© 2016 GALERI BUKU JAKARTA. ALL RIGHTS RESERVED.
 

Ada Cerita Tentang Segelas Kopi

SIAPA yang tak suka ngopi? Dari orang awam sampai selebritas sampai orang terkaya di dunia suka ngopi. Dari mas dan mbak yang capek sepulang kerja sampai Harrison Ford. Ya, Harrison Ford! Dan tak ketinggalan Presiden Jokowi pun suka ngopi. Sejarah kopi juga setua sejarah kota-kota dan perkembangan intelektual dan filsafatnya. Dari Coffe House di Eropa sampai kebiasan ngopi di kalangan santri-santri di Pesantren Jawa dan kini, di Jakarta, kota kita yang urban dan menua.

Kopi kini dinikmati tak hanya sebagai “obat” anti kantuk. Kopi telah menjelma menjadi gaya hidup, lambang kemapanan, absurditas kaum kreatif, bahkan suatu tingkat kemewahan. Kopi telah menjelma menjadi produk kebudayaan—dan dengan demikian juga sejarah penindasan.
Cita rasa pahit kopi rupanya sebanding dengan kepahitan yang dialami kuli-kuli pribumi di kebun kopi Priangan, Jawa Barat khususnya pada masa “tanam paksa” kolonialisme Belanda. Kopi kemudian memulai globalisasi paling mutakhir di tanah Priangan. Pada level paling bawah atas rantai komoditas global, kuli kopi di tanah Pasundan adalah penyuplai setengah kebutuhan kopi dunia ini.
Buku karangan Jan Breman “Keuntungan Kolonial dari Kerja Paksa: Sistem Priangan dari Tanam Paksa Kopi di Jawa, 1720-1870” salah satunya, menunjukkan bagaimana nasib para produsennya, yakni petani kopi pasundan, yang mengalami transformasi secara berangsur-angsur dari semula sebagai petani dan pemilik tanah dalam berbagai tingkatannya, menjadi orang yang hanya mengandalkan tenaga yang ada pada dirinya. Berakhir mereka menjadi pekerja bebas atau kuli.

Kronik dan cerita dalam segelas kopi rupanya begitu dahsyat! Sedahsyat sejarah! Tak pelak keberadaan kedai kopi pun turut mengiringi perjalanan kehidupan masyarakat Indonesia.

Meski tidak dalam balutan interior berkelas, sofa empuk, fasilitas Wi-Fi gratis, dan berpenyejuk udara, kedai kopi tradisional di Indonesia tak kalah menarik. Sajian kopinya pun tak pernah gagal menggigit indera pengecap para pencinta kopi sehingga—meski kadang harus rela menunggu kursi kosong sambil berkeringat—tetap selalu datang lagi dan lagi. Di tengah desakan kehidupan urban, sudut-sudut di Indonesia masih menyimpan warung-warung kopi tradisional yang mempertahankan orisinalitas dan kualitas rasa. Bertualang warung kopi di Indonesia pun ibarat membuka kotak pandora yang memaparkan seribu kisah kehidupan manusia.

Kopi Es Tak Kie

Laman Kompas.com mawartakan kegemilangan kopi es Tak Kei ini. Kedai Kopi Es Tak Kei menjadi salah satu kedai kopi yang wajib disambangi. Selain menjadi kedai kopi tua alias jadul sejak tahun 1927, kedai ini juga memiliki satu varian kopi yang tidak akan ditemukan pecinta kopi di coffee shop manapun selain di Kedai Kopi Tak Kei.

Terletak di area Pecinan yakni di Glodok, Jakarta Barat, kedai kopi ini telah mewarnai kehidupan masyarakat setempat sejak 1927. Menyambangi kedai kopi yang terletak di sebuah gang sempit itu seolah memasuki ruang waktu dan kembali ke masa lalu. Suasana tempo dulu ini memang sengaja dijaga oleh sang pemilik, yang kini telah diwariskan ke generasi ketiga, dan menjadi salah satu daya tarik, selain rasa kopinya yang khas. Terutama untuk pilihan menu Es Kopi Tak Kie yang merupakan campuran kopi dari jenis kopi Robusta maupun Arabika dari Lampung, Toraja, hingga Sidikalang.

Kopi Kong Djie

Kedai kopi Kong Djie terletak di ruas jalan utama yang menghubungkan Bundaran Satam dan Pantai Tanjung Pendam Belitung. Warung dengan tungku yang terletak di luar jendela itu berada tepat di depan Gereja Regina Pacis dan dekat dengan Sungai Siburik yang aliran airnya kecil tapi menambah sahdu jika Anda ngopi pagi di sana sebagai pelancong.

Tak ada hari yang tak diawali dan diakhiri dengan segelas kopi. Begitulah ciri khas masyarakat Belitung, terutama di kalangan kaum pria. Warung Kopi Kong Djie, di Siburik Barat, Belitung Barat, menjadi persinggahan penting dalam rutinitas masyarakat sekitarnya.

Hadir sejak 1945, warung kopi ini tak pernah sepi pelanggan sejak buka pukul 5 pagi hingga 4 sore. Sebelum berangkat bekerja, minum kopi. Sepulang kerja, kembali mampir ngopi. Keistimewaan kopinya terletak pada racikannya yang khas, yaitu mencampur kopi arabika dan robusta, lalu dimasak dengan menggunakan arang.Sembari menikmati kopi, beragam penganan tradisional Belitung pun terhampar di atas meja.

Di kedai kopi ini tradisinya berbunyi “ngopi ya pagi bukan malam”. Tak seperti di Jogja atau Jakarta di mana kedai kopi akan ramai pengunjung ketika malam, di sini kopi adalah pengantar dan semangat para pekerja sehingga paling ramai pengunjung pada jam usai subuh hingga sepuluh pagi.

Kopi Mieng Hao

Ke Medan dan ga ngopi? Ah tak sempurna rasanya, tak ada kenangan yang akan mengental dan perfecto seperti segelas kopinya. Segelas kopi di kedai yang di kenal dengan Mieng Hao.

Apek (88) sang pemilik yang nama aslinya Thaia Tjo Lie merupakan generasi kedua yang terus bertahan membuka kedai kopi di  jalan Hindu nomor 37 Medan. Walau pendengaran  dan fisik Apek sudah melemah, tapi ia tetap bersemangat kalau diajak berbicara tentang kopi kebanggaannya. “Kopi kami sejak dulu dibawa dari daerah Sidikalang” katanya sambil menunjuk tempat penyimpanan kopinya di dapur.

Lebih dikenal dengan warung kopi Apek—nama sapaan sang pemilik—di Medan, warung kopi ini hadir sejak 1922. Seolah menjadi etalase kehidupan multietnis, pengunjungnya juga berasal dari beragam latar belakang etnis, agama, dan profesi. Baik dari etnis Tionghoa, Jawa, Tamil, Nias, Mandailing, Toba, Karo, Simalungun, hingga Melayu.

Warung kopi ini menurut catatan travel kompas.com turut menjadi saksi pergolakan zaman dari masa ke asa. Pada masa perusahaan perkebunan berjaya puluhan tahun lalu, pegawai dan direktur perusahaan perkebunan seperti London Sumatera Company, Harrison Crossfield, atau NV Borzoi kerap singgah. Pada masa penjajahan Belanda, tentara Belanda turut menjadi pelanggan. Pun ketika tentara Jepang menjajah, juga singgah di warung ini.

Sang pemilik warung juga tetap mempertahankan cita rasa kopi dengan menggunakan kopi dari Sidikalang, yang terkenal akan aromanya yang wangi dan rasa mantap. Dinikmati hangat maupun dingin, dengan atau tanpa tambahan susu, kopi Sidikalang terasa nikmat. Dalam perjalanannya, kopi Sidikalang ini tak hanya berhasil menyatukan ragam etnis dan latar belakang di Sumatera Utara dengan citarasanya yang memikat indera pengecap, kopi ini juga telah menjangkau pasar Eropa.

Jadi bagaimana, bisa Anda bayangkan Indonesia raya ini dalam segelas kopi? Seperti seorang penyair berkata pada segelas kopinya:

“Dijumput dari kedalaman gelap

Ia menyemaikan kehidupan

Memabukkan jiwa gelimpungan

Di tengah nyeri hidup sehari-hari.

Engkau saksi bagi tumpahnya air mata

Mereka yang meracu tentang cinta

Kehidupan dan iman sepekat misteri kelammu..” (*)

Share Post
No comments

LEAVE A COMMENT