Connect with us

Cerpen

Albert Camus: Antara  Ya dan Tidak

mm

Published

on

BILA benar satu-satunya surga adalah yang telah hilang itu, aku tahu apa nama sesuatu yang lembut dan tak berbelas yang menyelinap ke dalam diriku hari ini. Seorang emigran kembali ke tanah asalnya. Dan aku ingat, Ironi, geram , semua bisu, dan disinilah aku dipulangkan. Aku tak hendak mempertimbangkan kebahagiaanku. Banyak hal yang lebih sederhana dan mudah daripada itu. Sebab dalam jam-jam ketika kugali kenangan dari dasar kealpaan, maka muncul kenangan dari emosi yang murni, yang suatu ketika tergantung di keabadian. Itu saja yang benar bagiku dan aku selalu terlambat menjalani itu. Kita bersuka dalam getar gerak-tangan yang diam, dalam kesantunan sebatang pohon dalam satu panorama. Dan semua yang kita miliki untuk menciptakan kembali cinta adalah suatu detail, tetapi detail yang tidak sempurna: bau suatu kamar yang sudah lama tertutup rapat atau langkah-langkah ganjil di jalanan. Dan bila aku mencintai pada waktu itu, maka aku hanya mencintai diriku sendiri, karena cinta memulihkan kita kapada diri kembali.

Lambat, tenang, dan lamban jam-jam itu kembali hanya bagai gerak—karena saat itu senja, jam itu sedih dan langit tak berbintang; semacam kerinduan yang samar. Setiap gerak-tangan yang tertangkap kembali berkata pada diriku sendiri. Sekali seseorang berkata, “Begitu sulit hidup ini.” Aku ingat nada ucapannya itu. Satu kali yang lain seseorang bergumam, “Kesalahan terburuk, bertapapun, adalah membuat orang lain sengsara. “Bila semua telah lewat, rasa haus akan hidup pun padam. Itukah kebahagiaan? Bila kita menoleh ke belakang kenangan-kenangan itu, dan kita selubungi semua itu dengan rasa murung yang sama, maka muncullah kematian bagai dengan yang cepat. Kita mencintai masa lampau kita, kita rasakan kembali kesengsaraan kita dan kita mencintai yang lebih baik dariapda itu. Ya, barangkali itulah kebahagiaan; perasaan cinta akan ketidakbahagiaan kita.

Seperti itu pula senja ini. Di dalam kafe Habsi, di suatu pojok yang paling jauh dari kota, aku tidak ingat akan kebahagiaan yang lalu, tetapi pada suatu perasaan asing. Hari telah malam. Di dinding-dinding, tampak syeik-syeik berserban hijau dikejar singa-singa kuning-kenari, di antara batang-batang palma yang rimbun daunnya. Di sudut kafe, menyala sebuah lampu asetilen dengan cahaya yang gemetar. Penerangan yang sebenarnya adalah tungku keramik di pendiangan, yang nyala cahayanya menjilati tengah ruang itu, dan aku merasakan bayangan yang sebentar-sebentar terlempar ke mukaku. Aku tepat menghadap ke pintu dan teluk. Pemilik kafe yang membungkuk di pojok seperti sedang memperhatikan gelasku yang telah kosong, di dasar mana selalu tercetak uang untuknya. Tak seorang pun di tengah hiruk-pikuk kota, dan lebih ke bawah lagi tampak sinar-sinar lampu di teluk. Kudengar napas Arab itu amat keras, matanya berkilau di kegelapan. Inikah suara laut di kejauhan itu? Menurut perasaanku, bumi seperti sedang menarik napas panjang di depanku dengan irama yang panjang pula, dan menyeretku pada ketidakpedulian dan ketenangan yang tak kunjung mati. Lukisan singa-singa di dinding tampak berombak di antara bayang-bayang merah yang besar, yang dibentuk oleh nyala api di pendiangan. Lampu-lampu menara mulai menyala: hijau, merah lalu putih. Dan napas panjang bumi terus terdengar; semacam lagu rahasia yang lahir dari ketakpedulian itu. Dan di sinilah aku dipulangkan kembali. Aku ingat ada seorang bocah yang hidup di lingkungan yang miskin ini. Alangkah miskin lingkungan dan rumah itu! Rumah itu hanya berlantai satu dan tak ada lampu di tangga. Dan sekarang, bertahun-tahun kemudian, ia kembali ke sana di tengah malam ini. Ia tahu, bahwa ia akan menaiki tangga itu secepat-cepatnya tanpa sekalipun luput menginjakkan kakinya. Tubuhnya sudah sangat lekat dengan rumah itu. Tangannya masih mengenali susuran-tangga, sungguhpun selalu ada kengerian yang tak pernah bisa diatasinya, dan itu karena lipas yang biasa merayap di pegangan susuran-tangga itu.

PADA sore hari di musim panas laki-laki pekerja kebanyakan duduk di tingkat atas. Di rumahnya hanya ada sebuah jendela kecil. Demikianlah, maka mereka biasa mengangkat kursi ke depan rumah dan menikmati senja di sana. Ada sebuah jalan di depan rumahnya, tukang susu tinggal di sebelah dan di seberang jalan ada kafe-kafe dan suara anak-anak riuh berlarian dari pintu ke pintu.

Tetapi di atas semua ini, di antara batang-batang pohon ficus, adalah langit. Ada ketenangan di lorong yang melarat itu, teapi suatu ketenangan yang mengangkat seluruh nilai ke harkat yang sebenarnya. Pada tingkat perasaan tertentu, langit itu sendiri dan malam yang berbintang adalah kekayaan yang fitri. Tetapi, pada pertimbangan ini, langit merebut kembali artinya yang penuh: keindahan yang tak tertara.

Malam-malam musim panas adalah misteri-misteri yang sarat dengan beban bintang-bintang. Di belakang punggung bocah itu ada jalan ke ruang rumahnya yang berbau apak dan ke kursinya yang kecil, yang didudukinya seperti terpaku di tanah. Tetapi matanya menatap ke atas dan ia seperti tenggelam dalam malam yang bening itu. Sekali-kali melintas kereta lori dengan cepat. Seorang pemabuk bernyanyi sempoyongan di sudut jalan, tanpa menyadari bahwa ia merusak kehendingan malam.

                Ibu bocah itu selalu diam. Sering orang menanyainya, “Apa yang sedang kaupikirkan?” Dan jawabnya selalu, “Tidak ada.” Itu memang  benar. Segalanya ada di sana, maka tiada. Hidupnya, apa-apa yang menjadi perhatiannya, anak-anaknya, semuanya disana; terlalu fitri untuk dirasa.

Dia lemah dan sulit berpikir. Ibunya yang culas dan menguasainya sudah lama mengatasi jiwanya yang lemah. Sungguhpun ia kemudian diselematkan oleh perekawinannya, toh ia mesti pulang ke ibunya lagi sesudah suaminya meninggal. Bintang eroix de guerre untuk suaminya, yang biasa disebut orang “gugur sebagai bunga banngsa”, terpasang di suatu tempat di dinding; sebuah medali berbingkai yang disepuh emas.

Perempuan janda itu juga menerima kiriman pecahan granat yang ditemukan di luka suaminya. Janda itu menyimpannya dengan patuh dan penuh kasih. Dukacitanya adalah sesuatu yang telah lampau. Ia sudah melupakan suaminya, tetapi masih selalu bicara tentang ayah anak-anaknya. Ia bekerja sekadar untuk anak-anaknya, dan memberikan uang hasil kerjanya pada ibunya. Sedang ibunya mendidik anak-anak itu dengan cambuk di tangan. Bila ibunya memukul mereka terlalu keras, perempuan janda itu berkata, “Jangan memukul di kepala.” Karena  anak-anak itu ia yang melahirkan, dan ia sayang pada mereka. Ia mencitai anak-anak itu dengan cinta kasih yang tak pernah diucapkan. Pada malam-malam seperti yang dihadapinya sekarang, bocah itu ingat, perempuan yang sudah menjada itu pulang dari kerjanya yang berat (ia menjadi tukang membersihkan rumah), dan akan ditemukannya rumah itu kosong. Ibunya, si pemegang cambuk, tentu sedang keluar berbelanja dan anak-anaknya masih sekolah. Lalu ia akan duduk terbenam dan bungkam di atas kursi dengan mata terus menatap kosong ke suatu celah di lantai. Malam akan semakin larut di sekitarnya, dan di tengah kegelapan, kebisuan semacam itu seolah sesuatu yang sakral; yang tak tertahankan. Bila si bocah masuk pada saat itu, maka akan gemetarlah pundaknya dan si bocang berhenti; ia takut.

Ia mulai merasakan berbagai hal. Ia mulai menyadari kehadiran dirinya. Tetapi ia seperti ditikam untuk menangis dalam kekelaman itu; kekelaman yang seperti meradang. Ia kasihan pada ibunya. Apakah itu berarti ia mencintai ibunya? Ibunya tak pernah membela atau mengusapnya, karena tak tahu untuk apa.

Lalu si bocah akan diam berdiri di sana tanpa bergerak sedikit pun; memperhatikan ibunya. Bila sesuatu yang ganjil telah mencekamnya, maka si bocah akan measakan pedih luka di dalam dirinya. Ibunya tak akan mendengarnya karena letihnya. Si perempuan tua pemegang cambuk itu akan pulang sebentar kemudian; hidup akan kembali normal—menyalakan lampu kerosen dengan cahaya yang gemetar, lampu minyak tanah, teriakan-teriakan dan kata-kata jorok. Tetapi sejenak keheningan tadi masih mencercahkan suatu titik henti; suatu saat yang tak tergapai. Sebab ia telah merasakannya. Ia mengira bahwa muntahan rasa yang berguncang dalam dirinya itu adalah cinta terhadap ibunya. Dan ia memang patut mencitainya, karena biar bagaimana, itu adalah ibunya.

Perempuan itu tidak memikirkan apa-apa. Di luar ada cahaya dan suara hirup-pikuk; di sini keheningan malam. Bocah itu akan menjadi besar, dan ia akan belajar. Mereka membesarkannya dan mereka mengharapkan terima kasihnya, karena mereka sudah menderita untuknya. Ibunya akan selalu berada dalam pesona keheningan itu. Dan ia akan tumbuh dalam penderitaan. Jadilah laki-laki; itu saja yang masuk hitungan. Neneknya akan mati, lalu ibunya, dan ia sendiri.

Perempuan janda itu lalu terloncat dari kursi karena ketakutan. Si bocah kelihatan tolol menatap ibunya seperti itu. Biarkan ia menggarap rumahnya. Si bocah sudah menggarap pekerjaan rumahnya. Hari ini di kafe yang kumal. Ia sekarang laki-laki. Bukankah itu yang masuk hitungan? Jawabnya mesti tidak, karena menggarap pekerjaan rumah dan setuju menjadi laki-laki adalah untuk menjadi tua.

ARAB itu nongkrong saja di pojok dengan melipat kaki dan tangannya berpeluk pada lutut. Dari teras mengambang bau kopi yang menyodok hidup bersama senda-gurau yang meriah dari orang-orang muda. Motor bot terdengar lagi di kejauhan, dalam dan lembut. Bumi damai di sini, seperti biasanya tiap hari. Betapa tahan dan tetap tak berubahnya perangai ibu yang ganjil itu! Hanya kedamaian bumi yang dapat berkata padanya apa itu sebenarnya. Suatu malam, anaknya—yang sudah dewasa—dipanggilnya. Ia telah mengalami guncangan yang menyebabkan datangnya gangguan pikiran yang berat. Perempuan itu biasa duduk-duduk di tingkat atas waktu sore dan malam hari. Lalu matanya akan mengikuti orang-orang yang lalu-lalang. Di belakang punggungnya, malam semakin larut. Di depannya, toko-toko akan segera menyalakan lampu-lampu. Jalanan akan dipenuhi orang-orang yang lewat dan cahaya lampu.

Ia lalu akan hilang-diri dalam renungan tanpa tujuan itu. Pada  malam yang masih diragukan itu datang seorang lelaki dengan tiba-tiba dan menyeretnya, lalu melakukannya dengan kasar dan kemudian lari  karena terdengar suara-suara ribut. Perempuan itu tak melihat apa-apa lagi, lalu jatuh pingsan. Ia memutuskan, atas nasihat dokter, untuk menemani ibunya  di kamarnya. Ia merentangkan tubuhnya di sebelah ibunya dengan selimut di atasnya.

Waktu itu musim panas. Ketakutan yang ditimbulkan kejadian tadi lama menempel di kamar yang terlalu pengap itu. Langkah-langkah kaki berderap, detap daun pintu dibuka dan ditutup; bergerit-gerit. Di udara, mengambang bau masam minuman yang biasa ditaruh di kamar orang sakit. Perempuan itu membolak-balik dalam tidurnya, mengerang dan kadang-kadang terbangun karena terkejut. Ia berulang kali membangunkannya dari tidur yang gelisah, dan biasanya ia sendiri yang kemudian mandi peluh. Dan sesudah terjaga, perempuan itu akan jatuh tidur setelah bolak-balik melihat arloji tangannya dan nyala lampu yang menari ke sana-kemari. Dan ia merasa, betapa sendirinya mereka pada malam yang begitu sunyi. Sendiri sama sekali. Orang-orang lain tidur nyenyak, sementara mereka berdua terserang demam. Semua yang ada dalam rumah tua itu kosong rasanya. Bila kereta lori tengah malam melintas, seperti makin pupuslah harapan mereka; harapan yang berupa kepastian-kepastian dari suara hiruk-pikuk kota.

Yang terdengar hanya gemanya di rumah itu; itu pun hanya sebentar saja. Dan yang tertinggal adalah taman kesunyian yang besar, di mana mereka dikejutkan oleh momok-momok bercacat yang mengerang. Ia tak pernah merasakan kehilangan seperti itu. Bumi luruh dan bersamanya ilusi hidup menjadi baru setiap hari. Tak ada yang masuk hitungan lagi; tidak juga studi atau ambisinya. Pesan tempat di restoran, atau warna-warna pilihan. Tak satu pun selain rasa sakit dan kematian, di mana ia sendiri merasa terbenam….. Namun, pada jam-jam ketika bumi seperti terpecah-pecah itu, ia hidup. Dan akhirnya ia tertidur juga. Tetapi bukan tanpa membawa beban harapan yang hilang. Lama kemudian, ia diingatkan oleh masam-anggur yang bercampur keringat itu, ketika ia sudah merasakan hubungan yang mempertautkan dirinya dengan ibunya. Dan itu dirasakannya sebagai kelembutan kasih ibunya yang tertebar di sekelilingnya, yang melambung-lambung dengan tulus—peran seorang perempuan yang malang dengan nasib yang rawan.

SEKARANG nyala api di pendiangan sudah ditutupi abu. Dan terus saja terdengar napas-panjang bumi. Gelak seorang lelaki mengalir dan suara perempuan riang mengikutinya. Cahaya-cahaya bergerak bersembulan di teluk; barangkali kapal-kapal nelayan kembali ke pelabuhan. Langit segitiga yang tampak di depanku bebas dari awan. Langit ditebari bintang-bintang dan gemetar bila dilintasi hembusan angin, sayap beludru malam membelai sekelilingku dengan lembut. Masih berapa jauh malam ini; malam yang bukan milikku lagi? Ada sesuatu yang berbahaya dari kata kesederhanaan. Dan malam ini aku mengerti, bahwa seseorang bisa ingin mati karena—sesuai dengan kehidupan yang jernih—tak ada satu pun lagi yang penting. Seseorang menderita dan menemui kemalangan seperti juga orang lain. Ia akan memperpanjang kemalangan dan penderitaannya kalau selalu mencoba mengukuhkan nasibnya. Bijaksana ia. Dan kemudian, suatu malam ia bertemu seorang teman yang disukainya. Teman ini bicara padanya dengan gaya seenaknya. Bila ia pulang, lelaki itu akan bunuh diri. Orang lalu bicara tentang kesukaran-kesukaran pribadi dan gejolak-gejolak yang tersembunyi. Tidak! Bila toh mesti ada suatu sebab, ia bunuh diri karena seorang teman bicara padanya dengan seenaknya. Demikianlah, rasanya aku selalu menemukan arti yang lebih dalam dari dunia ini; kesederhanaan yang selalu meluruhkanku. Ibuku pada malam itu dan kesengsaraannya. Suatu kali lain aku tinggal di sebuah gubuk di luar kota, dengan seekor anjing, dua ekor kucing dan anak-anaknya, semuanya berbulu hitam. Induknya tak bisa merawat  anak-anak itu. Seekor demi seekor anak-anak kucing itu mati. Dan kamar mereka akan dipenuhi dengan kotoran mereka. Dan tiap malam, bila aku pulang, kutemui seekor demi seekor anak-anak kucing itu telah kaku, dengan bibir mereka yang terlipat.

Suatu malam, kutemukan anak kucing yang terakhir tengah dimakan induknya. Bangkainya sudah mulai berbau. Bau kematian bercampur air  kencing. Aku duduk di tengah segala keruntuhan itu, dan dengan tanganku kutikamkan pisau ke dalam kotoran itu dan napasku lalu dipenuhi oleh bau anyirnya. Aku menatap nyala liar yang memancar dari mata hijau kucing betina itu, yang meregangkan tubuhnya di pojok tanpa bergerak-gerak. Ya. Tepat seperti itu pula malam ini.

                Pada titik tertentu dari kevakuman ini, tak satu pun yang menuntun pada yang lain; seperti tak berdasar rasanya orang berharap atau memburu harapan, dan seluruh hidupku hanya tersimpul pada suatu bentuk yang semu. Tetapi kenapa berhenti disana?

Sederhana, segalanya sederhana; di mercusuar itu ada lampu hijau, merah, dan putih—di tengah dingin dan bau kota serta rasa malas yang bangkit di dalam diriku.

Bila malam ini ada gambaran masa kanak-kanak yang kembali padaku, bagaimana aku bsia menolak pelajaran cinta dan kekayaan yang kulukis daripadanya? Karena saat ini adalah bagai sesuatu antara ya dan tidak. Kutinggalkan saat-saat yang lain untuk harapan dan kemudian untuk hidup. Ya, untuk mencari kemurnian dan kesederhanaan surga yang hilang itu—dalam bentuk yang semu. Dengan demikian belum lama berselang, di sebuah rumah di lingkungan tua itu, seorang anak menjenguk ibunya. Mereka duduk berhadapan; diam saja. Tetapi mata mereka bertemu.

“Jadi, bagaimana, Bu?’

“Ya, baik-baik saja.”

“Bosankah Ibu? Apakah aku tak cukup bicara?”

“Oh, kau tak pernah banyak bicara.”

Dan senyum yang masih meleleh di muka perempuan itu. Memang, ia tak pernah bicara dengan ibunya banyak-banyak. Tetapi sebenarnya, apa pula gunanya? Melalui keheningan, suasana menjadi tenang. Ia anaknya dan dia ibunya. Perempuan itu biasa berkata, “Kau tahu.”

Perempuan itu duduk di kaki sofa; kedua tangannya memeluk lutut. Ia duduk di kursi, hampir tidak melihatnya. Juga setiap kali menyambung rokoknya yang memendek. Lalu senyap.

“Mestinya kau tak usah banyak merokok.”

“Benar.”

Bau seluruh lingkungan itu masuk lewat jendela. Akordion di kafe di dekat situ, kendaraan malam yang berat, bau daging asap yang disusul oleh tangis seorang bocah di jalanan ….. Ibu itu bangkit dan mengambil sulaman.

Jari-jarinya kaku dan bengkok-bengkok karena penyakit. Ia tak dapat bekerja dengan cepat.

“Ini sweater kecil. Akan kupakai dengan leher baju putih. Dengan baju hitam ini, cukup pakaianku untuk musim ini.”

Ia bangkit mengambil pelita dan menyalakannya.

“Pada hari-hari terakhir ini, langit cepat menjadi gelap.”

“Memang. Karena sudah bukan  musim panas lagi. Musim dingin juga belum datang. Kau akan kembali lagi kemari?”

“Tetapi aku belum pergi, Bu. Kenapa Ibu berkata begitu?”

“Tidak, hanya sekadar bertanya saja.”

Sebuah kereta lori lewat. Lalu mobil.

“Benarkah aku mirip ayahku?”

“Benar. Tentu saja kau tak mengenalnya. Kau baru berumur enam bulan ketika ia meninggal. Tapi bila kau berkumis kecil ……”

Perempuan itu bicara tentang ayahnya tanpa mengadili atau menghukum. Tanpa kenangan dan emosi. Barangkali ayahnya dirasakannya seperti lelaki-lelaki yang lain. Apalagi ayahnya pergi begitu “formal”; gugur dan mayatnya ditanam di makam pahlawan dan namanya dicantumkan di tugu peringatan.

“Biar bagaimanapun,” kata perempuan itu, “lebih baik begitu. Kalau tidak meninggal, ia akan buta atau gila. Bukankah lebih celaka lagi?”

“Benar.”

Apa pula yang menahannya di kamar itu, kalau bukan kepastian bahwa di situ selalu lebih baik; bahwa kesederhanaan yang absurd dan menyeluruh dari dunia ini telah singgah di kamar itu?

“Kau akan kembali?” tanya perempuan itu. “Aku tahu, kau mesti bekerja. Tapi lama-kelamaan …..”

TETAPI sekarang di mana aku? Dan betapa aku memisahkan kafe kosong ini dari kamar masa lalu itu? Aku tak tahu, apakah aku mengalami semua ini atau hanya membayangkannya saja. Mercusuar masih tegak di sana. Dan Arab itu bangkit dan memberitahu bahwa kafenya sudah mau tutup. Aku mesti pergi. Aku tak ingin lagi kembali ke lingkungan kumal dan berbahaya ini. Benar bahwa aku melihat teluk dan mercusuar untuk terakhir kalinya, dan yang bangkit di dalam diriku bukan lagi harapan akan hari-hari yang lebih baik, tetapi kesan yang tak berubah terahdap semuanya dan diriku sendiri. Ya, semuanya sederhana saja. Manusia yang menjadikan semua ini ruwet. Bukan sebaliknya.

Jangan biarkan mereka berkata pada kita tentang laki-laki yang dijatuhi hukuman mati dan bahwa “ia akan membayar utangnya pada masyarakat”; lebih baik katakan bahwa “ia akan memotogn kepalanya sendiri”. Tampaknya hampir sama, tetapi toh sedikit berbeda.

Dan masih ada orang-orang yang lebih suka melihat nasib mereka di dalam matanya. (*)

(Penerjemah: W. Respati)

————————————–

ALBERT CAMUS, (Nobel Prize for Literature 1957)

Lahir di Mondovi, Aljazair tahun 1913 dan meninggal tahun 1960 di Sens, Prancis. Camus dikenal sebagai salah satu tokoh filsafat eksistensialisme. Bersama Jean-Paul Sartre dan Andre Malraux, ia bahkan disebut-sebut sebagai salah satu dari tritunggal eksistensialis Prancis, yang banyak mengungkap pemikiran tentang eksistensi manusia yang terkenal absurd. Ia terutama membedah dilema pokok manusia modern dalam karya-karyanya, serta penjelasan tentang keberadaan manusia yang tak dapat dipahami dan tanpa tujuan.

Karya-karya Camus meliputi 4 buah novel, di antaranya L’Etranger (1942), Le Peste (1947), dan La Chute (1956); sebuah kumpulan cerita pendek L’Exile et le royaume (1957); sejumlah esai, antara lain L’Envers et l’endroit (1937), Noces (1938), Le Mythe de Sisyphe (1943), dan L’Homme revolte (1951); serta 4 buah drama. Seluruhnya adalah karya-karya terbaik pada zamannya, sehingga Camus dianggap sebagai salah satu pemikir yang paling berpengaruh pada pertengahan abad ke-20.

Dalam keterangan pers-nya, Akademi Swedia menganugerahkan Hadiah Nobel untuk Kesusastraan pada Camus sebagai pengakuan: …”untuk karya sastranya yang penting, yang dengan kesungguhan mengungkap dengan jernih masalah-masalah hati nurani  manusia pada zaman kita sekarang …”

Camus adalah sastrawan kesembilan Prancis (setelah Sully Prudhomme tahun 1901, Frederic Mistral ahun 1904, Romain Rolland tahun 1915, Anatole France tahun 1921, Henry Bergson tahun 1928, Martin du Gard tahun 1937, Andre Gide tahun 1947, dan Francois Mauriac tahun 1952) yang memperoleh penghargaan tersebut. (*)

 

Cerpen

Gabriel Garcia Marquez: Monolog Isabel Memandangi Hujan di Macondo

mm

Published

on

Gabriel Garcia Marquez*

Musim dingin jatuh pada suatu Minggu saat orang keluar dari gereja. Sabtu malam udara sudah terasa menyesakkan. Namun, hingga Minggu pagi tak seorang pun menduga akan turun hujan. Seusai misa, sebelum kami kaum wanita sempat menemukan gagang payung kami, angin tebal gelap berhembus dengan pusaran luas menyapu debu dan sampah berat bulan Mei. Seseorang di sebelahku berucap: “Ini angin basah.” Dan itu sudah kuketahui sebelum terjadi. Saat kami berjalan keluar, di tangga gereja kurasakan mual menggoncang perutku. Para pria berlarian ke perumahan terdekat dengan satu tangan memegang topi dan tangan lainnya memegang sapu tangan, berlindung diri dari debu dan angin. Lalu hujan turun. Dan langit bagaikan zat kental kelabu yang mengepakkan sayap-sayapnya setengah depa di atas kepala kami.


One Hundred Years of Solitude mengisahkan tentang naik turunnya, kelahiran dan kematian kota mitos Macondo melalui sejarah keluarga Buend. Penuh dengan kehidupan, menghibur, magnetis, sedih, dan berkisah tentang hidup pria dan perempuan yang tak terlupakan—penuh dengan kebenaran, kasih sayang, dan sihir liris yang menyerang jiwa—novel ini adalah mahakarya seni fiksi.

Sepanjang sisa pagi itu aku dan ibu tiriku duduk dekat pagar, merasakan bahagia bahwa hujan akan menyegarkan lagi kuntum-kuntum rosemary dan nard yang dahaga di pot-pot bunga, setelah tujuh bulan menjalani musim terik dan debu membakar. Pada tengah hari gaung bumi berhenti dan aroma tanah yang berganti, tetumbuhan yang bangkit dan hidup kembali, bergabung dengan hawa sejuk dan segar dari hujan yang jatuh di kuntum-kuntum rosemary. Sewaktu makan siang ayahku berkata: “Hujan di bulan Mei adalah suatu pertanda akan datang masa yang baik.” Sambil tersenyum, dilintasi berkas cahaya musim baru, ibu tiriku berkata padaku: “Itulah yang kudengar dalam khotbah.” Dan ayahku tersenyum. Ia makan dengan lahap dan mengunyah makanan perlahan-lahan di samping pagar, diam, mata terpejam, namun bukan tidur, seakan ia membayangkan sedang bermimpi saat jaga. Hujan turun sepanjang sore dalam nada tunggal. Engkau dapat mendengar air jatuh dalam kekerapan yang seragam dan damai, seperti yang dapat engkau dengar saat engkau bepergian sore hari dengan kereta api. Namun, tanpa kami perhatikan, hujan merasuk terlampau jauh ke dalam perasaan kami. Senin dini hari, ketika kami menutup pintu untuk menghindari angin dingin menusuk yang berhembus dari halaman, perasaan kami sudah dipenuhi hujan. Dan Senin pagi air sudah meluap. Aku dan ibu tiriku menuju belakang rumah untuk melihat taman. Tanah kasar bulan Mei yang kelabu telah berubah dalam semalam menjadi zat hitam becek seperti sabun murahan. Tetesan air mulai meninggalkan pot-pot bunga. “Kukira pot-pot bunga itu telah mendapat air lebih dari cukup sepanjang malam,” gumam ibu tiriku. Dan kuperhatikan senyumnya sirna dan kesenangannya di hari sebelumnya telah berubah malam itu menjadi keseriusan yang memelas dan menjemukan. “Kukira engkau benar,” kataku. “Lebih baik menyuruh orang-orang Indian itu menaruh pot-pot itu di beranda sampai hujan berhenti.” Dan itulah yang mereka lakukan, ketika hujan menderas seperti pohon raksasa di atas pepohonan lainnya. Ayahku memandangi tempat ia berada pada Minggu sore, namun ia tak bicara soal hujan. Ia berkata: “Tadi malam aku pasti tak nyenyak tidur sebab aku bangun dengan punggung terasa pegal.” Dan ia ada di sana, duduk di samping pagar dengan kaki di atas kursi dan kepala menghadap ke taman yang kosong. Baru pada petang hari, setelah ia menolak makan siang ia berucap: “Kelihatannya langit takkan pernah cerah lagi.” Dan aku ingat bulan-bulan yang panas. Aku teringat bulan Agustus, tidur siang yang panjang dan gundah di mana kami merebahkan tubuh untuk mati di bawah beratnya hawa panas, pakaian lengket ke tubuh, mendengar hiruk-pikuk di luar yang terus-menerus dan dungu dari waktu yang tak pernah berlalu. Kulihat dinding-dinding basah kuyup, sambungan-sambungan balok memuai oleh air. Aku melihat ke taman kecil, kosong mula-mula, dan rumpun melati pada dinding, yang setia pada kenangan akan ibuku. Kulihat ayahku duduk di kursi goyang, punggung sakitnya bersandar pada sebuah bantal, dan mata dukanya tersesat ke dalam labirin hujan. Aku teringat malam-malam bulan Agustus, keheningannya yang menakjubkan, tak sesuatu pun terdengar selain suara ribuan tahun bumi, yang berputar pada porosnya yang berkarat dan tak berpelumas. Tiba-tiba aku merasa dicengkam nestapa tak terperi.

Hujan turun sepanjang Senin, sebagaimana hari Minggu. Tapi, kini seakan hujan turun dengan cara lain, sebab sesuatu yang berbeda dan getir terjadi dalam hatiku. Pada petang hari sehembus suara di samping kursiku berkata: “Hujan ini sungguh menjemukan.” Tanpa menoleh, kukenali suara Martin. Aku tahu ia berkata di kursi sebelah, dengan ungkapan dingin yang sama dan menggiriskan yang belum berubah, bahkan belum berubah sejak fajar Desember yang muram, saat ia mulai menjadi suamiku. Lima bulan telah berlalu semenjak itu. Kini aku akan mempunyai seorang anak. Dan Martin di situ, di sampingku, berkata bahwa hujan membuatnya jemu. “Bukan menjemukan,” kataku. “Bagiku terasa menyedihkan, melihat taman yang kosong dan pohon-pohon ranggas yang tak bisa berlindung dari hujan.” Lalu aku menoleh ke arahnya dan Martin tak lagi di sana. Hanya sebersit suara berkata padaku: “Tampaknya takkan pernah cerah lagi,” dan ketika kutoleh ke arah suara itu hanya kudapati kursi kosong.


No One Writes to the Colonel
Ditulis dengan realisme dan kecerdasan welas asih, kisah-kisah dalam koleksi yang memikat ini menggambarkan perbedaan kehidupan kota dan desa di Amerika Selatan, tentang kenangan dan ilusi akan ruang antara yang sangat miskin dan terlampau kaya, serta peluang yang hilang dan kegembiraan saat ini. Jumat selalu berbeda. Setiap hari dalam seminggu, Kolonel dan istrinya yang sakit berjuang terus-menerus melawan kemiskinan dan kehidupan yang monoton,  mereka mengumpulkan sisa-sisa tabungan mereka untuk makanan dan obat-obatan yang membuat mereka tetap hidup. Tetapi pada hari Jumat, tukang pos datang – dan itu memberi gelombang harapan yang sekilas mengalir melalui hati Kolonel yang menua.

Selasa pagi kami temukan seekor lembu di taman. Tampak bagai sebongkah lempung dari tanah semenanjung dalam kekerasan dan kelembamannya yang meronta. Kukunya membenam ke dalam lumpur dan kepalanya merunduk. Sepanjang pagi itu orang-orang Indian berusaha mengusirnya dengan tongkat dan batu. Namun, ia tetap bertahan di sana, tak terusik di tengah taman, keras, tak tergugat, kukunya masih membenam di lumpur dan kepalanya yang besar seakan dipermalukan oleh hujan. Orang-orang Indian itu mengusiknya hingga kesabaran ayahku menyuntuk batas. “Tinggalkan saja,” katanya. “Ia akan pergi sebagaimana ia datang.”

Saat matahari tenggelam di hari Selasa, air terasa menegang dan melukai, seperti selembar kafan di atas hati. Kesejukan awal pagi mulai berubah menjadi kelembaban yang panas dan lengket. Suhu tidak panas atau dingin; suhu panas-dingin. Kaki berkeringat di dalam sepatu. Sulit untuk mengatakan mana yang lebih menggeresahkan, kulit telanjang atau baju yang lekat pada kulit. Di rumah semua kegiatan sudah berhenti. Kami duduk di beranda, namun kami tak lagi memperhatikan hujan seperti pada hari pertama. Kami tak lagi merasakan hujan turun. Kami tak melihat apa pun selain sketsa pepohonan di tengah kabut, dengan sebuah mentari terbenam yang murung dan terasing yang meninggalkan di bibirmu rasa seperti ketika engkau terbangun dari sebuah mimpi tentang orang asing. Aku tahu waktu itu Selasa, dan aku ingat si kembar asuhan Santo Jerome, dua gadis buta yang datang ke rumah tiap pekan dan menyanyikan untuk kami lagu-lagu sederhana. Aku tergetar oleh kegetiran dan keagungan yang rawan dari suara mereka. Di atas hujan kudengar nyanyian kecil si kembar buta, dan aku membayangkan mereka berada di rumah, berkumpul, menunggu hujan reda hingga mereka bisa pergi dan bernyanyi. Kukira si kembar Santo Jerome tak bisa datang hari itu. Juga perempuan pengemis yang datang tiap Selasa takkan berada di beranda usai waktu tidur siang untuk meminta cabang baka jeruk balsam.

Hari itu kami kehilangan selera makan. Pada jam tidur siang ibu tiriku menghidangkan sepiring sup hambar dan sepotong roti basi. Meski sebenarnya kami belum makan sejak terbenam matahari pada hari Senin, dan kukira sejak itu kami berhenti berpikir. Kami lunglai, terbius hujan, menyerah pada amuk alam dengan sikap pasrah dan damai. Hanya lembu itu yang bergerak di sore hari. Tiba-tiba semacam suara garau menggoncang jeroannya, dan kuku-kukunya menghunjam ke lumpur dengan tenaga lebih dahsyat. Lalu ia diam berdiri selama setengah jam, seakan sudah mati, tapi tak terjerembab sebab kebiasaan untuk bertahan hidup mencegahnya, kebiasaan untuk bertahan dalam satu posisi di tengah hujan, sampai kebiasaan itu menjadi lebih lemah ketimbang berat tubuhnya. Lalu ia menggandakan tenaga pada kaki depannya (pangkal pahanya yang hitam dan berkilap masih tegak dalam upaya terakhir yang sangat menyiksa) dan moncongnya yang berliur menyungkur ke dalam lumpur. Dan akhirnya ia menyerah pada berat tubuhnya sendiri, dalam sebuah upacara maut yang sunyi, bertahap, dan bermartabat. “Ia telah berusaha sampai sejauh itu,” seseorang berucap di belakangku. Dan aku berpaling untuk melihat: di ambang pintu masuk kulihat perempuan pengemis hari Selasa telah datang menerobos badai untuk meminta cabang jeruk balsam.

Mestinya pada hari Rabu aku sudah terbiasa dengan suasana mengharu biru itu seandainya di ruang tamu tak kujumpai meja yang dipepetkan ke tembok, dengan perabotan bertumpuk di atasnya, dan pada bagian lain, di atas dinding pembendung yang dibuat sepanjang malam, teronggok kopor dan kotak perkakas rumah tangga. Pemandangan itu menghadirkan di hatiku perasaan kosong yang memiriskan. Sesuatu telah terjadi sepanjang malam itu. Rumah berantakan; orang-orang Indian Guajiro, tak berbaju dan telanjang kaki, celana digulung hingga lutut, mengangkati perabotan ke ruang makan. Pada air muka mereka, pada kerapian kerja mereka, orang dapat melihat kebengisan pemberontakan mereka yang sia-sia, dari kenistaan yang niscaya dan memalukan di tengah hujan itu. Aku bergerak tanpa tujuan, tanpa kemauan. Aku merasa bagaikan sehamparan padang rumput terpencil bersemai ganggang dan lelumutan, dengan jamur payung yang lembut, lengket, dan subur oleh tetumbuhan menjijikkan yang muncul dari kelembaban dan kegelapan. Di ruang tamu aku sedang merenungi pemandangan gurun perabotan rumah yang berantakan ketika kudengar suara ibu tiriku mengingatkanku dari kamarnya bahwa aku bisa terserang radang paru-paru. Saat itu barulah kusadari bahwa air telah naik ke mata kakiku, bahwa rumah kebanjiran, lantai tertutup tebal permukaan air pekat yang menggenang.

Rabu tengah hari, fajar belum berlalu. Dan sebelum pukul tiga sore, malam telah hadir sempurna, mendahului waktu dan kuyu, dengan kelambanan yang sama, menjemukan, diiringi irama bengis hujan di halaman. Sebentang petang yang hadir sebelum waktunya, lembut dan murung, hadir di tengah kesunyian orang-orang Guajiro, yang berjongkok di atas kursi-kursi menghadap tembok, kalah dan tak berdaya melawan amuk alam. Itulah yang terjadi saat berita mulai tiba dari luar. Tak seorang pun membawanya ke rumah ini. Tiba begitu saja, tepat, sendiri, seolah dihanyutkan oleh lempung cair yang menyusuri jalan-jalan dan menyeret segala perkakas rumah tangga bersamanya, benda-benda dan kian banyak benda, sisa-sisa dari sebuah bencana yang jauh, sampah dan bangkai binatang. Berita tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi pada hari Minggu, ketika hujan masih dianggap sebagai pertanda musim keberuntungan, perlu dua hari untuk sampai di rumah kami. Dan hari Rabu berita itu tiba, seakan didorong oleh tenaga inti badai itu. Kemudian terkabar bahwa gereja terlanda banjir dan diperkirakan runtuh. Seseorang yang tak berkepentingan untuk mengetahui berkata malam itu: “Kereta api tak bisa melewati jembatan sejak Senin. Tampaknya sungai itu menghanyutkan rel.” Dan terdengar berita bahwa seorang wanita yang sedang sakit hilang dari ranjangnya, dan sore harinya ditemukan terapung di halaman.

Terbelit rasa ngeri, yang muncul dari jeri dan air bah, aku duduk di kursi goyang dengan kaki terlipat dan mata terpaku pada gelap kabut yang penuh isyarat suram. Ibu tiriku muncul di ambang pintu dengan lampu diangkat tinggi dan kepala tegak. Ia tampak seperti hantu penghuni rumah yang sama sekali tak membuatku takut sebab aku pun merasa gaib seperti dirinya. Ia berjalan menghampiriku. Kepalanya masih tegak dengan lampu menggantung di udara; dan ia mencipratkan air ke beranda. “Sekarang kita harus berdoa,” katanya. Dan kuperhatikan wajahnya yang kering dan keriput, seakan baru bangkit dari kubur atau seakan ia tercipta dari zat yang berbeda dengan tubuh manusia. Ia di seberangku dengan rosario di tangannya, berkata: “Sekarang kita harus berdoa. Air bah telah membongkari kuburan dan mayat-mayat malang kini mengapung di atasnya.”

Aku mungkin baru sebentar tidur malam itu ketika hawa anyir seperti bau bangkai menyentakku bangun. Kugoncang tubuh Martin yang mendengkur di sampingku. “Tidakkah kau rasakan?” tanyaku padanya. Dan ia berucap: “Apa?” Aku berkata: “Bau itu. Pasti mayat-mayat yang mengambang di sepanjang jalan.” Aku giris dengan pikiran itu, tapi Martin hanya memalingkan muka ke dinding dan dengan suara serak setengah tidur ia berkata: “Itu cuma pikiranmu sendiri. Wanita hamil memang selalu membayangkan macam-macam.”

Pada fajar hari Kamis bau itu lenyap, pemahaman tentang jarak sirna. Pengertian tentang waktu, yang mulai kacau sejak hari sebelumnya, telah hilang sama sekali. Lalu hari Kamis itu pun raib. Apa yang mestinya adalah hari Kamis kini menjelma sesuatu yang wadag, bahan lentuk-kenyal yang dapat dipisah-pisah menggunakan tangan demi memunculkan hari Jumat. Tak ada lelaki atau perempuan di sana. Ibu tiriku, ayahku, orang-orang Indian itu adalah tubuh-tubuh gemuk dan ganjil yang bergerak di rawa-rawa musim dingin. Ayahku berkata padaku: “Jangan pergi dari sini sampai kamu diberi tahu apa yang harus dilakukan,” suaranya jauh dan samar, dan seakan bukan untuk dicerap lewat telinga tapi lewat sentuhan, satu-satunya indera yang masih bekerja.


Leaf Storm
‘Tiba-tiba, bak puyuh menerjang di tengah-tengah kota, perusahaan pisang itu tiba, dikejar oleh badai daun’
Dibasahi hujan, kota itu mulai membusuk sejak perusahaan pisang pergi. Penduduknya menjengkelkan dan dingin, sehingga saat dokter itu – orang asing yang berakhir sebagai orag paling dibenci di kota – mati, tak ada seorang pun yang menangisinya. Tapi juga hidup di sana seorang Kolonel, yang terpaksa harus melaksanakan janji yang dibuat bertahun-tahun lalu. Sang Kolonel dan keluarganya harus mengubur dokter itu, kendati harapan para warga tetangganya agar mayat dokter itu terlupakan dan dibiarkan membusuk.

Namun, ayahku tak kembali. Ia tersesat di tengah cuaca. Karenanya saat malam tiba kuminta ibu tiriku menemaniku tidur di ranjang. Aku tidur pulas dan damai, menghabiskan malam itu. Hari berikutnya suasana masih sama, tak berwarna, tak beraroma, dan tanpa panas sedikit pun. Ketika terbangun, segera saja aku melompat ke kursi dan termangu diam di sana, sebab sesuatu mengatakan padaku bahwa masih ada satu wilayah kesadaranku yang belum sepenuhnya terjaga. Lalu kudengar kereta api melengking. Lengkingan panjang dan pilu kereta api yang lolos dari badai. Kukira, di mana-mana cuaca pasti sudah cerah. Dan sekelebat suara di belakangku seperti menjawab pikiranku. “Di mana?” katanya. “Siapa di situ?” aku bertanya sembari mencari-cari. Dan kulihat ibu tiriku dengan lengannya yang kurus panjang pada arah dinding. “Ini aku,” katanya. Dan kubertanya padanya: “Apa engkau dapat mendengarnya?” Dan ia menjawab ya. Mungkin cuaca sudah cerah di daerah pinggiran dan mereka akan memperbaiki rel. Lalu ia menyodoriku sebuah baki dengan sarapan pagi yang masih mengepul. Tercium aroma saus bawang putih dan mentega yang dididihkan. Sepiring sup. Masih nanar, kutanya ibu tiriku sudah jam berapa sekarang. Dan ia, dengan tenang, suara terasa pasrah tanpa daya, berkata: “Mestinya sekitar jam dua lewat tiga puluh. Kereta api toh tidak terlambat setelah semua ini.” Aku berkata: “Dua lewat tiga puluh! Bagaimana aku bisa tidur begitu lama?” Dan katanya: “Kamu tidur belum terlalu lama. Belum lagi lewat jam tiga.” Gemetar, aku merasa piring itu tergelincir dari tanganku. “Dua lewat tiga puluh hari Jumat,” kataku. Dan ia, dengan ketenangan yang menggiriskan: “Dua lewat tiga puluh hari Kamis, nak. Masih dua lewat tiga puluh hari Kamis.”

Aku tak tahu berapa lama aku berjalan-jalan dalam keadaan tidur di mana indera kehilangan nilai. Aku hanya tahu bahwa setelah rentang waktu yang tak terukur itu, terdengar suara di kamar sebelah, berkata: “Sekarang engkau dapat menggulung kasur itu ke sebelah sini.” Sebuah suara yang lelah, tapi bukan suara orang yang sedang sakit, lebih mirip suara orang yang mulai sembuh dari sakitnya. Lalu kudengar kemericik air. Aku masih terbujur kaku sebelum kusadari bahwa aku dalam posisi mendatar. Lalu kurasakan kekosongan yang teramat langut. Kurasakan di rumah ini kesunyian yang rawan dan bengis, kediaman yang menyeramkan, yang memengaruhi segalanya. Dan tiba-tiba kurasakan hatiku berubah menjadi sekepal batu beku. Kukira aku mati. Ya Tuhan, aku mati. Aku melompat ke ranjang. Aku berteriak: “Ada! Ada!” Martin dengan suara garau menjawab dari bagian lain. “Mereka tak dapat mendengarmu. Mereka sudah di luar sekarang.” Baru kusadari kini bahwa cuaca sudah cerah dan di sekitar kami hamparan kesunyian membentang, sehampar ketenangan, kekudusan yang wingit dan dalam, sebentuk suasana yang sempurna, menyerupai kematian. Sesaat terdengar di beranda langkah-langkah kaki. Suara hentakan kaki yang nyata dan hidup. Lalu sehembus angin dingin mengayun daun pintu, gagang pintu berderit, dan sesosok tubuh padat dan besar, senampak buah yang masak, jatuh membenam ke dalam kolam di halaman. Di udara menyeruak sesosok manusia gaib yang tersenyum dalam kegelapan. Ya Tuhan, pikirku, bingung oleh kekacauan waktu. Kini aku takkan terkejut lagi jika mereka datang mengajakku pergi ke Misa Minggu yang lalu.(*)

____

*) Gabriel Garcia Marquez: adalah Penulis peraih Nobel Kesusastraan asal Kolombia. Ia meraih Nobel Kesusastraan pada tahun 1982. Kamis 17 April 2014 ia telah meninggal dunia dalam usia 87 tahun. Karya Marquez yang paling terkenal adalah One Hundred Years of Solitude yang sudah diterjemahkan ke berbagai bahasa di dunia, termasuk Bahasa Indonesia. Novel yang ditulisnya pada tahun 1967 itu sudah terjual lebih dari 30 juta buku di seluruh dunia dan meraih Nobel Kesusastraan pada tahun 1982. Beberapa novel lainnya yang juga mendunia antara lain Love in the Time of Cholera, Chronicle of a Death Foretold, dan The General in His Labyrinth. Gaya bertuturnya yang hidup dengan cerita mencampurkan kenyataan serta gaib menempatkan dia menjadi pelopor aliran sastra yang disebut realisme magis. Dia tinggal di Meksiko selama 30 tahun belakangan sampai wafatnya. Presiden Kolombia, Juan Manuel Santos, menyampaikan penghormatan kepadanya melalui Twitter. “One Hundred Years of Solitude dan kesedihan atas kematian warga agung Kolombia sepanjang masa.”

Continue Reading

Cerpen

Ada Hujan di Balik Pagar

mm

Published

on

Hujan itu ingin masuk ke rumah tetapi tidak bisa. Ia terkunci di luar pagar, sendiri dan kedinginan. 

***

Rumahku berada di salah satu komplek perumahan kelas menengah di Jakarta. Rumah tipe 36 ini terbilang cukup sederhana, berlantai dua. Dari luar, rumah ini terlihat mungil sekali. Ada taman sederhana di halaman depan. Taman itu dipenuhi bunga tapak dara warna-warni. Bunga kembang sepatu juga tampak menyembul di beberapa titik, membuatnya terlihat lebih asri.

Di komplek perumahan kami, hujan sesekali turun. Lucunya, hanya di rumahku hujan itu turun setiap hari. Kadang dia turun selepas matahari terbit, kadang di saat matahari tengah meninggi, kadang setelah langit gelap.

Biar begitu anehnya, aku suka hujan selalu turun di depan rumahku. Aku suka mendengarkan suara rintik-rintiknya. Aku suka melihat air hujan menetes dan meniupkan angin segar. Hal yang paling kusuka dari semua itu adalah aroma tanah yang basah karena air bersih dari langit menerpa tanah yang biasanya kekeringan. Sebuah pernyataan yang begitu klise. Namun, siapa yang  berani mengaku ia tak pernah jatuh cinta pada hujan?

***

Hari ini, tiba-tiba hujan ingin masuk ke rumahku. Ia mulai mendekati pagar dan ingin melewatinya hingga bisa ke dalam rumah. Sayangnya ada pagar itu, yang berdiri kokoh dan teguh. Pagar itu menjadi penghalang yang tidak membiarkan hujan masuk.

Aku keluar dari dalam rumah, menuju pagar dan memandangi hujan itu. Aku memandanginya dari bawah hingga ke atas langit. Betapa kompaknya mereka berkumpul hanya di depan pagarku. Rumah tetanggaku di kanan kiri dan depan belakang, semuanya kering sama sekali.

Seperti orang aneh, aku tiba-tiba merasa ingin berbicara dengan hujan. Aku mulai menjulurkan tanganku keluar pagar dan menyentuh bulir-bulir airnya. Dingin dan segar sekejap mengaliri sekujur tubuh. Di sisi lain, ada perasaan beku dan kesepian yang kurasakan ketika hujan menyentuh tanganku.

“Izinkan aku masuk”

Aku terkejut.

Saat menyentuh rintik-rintik hujan itu, aku merasa bisa mendengarnya berbicara. Dibanding ketakutan, aku lebih penasaran dan sungguh anehnya, nyaman.

“Kamu bicara padaku?”, aku menyahutinya pelan.

“Tentu aku bicara padamu. Tolong izinkan aku masuk”, hujan merajuk. Aku semakin merasa membeku mendengarkannya.

“Kenapa kamu ingin masuk kemari?”

“Aku kedinginan dan kesepian”.

“Tapi, kamu itu hujan. Kamulah yang mendatangkan rasa dingin kepada mahluk hidup yang kamu basahi. Kamu juga selalu datang bergerombol bersama titik-titik air lainnya. Bagaimana mungkin kamu kedinginan dan kesepian?”.

“Kamu tidak mengerti. Biarkan aku masuk dulu. Aku bisa jelaskan nanti”.

“Jelaskan dulu, baru aku bisa pertimbangkan apakah kamu boleh masuk ke rumahku atau tidak”

“Aku tidak bisa menjelaskannya kalau aku kedinginan seperti ini. Otakku membeku, aku tidak bisa berpikir. Biarkan aku masuk dulu untuk menghangatkan diri.”

“Tunggu, aku perlu pastikan dulu orang di dalam rumahku juga mau menerimamu masuk. Aku tidak tinggal sendiri”.

“Mereka tidak akan ada yang tahu ada aku di rumahmu. Tidak ada yang bisa melihatku selain kamu”.

Tunggu dulu. Jika hujan bicara begitu, apa itu artinya aku ini sedang berhalusinasi? Apa aku sudah gila sampai kuanggap diriku bisa mengobrol dengan hujan?

“Kamu tidak gila. Ayo cepat izinkan aku masuk ya? Kumohon?”, pungkas hujan tiba-tiba seolah bisa membaca isi pikiranku.

Ya sudahlah, aku rasa tidak ada ruginya membiarkan hujan masuk. Jika pun ini halusinasiku, biar gila dan gila lah aku sendiri. Toh hanya aku yang mungkin akan merugi. Toh juga gilaku hanya soal bicara dengan hujan. Bukan hal mengancam lainnya.

Aku buka gembok pagarku. Kubiarkan hujan masuk ke halaman. Ia membasahi taman dan seketika bunga-bungaku menjadi kegirangan dan segar. Mereka bahkan bermekaran tak terhingga secara tiba-tiba. Batang dan dedaunan tanaman tapak daraku merambat dengan cepat, naik hingga ke kanopi garasi rumah. Pohon bunga kembang sepatuku pun meninggi hingga melewati tembok pembatasku dengan dunia luar.

Hujan terus berjalan masuk. Kini ia berada di depan pintu utama rumahku. Aku di depan pintu, memegang gagangnya dan kemudian menengok ke belakang. Ada sebersit ragu dalam benakku. Kupikir, jika kubiarkan hujan masuk ke dalam, maka akan basah dan banjirlah rumahku satu-satunya ini.

Seolah lagi-lagi memahami isi pikiran dan keraguanku, hujan tiba-tiba meredakan rintiknya. Tak lagi deras, hujan kini menjadi gerimis halus yang tampak indah dan lembut. Saking halusnya, gerimis itu terasa bagai belaian kasih sayang ketika terkena bahuku. Aku yang meragu pun akhirnya membuka pintu dan menyilakan hujan masuk ke rumah.

“Silakan masuk. Duduklah di situ. Aku buatkan kau minuman”, kataku begitu sopan, persis seperti menyambut tamu manusia seperti biasa.

Segelas teh manis hangat kuhidangkan di meja. Hujan langsung menyeruputnya dengan cepat, sama sekali tanpa meniupnya terlebih dahulu. Ia meminum teh hangat itu dengan buru-buru seperti sedang dikejar sesuatu. Meski demikian buru-burunya, hujan juga terlihat begitu menikmati dan mensyukuri apa yang ia teguk.

“Wah, hangat betul. Terima kasih atas minumannya. Aku tidak pernah merasakan rasa lain selain tawar dan asin. Minuman yang kamu buat sangat menyegarkan dahaga dan menghangatkan kebekuan. Rasa manisnya benar-benar mengingatkanku pada masa kanakmu dulu”.

“Kamu tahu masa kecilku?”, tanyaku memastikan pernyataannya.

“Tentu aku tahu. Sejak dulu aku sudah ada untukmu. Aku sesekali datang di musim kemarau dan sangat rajin datang di musim penghujan. Setiap kali aku datang, kamu selalu menyambutku kegirangan. Bahkan kamu tidak peduli jika orang tua memarahimu karena bermain denganku terlalu lama.”, hujan berseloroh sambil tersenyum.

Aku terkesiap melihat senyumannya. Aku merasa senyuman itu tidak asing. Aku mengenali senyuman itu. Meski datang dalam tubuh hujan, aku kenal betul senyuman itu. Senyuman yang selalu memanggilku keluar rumah ketika usiaku belum masuk belasan tahun.

***

“Hore… Hujan!!! Akhirnya hujan juga! Bu… Pak.. aku keluar sebentar ya!”

“Jangan! Tidak boleh! Masa hujan sedang turun begini, kamu malah minta keluar!”

“Lho, memang apa salahnya, Bu. Hujan kan air bersih dari langit. Tuhan yang berikan untuk kita”.

“Masih kecil sudah sok paham soal Tuhan kamu. Pokoknya tidak boleh keluar! Nanti sakit!”

Hujan di luar semakin deras. Aku semakin cemas karena ibu dan bapak malah terus marah-marah. Dari sekadar meminta izin untuk main hujan, aku malah mendapat khotbah panjang. Ibu dan bapak malah berebut menyebutkan apa saja bencana dan penyakit yang bisa hujan datangkan pada manusia. Apalagi pada anak-anak sepertiku.

Padahal, jika kupikir lagi, hujan membawa berkah bagi manusia. Musim hujan ditunggu para petani yang selama musim kering tidak bisa memanen banyak. Hujan juga memberikan kehidupan karena membuat tanaman bertumbuh tak berhenti. Taman yang gersang menjadi subur, hutan yang kerontang menjadi gemuk.

Begitulah kumaknai hujan sebagai kebahagiaan. Sebagai anak kecil yang impiannya tidak muluk-muluk, tentu aku akan mengejar kebahagiaan agar bisa memudahkanku meraih mimpi. Berhubung hujan begitu dekat, hanya di luar pagar rumah, kenapa aku harus menahan diri.

“BRAK!”, pintu rumah kubanting tanpa sadar. Aku berlari menerpa tanah yang becek dan berjumpa dengan hujan. Aku melihat hujan tersenyum padaku, menyambut dan mengajakku bermain.

Sejak saat itu, aku selalu bermain di luar jika hujan datang. Aku tidak peduli sekalipun aku tidak punya teman bermain. Bagiku hujan adalah temanku. Aku selalu girang menyambutnya. Karena aku menjadi anak yang periang, ibu dan ayah pun akhirnya menyerah mencegahku bermain dengan hujan.

***

Kini usiaku menjelang tiga puluh. Hari ini hujan yang biasanya hanya berdiri di balik pagar, kubawa masuk ke rumahku dan kuhidangkan minuman hangat. Dia tersenyum padaku dan senyumnya membuatku teringat sesuatu.

Ketika usiaku semakin menua, aku sama sekali tak pernah menyambut hujan. Padahal dia datang setiap hari di depan rumahku. Alih-alih menyentuhnya sekali saja, aku malah menghindarinya dan menggunakan payung atau jas hujan jika terpaksa harus keluar rumah.

Aku masih mencintai hujan. Aku masih menyukai aroma segarnya, hawa dinginnya, cantik rintiknya, hingga merdu suara tetesannya. Hanya saja, aku tidak pernah menyapanya lagi. Aku tidak pernah menyerbunya sesemangat ketika aku masih kecil. Aku malah memilih untuk diam di dalam rumah jika melihat hujan. Aku malah memilih untuk menikmatinya diam-diam dari dalam, padahal ia menungguku selalu.

Teh manis hangat itu pun menjadi asin karena tetesan air matanya. (*)

*) Mycel Pancho—Penikmat kopi pahit. Sudah satu dekade menjadi pekerja teks komersial. Lahir di Jakarta, bertumbuh dewasa di Pulau Dewata dan kembali di ibu kota untuk menjadi tua. Sejak sekolah, pecinta teater ini gemar menikmati sastra dan menulis apa saja untuk tetap waspada. Satu puisinya pernah terbit dalam buku antologi puisi Tentang Angin (2007), produksi Teater Angin SMA 1 Denpasar.

Continue Reading

Cerpen

Keika Aku Melihatmu Mati

mm

Published

on

Oleh Mena Oktariyana

Tidak ada yang lebih menakutkan bagi Ali, selain melihat seseorang meregang nyawa di hadapannya. Malam itu, dia menyaksikan sendiri adiknya, Mono, tersiksa menghadapi sakaratul maut. Dilihatnya si Mono mengerang kesakitan dengan tubuh yang terus saja menggeliat di atas tempat tidurnya. Ali mendengar suara keluar dari kerongkongan adiknya, bagaikan orang yang sedang tercekik. Berulang kali dia membisikan ayat-ayat suci di telinganya sambil terus memegangi tubuhnya yang bergetar hebat itu. Dan, ketika getaran dan erangan itu berhenti, Mono sudah terbujur kaku dengan mulut dan mata yang terbuka lebar. Hawa di kamar itu seketika berubah menjadi begitu dingin menusuk. Malaikat maut seperti datang menghujani kamar itu dengan kegelapan dan kedinginan. Hujan dan petir di luar pun seperti bersekongkol untuk mengiringi kepergian adiknya. Ali menutup mata dan mulut Mono dengan tangannya yang gemetar. Dia ingin menangis, tapi tak bisa menangis. Ketakutan yang dia rasakan malam itu telah mengalahkan air matanya.

            Pintu rumah dibuka. Santi, istri Mono datang dengan kondisi basah kuyup sambil membawa kantong kresek yang berisi obat-obatan untuk suaminya.

            “Sial, sial, hujan lebat! basah semua bajuku ini. Tahu begini kan tadi aku bawa payung,” ucap Santi kesal.

            Dia menaruh obat-obatan itu di atas meja makan. Kemudian dia membuka pintu kamar dimana suaminya sedang terbaring, ditemani Ali yang sedang duduk di kursi samping tempat tidur. Karena dia tidak berani masuk ke dalam kamar dengan kondisinya yang basah kuyup, dia pun akhirnya menutup pintu kamar itu kembali dan berjalan menuju kamar mandi.

            “Ali, Al!” seru Santi dari balik kamar mandi. “Kamu kalo mau pulang, pulang saja ya. Aku sudah di rumah ini. Takutnya kamu kemalaman, nanti enggak dapat bus kamu.” lanjutnya sambil asik menggosok-gosok tubuhnya yang kotor dengan sabun. 

            “Makasih ya sudah mau nengokin si Mono. Aku tuh seneng, masih ada yang mau peduli sama saudara sendiri, tidak seperti saudara-saudaraku. Waktu aku kecelakan motor bulan kemarin, hemmm boro boro pada nengokin. Dikatain bego iya, gara-gara enggak becus bawa motor.”

            Beberapa saat kemudian, Santi keluar dari kamar mandi sambil mengusuk-ngusuk rambut basahnya menggunakan handuk. Lalu dia menuju kamar untuk mengambil sisir.

            “Loh, kok kamu masih disini? aku kira sudah pulang,” ucap Santi yang terkejut melihat Ali masih ada di kamar. “Ya sudah lah nanti aja kamu pulangnya, toh masih hujan juga di luar.” dia keluar kamar dan berjalan menuju dapur.

Dia membuka kulkas untuk melihat apa kira-kira yang bisa dia masak saat hujan deras begini. Tidak ada yang lebih enak selain makan sesuatu yang berkuah panas dan pedas saat hujan, pikirnya. Oleh karena itu dia mengambil sebungkus kwetiau kemasan, dua butir telur, sebungkus bakso, cabai, dan segala bumbu yang dia perlukan untuk memasak kwetiau kuah kesukaannya.

“Al, aku buatin kwetiau ya, kamu harus makan dulu sebelum pulang,” ucapnya sambil sibuk menyiapkan bumbu. “Oh iya Al, nanti tolong kamu bawa ya, pisang kepoknya. Pisang itu kesukaan istrimu. Di kebon belakang masih banyak, tadinya sih mau aku jual di pasar. Tapi, gimana ya, semenjak Mono sakit aku jadi susah buat ngapa-ngapain. Belum lagi kalau dia kambuh kejang-kejangnya. Repot lah pokoknya, aku tidak bisa tinggal dia lama-lama. Mau ngapain saja jadi susah.” ucapnya kesal.

Dua mangkuk kwetiau itu pun sudah siap untuk dihidangkan. Dengan perut keroncongan Santi membawanya ke meja makan.

“Al, makan dulu Al, sudah matang nih!” seru Santi kepada Ali yang masih berada di kamar.

Perutnya yang sudah lapar dari tadi, membuatnya langsung menyantap satu mangkuk besar kwetiau miliknya tanpa menunggu Ali. Dan sampai habis satu mangkuk kwetiau itu, Ali tidak juga datang ke meja makan.

“Ini orang kok dipanggilin nggak nyaut nyaut dari tadi, tidur apa gimana?” tanya Santi pada dirinya sendiri.

Lantas Santi membawakan satu mangkuk kwetiau untuk Ali itu ke dalam kamar. “Kamu aku panggil daritadi kok enggak jawab-jawab, nih dimakan,” katanya sambil memberikan semangkuk kwetiau kepada Ali. Namun Ali hanya terdiam sambil menangis.

“Lah, kenapa kamu nangis? tanya Santi bingung.

Dia melihat ke arah Mono yang dipikirnya sedang tertidur lelap. Dia hanya terdiam sambil melihat tubuh suaminya yang terbujur kaku dengan wajah pucat pasi. Tangannya gemetar, dia jatuh terduduk dan semangkuk kwetiau itu berserakan di lantai. Ali segera bangkit dari tempat duduknya dan berusaha menenangkan adik iparnya. Sadar suaminya telah mati, Santi menangis begitu hebat sambil berteriak memanggil-manggi suaminya.

Beberapa saat kemudian, tangisan itu berubah menjadi suara tawa yang menakutkan. Dilihatnya Santi sedang tertawa cekikikan sambil mengusap air matanya. Ali terkejut dan bingung. Dia tahu bahwa banyak orang menjadi gila karena ditinggal mati orang yang mereka cintai. Tapi, apa mungkin Santi bisa gila secepat ini, ucapnya dalam hati.

“Aku bebas! Aku bebas! sudah lama aku ingin dia mati!” teriak Santi sambil terus tertawa cekikikan.

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending