Connect with us

Literature

Analogi dan Ironi dalam Romantisme

mm

Published

on

Ketika bahasa tengah dalam usaha menyusun visi bagi dirinya sendiri untuk menjadi kembaran jagad raya, itulah yang disebut analogi. Semakin visi itu memuncak, secara simultan musuh kembarnya lahir dengan visi keruntuhan, suatu kecelakaan fatal—kematian, itu lah ironi. Yang seperti kata Charles Pierre Baudelaire, ironi lantas memiliki banyak nama: anomali, kecelakaan (bahasa), ajaib, banal, atau yang aneh dan yang ganjil.

Dalam kelahiran kembar analogi dan ironi itu lah, “romantisme”, sebagaimana dengan baik dijelaskan Octavio Paz dalam banyak esainya, menyatakan diri dan berlangsung.

Romantisme mengembangkan visi arsitekturalnya di atas pondasi analogi dan ironi untuk menjadi negasi bagi modernitas. Suatu negasi yang tetap berada di dalam modernitas itu sendiri—sekali lagi meski dengan misi utama menumbangkannya! Suatu relasi “filial” sekaligus kontroversi antara romantisme dan modernitas.

Romantisme adalah anak dari abad modern, abad kritik (the age of criticism), dengan demikian ia juga mewarisi sifat memberontak, sehingga romantisme sekalian merupakan kritik terhadap kritisisme rasional.

Dibandingkan waktu historis, romantisme lebih menyukai waktu asali (the time of origins) sebelum sejarah: ia lebih suka hasrat-hasrat, nafsu, cinta dan daging yang segera dan sekarang—ketimbang masa depan yang utopian yang digadang modernitas dan proyek rasionalisme kritisnya.

Dengan paham itu kaum romantik membangun tradisi puisinya sendiri di era modern, terutama melalui Yeats, Rilke dan kaum surelialis—sampai ketika musuh kembarnya, ironi, merusak irama (rhythm) cyclical kerajaan imajinasi dan sensibilitas kaum romantik.

Waktu oleh ironi dikembalikan menjadi sepenuhnya linear, menuju ke kematian dewa-dewa dan manusia sekaligus sebagai suatu peristiwa historis.

Baca juga: Octavio Paz, Puisi Panjang dan Tanda.. 

Bacalah beberapa puisi yang bersemangat “menghidupkan apa yang dikira orang mati” dalam istilah Chairil Anwar—dalam beberapa bait pembukanya, kemudian dengan begitu tak terduga dalam moment bersamaan, mengabarkan keruntuhan pada bait penutup puisinya—itu lah romantisme (puisi) jika bisa digambarkan, sekedar untuk tidak mendistorsinya sebagai lebay belaka, atau kecemenan perasaan yang muda usia.

Dengan demikian mudah dipahami pula, bahwa bagaimana pun, tindakan puitik (romantik) adalah juga suatu subversi—semangat pemberontakan, paling tidak atas definisi waktu di dalam sejarah linear, yang toh kerap merupakan suatu konstruksi dari kepentingan ekonomi politik kekuasaan.

Afrizal Malna dalam pengantar yang ditulis untuk buku saya “Memoar Kehilangan” menulis begini: “Karena kenangan tidak sama dengan rapuhnya bahasa yang ikut berubah bersama dengan perubahan sosial-politik”. (*)

*) Sabiq Carebesth: Penyair, founder and editor in chief Galeri Buku Jakarta (GBJ).

Continue Reading
Advertisement

Literature

Bertemu Puisi (Belum) Berlalu

mm

Published

on

Puisi mereka tak masuk dalam antologi puisi Indonesia, dari masa ke masa. Para peneliti puisi Indonesia atau kritikus sastra mungkin belum sempat bertemu dengan halaman-halaman belakang di Penghidoepan.

Oleh: Bandung Mawardi

Rubrik “Bajangan Penghidoepan” menjadi ruang berbagi nasihat, renungan, atau pesan. Para pembaca merasa menemukan alasan menikmati puisi demi “memetik hikmah” atau menjalankan misi “mengingatkan” dan “mewartakan.”
__
Bandung Mawardi, Penulis buku Dahulu: Mereka dan Puisi (2020)

Pada masa 1930-an, puisi tak cuma berebut tampil di halaman-halaman Poedjangga Baroe. Majalah itu memang memberi ruang terhormat bagi para pujangga pamer gubahan puisi bercap “baroe” atau modern. Sejak masa 1920-an, puisi-puisi ditulis oleh Muhamad Yamin dan Roestam Effendi dengan seruan agar para pujangga bergerak ke puisi modern berasal dari Eropa, meninggalkan “pantoen” dan “sjair”. Pengumuman itu disambut Ami Hamzah, Sanoesi Pane, Armijn Pane, Sutan Takdir Alisjahbana, dan JE Tatengkeng dengan segala tanggapan bermufakat atau membantah. Mereka menengok ke Barat, menggubah puisi-puisi dengan estetika “baroe” atau modern. Estetika masa lalu tetap  tak semua bisa ditinggalkan atau sirna. Para pujangga masih sanggup mengucap estetika lawas agar puisi “baroe” tak terlalu asing bagi pembaca di Indonesia. Majalah Poedjangga Baroe jadi rumah mentereng bagi ratusan puisi “baroe”. Penerbitan buku-buku puisi semakin menguatkan hasrat “baroe” dalam kesusastraan Indonesia. Di luar Poedjangga Baroe dan buku puisi, kita gampang abai atas kemunculan puisi-puisi di media berbeda.

Pada masa 1930-an, buku cerita bulanan Penghidoepan kadang memuat puisi-puisi gubahan para pujangga peranakan Tionghoa di halaman-halaman belakang. Penempatan di belakang mirip “hadiah”, setelah pembaca menuntaskan membaca cerita-cerita. Redaksi memberi nama rubrik puisi “Bajangan Penghidoepan.” Pemuatan puisi tak rutin tapi diminati pembaca. Buku cerita bulanan itu diterbitkan oleh Tan’s Drukkery (Surabaya). Pengirim puisi berasal dari pelbagai kota. Puisi-puisi bersemi, menghampiri pembaca. Pada masa 1930-an, puisi-puisi terkesan jadi selebrasi inklusif di Penghidoepan ketimbang di Poedjangga Baroe. Nama para pujangga di Penghidoepan memang tak kondang. Mereka telah menunaikan misi literasi, tak mengharuskan sesuai tata estetika “baroe” pada masa 1930-an. Keluguan itu membuat puisi-puisi di Penghidoepan tak pernah masuk dalam uraian sejarah puisi modern di Indonesia. Puisi mereka tak masuk dalam antologi puisi Indonesia, dari masa ke masa. Para peneliti puisi Indonesia atau kritikus sastra mungkin belum sempat bertemu dengan halaman-halaman belakang di Penghidoepan.

Buku Puisi Lama dan Puisi Baru susunan Sutan Takdir Alisjahbana tak memuat puisi-puisi gubahan pujangga peranakan Tionghoa. Buku Perkembangan Puisi Indonesia Tahun 20-an hingga 40-an garapan JS Badudu juga tak memberi halaman-halaman memadai bagi kehadiran puisi persembahan para pujangga peranakan Tionghoa. Puisi mereka berbahasa “Melajoe” atau Indonesia dan bercerita hal-hal di Indonesia. Bahasa dan tema tetap tak jadi pertimbangan masuk ke buku antologi. Buku Tonggak: Antologi Puisi Indonesia Modern, 4 jilid, susunan Linus Suryadi AG tak mengikutkan puisi-puisi berasal dari Penghidoepan. Perbedaan justru ada di buku berjudul Meneer Perlente: Antologi Puisi Periode Awal, editor Sapardi Djoko Damono dan Melani Budianta, terbitan Pusat Bahasa, 2009. Buku itu memuat puisi-puisi gubahan para pujangga keturunan Tionghoa di pelbagai surat kabar, sejak akhir abad XIX.

Kini, kita ingin menengok lagi Penghidoepan agar puisi-puisi tak mubadzir. Pada terbitan Penghidoepan No 116, 1934, redaksi memuat ceirta berjudul Dari Djoerang Siksa’an karangan Tjia Swan Djioe. Di halaman 113-116, setelah cerita tamat, redaksi memuat puisi-puisi dari para pelanggan dan pembaca setia Penghidoepan. Redaksi perlu memberi pengumuman berjudul “Sedikit Kabar Redactie”, memakai struktur puisi: Banjak pembatja ambil bagian dalem ini taman/ sair./ Selaloe kirim karangan, seperti ketarik ilmoe/ sihir./ Hingga bikin kita girang dan goembira berpikir./ Kerna banjak perasa’an hati, djadi toempah/ teroekir.// Sair doeka dan girang, senantiasa kita trima./ Jang penting dan moeloek lantas dimoeat sigra/ Satoe dan laen aken sama-sama petik/ kegoenaannja./ Artinja semoea boeat satoe dan satoe boeat semoea. Penjelasan itu tentu berbeda dengan cara Sutan Takdir Alisjahabana melakukan seleksi puisi atau menulis kritik puisi di Poedjangga Baroe. Redaksi Penghidoepan tak berlagak paling mengerti estetika. Kehadiran puisi justru dimaknai selebrasi bersama tanpa patokan-patokan ketat.

Kita ajukan puisi berjudul “Satoe Kenangan” gubahan Liang. Puisi bersahaja, bermaksud berbagi amanat tanpa samar: Akoe pandang itoe boenga dengen pikiran/ melajang/ Sembari sedot dan rasaken ia poenja keharoeman/ Tapi, ah Goesti, akoe liat ia lantas djadi berarakan/ Kerna koembang djahat dateng timboelkan keroesakan// Akoe pikir, itoe sama sadja dengen keada’annja/ penghidoepan/ Dari manoesia jang bermoela tjantik, djadi/ rontok berantakan/ Seperti di permoelaan dalem kasenengan dan/ kegoembira’an/ Tapi kamoedian itoe semoea djadi moesna/ tiada keliatan. Puisi itu tak usah dibandingkan dengan puisi-puisi gubahan Amir Hamzah, Tatengkeng, Sanoesi Pane, atau Sutan Takdir Alisjahbana. Redaksi Penghidoepan memuat puisi Liang mungkin dengan pertimbangan berbagi pesan kehidupan pada pembaca tanpa metafora rumit. Pesan dianggap bisa berterima ke pembaca.  

GP Sie dalam puisi berjudul “Keloehan” juga berbagi pesan tanpa penggelapan estetika. Puisi termuat di Penghidoepan No 115, 1934. Sie seperti melakukan dokumentasi perasaan atas realitas masa 1930-an. Puisi sebagai dokumentasi berisi ungkapan-ungkapan dramatis dan mengacu ke cara tanggap pribadi. Puisi juga sesak nasihat. Kehadiran puisi “Keloehan” jadi bacaan sejenak untuk merenung. Sie menulis: Di doenia djarang teroendjoek kesoetjian/ Kerna bergolaknja orang poenja kenapsoean/ Lantaran roemah tangga poenja kesoesahan/ Mendjadikan soeami poenja hati ta keroean// Doenia penoeh dengen keloeh dan tangisan/ Dari kemiskinan dan berbagai kesedihan/ Ngeri, ngeri sekali ia poenja keada’an/ Hingga ia dinamaken djoerang kedoeka’an. Kini, setelah puluhan tahun berlalu, pembaca mungkin menuduh puisi itu cengeng. Puisi jadi luapan perasaan. Sutan Takdir Alisjahbana mungkin memberi cap melemahkan nasionalisme, mengganggu modernisasi, dan menghina optimisme kebaruan.

Rubrik “Bajangan Penghidoepan” menjadi ruang berbagi nasihat, renungan, atau pesan. Para pembaca merasa menemukan alasan menikmati puisi demi “memetik hikmah” atau menjalankan misi “mengingatkan” dan “mewartakan.” Urusan asmara, pernikahan, keluarga, nafkah, kemiskinan, spiritualitas jadi tema-tema berulang. Pembaca mungkin tetap menikmati, enggan bosan atau protes. Puisi terasa jadi cara berekspresi “terhormat” agar bisa berkomunikasi dengan sesama pembaca Penghidoepan. Tsiang-nien persembahkan puisi berjudul “Bingkisan Dari Satoe Ajah”, dimuat di Penghidoepan No 103, 1933. Puisi berisi nasihat bijak, gampang terbaca dan terpahami: Djadilah istri jang baek dan bergoena/ Djadilah djoega satoe iboe jang bidjaksana/ Itoelah apa jang soeami harep di mana-mana/ Biar sekarang, begitoepoen di djaman koena… Ati-ati djangan sampe kena penjakit djoedi/ Djoedi djahat melebihi segala setan memedi/ Bila kaoepoenja kawan adjak kaoe djoedi/ Djawablah dengen lantas: “Akoe tida soedi.” Kita anggap nasihat itu lumrah. Tata kata Tsiang-nien tak muluk sebagai puisi “baroe” tapi cenderung menginginkan ke pertimbangan pesan.

Pada masa 1930-an, nasihat bagi istri atau pembinaan istri dalam berkeluarga sudah jadi masalah besar dan genting. Modernisasi membuat orang-orang sering linglung nilai, tergoda paham-paham baru, atau repot beradaptasi dengan zaman kemajuan. Tema itu pernah diuraikan secara apik dalam buku berjudul Satoe Istri jang Doenia Impiken atawa Penoentoen Kebroentoengan Roemah Tangga oleh Ang Kiauw San, terbitan Ang’s Publishing House, Batavia, 1935. Buku “ditoelis boeat njonja-njonja dan gadis-gadis Tionghoa dari segala tingkatan dan pladjaran jang hargaken dan inginken kebroentoengan roemah tangga, tapi haroes dibatja oleh seswatoe orang lelaki.” Tebal 92 halaman. Puisi gubahan Tsiang-nien itu ringkas, pantas jadi rangsangan pembaca menuju buku karangan Ang Kiauw San. Tema dan isi puisi terasa tak basi, selalu jadi aktual.

Di Penghidoepan No 131, 1935, pembaca bertemu puisi nasihat berjudul “Saling Mengarti” gubahan YS Chan. Puisi bercerita nasihat kakek pada cucu. Kita mengandaikan para pembaca di masa 1930-an menjadi pembaca mendapat ribuan hikmah dari puisi-puisi di rubrik “Bajangan Penghidoepan.” Kita simak nasihat Chan: Tjoetjoekoe, kaloe kau djadi sepasang merpati/ Kau haroes hidoep roekoen dan saling mengarti/ Masing-masing koedoe berlakoe tiada menjakiti/ Tapi berlakoe mengindah en saling menghormati// Terhadep masing-masing djangan berparas asem/ Dari pada asem ada lebih baek saling mesem/ Tjoba tengok soedaramoe jang berada di Lasem/ marika sampe loepa daratan, kerna tersengsem! Nasihat sempat mengandung humor. Puisi untuk bernasihat itu lazim. Di Penghidoepan, pembaca dan penulis saling berbagi nasihat. Begitu. (*)   

__
Bandung Mawardi

Penulis buku Dahulu: Mereka dan Puisi (2020)

Continue Reading

Buku

Pahlawan Dibalik Layar

mm

Published

on

Foto: Koleksi foto ANTARA

Oleh: Umar Fauzi Ballah *)

Dalam situasi bernegara dan berbangsa yang diliputi laku korupsi dan kolusi sebagian besar elit politik, bahkan kerawanannya telah menjangkau sakit kebudayaan—membangunkan sosok anutan dari tidur sejarahnya bisa menjadi upaya baik dalam mencarikan jalan ingatan; bahwa bangsa ini dibangun oleh pribadi berintegritas dan orang-orang jujur. Sosok Djohan Sjahroezah, adalah salah satunya.

Usaha Riadi Ngasiran—penulis buku “Kesabaran Revolusioner Djohan Sjahroezah, Pejuang Kemerdekaan Bawah  Tanah” untuk mengumpulkan renik kehidupan seorang Djohan Sjahroezah dalam buku biografi karyanya patut diapresiasi dengan kegembiraan, terutama karena usaha kerasnya mengingat sosok yang ditulis tidak setenar Bung Karno atau Bung Hatta. Usaha memperkenalkan sosok Djohan Sjahroezah yang dikenal sebagai tokoh pergerakan dan politikus adalah momentum tepat di tengah kondisi korup elite di negara ini.

Nama Djohan memang tidak setenar Sutan Sjahrir, Tan Malaka, Hatta, Soekarno, maupun Adam Malik, teman seangkatannya, serta mertuanya, H. Agus Salim. Ia juga tidak setenar sosok reaksioner, bung Tomo, walaupun pada saat meletus peristiwa 10 November 1945, bung Djohan juga sedang berada di Surabaya untuk melindungi Tan Malaka (hlm. 147).

Djohan adalah pahlawan dalam kapasitasnya dan perannya sebagai organisator yang disegani di Indonesia, terutama di tanah Jawa. Ia bukan pahlawan yang dikenang namanya dengan mengangkat senjata. Ia juga bukan pahlawan yang disegani karena kelihaian berpidato, tetapi ia adalah satu-satunya tokoh yang paling dipercaya banyak kelompok dalam membangun jaringan-jaringan bawah tanah. Ia mengkader pemuda saat itu di berbagai daerah seperti Batavia, Bandung, Yogyakarta, maupun Surabaya yang pada saat itu ia menjadi buruh di perusahaan minyak Belanda, BPM (Bataafsche Petroleum Maatshappij).

Djohan Sjahroezah adalah tokoh kelahiran Muara Enim, Sumatera Selatan, 26 November 1912. Ia seakan menggenapi tokoh-tokoh lain dari trah Minangkabau yang juga berjibaku di panggung sejarah Indonesia seperti Muhammad Hatta, Muhammad Yamin, Tan Malaka, Hamka, Mohammad Natsir, H. Agus Salim, maupun Sutan Sjahrir, pamannya.

Dengan kelihaiannya membangun jaringan, dia bersama Adam Malik, Soemanang, A.M. Sipahuntar, dan Pandoe Kartawiguna mendirikan Kantor Berita Antara tahun 1937 yang sampai saat ini masih eksis. Kantor Berita Antara adalah perjuangan perdananya dalam rangka turut serta memperjuangan kebebasan bangsa Indonesia. Ia menyadari betul fungsi dan peranan pers sebagai alat perjuangan.

KB Antara bukanlah tempat pertama Djohan di bidang jurnalistik. Sebelumnya, dia bergabung dengan Arta News Agency, sebuah kantor berita milik Samuel de Heer, seorang Belanda. Ia memutuskan keluar dari Arta tahun 1937 dengan kesadaran bahwa dirinya harus mengembalikan komitmen aslinya: mengutamakan fungsi dan tanggung jawab kemasyarakatan. Masyarakat di bawah kekuasaan penjajah harus dibebaskan, demikianlah posisi dan peranan pers yang telah didefinisikannya. Djohan dan jurnalis sezaman merumuskan peranan pers sebagai pengantar masyarakat ke masa depan (hlm. 83).

Lingkaran Sjahrir

Ketika membincangkan kehidupan Djohan, tidak bisa terlepas dari sosok Sutan Sjahrir. Karena itu, sebagian besar buku ini berada dalam “alur” Sutan Sjahrir. Ketika membicarakan tindak-tanduk Djohan, muncul juga peran Sutan Sjahrir di dalamnya. Djohan adalah salah satu loyalis utama Sutan Sjahrir.

Ketika Sutan Sjahrir mendirikan Partai Sosialis Indonesia pada 12 Februari 1948, Djohan adalah sosok yang masih setia mengikuti Sjahrir. Sebelumnya, pada 1 November 1945 Amir Sjarifuddin mendirikan Partai Sosialis Indonesia (Parsi), sedangkan Sjahrir mendirikan Partai Rakyat Sosialis (Paras) pada 19 November 1945. Karena persamaan sikap antikapitalis dan antiimperialis, pada 16—17 Desember 1945 kedua partai tersebut bergabung menjadi Partai Sosialis (PS) yang di dalamnya juga ada kelompok komunis. PS tidak berumur lama karena ketegangan kelompok komunis dan kelompok sosialis di dalamnya yang puncaknya terjadi ketika Bung Hatta mengumumkan kabinetnya pada 29 Januari 1948 menggantikan Kabinet Amir Sjarifuddin. Sjahrir adalah pendukung penuh Kabinet Hatta, sedangkan Amir memutuskan menjadi oposisi bagi Kabinet Hatta. Hal itu membuat Sjahrir dan kelompoknya, termasuk Djohan keluar dari Partai Sosialis dan mendirikan Partai Sosialis Indonesia (PSI).

Judul : Kesabaran Revolusioner Djohan Sjahroezah, Pejuang Kemerdekaan Bawah Tanah | Penulis : Riadi Ngasiran | Penerbit : Penerbit Buku Kompas | Tahun : cetakan pertama, Mei 2015 | Tebal : xlvi + 418 hlm. | ISBN : 978-979-709-918-3 | Harga : Rp99.000,00

Sebagai tokoh yang bergerak di dunia pergerakan, Djohan memiliki banyak kader yang tentunya diharapkan mengikutinya sebagai bagian dari lingkaran Sjahrir. Namun, kenyataannya berbeda. Tidak sedikit kader-kadernya berada di seberang jalan menjadi kader partai komunis. Dengan kemampuannya memahami ajaran Marxisme dan jurnalistik, Djohan menjadi corong untuk menjelaskan pandangan-pandangan kelompok sosialis secara tertulis dalam rangka menjawab “tuduhan-tuduhan” kelompok komunis.

Riadi Ngasiran, dengan pengalamannya di bidang jurnalistik dan sastra, berhasil mengolah biografi ini dengan baik. Pernik kehidupan Djohan memang tidak disampaikan secara dramatis sebab biografi ini adalah catatan politis tentang sosok Djohan Sjahroezah. Riadi menggambarkan sosok Djohan secara umum dalam tiga masa penting, yakni perannya sebagai tokoh pergerakan bawah tanah dalam usahanya mengkader pemuda; peran Djohan di dunia jurnalistik; dan perannya sebagai politikus Partai Sosialis Indonesia.

Djohan, sebagaimana manusia biasa, juga menjalani hidup sebagaimana kebanyakan masyarakat. Hal ini takluput dari catatan Riadi. Kisah Djohan dengan istrinya, Violet Hanifah, putri H. Agus Salim, pun digambarkan dengan hidup, seperti perjuangan masa-masa sulit bersama sang istri. Dalam biografi ini, Riadi menyuguhkan tempo tulisan yang dinamis. Di saat tertentu, ia menggambarkan secara naratif dan di saat yang lain secara argumentatif dengan memaparkan berbagai fakta tekstual.

Sebuah buku tidak lain adalah representasi ide-ide sang penulis. Kehadiran biografi ini menjadi wacana tandingan yang menampilkan tokoh dari golongan sosialis. Riadi Ngasiran sadar betul bahwa, selain karena peran Djohan sebagai tokoh jurnalis, menampilkan sosok Djohan adalah meneguhkan keberimbangan wacana tentang peran pergerakan yang dilakukan oleh kelompok sosialis, terutama kaitannya dengan konfrontasi golongan komunis.

Buku ini telah menandai keberadaan sosok yang tidak begitu populis di panggung sejarah Indonesia. Buku ini dihadirkan di waktu yang tepat. Keteladanan Djohan Sjahroezah dalam perjuangannya melalui berbagai pergerakan aktivis dan politis harusnya menjadi ruang refleksi bagi pergulatan politis Indonesia saat ini yang sudah jauh dari nilai-nilai kemanusiaan. (*)

*) Umar Fauzi Ballah penikmat buku di Komunitas Stingghil, Sampang tinggal di Sampang sebagai Kepala Rayon LBB Ganesha Operation Sampang.

 

 

Continue Reading

Inspirasi

Lima Fakta Menarik Tetang Truman Capote

mm

Published

on

Siapa tidak kenal dengan Breakfast at Tiffany’s, novelet karya Truman Capote yang berhasil menghipnotis seluruh dunia tidak hanya dalam media sastra tetapi juga film, fashion, kuliner dan hampir seluruh budaya pop yang bisa dihasilkan pada zamannya bahkan sampai sekarang. Novel Breakfast at Tiffany’s masih terus diterjemahkan ke berbagai Bahasa hingga hari ini dan terus menambah pembaca setianya tak terkecuali di Indonesia.

Sosok dan keseharian Capote memang mengagumkan, ia sosok yang layak menjadi besar di mana hal itu terlihat jelas bagaimana karya dan pribadinya mampu menginspirasi orang lain dan ragam seni lain. Salah satu contohnya karakter Dill di buku Harper Lee, To Kill a Mockingbird karya Lee tidak lain dan tak bukan adalah pribadi Capote yang dalam kehidupan nyata adalah karib Lee.

Beberapa fakta menarik lain tentang Truman Capote: hidup, pekerjaan, dan keterkaitannya dengan para penulis lain benar-benar tak layak Anda abaikan, simak selangkapnya berikut ini:

  1. Truman Capote mengilhami karakter Dill di buku Harper Lee, To Kill a Mockingbird. Karakter Dill Harris dalam novel Lee didasari oleh tetangga sekaligus sahabat Harper Lee sendiri- Truman Capote. Capote, yang lahir pada tahun 1924 dengan nama Truman Streckfus Persons, mengubah namanya menjadi Truman Capote pada tahun 1935, mengikuti ayah tirinya, Joseph Capote.
  2. Ternyata, Lee bekerja sebagai asisten Capote untuk salah satu bukunya. Karya Truman Capote, In Cold Blood, sebuah karya non-fiksi yang diterbitkan pada tahun 1966, berfokus pada pembunuhan brutal oleh empat orang dari satu keluarga yang sama di Kansas pada tahun 1959. Menulis tentang tragedi terkini tentu saja melibatkan cukup banyak penelitian, sehingga Capote bisa pastikan fakta di karyanya tepat, dan Harper Lee membantu wawancara dan penelitian untuk buku ini. Pembunuhan kemudian akan muncul kembali di dunia Capote dengan cara yang aneh dan paling meresahkan. Yang mengerikan, Capote ternyata mengenal empat korban pembunuhan Manson tahun 1969, masing-masing dari mereka. Capote kemudian mengungkapkan bahwa ‘dari lima orang yang terbunuh di rumah Tate malam itu, saya mengenal empat dari mereka. Saya bertemu dengan Sharon Tate di Cannes Film Festival. Jay Sebring memotong rambut saya beberapa kali. Saya pernah makan siang sekali di San Francisco bersama Abigail Folger dan pacarnya, Frykowski. Dengan kata lain, saya mengenal masing-masing dari mereka.”

Saya tidak peduli apa yang dikatakan orang lain tentang saya selama itu tidak benar. –Truman Capote

  1. Capote menulis drafnya di atas kertas kuning. Pastinya kertas ini adalah ‘kertas kuning yang sangat istimewa’, seperti yang dia ungkapkan dalam sebuah wawancara dengan Paris Review. Kemudian, begitu dia senang dengan drafnya, dia akan mengetiknya di atas kertas putih.
  2. Capote memberi Ray Bradbury jeda lama dalam menulis. Bradbury mendapat jeda penting pertamanya saat dia remaja, di akhir 1930-an. Dia mengajukan sebuah cerita ke majalah Mademoiselle, yang mana seorang Truman Capote muda – yang sebenarnya empat tahun lebih muda dari Bradbury – bekerja sebagai asisten editor. Capote membaca cerita Bradbury, yang berjudul Homecoming, dan merekomendasikan kepada editornya untuk menerbitkannya.

Hidup ialah drama yang lumayan bagus dengan babak ketiga yang ditulis dengan buruk. – Truman Capote

  1. Truman Capote akan berganti kamar hotel jika nomor teleponnya disertai nomor 13. Seperti Stephen King – yang menderita triskaidekaphobia – Capote adalah seorang penulis yang percaya takhayul dan nomor 13 tidak disukainya. Dia juga tidak akan memulai atau mengakhiri sebuah karya pada hari Jumat, karena dia menganggapnya sebagai nasib sial. Terlepas dari kondisi dirinya sendiri, dia berhasil menulis sejumlah karya fiksi dan non-fiksi yang sukses, tidak hanya In Cold Blood, tapi juga novel pendek Breakfast at Tiffany’s (1958), film yang dibintangi Audrey Hepburn. Capote meninggal pada tahun 1984, berusia 59 tahun. Pada tahun 2005, almarhum Philip Seymour Hoffman berperan sebagai penulis dalam film biografi terkenal, Capote.

______________________________________________

*) By Regina N. Helnaz | Editor Sabiq Carebesth

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending