Connect with us

Journal

ADAM SMITH: ORANG SUCI PELINDUNG PERSAINGAN BEBAS

mm

Published

on

; Wealth of Nations (Kekayaan Bangsa-bangsa)

 

Dalam masa dua bulan setelah buku Tom Paine Pikiran Sehat merangsang pengendapan Pernyataan Kemerdekaan dan kejadian-kejadian besar yang lain dari revolusi Amerika, sebuah buku yang kelaknya akan menimbulkan reaksi besar dalam lapangan lain dari kegiatan manusia telah terbit di London. Berbeda dari pembicaraan Paine yang bernyala-nyala, karangan Adam Smith yang berat dan terdiri dari dua jilid. Sebuah penyeledikan mengenai Fitri dan Sebab-sebab dari Kekayaan Bangsa-bangsa (An Inguirv Into the Nature and Causes of the Wealth of Nations) adalah sebuah bom penggerak yang diperlambat, yang pada waktu mula-mula diterbitkan sedikit sekali menarik perhatian. Baru diabad berikutnya, setelah pengarangnya meninggal, karangan ini memperlihatkan pengaruhnya yang penuh.

Tahun 1776 seyogyanya dapat dianggap sebagai akhir dari suatu kurun jaman dan titik permulaan dari kurun jaman yang baru. Revolusi Amerika sudah dimulai, sedangkan revolusi Perancis sedang menggelegak-gelegak, dan revolusi industri yang dicetuskan oleh penemuan tenaga uap lagi giat mengumpulkan kecepatan. Seorang komentator telah menchaskan jaman yang lewat sebagai “masa gelap dari jaman modern”. Di Inggris setiap segi kehidupan ekonomi dalam kenyataannya berada dibawah pengawasan pemerintah yang keras. Harga-harga ditetapkan, gaji dan jam kerja ditentukan, produksi disalurkan, dan perdagangan luar negeri, baik impor maupun ekspor dikuasai seluruhnya oleh negara. Peperangan hampir selalu ada. Politik nasional memerlukan tentara dan angkatan laut yang kuat, jumlah penduduk yang besar, perebutan jajahan diseluruh penjuru dunia dan usaha-usaha untuk melemahkan negara-negara saingan seperti: Perancis, baik dengan jalan yang halal maupun dengan akal busuk. Setiap usul untuk mengadakan pembagian kekayaan yang merata ditolak dengan keras oleh golongan pemerintah. Pendidikan hanya disediakan bagi segolongan kecil yang punya hak-hak istimewa, hukum pidana sangat keras, sedangkan hak politik buat orang banyak untuk sebagian besar hanya ada dalam teori saja, tidak dalam praktek.

Sesuai dengan kebiasaan yang sudah berlangsung selama beberapa turunan, kaum bangsawan pedalaman masih saja menguasai pemerintahan. Tapi suatu klas baru yang kuat terdiri dari kaum saudagar dan kaum industrialis mulai bangun, dan mereka ini menuntut dan memperoleh hak-hak istimewa buat mereka sendiri. Menurut pandangan golongan ini, eksport adalah suatu rakhmat, sedangkan import suatu bencana; uang tidak boleh dikeluarkan dari dalam negeri; suatu keseimbangan dagang yang “menguntungkan” harus dijaga; gaji buruh harus rendah sedangkan waktu kerja mereka harus lama; pajak yang tinggi harus melindungi industri dalam negeri; suatu armada niaga yang kuat perlu sekali adanya; dan setiap tindakan yang menguntungkan kaum merkantilis ini ipso facto dianggap tindakan yang menguntungkan negara sebagai keseluruhan. Parlemen yang berada di bawah tekanan suara yang keras, telah menjadikan sebagian besar dari konsep ini menjadi undang-undang.

Lalu datanglah Adam Smith, yang bermaksud meledakkan pikiran-pikiran ini, pikiran-pikiran mana ia anggap salah dan merugikan. Kehidupan kedewasaan Smith sampai saat ini, boleh dianggap sebagai suatu persiapan untuk pekerjaan raksasa yang kini hendak ia kerjakan. Ia adalah seorang bumiputera Skotlandia. Waktu ia berumur empatbelas tahun (1737) ia mencatatkan diri di Universitas Glosgow. Disana ia dipengaruhi oleh seorang pendidik besar Francis Hutcheson. Keyakinan gurunya ini yang seringkali dikutip orang, yaitu “kebahagiaan terbesar bagi jumlah terbesar” kemudian menjadi filsafat Smith yang menentukan untuk selama-lamanya. Setelah pindah ke Universitas Oxford dimana ia belajar selama enam tahun. Smith mempergunakan sebagian besar waktunya untuk menelaah bacaan-bacaan yang berkenaan dengan segala macam soal, sebanyak-banyaknya. Setelah ia kembali ke Skotlandia, ia memberikan ceramah-ceramah umum sampai tahun 1751, tatkala mana ia diangkat mula-mula untuk mengajarkan logika dan metafisika dan tak lama kemudian untuk mengajarkan filsafat moral di Glasgow. Selama duabelas tahun ia memberikan tenaganya sebagai seorang pengajar yang berbakat dan populer. Reputasinya ini bertambah naik setelah ia menulis sebuah buku yang sangat digemari orang Teori Sentimen Moral (Theory of Moral Sentiments) – sebuah karya yang dianggap kawan-kawan sejamannya lebih besar dari Kekayaan Bangsa-bangsa. Karena tertarik oleh pembayaran yang banyak. Smith meletakkan jabatannya sebagai guru besar lalu menemani seorang pemuda bangsawan sebagai kawan dan guru, dalam perjalanan selama tiga tahun dibenua Eropa. Waktu itu ia berkenalan, terutama di Perancis, dengan ahli-ahli ekonomi, filsafat dan pemikiran-pemikiran politik yang terkemuka.

Dalam tahun 1759, sudah ada rangka-rangka yang kemudian akan menjadi buku Kekayaan Bangsa-bangsa dalam catatan-catatan Smith, tapi buku ini lambat sekali dalam proses pematangannya. Pemusatan pikiran yang bertahun-tahun, telaah dan bacaan, penglihatan langsung, percakapan dengan pelbagai tokoh dari pelbagai lingkungan dan perobahan-perobahan yang tak habis-habisnya harus berlangsung dulu sebelum Smith bersedia untuk menyerahkan kerja besarnya ini kepada pencetak. Selama tiga tahun sebelum buku ini diterbitkan, kebanyakan ia berdiam di London, dimana ia mempercakapkan bukunya dengan Benjamin Franklin, wakil koloni Amerika. Baru tanggal sebilan Maret tahun 1776, buku itu keluar dari percetakan. Semenjak itu buku tersebut telah mengalami cetakan-ulangan yang tak terhitung dan telah diterjemahkan kedalam hampir semua bahasa yang hidup didunia ini.

Paparan ensiklopedia dari Kekayaan bangsa-bangsa menyebabkan nilai buku ini lebih lagi dari hanya sebuah pembicaraan tentang ekonomi. Salah seorang pengeritik telah menyebut buku ini “Sebuah sejarah dan kritik dari segela peradaban Eropa”. Setelah mulai dengan sebuah istikarah tentang pembagian pekerjaan. Smith menyimpang kepembicaraan mengenai asal-usul dan pemakaian uang, harga dari barang-barang, gaji buruh, keuntungan stock, sewa tanah, harga perak dan perbedaan antara kerja yang produktif, dan kerja yang tak produktif. Kemudian ia teruskan dengan pembicaraan tentang perkembangan ekonomi Eropa semenjak jatuhnya Kemaharajaan Roma, uraian dan kritik yang panjang terhadap politik perdagangan dan jajahan negara-negara Eropa, penghasilan raja, berbagai cara pertahanan dan administrasi pengadilan dalam masyarakat yang primitif, asal dan perkembangan tentara-tentara tetap di Eropa, sebuah sejarah pendidikan jaman Abad Pertengahan dan kritik terhadap universitas-universitas jaman Smith, sebuah sejarah kekuasaan duniawi gereja, pertumbuhan hutan umum, dan sebagai peutup penyelidikan tentang prinsip-prinsip pajak dan sistim-sistim dari penghasilan umum.

Thesis umum Smith, atas mana telah ia dasarkan Kekayaan Bangsa-bangsa, yang kiranya tak akan mengherankan kedengarannya jika diucapkan oleh Niccolo Machiavelli, ialah; setiap manusia beroleh dorongan terutama dari ingatan  pada kepentingan diri sendiri. Dorongan dan motif yang berdasarkan keuntungan diri sendirilah yang menjadi latar belakang dari segala kegiatan manusia. Selanjutnya, bukannya ia menganggap segi kelakuan manusia ini sebagai sesuatu yang harus ditolak dan tidak dikehendaki, tapi Smith percaya, bahwa sifat cinta diri sendiri dari seorang individu baik akibatnya bagi kemakmuran masyarakat. Kemakmuran suatu negara akan terjamin sebaik-baiknya, demikian sarannya, dengan mengijinkan “manusia melakukan usaha-usaha yang seragam, tetap dan tidak terhalang-halang untuk memperbaiki nasibnya………, Bukan dari kebaikan hati seorang tukang  daging, atau pembuat bir atau pemasak roti kita harapkan santapan kita, tapi dari perhatian mereka terhadap kepentingan diri mereka sendiri. Kita bicara bukan kepada rasa kemanusiaan mereka, tapi kepada cinta mereka terhadap diri mereka sendiri. Dan kita tidak akan membicarakan kebutuhan-kebutuhan kita, tapi keuntungan-keuntungan mereka”. Bagian yang seperti inilah yang menyebabkan Ruskin menganggap Smith “seorang Skot yang tanggung didikannya dan berpengetahuan separuh yang mengajarkan kemurtadan secara berencana: “Engkau harus membenci Penciptamu, Tuhanmu, buang semua petunjukNya dan rebut harta sesamamu.”

Industri modern, demikian kata Smith, hanya mungkin jika ada pembagian pekerjaan dan penumpukan modal – dan kedua-duanya ini ada oleh karena adanya kepentingan diri sendiri, atau “susunan alam” seperti disebutkan oleh ahli-ahli filsafat abad ke XVIII. Dengan tak disadari suatu “bimbingan dewata” telah memimpin manusia begitu rupa, sehingga dengan jalan bekerja untuk kepentingan diri sendiri, ia dapat memberikan sumbangan untuk kebaikan sesamanya. Tentu saja dapat dimengerti, bahwa campur tangan pemerintah dalam susunan ekonomi harus kurang sekali – pemerintah yang baik, seperti kata Tom Paine dalam hubungan lain, ialah pemerintah yang memerintah sesedikit-sedikitnya.

Sebuah ilustrasi grafis, mengenai pembuatan peniti, telah dipegunakan oleh Smith untuk memperlihatkan keuntungan dari adanya pembagian pekerjaan; “Seorang pekerja yang tidak terdidik dalam pekerjaan ini …………. dan juga tidak kenal mesin-mesin yang dipergunakan untuk kepentingan ini ……. dengan segala usahanya, barangkali paling banyak dapat membuat sebuah peniti dalam satu hari dan pasti tidak akan sanggup membuat duapuluh buah”. Dengan jalan memecahkan proses pembuatan ini “menjadi delapan belas tindakan-tindakan yang terpisah, yang dibeberapa pabrik dijalankan oleh pekerja-pekerja yang bekerja terbagi-bagi…………. Saya telah pernah melihat pabrik seperti ini dimana dipekerjakan hanya sepuluh tenaga pekerja ………….. yang membuat lebih dari 48.000 buah peniti sehari”. Ini adalah hasil “dari pembagian dan kombinasi dari tindakan-tindakan yang sulit dengan cara yang baik”.

Pembagian pekerjaan ini, demikian menurut Smith, berasal dari bangsa-bangsa primitif.

Dalam sebuah suku pengembala dan pemburu, misalnya seseorang jauh lebih cepat dan cekatan dari pada yang lain dalam membuat panah dan busur. Ia seringkali menukar buatannya; ini dengan sapi atau hewan liar kepunyaan kawan-kawannya; dan akhirnya ia ketahui, bahwa dengan cara begini ia bisa mendapat lebih banyak sapi dan hewan liar dari pada jika ia sendiri pergi kepadang untuk menangkapnya. Jadi karena mengingat kepentingan diri sendiri, pembuatan panah dan busur tumbuh menjadi usaha tetapnya …………. Sedangkan yang lain, cekatan dalam membuat rangka dan atap pondok-pondok kecil atau gubuk-gubuk mereka yang dapat dipindah-pindahkan.

Dengan cara yang sama yang ketiga menjadi seorang pandai besi atau penempa tembaga; selanjutnya ada yang menjadi penyamak atau penghias kulit atau jangat ………….. dan dengan demikian, dengan adanya kepastian untuk menukarkan semua bagian yang berlebih dari hasil pekerjaan yang masih tinggal dan tak ia perlukan untuk pakaiannya sendiri, dengan bagian yang demikian pula dari hasil kerja orang lain yang masa-masanya ia perlukan, manusia beroleh dorongan untuk mengasyikkan diri dengan suatu pekerjaan tertentu dan mengembangkan serta mengusahakan kesempurnaan bakat atau kepandaian istimewa yang ada padanya buat kepentingan macam pekerjaan yang khas itu.

Kemudian Smith melanjutkan pembicaraannya mengenai uang dan harga barang. Smith mengemukakan suatu pendirian yang ditolak karena dianggap salah oleh ahli-ahli ekonomi kuno, tapi yang kemudian diterima luas sebagai seruan tanda berkumpul bagi pemikir-pemikir sosialis dari kurun jaman kemudian. Ia berkata: “Hanya kerja, sebagai sesuatu, yang tak berubah nilainya, yang boleh dianggap sebagai standar satu-satunya dan yang sebenarnya, yang dapat dipergunakan untuk menilai dan membandingkan harga setiap barang dalam setiap jaman dan setiap tempat. Ini adalah harga nyatanya; sedangkan uang hanyalah harga nominalnya.”

Tidak ada  dalam buku Kekayaan Bangsa-bangsa kita jumpai suara Smith yang begitu tegas bahkan kadang-kadang amarah seperti dalam terdapat antara kaum majikan dan buruh dan dalam opisisinya terhadap pendirian kaum merkantilis yang mengatakan, bahwa gaji yang rendah akan memaksa buruh untuk bekerja lebih banyak dan dengan demikian menambah kekayaan Inggris. Mengenai yang pertama, ia mengulas. “Buruh ingin beroleh sebanyak mungkin, sedangkan para majikan ingin memberikan sesedikit mungkin. Yang pertama akan bersatu untuk menaikkan gaji, sedangkan golongan kedua akan bersatu untuk menurunkan gaji”.

Ia melanjutkan:

Tapi tidaklah sulit untuk mengetahui, yang mana dari kedua golongan ini, biasanya, yang mempunyai kedudukan terbaik dalam pertikaian ini, dan yang akan dapat memaksa lawannya untuk menyetujui syarat-syarat mereka. Kaum majikan, karena jumlahnya lebih-kecil, akan lebih mudah bersatu. Disamping itu undang-undang memberikan hak-hak atau setidak-tidaknya tidak melarang persatuan mereka, sedangkan persatuan buruh adalah terlarang. Sekarang ini tidak ada undang-undang yang melarang persatuan dengan maksud merendahkan gaji buruh. Tapi sebaliknya banyak sekali undang-undang yang menghalangi kenaikan gaji buruh. Dalam perselisihan-perselisihan seperti ini kaum majikan lebih lama dapat bertahan. Seorang tuan tanah, seorang petani, seorang pemilik pabrik atau seorang saudagar umumnya masih dapat hidup setahun dua dengan persediaan-persediaan yang telah mereka punyai, biarpun mereka tak memakai seorang buruhnya jua. Kebanyakan buruh tidak bisa tahan lebih lama dari seminggu, sebagian kecil dapat bertahan sampai sebulan, sedangkan yang sanggup bertahan sampai setahun dengan tiada pekerjaan boleh dikatakan hampir tidak ada sama sekali. Dalam jangka panjang buruh sama perlunya bagi seorang majikan, seperti seorang majikan bagi buruh, tapi keperluan kaum majikan tidaklah begitu langsung sifatnya.

Simpati Smith yang jelas bagi kaum pekerja rendahan dapat dilihat dalam bait-bait seperti dibawah ini:

Golongan pelayan, buruh dan pekerja dari bermacam lapangan adalah golongan terbesar dalam setiap masyarakat politik yang besar. Apa yang dapat menyebabkan perbaikan bagi keadaan golongan tebesar ini tidak mungkin diterima sebagai suatu yang menyusahkan bagi keseluruhannya. Tidak ada masyarakat yang perkembangan dan kebahagiaannya dapat dijamin, dimana bagian terbesar dari anggota-anggotanya adalah miskin dan melarat. Disamping itu adalah adil, jika mereka yang memberi makan, pakaian dan rumah kepada seluruh rakyat, beroleh bagian dari hasil pekerjaan mereka dan dapat makan, pakaian dan tempat tinggal yang cukup dan baik……………… Penghargaan terhadap pekerjaan mereka yang tinggi …………. akan menaikkan kerajinan rakyat biasa. Gaji yang diperoleh dari perburuhan adalah pendorong kerajinan, kerajinan mana seperti juga halnya dengan sifat-sifat manusia yang lain, akan bertambah baik sesuai dengan penghargaan yang ia peroleh ……………. karena itu, dimana gaji tinggi, kita selalu akan menjumpai para pekerja yang lebih giat, rajin dan cepat, daripada ditempat dimana gaji adalah rendah.

Dan lagi:

Pedangang-pedagang dan industrialis-industrialis kita banyak mengeluh disebabkan kenaikan gaji yang mengakibatkan kenaikan harga dan dengan demikian mengurangkan penjualan barang-barang mereka baik di dalam maupun di luar negeri. Apa akibat yang timbul dari keuntungan mereka yang tinggi, mereka tidak mau bicara apa-apa sama sekali. Mereka menutup mulut mengenai akibat yang merusak dari keuntungan mereka sendiri. Mereka hanya mau megneluh tentang orang lain.

Dua puluh tahun sebelum Pirnsip-prinsip pertumbuhan Penduduk (Principles of Population) disiarkan, teori-teori Malthus sudah didengung-dengungkan oleh Smith:

Setiap spesi hewan menurut alam berlipat-ganda sesuai dengan kemungkinan-kemungkinan pengisian kebutuhannya. Tidak ada spesi yang mungkin berlipat-ganda melewati batas-batas kemungkinan ini. Dalam suatu masyarakat beradab, hanya pada golongan rakyat rendah kekurangan alat-alat kebutuhan dapat membatasi perlipat-gandaan spesi manusia selanjutnya; dan ini hanya dapat berlangsung dengan jalan menghancurkan sebagian besar dan kanak-kanak yang dilahirkan dari perkawinan-perkawinan mereka yang subur.

Jika dilihat dari kenyatan keuntungan perburuhan dalam jaman modern, tekanan-tekanan dan pembatasan feodal yang masih merajalela dalam abad Adam Smith hampir-hampir tak dapat kita bayangkan sama sekali. Larangan bagi setiap bentuk organisasi buruh dalah satu dari halangan-halangan barat yang diharapkan kepada kaum pekerja. Tapi yang lebih berat lagi ialah undang-undang masa-latihan dan undang-undang kolonialisasi.

Undang-undang masa-latihan ini berasal dari jaman Ratu Elizabeth. Seperti dilukiskan oleh Smith, undang-undang ini menentukan “bahwa tidak seorangpun dimasa datang diperolehkan mengerjakan sesuatu pekerjaan, kepandaian atau mysteri yang kala itu dikerjakan di Inggris, sebelum ia untuk kepentigan ini menjalani masa latihan sekurang-kurangnya selama tujuh tahun”. Selama tujuh tahun ini si-majikan hanya memberikan nanfkah hidup. Majikan-majikan tak berperi-kemanusiaan dengan sendirinya mempergunakan kesempatan ini untuk memeras pekerjaan-pekerjaan mereka, meminta banyak dan memberikan sedikit, sedangkan mereka yang menjalankan latihan ini sebetulnya berada dalam suatu keadaan pebudakan. Dalam penolakannya terhadap perlakuan-perlakuan ini. Smith menyatakan, bahwa masa latihan yang lama tidaklah diperlukan, karena kebanyakan pekerjaan dapat dipelajari dalam masa beberapa minggu. Lagi pula, undang-undang masa latihan ini adalah suatu campur tangan yang tidak adil terhadap hak seorang pekerja untuk mengadakan kontrak sendiri bagi kerja yang ia kehendaki, untuk memilih pekerjaannya sendiri dan untuk pindah dari pekerjaan bergaji rendah kejabatan bergaji tinggi.

Demikian juga keberatan-keberatan yang terdapat dalam undang-undang kolonisasi. “Aku berani mengatakan,” demikian Smith menulis “Bahwa hampir tidak ada seseorang yang berumur empatpuluh tahun di Inggris yang tidak pernah merasa berkali-kali dalam hidupnya suatu rasa tertindas dengan kejam oleh undang-undang kolonisasi yang telah diundangkan dalam jaman Ratu Elizabeth ini dan yang sangat jahat akibatnya.” Maksud aslinya ialah untuk mengatur pembagian wakaf untuk orang miskin. Setiap wilayah harus bertanggung jawab atas anggota-anggotanya yang tak mampu. Tapi dalam prakteknya bagi kaum buruh akibat sebenarnya dari undang-undang ini ialah terciptanya suatu golongan hukum seumur hidup dalam kota-kota kelahiran mereka dan adanya halangan-halangan yang hampir-hampir tak dapat diatasi dalam langkah seorang buruh yang hendak pindah dari satu tempat kelain tempat. Menurut hemat Adam Smith, ini adalah suatu contoh lagi, dari ketidak-adilan campur tangan pemerintah dalam hak-hak manusia dan dalam kelangsungan wajar dari sistim ekonomi.

Adam Smith telah mencoba membedakan kerja yang “produktif dan yang “tidak produktif”.

Negara-negara besar tidak pernah jatuh miskin. Kadang-kadang hal ini bisa terjadi jika sifat keroyalan dan tabiat-tercela itu dipunyai secara umum. Seluruh, atau hampir seluruh penghasilan umum dikebanyakan negara dipergunakan untuk membayar tenaga-tenaga yang tidak produktif. Mereka ini adalah golongan-golongan yang menjadi anggota istana-istana yang mewah dan besar jumlahnya, badan-badan gereja yang besar, armada dan angkatan darat yang besar yang dalam masa damai tidak menghasilkan apa-apa yang dapat membayar ongkos-ongkos pembiayaan mereka. Bahkan biarpun dalam keadaan perang. Golongan-golongan ini, karena tak menghasilkan apa-apa harus dibiayai oleh produksi kerja golongan lain. Jika dilipat-gandakan, sehingga mencapai jumlah yang tak perlu, dalam masa satu tahun mereka bisa menghabiskan bagian yang sangat besar dari produksi ini, sehingga  lebihnya tidak cukup untuk menghidupi buruh-buruh yang produktif.

Nasihat-sehat mengenai pekerjaan budak-budak belian, yang sayang sekali tak dihiraukan oleh koloni-koloni di Amerika, disarankan oleh Smith:

Dalam penglihatan saya, pengalaman-pengalaman dari berbagai jaman dan negera telah membuktikan dengan jelas, bahwa kerja-kerja yang dilakukan oleh budak-belian, biarpun kelihatannya perongkosan hanya sekedar untuk melanjutkan umur budak-budak ini saja, sebetulnya adalah pekerjaan yang mahal sekali biayanya. Seseorang yang tidak dapat memperoleh hak-milik, tidak mungkin mempunyai pendirian yang lain kecuali makan sebanyak-banyaknya dan bekerja sedikit mungkin. Kerja apapun yang ia jamah yang akan melebihi keperluan untuk membayar biayanya, hanya mungkin ia lakukan jika ia dipaksa, dan bukan karena ia ingat kepada kepentingan dirinya sendiri.

Dari masalah buruh Smith kemudian mengarahkan pandangannya kepada pembelaan perobahan hukum tanah. Disinipun juga menurut hematnya, peraturan-peraturan pemerintah Inggris yang tidak baik dan undang-undang yang telah kuno menjadi halangan buat kemajuan. Di Inggris abad ke-XVIII kebanyakan tanah adalah tanah-tanah pewarisan fideikomis. Seorang pemilik dapat saja membuat peraturan mengenai pembagian dan penjualan tanahnya dengan cara yang mengikat bagi turunannya untuk selama-lamanya sesudah ia meninggal. Suatu adat kebiasaan lama yang lain ialah adat dari “hukum hak-sulung”, suatu kebiasaan feodal untuk menghindarkan terpecah-pecahnya suatu milik tanah yang besar. Menurut hukum hak-sulung maka satu-satunya yang berhak menerima warisan ialah anak sulung dari si-pemilik, “Tidak ada yang lebih bertentangan dengan kepentingan suatu keluarga yang besar,” demikian kata Adam Smith, “dari pada suatu undang-undang yang mengayakan satu orang tapi yang menyebabkan yang lainnya jatuh melarat.” Ia menganjurkan perdagangan tanah yang bebas dengan menarik kembali undang-undang yang membenarkan pewarisan fideikomis, hak pewarisan mutlak bagi anak sulung dan pembatasan-pembatasan lain mengenai pemindahan-bebas tanah, dengan jalan memberikan perundingan atau penjualan.

Sebuah bab yang termasyur dalam kitab “Kekayaan Bangsa-bangsa” ini ialah bab yang membicarakan soal penjajahan. Seorang ahli menyatakan, bahwa “bab ini adalah suatu ringkasan politik penjajahan yang terbaik yang pernah dituliskan atas kertas”. Smith membagi pembicaraannya ini dalam tiga bagian: (1) “Tentang motif untuk memiliki jajahan baru”, dalam mana digambarkan usaha-usaha penjajahan Yunani, Roma, Venesia, Portugis dan Spanyol; (2) “sebab-sebab kemakmuran jajahan-jajahan baru,” dimana Smith mengemukakan faktor-faktor seperti tanah yang banyak dan murah, gaji yang tinggi,tambahan jumlah penduduk yang berlangsung cepat dan pengetahuan kolonis-kolonis tentang pertanian dan kepandaian-kepandaian lainya (politik kolonial Inggris yang maju jika dibandingkan dengan politik Portugis dan Spanyol yang sempat dan terlalu membatasi); (3) “Tentang keuntungan-keuntungan yang diperoleh Inggris dari penemuan Amerika dan penemuan jalan ke Hindia Timur melewati Tanjung Harapan”, penemuan-penemuan mana dianggap oleh Smith sebagai “dua kejadian terbesar dan terpenting yang pernah dicatat dalam sejarah manusia”.

Pengekangan-pengekangan yang dijalankan terhadap jajahan untuk memperoleh monopoli perdagangan dikutuk oleh Smith sebagai perkosaan terhadap “Hak-hak wajar” dari jajahan tadi. Seperti pada negara-ibu, maka pada jajahanpun sama edannya dan mahalnya, jika sistim kaum merkantilis yang dijalankan. Juga penarikan uang dari negara penjajahan tidak ada henti-hentinya, karena jajahan-jajahan ini tidak akan pernah mau mengenakan pada diri mereka sendiri pajak yang cukup untuk pembayar ongkos pertahanan mereka.

Smith dapat memandang rakyat koloni-koloni di Amerika yang sedang memberontak dengan pandangan yang lebih obyektif dari pada kebanyakan saudara-saudara setanah-airnya. Menurut hematnya, penyelesaikan yang terbaik bagi pertentangan ini, ialah dengan jalan memberikan ijin kepada rakyat dikoloni-koloni itu untuk mengirimkan wakil mereka keparlemen Inggris – jadi persatuan dan bukannya pemisahan – dengan jumlah perwakilan sebanding dengan jumlah pajak yang dihasilkan. Jika sekiranya, dan ini adalah suatu hal yang mustahil, rakyat Amerika lebih banyak menghasilkan pajak dari rakyat Inggris, maka ibu kota mungkin dipindahkan keseberang Atlantika, “kebagian kerajaan yang terbanyak memberikan sumbangan bagi pertahanan umum dan sekongan buat seluruhnya”. Ucapan ini mungkin sekali dapat dipakai sebagai jawaban yang tepat atas seruan Tom Paine yang mengatakan, bahwa “adalah edan untuk berpendirian, bahwa suatu benua harus diperintah oleh sebuah pulau untuk selama-lamanya” karena dengan ini peranan yang dijalankan mungkin terbalik jadinya.

Karena perselisihan antara Inggris dan jajahan. Amerika tidak dapat diselesaikan dengan secara damai. Smith menyerukan kemerdekaan bagi jajahan-jajahan ini, biarpun ia dengan sungguh-sungguh menyadari, bahwa “dengan mengusulkan itu Britania Raja dengan suka-rela harus melepaskan segala kewibawaannya terhadap jajahan-jajahan itu, dan membiarkan mereka memilih pengadilan mereka sendiri, mengundangkan hukum mereka sendiri dan mengadakan perdamaian dan mengumumkan perang sesuai dengan kepatuhan menurut pikiran mereka. Dan ini berani mengusulkan suatu tindakan yang belum pernah dan tidak akan pernah dibenarkan oleh negera manapun didunia ini ……… biar bagaimana susahnyapun untuk memerintahnya, dan biar bagaimana kecilnyapun keuntungan yang masuk jika dibandingkan dengan biaya yang harus dikeluarkan”.

Pikiran Smith yang jernih dan pandangannya yang jauh tergambar dalam sebuah bait dimana ia meramalkan masa datang Amerika, seperti yang tertera di bawah ini:

Mulai dari pemilik kedai, saudagar-saudagar dan ahli-ahli hukum, mereka (kolonis-kolonis Amerika) akan menjadi negarawan-negarawan dan legislator-legislator dan akan dipekerjakan untuk mencapai suatu bentuk baru dari pemerintahan sebuah kerajaan yang luas, yang dalam keyakinan mereka – keyakinan mana mungkin sekali benar – akan menjadi salah sebuah kerajaan terbesar dan menganggumkan yang pernah ada di bumi ini.

Bagian yang paling termasyur, dan tak pelak lagi, bagian yang dapat dianggap sebagai bagian pokok dari kitab. Kekayaan Bangsa-bangsa ini, ialah “Buku IV” yang berkepala “Mengenai sistim ekonomi politik”. Dalam bagian ini dibicarakan dua macam sistim; sistim perdagangan dan sistim pertanian, biarpun tempat yang diberikan kepada pembicaraan sistim perdagangan delapan kali lebih banyak dari pada ruang yang disediakan untuk membicarakan pertanian. Disini Smith membangunkan prinsip-prinsip laissez faire yang semenjak itu selalu dihubungkan dengan namanya. Semua pendapat-pendapatnya mengenai buruh, tanah, barang-barang, uang, harga, pertanian, modal dan pajak boleh dikatakan berpusat pada suatu pembicaraan mengenai perniagaan bebas, baik kedalam ataupun keluar. Hanya berkat perdagangan dalam dan luar negeri yang tak dibatasi, negara dapat mencapai perkembangan dan kemakmuran penuh. Tiadakanlah, demikian Smith, cukai-cukai, premi-premi ekspor dan larangan-larangan regim merkantilis dan monopoli-monopoli dagang dari kongsi-kongsi pilihan yang kesemuanya hanya menahan perkembangan wajar dari industri dan dagang dan pengaliran bebas barang-barang kepada sipemakai. Ajaran “keseimbangan dagang”, yang salah dan yang begitu disanjung-sanjung oleh kaum merkantilis harus ditiadakan. Uang hanya alat dan “tidak ada suatu ukuran pasti yang dapat menetapkan dipihak mana beradanya apa yang disebutkan keseimbangan antara dua negeri, atau yang mana diantara kedua negeri itu telah mengeksport dengan harga yang paling tinggi. Kekayaan tidak terdiri dari uang atau emas dan perak, tapi dari apa yang telah dibeli dengan uang dan yang hanya berharga untuk diperjual-belikan”.

Pembagian pekerjaan tidak saja perlu dan logis antara individu-individu tapi juga antara negara-negara.

Keuntungan-keuntungan yang diberikan alam kepada suatu negara jika dibandingkan dengan negera lain dalam memprodusir sesuatu barang bisa begitu besar, sehingga seantero dunia akan mengakui bahwa adalah pekerjaan yang sia-sia unuk bersaingan dengan negera itu. Dengan pertolongan gelas-gelas, pematang-pematang panas dan dinding-pemanas, buah anggur yang sangat baik dapat ditanam di Skotlandia; dari buah anggur ini juga dapat diperbuat anggur yang baik, tapi dengan harga yang tigapuluh kali lebih mahal dan pada anggur yang sama kualitetnya yang diimport dari luar negeri. Apakah undang-undang yang melarang pemasukan anggur-anggur luar negeri, semata karena hendak memajukan pembuatan claret dan burgundy di Skotlandia, dapat disebut undang-undang yang dapat diterima akal?

Keuntungan-keuntungan ekonomi dari perdagangan bebas disimpulkan oleh Smith dalam ucapan-ucapan berikut:

Setiap pemimpin keluarga yang cerdik akan berpegang kepada kebenaran, bahwa lebih baik membeli dengan harga lebih rendah dari pada membuat sendiri dengan perongkosan lebih tinggi ………….. Apa yang dapat dianggap cerdik dalam kehidupan setiap keluarga jarang sekali dapat dianggap bodoh  dalam sebuah kerajaan. Sekiranya sebuah negeri dapat menolong kita dengan barang-barang yang ongkosnya lebih murah dari pada jika kita buat sendiri, maka lebih baik barang ini dibeli dari mereka dengan salah satu hasil industri kita yang kita kerjakan dengan cara yang lebih menguntungkan dari pada di negeri orang.

Keuntungan bersama dari perdagangan luar negeri dijelaskan oleh Smith sebagai berikut:

Diantara tempat yang manapun juga perdagangan luar negeri itu dilangsungkan, selalu akan dapat diperoleh dari padanya dan macam keuntungan. Perdagangan ini akan mengalirkan keluar bagian-bagian produksi negara dan buruh yang berlebih, terhadap bagian mana tidak ada permintaan, dan sebagai ganti membawa masuk sesuatu yang diperlukan dan dikehendaki …………… Dengan cara begini, kesempatan pasar dalam negeri tidak akan menghambat perkembangan pembagian pekerjaan sampai sempurna sekali dalam cabang kejuruan dan perusahaan yang manapun juga. Dengan jalan membuka pasar yang lebih luas bagi hasil yang manapun juga dari kerja mereka yang melebihi kebutuhan dalam negeri, mereka akan beroleh dorongan untuk menyempurnakan tenaga-tenaga produksi mereka dan menaikkan tingkat produksi tahunan mereka ketingkat yang setinggi-tingginya. Dengan demikian pendapatan dan kekayaan nyata masyarakat akan bertambah.

Bahwa Smith tidak bersikap dogmatis mutlak dalam anjuran untuk melaksanakan perdagangan bebas, kelihatan dan jelas pada pengecualian-pengecualian atau batas-batas yang ia setujui dalam melaksanakan prinsip tersebut. Dalam beberapa hal, ia dijelaskan, “umumnya menguntungkan untuk menekan industri luar negeri sedikit untuk kepentingan kemajuan industri dalam negeri. Pertama, jika suatu industri diperlukan untuk kepentingan pertanahan negara”. Biarpun jika ditinjau dari alasan-alsan ekonomi murni adanya itu tidak dapat dibenarkan, karena “pertanahan lebih penting lagi dari pada kekayaan”. Dalam hidup didunia yang selalu berada dalam keadaan perang ini, Smith mengakui, bahwa negara-negara besar dengan siapa kita dimasa damai dapat berdagang dengan beroleh keuntungan lebih berbahaya dari pada negera-negara yang miskin. Juga ia menyetujui perlindungan pajak untuk “industri-industri muda” sehingga mereka dapat berkembang lebih cepat, kira-kira sampai kebatas dimana mereka dapat mempertahankan diri, jika diukur dari sudut ekonomi. Selanjutnya, Smith menganjurkan supaya segala penurunan tarif harus dilakukan secara “perlahan-lahan, bertingkat-tingkat dan setelah mengumumkan pemberitahuan yang lama”, supaya dapat dilindungi penanaman modal dalam industri-industri yang tidak sanggup mengahdapi saingan luar negeri dan supaya para pekerjanya mendapat kesempatan untuk mencari pekerjaan baru. Pengecualian-pengecualian ini adalah konsesi-konsesi yang wajar bagi mereka yang menentang perdagangan merdeka.

Sekiranya pemerintah, seperti yang dibela oleh Smith, tidak boleh campur tangan dalam soal perdagangan, industri, pertanian dan kebanyakan kegiatan dari sehari-kesehari sebuah negara, apakah menurut hematnya fungsi yang tepat bagi pemerintah? Sebab dengan adanya kenyataan-kenyataan ini maka lapangan pertanggungan-jawab pemerintah akan sempit sekali jadinya. Sebetulnya tanggung jawab negara harus dibatasi pada kewajiban pembelaan terhadap setiap serangan dari luar dan penyelenggaraan badan-badan pengadilan. Smith juga bersedia membiarkan pemerintah mengurus “pendirian dan pemeliharaan lembaga-lembaga dan bangunan-bangunan umum tertentu yang tidak mungkin dapat dianggap termasuk kepentingan perseorangan atau beberapa orang individu; untuk menegakkan dan mengurusnya; karena keuntungan yang diperoleh tidak mungkin dapat mengimbangi pengeluaran perseorangan atau kumpulan individu-individu, sedangkan bagi masyarakat keuntungan ini mungkin sekali bukan saja mengimbangi pengeluaran, tapi bahkan lebih lagi dari pada itu”. Dalam daftar pendek yang telah diperbuat Smith mengenai fungsi-fungsi yang partut diberikan kepada negera termasuk penyelenggaraan jalan-jalan, penerangan jalan dan kota, penyediaan air. Jadi, Adam Smith melihat sedikit sekali alasan untuk adanya apa yang ia sebutkan “mahluk busuk dan licik yang secara umum disebut negarawan dan politikus” diluar pengurusan perdamaian keluar dan keamanan dalam negeri.

Tapi dalam salah satu dari pengecualiannya, ia jauh lebih maju dari jamannya; ikut sertanya pemerintah dalam soal pendidikan rakyat. Smith memberikan penjelasan sebagai berikut:

Seorang manusia yang tidak memakai kesanggupan-kesanggupan akal seorang manusia dengan semestinya, adalah, jika hal ini memang bisa terjadi, lebih hina lagi dari seorang pengecut dan sebenarnya cacat dan pehong dibagian yang lebih hakiki dari sifat-sifat kemanusiaannya. Biarpun negara tidak boleh mengharapkan keuntungan dari pendidikan rakyat rendah, toh golongan ini masih patut mendapat perhatian sehingga tidak sampai terjadi mereka tidak beroleh pendidikan sama sekali. Sebetulnya negara bukannya tidak mendapat manfaat tak berhingga dari pendidikan yang mereka peroleh, Karena makin baik didikan mereka makin kurang mereka dapat dipengaruhi oleh pukauan semangat dan rachyul yang dinegara-negara yang tak mengetahui sering sekali menyebabkan kekacauan yang hebat. Disamping itu seorang yang teridik dan cendekia adalah lebih jujur dan lebih tahu aturan dari pada orang yang bodoh dan dungu. Masing-masing mereka akan merasa diri mereka lebih terhormat dan mereka akan ingin memperoleh penghargaan, dari pimpinan-pimpinan mereka yang sah dan karena itu mereka lebih mau menghormati pemimpin-pemimpin ini ………………. Dinegara-negara yang merdeka dimana keselamatan sebuah pemerintah banyak sekali tergantung dari putusan-putusan yang menguntungkan yang mungkin diberikan oleh rakyat tentang tindakan-tindakannya, adalah penting sekali supaya rakyat dalam soal itu tidak mengeluarkan kesimpulan-kesimpulan dengan terburu-nafsu atau dengan tak dipikirkan terlebih dahulu.

Sebuah penilaian yang tak berat sebelah dan tanpa perasangka mengenai Adam Smith dan karyanya, adalah suatu hal yang sulit sekali untuk diberikan, biarpun diwaktu sekarang ini duaratus tahun setelah bukunya itu diterbitkan. Misalnya, Buckle menganggap kitab Kekayaan Bangsa-bangsa dalam bukunya Sejarah Peradaban (Hystory of Civilization) “…………. mungkin sekali sebuah buku terpenting yang pernah ditulis manusia, baik dilihat dari kadar pikiran-pikiran asli yang terkandung didalamnya maupun pengaruh praktisnya”. Seorang pengarang lain. Max Lener, yang sungguhpun tak begitu bersimpati terhadap Smith, mengaku bahwa Kekayaan Bangsa-bangsa “telah memberikan sumbangan barangkali sama banyak dengan sumbangan kitab modern yang manapun juga yang sampai kini telah ikut membentuk pemandangan hidup sebagai yang kita hadapi sekarang”. Lerner, dengan pandangan yang tajam mengulas, bahwa “mereka yang membaca buku ini terutama adalah mereka yang mengharapkan keuntungan dari caranya memandang dunia – yaitu klas pengusaha yang sedang naik, panitia-panitia eksekutif politik disemua parlemen didunia ini dan panitia-panitia eksekutif intelektuil mereka diakademi-akademi. Melalui golongan-golongan ini karya ini telah memperoleh pengaruh yang besar atas rakyat-rakyat bawahan diseluruh dunia, biarpun mereka tak kenal karya tersebut; dan berkat mereka karya ini juga telah beroleh pengaruh yang besar atas berbagai pendirian ekonomi dan politik nasional”.

Pendapat kedua ahli ini dibenarkan oleh seorang ahli ekonomi politik Inggris yang terkenal J.A.R. Marriott yang mengatakan “Mungkin sekali tidak ada sebuah karyapun yang ditulis dalam bahasa Inggris yang dalam jamannya memperoleh pengaruh begitu jelas atas pemikiran ekonomi secara ilmiah dan atas tindakan-tindakan administratif. Bahwa pengaruh itu masih tetap akan ada, terdapat alasan-alasan yang kuat”. Ahli ekonomi yang lain. W.R. Scott, menambahkan: “Secara intelektuil ia (Smith) adalah seorang jago yang tajam dalam melihat kehidupan ekonomi dengan nanap dan menyeluruh.”

Sebaliknya, banyak pemikir-pemikir liberal dan radikal yang merasa berat untuk memaafkan Smith atas ekses-ekses dari laissez-fairenja sebagai dipraktekkan oleh pengusaha-pengusaha dan industrialis-industrialis yang menganggap tulisan Smith sebagai petunjuk mereka. Ajaran-ajaran yang ia bela untuk keselamatan kaum buruh, petani, pembeli dan masyarakat umumnya, kemudian diputar balikkan oleh kepentingan-kepentingan yang tak bertanggung jawab, untuk memperoleh ijin-ijin tak terbatas bagi diri mereka sendiri, bebas dari segala pengawasan dan campur-tangan pemerintah.

Juga ada lagi teka-teki lama tentang mana yang dulu, ayamkah atau telorkah. Apakah prinsip-prinsip Smith akan dijalankan orang juga dalam perkembangan industri dan perdagangan biarpun tak pernah ia tuliskan, atau apa memang Kekayaan Bangsa-bangsa telah mengendapkan perobahan yang cepat yang terjadi setelah buku ini diterbitkan dan dengan demikian menyediakan suatu filsafat dan rencana untuk gerakan baru ini? Barangkali kebenaran terletak ditengah-tengah diantara keduanya.

Katakanlah, Adam Smith telah memilih saat yang tepat sekali untuk dilahirkan kedunia ini. Sambil berdiri diambang pintu antara dua kurun jaman sejarah, ia mengemukakan liberalisme ekonomi baru. Suatu dunia yang berhati-terbuka mendengarkan dan mempergunakan ajaran-ajarannya untuk menimbulkan suatu perobahan ekonomi yang besar. Pengusaha-pengusaha Inggris, sewaktu Revolusi Industri berlangsung, mengakui kebenaran ajaran-ajaran Smith lalu meniadakan pembatasan-pembatasan dan hak-hak istimewa kaum merkantilis dan dengan demikian telah membawa Inggris dalam abad ke-XIX kekedudukan suatu negara yang terkaya didunia. Dinegara-negara dagang yang besar diluar Inggris, pikiran-pikiran Smith tak kurang pengaruhnya. Sehingga, barangkali hanya sedikit orang yang akan mau mengengkari bahwa Adam Smith memang sepatutnya diberi julukan “Ayah dari ekonomi modern”. (Copyrigth @ Galeri Buku Jakarta)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Buku

Sekilas Karl Marx dan Bukunya Das Kapital

mm

Published

on

Dalam duka-pidato penguburan Karl Marx, Friedrich Engels menyimpulkan bahwa “diatas segala-galanya Karl marx adalah seorang revolusioner, dan tujuan besar dalam hidupnya ialah memberikan sumbangan dengan salah satu cara untuk menghancurkan masyarakat kapitalis dan lembaga-lembaga negara yang telah diciptakan masyarakat ini”. Dengan kata-kata ini, pembantu, murid dan sahabat marx yang terdekat ringkas menyimpulkan tenaga penggerak dari kehidupan pemberontak sosial yang termasyur ini.

Marx terlahir dalam suatu jaman yang gaduh. Pemberontakan dan kekacauan selalu mengancam. Kenangan pada revolusi Perancis yang pertama masih segar sedangkan yang lain sudah mengancam lagi. Jaman-jaman berikutnya ditandai oleh kegetiran dan ketidak-puasan rakyat yang luas, dan pengeritikan terhadap lembaga-lembaga yang ada. Dalam tahun 1848, perasaan ini telah bertumpuk menjadi suatu tenaga yang bisa meledak. Lalu meletuslah revolusi diseluruh Eropa. Bahkan di Inggris, Gerakan Chartis mengancam pemerintahan yang ada. Tekanan-tekanan untuk mengurangi salah-guna yang terlahir dari industrialisme baru, dan penghancuran pertahanan-pertahanan terakhir feodalisme terasa dimana-mana. Jaman ini memang cocok betul buat temperamen Marx yang subversif dan non-conformistis.

Marx dilahirkan dalam tahun 1818 di Trier di Rheinland Jerman sebagai anak seorang ahli hukum yang kaya. Dari kedua belah pihak orang tuanya. Karl adalah keturunan rabbi-rabbi Yahudi, tapi waktu ia masih kanak-kanak seluruh keluarga itu telah masuk agama Nasrani. Dalam hidupnya, barangkali sebagai reaksi terhadap halangan-halangan yang ditimbulkan latar belakang rasialnya, Marx selalu bersikap anti-semit.

Marx muda belajar ilmu-ilmu hukum dan filsafat di Bonn dan Berlin, dengan cita-cita akhirnya akan mencapai kedudukan seorang guru-besar. Tapi pendiriannya yang makin lama makin bertentangan dengan faham-faham kuno telah menutupkan pintu baginya jabatan ini lalu ia mengarahkan diri pada pekerjaan kewartawanan. Sebuah berkala bru Rheinische Zeitung baru saja dimulai penerbitannya dalam tahun 1842, dan Marx menjadi penyumbang yang pertama dan kemudian dalam waktu singkat menjadi pemimpin redaksinya. Serangan-serangan terhadap pemerintah Prusia dan nada suara berkala itu yang umumnya radikal, menyebabkan berkala ini dilarang setelah setahun lebih.

Marx pindah ke Paris untuk mempelajari sosialisme dan menulis untuk sebuah berkala yang juga singkat umurnya. Buku-buku Tahunan Franco-Jerman (Franco-German Year Books). Disana ia berkenalan dengan wakil-wakil terkemuka dan pemikiran-pemikiran sosialis dan komunis. Dilihat dari sudut perjalanan hidup Marx dimasa datangnya, maka saat yang penting dari msa itu ialah, permulaan dari persahabatannya seumur hidup dengan Friedrich Engels. Engels adalah seorang kawan senegeri Marx. Sebagai anak dari seorang pembuat kain, ia boleh dianggap berkemampuan juga dan pengambdiannya kepada cita-cita sosialis sama besarnya dengan Marx sendiri. Dasar-dasar dari kitab Marx yang kemudian akan terbit Das Kapital telah dibangunkan oleh Engels dalam tahun 1845 dengan penerbitan karangannya Keadaan Kelas Buruh di Inggris (Condition of the Working Classs in England).

Agitasi yang dilanjutkan oleh Marx terhadap pemerintah Prusia telah menyebabkan pembesr-pembesar Perancis mengusir dia sebagai seorang asing yang tidak dikehendaki. Ia mencari perlindungan di Brussel selama tiga tahun, dan kemudian untuk waktu singkat ia kembali ke Jerman. Setelah dibuang kembali, ia kembali ke Paris semasa revolusi tahun 1848. Dalam tahun itu dengan bekerja sama dengan Engels ia telah menulis dan menerbitkan Manifes to Komunis yang termasyur. Pamflet ini adalah salah sebuah dri karangan-karangan radikal yang paling garang dn paling berpengaruh yang pernah dicetak Pamflet ini berakhir dengan semboyan yang menggerakkan:

Kaum komunis merasa tidak perlu untuk menyembunyikan pendapat dan maksudnya. Dengan terus terang mereka mengumumkan bahwa tujuan mereka hanya dapat dicapai dengan merubuhkan seluruh susunan masyarakat ini dengan kekerasan. Biarlah klas-klas pemerintahan gemetar depan reolusi komunis. Kaum buruh tidak akan kehilangan apa-apa kecuali berlenggu mereka. Mereka hanya akan memenangi seluruh dunia.

Buruh sedunia bersatulah!

Kemana saja Marx pergi ia adalah seorang tukang pidato yang garang dan aktif; ia mengorganisir gerakan-gerakan buruh; ia memimpin penerbitan-penerbitan komunis dan menganjurkan pemberontakan.

Kekandasan revolusi-revolusi Eropa 1848 sampai 1849 menyebabkan benua ini jadi sempit bagi Marx. Ia pindah ke Inggris dalam musim panas tahun 1849, tatkala mana ia berumur 31 tahun, dan tinggal di Londok untuk seumur hidup. Sebelum itu ia telah menikah dengan Jenny von Westfalen, anak seorang pembesar Prusia, dan istrinya ini tetap setia sebagai kawan sejawatnya untuk hampir selama 40 tahun, menyertainya dalam suatu masa kemelaratan yang amat sangat, kekurangan dan keburukan nasib. Dari keenam anak mereka, hanya tiga yang  hidup dan menjadi dewasa, dan dari yang tiga, dua orang kemudian membunuh diri. Tak sangsi lagi, tahun-tahun kemelaratan ini telah mewarnai pandangan Marx dan menjadi sumber dari begitu banyak kebencian dan kegetiran dalam tulisannya. Hanya bantuan-bantuan keuangan yang sering dari Friedrich Engels yang telah menyelamatkan keluarga Marx dari pada kelaparan. Satu-satunya penghasilan Marx ialah se-guinea seminggu, diterima dari surat kabar Tribune New York sebagai imbuhan terhadap surat-surat tentang soal-soal Eropa, dan pembayaran yang tak tetap buat karangan-karangan yang semata ditulis untuk mencari makan.

Tapi biarpun menderita kemelaratan, buruan penagih-penagih hutang-hutang, penyakit dan kekurangan yang tak putus-putusnya melingkungi Marx didistrik Soho yang guram, dimana ia berdiam. Marx tetap tak lelah-lelahnya dalam usahanya memajukan alasan-alasan sosialis. Dari tahun ke tahun, sering kali sampai 16 jam sehari, ia bekerja di Museum British untuk mengumpulkan bahan yang besar jumlahnya  untuk sebuah karya yang kelak akan diberi nama Das Kapital. Jika tidak dihitung lowong-lowong yang disebabkan oleh kegiatan-kegiatan lain dan penyakit, maka buku ini telah memakan waktu persiapan selama 18 tahun. Engels yang sementara itu menyokong keluarga Marx sudah putus harapan bahwa buku itu akan selesai. “Pada hari naskah itu dimasukkan kepercetakan saya akan minum sampai mabuk dengan segala kebersaran,” katanya. Kedua mereka,Engels dan Marx menyebut buku itu sebagai “buku laknat”, dan Marx mengakui bahwa buku itu adalah sebuah “mimpi ngeri yang sempurna.”

Suatu kejadian besar dalam kehidupan Marx dalam tahun-tahun ini ialah terbentuknya Perhimpunan Kaum Pekerja Internasional yang sekarang dikenal sebagai Internasional Pertama, dalam tahun 1864. Usah aini adalah suatu percobaan. Biarpun telah menarik diri dari kehidupan umum. Marx adalah tenaga yang berdiri dibelakang layar dan ialah yang menulis hampir semua dokumen-dokumen perserikatan ini, pidato-pidato, peraturan-peraturan dan programma. Tapi percekcokan didalam dan persaingan untuk menduduki kursi pimpinan bersamaan dengan ketidak-populeran yang dialami organisasi ini setelah kandasnya Commune Paris dalam tahun 1871, telah menyebabkan Perserikatan ini dibubarkan. Kemudian ia diikuti oleh Internasional Kedua, yang mewakili golongan-golongan sosialis barat dan Internasional Ketiga atau Comintern yang mewakili dunia komunis.

Masa pengandungan yang panjang dari Das Kapital akhirnya berakhir. Diakhir tahun 1866, naskah lengkap dari jilid pertama dikirimkanke Hamburg, dan dalam musim gugur tahun berikutnya buku ini keluar dari percetakan. Buku ini ditulis dalam bahasa Jerman, sedangkan terjemahan dalam bahasa Inggris baru akan terbit kira-kira duapuluh tahun sesudahnya. Terjemahan pertama kedalam bahasa lain – tepat sekali jika dilihat dalam sinar kejadian-kejadian yang akan terjadi sesudahnya – ialah kedalam bahasa Rusia dalam tahun 1872.

Dalam masa Marx, Inggris adalah contoh utama dari cara-cara bekerja sistim kapitalis. Karena itu contoh yangia pakai untuk menjelaskan teori-teori ekonominya hampir semuanya dipungut dari negeri itu. Contoh-contoh yang kejam cukup banyak, karena lembaga kapitalisme dalam masa Victoria pertengahan itu berada dalam keadaannya yang paling kejam. Keadaan-keadaan sosial diperkampungan-perkampungan pabrik tak dapat dikatakan buruknya. Marx yang mendasarkan pendapat-pendapatnya atas laporan-laporan resmi penyelidikan-penyelidikian pemerintah, telah menjanjikan fakta-fakta itu dengan teliti dalam Das Kapital. Perempuan menarik kapal-kapal terusan sepanjang pinggir terusan itu dengan tali dibahu mereka. Perempuan-perempuan dipasang sebagai hewan-hewan pembawa beban, depan kereta-kereta yang membawa batu arang dari tambang-tambang Inggris. Kanak-kanak mulai bekerja dikilang-kilang tekstil semenjak mereka mulai berumur 9 atau 10 tahun selama 12 sampai 15 jam sehari. Dan waktu peraturan giliran malam menjadi kebiasaan, dikatakan bahwa ranjang-ranjang tempat anak-anak tidak pernah dingin karena dipakai bergiliran. Tuberculosis dan penyakit-penyakit lain yang disebabkan pekerjaan telah membunuh mereka dalam jumlah yang tinggi.

Protes-protes mengenai keadaan yang buruk ini sekali-kali tidak hanya terbatas pada Marx saja. Orang-orang yang berperikemanusiaan seperti pengarang-pengarang Charles Dickens, John Ruskin dan Thomas Carlyle telah menulis berjilid-jilid buku dengan penuh semangat, menyerukan perobahan. Parlemen digoncang kearah perwakilan yang korektif.

Marx bangga sekali dengan penelaahan “ilmiah”nya tentang masalah-masalah ekonomi dan sosial. Seperti dikatakanoleh Engels, “Seperti Darwin menemui hukum evolusi dalam salam organik begitu Marx menemui hukum evolusi dalam sejarah manusia. Gejala-gejala ekonomi”, demikian Marx menegaskan, “dapat diamati dan dicatat dengan ketelitian yang sama seperti ilmu alam.” Seringkali ia menunjukkan kekarya-karya ahli-ahli ilmu hayat, kimia dan tabii (ahli ilmu alam), dan nyata sekali bahwa ia beringin untuk menjadi seorang Darwin sosiologi atau barangkali seorang Newton ekonomi. Dengan jalan analisa ilmiah dari masyarakat. Marx yakin bahwa ia telah menemui bagaimana caranya merubah suatu dunia kapitalis menjadi dunia sosialis.

Metodos “ilmiah” Marx telah banyak sekali menolong diterimanya pikirannya dengan luas, karena konsep evolusi dalam semua lapangan telah memukau alam pikiran abad ke-XIX. Dengan jalan menghubungkan teori perjuangan klasnya dengan teori evolusi Darwing. Marx telah memberikan tempat yang terhormat pada pikiran-pikirannya, dan serentak, demikian ia yakin, telah membuat pikiran-pikiran ini tidak bisa diingkari.

Dalam pandangan Marx dan pengikut-pengikutnya, sumbangan Marx yang terpenting dalamsoal penelaahan ekonomi, sejarah dan ilmu-ilmu pengetahuan masyakat yang lain ialah pengembangan sebuah prinsip yang disebut “materialisme dialektika” suatu sebutan yang sukar dimengerti dan mempunyai arti yang ganda. Biarpun sebutan ini diterangkan lebih lengkap dalam tulisan-tulisannya sebelumnya. Das Kapital mempergunakan teori ini sampai kedetail-detailnya.

Metodos dialektika ini telah diambil oleh Marx dari ahli filsafat Jerman Hegel. Dalam hakekatnya, teori ini menytakan, bahwa segala didunia ini berada dalam pergantian yng terus-menerus. Kemajuan diperoleh berkat reaksi terhadap masing-masing yang lahir dari dua tenaga yng bertentangan. Jadi, misalnya sistim penjajahan Inggris yang ditentang oleh Revolusi Amerika telah menghasilkan negara Amerika Serikat. Sebagai disebutkan oleh Laski. “Hukum kehidupan ialah peperangan dari pertentangan-pertentangan dengan pertumbuhan sebagai akibatnya.”

Premise ini telah menyebabkan Marx merumuskan teorinya tentang materialisme sejarah, atau tafsiran ekonomi dari sejarah. “Sejarah dari setiap masyarakat yang ada,” demikian Marx dan Engels membela, “adalah sejarah dari perjuangan kelas. Orang merdeka dan budak-budak, patricier dan plebeier, tuan dan chadam, kepala tukang dan ahli yang pindah-pindah, pendeknya yang menindas dan yang ditindas, berada dalam perentangan yang tajam. Mereka melangsungkan peperangan yang tak ada akhirnya. (*)

*Dari berbagai Sumber. Oleh Tim Redaksi Galeri Buku Jakarta

Continue Reading

Buku

Sekilas Riwayat Hidup dan Ajaran Carl Gustav Jung

mm

Published

on

CARL, Gustav adalah seorang psikiater berkebangsaan Swiss, pendiri Sekolah Psikologi Analitis. Ia lahir tanggal 26 Juli 1875 di Kesswil dekat Danau Constance, Switzerland, sebagai putra tunggal dari seorang pendeta Protestan. Dalam usia empat tahun keluarganya pindah ke Basel, di mana anak ini dididik dan belajar kedokteran. Nenek-moyang ibunya banyak yang menjadi teolog. Nenek-moyang ayahnya adalah seorang anggota Dewan Katolik di kota Mainz; kakeknya masuk Protestan karena dipengaruhi oleh Friedrich Schleiermacher tahun 1813. Warisan religious ini, boleh jadi mempengaruhi interesenya dengan persoalan-persoalan religious dalam karya Jung. Perkembangannya juga dipengaruhi oleh warisan medis, khususnya dari nenek-moyang ayahnya yang menjadi dekan pada Fakultas Kedokteran di Universitas Basel (1822) dan mendirikan rumah sakit jiwa yang pertama dan sebuah rumah bagi anak-anak lemah mental (feeble-minded).

Sebelum Jung memutuskan untuk masuk kedokteran, ia belajar biologi, zoology, paleontology, dan arkeologi. Penyeledikannya dalam bidang filsafat, mitologi, literature Kristen dari abad-abad pertama, mistisisme, Ghotisisme, dan alkimia diteruskan sepanjang hidupnya, bersamaan dengan minatnya dalam perkembangan-perkembangan ilmiah. Pikirannya dengan interese yang besar dapat mempersatukan pikiran-pikiran yang sangat berbeda-beda ke dalam satu kesatuan yang erat dan menyebabkan ajarannya memiliki (mengandung) dua aspek, yang menghubungkannya dengan ilmu eksakta dan ilmu kemanusiaan, sehingga menurut pandangannya ini dapat mengungkapkan dengan paling baik banyak segi dari struktur psike.

Jung menjadi asisten dokter pada Klinik Psikiatri di Burgholzli pada Universitas Zurich dibawah Wugen Bleuler tahun 1900. Tahun 1902 dia memperoleh gelar doctor dengan disertasinya: “Zur Psychologie und Pathologie sogenannteer okkulter Phanomene” (“On the Psychology and Pathology of So-Called Occult Phenomena”). Di dalam disertasi ini, dia mengemukakan salah satu dari konsep dasar yakni keutuhan fundamental dari psike yang merupakan dasar semua gejala psikis. Sementara mengobservasi keadaan kesurupan seorang anak muda, Jung yakin bahwa dia dapat melihat usaha-usaha dari satu kepribadian yang lebih lengkap, dan yang masih tersembunyi dalam alam ketaksadaran untuk masuk ke dalam alam kesadaran.

Tahun 1902 Jung berangkat ke luar negeri, mula-mula ke Paris di mana ia menghadiri kuliah dari Pierre Janet, kemudian ke London. Tahun 1903, Jung nikah dengan Emma Rauschenbach, yang merupakan pendamping dan kawan kerjanya dalam bidang ilmu sampai kematiannya tahun 1955.

Hasil-hasil penyelidikan eksperimental yang pertama dipimpinnya dalam kerja sama dengan Franz Riklin dan orang-orang lain, muncul dalam tahun 1904 dengan judul “Diagnostische Assoziationsstudien” (1918; Studies in Word Association). Penyelidikannya ini menyajikan suatu metoda untuk menemukan kelompok-kelompok isi “psikis emosional” (feeling-toned) yang ditekan. Untuk itu ia menciptakan term baru yang terkenal yaitu “Kompleks”, Karya ini menjadikannya tenar dan menyebabkan pertemuannya dengan Sigmund Freud tahun 1907; dalam tulisannya mengenai interpretasi mimpi, Jung mendapat konfirmasi (pengesahan) atas penyelidikannya sendiri.

Jung biasanya dipandang sebagai seorang murid, dan dimata pengikut dari Sekolah Freud (Freudian School), Jung dianggap sebagai murid yang telah mengingkari agama. Akan tetapi ini sama sekali tidak benar. Bahkan walaupun Jung menyokong ide-ide dan metoda-metoda Freud dalam tahun-tahun kerja sama mereka yang membangkitkan semangat dan membawa hasil, namun banyak konsep fundamental dari ajarannya sendiri dapat ditemuinya beberapa tahun sebelum bertemu dengan Freud. Terlebih lagi periode kerja sama mereka berlangsung hanya dari tahun 1907-1913. Perbedaan-perbedaan dalam titik tolak psikologis dan seluruh pandangan dunia segera menjadi jelas. Jung dua puluh tahun lebih muda dari Freud; karena kepribadian Jung yang kuat dan mempunyai kehendak sendiri, akhirnya hubungan bapak-anak tidak dapat bertahan lama. Jung sendiri juga tidak dapat menganuti banyak doktrin Freud seperti teori tentang pemenuhan keinginan atau seksualitas infantile. Terutama sekali Jung menentang prinsip-prinsip analitis Freud yang dalam pandangannya terlalu berat sebelah, terlalu konkret, dan personalistis. Jung juga membantah pandangan Freud tentang karakter anak yang bersifat polymorphous-perverse (yang belum mempunyai satu bentuk tertentu dan bersikap tidak wajar) sambil mengemukakan konsepnya sendiri tentang suatu disposisi yang polyvalent. Disposisi polyvalent ini tidak didominir oleh prinsip kenikmatan (lust-prinzip) dan juga tidak didominir oleh suatu keinginan untuk diterima, melainkan lebih memperlihatkan kecenderungan khusus fantasi anak untuk membuat suatu “interpretasi simbolis lebih daripada satu tafsiran ilmiah rasional”; fantasi simbolis anak adalah aktivitas natural dan spontan yang menurut Jung bukan merupakan hasil dari penekanan saja (repression).

Sesudah memberi kuliah di Amerika Serikat bersama dengan Freud tahun 1911, Jung menghentikan karirnya sebagai penerbit dari majalah Jahrbuch fur psychologische und psychopathologische Forschungen (Yearbook for Psychological and Psychopathological Research), yang telah didirikan oleh Bleuler dan Freud. Jung juga berhenti sebagai ketua dari Perkumpulan Psikoanalitis Internasional (“International Psychoanalytic Society”) yang mana Jung sendiri dirikan, dan masih merupakan organisasi professional Freudian (Pengikut Freud). Jung menjelaskan pandangan-pandangan baru yang berbeda dengan pandangan Freud dalam buku-bukunya yang mungkin paling terkenal dari semua buku Jung yaitu Symbole und Wandlungen der Libido (1912; Synbols and Transformation of the Libido). Kemudian diterbitkan lagi dengan judul Symbole and Wandlung (1952; Symbols of Transformation). Dengan bantuan bahan fantasi dari seorang gadis dalam tahap-tahap permulaan schizophrenia. Jung berusaha menyingkapkan arti simbolis isi dari alam ketaksadaran dan menginterpretasinya dengan parallel-paralel yang diambil dari bidang sejarah dan mitologi. Kemudian keterpisahannya dari Freud tak dapat dielakkan lagi. Untuk bisa membedakan ajarannya dari sekolah-sekolah yang lain itu, Jung memberinya nama “Psikologi Analitis” (analytical psichology) , yang berbeda dengan psikoanalisa Freud dan psikologi individual Alfred Adler.

Dalam tahun 1909, Jung berhenti dari pekerjaanya di Burgholzli, dan tahun 1913 melepaskan jabatannya sebagai dosen pada Universitas Zurich yang telah dipegangnya sejak tahun 1905. Jung makin lama makin menjadi lebih terpikat untuk studi tentang symbol-simbol mitologis dan symbol-simbol religious. Pada awal pecahnya Perang Dunia I, mulailah suatu periode introspeksi yang tergabung dengan penyelidikan empiris, suatu periode kosong (belum ada publikasi) yang berakhir sampai diterbitkannya Psychological Types tahun 1921. Dalam karyanya ini, Jung membedakan posisinya dari Freud dan meletakkan dasar psikologi analitis. Dalam tahun 1920, Jung pergi ke Tunisia dan Algeria; dari tahun 1924-1925 ia menyelidiki orang Indian Pueblo di New Mexico dan Arizona dan dalam tahun 1925-1926 ia menyelidiki penduduk-penduduk Mount Elgon di Kenya. Jung terutama berminat dalam mencari analogi antara isi dari alam ketaksadaran dalam manusia Barat dan mite-mite, kultus-kultus, dan ritus-ritus manusia primitive. Ia melakukan beberapa perjalanan ke Amerika Serikat dan dua kali mengunjungi India (yang terakhir kali tahun 1937). Simbol-simbol religious dari Hinduisme dan Budhisme, khususnya ajaran dari Budhisme Zen dan filsafat Konfusius, memainkan peranan penting dalam penyelidikan psikologisnya.

Pada tahun 1948, Institut C.G. Jung didirikan di Zurich untuk meneruskan ajarannya dan sebagai pusat latihan bagi analisis-analisis. Karyanya dilanjutkan di Inggris oleh “Society of Analytical Psychology” (Perkumpulan Psikologi Analitis), dan dia beberapa perkumpulan lain di New York, San Francisco, dan Los Angeles, serta di beberapa negara Eropa.

Jung adalah ketua Perkumpulan Swiss untuk Psikologi Praktis, yang didirikannya tahun 1935. Tahun 1933-1942 ia menjadi professor pada Federal Technical College di Zurich, dan pada tahun 1949 menjadi professor psikologis medis di Basel. Ia menerbitkan majalah Zentralblatt fur Psychotherapie und ihre Grenzgebiete (Central Journal for Psychoterapy and Related Fields) dari tahun 1933-1939. Jung meninggal di Kusnacht di Danau Zurich pada tanggal 6 Juni 1961.

Ketika ditanya tentang data biografinya, Jung menegaskan bahwa ia hanya mempunyai “kehidupan batin saja” (He has an inner life). Segala sesuatu yang ia alami dalam dunia luar menjadi sebuah pengalaman pribadiah.

Psikologi Analitis

Individuasi adalah inti ajaran Jung: Individuasi adalah kemungkinan yang terdapat dalam species-species manusia dan pada setiap orang dengan mana psike individual dapat mencapai perkembangan yang lengkap dan utuh. Proses individuasi berpangkal dari keseluruhan psike, suatu organism yang bagian-bagian individualnya dikoordinir oleh system relasi komplementer dan saling mengimbangi dan memperkembangkan kematangan kepribadian. Jung menekankan pentingnya fungsi religious dari psike. Penekanan relasi fungsi religious ini dapat membawa gangguan psikis, sedangkan perkembangan religious adalah satu komponen integral dari proses individuasi.

`Jung menganggap neurosis bukan hanya sebagai satu gangguan, tetapi juga sebagai satu dorongan hati yang penting untuk meluaskan kesadaran yang terlalu sempit dan karena itu sebagai stimulus bagi pendewasaan yang terlambat, yang berarti dorongan untuk menjadi sembuh. Dari sudut pandang positif ini, suatu gangguan psikis dianggap bukan sebagai satu kegagalan, keadaan sakit, atau perkembangan yang terhenti, tetapi sebagai suatu dorongan menuju realisasi diri dan keutuhan, yang untuk sementara waktu dihalangi.

Metoda terapi dari Jung berbeda dengan metoda Freud. Si analis tidak selalu tinggal pasif tetapi sering kali memainkan sebuah peranan aktif. Tafsirannya atas mimpi-mimpi dibuatnya dengan tingkat (level) yang berbeda. Lebih daripada asosiasi bebas, Jung menggunakan apa yang ia namakan “Amplifikasi” (perluasan), ini berarti suatu asosiasi yang terarah, yang mempergunakan motif-motif dan simbol-simbol dari sumber-sumber lain untuk mengerti isi mimpi itu.

Jung memperkenalkan konsep alam ketaksadaran kolektif. Isi dari alam ketaksadaran kolektif adalah apa yang dinamakan arketipe-arketipe. Arketipe-arketipe adalah bentuk-bentuk pembawaan lahir dari psike, pola dari kelakukan psikis yang selalu ada secara potensial sebagai kemungkinan, dan apabila diwujudkan, nampak sebagai gambaran spesifik. Sebab dalam psike manusia tergabung sifat-sifat khas yang umum, yang ditentukan oleh species-species manusia, ras, bangsa, keluarga, dan mental zaman dengan sifat-sifat khas, unik, dan personal. Sebab itu fungsi natural dari psike ini hanya dapat diperoleh dari hubungan timbal-balik dua alam ketaksadaran (personal dan kolektif), dan relasi mereka dengan alam kesadaran.

Jung juga memperkenalkan teori yang terkenal mengenai tipe-tipe. Ia membedakan antara tingkah laku ekstrovert dan introvert menurut sikap individu terhadap obyek.

Bidang-bidang Studi yang lain

Penelitian Jung diperluas ke bidang-bidang yang rupanya tidak ada hubungannya dengan psikologi. Dalam percobaan-percobaan alkimia abad pertengahan untuk mengubah inti logam, ia melihat satu proyeksi dari proses penghalusan batin yang analog dengan perubahan bentuk yang disebabkan oleh proses individuasi. Studinya mengenai yoga dan Gnostisisme membawa dia kepada penemuan paralel-paralel yang interesan dalam psike, setelah tersentuh/tercapai lapisan arkais/yang paling mendalam. Penyelidikannya dalam para-psikologi juga membuka horizon-horizon baru. Beberapa fenomen tidak dapat dijelaskan secara ilmiah, seperti telepati, clairvoyance (tukang tenung/sihir), dan mujijat-mujijat yang jelas, yang diistilahkannya “gejala-gejala sinkronis” (Synchronistic phenomena). Gejala-gejala ini oleh Jung didefinisikan sebagai koinsiden yang bersifat kebetulan tetapi “berarti/penuh dengan arti” (meaningful), antara peristiwa batin misalnya (mimpi, premosi/pertanda, penglihatan, keadaan batin) dengan satu peristiwa lahiriah dan real. Koinsiden ini terjadi entah dalam waktu sekarang atau dalam waktu yang baru lewat atau dalam waktu yang akan datang. Kedua macam peristiwa ini (yang batiniah dan yang lahiriah) tidak mempunyai hubungan kausal. Gejala sinkronis ini disebut pengetahuan langsung yang “rupanya ada lebih dulu” (apparently-pre-existent) dalam alam ketaksadaran.

Arti dari Psikologinya

Perbedaan antara psikoanalisa Freud dan psikoanalitis Jung diwarnai oleh dua abad yang pada titik pertemuannya melahirkan dua system psikologis yang berbeda. Freud membongkar ideal-ideal dari periode Victorian (yang bersifat munafik ) dan menyoroti dengan terang pada bagian bawah dari periode dengan memperlihatkan “kemesuman” (filth) yang telah ditekan ke dalam alam ketaksadaran. Meskipun penyelidikannya tentang alam ketaksadaran psike personal, ia toh tetap terikat pada materialism dan rasionalisme dari zaman yang terdahulu. Daya irasional tiba-tiba muncul sejak peralihan zaman, dan mewujudkan diri sendiri dalam dua perang dunia, yang sekarang mengancam dunia dengan teror-teror yang tidak dapat dibayangkan. Justru daya irasional ini dapat dijelaskan dalam teori-teori Jung. Ia menunjukkan daya irasional ini sebagai kekuatan asli yang tidak personal atau superpersonal yang mana muncul dari alam ketaksadaran kolektif yaitu dasar dari kehidupan psikis, sebagai jin-jin gelap dari mitologi.

Jung menulis “Saya yakin bahwa penyelidikan mengenai psike merupakan ilmu yang paling penting dalam masa depan ….. Itu adalah ilmu yang sangat kita butuhkan sebab berangsur-angsur menjadi jelas bahwa bahaya yang terbesar bagi manusia adalah bukan kelaparan, bukan pula gempa bumi, bukan juga kuman-kuman, bukan kanker, tetapi manusia itu sendiri ……”

Karya-karyanya

Hasil karya Jung sangat banyak jumlahnya, kira-kira dua ratus karangan. Satu edisi dari semua karyanya (Collected Works) dalam terjemahan bahasa Inggris sekarang sedang diterbitkan oleh Bollingen Foundation di New York dan Routledge juga Kegan Paul di London.

Judul-judul dari volume-volume adalah sebagai berikut: Psychiatric Studies, Experimental Researches (Penelitian-penelitian Eksperimental), Psychogenesis and Mental Disease, Freud and Psychoanalisis (Freud dan Psikoanalisa), Symbol of Transformation, Psychological Types, Two Essays on Analytical Psychology, The Structure and Dinamics of the Psyche, The Archetypes and the Collective Unconscious and Aion (two parts), Civilization in Transition, Psychology and Religion, West and East, Psychology and Alchemy, Alchemical Studies, Mysterium Conjunctions, The Spirit in Man, Art and Literature, The Practice of Psychotherapy, The Development of Personality.

Beberapa volume tambahan memuat seminar-seminar ekstensif dari Jung. Kita juga harus menyebutkan karya-karya yang dipublisir dalam kerjasama dengan orang lain: ahli kebudayaan Cina (sinologist) Richard Wilhelm, The Secret of the Golde Flower; ahli mitologi Karl Kerenyi, Essays on a Science of Mythology; ahli fisika Wolfgang Pauli, Interpretation of Nature and Psyche.(*)

* Terjemahan dari bahas Jerman ke dalam bahasa Inggris: R.F.C. Hull. Diterjemahkan dari: Collier’s Encyclopedia, Vol.13, 1968. Terjemahan Indonesia oleh Thoby M. Kraeng.

**Dari berbagai sumber, tim redaksi Galeri Buku Jakarta/ 2016.

Continue Reading

Journal

Albert Camus: Cinta dan Peradaban

mm

Published

on

Albert Camus Cinta dan Peradaban

DALAM DRAMA, novel, dan esei-eseinya, Albert Camus telah berupaya mencari jalan keluar dari kebuntuan intelektual – sebagai ujung dari nihilisme – yang sedang dihadapi generasi saat ini. Berulang-ulang ia bertanya: dengan nilai apa kita bisa bertahan di dalam era kekeringan spiritual? Dengan menyinkap ilusi-ilusi dan mempertanyakan semua kemutlakan, atas nama kemanusiaan, Camus menulis tentang cinta sebagai sebuah nilai yang tidak diberikan, tapi tumbuh di dalam sebuah situasi yang hidup.

Dalam The Myth of Sysyphus, Camus pertama kali menggali implikasi dari bunuh diri – untuk hidup atau tidak hidup. Sementara dalam The Rebel, buku yang menjadi rujukan tulisan berikut ini, Camus membahas topic tentang pembunuhan – untuk mempertahankan diri atau untuk tidak mempertahankannya. Sejumlah doktrin pemberontakan yang digagas Camus, memberikan kemungkinan untuk berharap, juga kemungkinan untuk memiliki rasa percaya diri bagi manusia dan masa depannya. “Camus percaya bahwa pemberontakan adalah salah satu ‘dimensi esensial’ dari umat manusia,” demikian tulis Sir Herbert Read pada pengantar buku itu. “Tidak ada gunanya menolak realitas sejarah – alih-alih menolak, dalam realitas itu, justru kita harus mencari sebuah prinsip keberaaan. Namun, cara-cara memberontak telah berubah secara radikal pada masa kita. Pemberontakan tidak lagi antara budak dengan tuannya, bukan pula antara si kaya dengan si miskin. Pemberontakan kini menjadi semacam revolusi metafisik, antara manusia dengan situasi hidupnya sendiri, manusia melawan penciptaannya sendiri. Setidaknya, inilah yang menjadi panduan intelektual Camus.”

Albert Camus adalah salah seorang penulis terbaik Prancis, dan pemenang Nobel Sastera. Novelnya antara lain The Stranger, The Plague dan The Fall. (Cetak ulang dari The Rebel, karya Albert Camus, edisi Vintage Books. Diterjemahkan oleh Anthony Bower. Hak cipta 1956 oleh Alfred A. Knopf, Inc. Perjanjian khusus dengan Alfred A. Knopf, Inc.)

 

Siapakah pemberontak itu? Seseorang yang berkata tidak, tapi penolakan itu tidak sepenuh hati. Ia juga seseorang yang berkata “iya”, tapi sejak pertama kali ia telah bergerak untuk memberontak. Seorang pemberontak adalah budak yang telah melakukan perintah tuannya seumur hidupnya, namun tiba-tiba menolak melakukan perintah yang baru. Lalu, apa yang sebenarnya dimaksud budak itu dengan mengatakan “tidak”?

Maksudnya, antara lain tergambar pada kalimat, “Ini sudah berlangsung terlalu lama”, “Sampai saat ini baiklah, tapi lebih dari ini, tidak.” “Kau sudah terlalu jauh,” atau, lagi-lagi, “Kesabaranku ada batasnya.” Dengan kata lain, kata “tidak” dari si pemberontak menegaskan batas kesabarannya. Konsep yang sama terdapat dalam perasaan si pemberontak, bahwa pihak lain yang ia berontaki “sudah keterlaluan,” bahwa pihak lain itu telah menggunakan kekuasaannya semena-mena dan mulai melanggar hak orang lain. Karena itulah gerakan pemberontakan biasanya sejalan dengan gangguan yang dialami pihak tertentu yang berpikir bahwa itu sudah tidak bisa ditolerir lagi.

Itu sebabnya si pemberontak mulai berpikir bahwa, “Ia punya hak untuk…” Pemberontakan tidak akan muncul  tanpa perasaan bahwa si pemberontak pasti benar. Dengan cara inilah budah pemberontak berkata iya atau tidak. Ia menekankan bahwa ada batas-atas, ia mencurigai – dan ingin memelihara — keberadaan hal-hal dalam batasan-batasan itu. Ia mencontohkan, dengan keras kepala, bahwa ada sesuatu dalam dirinya “yang berharga…” dan harus diperhitungkan. Dalam cara tertentu, ia menentang keteraturan dari hal-hal yang menindasnya dengan sebuah keteguhan bahwa hak-haknya tidak boleh dilanggar.

Dalam setiap aksi pemberontakan, si pemberontak muak atas pelanggaran hak-haknya dan merasa dirinya harus diperjuangkan. Karena itu ia membawa nilai-nilai yang mengandung rasa tidak puas dan siap untuk memperjuangkannya, apapun resikonya. Sebelum perasaan itu muncul ia telah lama diam dalam keputusasaan, ia menerima sebuah keadaan, meski ia tahu itu tidak adil. Diam memberikan kesan bahwa seseorang tidak punya opini, dan tidak mengingkan apa-apa. Keputusasaan – memiliki segala hasrat secara umum, sekaligus tidak memiliki hasrat secara khusus. Diam memperlihatkan hal ini.

Namun, pada detik-detik ketika sang pemberontak menemukan suaranya – walaupun hanya berkata “tidak” – ia mulai menginginkan dan mulai menilai. Ia melakukan hal yang berkebalikan dari dirinya sendiri. Ia yang biasanya bekerja karena cambukan tuannya tiba-tiba berbalik dan melawan, untuk mendapatkan pilihan. Tidak semua nilai diikuti oleh pemberontakan, tapi setiap pemberontakan selalu membawa nilai. Atu apakah ini benar-benar pertanyaan tentang nilai?

Kesadaran, betapapun ia membingungkan, berkembang dari setiap aksi pemberontakan yang secara tiba-tiba mengguncangkan persepsi bahwa ada sesuatu di dalam diri manusia yang dapat mengidentifikasi dirinya, walaupun hanya sesaaat. Sampai saat ini diidentifikasi itu belum benar-benar dialami. Sebelum memberontak, seorang budak menerima semua perintah yang diberikan kepadanya. Sangat sering ia melaksanakan perintah, tanpa reaksi perlawanan, walaupun perintah itu lebih patut untuk dilawan daripada dilaksanakan. Ia menerima perintah dengan sabar, walaupun hatinya menolak, ia tetap diam karena ia lebih berpikir tentang kebutuhannya, ketimbang hak-haknya. Tapi dengan memudarnya kesabaran, sebuah reaksi – yang berlawanan dengan apa yang ia lakukan selama ini – bisa muncul. Si budak mulai menolak perintah memalukan dari tuannya, dan secara perlahan-lahan ia menolak perbudakan. Aksi itu bisa berkembang lebih jauh dari sekedar penolakan. Ia juga menolak hirarki yang membatasinya dengan majikan, dan meminta diperlakukan sebagai orang yang setara.

Apa yang pada awalnya hanya perlawanan satu orang, lalu berubah menjadi perlawanan semua orang, meningkatkan gairah perlawanan. Bagian dari dirinya yang ingin dihormati diposisikan di tempat yang paling tinggi dari segalanya, dan menganggapnya lebih penting dari segalanya, bahkan dari hidupnya sendiri. Baginya, bagian itu merupakan kebaikan yang paling mutlak. Lalu, ketika diperlukan sebuah kompromi, si budak tiba-tiba memutuskan (“karena inilah yang harus terjadi…”) untuk mengatakan semua atau tidak sama sekali. Maka, dengan pemberontakan, kesadaran dilahirkan.

Tapi, kita bisa melihat bahwa pengetahuan yang diperoleh dari “semua” masih belum jelas ketimbang “tidak sama sekali”, menegaskah bahwa si pemberontak akan berkorban untuk “semua” yang belum jelas itu. Si pemberontak ingin menjadi “semau” – untuk mengidentifikasi dirinya dengan kebaikan yang baru saja ia sadaridan ia mengingkan orang lain mengetahuinya – atau “tidak sama sekali”. Dengan kata lain, ia rela dihancurkan oleh kekuatan yang menguasainya. Ia mau menerima kekalahan terakhir, yaitu kematian, daripada hidup tanpa identitas – misalnya  tanpa kebebasan. Lebih baik mati di atas kaki sendiri daripada hidup di bawah kaki orang lain.

Nilai-nilai, menurut para ahli, “sebagian besar sering mewakili sebuah transisi dari fakta-fakta mejanjadi hak-hak, dari apa yang diinginkan menjadi apa yang bisa diraih (biasanya melalui perantara dari apa yang lumrah dianggap dapat diraih).” Transisi dari fakta-fakta menjadi hak-hak termanisfestasikan – sebagaimana telah kita bahas – dalam pemberontakan. Begitu pula transisi dari “seharusnya ini memang terjadi” menjadi “bagaimana sesuatu harus terjadi.” Terlebih lagi, ide tentang sublimasi bagi seseorang dalam pemberontakan bisa menjadi kebajikan universal. Konsep “semua atau tidak sama sekali” yang muncul tiba-tiba, menunjukkan bahwa pemberontakan, berlawanan dengan opini saat ini, dan walaupun ia muncul karena aksi yang paling individualistik, sesungguhnya ia mempertanyakan tentang arti dari individual.

Jika seorang individu menerima kematian sebagai konsekuensi dari tindakan pemberontakannya, maka dengan tindakan ia mencotohkan bahwa ia bersedia mati demi kebaikan banyak orang – yang dipercainya lebih penting daripada takdir sendiri. Jika ia memilih mati daripada mengabaikan hak-hak yang ia bela, itu karena ia menganggap hak-hak itu lebih penting daripada dirinya sendiri. Itu sebabnya ia bertindak atas dasar nilai-nilai yang belum pasti – tapi dipercayinya ada di dalam dirinya dan diri setiap orang. Kita melihat bahwa ada semaca afirmasi tersembunyi atas sebuah aksi pemberontakan yang meluas hingga melampaui sekedar aksi individual hingga ia menjauh dari lelaku keseorangan dan menjauh pula dari aksi yang didasarkan pada sebuah alasan.

Namun, perlu dicatat bahwa konsep dari nilai-nilai yang belum terbukti itu bertentangan dengan kemurnian filsafat sejarah – di mana nilai-nilai baru diperoleh (jika memang pernah diperoleh) setelah aksi dilakukan. Analisis terhadap pemberontakan membawa kita pada sebuah kecurigaan yang berbeda dengan pemikiran kontemporer, bahwa pemberontakan adalah tabiat alamiah manusia seperti yang dipercaya oleh orang-orang Yunani. Kenapa harus memberontak jika tidak ada sesuatu yang permanen yang bisa dipelihara dalam diri seseorang? Adalah untuk kebaikan semua orang di dunia bahwa seorang budak menegaskan dirinya setelah ia sampai pada kesimpulan bahwa sebuah perintah telah memenjarakan sesuatu di dalam dirinya, yang bukan miliknya, tapi milik semua manusia – bahkan manusia  yang menghina dan menekannya.

Dua observasi akan mendukung argument ini. Pertama, kita dapat melihat bahwa aksi pemberontakan bukan – secara esensial – sebuah laku egois. Tentunya, ia bisa memiliki motif yang egoistik, tapi orang dapat memberontak sama baiknya dengan perlawanan terhadap penjajahan. Lebih-lebih pemberontak yang tidak memiliki apapun tapi mempertaruhkan segalanya. Ia ingin kehormatan untuk dirinya sendiri, tentunya bila ia mengidentifikasi dirinya untuk memperjuangkan sebuah kelompok masyarakat. Kedua, kita memperhatikan bahwa pemberontakan tidak semata-mata muncul di antara kaum tertekan, tapi dapat pula muncul karena orang lain diperlakukan sebagai kaum yang tertekan. Dalam kasus seperti ini ada perasaan yang sama dengan orang lain. Dan harus ditegaskan bahwa ini bukan identifikasi psikologis – perasaan pura-pura bahwa si pemberontak mengidentifikasi penyiksaan orang lain sebagai penghinaan terhadap dirinya. Sebaliknya, ini sering terjadi karena kita tidak bisa menerima penyiksaan terhadap orang lain yang seringkali dilakukan kepada kita – tapi kita tidak memberontak.

Sejumlah aksi bunuh diri yang dilakukan teroria Rusia di Siberia sebagai protes atas kamerad-kameradnya yang dicambuk dapat menjadi contoh. Tapi ini tidak ada hubungannya dengan perasaan yang menyangkut kepentingan sebuah komunitas. Ketidakadilan yang dilakukan terhadap orang-orang yang kita anggap sebagai musuh sebenarnya dapat menjadi senjata untuk  melawan kita sendiri.  Maka, seorang indivvidu – di dalam dirinya sendiri – tidak memiliki nilai-nilai yang ingin ia bela. Setidaknya dibutuhkan sebuah tata kemanusiaan, untuk melakukannya. Saat memberontak, seseorang mengidentifikasi dirinya dengan orang lain, dan karena itu ia melampui dirinya sendiri. Dari titik ini, pandangan tentang solidaritas manusia menjadi metafisik. Tapi, untuk saat ini, kita hanya membicarakan solidaritas yang timbul karena pengekangan.

Akan sangat mungkin bagi kita untuk mendefinisikan aspek-aspek positif dalam setiap aksi pemberontakan dengan menbandingkannya dengan konsep-konsep yang negatif seperti dendam sebagaimana dikemukakan Scheler. Pemberontakan, dalam kenyatannya, lebih kepada usaha pencapaian suatu klaim, dalam arti yang paling kuat dari kata itu. Dendam didefinisikan dengan sangat bagus oleh Scheler sebagi autointoksikasi (peracunan diri sendiri)—kejahatan terselubung, di dalam peti yang tersegel, dari ketidakmampuan yang diperpanjang terus-menerus. Sebaliknya, pemberontakan menghancurkan segel itu dan mengizinkan seluruh kemampuan ikut berperan. Ia membebaskan air yang tenang dan mengubahnya menjadi amukan badai. Scheler sendiri menekankan aspek pasif dari dendam dan mencontohkan tempat di mana dendam bersemayam dalam psikologi perempuan, yang terdedikasi untuk menginginkan dan memiliki.

Hulu dari sungai pemberontakan, sebaliknya, adalah prinsip kelebihan aktivitas dan energi. Scheler benar bahwa dendam seringkali diwarnai oleh dengki. Bila dendam adalah kedengkian atas sesuatu yang dimiliki, maka pemberontakan adalah pembelaan terhadap sesuatu yang dimiliki itu. Ia tidak mengklaim barang-barang yang tidak dan ingin ia miliki. Tujuannya yang hanya untuk mendapatkan pengakuan atas sesuatu dimiliki itu—di hampir semua kasus—lebih penting daripada apapun yang bisa ia dengkikan. Pemberontakan tidaklah realistis. Menurut Scheler, dendam aka berakhir dengan ambisi tak terwujud, atau kepahitan, baik dendam orang lemah ataupun orang kuat sekalipun. Dalam kasus apapun, dendam adalah sebentuk keinginan untuk menjadi sesuatu yang bukan dirinya sendiri. Sebaliknya, pemberontak, sejak dari langkah pertamanya, menolak orang lain untuk mengubah dirinya. Ia bertarung demi integritas sebuah bagian dari keberadaannya. Tujuan utamanya bukan untuk menguasai, tapi untuk diakui.

Yang terakhir, di sini dendam terlihat mendapatkan kepuasan dengan rasa sakit yang dialami oleh objeknya Nietzsche dan Scheler benar dalam melihat contoh tentang hal ini, di mana seorang Tertulian menginformasikan kepada pembacanya bahwa salahsatu sumber kebahagiaan dari orang yang diberkati adalah dengan melihat orang-orang dari kerajaan Roma dibakar oleh api neraka. Kebahagiaan semacam ini juga dirasakan orang-orang biasa yang pergi melihat eksekusi terpidana mati. Pemberontak, sebaliknya—atas dasar prinsip—bahkan rela mengalami rasa sakit asal integritasnya dihormati.

Karena itu, sulit dimengerti mengapa Scheler menyamakan pemberontakan dengan dendam. Kritiknya terhadap dendam yang dapat ditemukan dalam humanitarianisme—yang ia perlakukan sebagai bentuk non-Kristen dari cinta terhadap umat manusia—mungkin dapat ditempatkan ke dalam bentuk-bentuk tak nyata dari idealism humanitarian, atau pada teknik-teknik teror. Tapi, dendam itu membentuk hubungan palsu antara pemberontakan seorang manusia terhadap keadaannya—semacam kekuatan yang menggerakan seseorang dalam pemelaan terhadap harga diri yang sama bagi semua manusia. Schler ingin mencontohkan bahwa perasaan-perasaan humanitarian selalu disertai oleh kebencian terhadap dunia. Kemanusiaan dicintai secara umum untuk dapat menghindar dari mencintai seseorang secara khusus. Dalam beberapa kasus, ini benar. Dan, lebih mudah untuk mengerti Scheler ketika kita menyadari bahwa gagasan itu muncul dari humanitariansme yang diwakili oleh Betham dan Rousseau.

Tapi cinta manusia terhadap manusia lainnya juga bisa lahir dari hal-hal lain selain dari kalukulasi matematis, atau kesadaran teoritis yang alamiah dari manusia. Sebagai contoh, di wajah utilitarianisme, dan pemikiran Emile ada sejenis logika—sebagaimana yang diperlihatkan oleh Dostovesky dalam karakter Ivan Karamazov—yang berkembang dari tabiat pemberontakan menjadi sebuah kudeta. Scheler menyadari gejala ini dan merancang sebuah konsep yang tergambarkan dengan kalimat: “Tidak ada cinta terhadap sesuatu yang cukup memadai di dunia ini selain cinta terhadap kemanusiaan.” Walaupun pernyataan itu benar, keputusasaan yang dihadirkan oleh Scheler akan berujung menjadi ketiadaan, dan akan menimbulkan kesalahpahaman terhadap karakter pemberontakan Ivan Karamazov. Drama Ivan, sebaliknya, timbul dari kenyataan bahwa terlalu banyak cinta tanpa objek. Cinta seperti ini bahkan bisa menolak Tuhan dan menghasilkan apapun. Karena itulah diputuskan untuk menjatuhkan cinta kepada umat manusia sebagai laku dermawan yang penuh pujian.

Terlebih lagi, laku pemberontak yang telah kita bahas, tidak muncul atas dasar pencapaian keinginan murni. Sementara kita bersikeras bahwa bagian dari diri manusia yang tidak bisa dikurangi menjadi ide-ide yang harus dipertimbangkan—sisi keinginan alamiah yang menggerakkan sebuah aksi yang hidup. Apakah ini berarti tidak ada pemberontakan yang dimotivasi oleh dendam? Tidak, dan kita sudah mengetahui hal ini sejak awal perasaan benci itu muncul. Namun, kita harus memikirkan bahwa ide pemberontakan, dalam arti luas, mengandung rasa sakit jika kita mengkhiantinya. Dengan demikian, pemberontakan jauh melebihi dendam.

Ketika Heathcliff—dalam Wuthering Heights—mengatakan bahwa cintanya melebihi cinta pada Tuhan dan rela pergi ke neraka untuk menyatu dengan perempuan yang dicintainya. Ia tidak didorong cinta masa muda atau rasa malunya, tapi oleh pengalaman seumur hidupnya. Emosi yang sama menyebabkan Eckhart—dalam sebuah perilaku kemurtadan, bahwa baginya lebih baik pergi ke neraka bersama Yesus daripada pergi ke surge tanpa-Nya. Ini esensi utama dari cinta. Bertola belakang dengan Scheler yang menegaskan tidak mungkin untuk terlalu menekankan tujuan penuh hasrat yang mendasari sebuah pemberontakan dan membedakannya dari dendam. Pemberontakan, meskipun terlihat negative, karena tidak menciptakan apapun, menjadi positif karena tidak menciptakan apapun, menjadi positif karena ia mempertahankan sebuah bagian di dalam diri manusia.

Di Luar Nihilisme

Karena itulah, cara bertindak dari cara berfikikir—yang memperlihatkan bagaimana manusia mengada—dimungkinkan naik ke level yang lebih moderat dari sekedar yang dimilikinya. Setiap perilaku yang lebih ambisius dari ini terbukti bertentangan. Kemutlakan tidak menjadi tujuan dan tidak diciptakan oleh sejarah. Politik bukanlah agama, atau jika iya, itu tidak lebih dari sekadar inkuisisi. Bagaimanakah masyarakat mendefinisikan kemutlakan? Mungkin setiap orang yang mencari kemutlakan itu karena ia di atas segalanya. Tapi masyarakat dan politik hanya bertanggung jawab dalam mengatur setiap urusan, sehingga masing-masing individu bisa memperoleh kenikmatan dan kebebasan. Sejarah, karena itu, tidak dapat lagi dianggap sebagai objek pemujaan. Ia hanyalah sebuah kesempatan yang harus dibuat menjadi berarti oleh sebuah pemberontakan yang hati-hati.

“Obsesi terhadap hasil dan ketidaktertarikan mengulang sejarah,” tulis Rene Char, “adalah dua kutub ekstrim yang ssaya hormati.” Jika durasi sejarah tidak menghasilkan apapun, maka sejarah, akibatnya, tidak lebih dari seubah bayangan yang cepat dan kejam di mana manusia tidak ambil bagian. Orang yang mendedikasikan dirinya untuk mengulang sejarah sama dengan mededikasikan diri kepada kekosongan, dan karenanya ia tidak menjadi apapun. Tapi orang yang mendedikasikan dirinya untuk masa hidupnya, untuk rumah yang ia bangun, untuk kehormatan umat manusia, sama dengan mendedikasikan diri pada bumi dan karenanya, akan mendapatkan panen dari benih yang ia tanam. Akhirnya, orang yang ingi tahu bagaiman cara memberontak, pada saat yang tepat, melawan masa lalu yang melampaui kepentingannya. Melawan sejarah dapat menimbulkan kesedihan dan tekanan berat sebagaimana telah dibicarakan pula oleh Rene Char. Tapi hidup yang sesungguhnya hadir dalam jantung dikotomi ini. Bahkan hidup adalah dikotomi ini sendiri. Pikiran yang menyeruak dari gunung merapi cahaya, kegilaan pada keadilan dan tuntutan terhadap perubahan.

Kearifan masa kini, dalam bentuk apapun, tidak dapat mengklaim lebih. Pemberontakan yang tanpa lelah melawan kejahatan, dapat melahirkan sebuah perubahan. Manusia dapat menguasai dirinya sendiri dan mengendalikan semua yang dapat dikuasainya. Ia harus menyempurnakan semua yang dapat disempurnakan. Setelah itu, anak-anak tetap akan mati secara tidak adil, bahkan dalam tatanan masyarakat yang sudah sempurna. Meski dengan usaha yang paling keras, manusia hanya dapat mengurangi penderitaan-penderitaan di dunia ini secara aritmatik. Ketidakadilan dan penderitaan akan tetap ada, dan bagaimanapun itu dibatasi, tetap akan menjadi sasaran amuk. Dimitri Karamazov berteriak, “Kenapa?” dan teriakannya akan terus terdengar. Seni dan pemberontakan akan mati hanya dengan matinya manusia terakhir di dunia ini.

Ada sebuah kejahatan—tidak diragukan lagi—yang terakumulasi karena keinginan manusia untuk bersatu. Tapi, ada kejahatan lain yang berakar di dalam gerakan yang tidak dapat ditebak. Berhadapan dengan kejahatan, kematian, manusia—dari hatinya yang paling dalam—akan berteriak untuk keadilan. Sejarah Kristen hanya akan menjawab protes terhadap kejahatan itu dengan janji akhirat dan kehidupan abadi—yang membutuhkan keimanan. Namun, penderitaan memupuskan harapan dan iman, lalu membiarkan manusia sendirian, sehingga penderitaan itu menjadi tidak terjelaskan. Umat yang bekerja keras dan tanpa henti, lelah oleh penderitaan dan kematian, adalah umat tanpa Tuhan. Karena itulah kita harus bersama mereka.

Sejarah Kristen menunda sebuah fase yang berkaitan dengan sejarah kejahatan dan pembunuhan. Materialism kontemporer juga memercayi bahwa para penganutnya bia menjawab segala macam pertanyaan. Tapi sebagaii budak sejarah, ia menambah jumlah pembunuhan, dan pada saat yang sama meninggalkannya tanpa penjelasan, kecuali untuk masa depan—yang lagi-lagi tergantung pada iman. Dalam kedua kasus di atas, orang-orang mesti menunggu, dan selama menunggu itu manusia-manusia tak bersalah terus meneruh mati. Selama 20 abad jumlah total kejahatan di dunia tidak berkurang. Tidak ada surga, baik dari Tuhan ataupun yang secara revolusioner bisa kita wujudkan. Sebuah ketidakadilan tetap terikat pada semua penderitaan, bahkan penderitaan yang paling pantas dijatuhkan sekalipun. Sikap diam Prometheus yang berkepanjangan terhadap kekuatan-kekuatan yang melampauinya terus bergema dalam protes. Tapi Prometheus, sementara itu, telah melihat manusia berlomba dan melindasnya. Ia terjepit di antara kejahatan manusia dan takdirnya, di antara terror dan ketidakpastian, yang memberikan kekuatan kepadanya untuk memberontak, menyelamatkan mereka dari pembunuhan, tanpa menyerah pada arogansi kemurtadan.

Lalu kita mengerti bahwa pemberontakan tidak mungkin ada tanpa cinta—dalam bentuknya yang asing itu. Mereka yang tidak menemukan ketenangan dengan penghambaan pada Tuhan atau tidak menemukan ketenangan dalam sejarah, lalu hidup bagi orang lain—yang seperti mereka—malah tidak bisa hidup, karena mereka hanya hidup untuk orang-orang yang dipermalukan. Karena itu, bentuk paling murni dari gerakan pemberontakan digambarkan oleh teriakan keras Karamazov: jika semua orang tidak terselamatkan, apa gunanya menyelamatkan diri sendiri? Maka, para tahanan Katolik—di dalam rumah tahanan di Spanyol—menolak misa karena para pendeta telah memutuskan misa itu sebagai kewajiban di beberapa penjara. Para saksi yang kesepian yang menyaksikan penyaliban orang-orang tak berdosa juga menolak penyelamatan jika itu harus dibayar dengan ketidakadilan dan penindasan.

Kedermawanan gila ini adalah kedermawanan pemberontakan, yang tanpa ragu-ragu memberikan kekuatan pada cinta dan tanpa sedikitpun penundaan untuk melawan ketidakadilan. Kebajikannya terlihat dengan ketiadaan perhitungan, rela menyerahkan apa saja yang dimiliki demi kehidupan semua orang. Ini adalah berkah yang diturunkan untuk umat di masa depan. Kedermawanan yang nyata di masa depan akan terlihat pada pemberian secara total terhadap masa kini.

Pemberontakan, dengan cara ini, membuktikan bahwa ia adalah sebuah geliat kehidupan dan ia tidak bisa ditolak, kecuali dengan menolak kehidupan itu sendiri. Sebuah pemberontakan menggiring manusia menuju eksistensinya. Pemberontakan adalah cinta, kemajuan, atau bukan apa-apa sama sekali. Revolusi tanpa kehormatan—revolusi yang dikalkulasikan dengan memilih antara konsep abstrak manusia atau tubuh nyata manusia—adalah sebuah gerakan yang menolak eksistensi manusia selama mungkin, dan menaruh dendam sebagai pengganti peran cinta. Pemberontakan yang tergesa, melupakan kedermawanan sebagai watak aslinya, membiarkan dirinya dinodai oeh dendam. Ia menolak kehidupan, melesat menuju kehancuran dan hanya melahirkan kelompok pemberontak yang tidak tangguh. Mereka semua adalah embrio budak, yang akan berakhir dengan menawarkan diri mereka untuk dijual di semua pasar di Eropa, untuk pelayanan dalam bentuk apapun.

Ini tidak lagi menjadi revolusi atau pemberontakan, tapi akan menjadi kebencian, kejahatan dan tirani. Ketika revolusi—atas nama kekuatan dan atas nama sejarah—berubah menjadi tindakan pembunuhan dan menolak perubahan, barulah pemberontakan muncul atas nama perubahan dan atas nama kehidupan. Saat ini kita sedang berada di antara kedua kutub itu. Di ujung terowongan itu kita bisa melihat secercah cahaya yang sudah kita percayai dan harus kita perjuangkan. Di antara reruntuhan, kita sedang mempersiapkan sebuah pencerahan di luar batas-batas nihilisme. Tapi hanya sedikit di antara kita yang mengetahuinya.

Dalam kenyataannya, pemberontakan—tanpa klaim—dapat memecahkan segala masalah, setidaknya berusaha menghadapi masalah itu. Sejak saat ini terik cahaya siang tidak lagi dapat menerangi arus deras sejarah. Dalam gejolak api yng membakar, bayangan-bayangan tentang perang tiba-tiba menyiksa manusia, lalu tiba-tiba menghilang, dan orang buta, dengan jari-jari menjepit kelopak mata mereka, meneriakkannya pada sejarah.

Orang-orang Eropa, telah ditinggalkan oleh bayangan-bayangan itu, kepala mereka telah berpaling dari titik bercahaya itu, juga berpaling dari masa kini. Masa kini dilupakan demi masa depan, nasib kemanusiaan ijual demi ilusi kekuasaan, kesedihan di kekumuhan demi kemegahan kota-kota abadi, keadilan demi sebidang tanah yang dijanjikan. Mereka juga melupakan keputusasaan mereka terhadap kebebasan pribadi dan mimpi tentang kebebasan yang asing dari sebuah spesies; menolak keterasingan dalam kematian dan memberi nama keabadian sebagai kesedihan kolektif. Mereka tidak lagi percaya pada hal-hal yang hidup di dunia, juga pada kehidupan manusia. Rahasia Eropa adalah ia tidak lagi mencintai hidup.

Orang-orang buta di kalangan mereka mempercayai bahwa untuk mencintai satu hari kehidupan cukup dengan menjustifikasi keseluruhan abad penindasan. Karena itulah mereka ingin menghilangkan kebahagiaan dari dunia dan menundanya hingga beberapa saat kemudian. Ketidaksabaran pada batas-batas, penolakan terhadap sisi ganda dari hidup mereka, dan keputusasaan  menjadi manusia, telah mebuat mereka berlebih-lebihan dan tidak manusiawi. Untuk menolak kenikmatan hidup yang sebenarnya, mereka harus mempertaruhkan semua kebaikan mereka. Untuk melakukan hal yang lebih baik, mereka mendewakan diri sendiri, dan ketidakberuntungan mereka pun dimulai; dewa-dewa itu telah membutakan mata mereka. Sebaliknya, Kaliyev, dan saudara-saudaranya di seluruh dunia, menolak untuk didewakan dan menolak kekuasaan tak terbatas untuk melawan kematian. Mereka memilih, dan memberikan contoh kepada kita perihal bagaimana kehidupan hari ini mesti dijalani, yakni untuk belajar hidup dan belajar mati, dan untuk menjadi manusia, menolak menjadi dewa.

Sampai di titik ini, si pemberontak menolak kedewaan demi membagi perjuangannya dengan takdir seluruh umat manusia. Kita akan memilih Ithaca, tanah keianan, dengan mempertaruhkan semuanya, dengan pemikiran yang mengejutkan, aksi nyata, dan kedermawanan dari orang-orang yang mengerti. Saudara-saudara kita bernapa di bawah langit yang sama dengan kita. Keadilan adalah hidup itu sendiri. Kini, telah lahir kegirangan baru yang dapat membantu seseorang, hidup dan mati, dan tidak akan kita pernah lagi menundanya hingga waktu yang akan dating. Di atas bumi yang sedih ada duri-duri yang tak pernah beristirahat, cairan pahit, angina laut yang kasar, fajar lama dan baru. Dengan kegembiraan ini, melalui perjuangan panjang, kita akan menciptakan kembali ruh bagi zaman ini, dan Eropa tidak akan menciptakan kembali ruh bagi zaman ini, dan Eropa tidak akan mengenyampingkan apapun. Tidak pula Nietzsche si hantu—yang setelah 20 tahun sejak kejatuhannya—tetap mempengaruhi Barat dengan pengetahuannya yang mengagumkan, juga nihilismenya. Tidak juga nabi keadilan tanpa belas kasih yang hadir—karena kesalahan, dalam rencana orang-orang tak beriman—dipemakaman Highgate. Tidak juga mumi yang didewakan. Tidak juga bagian manapun dari kecerdasan dan energy Eropa yang telah menjadi kebanggaan, padahal sesungguhnya tak pantas dibanggakan. Semuanya dapat hidup kembali secara berdampingan dengan martir pada 1905, dengan syarat mereka saling membenarkan satu sama lain, dan itulah sebuah batas, di bawah matahari, yang mengendalikan semuanya. Satu sama lain saling mengatakan bahwa ia bukan Tuhan. Inilah akhir dari romantisisme. Kini, kita harus menarik busur guna melesatkan anak panah menuju sasaran baru, untuk menguasai kembali—baik di dalam maupun karena sejarah—apa yang sesungguhnya sudah kita miliki, cinta yang singkat di bumi ini, di zaman ini. Busur dikekang; kayu menegang. Pada ketegangan tinggi, akan melesatkan sebuah anak panah yang kokoh dan bebas. (*)

Continue Reading

Classic Prose

Trending