak mencampuri isteri. Ah, … beberapa nama! Apakah artinya beberapa nama itu, jika dibandingkan dengan ratusan juta manusia biasa di muka bumi ini, yang semuanya hidup menurut kodrat alam? Kita di sini membicarakan kodrat alam, kita tidak membawa-bawa moral. Alam tidak mengenal moral, – begitulah Luther berkata. Beliau berkata lagi: “siapa hendak menghalangi perlaki-isterian, dan tidak mau memberikan haknya kepadanya, sebagai yang dihendaki dan dimustikan oleh alam, – ia sama saja dengan menghendaki yang alam jangan alam, yang api jangan menyala, yang air jangan basah, yang manusia jangan makan, jangan minum, jangan tidur!” Tali-sekse itu adalah menurut kodrat, sebagai lapar adalah menurut kodrat, dan sebagai dahaga adalah menurut kodrat pula!

Apakah maksud saya dengan uraian tentang tali-sekse in? Pembaca, nyatalah bahwa baik laki-laki, maupun perempuan tak dapat normal, tak dapat hidup sebagai manusia normal, kalau tidak ada tali-sekse ini. Tetapi bagaimanakah pergaulan hidup di zaman sekarang ini? Masyarakat sekarang di dalam ini pun, – kita belum membicarakan hal lain-lain! – tidak adil kepada perempuan. Perempuan di dalam hal ini pun suatu makhluk yang tertindas. Perempuan bukan saja makhluk yang tertindas kemasyarakatannya, tetapi juga makhluk yang tertindas ke-sekse-annya. Masyarakat kapitalistis zaman sekarang adalah masyarakat, yang membuat permungkinan. Pencaharian nafkah, – struggle for life – di dalam masyarakat sekarang adalah begitu berat, sehingga banyak pemuda karena kekurangan nafkah tak berani kawin, dan tak dapat kawin. Perkawinan hanyalah menjadi privilegenya (hak lebihnya) pemuda-pemuda yang ada kemampuan rezeki saja. Siapa yang belum cukup nafkah, ia musti tunggu sampai ada sedikit nafkah, sampai umur tiga puluh. Kadang-kadang sampai umur empat puluh tahun. Pada waktu ke-sekse-an sedang sekeras-kerasnya. Pada waktu ke-sekse-an itu menyala-nyala, berkobar-kobar sampai ke puncak-puncaknya jiwa, maka perkawinan buat sebagian dari kemanusiaan adalah suatu kesukaran, suatu hal yang tak mungkin. Tetapi … api yang menyala-nyala di dalam jiwa laki-laki dapat mencari jalan keluar, – melewati satu “pintu belakang” yang hina -, menuju kepada perzinahan dengan sundal dan perbuatan-perbuatan lain-lain yang keji-keji. Dunia biasanya tidak akan menunjuk laki-laki yang demikian dengan jari tunjuk, dan berkata: cih, engkau telah berbuat dosa yang amat besar! Dunia akan anggap hal itu sebagai satu “hal biasa,” yang “boleh juga diampuni.” Tetapi bagi perempuan “pintu belakang” ini tidak ada, atau lebih benar: tidak dapat dibuka, dengan tak (alhamdulillah) bertabrakan dengan moral, dengan tak berhantaman dengan kesusilaan, – dengan tak meninggalkan cap-kehinaan di atas ahi perempuan itu buat selama-lamanya. Jari-tunjuk masyarakat hanya menuding kepada perempuan saja, tidak menunjuk kepada laki-laki, tidak menunjuk kepada kedua pihak secara adil. Keseksean laki-laki setiap waktu dapat merebut haknya dengan leluasa, – kendati masyarakat tak memudahkan perkawinan -, tetapi keseksean kalbu. Perempuan banyak yang menjadi “terpelanting mizan” oleh karenanya, banyak yang menjadi putus asa, oleh karenanya. Bunuhdiri kadang-kadang menjadi ujungnya. Statistik Eropa menunjukkan, bahwa di kalangan kaum pemuda, antara umur 15 tahun dan 30 tahun, yakni waktu keseksean sedang sehebat-hebatnya mengamuk di kalbu manusia, lebih banyak perempuan yang bunuh diri, daripada kaum laki-laki. Jikalau diambil prosen dari semua pembunuhan-diri, maka buat empat negeri di Eropa pada permulaan abad ke 20, statistik itu adalah begini:

 

 

Nama Negeri

Umur 15-20 tahun Umur 21-30 tahun
Laki-laki Perempuan Laki-laki Perempuan
Jerman

Denemarken

Suis

Prancis

5,3%

4,6%

3,3%

3,5%

10,7%

8,3%

6,7%

8,2%

16%

12,4%

16,1%

10,9%

20,2%

14,8%

21%

14%

 

Ternyatalah, bahwa di semua negeri ini lebih banyak perempuan muda bunuh diri daripada laki-laki muda. Sebabnya! Sebabnya tak sukar kita dapatkan. Keseksean yang terhalang, cinta yang tak sampai, kehamilan yang rahasia, itulah biasanya yang menjadi sebab.

Adakah keadaan di negeri kita berlainan! Di sini tidak ada statistik bunuh-diri, tapi saya jaminkan kepada tuan; enam atau tujuh daripada sepuluh kali tuan membaca kabar seorang pemuda bunuh-diri di surat-surat kabar, adalah dikerjakan oleh pemuda perempuan. Di dalam masyarakat sekarang, perempuan yang mau hidup menurut kodrat alam tak selamanya dapat, karena masyarakat itu tak mengasih kemungkinannya. Di beberapa tempat di Sumatera Selatan saya melihat “gadis-gadis tua,” yang tak dapat perjodohan, karena adat memasang banyak-banyak rintangan, misalnya uang-antaran yang selalu terlalu mahal, kadang-kadang sampai ribuan rupiah. Roman mukanya gadis-gadis itu seperti sudah tua, padahal mereka ada yang baru berumur 25 tahun, 30 tahun, 35 tahun. Di daerah Indonesia yang lain-lain, saya melihat perempuan-perempuan yang sudah berumur 40 atau 45 tahun, tetapi yang roman-mukanya masih seperti muda-muda. Adakah ini oleh karena perempuan-perempuan di lain-lain tempat itu barangkali lebih cakap: make-up”-nya daripada perempuan di beberapa tempat di Sumatera Selatan itu? Lebih cakap memakai bedak, menyisir rambut, memotong baju, mengikatkan sarung? Tidak, sebab perempuan di tempat-tempat yang sama maksudkan itu pun tahu betul rahasianya bedak, menyisir rambut, memotong baju dan mengikatkan kain. Tetapi sebabnya “muka tua”, – tak ada suami, tak ada teman hidup, tak ada kemungkinan menemui kodrat alam. Di dalam bukunya tentang soal-perempuan, August Bebel mengutip perkataan Dr. H. Plosz yang mengatakan, bahwa sering ia melihat, betapa perempuan-perempuan yang sudah hampir peyot lantas seakan-akan menjadi muda kembali, kalau mereka itu mendapat suami. “Tidak jarang orang melihat bahwa gadis-gadis yang sudah layu atau yang hampir-hampir peyot, kalau mereka mendapat kesempatan bersuami, tidak lama sesudah perkawinannya itu lantas menjadi sedap kembali bentuk-bentuk badannya, merah kembali pipinya, bersinar lagi sorot matanya. Maka oleh karena itu, perkawinan boleh dinamakan sumber-kemudahan yang sejati bagi kaum perempuan,” begitulah kata Dr. Plosz itu.

Tetapi kembali lagi kepada apa yang saya katakan tadi: masyarakat kapitalis yang sekarang ini, yang menyukarkan sekali strugle for life bagi kaum bawahan, yang di dalamnya amat sukar sekali orang mencari nafkah, masyarakat sekarang ini tidak menggampangkan pernikahan antara lain laki-laki dan perempuan. Alangkah baiknya suatu masyarakat yang mengasih kesempatan nikah kepada tiap-tiap orang yang mau nikah! Orang pernah tanya kepada saya “Bagaimanakah rupanya masyarakat yang tuan cita-citakan?” Saya menjwab: “Di dalam masyarakat yang saya cita-citakan itu, tiap-tiap orang lelaki bisa mendapat isteri, tiap-tiap orang perempuan bisa mendapat suami.” Ini terdengarnya mentah sekali, tuan barangkali akan tertawa atau mengangkat pundak tuan, tetapi renungkanlah hal itu sebentar dengan mengingat keterangan saya di atas tadi, dan kemudian katakanlah, apa saya tidak benar? Di dalam masyarakat yang struggle for life tidak seberat sekarang ini, dan dimana pernikahan selalu mungkin, di dalam masyarakat yang demikian itu, niscaya persundalan boleh dikatakan lenyap, prostitusi menjadi “luar biasa” dan bukan satu kanker sosial permanen yang banyak korbannya. Professor Rudolf Eisler di dalam buku-kecilnya tentang sosiologi pernah menulis tentang persundalan ini: “Keadaan sekarang ini hanyalah dapat menjadi baik kalau perikehidupan ekonomi menjadi baik, dan mengasih kesempatan kepada laki-laki akan menikah pada umur yang lebih muda, dan mengasih kepada perempuan-perempuan yang tidak nikah, buat mencari nafkah Sonder pencaharian-pencaharian-tambahan yang merusak kehormatan.”

Pendek-kata: pada hakekatnya yang sedalam-dalamnya, soal perhubungan antar laki-laki dan perempuan, jadi sebagian daripada “soal perempuan” pula, bolehlah kita kembalikan kepada pokok yang saya sebutkan tadi: yakni soal dapat atau tidak dapat haknya keseksean, soal dapat atau tidak dapat alam bertindak sebagai alam. Di mana alam ini mendapat kesukaran, di mana alam ini dikurangi haknya, di situlah soal ini menjadi genting. Saya tidak ingin kebiadaban, saya tidak ingin tiap-tiap manusia mengumbar hantam-kromo saja meliwat-bataskan kesekseannya, saya cinta kepada ketertiban dan peraturan, saya cinta kepada hukum, yang mengatur perhubungan laki-perempuan di dalam pernikahan menjadi satu hal yang luhur dan suci, tetapi saya kata, bahwa masyarakat yang sekarang ini di dalam hal ini tidak adil antara laki-laki dan perempuan. Laki-laki minta haknya menurut kodrat alam, perempuan minta haknya menurut kodranya alam, ditentang haknya menurut kodrat alam ini tidak ada perbedaan antara lelaki dan perempuan. Tetapi, dari masyarakat sekarang, lelaki nyata mendapat hak yang lebih, nyata mendapat kedudukan yang lebih menguntungkan. Sebagai makhluk-perseksean, sebagai geslacbtswezen,  perempuan nyata terjepit, sebagaimana ia sebagai makhluk masyarakat atau makhluksosial juga terjepit. Laki-laki hanya terjepit sebagai makhluk sosial saja di dalam masyarakat ini, tapi perempuan adalah terjepit sebagai makhluk-sosial dan sebagai makhluk perseksean.

Alangkah baiknya masyarakat yang sama adil di dalam hal ini. Yang sama adil pula di dalam segala hal yang lain-lain. Saya akui, adalah perbedaan yang frundamentil antara lelaki dan perempuan. Perempuan tidak sama dengan laki-laki, laki-laki tidak sama dengan perempuan. Itu tiap-tiap hidung mengetahuinya. Lihatlah perbedaan antara tubuh perempuan dengan laki-laki, anggota-anggota lainnya, susunan anggotanya lain, fungsi-fungsi anggotanya (pekerjaannya) lain. Tetapi perbedaan bentuk tubuh dan susunan tubuh ini hanyalah untuk kesempurnaan tercapainya tujuan alam ini, maka alam mengasih anggota-anggota tubuh yang spesial untuk fungsi masing-masing. Dan hanya untuk kesempurnaan tercapainya tujuan kodrat alam ini, alam mengasih fungsi dan alat-alat ke-“lelaki-lakian” kepada perempuan. Buat laki-laki: memberi zat anak; buat perempuan: menerima zat anak, mengandung anak, melahirkan anak, menyusui anak, memelihara anak. Tetapi tidaklah perbedaan-perbedaan ini harus membawa perbedaan-perbedaan pula di dalam perikehidupan perempuan dan laki-laki sebagai makhluk-masyarakat.

Sekali lagi: ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Tetapi sekali lagi pula saya ulangi di sini, bahwa perbedaan-perbedaan itu hanyalah karena dan untuk tujuan kodrat alam, yakni hanyalah karena dan untuk tujuan perlaki-isterian dan peribuan saja. Dan sebagai tadi saya katakan, kecuali perbedaan tubuh, untuk hal ini adalah perbedaan psikis pula antara laki-laki dan perempuan yakni perbedaan jiwa. Professor Heymans, itu ahli jiwa yang kesohor, yang mempelajari jiwa-perempuan dalam-dalam, mengatakan, bahwa perempuan itu, untuk terlaksananya tujuan kodrat alam itu, adalah melebihi laki-laki di lapangan “emotionaliteit” (rasa terharu), “activiteit” (kegiatan), dan “chariteit” (kedermawanan). Perempuan lebih lekas tergoyang jiwanya daripada laki-laki, lebih lekas marah tetapi juga lebih lekas cinta-lagi daripada laki-laki, lebih lekas kasihan, lebih lekas “termakan” oleh kepercayaan, lebih ikhlas dan kurang serakah, lebih lekas terharu, lebih lekas mengidealisirkan orang lain, lebih boleh dipercaya, lebih gemar kepada anak-anak dan perhiasan, dan lain sebagainya. Semuanya ini mengenai jiwa. Tetapi anggapan orang, bahwa perempuan itu akalnya kalah dengan laki-laki, anggapan orang demikian itu dibantah oleh Professor Heymans itu dengan tegas dan jitu: “Menurut pendapat saya, kita tidak mempunyai hak sedikit pun buat mengatakan, bahwa akal perempuan kalah dengan akal laki-laki.”

Tiap-tiap guru dapat membenarkan perkataan Professor Heymans ini. Saya sendiri waktu menjadi murid di H.B.S. mengalami, bahwa seringkali murid lelaki “payah” berlomba-kepandaian dengan teman-teman perempuan dan malahan pula sering-sering “terpaku;” oleh teman-teman perempuan itu. Pada waktu saya menjadi guru di sekolah menengah pun saya mendapat pengalaman, bahwa murid-murid saya yang perempuan umumnya tak kalah dengan murid-murid saya yang laki-laki. Professor Freundlich, itu tangan-kanannya Professor Einstein di dalam ilmu bintang yang maha-guru di sekolah tnggi Istambul di dalam mata pelajaran itu kalah dengan studen-studen laki-laki. “Mereka selamanya boleh diajak memutarkan otaknya di atas soal—soal yang maha-sukar.” Professor O’Conroy yang dulu menjadi mahaguru di Keio Universiteit di Tokyo, menceritakan di dalam bukunya tentang negeri Nippon, bahwa di Nippon selalu diadakan ujian-ujian-perbandingan (vergelijkende excamens) antara lelaki dan perempuan oleh kantor-kantor-gubermen atau kantor-kantor-dagang yang besar-besar, dan bahwa selamanya kaum perempuan nyata lebih unggul daripada kaum laki-laki.

Ada-ada saja alasan orang cari buat “membuktikan,” bahwa kaum perempuan “tak mungkin” menyamai (jangan lagi melebihi) kaum perempuan kalah banyaknya dengan otak. Orang katakan, bahwa otak perempuan kalah banyaknya dengan otak laki-laki! Orang lantas keluarkan angka-angka hasil penyelidikan ahli-ahli, seperti Bischoff, seperti Boyd, seperti Marchand, seperti Retzius, seperti Grosser. Orang lantas membuat daftar sebagai dibawah ini:

Berat otak rata-rata:

Menurut Penyelidikan

Laki-laki

Perempuan
Bischoff

Boyd

Marchand

Retzius

Grossser

1362 gr

1325 gr

1399 gr

1388 gr

1388 gr

1219 gr

1183 gr

1248 gr

1252 gr

1252 gr

            Nah, kata mereka, mau apa lagi? Kalau ambil angka-angka Retzius dan Grosser, maka otak laki-laki rata-rata beratnya 1388 gram, dan otak perempuan rata-rata 1252 gram! Mau apa lagi? Tidakkah ternyata laki-laki lebih banyak otaknya daripada perempuan?

            Ini jago-jago kaum laki-laki lupa, bahwa tubuh laki-laki juga lebih berat dan lebih besar daripada tubuh perempuan! Berhubungan dengan lebih besarnya tubuh laki-laki itu, maka Charles Darwin yang termasyur itu berkata: “Otak laki-laki memang lebih banyak dari otak perempuan. Tetapi, jika dihitung dalam bandingan dengan lebih besarnya badan laki-laki, apakah otak laki-laki itu benar lebih besar?” Kalau dihitung di dalam perbandingan dengan beratnya tubuh, maka ternyatalah (demikianlah dihitung) bahwa otak perempuan adalah rata-rata 23,6 gr, per kg tubuh, tetapi otak laki-laki hanya … 21,6 gram per kg tubuh! Jadi kalau betul ketajaman akal itu tergantung dari banyak atau sedikitnya otak, kalau betul banyak-sedikitnya otak menjadi ukuran buat tajam atau tidak tajamnya pikiran maka perempuan musti selalu lebih pandai dari kaum laki-laki!

            Ya, kalau betul ketajaman akal tergantung dari banyak-sedikitnya otak! Tetapi bagaimana kenyataan? Bagaimana hasil penyelidikan otaknya orang-orang yang termasyur sesudah mereka mati? Ada ahli-ahli pikir yang banyak otaknya, tetapi ada pula harimau-harimau pikir yang tidak begitu banyak otaknya! Cuvier, itu ahli-pikir, otaknya 1830 gr. Byron itu penyair-besar, 1807 gr, Mommsen 1429,4 gr, ahli-falsafah Herman hanya 1358 gr, (di bawah “normal!”), gajah falsafah dan ilmu hitung Leibniz hanya 1300 gr, (dibawah “normal!”) jago fisika Bunsen hanya 1295 gr (di bawah “nomor!”), kampiun politik Prancis Gambetta hanya 1180 gr (malahan di bawah “nomor perempuan” sama sekali!). Sebaliknya Broca, itu ahli fisiologi Paris yang termasyur pernah mengukur isi tengkorak-tengkorak manusia dari Zaman Batu, – dari zaman tatkala manusia masih biadab dan bodoh! – dan ia mendapat hasil rata-rata 1606 cm3, satu angka yang jauh lebih tinggi daripada angka-angka isi tengkorak dari zaman sekarang. Malahan teori “lebih banyak otak lebih pandai” ini ternyata pula menggelikan, sebab Bischoff pernah menimbang otak mayat seorang kuli biasa, – tentu seorang yang bodoh! – dan ia mendapat record 2222 gr!, sedang Kohlbrugge berkata, bahwa “otak orang-orang yang gila atau idiot sering sekali sangat berat!” Dari mana orang masih mau tetap menuduh bahwa orang perempuan kurang tajam pikiran, karena orang perempuan kurang banyak otaknya kalau dibandingkan dengan orang laki-laki?

            Tidak “alasan otak” ini adalah alasan kosong. “Alasan otak” ini sudah lama dibantah, dihantam, dibinaskan oleh ilmu pengetahuan! Bebel di dalam bukunya mengumpulkan ucapan-ucapan ahli wetenschap tentang “alasan otak” ini. Raymond Pearl berkata: “Tidak da satu buku, bahwa antara ketajaman akal dan beratnya otak ada perhubungan satu dengan yang lain;” dan Kohlbrugge menulis pula: “antara ketajaman akal dan beratnya otak tidak ada pertalian apa-apa.” Dan tidakkah ada cukup bukti, bahwa perempuan sama tajam pikirannya dengan kaum laki-laki, sebagai dikatakan oleh Prof. Hemans, Prof, Freundlich, Prof. O’Conroy itu tadi, dan boleh ditambah lagi dengan berpuluh-puluh lagi keterangan ahli-ahli lain yang mengakui hal ini, kalau kita mau? Tidakkah kita sering mendengar nama perempuan-perempuan yang menjadi bintang ilmu pengetahuan atau politik, sebagai Madame Curie, Eva Curie, Clara Zetkin, Henriette Roland Holst, Sarojini Naidu, dll?

            Tuan barangkali akan membantah, bahwa jumlah perempuan-perempuan kenamaan itu belum banyak, dan bahwa di dalam masyarakat sekarang kebanyakannya kaum laki-lakilah yang memegang obor ilmu pengetahuan dan falsafah dan politik. Benar sekali, tuan-tuan; Di dalam masyarakat sekarang! Benar sekali: di mana laki-laki mendapat lebih banyak kesempatan buat menggeladi akal-pikirannya, maka kaum laki-lakilah yang kebanyakan menduduki tempat-tempat kemegahan ilmu dan pengetahuan. Di Dalam masyarakat sekarang ini, di mana kaum perempuan banyak yang masih dikurung, banyak yang tidak dikasih kesempatan maju ke muka di lapangan masyarakat, banyak yang baginya diharamkan ini dan diharamkan itu, maka tidak heran kita, bahwa kurang banyak kaum perempuan yang ilmu dan pengetahuannya membubung ke udara. Tapi ini tidak menjadi bukti bahwa dus kualitas otak perempuan itu kurang dari kualitas otak kaum lelaki, atau ketajaman otak perempuan kalah dengan ketajaman otak laki-laki. Kualitasnya sama, ketajamannya sama, kemampuannya sama, hanya kesempatan-bekerjanya yang tidak sama, kesempatan-berkembangnya tidak sama. Maka oleh karena itu, justru dengan alasan kurang dikasihnya kesempatan oleh masyarakat sekarang kepada kaum perempuan, maka kita wajib berikhtiar membongkar ke-tidak-adilan masyarakat terhadap kaum perempuan itu! (*)

_________________

Soekarno (Bung Karno) Presiden Pertama Republik Indonesia, 1945-1966, menganut ideologis pembangunan ‘berdiri di atas kaki sendiri’. Proklamator yang lahir di Blitar, Jatim, 6 Juni 1901 ini dengan gagah mengejek Amerika Serikat dan negera kapitalis lainnya: “Go to hell with your aid.” Namun, akhirnya ia lebih condong ke Blok Timur yang dikendalikan Uni Soviet dan RRC. Pemimpin Besar Revolusi ini berhasil menggelorakan semangat revolusi bagi bangsanya, serta menjaga keutuhan NKRI. Kendati ia belum berhasil dalam bidang pembangunan ekonomi untuk membawa rakyatnya dalam kehidupan sejahtera, adil makmur. Ideologi pembangunan yang dianut pria yang berasal dari keturunan bangsawan Jawa (Ayahnya bernama Raden Soekemi Sosrodihardjo, suku Jawa. Ibunya bernama Ida Ayu Nyoman Rai, Suku Bali), ini bila dilihat dari buku Pioneers in Development, kira-kira condong menganut ideologi pembangunan yang dilahirkan kaum ekonomi kerakyatan. Masa kecil Bung Karno sudah diisi semangat kemandirian. Ia hanya beberapa tahun hidup bersama orang tua di Blitar. Semasa SD hingga tamat, ia tinggal di Surabaya, indekos di rumah Haji Oemar Said Tjokroaminoto, politisi kawakan pendiri Syarikat Islam. Kemudian melanjut di HBS (Hoogere Burger School). Saat belajar di HBS itu ia pun telah menggembleng jiwa nasionalismenya. Selepas lulus HBS tahun 1920, ia pindah ke Bandung dan melanjut ke THS (Technische Hoogeschool atau sekolah Tekhnik Tinggi yang sekarang menjadi ITB). Ia berhasi meraih gelar “Ir” pada 25 Mei 1926. Kemudian, ia merumuskan ajaran Marhaenisme dan mendirikan PNI (Partai Nasional Indonesia) pada 4 Juli 1927, dengan tujuan Indonesia Merdeka. Akibatnya, pemerintah kolonial Belanda menjebloskannya ke penjara Sukamiskin, Bandung pada 29 Desember 1929. Delapan bulan kemudian baru disidangkan.

            Dalam pembelaannya berujudul Indonesia Menggugat, ia menelanjangi kebusukan Belanda. Pembelaannya itu membuat Belanda makin marah sehingga pada Juli 1930, PNI pun dibubarkan. Setelah bebas (1931), Bung Karno bergabung dengan Partindo dan sekaligus memimpinnya. Akibatnya, ia kembali ditangkap Belanda dan dibuang ke Ende, Flores, tahun 1933. Empat tahun kemudian dipindahkan ke Bengkulu. Setelah melalui perjuangan yang cukup panjang, bung Karno dan Bung Hatta memproklamasikan kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945. Sebelumnya, ia juga berhasil merumuskan Pancasila yang kemudian menjadi dasar (ideologi) Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ia berupaya mempersatukan nusantara. Bahkan ia berusaha menghimpun bangsa-bangsa di Asia, Afrika, dan Amerika Latin degnan Konferensi Asia Afrika di Bandung pada 1955 yang kemudian berkembang menjadi Gerakan Non Blok.

Sumber: Dr. I. Sukarno, Kewajiban Wanita dalam Perjuangan Republik Indonesia, Panitia Penerbit Buku-buku Karangan Presiden Sukarno, 1963.

Continue Reading

Pemikiran

Mohammad Hatta: Di Atas Segala Lapangan Tanah Air Aku Hidup, Aku Gembira

mm

Published

on

Mohammad Hatta[1]

HERBERT Spencer, ahli filsafat terkenal pada abad yang lalu mengatakan bahwa manusia itu pada hakikatnya bersifat kuno. Hatinya sering terikat oleh kebiasaan, perasaannya, berat kepada yang lama. Itulah sebabnya maka orang tak mudah membuat yang lama dan menerima yang baru. Demikian juga dalam pergaulan, orang sangat terikat kepada tempatnya yang lama, bahkan tempat tumpah darahnya.

Memang filosofi kehidupan ini kita alami setiap hari. Apa lagi bagi orang tani, sangat melekat hatinya kepada tanah yang dikerjakannya, kepada pekarangan yang didalaminya, apa pula kalau tanah itu diperolehnya sebagai pusaka nenek moyang, turun temurun dari buyut sampai ke kakek, dari kakek sampai ke bapak, dari bapak sampai ke anak dan dari anak turun ke cucu dan selanjutnya.

Sifat itulah yang menjadi seni perasaan provincialisme, yang menjadi halangan kepada majunya cita-cita persatuan bangsa. Itulah sebabnya maka cita-cita persatuan bangsa lambat timbul dalam negeri agraria, yang penduduknya terutama hidup daripada pertanian, di mana satu sama lain jarang berhubung dengan tukar menukar. Cita-cita persatuan lekas timbul dalam negeri industri, di mana rakyatnya yang memburuh terlepas dari ikatan tanah dan tempat, melainkan disusun bersatu oleh pabrik dan disiplin pekerjaan. Lihat Inggeris negeri industri, betapakah kuat persatuan kebangsaannya. Lihat pula sebaliknya tanah Italia pada pertengahan abad yang lalu, negeri agraria, berapakah sukarnya membangkitkan semangat persatuan, berapakah kuatnya sifat provincialisme yang menjadi sebab hilangnya kemerdekaan bangsa dan Tanah Air Italia. Mengembara Mazzini lebih dahulu dalam pembuangan, mengandung dalam dadanya api persatuan yang tak mau padam, barulah menyingsing fajar keinsafan yang bibitnya ditanam oleh Mazzini: Italia Merdeka. Dengan itu terlekatlah semboyan di bibir tiap-tiap putera Italia, mengatakan Italia fara de se, artinya: Italia membikin dirinya sendiri.

Dalam pada itu, satu ajaran kita dapat daripada sejarah pergerakan kemderdkaan di Italia. Sekalipun sukar mencapai persatuan bagi tanah agraria dan bangsa pertanian, namun dengan usaha dan didikan cita-cita itu tercapai juga.

Keadaan Indonesia di waktu sekarang tidak seberapa bedanya dengan tanah Italia pada pertengahan abad yang lalu. Juga Indonesia terbilang tanah agraria. Selain daripada itu ia terbagi atas beberapa pulau yang besar dan beratus pulau-pulau yang kecil, satu sama lain dipisah-pisah oleh lautan. Lebih lagi daripada di Italia di zaman dahulu, terdapat di sini semangat persaingan dan provincialisme, Satu, sifat tani yang dipengaruhi oleh lingkungan tanah yang dikerjakannya; kedua, keadaan insulair (kepulauan), – kedua-duanya itu adalah dasar yang baik untuk menimbulkan perasaan buat hidup sendiri-sendiri serta berpikir sebagai katak di bawah tempurung.

Tidak heran, kalau pergerakan kebangsaan ditujukan kepada Tanah Air dan bangsa yang satu, kalau pergerakan pada langkah bermula mendidik persatuan. Bukan persatuan dalam pengertian menggabungkan beberapa partai politik menjadi yang tidak punya sifat dan rupa, melainkan persatuan dengan makna “berasa satu sebagai anak dari Ibu yang satu, Ibu Indonesia.” Dalam politik boleh berbeda paham, tetapi dalam rasa kebangsaan harus terikat oleh Tanah Air yang satu, yang dicintakan kemerdekaannya.

Itulah sebabnya, maka pergerakan kita bermula menuju hilangnya perasaan provincialisme. Tidak sedikit tempo yang dipergunakan untuk propaganda persatuan, supaya orang Batak menghilangkan perasaan kebatakannya, supaya orang Minangkabau menanggalkan keminang-kabauannya, supaya orang Sunda dan Jawa dan Madura melepaskan diri masing-masing daripada perasaan kebangsaan yang picik. Bagaimana juga tiap-tiap daerah dan kaum terikat oleh kebiasaan dan adat sendiri, semuaya harus merasa dirinya bagian dari Tanah Air yang satu. Berulang-ulang dipropagandakan, bahwa keadaan bangsa tidak ditentukan oleh bahasa yang sama dan agama yang serupa, melainkan oleh kemauan untuk bersatu. Dimana ada kemauan untuk bersatu dalam perikatan yang bernama “bangsa”, di waktu itu timbullah Kebangsaan Indonesia.

Ini kepercayaan, ini propaganda, akan tetapi tidak cukup dengan itu saja. Tidak cukup kalau kita dalam perasaan saja menamai diri kita “anak Indonesia”; di mana keadaan memaksa harus ditetapkan dengan bukti.

Masih banyak di antara kita yang bernama atau menamakan diri nasionalis Indonesia, akan tetapi pergaulannya dan semangatnya masih amat terikat kepada daerah dan tempat ia dilahirkan. Hatinya berat meninggalkan tanah tumpah darahnya, bercerai dengan pekarangan tempat buaiannya tergantung. Apalagi kalau ia terpaksa meninggalkan kotanya yang ramai dengan tiada kemauan sendiri, kalau ia ditempatkan ke satu daerah yang sunyi, yang adat dan lembaganya berlainan daripada yang dipakainya. Di sana timbul pilu dalam hatinya, teringatlah ia kepada kampung dan lupalah ia kepada Indonesia, yang daerahnya jauh lebih luas daripada kampung dan halaman si musafir tadi.

Siapa yang masih berperasaan begitu, bukanlah ia anak Indonesia, melainkan tak lebih dari anak provincial. Cita-cita Indonesia Merdeka makin dekat tercapai, bilamana semangat provincial semakin hilang dan anak Indonesia tulen semakin bertambah. Tandanya orang bernama anak Indonesia tulen, ia tak takut ke mana juga dalam Indonesia ini ia dibawa nasib. Di atas lapangan Tanah Air, ia hidup dan ia gembira.

Kita kaum revolusioner yang mengikut dan menganjurkan pergerakan radikal harus mempunyai perasaan yang demikian. Kita belum revolusioner dan belum radikal dalam semangat, kalau mulut kita tidak sesuai dengan isi hati kita. Ke mana kita dibawa oleh nasib, ke mana kita dibuang oleh yang berkuasa, tiap-tiap bidang tanah dalam Indonesia ini, itulah juga Tanah Air kita. Teluk yang molek dan telaga yang permai, gunung yang tinggi dan lurah yang dalam, rimba belantara dan hutan yang gelap, ataupun pulau yang sunyi serta pun padang yang lengang, semuanya itu bagian Tanah Air yang sama kita cintai. Semuanya itu tidak boleh asing bagi kita. Apalagi, karena barisan kitalah yang senantiasa terancam oleh exorbitant rechten, yang sering memberikan korban buat pembuangan.

Kepada saudara-saudara kita yang menempuh jalan pembuangan dan hidup dalam perasingan, inilah syarat hidup yang kita peringatkan: “Di atas segala lapangan Tanah Air aku hidup, aku gembira, Dan di mana kakiku menginjak bumi Indonesia, di sanalah tumbuh bibit cita-cita yang kusimpan dalam dadaku”. (*)

_______________________

Mohammad Hatta lahir di Bukittinggi, 12 Agustus 1902. Pada tahun 1921 Hatta tiba di Negeri Belanda untuk belajar pada Handels Hoge School di Rotterdam. Ia mendaftar sebagai anggota Indische Vereniging. Tahun 1922, perkumpulan ini berganti nama menjadi Indonesische Vereniging. Perkumpulan yang menolak bekerja sama dengan Belanda itu kemudian berganti nama lagi menjadi Perhimpunan Indonesia (PI). Hatta juga mengusahakan agar majalah perkumpulan, Hindia Poetra, terbit secara teratur sebagai dasar pengikat antar anggota. Pada tahun 1924 majalah ini berganti nama menjadi Indonesia Merdeka. Pada tahun 1926, dengan tujuan memperkenalkan nama “Indonesia”, Hatta memimpin delgasi ke Kongres Demokrasi Internasional untuk Perdamaian di Bierville, Prancis. Perjuangannya dalam pergerakan nasional di luar negeri membuatnya dipenjara selama lima bulan bersama dengan Nazir St. Pamontjak, Ali Sastroamidjojo, dan Abdl Madjid Djojoadiningrat.

Menjelang kemerdekaan, pada awal Agustus 1945, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia dibentuk dengan Soekarno sebagai Ketua dan Mohammad Hatta sebagai Wakil Ketua.

Tanggal 17 Agustus 1945, kemerdekaan Indonesia diproklamasikan oleh Soekarno dan Mohammad Hatta atas nama bangsa Indonesia, tepat pada jam 10.00 pagi di Jalan Pengangsaan Timur 56 Jakarta. Tanggal 18 Agustus 1945, Ir. Soekarno diangkat sebagai Presiden Republik Indonesia dan Drs. Mohammad Hatta diangkat menjadi Wakil Presiden Repbulik Indonesia.

Pada tanggal 27 Desember 1949 di Den Haag, Bung Hatta yang mengetuai Delegasi Indonesia dalam Konperensi Meja Bundar untuk menerima pengakuan kedaulatan Indonesia dari Ratu Juliana. Bung Hatta juga menjadi Perdana Menteri waktu Negara Republik Indonesia Serikat berdiri. Selanjutnya setelah RIS menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia, Bung Hatta kembali menjadi Wakil Presiden.

Selama menjadi Wakil Presiden, Bung Hatta tetap aktif memberikan ceramah-ceramah di berbagai lembaga pendidikan tinggi. Dia juga tetap menulis berbagai karangan dan buku-buku ilmiah di bidang ekonomi dan koperasi. Dia juga aktif membimbing gerakan koperasi untuk melaksanakan cita-cita dalam konsepsi ekonominya. Tanggap 12 Juli 1951, Bung Hatta mengucapkan pidato radio untuk meyambut Hari Koperasi di Indonesia. Karena besarnya aktivitas Bung Hatta dalam gerakan koperasi, maka pada tanggal 17 Juli 1953 dia diangkat sebagai Bapak Koperasi Indonesia pada Kongres Koperasi Indonesia di Bandung. Pikiran-pikiran Bung Hatta mengenai koperasi antara lain dituangkan dalam bukunya yang berjudul Membangun Koperasi dan Koperasi Membangun (1971). Pada tanggal 27 Nopember 1956, ia memperoleh gelar kehormatan akademis yaitu Doctor Honoris Causa di bidang ilmu hukum. Pidato pengukuhan Bung Hatta berjudul Menuju Negara Hukum.

Pada tahun 1960 Bung Hatta menulis “Demokrasi Kita” dalam majalah Pandji Masyarakat. Sebuah tulisan yang terkenal karena menonjolkan pandangan dan pikiran Bung Hatta mengenai perkembangan demokrasi di Indonesia waktu itu. Dalam masa pemerintahan Orde Baru, Bung Hatta lebih merupakan negarawan sesepuh bagi bangsanya daripada seorang politikus. Pada tanggal 15 Agustus 1972, Presisen Soeharto menyampaikan kepada Bung Hatta anugerah negara berupa Tanda Kehormatan tertinggi “Bintang Republik Indonesia Kelas I” pada suatu upacara kenegaraan di Istana Negara.

Bung Hatta, Proklamator Kemerdekaan dan Wakil Presiden Pertama Republik Indonesia, wafat pada tanggal 14 Maret 1980 di Rumah Sakit Dr. Tjipto Mangunkusumo, Jakarta, pada usia 77 tahun dikebumikan di TPU Tanah Kusir pada tanggal 15 Maret 1980.

Sumber: Mohammad Hatta, Buku 1 Kebangsaan dan Kerakyatan, PT Pustaka LP3ES, Jakarta, 1998.

* Diterbitkan pertama kali dalam Daulat Ra’jat, No. 85, 20 Januari 1934, dan dimuat kembali dalam Kumpulan Karangan, I, Penerbitan dan Balai Buku Indonesia, Jakarta, Amsterdam, Surabaya, 1953, dan Penerbit Bulan Bintang, Jakarta 1976.

 

Continue Reading

Editor's Choice

Soedjatmoko: Sukma dan Masyarakat—Sebuah Tafsiran Timur tentang Counter Culture

mm

Published

on

SAYA akan mulai dengan sebuah cerita. Inilah cerita rakyat yang bersumberkan mistik Jawa. Agama Islam menurut dugaan orang dibawa ke pulau Jawa, pulau asal saya di Indonesia, oleh kesembilan orang wali. Bertolak dari daerah pantai, mereka menyebarkan agamanya lewat penobatan maupun penaklukan. Salah seorang dari antaranya, Siti Djenar, adalah, seorang sufi beraliran heterodoks. Dimaklumkannya bahwa Allah bukanlah di surga, akan tetapi di dalam hati manusia dan bahwa untuk menjadi Muslim yang baik seorang tidak perlu melaksasnakan ibadah haji ke Mekkah atau memperhatikan bentuk-bentuk ibadah agama, asal saja dia dapat membuka dirinya bagi terang Allah di dalam hatinya.

Setelah beberapa lama menderita karena tingkah lakunya yang tidak patut, delapan wali lainnya berkumpul dan memutuskan bahwa Siti Djenar harus dibunuh, bukan saja karena yang diajarkannya tidak benar, akan tetapi ajarannya dan caranya mengajar menghancurkan ketertiban sosial. Mereka mengundangnya datang ke suatu pertemuan, di mana mereka mengumumkan keputusannya. Siti Djenar menerima keputusan mereka dan membiarkan dirinya ditikam; akan tetapi dari lukanya bukanlah darah yang menyembur melainkan suatu zat putih dan dia pun tidak meninggal. Akhirnya mereka mohon agar dia mati supaya ketertiban sosial bisa dipulihkan dan Siti Djenar pun mengikuti kehendak mereka; darahnya menjadi merah kembali dan dia pun wafat.

            Tergantung dari sudut penglihatan, seseorang, sebagaimana kebanyakan legenda, legenda ini mengandung berbagai tingkat makna. Salah satu yang sangat erat hubungannya dengan tema pembicaraan saya ini adalah – bahwa kehidupan manusia, secara individual dan secara kolektif, berputar sekitar dan bergerak antara dua kutub kepentingan fundamental; di satu pihak mencari kebenaran, kebebasan batin, untuk kesempurnaan kepribadian seseorang atau untuk penebusan jiwa; pada pihak lain mencari suatu masyarakat yang lebih baik.

Kebanyakan keresahan dan pencarian (search) kaum muda sekarang bukan saja di Amerika, akan tetapi di kebanyakan negara, berkisar pada dua kepentingan ini. Bahwa pencarian diri sendiri telah merebut tempat yang penting, bisa dipahami. Ia merupakan reaksi terhadap kekakuan yang melumpuhkan dan konformitas, hampa yang menjadi bagian dari masyarakat moderen, dan masyarakat yang berlimpah ruah kekayaannya baik di Barat maupun di Timur; menantang depersonalisasi hubungan antara manusia, kesepian yang mendalam pada setiap orang, dan rasa-tak-berdaya sebagai akibat terkurungnya manusia oleh birokrasi raksasa, baik birokrasi negara maupun swasta, yang memang dibutuhkan untuk menjalankan struktur yang kompleks dan yang berpijak pada teknologi. Ia merupakan reaksi terhadap pemiskinan spiritual sebagai akibat sekularisasi, rasionalisasi sambil menghilangkan nilai-nilai dan makna kehidupan manusia, dan rasa relativitas yang mendalam yang melumpuhkan kemampuan-kemampuan moral. Dari situ timbullah pencarian yang mendesak untuk “menghubungkan” satu sama lain, mencari kebenaran absolut, spontanitas dan kebebasan batin, meluaskan kesadaran manusia, mencari cinta, belas kasih dan kegembiraan.

Walaupun agak berbeda konotasinya, konsep “jiwa” kini semakin sering dipergunakan secara terhormat, setelah ia mengalami penyusutan arti karena menjadi bahan ulasan ilmiah para psikolog. Kemurnian dan kerapuhan “kekuatan bunga’ (flower power), penceburan diri ke dalam, dunia mistik dari agama dan filosofi ketimuran lainnya, tekanan baru yang diberikan kepada emosi, perasaan dan kebangkitan kembali kemampuan-kemampuan manusiawi yang telah terlalu lama dilumpuhkan. Bagi seorang pengamat yang berasal dari daerah di mana kecenderungan-kecenderungan mistik masih tetap kuat, fenomena ini mengingatkan dia akan kaitan dengan meluasnya semangat agama secara massal, walaupun dalam kasus tersendiri, dengan karakter yang jelas-jelas sekuler, dengan ciri-ciri post-Freudian atau pra-Marcussian. Akan tetapi pengamat tersebut secara tegas diingatkan kepada perbedaan fundamental yang senantiasa diberikan oleh semua agama yang mempunyai kecenderungan mistik dan filosofis antara menyerahkan diri kepada emosi dan kelembutan perasaan pada satu pihak, dan disiplin baja dari pikiran dan jiwa yang dituntut dari para penganut pada pihak lain.

Juga, sebagaimana tersirat dalam kisah yang saya ceritakan, kedua kutub di mana kepentingan utama manusia berputar, walaupun tidak, eksklusif terhadap yang lainnya, jelas bekerja pada tingkatan eksistensial yang berbeda. Metode yang dipergunakan untuk mencari yang satu tidak mesti menghantarkan kita untuk mencari yang lainnya, dan juga visi dan kedalaman pandangan yang diperoleh sesaat (Instant utopia) bukanlah kemestian sosial dari suatu loncatan mistik menuju Allah; dan juga pandangan hidup mistik yang historis tentang kehidupan tidak memberikan kita pegangan untuk menangani masalah-masalah sosial tak terkendalikan yang dan hanya bisa ditaklukkan oleh, penyelesaian-penyelesaian yang mampu bertahan terhadap waktu. Sejarah telah tertimbun oleh contoh-contoh di mana sistem-sistem sosial yang paksakan kepada masyarakat atas nama Allah dan kebenaran hanyalah menjurus kepada sikap tidak toleran, tirani dan penindasan yang paling kejam.

Kedua, pengertian tentang kebenaran sebagai realitas trans-subyektif melalui pengalaman batin yang iluminatif secara fundamental amat penting bagi individu bersangkutan, dan ia dapat mempengaruhi kemampuannya untuk “menghubungkan” kepada manusia dalam lingkungannya yang terdekat, biarpun harus disadari juga bahwa pengalaman ini tidak begitu saja dapat menjadikannya seorang yang “lebih baik.” Juga pengalaman semacam ini secara substansial tidak menambah kemampuannya untuk menolong meringankan bebasan kesengsaraan sesamanya. Dengan kata lain: mencapai kebebsan batin atau kesempurnaan, meski yang sepenuh-penuhnya, tidak memberi jaminan adanya suatu masyarakat yang sempurna. Dalam kenyataannya, sejarah agama-agama tradisional di Asia yang sangat berkepentingan dengan mengajar kebenaran secara mistis dan penebusan diri, mengungkapkan kegagalan mereka dalam mengatasi stagnasi, kemiskinan dan ketidakadilan dalam masyarakat-masyarakatnya; dalam banyak kesempatan mereka menghalangi penyesuaian-penyesuaian kepada perubahan sosial. Karena itu jelas ada kebutuhan terhadap kesadaran akan keterbatasannya; di seberangnya kepercayaan yang terlalu kuat pada jalan keaslian pribadi dalam menghadapi masalah msayarakat pada umumnya merupakan usaha mengalahkan diri sendiri. Pandangan personalistik terhadap penyakit masyarakat menghambat komunikasi dan aksi secara umum mengatasi dan melebihi partikularisme generasi atau kelompok seseorang, ia menghalangi berkembangnya teori masyarakat tanpa makna takkan mungkin ada tindakan sosial yang berencana dan berjangka panjang. Jelas dalam melihat kedua kutub kepentingan manusia kita sedang berhadapan dengan 2 realitas yang berbeda, masing-masing dengan jenis persepsi yang berlainan dan cara bertindak yang berbeda pula. Untuk menanggulangi masalah masyarakat dan perubahan sosial secara efektif maka kita harus menanganinya dengan memandangnya sebagai masalah sosial dan bukan masalah lainnya, dan bukan pula sebagai masalah kebenaran terakhir; kita harus, menghadapinya secara historis dan bukan secara moral, walaupun sangat boleh jadi motivasi kita bersifat moral.

Di dorong oleh beberapa manifestasi tekanan psikedelik dalam counter culture kaum muda sekarang, renungan ini mengandalkan betapa pentingnya kita berhenti sejenak untuk melihat ke dalam dan mengalihkan pandangan ke luar kepada masalah yang dihadapi dunia sekarang, dari mana tak seorang pun dari kita akan luput.

Rupanya manusia sekali lagi berada pada titik-titik bersejarah artikulasi untuk memberikan, keputusan-keputusan penting bagi masa depannya, kalau masa depan itu memang ada.

Pada suatu pihak ia dihantui pembinasaan nuklir. Pada pihak lain, sebagaimana tidak pernah ada sebelumnya, ia merasa memiliki peluang terbatas untuk menata hidupnya di dunia ini atas peri yang lebih berbudaya dan secara moral lebih bisa diterima, karena, berkat langkah-langkah raksasa dalam ilmu dan teknologi, kini ia memiliki kemampuan mengendalikan sumber-sumber alam menuju tujuan tersebut.

Antara kedua ujung ini ada kebutuhan mendesak untuk mempertahankan kembali kontrol moral manusia terhadap teknologi yang tak terkendalikan dalam industri dan militer, agar sekali lagi ia melayani tujuan dan kebutuhan manusia.

Ada tekanan yang ditimbulkan oleh masalah-masalah kehidupan kota, kantong-kantong (enclaves) terbelakang dan miskin. Masalah harmoni rasial dan bagaimana menghentikan pembinasaan ekolobi manusia. Ada masalah-masalah yang sama sekali tak terselesaikan yaitu penyesuaian pribadi dan kelembagaan secara terus-menerus kepada lingkungan teknologis, sosial dan kultural yang berubah cepat.

            Kemajuan ilmu pengetahuan telah menampilkan gambaran manusia mengenai dirinya pada suatu tingkatan seperti yang belum pernah terjadi sebelumnya. Banyak pemikiran tentang diri, tentang yang baik dan jahat, semakin menjadi kuno, atau tidak relevan. Dengan demikian dalam menghadapi pil, obat-obatan yang mampu mempengaruhi pikiran serta daya ingatan, menghadapi kemungkinan untuk memanipulir konfigurasi keturunan seseorang dan peluang yang semakin terbuka bagi tramplantasi organ manusiawi, manusia senantiasa dipaksa dihadapkan kepada persoalan bukan saja mengenai apakah, ia dapat melanjutkan kehidupannya tetapi menyangkut masalah manusia jenis manakah yang dikehendakinya untuk meneruskan hidup, secara individual maupun secara kolektif. Manusia masih harus merumuskan kembali kemanusiaannya, memberikan formalisasi baru mengenai apa yang dikiranya hakiki bagi kemanusiaannya.

Inilah beberapa masalah yang harus dihadapi pada suatu titik tertentu oleh semua bangsa, dalam tingkatan yang berbeda-beda, dan dari perspektif kultural masing-masing, namun tetap tak terhindarkan.

Akan tetapi, masalah yang paling utama, sekurang-kurangnya bilamana kita mampu menghindari pembinasaan nuklir – adalah ledakan penduduk. Bila kita melihat kemungkinan bahwa 30 tahun lagi sejak sekarang penduduk dunia akan menjadi dua kali lipat, maka pertanyaan yang timbul adalah apakah umat manusia secara keseluruhan mampu mengorganisir diri secukupnya untuk menghadapi tantangan dalam memberikan makanan dan pakaian kepada jutaan orang yang mengkhawatirkan dan dengan demikian sekurang-kurangnya bisa menjamin tingkatan yang ditolerir dari kehidupan berbudaya. Dalam hubungan ini, patut disebut masalah kemiskinan internasional, dan jurang yang senantiasa melebar antara bangsa yang kaya dan yang miskin, dengan ancaman-ancaman yang inheren terhadap perdamaian dunia.

Hal ini patut menuntut pengarahan kembali secara fundamental sumber-sumber dunia. Hal ini berarti melibatkan negara-negara berkembang dalam suatu cara yang sistematis, dan semakin intensif, dalam proses-proses produksi dunia, dalam suatu cara yang sesuai dengan kebebasan dan martabat. Untuk mengambil satu contoh, bilamana tidak diambil suatu usaha yag dipertimbangkan secara matang untuk menjalin hubungan antara kemampuan penelitian pada bangsa-bangsa yang kurang maju – kalau perlu membantu memperkembangkannya sampai kepada suatu tingkat di mana hal ini dimungkinkan – dengan penelitian garis depan (frontiers research) dan pembangunan pada bangsa-bangsa yang telah maju teknologinya, maka kemajuan baru dalam teknologi hanyalah akan memperluas jurang antara negara-negara yang kaya dan miskin, dan menutupi negara miskin dalam suatu posisi menjadi tukang-tadah abadi dan pasif dengan memakai hasil ciptaan orang lain.

Penelitian yang dilakukan masa kini tentang biologi laut dan eksploitasi mineral di dasar laut adalah contoh yang baik dalam hal ini. Dengan demikian jelas dituntut konsep baru tentang pembangunan peralatan baru dan tepat untuk arus modal, kemahiran teknis dan kerampilan organisatoris dalam suatu tata besaran (0rder of magnitude) yang jauh melebihi yang pernah ada sekarang. Hal ini mengandalkan kebutuhan untuk memperkembangkan kerangka internasional baik dalam bidang hukum dan politik di mana penyusunan kembali tata internasional semacam ini bisa berlangsung dalam suatu cara yang bisa memberikan arti kepada kehidupan, bukan saja dalam hubungan dengan arti menurut tatanan masa sekarang akan tetapi juga bagi dasawarsa mendatang, baik pada tingkat individual maupun secara kolektif.

Inilah, dalam pandangan saya, masalah besar yang dihadapi umat manusia sekarang dan yang akan menentukan corak kualitas kehidupan individual maupun kehidupan bangsa-bangsa dalam dasawarsa-dasawarsa mendatang. Sejauh ini dunia tidak menunjukkan tanda-tanda atau kemampuan untuk mengatasinya. Kalaupun keadaan sekarang ditandai oleh stagnasi intelektual dan kekurangan ide-ide baru serta konsep-konsep baru, dunia harus memperkembangkan kemampuan kolektif untuk menanggulangi masalah ini. Tidak ada satu bangsa pun, betapapun berkuasanya, betapapun kayanya, maupun menyelesaikannya sendiri. Interdependensi baru yang fundamental, telah muncul, interdependensi kelangsungan hidup, interdependensi, kondisi minimum bagi peradaban.

            Uraian ini hanya menekankan apa yang telah jelas untuk beberapa waktu sekarang, yaitu amat pentingnya institusi intelektual untuk membentuk masa depan. Seperti belum pernah terjadi sebelumnya ilmu pengetahuan, terlebih pengetahuan teoretis, penelitian dan pengembangan dan imajinasi yang berdisiplin dari para ilmuwan telah menjadi kunci ke arah masa depan.

Karena itu untuk mengukur kemampuan kolektif kita untuk menghadapi masa depan, kita harus berpaling kepada universitas-universitas kita dan lembaga-lembaga penelitian. Universitas-universitas negara kaya dan miskin sama-sama terlibat, karena hampir semua masalah dan pemecahan yang dituntutnya telah menjadi global ruang lingkupnya.

Sebagai contoh marilah kita ambil universitas-universitas di Amerika telah lama mereka bukan lagi lembaga latihan bagi elit Amerika. Beberapa waktu yang lalu universitas-universitas ini telah menjadi medan latihan bagi elit dari banyak bagian dunia lainnya juga. Jelas bahwa universitas-universitas ini belum menyesuaikan dirinya secara tepat kepada peranan yang baru ini. Akan tetapi tidaklah adil untuk mengatakan bahwa universitas-universitas di Amerika adalah satu-satunya yang gagal menyesuaikan diri kepada tuntutan-tuntutan baru. Orang bisa mengatakan bahwa hampir semua lembaga di seluruh dunia telah digenggam secara tidak sadar oleh cepatnya, besarnya serta demikian dalamnya perubahan sosial dan kutlural yang telah berlangsung selama dua dasawarsa terakhir.

Bilamana untuk sementara kita melihat ke luar dari tiga faktor yang telah memberikan special case kepada kasus-kasus Amerika: perang Vietnam, rencana dan perjuangan hak-hak asasi manusia, dari mencoba memberikan definisi masalah yang dihadapi oleh universitas di seluruh dunia bersama-sama, maka akan muncullah dua pertanyaan dasar. Satu, dalam kaitannya dengan hubungan universitas dengan masyarakat yang lebih besar – perubahan sosial, menuju isyu-isyu dasar yang dihadapi masyarakat masa kini, yang membutuhkan definisi baru dari fungsi universitas. Pertanyaan lain berhubungan dengan tatanan ke dalam dari universitas sebagai suatu tatanan khusus, tidak perlu serupa dengan konsep tatanan masyarakat yang lebih besar; distribusi, hakekat otonominya, cara yang dipergunakan untuk melaksanakan otonominya, untuk sesuai dengan sifat khusus dan fungsi universitas, sehingga ia semakin menghasilkan jenis hubungan sosial yang akan memungkinkan persatuan disiplin sebagai suatu tuntutan inheren dalam belajar dengan tercapainya pertanggungjawaban dari generasi pendahulu yang matang.

Sebagaiamana semua proses perubahan struktur yang besar, beberapa tingkatan kekerasan yang diakibatkan oleh rasa putus asa dan ketakutan dan kemungkinan mereka untuk saling meningkatkan bisa terjadi. Akan tetapi apa yang lebih penting adalah sesuatu yang mengatasi riuh rendahnya, serta kekerasan retorik konfrontasi kampus, pencarian yang dilakukan oleh mahasiswa dan fakultas maupun administrasi untuk mengembangkan konsep yang dapat membantu mengatasi tantangan yang lebih luas dalam masa kita. Hanya dengan cara ini bisa kita harapkan mereka mempertanyakan asumsi masyarakat sekarang dalam hubungannya dengan tuntutan yang semakin mendesak agar kelanjutan hidup bersama bisa berlangsung secara kreatif dengan perpecah-belahan yang sekurang mungkin. Dengan memberikan batasan baru mengenai tugas dan tanggung jawabnya dalam hubungan ini maka universitas-universitas di seluruh dunia akan mampu memainkan fungsinya sebagai pesemaian masa depan yang lebih baik.

Karena adanya interdependensi bagi kelangsungan hidup, maka muncullah kebutuhan yang mendesak bagi suatu kerja sama internasional yang semakin intensif antara lembaga intelektual ini di seluruh dunia. Tanpa saling menyuburkan, tanpa penerangan lintas-kultural, tidaklah mungkin mengembangkan konsep-konsep dan pandangan ini agar bisa diterima di dunia pada umumnya. Yang dibutuhkan adalah sebuah jaringan, yang menghubungkan universitas dan memungkinkan komunikasi yang intensif, atau informasi yang bebas dan dikembangkan seluas mungkin, serta pengembangan cara kerja sama baru dalam suatu skala yang lebih besar sebagaimana sejauh ini telah berlangsung. Bilamana kerjasama yang erat ini bisa diperkembangkan jaringan internasional universitas-universitas ini dan lembaga-lembaga penelitian masih akan menjadi infrastruktur intelektual bagi suatu dunia baru dan suatu tata dunia yang baru. Atas peri itu, universitas akan memainkan peranan Republik Ketiga dalam Revolusi Perancis, dan istilah fifth estate tidaklah tepat dalam jaringan lembaga intelektual ini. Kaum muda adalah wahana bagi harapan-harapan dan kesempatan-kesempatan orang tua yang hilang. Munculnya setiap generasi baru karena itu, terlebih dalam masyarkat yang cepat berubah, membuka kesempatan dan kemungkinan-kemungkinan baru untuk sebuah perjalanan baru.

Berdasarkan cita-rasanya yang baru tentang kehidupan dan situasinya yang khusus, setiap generasi memiliki tugas untuk menetapkan arti hidup yang dikehendakinya; untuk memberikan batasan baru yang dihadapinya serta cara-cara mengatasinya, untuk memberikan batasan baru tentang masyarkat macam manakah yang ingin dijadikan tempat hidupnya, dan yang akan diwariskan kepada generasi penerusnya. Karena itu tidaklah cukup bagi kaum muda untuk merumuskan identitas mereka dengan peroses-prosesnya. Juga mendirikan masyarakat utopi bagi manusia bahagia atau aktivitas tanpa berpikir panjang, tidak memberikan jawaban yang berarti bagi masalah dasar dari peradaban yang kini tengah dihadapi umat manusia dalam lingkungan global.

Memang bisa, dipersoalkan bahwa eksistensi tatanan monastik atau pusat-pusat kehidupan kelompok-kelompok manusia berdasarkan nilai-nilai transendental, penting bagi setiap masyarakat, dan setiap peradaban, karena memperingatkan manusia kepada dimensi kehidupan yang lain dan jenis hidup yang lain, akan tetapi tidak seorang pun dapat mendakwakan ketepatannya sebagai jawaban untuk masalah-masalah yang tengah kita perbincangkan.

Di ujung lain dari spektrum ini, pasti benar bahwa manusia tidak dan tidak bisa mengetahui hasil akhir dan setiap tindakan sosial. Akan tetapi ini pun bukanlah alasan untuk menghapus rasionalitasnya atau tanggung jawab moralnya sejauh dia dapat melihatnya.

            Taktik-taktik yang dianjurkan oleh pengertian-pengertian  seperti kekacauan yang kreatif (creative chaos), atau sifat merusak yang kreatif (creative destructiveness), didasarkan atas pengingkaran dan penurunan martabat manusiawi. Pengertian semacam ini, maupun ide-ide tentang revolusi spontan dan kreatifnya aksi-aksi spontan massa, adalah sifat yang dikenal juga dalam revolusi kemerdekaan Indonesia. Akan tetapi dapat saya yakinkan saudara-saudara bahwa dengan itu tujuan tak pernah tercapai.

Perkembangan yang paling penting untuk keluar dari krisis kultural yang kini mencekam masyarakat kaya boleh jadi adalah penilaian kembali kaum muda atas moral yang berlaku; kristalisasi nilai yang didasarkan kepada solidaritas kemanusiaan yang baru yang melewati batas-batas nasionalisme dan identitas kelompok yang sempit; kerinduan kepada jenis hubungan sosial yang bukan hirarkis, yang lebih memberikan kemungkinan bagi spontanitas, belas kasih dari cinta. Akan tetapi impuls baru yang kreatif dan moral ini dilengkapi dan dihubungkan dengan realitas-realitas yang ada bilamana mereka akan membawa kita melawati perjuangan yang ada di depannya. Bila tidak, mereka akan terperosok ke dalam pembenaran diri yang tak bermakna atau kepada aktivisme yang tidak terkekang.

Untuk kembali kepada cerita yang telah saya ceritakan pada permulaan, dan kepada kedua kutub eksistensi manusia yang telah saya katakan; dalam perjuangan manusia yang tiada akhirnya untuk memperjuangkan masyarakat manusia yang lebih baik, sambil memperhitungkan keselamatan jiwanya, manusia tidak bisa luput dari ketegangan ini, yang menjadi dasar kreativitasnya dan atas kesadaran ini dia dibebaskan dari pilihan palsu antara cop-out dan Uncle Tom.

Sebagai kesimpulan, selama pencarian kesenangan pribadi, kepenuhan pribadi dan kebebasan batin merupakan unsur penting bagi setiap pemecahan yang harus dikerjakan, maka itu saja tidak cukup. Hanya dengan perjuangan intelektual yang maha besar dan penerangan moral bisalah diharapkan ancaman-ancaman dan masalah-masalah yang meliputi kita akan dapat diatasi. Idealisme, semangat tidak ingat diri dan pengabdian, memang penting, akan tetapi yang tak kurang pentingnya adalah kemauan, kemampuan dan stamina untuk mengatasi masalah-masalah masyarakat dalam dirinya sendiri, untuk mengembangkan visi yang jelas tentang masa depannya – tentang jenis masyarakat dan dunia yang kita mau diami – dengan jiwa yang peka namun keras, kuat, akal yang relatih dan kreatif, yang juga rendah hati.

Kemampuan-kemampuan ini bisa diperkembangkan di universitas, yang bukan merupakan tempat yang salah untuk itu. (*)

__________________________

Soedjatmoko lahir di Sawahlunto (1922) dan meninggal di Jakarta, 21 Desember, 1988. Ia dalah satu dari hanya sedikit cendekiawan Indonesia yang memiliki reputasi memperoleh pengakuan yang sangat luas secara mondial. Tulisan-tulisannya tersebar di berbagai surat kabar, majalah, jurnal, di dalam dan luar negeri. Sebagian termaktub dalam buku yang disuntingnya bersama Robert N. Bellah, Religion and Progress in Modern Asia (1964), dan Introduction to Indonesian Historiography (1965). Dua bukunya terpenting yang merupakan pilihan karangan-karangannya tentang agama, kebudayaan, sejarah, dan ilmu pengetahuan. Dimensi Manusia dalam Pembangunan dan etika pembebasan, telah menjadi karya klasik yang menjadi bacaan wajib para pemerhati masalah-masalah sosial dan kebudayaan. Di samping berbagai pos diplomatik yang dijabatnya sejak 1974, ia pernah memimpin majalah Hot Inzicht (1946-47), pemimpin redaksi Siasat (1952-60), dan anggota redaksi harian Pedoman (1952-60). Ia pernah belajar di sekolah Tinggi Kedokteran di Jakarta (1940, tidak selesai karena sikap kritisnya terhadap Jepang), memperoleh gelar Doktor Honoris Causa dari Cedar Crest university (Doctor of Laws, 1969) dan Yale university (Doctor of Humanities, 1970), keduanya di Amerika Serikat, dan Doktor Honoris Causa dari University Sains di Penang (Doktor Persuratan, 1982). Selama hidupnya, Soedjatmoko juga pernah memperoleh pengakuan intelektual yang sangat tinggi dengan menjadi anggota Club or Rome dan anggota kehormatan American Academy of Arts and Science.

Sumber: Soedjatmoko, Etika Pembebasan, LP3ES, April, 1996.

Continue Reading

Classic Prose

Trending