Connect with us

Art & Culture

Albert Camus Bukan Sisifus, Mungkin Prometheus

mm

Published

on

The gods had condemned Sisyphus to ceaselessly rolling a rock to the top of a mountain, whence the stone would fall back of its own weight. They had thought with some reason that there is no more dreadful punishment than futile and hopeless labor. (Albert Camus, The Myth Of Sisyphus)

Itulah paragraf pembuka essai filsafat “The Myth Of Sisyphus” yang di tulis Albert Camus pada 1942: para dewa telah menghukum Sisifus untuk terus menerus mendorong sebuah batu besar sampai ke puncak sebuah gunung; dari puncak gunung, batu itu akan jatuh kebawah oleh beratnya sendiri. Tidak ada hukuman yang lebih mengerikan daripada pekerjaan yang tak berguna, dan tanpa harapan itu.

Albert Camus bukan Sisifus, Camus adalah Prometheus
Ketika menulis Le Mythe de Sisyphe (1942) Albert Camus bersikeras membayangkan benak Sisifus yang dipayungi bahagia walaupun putra Raja Aeolus dari Thessaly itu ditakdirkan melakukan pekerjaan sia-sia. “Saya tinggalkan Sisifus di kaki gunung! Kita selalu menemukan kembali beban kita, namun Sisifus mengajarkan kesetiaan lebih tinggi yang menyangkal para dewa dan mengangkat batu-batu besar. Ia juga menilai bahwa semua baik adanya…[k]ita harus membayangkan sisifus bahagia.”

I leave Sisyphus at the foot of the mountain! One always finds one’s burden again. But Sisyphus teaches the higher fidelity that negates the gods and raises rocks. He too concludes that all is well…[O] ne must imagine Sisyphus happy. (Camus, The Myth Of Sisyphus)

Camus meyakini sebuah rutinitas, sebagaimanapun absurd dan sia-sia, adalah sebentuk perjuangan yang mampu membuat seseorang membetahkan diri lebih lama dalam dunia yang kian acuh tak acuh ini. Tidak hanya sampai disitu, sampai ketika Camus menulis “Orang Asing” (L’étranger) ia tetap berkeras bahwa Meursault bahagia dengan hukuman mati yang diterimanya bahkan atas suatu tindakan pembunuhan yang tak sepantasnya. Dan ia tidak peduli pada pengampunan, ia tidak membutuhkan keprihatinan apa lagi harus meratapi. Ia menerima yang datang sebagai bagian yang absurd dari yang bernama kehidupan.

Dengan membayangkan diri yang mengada dan merasa bahagia di dalam absurditas, mengatakan “ya” pada penderitaan yang mungkin pilihan satu-satunya yang tersisa di kolong langit ini sebagai pilihan yang disadari sejak awalnya, dan karenanya berarti pilihan itu harus juga dijalani dengan rasa bahagia; sekali pun pada saat yang sama hal itu disadari, hal yang ironis dan tragis dimulai, “find happiness and peace of mind in an absurd universe.” (Fowler, 1987:81).

Akhirnya, “Saya Memberontak Maka Saya Ada” itulah adagium dalam L’Homme Revolte (1951) yang diteriakan Camus atas nama keber-ada-an manusia di kolong langit yang absurd ini: sejarah yang sudah dipilih oleh manusia sendiri dan karenanya ia tidak boleh mundur atau menyerah pada sejarah. Manusia dikolong langit ini adalah pemain utama dari sejarah, tak lain tak bukan manusia bukan budak dari alam dan bukan pula mesin bagi pekerjaanya.

Orang lalu tersebab itu mengidentifikasikan Camus untuk saat yang lama bahwa Camus adalah seorang Eksistensialis. Orang juga tak jarang merayakan keabsurdan hidup sebagai jalan bereksistensi (dengan pengertian yang justeru seringkali mirip dengan pengertian akan chaos dan soliter) . Absurd dan eksistensialis adalah dua kata kunci yang selalu dikait-kaitkan dengan penerima Nobel Sastra 1957 ini, yang ia sendiri, justeru lebih ingin dikategori, jika memang ada penkatagorian, sebagai seniman. “Tidak, saya tidak eksistensialis. Sarte dan aku selalu terkejut melihat nama kami terhubung…” kata Camus.

Akan tetapi sebagai inetelektual zamannya, Camus memiliki objek pertanyaan dan perenungan akan kebebasan manusia dan keadilan kemanusiaanya pada saat-saat di mana kecamuk perang menghadirkan penderitaan, pembunuhan yang secara kasar merampas kebebasan dan karenanya membuat umat manusia terasing dari kemanusiaan dan manusia lain, adalah hal yang paling mungkin untuk memberi justifikasi bahwa Camus seorang pemikir yang secara mendalam memikirkan eksistensi manusia (di hadapan dunia yang menurutnya absurd).

Namun sekali lagi hal itu memang tidak cukup untuk mengatakan bahwa Camus seorang filsuf Eksistensialis yang dengan gigih mendeklarasikan subjektifitas total di mana kemuakan merajalela di bumi seperti neraka-nya Sarte dalam “Nausea” atau Tuhan yang mati di pasar-nya Nietzsche dalam “Also sprach Zarathustra” yang bercitarasa nihilis; sebuah konsep tentang negasi semua nilai yang lebih subtil. Camus juga bukan filsuf yang dengan radikal menentang objektifitas ontologis yang hendak memurnikan iman dan religiusitas dari pengaruh filsafat (hegelian khususnya) yang justeru dipandang tidak bijaksana dan kebablasan sebagaimana pemikirian eksistensialis Kierkgaard yang tertuang dalam “Postscript.” Camus juga bukan, Karl Jaspers juga bukan seperti Martin Heidegger, kenapa?

Saya ingin pertama-tama mengatakan bahwa Camus, sekali pun ia sendiri yang mempopulerkan Sisifus, namun dia akhirnya adalah seorang Prometheus, itu subjektifitas saya peling tidak setelah membaca novelnya “Orang Asing” dan menutupnya dengan novel Camus lainnya “Sampar”. Akhirnya Camus, lain dari Sarte yang muak dan Nietzche yang “Nihilis” terhadap semua janji pengobatan atas individu dan kehidupan yang sakit yang dialami olehnya dan oleh zamannya , Camus adalah Promoteus yang lebih memilih dengan sadar dan berbahagia, menyalakan “api pemberontakan” untuk mengada dihadapan yang Absurd. Dalam hal inilah pertanyaan apakah sebenarnya Camus hanya membayangkan bahwa Sisifus rupanya bahagia dengan hukumannya? Atau Camus juga membayangkan bahwa untuk manusia dan kehidupannya di bumi ia sebenarnya (atas sebuah justifikasi seni) pantas diberikan “Api” sebagai obor dan nyala untuk menerangi dan menghidupi kehidupan (kebudayaan kemanusiannya).

Menjadi pemberontak pada yang absurd berarti mengatakan “ya” pada penderitaan yang harus ditanggung oleh manusia bebas sekalipun ia sendiri harus menderita dan menerima hukuman. Ia sadar sepenuhnya bahwa dari pada melihat penderitaan mewabah seperti sampar yang menyakiti seluruh manusia sebagai endemik ketidakadilan dan padamnya api kebudayaan, dari pada membiarkan manusia menjadi budak alam semesta dan buruh bagi mesin, akan lebih baik baginya untuk merelakan diri menjadi pemberontak yang mencuri api para dewa untuk memberi obor bagi nyala kemanusiaan yang bebas dan adil, untuk manusia seluruhnya sebagaimana yang dilakukan Prometheus. Inilah yang ingin saya ketengahkan dalam tulisan ini, yang secara khusus sesungguhnya ingin saya sebut sebagai argumentasi untuk menyatakan “The Camus Actuel” atau Albert Camus yang sesungguhnya. Albert Camus yang melampaui Sisifus; Albert Camus yang memberontak pada dewa untuk kebahagiaan manusia sebagaimana yang dilakukan Prometheus.

Prometheus dan Solidaritas Kemanusiaan

“Ketika aku masih lugu remaja, tak tentu arah dan tujuan; mataku yang bimbang mengarah ke matahari; seakan nun di atas sana ada telinga mendengar keluh kesahku, ada kalbu bagai kalbuku; yang belas kasih pada yang nestapa. Siapa yang bertanya itu? Adakah sungguh kau mengira aku mesti membenci kehidupan, mesti lari sembunyi kegurun, karena tak segala impian remaja berbuah dan berbunga? Disini kududuk, menggubah manusia sesuai citraku, suatu kaum yang menyerupai aku; agar menderita, menangis, sukaria, bahagia; agar tak menggubrismu; sebagaimana Aku.”

Dalam sajak di atas yang ditulis Goethe, sajak aslinya berjudul –Prometheus—dalam trilogi drama Aischylos dikisahkan Prometheus bersekutu dengan Zeus (dewa Yunani tertinggi) memerangi dan mengalahkan para titan. Prometheus sendiri dikenal terutama karena menghadirkan api—sebagai lambang budaya—pada manusia. Karena dilakukannya tanpa izin Zeus ia dirantai pada sebuah tebing dan seekor burung nasar tiap hari datang memakani jantungnya sebagai sebuah hukuman baginya. Dalam karya-karya Ovid, Prometheus dikisahkan mencipta manusia dari tanah liat. Sedangkan dalam puisi Von Goethe ini, berbagai unsur mitologis tersebut dipadukan.

Apa arti Prometheus untuk manusia zaman sekarang? Pasti akan dikatakan bahwa pemberontak yang menentang dewa ini adalah model bagi manusia kontemporer, bahwa protesnya yang bangkit ribuan tahun yang lalu di padang pasir Scythia, memuncak hari ini dalam sebuah ledakan sejarah yang tidak pararel. Namun pada saat yang sama, sesuatu mengatakan kepada kita bahwa korban penganiyaan ini masih berada di antara kita, dan bahwa kita masih tuli terhadap jeritan keras pemberontakan manusia yang memberi tanda kesepian.

Kisah tentang Prometheus bersumber dari mitologi Yunani karya Ny. Sukartini Silitonga “Mitologi Yunani” (1977) mengisahkan dengan baik mitologi Prometheus. Dikasahkan pada waktu alam semesta diciptakan, Amor menyelimuti bumi yang baru lahir tersebut dengan tumbuh-tumbuhan yang lebat dan memberinya mahluk hidup berbagai jenis sebagai penghuninya, dia juga ingin ingin agar mahluk ini tetap memeliki hidup itu dan menikmatinya. Untuk maksud tersebut perlulah manusia diciptakan dan dibekali dengan sejumlah bakat, supaya dapat memeriahkan mahluk yang lain.

Dengan bantuan Promoteus dan Epimeteus, dua anak Lapeteus, salah seorang Titan, mulailah manusia dibentuk dari tanah liat. Dewa bertiga itu mulanya membuat patung yang menyerupai dewa, kemudian Amor diminta untuk menghembuskan nafas kehidupan ke dalam lubang hidung patung. Minerva, puteri Jupeter menganugerahkan jiwa, dan dengan demikian bersemilah hidup di dalam diri manusia, dan dengan demikian bersemilah hidup dalam diri manusia yang lalu bergerak untuk mengamati daerah lingkungannya.

Promoteus bangga akan hasil pekerjaanya, lalu menginginkan supaya kepada manusia diberikan kekuasaan yang besar, melebihi mahluk lain di dunia. Promoteus berpendapat hanya apilah yang dapat menghasilkan yang demikian, sedangkan api adalah suatu anugerah kepada para dewa. Dia juga sadar para dewa tidak akan mau membagikannya kepada manusia dengan sukarela, dan apabila sesorang dapat mengambilnya, maka pencuri itu tidak akan di ampuni untuk selama-lamanya. Promoteus setelah mempertimbangkan cukup lama akhirnya bertekad mencuri api dari para Dewa dengan segala resiko walau pun mungkin ia akan musnah dalam usahanya itu.

Untuk maksud itu Promoteus berangkat pada suatu malam gelap ke Olimpus dan tanpa ketahuan menyusup masuk ke tempat kediaman para dewa dan dia berhasil mencuri api yang lalu ia sembunyikan di dadanya untuk kembali ke bumi dan diberikan kepada manusia untuk seterusnya dipelihara. Manusia segera mempergunakan api itu untuk berbagai tujuan. Tentu saja manusia sangat berterimakasih kepada kebaikan Prometheus yang telah mempertaruhkan nyawanya mendapatkan api bagi manusia.
Dari singgasananya di Olimpus, Jupiter melihat di bumi cahaya yang luar biasa. Tidak lama kemudian dia mengetahui perihal pencurian api itu. Dia sangat marah dan memutuskan menghukum Promoteus tanpa ampun. Prometeus pun dibawa kepegunungan Kaukasia. Disana ia dirantai pada sebuah bukit batu. Kemudian ke tempat itu dibawa burung nasar rakus yang setiap hari harus memakan hati Prometheus. Pengoyakan hatinya dari dari rongga perut oleh paruh dan kuku burung ganas itu menyebebkan sakit yang bukan kepalang. Pada siang hari burung nasar itu mengisi perutnya dengan hati Prometeus, akan tetapi pada kesejukan malam bilamana burung itu tidur, sakit yang diderita Promoteus terhenti dan hatinya tumbuh kembali, seakan tiada ujungnya. Bayangan bahwa dia bertahun-tahun berkepanjangan akan menderita sakit yang sangat, menyebabkan Prometeus sering mengeluarkan keluhan yang menyanyat hati.

*

Bayangkan bahwa Camus lah seorang Prometheus, seorang dewa yang untuk kemanusiaan di bumi, ia mencuri api yang sesungguhnya hanya diperuntukan untuk para dewa. Aksi mencuri yang dilakukan Prometheus bisa kita sejajarkan dengan “pemberontakan” Camus atas kehidupan yang absurd. Dan hukumannya adalah ia harus menanggung hukuman bahwa ia sendiri masih berada di bumi yang absurd bersama manusia-manusia lain yang menderita oleh tidak menariknya kehidupan akibat keterasingannya dari manusia lain dan dari kemanusiaan akibat perang antara pesimisme dan konfrontasi.

Tapi sebagaimana Prometheus, apakah Camus tidak tahu dan tidak bisa meramalkan sikasaan yang harus dijalani dari pemberontakannya? Seperti kata Camus, Hermes mengolok-olok pahalawan ini: “Aku heran, bahwa kau yang setengah dewa, tidak bisa meramalkan siksaan yang sekarang kau jalani.” Tapi Promotehus menjawab bahwa “Aku sudah meramalkannya.” Dan baginya semua dewa pada dasarnya juga menderita karena kesedihan semua manusia. Mereka tahu bahwa keadilan yang buta itu tidak ada, bahwa sejarah tidak memliki mata, dan bahwa karenanya kita harus menolak keadilannya (keadilan dari sejarah yang tidak memiliki mata, buta, yang bisa menerjang siapa saja dari manusia untuk menjadi pahlawan atau sebaliknya, menjadi korban sejarah, korban keadilan) untuk diletakkan ditempatnya, dan sejauh ini hal itu bisa dilakukan, keadilan yang ditemukan oleh pikiran. Di sinilah Promotehus sekali lagi kembali ke dalam abad kita, bersama jeritannya yang menyayat dalam suara-suara erang dan jeritan deretan korban sejarah.

Di tengah situasi memprihatinkan di zaman kita sekarang mitos Prometheus yang dibangunkan Albert Camus dalam dirinya sendiri melalui pemikiran dan karya-karyanya muncul kembali, hadir untuk dengan kesadaran pada sejarah yang absurd dan buta, ia memberontak dari kegelisahan dan tempat yang dirasakannya tidak sesuai hati nurani kemanusiaan, untuk berbicara lantang menjadi pembela gigih atas nilai-nilai moral positif kita dan “manusia-manusia diam yang”, diseluruh dunia, memikul kehidupan yang telah diciptakan untuk mereka.

“Manusia zaman sekarang telah memilih sejarah, dan mereka tidak bisa dan tidak boleh memalingkan wajahnya dari sejarah. Namun alih-alih menguasainya, mereka sepakat sedikit demi sedikit setiap harinya untuk menjadi budaknya. (manusia zaman modern tentu saja memikul serangkaian penderitaan dimuka bumi ini, kekurangan makanan dan kehangatan, dan memandang kebebasan sebagai semata-mata kemewahan yang bisa menunggu) Di sini lah mereka mengkhianati Prometheus, yang ‘berani dalam pikiran dan ringan dalam hati.’” (Albert Camus, Prometheus di Dunia Bawah Tanah, 1946)
Manusia bukan mesin dan ia juga bukan budak dari alam. Ia bebas dan hidup untuk mehaluk yang lain di bumi ini sebagaimana padanya dibekali api kebudayaan. Maka bagi bagi Camus, “Prometheus adalah pahlawan yang cukup mencintai manusia untuk memberinya api dan kebebasan, teknologi dan seni. Kini umat manusia memerlukan dan hanya perduli pada teknologi….[A]pa yang menjadi ciri Prometheus adalah bahwa ia tidak dapat memisahkan mesin dari seni. Ia percaya bahwa jiwa dan tubuh bisa dibebaskan pada waktu yang sama.“

Suara jeritan yang menyanyat dari mitologi Prometheus adalah suara ajakan bagi manusia di zaman kita sekarang untuk berbicara bagi kebebasan dan keadilan seluruh manusia; berbicara sejauh dia dapat bagi mereka yang tidak dapat berbicara.”Fungsi kita hari ini tidak boleh melayani mereka yang membuat sejarah. Kita harus melayani mereka yang menjadi sasaran sejarah itu.” Itulah credo yang disampaikan Camus di balai kota Stock Holm 1957.

Sebagaimana Prometheus akhirnya dibebebaskan dari penderitaan panjangnya oleh Hercules, Albert Camus di bebaskan ketika pada awal Januari 1960, ia tewas dalam kecelakaan mobil pada umurnya yang ke 46 tahun. Dan kita sekarang boleh membayangkan bahwa ia seperti juga Mersault, bukanlah orang yang kalah, ia hanyalah orang yang telah dan masih berbahagia.

“Di depan malam ini yang penuh dengan pertanda dan bintang, aku membuka diriku untuk pertama kalinya kepada perasaan ketidakperdulian dunia. Mengakui bahwa semuanya sama saja, bahkan seakan saudaraku, maka aku pun merasakan bahwa aku dulu bahagia dan aku pun sekarang masih.” (Albert Camus, Orang Aneh, Penerbit Matahari)

“Devant cette nuit chargée de signes et d’étoiles, je m’ouvrais pour la première fois à la tendre indifférence du monde. De l’éprouver si pareil à moi, si fraternel enfin, j’ai senti que j’avais été heureux, et que je l’étais encore….”

Dan sebagaimana ia adalah Prometheus, kita mendoakan dan berterimakasih atas “api” kebebasan yang telah diberikannya melalui berbagai pemikiran dalam esai, drama, atau novelnya yang membuat kita manusia di zaman kini, zaman sesudah perang, bisa menikmati sedikit kehidupan asalkan kita bisa menjaga api kebebasan itu tetap menyala dan tidak dipadamkan dalam sebuah kotak pandora bernama “dominasi sejarah, baik dalam kehidupan berekonomi, sosial, politik, seni dan kebudayaan.

Tulisan pendek ini tidak bertujuan membuat kesimbulan dan bahasan filosofis yang tuntas, karena memang saya rencanakan untuk suatu pengantar dari tulisan yang lebih panjang, karenanya saya ingin menutup tulisan ini dengan pertanyaan untuk kita bersama: kemana kita hendak mengarahkan anak panah pemberontakan kita hari ini? Kemana jeritan Prometheus yang menyayat hati itu hendak kita perdengarkan? Atau tak perlu? (*)

*Sabiq Carebesth : Penulis dan pecinta buku. Editor in Chief Galeri Buku Jakarta. Tulisan ini diunggah pertama kali pada tahun 2012. Ditayangkan kembali untuk mengenang 103 tahun kelahiran Albert Camus.

Continue Reading
Advertisement

Art & Culture

Apa Yang Kreatif?—Melawan Suara-Suara Penyederhanaan

mm

Published

on

Oleh Sabiq Carebesth *)

Siapa orang kreatif atau mari bertanya lebih dulu apa (orang) yang kreatif itu? Apa bahaya-bahayanya untuk menjadi “siapa” sementara ruang reflektif meminta menuntaskan maksud dan tujuan dari “apa” penulis atau pribadi kreatif itu sendiri?

Orhan Pamuk dalam pidato untuk penerimaan hadiah nobel sastra yang diterimanya mengisahkan sosok ayahnya; sebagai pribadi yang menyendiri di dalam kamar, dengan buku-buku dan menulis. Merenungkan dunia dan, terus bertanya lalu apa? Tetapi pertanyaan itu hanya menghasilkan ruang lebih luas dan kemampuan menyendiri lebih jauh lagi—dan tidak selalu berarti keberuntungan—untuk katakan menjadi penulis atau pribadi kreatif yang berhasil. Camus menuliskan:

“Menurut Saya, pengarang adalah orang yang tekun, selama bertahun-tahun, berupaya menemukan ‘diri’ yang kedua, sekaligus memahami dunia pembentuk dirinya yang aktual. [o]rang yang mengurung diri di kamar, duduk di depan meja, menyendiri, merenung, dan di antara bayang-bayang, membangun dunia baru dengan kata-kata. [s]etelah sekian lama, mungkin ia akan bangkit dari duduknya, melongok keluar jendela untuk menyaksikan anak-anak bermain di jalanan serta pepohonan dan sepotong pemandangan, atau mungkin malah menatap dinding hitam. Ia mungkin telah mengarang puisi, naskah drama, atau seperti Saya, menulis novel. Semua itu terjadi usai ia melakukan kerja amat penting: duduk di depan meja dan menyelami batin. “

Mary Oliver, penyair perempuan yang dikasihi publik, memastikan bahwa dunia kreatif dihuni mereka yang memiliki kebernaian dan komitmen menuruti laku aliran batinnya, suatu panggilan jiwa yang berlaku sebagaimana kesetiaan air pada gaya gravitasi. Seseorang yang berjalan dengan susah payah melalui hutan belantara ciptaan, “mereka yang tidak mengetahui hal ini – yang tidak ‘menelan’ ini – akan hilang.”

Itulah yang dibutuhkan untuk menyelam dalam dunia kreatif dan mengambil dari dalamnya mutiara.

Maka seperti Pamuk, Oliver mengandaikan bahwa bagaimana pun [b] idang kreatif butuh kesendirian. Bidang kreatif membutuhkan konsentrasi tanpa interupsi. Itu membutuhkan seluruh langit untuk dituju, dan tak ada sorot mata melihat hingga sampai pada kepastian yang diinginkannya. Privasi. Sebuah tempat yang terpisah—untuk melangkah, untuk mengunyah pensil, untuk mencoret-coret dan menghapus kemudian mencoret-coret kembali. Tetapi sama seringnya, jika tidak lebih sering, interupsi tidak datang dari orang lain namun dari diri sendiri, atau diri lain di dalam diri.”

Suatu gagasan dari Keats tentang “kemampuan negatif,” Dani Shapiro mendesak bahwa seorang seniman, seorang pribadi kreatif, tak terhindarkan “untuk merangkul ketidakpastian, untuk diasah dan dikikir olehnya,”—untuk petualangannya yang tidak diketahui.

Pada kenyataannya, pekerjaan kreatif itu adalah bagian dari petualangan itu sendiri. Dan tidak ada seniman yang dapat mengerjakan pekerjaan ini, atau ingin melakukannya, dengan energi dan konsentrasi yang tidak utuh.

Halanya seperti laku kesendirian. Itu lebih seperti pengambil resiko (risk-taker) daripada pengambil tiket (ticket-taker). Bukannya itu akan mengecilkan arti sebuah kenyamanan, sosialitas, atau menetapkan rutinitas dunia, namun perhatiannya lebih mengarahkan ke tempat lain. Perhatiannya ada pada batas, dan pembuatan bentuk dari ketidakberwujudan yang melebihi batas.

Seperti pepatah Turki yang menjadi kredo menulis Pamuk, mereka para pribadi kreatif, para seniman dan penulis, dalam kesendirian dan kesunyiannya “menggali sumur dengan jarum”—maka tentu saja itu membutuhkan nyaris seluruhnya, dan lagi pula, tak selalu berhasil. Tetapi itu tetap tak mematahkan hidup yang memberinya perasaan berarti, untuk mengambil risiko dan memenuhi panggilan jiwa.

Panggilan jiwa yang memastikan mereka memahami, sebagaimana narasi Sontag yang menggugah, pekerjaan pertama para penulis atau bidang kreatif lainnya, adalah “untuk melawan suara-suara penyederhanaan.”

Dalam seni menulis khsusnya, Sontag menekankan bahwa; tugas penulis adalah mempersulit orang untuk memercayai para perampok batin. Tugas penulis adalah membuat kita melihat dunia apa adanya, penuh dengan berbagai klaim dan bagian, serta pengalaman. (*)

*) Sabiq Carebesth—Editor in Chief Galeri Buku Jakarta—Catatan ini adalah pengantar redaksi untuk Majalah “Book Coffee and More” yang akan dirilis perdana oleh Galeri Buku Jakarta pada Agustus 2020.

Continue Reading

Philoshopia

Panduan Menjadi Absurdis

mm

Published

on

Oleh Sabiq Carebesth *)

Albert Camus tidak dalam rangka melakukan pengadilan pengatahuan mau pun metode perolehan pengetahuan untuk membangun filsafatnya. Lain dari umumnya karakter filsafat (barat) modern yang terus bertumpu pada kritik dan dialektika, katakan seperti istilah dipakai penulis Argentina Jorge Luis Borges, bahwa setiap pengarang memiliki pendahulunya sendiri—Camus menempatkan kritik dan uji materi pengetahuan para pendahulunya hanya pada batas ia menemukan contoh sekaligus penyangkalan yang mungkin baginya untuk menerangkan ihwal absurditas.

Hal itu dimulai dari keyakinan tentang abusrditas itu sendiri—bahwa Camus sama ambigunya dalam menempatkan posisi dirinya; di satu sisi ia adalah penggagas dan pengujar genuine gagasan absurd, di satu sisi ia mengambil jarak dari kerangka absurditas yang dibangunnya untuk memastikan ia keluar sebagai pemenang tunggal; sebagai abusurdis sesungguhnya—keyakinannya itu bertumpu pada dua fakta pokok tentang absurditas yaitu: ambiguitas-paradoks dan keseimbangan untuk berdiri-di antara.


Saya  melihat banyak orang mati karena mereka merasa bahwa hidup ini tidak layak dijalani. Saya melihat pula orang-orang lain yang secaara paradoksal dibunuh demi gagasan atau ilusi yang justeru memberikan kepada mereka alasan untuk hidup (yang disebut alasan untuk hidup sekaligus merupakan alasan yang tepat untuk mati) jadi saya menilai bahwa makna hidup adalah pertanyaan yang paling mendesak.
Yang mencetuskan krisis batin itu hampir selalu tidak dapat dikendalikan. Surat kabar sering menyebut-nyebut keterangan kenapa orang-orang putus asa bunuh diri “kesedihan yang paling pribadi”, “penyakit yang tak dapat disembuhkan”—tapi saya kadang mengandaikan bahwa pada hari itu, sahabat dari orang yang putus as aitu berbicara kepada yang putus asa dengan nada acuh tak acuh—sikap acuh demikian tampaknya cukup untuk mengakibatkan memuncaknya semua dendam dan kejemuan yang sampai saat itu masih tertahan. Meski demikian saya tidak mengabaikan bahwa terkadang bunuh diri dapat saja terkait dengan pemikiran-pemikiran yang jauh lebih terhormat. Contohnya bunuh diri politik sebagai protes dalam Revolusi Cina.
-Albert Camus

Ambiguitas yang sekilugus inheren dalam paradoksalnya itu adalah pandangannya bahwa absurditas tidak terletak pada salah satu faktor antara manusia dengan rasionalitasnya atau dunia dengan bobot kemustahilannya yang sukar diterima oleh penalaran logis rasionalitas manusia.

Abusrditas berada pada batas keduanya dan bukan pada salah satunya. Sehingga tidak tepat untuk misalnya bertanya “yang absurd manusianya; atau dunia?” dalam pengandaian itu Camus telah menempatkan waktu sebagai yang kini dan di sini, waktu yang hadir dan siap dihadapi sebagai yang semata-mata konkrit, tidak ada kemungkinan nanti dan apa saja yang menarik ke dalam ketidaktahuan untuk dipahami nalar rasional sebagaimana hal itu telah berganti wilayah ke dalam waktu yang mistis dan transenden. Tak soal apakah orang menyebut hal itu agama, Tuhan, harapan, atau semacam itu. Ia hanya menyadari kemungkinan untuk melibati waktu yang kini dan di sini; yang datang untuk memintanya merangkul keseluruhannya termasuk bahwa ketidakmungkinan untuk memahami semuanya adalah realitas itu sendiri dan manusia tidak sebaiknya menyerah pada batas semacam itu, sebaliknya ia mesti memberontak—dengan apa caranya dan batas pengertiannya akan saya bahas lebih pada artikel lain—tetapi sementara untuk dikatakan bahwa pemberontakan itu adalah satu-satunya kemungkinan yang menempatkan eksistensi manusia pada dirinya sendiri dan dirinya sendiri itulah dengan segala kemungkinan tindakan yang bisa membuatnya terlibat di antara rasionalitasnya dan dunia yang mengutuknya, sebagai satu-satunya realitas. Dan demikianlah ia menerimanya sebagai suatu bentuk pemberontakan. Pemberontakan dengan mengatakan “ya” pada segala yang datang kini di sini dan untuk sekarang merupakan satu-satunya cara mengada yang mungkin dan bisa dibenarkan dalam nalar absurditas yang dibangun oleh Camus.

Nalar absurditas Camus ditegakkan dengan keseimbangan manusia untuk tidak perlu terburu-buru atau malah tidak perlu sama sekali mengambil kesimpulan, penegasan, nafsu menerangkan dan ihwal pemuncakan semacam itu sebagaimana hasrat pada penganut Hegelian untuk menemukan keutuhan atas semua seolah lompatan-lompatan kemungkinan realitas bisa ditakar secara anonim. Bahwa jika suatu menemukan faktor pendorongnya ia otomatis melompat ke sesuatu yang berbeda dengan pada saat sama mengugurkan kemungkinan sebelumnya dan kebaruan akan sampai pada puncak realitas utuh yang bentuknya—hanya menunggu dipenuhi oleh penemuan faktor-faktor penggeraknya.

Keseimbangan untuk tetap berada di dalam paradoks dan karenanya memunculkan realitas diri yang ambigu yang dijadikan pondasi membangun kerangka absurditas ala Camus, olehnya dimaknai sebagai hukuman—terkadang—tetapi pada saat bersamaan juga seperti berkah. Dinamika absurdis ditandai oleh kemampuan konsistensinya untuk menerima ambiguitas semacam itu, bahwa memang demikianlah dunia tetapi tidak demikian, soliter sekaligus solider, dan lagi pula, apa yang didapat dari upaya terburu-buru untuk menyimpulkan atau untuk memahamkan diri tentang realitas jika ternyata; realitas itu tak memiliki kesimpulan untuk dimaknai dan dicarikan alternatifnya kecuali di sini, sekarang dan sebagaimana ia melingkupi manusia dalam penalaran rasional seklaigus kemustahilannya.

Pada kerangka upaya pemaknaan filsafati Kierkegerad dan Leon Chestov kita akan menemukan bagaimana Camus menguji kerangka absurditasnya. Tetapi sebagaimana dikatakannya sendiri, itu hanya pada tahapan untuk mengatakan dan menemukan tentang prinsip-prinsip paradoksal dan keseimbangan yang dituntut dari absurdis sejati, dan baik Kierkegerad mau pun Leon Chestov menunjukkan kegagalannya—terutama karena nafsu keduanya untuk membuat kesimpulan akhir sebagai upaya penjelas pemikiran akan makna kehidupan.

Pada Kierkegerad kegagalan ditunjukkan Camus oleh kepastian akhir Kierkegerad untuk justeru di titik ia mendapati dunia ini absurd dan penalaran atasnya runtuh, ia justeru menemukan dan membebankan pada salah satu faktornya yaitu kehidupan itu sendiri. Sehingga kepasrahan harus dihadirkan karena ketidaksampain nalar memahami kekosongan makna kehidupan. Dan penyerahan pada kekosongan menempatkannya pada bentuk final transendensi iman Kristiani yang dianutnya.

Sementara pada Chestov Camus menunjukkan betapa filsuf Rusia itu hampir saja menjadi absurdis sejati, tetapi ia terjebak justeru di titik di mana seperti kata Camus sendiri “Ketika Chestov mencurahkan seluruh nafsunya untuk membuyarkan rasionalisme Spinoza dan betapa kesal ia pada Hegel, ia Justeru menarik kesimpulan mengenai kesia-siaan segala nalar. Ia melakukan pembalikan yang wajar tetapi tidak sah, ia kembali ke keunggulan hal irasional—dan katakanlah ia menjadi amat bersemangat menyanggah rasionalisme Aristotelian.”

Maka demikianlah bahwa Leon Chestov yang hampir saja, dengan keyakinan pada awal pemikirannya bahwa “nalar tidak ada gunanya, tetapi ada sesuatu nun di luar nalar. Bagi jiwa absurd, nalar adalah sia-sia, dan di luar nalar tidak ada sesuatu apa pun.” Bagi Camus persepsi semacam itu bisa dibenarkan dalam membangun logika absurd, sedikit lagi adalah hakikat absurd. Bahwa bagi Camus sendiri “absurditas hanya mempunyai nilai dalam suatu keseimbangan, absurditas terutama berada dalam perbandingan dan sama sekali bukan dalam masing-masing dari unsur perbandingan itu”.

Namun Chestov justeru meletakkan seluruh bobot absurditas pada salah satu unsurnya dan menghancurkan keseimbangannya. Kehauasan untuk mengerti, kerinduan pada yang mutlak, hasrat membuat segalanya menjadi jelas—padahal kita telah tahu hal semacam itu mustahil; nalar selalu efektif tapi pada saat sama irasionalitas senantiasa muncul kembali. Dan hasrat besar untuk menjelaskan dengan mutlak yang dilakukan Chestov maunpun Kierkegerad telah menempatkan keduanya dalam kacamata seorang juri yaitu Camus sendiri dengan buku pedoman “menjadi absurdis sejati” di tangannya—dan keduanya gagal menjadi seorang absurdis sejati.

Tetapi sementara ini penting untuk menutup artikel ini dengan kutipan dari Camus sendiri tentang buku pedoman yang dipegangnya: “Dapat saja dikira bahwa di sini saya mengabaikan masalahnya yang hakiki, yakni masalah iman. Tetapi saya tidak menelaah filsafat Kierkegerad, Chestov, atau lebih jauh lagi Husserl; saya hanya  meminjam sebuah tema dari mereka, dan saya menelaah apakah akibat-akibatnya sesuai dengan kaidah-kaidah yang sudah ditentukan di depan (bunuh diri filosofis). Masalahnya hanyalah bertahan pada satu persoalan.

Apa persoalan terpenting dalam filsafat makna dalam gagasan Camus? Anda tentu sudah mendengarnya. (*)

18 Mei 2020

*) Sabiq Carebesth, penulis lepas, editor.

Continue Reading

Philoshopia

Republik dan Platonisme dalam Pemikiran Martha Nussbaum

mm

Published

on

Banyak pembaca telah lebih mengenal Amartya Sen dan pemikirannya, tetapi sedikit saja yang mengenal dan mempelajari pemikiran Martha Nussbaum. Padahal keduanya bekerjasama membangun proposal politik normatif yang dikenal dengan ide kapabilitas utama manusia. Ide ini memberikan perencanaan politik yang berfokus kepada kondisi minimum untuk memenuhi keadilan sosial dimana warga negara harus dijamin ambang batas kapabilitasnya oleh negara terhadap apapun yang mereka punyai.

Oleh: Rika Febriani *)

Di dalam salah satu karyanya yang berjudul “The Fragility of Goodness; Luck and Ethics in Greek Tragedy and Philosophy” (1986), Martha Nussbaum, seorang pemikir pemikir politik kontemporer, menulis tentang tragedi Yunani sebagai bagian dari pencarian filsafat atas nilai dan kebaikan manusia. Nussbaum sendiri menulis banyak karya yang terinspirasi dari pemikir Yunani Kuno, Stoik Roma, Plato dan Aristoteles.


Rika Febriani: Penulis adalah pengajar filsafat di Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Universitas Negeri Padang.

Dalam buku “The Fragility of Goodness; Luck and Ethics in Greek Tragedy and Philosophy” (1986) dia menguji peran manusia dalam melihat nasib (luck) pada pemikiran etis penyair tragis (tragic poets), Plato dan Aristoteles.  Nussbaum melihat ada jarak yang muncul antara menjadi manusia yang baik dan melaksanakan kehidupan yang baik (flourishing). Makna kehidupan yang baik ini terinspirasi dari Plato dimana di dalamnya terdapat aktivitas kebijaksanaan. Salah satu kutipan yang terkenal dari Sokrates mengatakan bahwa orang yang baik tidak bisa dicelakai. Hal ini berarti kehidupan yang baik menjadi bermakna sejauh kebijaksanaan dilaksanakan.

Nussbaum berargumentasi bahwa pernyataan ini menandakan adanya panggung debat yang kaya tentang peran etis atas nasib yang terus berlanjut pada abad ke-4 dan 5 SM termasuk diantaranya puisi dan filsuf sebagai pesertanya.[1]

Gagasan Sokrates ini membutuhkan pemikiran kembali atas elemen kehidupan, seperti: bagaimana dapat mencapai kebaikan ataupun keutamaan (eudaimonia). Banyak elemen kehidupan yang terkadang harus dihilangkan padahal sangat diperlukan untuk menciptakan keutamaan. Kegiatan tersebut dapat berupa cinta (dalam jenisnya yang beragam), pertemanan, dan aktivitas yang berhubungan dengan keutamaan etis. Bisa juga berupa keberanian dan keadilan yang membutuhkan kondisi eksternal dimana agen kebaikan (manusia) tidak bisa diselamatkan oleh dirinya. Sementara itu, apabila kita berusaha menghilangkan kejadian yang tidak bisa kita kontrol, hal ini dapat membahayakan secara etis.

Menurut Nussbaum, hanya dengan mengidentifikasi kehidupan yang baik dengan keutamaan sebagai ciri utamanyalah dapat memelihara seseorang agar tidak tercerabut dari kebaikan. Dalam hal ini Nussbaum merujuk kepada karya besar Aristoteles, Etika Nichomacea. Aristoteles memberikan contoh melalui aktivitas tertentu seperti kontemplasi intelektual yang hanya sedikit bergantung kepada kondisi eksternal. Kontemplasi intelektual ini menurutnya dapat menciptakan kebaikan manusia. Namun Nussbaum mengkritisi hal ini sebagai suatu pandangan yang sempit tentang kebaikan manusia karena ide kebaikan juga membutuhkan orang lain, misalnya melalui pertemanan. Pertemanan tidak bisa dihilangkan dari gagasan tentang kebaikan.

Yang Rapuh dari Kebaikan

This book is a study of ancient views about ‘moral luck’. It examines the fundamental ethical problem that many of the valued constituents of a well-lived life are vulnerable to factors outside a person’s control, and asks how this affects our appraisal of persons and their lives. The Greeks made a profound contribution to these questions, yet neither the problems nor the Greek views of them have received the attention they deserve. This book thus recovers a central dimension of Greek thought and addresses major issues in contemporary ethical theory. One of its most original aspects is its interrelated treatment of both literary and philosophical texts. The Fragility of Goodness has proven to be important reading for philosophers and classicists, and its non-technical style makes it accessible to any educated person interested in the difficult problems it tackles. This edition, first published in 2001, features a preface by Martha Nussbaum.

Tidak mengherankan bahwa tema-tema tentang kebaikan merupakan tema utama dalam filsafat Yunani kuno Pasca Aristotelian. Platon dalam hal ini melihat peran nasib dalam membentuk kehidupan yang dapat diatur oleh manusia itu sendiri. Di dalam karyanya The Fragility of Goodness, Nussbaum berusahauntuk menemukan kembali tema-tema pandangan etis yang berasal dari Platon dan Aristoteles. Pandangan etis ini juga berhubungan dengan pemikiran filsafat politik Nussbaum yang melihat kerapuhan (fragility) kebaikan. Dia juga menekankan tentang etika pluralitas kebaikan, kerentanan kehidupan manusia terhadap nasib baik (fortune), dan sifat alamiah persahabatan.

Nussbaum mengakui bahwa pandangannya dipengaruhi oleh tiga pemikiran utama Helenistik: Epikurus, Skeptic dan Stoik. Diantara ketiga aliran tersebut, Stoik adalah yang terpenting dalam perkembangan pandangannya tentang emosi. Baginya, emosi hanya dapat terungkap dalam realitas etis.

Bersama dengan sahabatnya Amartya Sen, Nussbaum kemudian membangun proposal politik normatif yang dikenal dengan ide kapabilitas utama manusia. Ide ini memberikan perencanaan politik yang berfokus kepada kondisi minimum untuk memenuhi keadilan sosial dimana warga negara harus dijamin ambang batas kapabilitasnya oleh negara terhadap apapun yang mereka punyai. Ambang batas kapabilitas ini menurut Nussbaum dapat diadopsi oleh berbagai negara sebagai indeks kualitas kehidupan manusia.

Seperti halnya Sokrates, Nussbaum beranggapan bahwa demokrasi modern membutuhkan filsafat jika ingin merealisasikan potensinya, dan tidak hanya membutuhkan persyaratan Sokratik dan pengujian diri sendiri, tetapi juga membutuhkan keterikatan dengan teori etika yang kompleks, termasuk teori keadilan sosial.

Republik: Nilai Kebenaran dan Titik Kesempurnaan

Nussbaum dalam kritiknya terhadap Platon, memulai pandangannya dengan meminjam pemikiran Terence Irwin. Irwin dalam karyanya “Plato’s Moral Theory” menawarkan pembacaannya terhadap Republik dengan melihat kepentingan utama Platon menjelaskan konsepsi kebaikan. Kebaikan adalah penyesuaian harmonis terhadap berbagai unsur pokok yang masing-masing memiliki nilai intrinsik. Menurut pembacaan Irwin, tujuan akhir intrinsik ini menjadi ideal personal manusia sebagai agen yang ditemukan melalui prosedur deliberatif, seperti: proses mengingat dan kritisisme diri. Prosedur introspektif ini sangat dibutuhkan dalam kehidupan. Di dalamnya kita menemukan klaim bahwa hanya kehidupan yang didedikasikan terhadap kontemplasi kebenaranlah yang benar-benar berharga. Menurut Irwin, ini adalah bagian yang salah dari Platon. Platon telah meninggalkan kita celah yang harus diisi karena melihat pentingnya yang kontemplatif dibandingkan dengan kebijaksanaan praktis.

Sokrates di sisi lain melihat penalaran jiwa yang dilakukan dengan mengkontemplasikan kebenaran adalah aktivitas terbaik dari kehidupan manusia. Hal ini disebabkan karena secara epistemologis kriteria kebenaran adalah kombinasi antara kebijaksanaan dan nalar. Kebenaran adalah sesuatu yang tidak berubah dan abadi.  Prinsip liberal menurut Nussbaum haruslah terbuka tehadap stuktur kehidupannya masing-masing, yaitu sesuatu yang dianggap menyenangkan. Hal ini sesuai dengan apa yang terdapat dalam Republik Platon.

Secara keseluruhan menurut Nussbaum, susunan rasional tidaklah cukup. Unsur pokok dari kehidupan rasional haruslah secara intrinsik bernilai untuk dipilih. Glaucon, seseorang yang dikenal cakap berbicara dengan Socrates di Republik, menyarankan bahwa ada tiga jenis kebaikan (agatha), atau hal yang dapat kita pilih untuk miliki. Hal ini berarti kita harus memikirkan kondisi baik dan buruk dari pilihan.

Kelompok pertama berisikan kegiatan yang dipilih tidak berdasarkan konsekuensinya, tetapi pada pilihan itu sendiri. Contohnya: menikmati diri sendiri, dan segala kesenangan yang tidak mempunyai konsekwensi selain dari kesenangan yang ditemukan di dalamnya. Kedua, kegiatan yang kita pilih baik untuk dirinya sendiri dan juga untuk konsekwensi yang benar-benar kita inginkan, seperti: penalaran (reasoning), melihat, tubuh yang sehat. Ketiga, hal berharga yang hanya secara konsekwensinya diinginkan dan tidak memiliki pilihan berharga dalam dirinya, seperti: latihan, melakukan perawatan ketika sakit, menghasilkan uang. Kita melihat bahwa ada beberapa hal yang tidak mempunyai nilai intrinsik. Kita secara rasional memilihnya karena kita mempunyai kebutuhan atau kepentingan tertentu sehingga pencarian tersebut bermakna sarana (instrumental) terhadap konsekwensi yang diinginkan.   

Seluruh kegiatan ini berharga ketika berhubungan dengan konteks yang kontingen. Apabila kita mengeluarkan konteksnya, maka alasan mengapa memilih hal tersebut akan menjadi hilang. Berlawanan dengan kasus yang secara intrinsik mempunyai komponen bernilai dari kehidupan, seperti pencapaian (functioning) yang baik terhadap tubuh dan pikiran yang sekaligus berguna. Ada juga hal-hal yang tidak berguna namun memberikan kesenangan bernilai, contohnya kesenangan estetik dan sensoris. 

Di dalam Republik, Platon membangun teori nilai dimana tidak ada elemen yang menonjol, tetapi di dalam kemurniannya, stabilitasnya dan kebenarannya. Kesemuanya berperan terhadap aktivitas pembentuk kehidupan. Sementara itu, Nussbaum melihat bahwa halangan terhadap nilai adalah kegiatan pembentuk kehidupan. Mereka bernilai baik di dalam kebijaksanaan yang secara internal adalah qua aktivitas dan kebijaksanaan di dalam keadaan alamiah objek.

Dalam hal ini Platon menurut Nussbaum tidak secara jelas mengatakan kepada kita bagaimana dua kriteria ini berhubungan, apakah kita dapat memiliki kegiatan “murni” yang diarahkan kepada objek yang “tidak murni” (aktivitas stabil diarahkan kepada objek yang tidak stabil) dan apabila kita mampu, apa yang harus kita katakan terhadap nilai aktivitas ini? Permasalahan ini menurut Nussbaum adalah salah satu yang masuk ke dalam interpretasi kriteria aktivitas-stabilitas itu sendiri. Hal ini membawa kita kepada pertanyaan kedua yang berhubungan dengan pemahaman yang benar mengenai kriteria itu. Stabilitas, menurut Nussbaum, dapat dipahami dalam dua cara. Pertama, aktivitas bersifat tidak stabil jika melibatkan rangkaian internal perubahan yang tidak bisa dilanjutkan dalam cara yang sama secara tidak terbatas. Kedua, aktivitas bersifat tidak stabil jika dia bergantung kepada kejadian kontingen dalam lingkungan yang gagal disadari.

Kedua interpretasi ini menurut Nussbaum memberikan gagasan berbeda terhadap ketidakstabilan aktivitas hasrat fisik yang sifatnya instingtif. Nussbaum memberi contoh bahwa makan bersifat tidak stabil karena struktur internalnya menghalangi keberlanjutan untuk jangka waktu tidak terbatas. Kedua, bersifat tidak stabil karena bergantung kepada adanya makanan, yang bisa saja gagal tersedia. Jika kedua gagasan ini dipahami sebagai gagasan yang berbeda atas apa yang dimaksud dengan stabilitas dan ketidakstabilan, maka mereka juga bersifat non-ekuivalen. Bagi gagasan pertama, mencium bunga mawar akan menjadi stabil dibandingkan dengan kualitas bunga mawar yang baunya hanya dapat bertahan sebentar. Pada bagian kedua, aktivitas tidak dihitung sebagai sesuatu yang stabil kecuali objeknya permanen.

Martha Craven Nussbaum is an American philosopher and the current Ernst Freund Distinguished Service Professor of Law and Ethics at the University of Chicago, where she is jointly appointed in the law school and the philosophy department.

Platon menurut Nussbaum tertarik dengan dua penyebab ketidakstabilan ini. Makan dan aktivitas seksual bersifat tidak stabil karena struktur internalnya dan keadaan alamiah objeknya. Mencium bunga mawar adalah kegiatan yang stabil secara internal, namun objeknya dapat menyebabkan ketidakstabilan. Bunga mawar tersebut dapat kita gonta-ganti dan dapat dipertukarkan sebagai objek. Menurut Nussbaum, kestabilan aktivitas adalah yang secara kausal saling bergantung baik objek yang permanen atau siap digantikan. Kita sekarang dapat melihat ada kebenaran stabil yang harus diketahui di alam, terlepas dari lingkungan kehidupan manusia yang berubah-ubah. Hal ini dia pinjam dari gagasan Platon tentang kegiatan yang bernilai. Kita dapat melihat bagaimana kepercayaan terhadap yang sifatnya abadi, paradigma objek yang tidak bergantung kepada konteks dapat menyokong kepercayaan bahwa aktivitas kontemplatif secara maksimal dapat bersifat stabil, tidak berbeda-beda dan terlepas dari konteks.

Phaedo, salah satu dialog yang paling banyak dibaca oleh Platon, dalam hal ini mengeksploitasi hubungan ini. Stabilitas, kemurnian dan kebenaran dapat dicapai tanpa bentuk yang terpisah. Kebanyakan dialog secara eksplisit berhubungan dengan penilaian kritis unsur pokok kehidupan. Kita dapat dengan cepat menyetujui pencarian standar hasrat, seperti: makan, minum dan hal-hal yang tidak terhitung lainnya sebagai kegiatan tambahan saja, yang dipilih untuk meringankan kekurangan terdahulu. Mereka mengandaikannya dengan rasa gatal dan menggaruk dan menjadi tidak murni karena acap kali dicampurkan dengan rasa sakit. Kemudian mereka memasukkan kehidupan terbaik sejauh kondisi absolut memungkinkan terhadap pencarian berharga secara intrinsik.

Bagian terbesar dari dialog kemudian dihabiskan untuk menguji beberapa kasus dimana Republic tidak banyak membahasnya, yaitu: kesenangan yang dihubungan dengan emosi dan kesenangan antisipatif. Sokrates dalam hal ini menurut Nussbaum berusaha menggabungkan kesenangan psikologis “murni” dengan berargumentasi bahwa seluruhnya relatif terhadap kekurangan yang sifatnya kontingen (contigent deficiency), dimana dengan menghilangkannya berarti menghilangkan seluruh penalaran untuk memilih. Ada kesenangan yang digabungkan dengan kesukaran. Hal ini diandaikan dengan: jika kamu tidak dicelakai, kamu tidak punya alasan untuk “kesenangan” yang acap kali dihubungan dengan kemarahan dan balas dendam. Jika kamu tidak merasa kekurangan, maka kamu tidak punya alasan untuk “kesenangan” mencintai.

Pada akhirnya, Sokrates memperlihatkan kepada kita ciri kesenangan yang “murni” dengan ciri: Pertama,  kesenangan estetik murni, yaitu kontemplasi terhadap bentuk yang terlepas dari kepentingan representasionalnya. Dia hanya dikatakan bernilai atau baik dalam kebijaksanaan dirinya dan tidak hanya relatif terhadap sesuatu (pros ti). Kedua, aktivitas intelektual, Sokrates melihat bahwa mempelajari dan memahami sesuatu memiliki nilai intrinsik. Mereka bersifat murni, mempunyai susunan dan harmoni lebih baik dibandingkan dengan kesenangan tubuh. Walaupun nanti kegiatan intelektual bisa dibagi menurut tingkatan presisinya (akribeia), kebenaran dan stabilitasnya, namun secara jelas memiliki nilai yang tinggi.     

Platon memperlihatkan kepada kita bahwa dia menyukai gaya hidup yang tidak hanya filosofis tetapi juga asketik. Teori nilai kemudian memberikan kita rujukan kehidupan dengan tingkat filosofis yang tinggi. Jadi apabila kita melihat teori nilai Platon sebagai usaha untuk mengartikulasikan pandangan manusia berhubungan dengan hasrat, menurut Nussbaum kita dapat menyimpulkan bahwa dia telah gagal. Platon menurut Nussbaum telah mengaburkan perbedaan yang kita lihat penting, yaitu menolak nilai intrinsik yang kita setujui untuk mencarinya. Tapi ini juga menjadi bukti bahwa sebenarnya bukan apa yang Platon coba lakukan. Platon sebenarnya membolehkan anggapan bahwa nilai intrinsik berasal dari kesenangan tubuh. Namun ini hal ini dihasilkan dari kurangnya perspektif dalam pengambilan keputusan. Ini adalah pandangan dari “atas” di alam, misalnya pandangan dari kaum filsuf yang dapat mengambil jarak dengan kebutuhan manusia dan keterbatasannya.

  Kehidupan yang terbaik menurut Nussbaum akan menjadi kehidupan yang secara maksimal mengabdikan kepada pencarian ilmiah dan estetik. Kegiatan lain hanyalah menjadi nilai instrumental. Penting untuk menegaskan bahwa aktivitas yang dipilih oleh kaum filsuf seharusnya bernilai intrinsik, tidak hanya karena para filsuf memilihnya. Pencarian bersifat baik karena pilihan adalah respon terhadap nilai yang sebenarnya, bukan karena dia menilai dari titik pijak yang sesuai. Jika pilihannya adalah pembentuk nilai dari dan di dalam dirinya, kemudian dia dan pilihannya akan mulai terlihat arbitrer.

Platon percaya bahwa kondisi evaluasi ideal yang ditawarkan oleh jalan terbaik makhluk hidup dapat memiliki akses kepada nilai yang sebenarnya (riil), baik itu ada maupun tidak ada. Menurut pandangan ini, kehidupan politis dari kaum filsuf bisa dilihat bernilai intrinsik karena dia menyadari dan mengkontemplasikan stabilitas dan harmoninya. Selain itu, kebaikan digunakan atas penilaian yang berhubungan dengan realitas dunia empiris yang sulit dipahami.   

Kehidupan harmonis adalah yang diperintah oleh nalar. Melalui Republik, menurut Nussbaum ada penegasan kesatuan internal dan harmoni bebas konflik yang berdampak kepada masing-masing individu dalam pendidikan kota. Makhluk hidup yang dipisahkan dari segala keterikatan terhadap pencarian internal yang tidak stabil seperti: cinta, aktivitas seksual, pencarian kekuasaan dan materi secara otomatis pada saat yang sama menyingkirkan nilai konflik. Harmoni yang mengatasi kehidupan para filsuf dihasilkan dari reduksi beberapa komitmen mereka. Pencarian matematika dan pencarian atas cinta tidak akan berkonflik apabila para matematikawan tidak peduli akan cinta atau seorang pecinta yang tidak peduli dengan matematik. Namun pilihan para filsuf atau matematikawan menyumbang secara kuat bagi kondisi keharmonisannya. Mereka memilih pencarian ini karena mereka selalu tersedia dan tidak membutuhkan kondisi khusus atas perlakuannya. Maka menurut Nussbaum, pemenuhan diri (self-sufficicency) individu kemudian mengarah kepada pengurangan terjadinya konflik. 

Potensi konflik yang ada dalam kehidupan ini bisa diselesaikan melalui kombinasi antara pendidikan moral dan rekayasa politik. Sokrates mengalihkan perhatiannya kepada keluarga dan hak milik pribadi, dua hal umum sebagai dasar konflik nilai. Sokrates memberikan solusi. Kota tidak benar-benar menghilangkan hak kepemilikan atau keluarga, tetapi hal ini dapat merambat kepada anggota kota lainnya. Tidak akan ada konflik antara “apa yang menjadi milik saya” dan apa yang dimiliki oleh kota, jika seluruh property dipunyai bersama. Platon, menurut Nussbaum memahami bahwa kota yang ada bukanlah kesatuan, tetapi plural. Segala pengalaman manusia oleh karenanya harus ditransformasikan, dimulai dari pengalaman bayi dari ibu yang menyusui, yang mungkin dapat dipertukarkan dengan peran perawat, sehingga menghalangi pembentukan ikatan khusus dengan peran orang tua, dan kemudian dengan partner seks, warga negara ini akan mempelajari setiap bagian pengalamannya untuk memperlakukan seluruh warganegara sebagai temannya, yang dapat dipertukarkan dengan nilai yang sama.

Symposium telah membawa hal ini satu langkah lebih maju dengan memperlihatkan kepada kita bagaimana orang yang baik belajar menghormati nilai orang lain sebagaimana dirinya yang sepenuhnya dapat dipertukarkan dengan nilai institusi dan ilmu pengetahuan. Dan langkah ini menawarkan tidak hanya solusi atas dilema filsuf-pemerintah, tetapi sekurang-kurangnya menurut Nussbaum ada kelonggaran di dalamnya.

Jika pilihannya antara kontemplasi dan aturan adalah pilihan antara mencintai dan mengkontemplasikan dua sumber yang berbeda dari nilai yang sama, kemudian pilihan menjadi menyakitkan. Strategi ini dipilih untuk meminimalkan konflik di saat yang sama juga menstabilkan pencarian tunggal.

Hal ini meninggalkan satu wilayah yang tidak bisa dihilangkan ataupun dipertukarkan. Hubungan masing-masing orang yang mempunyai perasaan ketubuhannya tidak bisa digeneralisir . Tubuh tidak hanya menjadi halangan terbesar untuk kehidupan yang stabil dan evaluasi yang benar, dia juga sumber konflik yang berbahaya.

Menurut Platon yang dipahami oleh Nussbaum, tidak ada orang biasa yang mempunyai pendidikan yang cukup untuk melatih potensinya sehingga dapat mencapai rasionalitas objektif, khususnya pada demokrasi liberal.  Tapi penghargaan ideal rasional dan titik pijak kesempurnaan ini menjadi tujuan berharga bagi manusia untuk dikejar. Objektivitas nilai adalah sesuatu yang berharga untuk dibicarakan dan harus ditemukan di dalam sudut pandang manusia.

Di sisi negatif, Platon percaya bahwa kebanyakan nilai dalam pandangan internal manusia adalah sumber kesakitan. Salah satu tugas utama filsuf adalah memperlihatkan aspek yang tidak dapat dihindarkan ini. Sementara itu, Aspek positifnya, memegang kebenaran non-perspektif adalah apa yang berdiri sendiri atas kepentingan seluruh manusia. Di dalam Philebus, Sokrates menekankan kepada kita untuk mempertimbangkan “apakah ada dalam jiwa kita beberapa kekuatan alamiah untuk mencintai kebenaran dan melakukan segalanya demi kepentingan itu”. Dari  jawaban sisi positif dan negatif tersebut, Nussbaum melihat bahwa kita termotivasi mencari kebenaran, nilai yang stabil karena kita tidak dapat hidup dengan hal yang menyakitkan dan ketidakstabilan.

Platon telah berargumentasi bahwa perbedaan antara nilai yang benar dan segala sesuatunya tidak hanya kebutuhan relatif, dimana manusia tidak pernah mengalami penderitaan atau kekurangan maka tidak akan punya alasan untuk memilih. Oleh laena itu, penting bagi manusia untuk mempunyai hasrat, jika kita tidak mempunyainya maka manusia tidak akan mempunyai kebaikan yang berbeda dan hanya akan terputus dari yang baik.Bagi Nussbaum, keinginan muncul dalam hubungan dengan motivasi dan pendidikan, tidak sebagai jawaban atas pertanyaan mengenai nilai. Suatu fakta yang menguntungkan apabila banyak dari manusia dibentuk dan dimotivasi untuk mencari nilai yang benar. Semuanya ini, adalah bagian dari pandangan manusia, karena manusia secara alamiah adalah makhluk yang mentransendenkan, melalui nalar dan ini hanyalah batas manusia.           

Kehidupan yang menyenangkan, Plato menegaskan, adalah kesenangan yang diberkahi. Dia tidak menjadi terbaik jika hanya menyenangkan saja, dia menjadi terbaik apabila dapat terpisah dari kesenangannya. Betapa menyenangkannya apabila kita meraih yang terbaik dengan kesenangan semacam ini. (*)

*) Penulis adalah pengajar filsafat di Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Universitas Negeri Padang.


[1] Martha C. Nussbaum, The Fragility of Goodness; Luck and Ethics in Greek Tragedy and Philosophy, Cambridge University Press, UK,1986,  hal. xiii

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending