Connect with us

Article

Achdiat Karta Miharja

mm

Published

on

Achdiat Karta Miharja lahir di Cibatu, Garut, Jawa Barat, tanggal 6 Maret 1911. Ia dibesarkan dalam lingkungan keluarga menak yang feodal. Ayahnya bernama Kosasih Kartamiharja, seorang pejabat pangreh praja di Jawa Barat. Achdiat rnenikah dengan Suprapti pada bulan Juli 1938. Dari pernikahan itu, mereka dikaruniai lima orang anak.

Ia memulai sekolah dasarnya di HIS (sekolah Belanda) Bandung dan tamat tahun 1925. Ia masuk ke AMS (sekolah Belanda setara SMA), Bagian Sastra dan Kebudayaan Timur, di Solo tahun 1932. Lalu, ia melanjutkan kuliah di Universitas Indonesia, Jakarta. Ketika kuliah, ia pernah diajar oleh Prof. Beerling dan Pastur Dr. Jacobs S.J., dosen filsafat, tahun 1956 dalam rangka Colombo Plan. Achdiat mendapat kesempatan belajar bahasa dan sastra Inggris serta karang-mengarang di Australia.

Setelah tamat dari AMS, Achdiat sempat mengajar di Perguruan Nasional, Taman Siswa, tetapi tidak lama. Tahun 1934 Ia bekerja menjadi anggota redaksi Bintang Timur dan redaktur mingguan Paninjauan. Tahun 1941 Ia menjadi redaktur Balai Pustaka. Pada zaman pendudukan Jepang, Achdiat menjadi penerjemah di bagian siaran, radio Jakarta. Tahun 1946 ia memimpin mingguan Gelombang Zaman dan Kemajuan Rakyat yang terbit di Garut sekaligus menjadi anggota bagian penerangan penyelidik Divisi Siliwangi. Tahun 1948 Ia kembali bekerja sebagai redaktur Balai Pustaka. Tahun 1949 Ia menjadi redaktur kebudayaan di berbagai majalah, seperti Spektra dan Pujangga Baru di samping sebagai pembantu kebudayaan harian Indonesia Raya dan Konfrontasi. Pada tahun 1951–1961, Ia dipercayai memegang jabatan Kepala Bagian Naskah dan majalah Jawatan Pendidikan Masyarakat Kementerian PPK.

Pada tahun 1951 Achdiat juga menjadi Wakil Ketua Organisasi Pengarang Indonesia (OPI) dan anggota pengurus Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional (BMKN). Pada tahun itu juga, ia bertugas menjadi Ketua Seksi Kesusastraan Badan Penasihat Siaran Radio Republik Indonesia (BPSR) dan menjadi Ketua Pen-Club Internasional Sentrum Indonesia. Tahun 1954 Achdiat menjabat ketua bagian naskah/majalah baru. Tahun 1959 ia menjadi anggota juri Hadiah Berkala BMKN untuk kesusastraan. Tahun 1959–1961 Achdiat menjadi dosen Sastra Indonesia Modern di Fakultas Sastra, Universitas Indonesia, Jakarta. Pada tahun 1961—1969 ia mendapat kesempatan untuk menjadi Lektor Kepala (senior lecturer) di Australian National University (ANU), Canberra.

Achdiat tertarik pada sastra berawal dari rumahnya sendiri ketika ia masih kecil, masih di SD. Ayahnya adalah seorang penggemar sastra, terutama sastra dunia. Ayahnya sering menceritakan kembali karya yang telah dibacanya kepada Achdiat. Lama-kelamaan, Achdiat kecil pun menjadi gemar juga membaca buku koleksi ayahnya itu. Ia pun ikut membaca semua buku sastra milik ayahnya.  Dari koleksi ayahnya, ia telah membaca, antara lain, buku karangan Dostojweski, Dumas, dan Multatuli. Buku Quo Vadis karya H. Sinckiwicq, Alleen op de Wereld karya Hector Malot dan Genoveva karya C. von Schimdt, bahkan telah dibacanya ketika ia kelas VI SD.

Hasilnya adalah tulisan Achdiat, baik  yang berupa karya sastra maupun esai tentang sastra atau kebudayaan. Novelnya yang berjudul Atheis adalah novel yang membawa namanya di deretan pengarang novel terkemuka di Indonesia. Banyak pakar sastra yang membicarakan novelnya itu, antara lain, Ajip Rosidi, Boen S. Oemarjati, A. Teeuw, dan Jakob Sumardjo. (*)

Diolah dari sumber Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. © Badan Bahasa, Kemdikbud.

Continue Reading
Advertisement

Persona

Toto Sudarto Bachtiar tentang Menulis dan Mencipta Puisi

mm

Published

on

Dari pengalaman itu ia membedakan antara “penciptaan sajak” dan “penulisan sajak”. Baginya membedakan dua hal itu penting. Nilai sebuah sajak, bagi Toto, tergantung pada penampilan sosok dan kepribadian penyair yang tertuang dalam sajak itu. Karena itu, baginya, proses penciptaan sajak itu sangat penting. Menciptakan sajak bagi Toto, adalah proses penalaran menempuh dua tahap. Pertama melahirkan gagasan dan khayalan. Dengan kata lain membentuk ide dan memainkan imajinasi. Lalu kedua, menilai gagasan dan khayalan tersebut.

Toto Sudarto Bachtiar tentang Menulis dan Mencipta Puisi | Menyambut 90 Tahun Penyair ‘Pahlawan Tak Dikenal”
Oleh Hasan Aspahani *)

KITA harus mempertimbangkan kembali sumbangan dan tempat bagi Toto Sudarto Bachtiar (1929-2007) dalam sejarah sastra Indonesia. Tahun ini jika masuh hidup ia berusia 90 tahun.  Kesimpulan-kesimpulan yang selama ini diletakkan atas dirinya bisa dilepaskan kembali. Apakah dia penerus Chairil Anwar atau dia membawa warna yang sama sekali lain? Apakah dia terbelenggu oleh kebesaran bayang-bayang Chairil Anwar yang menjulang tepat di awal tahun-tahun kemunculannya?  Apakah dia cukup dikenang dan dikenal lewat “Pahlawan Tak Dikenal” atau “Ibukota Senja” saja?  Apakah pengaruhnya masih ada hingga hari ini? Atau apa yang bisa diambil dari persajakannya untuk mengembangkan sajak kita ke hadapan masa depan puisi Indonesia?

Esai ini adalah pemantik untuk upaya pembacaan dan pertimbangn ulang itu. Upaya yang dimulai dengan meninjau sikap dasar kepenyairannya dan apa yang dianggap telah ia sumbangkan bagi puisi Indonesia.

Kata-kata, bagi penyair kita Toto Sudarto Bachtiar, adalah lambang yang mati tak berdaya. Sama seperti angka bagi seorang ahli ilmu pasti. Sama seperti garis dan warna bagi perupa. Atau nada bagi komponis.

Menulis sajak, baginya, berarti memberi sentuhan pada kata untuk memembuat kata itu menjadi hidup. Bukan hanya menghidupkan kata, tapi menghidupkan sebuah dunia dengan kata-kata itu.

Bukan juga sekadar dunia, tapi sebuah dunia baru yang memaknakan sebuah dunia lain, yang mempunyai ufuk yang lebih luas dan lebih besar.

Dunia baru itu tercipta atau ditemukan setelah si penyair menempuh perjalanan yang tiada putus, menjelajahi berbagai wilayah yang dikenal maupun yang tak dikenal, pun telah melalui berbagai pergulatan lahir dan benturan batin.

“Dunia itu adalah sebuah dunia yang utuh dan semesta,” ujar Toto.

Toto tak banyak meninggalkan catatan pemikirannya tentang puisi. Apa yang saya tuliskan kembali di atas adalah esai pendeknya di sisipan Kaki Langit, majalah Horison, Juni 1997. Tampaknya tulisannya ditujukan kepada pembaca muda, kalangan yang disasar oleh sisipan itu.

Esai pendek berjudul “Proses Mencipta Sajak Berbeda dengan Proses Menulis Sajak” itu dimuat kembali di buku kumpulan sajak lengkapnya “Suara, Etsa, Desah” (Grasindo, 2001), dengan sejumlah penyuntingan. Judulnya pun menjadi “Proses Kreatif Sebagai Pengalaman Penyair”.

Saya percaya, upaya kita untuk memahami kepenyairan seorang penyair, selain dengan membaca seluruh karyanya, juga terbantu banyak dengan menyelami pemikiran atau konsepsinya tentang sajak. Karena itu, esai Toto di atas bagi saya penting.

Sayang, Toto bukan penyair yang banyak menulis esai tentang puisi. Mungkin tak terarsip, tapi kalau kita percaya pada kelengkapan arsip PDS HB Jassin, maka esainya yang di atas adalah satu-satunya.

*

Dengan berpedoman pada konsepsinya tentang sajak dan proses penciptaan sajak yang seperti ia rumuskan itu, maka kita bisa paham kenapa Toto tidak menjadi seorang penyair yang produktif.

Ia juga boleh dikatakan terlambat muncul. Usianya lebih muda tujuh tahun dari Chairil Anwar. Ia lahir di Palimanan, Cirebon, 12 Oktober 1929. Ia sekolah HIS di kota kelahirannya, lalu pindah ke Bandung. Rencana masuk MULO tak terlaksana sebab pendudukan Jepang. Ia masuk sekolah pertanian di Tasikmalaya, lulus tahun 1944.

Hingga tahun itu, dia tampak belum tertarik pada puisi. Di masa revolusi fisik, setelah proklamasi, Toto kembali ke Cirebon, melanjutkan sekolah SMP. “Diterima di kelas tiga,” ujarnya seperti ia kisahkan kepada majalah Mangle, No. 1032, 20-26 Februari 1986.

Saat-saat SMP itulah dia bergabung dalam Corps Pelajar Siliwangi. Teman sekelasnya antara lain tokoh militer Yogie S Memet, yang kelak menjadi gubernur Jawa Barat.  “Tugas kami waktu itu menjaga Pak Nasution,” kenang Toto.

 

Kemudian, Toto bergabung dengan Detasemen Polisi Tentara 312, hingga tahun 1948. Ketika seluruh tentara hijrah ke Yogya, Toto diperintah oleh atasannya untuk kembali ke Bandung. Menamatkan SMP, lalu melanjutkan ke SMA. Mula-mula jurusan B, lalu pindah ke A, akhirnya jurusan C. Bukan karena minatnya berubah-ubah, tapi karena tidak ada guru yang mengajar. Ia lulus SMA, pada usia 21, pada tahun 1950.

*

DI DALAM esainya, Toto menceritakan proses kreatifnya menulis sajak “Ibukota Senja” yang rawan-sendu dan “Pahlawan Tak Dikenal” yang amat terkenal itu.

Sajak “Pahlawan tak Dikenal” ia tulis pada tahun 1955. Bulan November. Sajak itu, katanya, adalah rekaman dari pengentalan dan perenungan selama sepuluh tahun.

Artinya ia mulai memikirkan sajak itu sejak tahun 1945. “… saya turut memanggul senjata sebagai anak muda yang terpanggil untuk turut serta dalam perjuangan kemerdekaan tahun 1945,” ujar Toto.

Proses menulisnya sendiri tidak lama. Dari pengalaman itu ia membedakan antara “penciptaan sajak” dan “penulisan sajak”. Baginya membedakan dua hal itu penting.

Pengalaman yang sama ia contohkan pada proses lahirnya sajak “Ibukota Senja’. Sajak itu ia pikirkan sejak 1950, ketika ia pertama kali datang ke Jakarta untuk kuliah di Fakultas Hukum, UI, ikut nongkrong di Pasar Senen, dan menuliskannya pada 1951.

Nilai sebuah sajak, bagi Toto, tergantung pada penampilan sosok dan kepribadian penyair yang tertuang dalam sajak itu. Karena itu, baginya, proses penciptaan sajak itu sangat penting.

Menciptakan sajak bagi Toto, adalah proses penalaran menempuh dua tahap. Pertama melahirkan gagasan dan khayalan. Dengan kata lain membentuk ide dan memainkan imajinasi. Lalu kedua, menilai gagasan dan khayalan tersebut.

“Kedua tahap itu berkelindan,” kata Toto. Prosesnya terus-menerus, mondar-mandir, maju-mundur, keluar masuk dari gagasan ke khayalan, dan sebaliknya. Pada titik ini saya melihat pertautan etos kepenyairan Toto dengan Chairil. Keduanya tak percaya pada ilham. Keduanya percaya pada kerja keras.

Dan keduanya menghasilkan sajak yang kuat.

*

TOTO memang tak bisa menghindar untuk tak dibandingkan dengan Chairil. Ia muncul pertama kali di tahun 1950, tepat setahun setelah kematian Chairil. Sajaknya mula-mula muncul di Majalah Mutiara (diasuh Mochtar Lubis), lalu di Mimbar Indonesia (diasuh Jassin). Hingga pemuatan sajak-sajak pertamanya itu, Toto menerima penolakan yang banyak. “Sajak saya yang ditolak Jassin lebih dari seratus,” katanya.

Kenapa Toto menulis? Dan kenapa menulis puisi? Ia sudah mempunyai keinginan itu sejak kanak-kanak. Sejak itu pula ia suka membaca. Jika di rumah kurang buku ia akan berkunjung ke  rumah teman yang punya banyak buku.

Ketika SMP, Toto mulai rajin kutrat-kotret menulis. Asal tulis saja. Ada seorang guru yang mendorong minatnya. Namanya Pak Sumarjo. Di SMA, minatnya terhadap bacaan dan kegiatan menulis makin meningkat. Tapi, ia benar-benar serius menulis setelah tinggal untuk kuliah di Jakarta.

Toto punya minat besar pada bahasa. Dua bahasa asing yang sangat ia kuasai adalah Bahasa Inggris dan Belanda. Penguasaannya atas dua bahasa itu membuatnya kelak menjadi penerjemah buku yang sangat produktif. Ia sempat juga jadi penerjemah tentara Jepang, padahal itu bahasa ia pelajari secara otodidak.

Berada di Jakarta. Bergaul di Pasar Senen, pusat tongkrongan seniman penting pada masanya, tampaknya memberi momen bagi Toto untuk mengembangkan minat dan bakat menulisnya. Ia kira-kira pada tahun-tahun itulah mulai mengembangkan sajak-sajaknya. Ia menulis banyak sajak, ratusan yang ditolak Jassin itu.

Orang bicara soal Chairil, peninggalannya dan pengaruhnya pada penyair kemudian. Toto jelas juga membaca Chairil. Ia mengambil dan mengolah pengaruh Chairil pada persajakannya.

Pada tahun 1955, artinya lima tahun setelah mulai serius menyajak dan berhasil menyiarkan banyak sajak, Toto menulis sebuah sajak yang ia persembahkan untuk Chairil Anwar.

Pernyataan

Aku makin menjauh

Dari tempatmu berkata kesekian kali

Laut-laut makin terbuka

Di bawah langit remaja biru pengap melanda

 

Apakah cinta tinggal cinta, kuyup

Tanpa kehendak biar sayup?

Berkata tentang diri sendiri

Berkaca dan kembali berlari?

 

Belai malam yang gugup

Menjadi saksi kita berdua

Terhadap makna dan kata-kata

Yang hidup dalam hidup terasa berdegup

 

Kita bisa menangkap banyak hal tentang Toto, sajaknya, kepenyairannya, dan apa arti Chairil baginya dalam sajak ini.

Chairil adalah ‘kawan’, sama-sama penyair (Menjadi saksi kita berdua), yang ia pertanyakan dan tak sepenuhnya ia setujui sikapnya (Berkata tentang diri sendiri / Berkaca dan kembali berlari?), yang ingin dan berhasil ia lepaskan pengaruhnya (Aku makin menjauh / Dari tempatmu berkata kesekian kali), tetapi toh t etap bertemu dan berada di tempat yang sama (Laut-laut makin terbuka / Langit remaja biru), dan dipersatukan kembali oleh pencarian dan penemuan makna kehidupan yang universal (terhadap makna kata-kata / yang hidup dalam hidup terasa berdegup).

Jassin mengendus pengaruh Chairil pada Toto. Misalnya, ia katakan, pengaruh liku lekuk jalan pikiran Chairil Anwar terbaca pada proses pelontaran apa yang terpendam dalam sajak Toto.

“Sesuatu sajak mulai begitu saja dengan lontaran pikiran yang merupakan suatu kesimpulan dari pemikiran yang panjang sebelumnya,” kata Jassin dalam ulasan panjangnya – yang tampaknya ia tulis dengan gembira – “Toto Sudarto Bachtiar – Penyair Ibukota Senja” dalam buku “Kesusasteraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esai” (PT Gunung Agung, Jakarta, 1967).

Yang juga serupa pada kedua penyair itu, kata Jassin, adalah kesukaan memakai perlompatan baris, membikin napas sajak mengalun dari baris ke bari dengan licin. Lalu ada hentakan tiba-tiba, yang seakan membendung aliran itu kemudian mengalirkannya kembali.

Akan tetapi Toto adalah Toto dan Chairil adalah Chairil. Pengaruh Chairil pada Toto tidak membuat Toto menjadi epigon. Pada Toto, kata Jassin, ada pencernaan dan ada pematangan yang membikin ia jelas berdiri di panggung sastra Indonesia sebagai Toto.

Toto berbeda dengan Chairil dalam hal sikap terhadap hidup. Esai panjang Subagio Sastrowardoyo dengan jernih memaparkan perbedaan itu. Toto bukan seorang pemberontak seperti terasa pada Chairil yang berjiwa gerah dan tegang menghadapi nasib. Toto dengan sabar menerima nasib. Dengan sikap itu ia mengolah tema dan persoalan hidup.

*

DUNIA baru dalam sajak yang berhasil, kata Toto, tidaklah semata mengandung tambahan pengetahuan, peningkatan kedalaman dan pengentalan serta keserbanekaan, namun ia juga memiliki kesegaran, keseksamaan, kebenaran, kejujuran dan dampak perasan. Toto dengan demikian bicara soal estetik, etika, logika, dan emosi dalam puisi.

Toto telah paham benar apa itu puisi. Ia punya standar tinggi tentang bagaimana puisi yang baik. Itu sebabnya mungkin, kenapa ia tak banyak menulis. Ia tak produktif. Atau ia memang sangat selektif menyiarkan sajak-sajaknya.

Toto menyiarkan buku puisi pertamanya pada tahun 1956. “Suara” (diterbitkan BMKN), memuat sajak yang ia tulis sepanjang 1950-1955. Lalu menyusul “Etsa” (Pembangunan, 1959). Ada banyak sajak lain yang ditulis pada tahun-tahun itu yang tak ia bukukan. Jassin mencatat, sajak-sajak yang tak terbukukan itu dimuat di Mimbar Indonesia, Zenith, Siasat, Indonesia, Pujangga Baru, dan Kisah.

Dua buku itu, ditambah sajak lain yang ditulis pada 1997-2001 (diberi subjudul “Desah”) dikumpulkan dalam satu buku yang bisa disebut sebagai sajak lengkapnya, “Suara, Etsa, Desah”.

*

ADA masa panjang ketika Toto menghilang, berhenti menulis, sama sekali tak menyiarkan sajak. Orang pun mencari dan bertanya.  Selepas kuliah, 1955, ia menetap di Bandung. Menjadi pegawai negeri. Juga bekerja di beberapa majalah yang ia ikut dirikan. Juga menerjemahkan buku.

Kemana saja Toto?

Ayatrohaedi menyebutnya sebagai “pahlawan orang-orang kecil”.

APA sumbangan Toto pada persajakan Indonesia? Menurut Subagio, Toto adalah perintis pencarian ilham pada sumber-sumber kejiwaan Indonesia dengan tidak meninggalkan tingkat kelembutan ekspresi persajakan yang pernah tercapai di alam sastra modern Indonesia.

“Toto telah membuka jalan perkembangan baru yang kemudian ditempuh oleh penyair-penyair yang kemudian, seperti Ajib Rosidi, Rendra, dan Ramadhan K.K.,” ujar Subagio dalam esainya “Hati Sabar Toto Sudarto Bachtiar” dalam buku “Sosok Pribadi dalam Sajak (Balai Pustaka, 1997).

*

TOTO meninggal di rumah seorang kerabatnya Cisaga, Ciamis, sepuluh menit menjelang pukul 6 pagi, 9 Desember 2007. Kabar kematiannya terasa mengejutkan. Ia tidak sakit. Pagi itu ia bersiap hendak kembali ke bandung. Di kecamatan Cisaga itu, dulu ayahnya pernah menjadi camat.

Di situ pula ia di masa tuanya menjadi penyuluh pertanian tanpa bayaran.  Usianya mencapai 76 tahun.  Ia pernah terkena serangan jantung pada 1998. Ia meninggalkan dua orang istri, seorang anak, dua orang cucu, dan sejumlah karya yang abadi. (*)

 

Jakarta, September 2019

Continue Reading

Blog Pembaca

Virdika: Buku-Buku Mempertajam Rasa Kemanusian Kita

mm

Published

on

Membaca buku-buku membuat kita bertemu dan mengalami banyak kisah, cerita, perasaan manusia dalam beragam bentuknya. Kita mengetahui penderitaan, penindasan dan peminggiran atau tentang jiwa manusia yang kalut—hal itu secara konstan membuat kita memiliki kemampuan untuk melapangkan cakrawala pengetahuan dan mempertajam perasaan terhadap sesama manusia.

Paling tidak itulah salah satu makna dan arti mendalam dari buku dan membaca buku-buku menurut Virdika Rizky Utama. Pekerjaannya sebagai wartawan Majalah GATRA membuatnya terus memiliki kesempatan menggali lebih dalam makna-makna yang bisa ia dapat dari interaksi dengan buku dan tentu saja, banyak ragam manusia.

Otobiografi Soekarno penyambung Lidah Rakyat, adalah buku penting yang membuatnya benar-benar menjadi pembaca buku. LPM (Lembaga Pers Mahasiswa) DIDAKTIKA di UNJ yang memeng terkenal menjadi ruang diskursus dan penjaman naluri kemanusiaan mahasiswa di UNJ membuatnya kian memiliki dunia yang mendekatkannya dengan buku-buku dan akhirnya, menjadi penulis, sebagai seorang wartawan.

Buku apa yang paling penting dan telah merubah cara berpikir dan menentukan dalam kehidupannya kini? Jawabannya: buku “Di bawah bendera revolusi” dan otobiografinya Bung Karno penyambung Lidah Rakyat. Dia memiliki alasan kuat atas jawaban itu. Simak kisah menarik selengkapnya dari Virdika dan dunia buku dalam wawancara Galeri Buku Jakarta dengannya berikut ini:

INTERVIEWER

Apa arti buku buat anda? Beri kami kata bijak paling otentik berdasar perkenalan anda dengan buku-buku?

VIRDIKA RIZKY UTAMA

Bagi saya, Buku merupakan kawan paling setia yang sangat mudah ditemui. Buku melapangkan cakrawala pengetahuan dan mempertajam perasaan terhadap sesama manusia

INTERVIEWER

Ceritakan bagaimana anda pertama kali berkenalan dengan (dunia membaca) buku? Moment perkenalan dengan sebuah buku yang membuat anda menjadi pembaca buku? Hal itu pasti sangat berkesan, jadi beri tahu kami dan lebih banyak orang betapa unik dan berharga moment itu?

VIRDIKA RIZKY UTAMA

Momen pertama kali bertemu dengan dunia membaca (buku) terutama saat belajar membaca yang diajarkan oleh ibu dan ayah saya. Pertama dibacakan cerita, belajar membaca apa pun bukan hanya buku, termasuk papan reklame saat saat saya dan keluarga saya bepergian di akhir pekan.

VIRDIKA RIZKY UTAMA

Minat membaca saya semakin menguat dan akhirnya menjadi seorang pembaca adalah pada saat ikut dalam Lembaga Pers Mahasiswa Didaktika, Universitas Negeri Jakarta. Di didaktika punya kegiatan acara bedah buku—seminggu biasanya 3 kali—momen bedah buku pertama saya sangat berkesan. Buku pertama yang saya bedah adalah Otobiografi Soekarno penyambung Lidah Rakyat—kebetulan saya sangat hobi baca buku sejarah dan politik.

Ketika membedah buku itu, saya kaget bukan main, karena saya pikir hanya akan membahas aspek apa, siapa, dan kapan, layaknya pelajaran sejarah di SMA. Namun nyatanya, segala aspek sosial, politik, ekonomi, dan kontekstualisasi ke masa kini juga jadi pembahasan. Kita harus bisa membaca konteks dalam setiap teks. Saat itu, saya merasa gagal dalam hal membaca buku. Tapi, itu bukan jadi satu alasan untuk saya tidak membaca buku, justru sebaliknya. Saya semakin giat membaca. Membaca buku membuat kita peka dengan permasalahan kehidupan.

INTERVIEWER

Beri tahu kami di mana tempat paling menyenangkan untuk anda membaca buku favorit—yang barangkali tak pernah kami duga sebelumnya? Mungkin di bawah selimut, atau di meja dapur, di toilet, di pantai yang dipenuhi sinar matahari atau duduk di bangku taman? Membenamkan diri Anda dalam buku yang bagus di kereta atau bus ke tempat kerja di mana anda mendapat cara bagus mengangkut pikiran anda ke “tempat lain”? Ceritakan pada kami bagaimana hal itu sangat menyenangkan…

VIRDIKA RIZKY UTAMA

Selama ini, tempat paling nyaman saya membaca buku adalah rumah, terurama ruang keluarga. Biasanya baca buku sambil tengkurap, ditemani bantal seebagai penyangga, dan teh hangat yang tak terlalu manis—sebab saya tidak suka kopi, hehe.

Saya pikir di bus dan kereta sama saja. saya pernah membaca di kedua tempat tersebut. Tapi jangan harap anda bisa membaca saat jam sibuk—berangkat atau pulang kerja. Bisa menjejakkan kaki seutuhnya di dalam bus atau kereta saja sudah sebuah kebanggan, hehe. Saya biasanya butuh bantuan musik, saat membaca di dalam transportasi umum. Ketika tangan mulai membuka tiap halaman dan telinga disumbat oleh suara musik, saya bisa langsung bisa fokus.

Tapi itu hanya bisa saya lakukan pada buku berbahasa Indonesia. Saat membaca buku bahasa inggris saya sangat butuh suasana tenang. Sebab saya perlu mempelajari tata bahasa, arti kalimat, kosa kata, dan konteks bacaan.

INTERVIEWER

Satu buku yang mengubah hidup Anda? Beritahu kami kenapa? dan ceritakan bagaimana hal itu terjadi?

VIRDIKA RIZKY UTAMA

Ini pertanyaan yang sangat sulit. Selama ini, setiap buku yang saya baca selalu memengaruhi pola pikir dan hidup saya. Saya rasa buku tersebut adalah buku Soekarno. Di bawah bendera revolusi dan otobiografinya Bung Karno penyambung Lidah Rakyat.

Alasannya, siapa yang tak bergetar mendengar nama Soekarno? Apalagi saat menyanyikan lagu Indonesia Raya, saya langsung terbayang Soekarno memperjuangkan sebuah bangsa baru bernama Indonesia—bukan berarti saya mendeskreditkan perjuangan pendiri bangsa yang lain.

Di kedua buku itu, kita diajak menyelami pemikiran, ide tentang bagaiamana Indonesia akan dibentuk, dengan cara apa, dan tentu tujuannya seperti apa. Soekarno sangat paham kondisi Indonesia. Oleh sebab itu, ia tidak menelan mentah-mentah teori atau pemikiran dari Eropa atau negara mana pun.

Ia tahu kondisi rakyatnya, ia merumuskan keadaan sendiri rakyatnya, ia tidak mabuk teori dan metode, baginya semua pengethauan yang ia miliki harus bisa menjawab segala persoalan kehidupan rakyat Indonesia. Akibatnya, pemikirannya selalu kontekstual dengan zaman, tak lekang oleh waktu.

INTERVIEWER

Menurut Anda 5 buku sastra apa saja yang wajib dibaca setiap orang indonesia? Kenapa?

VIRDIKA RIZKY UTAMA

Tetralogi Pulau Buru—Pramoedya Ananta Toer dan Dan Damai di Bumi! (Karl May). Untuk tetralogi Pulau Buru, kita tak hanya disuguhkan dengan cerita yang luar biasa. Sosok Minke yang menjadi pembaru gerakan perlawanan Indonesia terhadap pemerintah kolonial melalui tulisan. Cerita di balik penulisan tetralogi Pulau Buru pun sangat menggetarkan dunia.

Buku Karl May yang satu ini, lebih mengedepankan sisi psikologis dibandingkan fisik seperti dalam buku Karl May lainnya. Di sini juga ide Karl May tentang konsep humanismenya. Ada satu sajak yang tak akan pernah saya lupa dalam novel tersebut:

“Bawalah warta gembira ke seantero dunia

Tetapi tanpa mengangkat pedang tombak,

Dan jika engkau bertemu rumah-ibadah,

Jadikanlah ia perlambang damai antarumat.

Berilah yang engkau bawa, tetapi bawalah hanya cinta,

Segala lainnya tinggalkan di rumah.

Justru karena ia pernah berkorban nyawa,

Dalam dirim, kini ia hidup selamanya”.

INTERVIEWER

Bisakah anda ceritakan 3 buku paling favorit sepanjang hidup anda, bisa berupa buku fiksi atau non fiksi dan beri kami alasannya?

VIRDIKA RIZKY UTAMA

Saya sudah sebutkan ini berikut jawabannya di pertanyaan sebelumnya, hehe. Otobiografi Soekarno, Bumi Manusia, dan Dan Damai Di Bumi!

INTERVIEWER

Misalnya Anda diwajibkan menulis minimal 1 buku selama hidup, buku tentang apa yang ingin anda tulis? dan coba beri tahu kami apa judul yang akan Anda berikan untuk buku tersebut? Hal itu pasti akan terdengar menyenangkan dan barangkali memang anda akan memulai menulisnya!

VIRDIKA RIZKY UTAMA

Menulis fiksi itu sangat sulit. Bagi saya, penulis fiksi—novelis atau apapun sebutannya— merupakan sebuah tahap tertinggi bagi seorang penulis. Saya tidak mau main-main dalam menulis.

Oleh sebab itu, saya akan menulis nonfiksi. Ya, tentang sejarah pastinya. Menulis tentang perjalanan demokrasi di Indonesia. Sebab, demokrasi di Indonesia sedang berkembang dan mencari format terbaik.

INTERVIEWER

Bagaimana sebaiknya indonesia dalam hal ini khususnya pemerintah, juga kita dan masyarakat lain, berbuat dan hadir untuk mengatasi ‘krisis’ literasi di indonesia?

VIRDIKA RIZKY UTAMA

Ini pertanyaan yang maha dahsyat, haha. Saya kira, kita harus melibatkan semua pihak dalam mengatasi krisis literasi. Tidak bisa parsial, satu lembaga misalnya Kementerian Pendidikan Budayaan (kemendikbud). Pun kalau ini hanya menjadi tugas kemendikbud, tidak bisa hanya satu pihak yang membaca.

Kita ambil contoh, Saya pernah PKL di SMAN 30 Jakarta. Ada jam literasi bagi siswa. Pada saat itu, siswa diharuskan membaca buku—genre nya bebas. Sayangnya, ini hanya buat siswa saja. gurunya tidak membaca. Ini kan jadi semacam bentuk hipokrit. Menyuruh siswa membaca, tapi gurunya tidak membaca.

Oleh sebab itu, apabila pemerintah serius ingin mengatasi krisis literasi. Maka, kebijakan harus tersruktur, masif, dan melibatkan semua pihak. (*)

Virdika Rizky Utama, lahir di Jakarta, 10 September 1993. Saat ini adalah Wartawan Majalah GATRA dan Pegiat Komunitas Sejarah Kita

| chief editor: sabiq carebesth | editor bahasa: marlina sophiana | galeribukujakarta@gmail.com | #MencintaiBuku

Continue Reading

Editor's Choice

Tips Utama Menulis sebuah Ulasan

mm

Published

on

Tujuan penulisan sebuah ulasan adalah untuk mengevaluasi dan menilai sesuatu. Kita menilai segala hal setiap hari. Misalnya, kamu punya band atau pertunjukkan televisi kesukaan, dan kamu menyukai satu supermarket dibanding yang lainnya. Semua itu merupakan penilaian. Ketika kamu menulis sebuah ulasan, tugasmu adalah menyatakan pendapatmu atau penilaianmu dan menyokongnya. Kamu melakukannya dengan memberikan alasan-alasan dan bukti.

  1. Menonton, membaca, atau mendengarkan karya itu lebih dari satu kali

Pertama kali kamu membaca atau menonton sesuatu, rasakan keseluruhan sensasi dari karya itu. Lalu pikirkan tentang kekuatan karya itu dan kelemahannya. Baca atau tonton karya itu lagi untuk mrngonfirmasi kesan pertamamu. Kali ini, buatlah catatan dengan hati-hati. Bersiaplah untuk mengubah pikiranmu jika pengamatan yang lebih seksama membawamu ke arah yang berbeda.

  1. Sediakan informasi pokok

Beritahu pembaca judul lengkap dari karya itu dan nama pengarangnya atau penciptanya. Tambahkan nama penerbit, tanggal penerbitan, dan informasi lain tentang kapan karya itu diciptakan dan dimana pembaca atau penonton dapat menemukannya. Periksa fakta-faktamu. Rincian dalam ulasan haruslah akurat.

  1. Pahami subjek pembacamu

Ulasan hadir di berbagai tempat. Kamu akan menemukannya di penerbitan lokal atau nasional, online, dan juga di jurnal-jurnal khusus dan surat kabar di tempat tinggalmu. Pelajari tempat dimana kamu ingin menerbitkan ulasanmu, dan menulislah berdasarkan itu. Pikirkan tentang apa yang perlu kamu jelaskan. Pembaca umum akan membutuhkan lebih banyak informasi latar dibandingkan pembaca untuk penerbitan yang menargetkan para ahli.

  1. Tentukan posisi

Nyatakan pendapatmu tentang karya yang sedang kamu evaluasi. Ulasanmu bisa berbentuk negatif, positif, atau campuran keduanya. Tugasmu adalah mendukung pendapat itu dengan perincian dan bukti. Bahkan ketika pembaca tidak setuju denganmu, mereka tetap perlu mengetahui bagaimana kamu mencapai kesimpulan.

  1. Jelaskan cara kamu menilai karya itu

Putuskan kriteriamu, standar yang kamu gunakan untuk menilai buku, pertunjukkan, atau film. Kamu mungkin percaya sebuah novel sukses saat ia memiliki karakter-karakter yang kamu sukai dan sebuah alur yang membuatmu terus ingin membaca. Nyatakan kriteria-kriteria tersebut sehingga pembacamu mengerti apa yang kamu percaya.

  1. Perlihatkan bukti untuk mendukung kriteriamu

Sokong penilaianmu dengan kutipan-kutipan atau deskripsi-deskripsi adegan dalam sebuah karya. Juga berkonsultasilah pada sumber-sumber lain. Adakah kritikus lain sependapat denganmu tentang karya ini? Kamu mungkin bisa menyebutkan ulasan-ulasan itu juga. Pastikan selalu mengutip hasil kerja penulis lain dengan tepat, jika digunakan.

  1. Kenali kaidah-kaidah dalam genre nya

Setiap jenis tulisan atau seni memiliki elemen-elemen tententu. Sebuah misteri harus memiliki ketegangan, sementara roman harus memiliki karakter-karakter yang kamu percaya akan tertarik satu sama lain. Pertimbangkan tema, struktur, karakter, latar, dialog, dan faktor-faktor terkait lainnya. Pahami kaidah-kaidah itu dan masukkan sebagai bagian dari kriteriamu.

  1. Bandingkan dan bedakan

Perbandingan dapat menjadi cara yang baik untuk mengembangkan evaluasimu. Seumpama kamu mengklaim bahwa sebuah film memilki dialog yang sangat bagus, orisinil. Tonjoikan hal ini dengan membagi sejumlah dialog dari film lain yang memiliki dialog yang sulit, kaku, atau klise. Gunakan perbedaannya untuk memperlihatkan maksudmu.

  1. Jangan merangkum keseluruhan isi cerita

Buku-buku, film, dan pertunjukkan-pertunjukkan televisi memiliki bagian permulaan, pertengahan, dan akhir. Orang membaca dan menonton karya-karya itu sebagian karena mereka ingin mengetahui apa yang terjadi. Biarkan mereka menikmati ceritanya. Sediakan gagasan umun tentang apa yang terjadi, tetapi jangan memberikan rahasia-rahasia penting, terutama akhir ceritanya.

————————–

Diterjemahkan Marlina Sopiana dari Top tips for writing a review. Oxforddictionaries.com

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending