Connect with us

Cerpen

Ali Arkam dan Istrinya dan Kucing

mm

Published

on

Koleksi: Arsip Galeri Nasional Indonesia

Hujan sudah berlangsung selama empat belas hari dan tak ada tanda-tanda akan selesai. Gulungan mendung masih merajai langit, memberkahi bumi dengan kegelapan absolut.  Sawah dan oro-oro berubah menjadi kolam. Tanaman membusuk. Hewan ternak mati kedinginan. Ikan-ikan mengintip cemas ke permukaan perairan, berharap setitik cahaya dari angkasa. Orang-orang bertanya-tanya, dosa apa yang telah mereka lakukan hingga Tuhan mengirim azab semacam itu. Sebagai jawaban, Tuhan mencipta mendung yang lebih tebal dan menjatuhkan hujan yang lebih deras lagi.

Ali Arkam mendengkur di balik selimutnya yang tebal. Istrinya sebal.

“Tidak adakah yang bisa kau lakukan selain tidur dan mendengkur?” perempuan itu mengibaskan selimut yang melindungi tubuh Ali Arkam.

Di dapur, seekor tikus dekil menjelajahi lemari makanan, lalu melompat ke tempat bumbu, bergerak gesit menuju meja makan, lantas memeriksa gentong beras yang terbuka. Dan setelah yakin bahwa segala usahanya sia-sia belaka, ia berjalan lesu di lantai. Seekor kucing kurus mengamatinya. Mencari waktu yang tepat untuk menancapkan cakar-cakarnya pada tubuh bungkring tikus tersebut. Kesabaran si kucing membuahkan hasil tiga belas detik kemudian.

Ali Arkam berjalan gontai untuk mencari air minum ketika tikus malang tersebut tinggal ekor. Melampiaskan kekesalan yang diakibatkan oleh gangguan dari istrinya dan cuaca yang tak kunjung membaik, Ali Arkam menyepak si kucing . Begitu keras tendangannya hingga si kucing terpental dan membentur dinding lembab. Kucing tersebut mengeong sebentar, lalu mengejat-ngejat. Darah kental mengalir dari mulut dan mata kirinya.

“Ada apa?” terdengar suara cempreng dari kamar tidur.

“Kucing terkutuk itu mati,” Ali Arkam menjawab sengau.

“Apa maksudmu?” perempuan itu tergopoh-gopoh menyusul ke dapur.

“Jangan marah. Ambil sisi baiknya. Setidaknya, sekarang kita punya sesuatu untuk mengganjal perut kita selain air,” ujar Ali Arkam. Air mukanya pias, namun sesungging senyum tak mampu ia tahan, sebuah reaksi dari perpaduan antara perasaan terkejut menyadari kekejaman yang barusan ia lakukan dengan kegembiraan mendapatkan ide cemerlang yang tak pernah ia sangka-sangka.

Dan itulah yang terjadi. Sisa hari itu menjelma saat-saat terindah dalam kehidupan rumah tangga Ali Arkam selama seminggu terakhir. Istri Ali Arkam mendapatkan kesibukan lain selain mengomel. Tangan-tangan kokinya mendapatkan bahan untuk memuaskan hasratnya. Dengan keterampilan tingkat tinggi, ia menguliti kucing tersebut, memotong-motong dagingnya, menyimpan tulang belulangnya, dan menjilati darah yang menetes-netes. Kelaparan yang menyerang perempuan itu selama berhari-hari telah mengubahnya dari orang yang anyih-anyih menjadi persona yang hemat dan cermat memperlakukan apa pun yang memiliki pontensi mengenyangkan dan tercerna lambung.

Ali Arkam tak mampu menahan tawa menyaksikan darah belepotan di bibir perempuan yang sudah enam tahun dinikahinya tersebut.

“Apa yang lucu?” perempuan itu menoleh. Senyumnya mengembang. Kesadaran bahwa sebentar lagi mereka akan menyantap daging setelah hari-hari yang sulit menyebabkan kegalakannya menguap. Kegembiraan meluap-luap dari hatinya dan terlihat jelas di air mukanya.

“Kamu, sayang,” ujar Ali Arkam. “Coba bercerminlah.”

“Ambilkan cermin kecil di kamar. Tangan-tanganku sedang sibuk.”

Mereka tertawa bersama ketika melihat bayangan wajah perempuan tersebut di cermin.

“Kamu seperti vampir,” Ali Arkam menggoda.

“Dan kamu seperti manusia serigala,” balas istrinya seraya meraupkan tangan kanannya yang belepotan darah ke muka Ali Arkam. Dan mereka kembali tertawa, lebih keras dari sebelumnya. Di luar rumah, hujan jatuh semakin rapat.

Ketika daging kucing itu sudah terpotong kecil-kecil, Ali Arkam menyalakan kompor gas. “Anjing,” ia memaki begitu menyadari bahwa gas elpijinya habis.

“Ada uang?” ia bertanya kepada istrinya.

“Sudah tidak ada. Kemarin yang terakhir,” istrinya menjawab lesu.

Sebagai petani sayur, mereka mendapat uang dua hari sekali dari hasil penjualan tomat atau cabai. Sejak sawah mereka tergenang dan tanaman mereka membusuk, mereka tidak lagi mendapatkan penghasilan. Hal itu terasa kian menyakitkan lantaran seharusnya, pada hari kedua hujan tak habis-habis ini, mereka memasuki puncak masa produksi cabai dalam musim tanam tahun ini. Mereka telah menghabiskan banyak dana untuk membeli benih dan obat-obatan. Tabungan musim kemarin habis terkuras. Dengan pertimbangan matang, mereka sengaja memilih benih terbaik yang harganya jauh lebih mahal dari yang standar. Berharap benih-benih tersebut tumbuh sebagai tanaman yang baik dan menghasilkan buah-buahan dalam jumlah banyak, mereka mengangankan keuntungan berlipat sebagai akibat dari kenaikan harga menjelang tahun baru, seperti yang selalu terjadi pada tahun-tahun sebelumnya.

Ali Arkam menjelajahi seantero rumah, mencoba menemukan kayu sebagai bahan bakar untuk menyate daging kucing tersebut. Setelah setengah jam yang sia-sia, kemarahannya mulai bangkit. “Aku tak mau makan daging mentah,” gumamnya.

“Ambil saja satu kursi. Pilih yang sudah hampir rusak,” istrinya berkata.

Itu ide cemerlang. Kegembiraan kembali menguasai pasangan yang oleh tetangga-tetangganya kerap diolok-olok gabuk lantaran tak kunjung memiliki momongan tersebut. Olok-olokan itu sering membuat mereka depresi. Beberapa famili menyarankan agar mereka mengadopsi anak sebagai pancingan. Dengan nada meyakinkan, mereka menyebut nama-nama yang berhasil mendapatkan momongan setelah mengadopsi anak sebagai pancingan.

“Yu Ginah dua puluh tahun mandul. Kau tahu? Kini ia punya Si Jupri setelah sebelumnya ngambil Si Ali, anak mbakyunya.”

“Pak Supri juga begitu kan? Istrinya nyaris gila saking stresnya. Lalu mereka ngambil Juminten. Dan lihatlah. Sekarang mereka punya tiga anak. Dan Bu Supri sudah hamil lagi.”

Pada waktu itu, kebetulan kakaknya yang sudah memiliki dua putra tengah hamil dua bulan. Setelah perundingan yang berlangsung mudah, tercapai kesepakatan bahwa jani itu kelak akan diadopsi sebagai anak pancingan oleh Ali Arkam. Selagi menunggu kelahiran si anak, Ali Arkam memungut seekor kucing kampung, sekadar untuk menghibur diri dari sepi, yang kini dagingnya akan mereka santap.

“Kecap ada?”

“Ada. Banyak kayaknya.”

“Bumbu-bumbu gule?”

“Ada juga.”

Mereka memanfaatkan tungku yang sudah berbulan-bulan mereka pensiunkan, tepatnya sejak pemerintah membagi-bagikan kompor gas berikut tabung elpiji tiga kilogram. Asap mengepul menyesaki dapur. Ali Arkam membuka jendela dapur, namun segera menutupnya setelah air hujan menampias.

Mereka tidur lelap setelah menyantap sate daging kucing dan bercinta habis-habisan. Tiga jam kemudian, ketika hari telah gelap, mereka terbangun bersamaan dan merasakan perut mereka panas.

“Seperti ada yang mencakar-cakar lambungku,” keluh Ali Arkam.

“Aku bahkan seperti mendengar suara ngeong dari dalam perutku,” istrinya menjawab.

“Barangkali organ pencernaan kita kaget. Kita kan sudah lama tidak makan daging?”

“Bisa saja.”

“Atau ini pertanda bahwa lambung kita menginginkan daging kucing lagi. Sisa-sisa kucing yang kita gule itu.”

“Yah, mungkin lebih baik bila kita makan lagi.”

Maka mereka menyantap gule tulang belulang kucing, beserta kepala si kucing. Ali Arkam dengan rakus mencungkil kedua bola mata kucing, dan istrinya memilih menyikat congor beserta lidah si kucing. Mereka membagi bongkahan otak kucing sama besarnya. Gigi-gigi mereka mengerikiti belulang, dan lidah mereka sigap menyedot sumsum.

Hawa dingin dan perut kenyang mendatangkan kantuk begitu tulang belulang kucing telah licin di piring. Sepasang suami istri itu tidur bergelung di kamarnya, damai dalam siraman cahaya lampu yang tidak terlalu terang. Meringkuk seperti dua ekor kucing.

Ali Arkam bangun lebih dulu keesokan paginya. Hidungnya terasa gatal dan ia bersin-bersin. Seperti ada bulu-bulu yang menggelitiki lubang hidungnya. Ia terlonjak dari tempat tidurnya begitu mendapati bahwa di sampingnya, tengah tidur bergelung, seekor kucing besar, begitu besar hingga lebih layak kalau disebut itu adalah kucing raksasa. Kucing yang mengenakan daster seperti yang dipakai istrinya ketika berangkat tidur malam sebelumnya.

Ali Arkam memanggil istrinya dengan panik, mengira istrinya telah bangun lebih dulu dan pergi keluar kamar untuk melakukan sesuatu. Namun yang keluar dari mulutnya hanyalah suara meong yang parau. (*)

*) Dadang Ari Murtono, lahir dan tinggal di Mojokerto, Jawa Timur. Buku ceritanya yang sudah terbit berjudul Wisata Buang Cinta (2013) dan Adakah Bagian dari Cinta yang Belum Pernah Menyakitimu (2015). Sedang buku puisinya berjudul Ludruk Kedua (2016). Saat ini bekerja penuh waktu sebagai penulis dan terlibat dalam kelompok suka jalan.

Continue Reading
Advertisement

Cerpen

Tidak Ada Kunang-Kunang Malam Ini

mm

Published

on

Oleh: Khoirul Anam*

            Di samping rel kereta api, terdapat gubuk kecil berbilik bambu. Bagian atapnya terkadang bocor ketika hujan deras. Jika siang, seng itu bisa membuat orang di dalamnya merasa panas dan gerah. Tetapi bukan hanya satu gubuk, sepanjang rel dari selatan hingga utara ada lima—jaraknya berjauhan. Tempat yang strategis, agak jauh dari lingkungan warga.

            Untuk menuju ke sana, Sasha menempuh perjalanan sekitar satu jam setengah. Dia berangkat jam sembilan malam, bersama dua orang teman—di antaranya memiliki motor bodong—yang satu kontrakan. Setibanya mereka berpisah. Ada yang di ujung selatan, di tengah dan Sasha di utara. Dua germo—laki-laki bertubuh kekar dan perempuan dengan dada menyembul ke depan—menyambutnya.

“Sudah ada empat orang malam ini. Tiga lainnya menunggu di sana.” Perempuan itu menunjuk tiga bara api rokok, tidak terlalu jauh. Sasha menganguk dan tersenyum. Semenjak Rani dan Indah tak lagi bekerja, terkadang dia senang, terkadang sebaliknya. Pertama, karena dia mendapat uang lebih. Kedua, bagaimana mungkin dia mampu menemani banyak orang dalam satu malam, setiap hari. Tenang saja, sebentar lagi ada orang baru yang akan menemanimu, kata germonya. Setiap gubuk pasti ada yang menjaga, selain karena wanita di dalamnya bukan sembarangan, tentu agar transaksi mudah dan tidak ada kegaduhan. Tempat ini meski di samping rel dengan kondisi gubuk yang sederhana, tetap mengundang gairah banyak orang.

Namun, sekarang adalah malam yang sial bagi Sasha. Dia sudah berpesan kepada salah satu dari mereka akan pulang jam sebelas, tidak seperti biasanya—jam tiga-empat pagi. Kekasihku mengajak kencan, katanya. Tapi, apa boleh buat. Langganannya akan datang dan dia, harus menemaninya.

            “Barusan dia menelepon dan menanyakanmu. Bersiap-siaplah. Malam ini pasang wajah tercantikmu.” Perempuan itu—germonya— menjelaskan. Sasha mendengus menandakan penolakan.

“Dengar cantik, kamu mau jalan, temani pria itu. Dia akan memberi kita uang lebih jika kamu menemaninya.” Ucapan itu selalu terulang. Padahal Sasha sudah berkali-kali bilang, bahwa pria itu memacu dirinya dengan beringas.

Jelas, Sasha tidak bisa berkata apa-apa. Dia duduk di lawang pintu yang ditutup dengan karung jika ada seseorang masuk. Malam ini, seperti kebiasaan yang sering dia lakukan, matanya menatap kosong ke depan. Dari kejauhan, orang-orang hilir-mudik. Di sana tidak ada kunang-kunang yang bertengkar dengan lampu-lampu jalan. Melainkan, ditatapnya lekat kupu-kupu beterbangan, menemani malam kota yang pekatnya kental sekali. Lamunan itu terkadang buyar karena melintasnya kereta atau datangnya pria yang minta ditemani.

Saat ini, Sasha dengan terpaksa harus memuaskan nafsu bengis langgananya. Pria itu datang tiga-empat minggu sekali. Bayangkan saja, setiap Sasha melayaninya main, dia akan terkapar lemas. Kalau sudah begitu, tak bisa lagi dia menemani pria lain hingga pagi. Sasha mengambil ponsel dan mencari nama di sana. Dia menekan tobol hijau—memanggil.

“Sayang, mungkin aku sedikit telat malam ini. Tak apa, kan?” dia berdiri dengan langkah maju-mundur. Terdengar suara dengusan kesal dari seberang sana.

“Baiklah, sayang. Di tempat biasa, kan? Oke, kita bermalam di sana.” Telepon terputus. Dia kembali duduk di lawang pintu dengan gelisah. Selang beberapa menit, dia berdiri dengan kaki gemetar. Orang yang sedang bercakap dengan germonya pasti pria itu.

Sasha masuk dengan perasaan sangsi. Pria itu mengekori dari belakang. Karung yang tersingkap dia tutup, paku ditancapkan ke bilik bambu agar karung tidak diterpa angin malam.

            “Apa kabar, sayang. Sudah dua minggu aku tidak berkunjung kemari. Lagi banyak urusan. Kamu pasti kesepian, yah? Ayo jawab! Minggu depan aku perbaiki gubuk ini, memberinya selimut dan bantal. Tapi hanya untuk kita berdua.” Dia tertawa nyaring, satu kereta melintas membuat tawanya menciut.

            Sasha menggeleng-geleng seperti ketakutan. Dia tatap wajah di depannya. Pria tambun itu membuka kaus, ikat pinggang dan celana jeansnya. Satu tahi lalat agak besar di dagunya akan selalu Sasha ingat. Jika sewaktu-waktu dia bertemu dengannya di luar, mungkin Sasha akan memukul kepalanya dengan palu atau menyuruh orang bayaran.

            “Ayolah, cantik. Sekarang malam purnama, lihatlah di luar sana. Bulan memberkati kita untuk berpelukan hari ini.” Sasha menelan ludah. Pria itu memegang pundaknya. Satu ciuman di pipi kanan. Tanpa memberinya sedikit bernapas sejenak. Sasha terbujur paksa. Nyala remang-remang lampu senter kecil di dekatnya tak lagi dia rasakan.

***

Fajar, sudah muak dia duduk termangu sendirian. Telepon kekasihnya tidak dapat dihubungi. Sempat kesal dia karena tidak menjemputnya barusan. Dia pun memutuskan untuk bersabar menunggu. Ketika pertama kali menyatakan cinta padanya, jujur, dia bukan modus agar mendapatkan gratisan. Tetapi dia memang tertarik sejak awal melihatnya, di suatu senja, di taman kota. Fajar membuntutinya hingga tahu, bahwa wanita yang mengusik jiwanya setiap malam ada di sebuah gubuk kecil, di dekat rel kereta api.

Tempat itu tidak sama seperti yang pernah dia kunjungi. Meski gubuk kecil tapi bersih. Wanita di dalamnya menyenangkan mata bila dipandang, katanya saat nongkrong di warung kopi Ma Ijah. Di tempat lain, tak ada ketertarikan apa pun, dia hanya iseng. Ya, seperti kebanyakan anak muda. Hanya tawar-menawar, akhirnya tak jadi.

            Fajar tetap menaruh rasa, meski dia tahu wanita yang menjadi kekasihnya bekerja seperti itu. Entah karena landasan apa, Fajar hanya merasa nyaman setelah menjalin hubungan dengan Sasha sekitar satu tahun lebih. Dia pria pertama yang mengajak Sasha agar bersedia menjadi kekasihnya. Awal mula Sasha terkejut setelah menemaninya tidur. Brengsek, ini akal-akalan pria untuk bisa tidur gratis dengan embel-embel kasih sayang. Waktu itu, dia tidak memberi jawaban, hanya melempar senyum karena Fajar menidurinya dengan pelan, penuh kenikmatan.

            Hari berikutnya dia rutin datang ke sana hampir tiap minggu. Dan ternyata dugaan Sasha salah, dia kira Fajar akan mengajaknya tidur di hotel atau semacamnya. Tetapi, Fajar tetap berkunjung. Memberi uang pada germo. Dan, sesekali menyelipkan beberapa lembar di kutang Sasha.

            Sudah lama dia menunggu, giginya bergemeretuk geram. Dia meneleponnya lagi.

            “Halo, sudah berangkat, kah? Oke, aku tunggu.” Fajar memejamkan mata. Satu tarikan nafasnya panjang. Rokok dia selipkan di bibirnya. Kopi masih belum tersentuh.

***

            Purnama menyelimuti malam. Dua pasang kekasih duduk berhadapan. Sasha belum menjawab satu-dua pertanyaan. Nafasnya tak teratur. Setibanya Sasha melangkah dengan sedikit ngangkang, seperti kesakitan. Dia mengenakan Off Shounder Sweeter dengan bahu terbuka sedikit. Satu syal merah melingkari leher. Rambut diikat dan berponi, setengah lainnya tergurai ke belakang. Dia duduk dan memejamkan mata. Tiga kali pertanyaan berhasil membuyarkan lamunannya.

            “Sayang, kamu kenapa?” Fajar memegang tangan kekasihnya. Sasha membuka mata.

“Aku sudah tak kuat melayani pria tambun itu.” Matanya berkaca-kaca. Satu tangan mengusap kewanitaanya yang tertutup tas kecil.

            “Sial. Dia masih sering datang ke sana? Aku harus segera mencari orang bayaran untuk membunuhnya.” Kali ini nada bicaranya sedikit pelan, masih banyak orang di sekitar. Sasha menganguk-angguk, menyetujui. Pesanan dua sandwich dan satu kopi flat white datang. Sasha menatap wajah kekasihnya, dalam sekali.

            “Kamu masih ingat janji itu, kan? Apakah sungguh dengan perempuan sepertiku?”

            “Aku mencintaimu, Sayang!” kali ini bicaranya agak nyaring. Seseorang yang duduk di bangku sebelahnya menoleh. Sasha melekatkan jari terlunjuknya di bibir Fajar.

            “Suaramu membuat orang lain kehilangan konsentrasinya, sayang.” Mereka berdua tertawa liar.

            Bulan sudah dari tadi sempurna menggantung di langit. Obrolan semakin hangat. Fajar menanyakan kesediaan Sasha untuk bertemu keluarganya esok lusa. Setelah aku wisuda kita menikah, katanya. Aku sudah berencana merintis usaha desainer grafis dari awal, katanya lagi. Sasha tersenyum.

“Tadi di kutangku ada uang dari pria tambun-jelek itu,” dia berbisik pelan setelah hening saling tatap. Fajar dan Sasha tertawa liar.

            “Buang saja uang itu, nanti aku ganti yang lebih banyak.”

            Begitu bahagianya Sasha malam ini setelah ditindih penuh siksa. Sepasang kekasih, menikmati dua sandwich ditambah ketang balado. Selang beberapa menit, sayup-sayup terdengar suara sirine ambulans di parkir di pinggir jalan. Sasha melihat-lihat keluar. Apakah pemilik kafe sedang berduka? Satu orang pria dengan langkah tergesa masuk. Sasha menatap lekat pria itu. Tahi lalatnya? O, benarkah itu tahi lalat yang dia kenal? Dadanya bergemuruh.

            “Tiga sandwich, segera.” Pria itu memesan.

            “Ayah, sedang apa di sini?” suara Fajar membuatnya menoleh dan menghampirinya.

            “Owh, kamu. Ada warga terkena serangan jantung malam-malam seperti ini. Untung saja selamat. Sekarang perjalanan menuju pulang. Ibu menelepon, adikmu bangun meminta sandwich.” Ujarnya menjelaskan, tatapannya sesekali menusuk Sasha.

            “Oalah, maaf  Yah, biasanya Fajar yang membawakan sandwich itu buat Raihan. Malam ini mungkin pulang lebih larut.”

            “Ya sudah, tak apa.”

            “Perkenalkan, Yah. Wanita yang besok lusa akan aku bawa ke rumah. Cantik, bukan?”

            “Owh, ya. Wanita yang sempurna, kamu pandai memilih ternyata. Saya tunggu kedatangannya.” Dia melemparkan senyum pada Sasha, dadanya semakin kencang bergemuruh.

            Pelayan menyebutkan pesanan. Pria itu pamit dan keluar. Ambulans melaju tenang, suara sirine dimatikan. Sasha termangu, suara Fajar di depannya samar seolah tak terdengar. Di tempurung kepalanya akar-akar pohon upas mulai mengakar-meracun.

            Sasha menatap Fajar. Kuku-kupu yang sering dilihatnya bertengger di atas kepala kekasihnya.

Sampang 2020

Khoirul Anam, dia menulis cerita pendek. Pernah bergiat di Asoli (Asosiasi Literasi Indonesia) Bandung. Dan sekarang, berproses di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta (LSKY).

Continue Reading

Cerpen

Di Antara

mm

Published

on


Galeh Pramudianto lahir tahun 1993. Bekerja sebagai pendidik dan mengelola platform Penakota.id bersama rekannya. Buku puisinya Asteroid dari Namamu (2019) diterjemahkan ke bahasa Inggris lewat beasiswa Komite Buku Nasional. Ia menerima penghargaan Acarya Sastra 2019 dari Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Kemendikbud. Puisinya “Barus, Suatu Pertanyaan” melaju di Majelis Sastra Asia Tenggara 2020.

Karena kamu telah memutuskan untuk memainkan gim ini, maka kamu harus memilih: 1) menjadi tidak terlihat atau 2) bisa membaca pikiran seseorang dari masa kelahiran hingga berakhir di liang lahat? Kamu harus memilih satu. Jika kamu mengabaikan perintah ini maka permainan tidak bisa berlanjut dan hanya bertahan di pilihan menu—sembari menatap karakter yang terus bergerak ke sana ke mari dalam hamparan bit di layar.

Kamu memutuskan untuk memiliki kemampuan membaca pikiran. Kamu memilih itu karena kamu fobia dengan kesepian dan kesendirian. Kalau kamu mendaratkan pada pilihan pertama maka kamu akan stres. Sementara di pilihan kedua nampaknya kamu lebih rileks karena ramai pergumulan dan arus kesadaran di lalu lintas pikiran orang-orang.

Kamu awalnya tidak menyangka dengan ini semua. Gim video di zaman sekarang ternyata bisa begitu ekstrem polahnya. Kamu membeli gim tersebut karena penasaran dengan ragam fitur yang diperbincangkan di forum-forum terjauh, terpinggir dan tergelap di belantara maya. Kamu ingin lari dari kenyataan yang berantakan ini dan menemukan ekstase dan fantasi yang lain di petualangan virtual.

Dan ekstase serta fantasi itu ternyata mewujud nyata. Tuas kendali atau stik yang kamu genggam bergetar hebat. Layar tiba-tiba mati dan gelap. Pandanganmu memudar dan semua nampak buram. Televisi di ruang tengah itu bergoyang-goyang lalu terlepas dari etalase dan menyusut ke dalam lubang matamu.

Seketika itu dunia yang kamu tinggali tak lagi sama. Ketika kamu mampu membaca pikiran orang awalnya kamu nampak baik-baik saja. Tapi ternyata kamu lupa bahwa kamu memiliki masalah dengan penghakiman dan perundungan yang dilakukan orang-orang. Dan itu semakin bekerja dengan baik tatkala kamu mendapati seseorang di hadapanmu, di suatu entah di mana, sekarang dapat membaca pikiranmu.

Kamu ingin berteriak dan menghajar orang-orang yang merundungmu lewat pikirannya. Kamu sudah tidak tahan dengan itu semua. Kamu ingin segera mengambil batu yang ada di sebelah kiri lalu menghantamnya ke kepala si lelaki ini. Ketika kamu memutarbalikan badan dan hendak membungkuk, kamu mendengar ucapan yang tak kamu kira sebelumnya. Ucapan itu tak terdengar lewat bising suara, tetapi berdengung di membran tempani dan berputar-putar terus seperti pita kaset rusak.

“Jangan lakukan! Kita sama-sama memiliki kemampuan ini. Aku ingin menghilangkan Bakat Besar yang mengganggu mentalku ini. Tapi aku tak tahu caranya. Tolong!” ia berbicara denganmu tanpa mengeluarkan suara.

“Maksudmu Bakat Besar?” kamu terheran dengannya.

“Aku telah memiliki kemampuan membaca pikiran ini sejak masih kanak-kanak. Ayahku membelikan gim video itu saat dunia pernah mengalami pagebluk yang terjadi 20 tahun silam. Tahun di mana seharusnya perhelatan sepak bola termegah di Eropa dan Olimpiade terjadi. Ayahku membelikan itu maksudnya agar aku ada hiburan dan tidak stres ketika terlalu lama belajar di rumah. Setelah aku memilih karakter dan kemampuan khusus yang bernama Bakat Besar laknat itu.”

“Jadi kamu berasal dari dua dekade yang lalu?” kamu coba mengingat-ingat masa lalu yang sempat membuatmu ingin mengakhiri hidup.

Apa maksudmu?” ia bertanya keheranan.

“Ketika aku memainkan gim video itu, usiaku sekitar 40 tahun dan tubuhku gampang sakit-sakitan. Tapi sekarang aku merasa lebih bugar dan muda. Aku tak tahu, apa itu hanya efek placebo dari gim ini.” kamu menjelaskan.

“Heh, aku bilang kamu bukan berada di gim lagi! Kamu sudah masuk di dunia baru. Jadi, tubuh dan jiwamu masih tetap ada di dunia sebelumnya, di Bumi atau apalah itu. Tapi setelah itu ia membelah dirinya sendiri dan ada replika dirimu di dunia Antara.” ia menerangkan dengan menggerak-gerakkan bahumu, berusaha meyakinkan.

“Maksudmu di dunia Antara?” kamu menjadi bingung.

“Betul. Orang-orang otomatis akan menggandakan diri dari dunia nyata atau fisik atau apalah itu namanya dan berpindah ke semesta baru yang dinamakan dunia Antara. Maaf maksudku bukan berpindah, tapi ada paralel yang berjalan bersamaan.”

“Jadi, aku yang saat itu berusia 40 tahunan masih hidup? Dan aku yang saat ini lebih muda menjalankan hidup di sini? Di dunia gim video ini?” kamu mencoba mencerna itu semua.

“Kira-kira, begitulah.”

Kamu semakin sadar bahwa sekarang semakin banyak pengguna gim video tersebut di dunia ini. Impian dan harapanmu akan dunia yang lebih baik telah sirna. Impian yang berbasis eskapisme semata ternyata malah menelanmu mentah-mentah. Dirimu masuk ke semesta bernama Antara dan terciptalah Bakat Besar itu. Kamu masih berusaha mengulik ini semua: dunia yang baru, ketika batas kesadaran, realitas dan fantasi telah memudar.

Dunia yang kamu harapkan hanya ada di gim video dan malah membuatmu menjadi cemas karena banyak yang memiliki kemampuan seperti awal kisah ini dimulai: menjadi tidak terlihat atau 2) bisa membaca pikiran seseorang dari masa kelahiran hingga berakhir di liang lahat? Kamu sekarang bingung antara bahagia atau tidak dengan usiamu yang lebih muda 20 tahun ini. Tapi setidaknya, kamu bisa memberi tahu kepadanya dan orang-orang yang memiliki privilese di pemerintahan. Kalau 20 tahun setelah pagebluk itu usai, dunia harus bersiap-siap untuk 20 tahun berikutnya. (*)

Continue Reading

Cerpen

Sakit

mm

Published

on

The-Sick-Child-Marc-Aurele-de-Foy-Suzor-Cote-Oil-Painting


Mycel Pancho—Penikmat kopi pahit. Sudah satu dekade menjadi pekerja teks komersial. Lahir di Jakarta, bertumbuh dewasa di Pulau Dewata dan kembali di ibu kota untuk menjadi tua. Sejak sekolah, pecinta teater ini gemar menikmati sastra dan menulis apa saja untuk tetap waspada. Satu puisinya pernah terbit dalam buku antologi puisi Tentang Angin (2007), produksi Teater Angin SMA 1 Denpasar.

Aku sakit. Sakitnya sudah lama. Akhirnya terbaring di rumah sakit sejak hari ini. Gejala sakitnya aneh. Tidak ada demam, tidak ada batuk apalagi pilek. Pusing tak ada, apalagi sakit kepala. Tapi anehnya, seluruh sendi dan tulangku ngilu. Sakitnya seperti sedang terserang demam menahun. Ngilunya persis seperti cucian diperas berulang-ulang. Kadang telapak kaki dan tangan rasanya seperti ditusuk jarum pentul yang biasa nenek gunakan untuk merapikan seprai ranjang tuannya.

Selain itu, sewaktu-waktu kepalaku juga kliyengan. Rasanya limbung mau jatuh terus. Tapi tidak pusing, tidak sakit kepala. Rasanya hanya berputar terus seperti bianglala yang kebanyakan tamu di akhir pekan. Rasanya juga seperti ditarik kanan kiri tak pakai berhenti.

Pagi ini aku ke rumah sakit bersama ibuku. Setelah dokter sibuk memegang dahiku, mendengar detak jantung dan suara paru-paruku lewat stetoskopnya, mengetuk-ngetuk lututku dengan palu kecil dan menggosok telapak-telapakku dengan tongkat besi. Dokter itu berpikir keras. Ia membuka buku-buku kedokteran dan membolak-balik catatan kesehatanku. Secara tiba-tiba, dokter itu bilang …

“Kamu harus opname hari ini. Nanti kita observasi. Ada asuransi tidak?”

“Ada, Dok. Memang saya sakit apa, Dok?

“Masih belum jelas, makanya kita perlu observasi dulu selama beberapa hari ini”.

Jadilah aku berada di kamar kelas tiga ini. Aku tidur di bangsal paling ujung dekat jendela. Aku tidur dalam satu ruangan dengan lima pesakitan lainnya. Aku tidak sempat sensus siapa saja yang dirawat bersamaku dan sakit apa saja mereka. Kukira besok juga saat bibiku datang, hal itu pasti bisa langsung kuketahui darinya yang bercita-cita jadi ibu RT.

Belum satu hari aku dirawat di rumah sakit, sanak saudara dari ibuku sudah tiba. Mulut cerewetnya sudah pasti ikut serta. Belum apa-apa sudah berkomentar dan memberi diagnosa, lagak macam dokter kelas dunia saja. Mulai pun belum observasiku di rumah sakit itu, sanak saudara sudah bisa beri hasil.

Bibi bilang aku sakit ringan. Paling hanya kolesterol naik. Cukup masuk akal kalau aku ingat-ingat lagi apa saja yang sering kumasukkan ke dalam mulut dan lanjut ke perut. Tak heran juga itu terjadi karena udang rebus kemerahan memang salah satu favoritku sejak anak-anak. Apalagi daging merah adalah idolaku selama tiga tahun belakangannya ini. Semua yang merah lah pokoknya aku suka.

Belum selesai soal kolestrol, suami bibiku menyergah dan berkomentar. Katanya aku mungkin juga kena gula. Diabetes memang ada dalam garis darah keluarga kami. Apalagi, kakekku yang luar biasa sakti dan kuat itu akhirnya malah mati karena gula darahnya naik dalam dua tahun terakhir sebelum dia lepas usia. Tapi aku langsung bilang tidak tidak tidak padanya. Aku yakin aku tidak diabetes karena aku tidak suka manis. Satu-satunya manis yang bisa kusukai hanya wajahmu dan senyumanmu saja.

Aku sakit. Malam ini malam pertama aku menjalani waktu tidur di ranjang rumah sakit. Aku ingin tidur tapi sulit karena keberisikan. Berisik suara tetesan infus, suara AC, suara pasien sebelah yang mengorok, suara pasien di ranjang seberang yang susah nafas, suara pasien di dekat pintu yang kentut melulu, suara suster bolak balik mengecek pasien, suara ibuku yang terus bergerak karena sakit tidur di kursi, sampai suara di kepalaku yang terus memikirkan dan merindukan kamu.

Hari ini teman-teman ibu membesukku. Mereka datang bergerombolan sambil ketawa-ketiwi layaknya orang akan pergi piknik ke pantai. Pakaian mereka pun luar biasa cantik seperti mau peragaan busana. Beberapa ada yang membawa makanan banyak sekali, kurasa mungkin ada yang sungguhan sekalian membawa tikar.

Aku sakit dan teman-teman ibuku ini berkicau tak berhenti soal mistis. Melihat kondisiku, mereka malah cerita soal kawan mereka yang terkena ilmu hitam. Mereka bilang ada temannya yang salah ucap di suatu tempat ke seseorang, besoknya sakit tak jelas, masuk rumah sakit dan tak lama mati. Ada lagi yang cerita bahwa kenalannya tak sengaja melangkahi tangga yang ternyata ada setannya. Seketika orang itu jatuh, kakinya patah dan tidak sembuh sampai setengah usianya lewat.

“Bener lho, Dik. Teman saya sakit nggak jelas kenapa dan tidak sembuh-sembuh. Sudah berobat sana-sini, akhirnya bisa hidup tenang setelah berobat ke orang pintar. Coba saja, Dik. Daripada buang uang di rumah sakit tapi ndak sehat-sehat. Ke orang pintar cuma bayar seikhlasnya, Dik. Dijamin langsung bisa hidup tenang!”

Orang pintar katanya.. Magis katanya. Apa iya aku bisa percaya dengan yang seperti itu saat ini? Orang pintar yang kukenal hanya kamu. Magis yang kupercaya hanya berupa pesonamu yang membuatku tidak bisa tidak melayang kalau sedang kamu pandang.

Lagi pula, jika kuingat-ingat, beberapa waktu belakangan aku tidak pernah salah ucap ke orang lain, apalagi melangkahi tangga. Aku juga tidak suka berbuat aneh-aneh di tempat asing karena keluar rumah pun aku jarang sekali. Kecuali untuk menjumpai kamu.

Hari ini adalah hari ke dua ratus aku di rumah sakit. Asuransiku sudah menyerah menanggung biaya sejak hari ke tiga puluh. Orang tuaku sudah kehabisan barang untuk dijual. Aku pun tak punya aset macam-macam lain yang bisa kugadaikan untuk bayar rumah sakit. Kami semua makin pucat, aku makin sakit. Sementara dokter dan perawat di rumah sakit, cuma mereka yang wajahnya semakin berseri-seri.

Sudah hampir 365 hari aku di rumah sakit, hasil observasi tidak juga keluar. Aku masih saja sakit sendi dan sakit tulang. Sakit yang membuatku tidak bisa pulang. Sakit yang membuat tagihan rumah sakit gendut, sementara rekeningku ikut mengkerut. Sakit yang membuatku ingin kamu datang.

Hari itu akhirnya kamu datang. Kamu datang setelah satu tahun pergi entah untuk menemukan apa. Kamu datang dengan senyumanmu yang selalu kumimpikan setiap malam. Kamu datang dengan kelembutan tanganmu yang dulu mengusapku setiap hari. Kamu datang dengan kehangatan pelukanmu yang dulu membalutku setiap beberapa jam sekali.

Kamu datang, melepas infusku. Saat itu juga aku pulang karena sakitku hilang.

Dan semua dokter di rumah sakit itu..

“Ternyata hanya rindu.. Dasar, bikin kerjaan orang saja”.

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending