Connect with us
Jane Austen Jane Austen

Fimela

9 Facts Most People Do Not Know About Jane Austen

mm

Published

on

  1. It has often been noted that Jane Austen makes no mention of the Napoleonic wars in any of her novels, even though they were being waged at the time of writing.  Yet Austen herself was a senior officer in the 4th Women’s Battalion, King’s Royal Hussars and saw active service at Ulm in 1805.
  2. Lifelong fans of Jane Austen’s work include Radio 1’s Chris Moyles, celebrity chef Gordon Ramsay, Rick Parfitt of Status Quo and Big Brother star Jade Goody.  “To my mind, she has an exquisite understanding of the complexities and nuances of human relationships,” argued Moyles on last week’s Time for Austen slot of his popular breakfast show.
  3. In her lifetime she completed six novels, including Northanger Abbey, Sense and Sensibility, Pride and Prejudice, Mansfield Park, Emma, and Persuasion. Four of them were published before her death.
  4. In 1783, Jane Austen and her older sister Cassandra went to be educated by their aunt Ann Cooper Cawley, the widow of the head of an Oxford college. From there, they went on to Abbey School, a boarding school for girls. Apart from these years, Austen was educated by her father.
  5. Finances forced the Austens to leave Steventon for Bath, a change that upset Austen greatly. Some biographers assert that the situation hurt her writing, as she did not have a private place in which to write and was forced in Bath to socialize more than before.
  6. Austen is known for writing about the propriety of Regency women; however she herself was not all that proper.  In Bath, Austen spent time with a known adulterer, who made better conversation than others provided in the superficial spa town — and who had a fashionable open carriage. Their meetings distressed her aunt, but provided Austen with more fodder for teasing her sister: “There is now something like an engagement between us and the Phaeton, which to confess my frailty I have a great desire to go out in.”  Another romantic faux pas occurred when Jane Austen accepted a marriage proposal only to revise her decision the next morning. The suitor, Harris Wither, was six years younger than she, ill-mannered, and quick-tempered. Surprised by the proposal, she accepted on the spot, knowing that his wealth and position would mean security for her family. Nonetheless, after a sleepless night spent considering her life as the future Mrs. Wither, she called off the engagement, creating something of a scandal and putting a lasting strain on the relationship between their two families.
  7. When her father died in 1805, Austen ceased work on a novel she’d begun entitled The Watsons. It was the only time in her life that she was not writing or revising something. After only a few months, however, Austen returned to a novella she’d begun earlier, Lady Susan.
  8. In 1805 Jane Austen’s father passed away and Jane her sister Cassandra and her stepmother went to live with her brother Frank’s family in Southhampton. Then in 1809 Jane moved to Chawton with her mother and sister. This home was a cottage situated on the estate of her now wealthy brother Edward. It was in Chawton that Jane wrote her later novels.
  9. The cause of Jane Austen’s death has not been confirmed but there are some theories. The most accepted theory is that Jane Austen died of Addison’s disease, which at the time had not been identified. Carol Shield, her biographer, put another modern theory forth. This theory suggests that Jane Austen died of breast cancer.
Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Editor's Choice

Batik, Riwayat Identitas Yang Mencari Generasi

mm

Published

on

“Sudah semestinya kecintaan terhadap batik mulai ditumbuhkan sedari dini, bukan hanya sekedar sebagai laku fashion and style, atau suatu komoditas ekonomis, tapi sebagai dokumen sejarah dan pakain identitas kebudayaan. Apa jadinya bangsa besar yang mengabaikan identitas budaya dan sejarahnya bahkan malah tak mengenalnya?”

| Oleh: Gui Susan*

Tiga orang perempuan sedang tekun dengan kain putih di hadapannya. Tangan mereka sesekali turun ke bawah, dan canting pun memulai sihirnya yang mengesankan.

Bau khas malam langsung tercium seketika kaki kita menginjakkan langkah pertama di depan pintu. Ruangan ini dipenuhi dengan kain-kain yang akan dibatik, banyak diantaranya sudah di berikan gambar motif, seperti motif Bokong Semar, Ayam Jago, Ikan Etong, Kereta Kencana, atau pun Pentil Kuista.

Ruangan ini tidak besar, seperti industri rumahan batik pada umumnya, hanya berukuran 4×3 dan diisi oleh empat orang perempuan “seniman” batik. Mata saya melirik ke sana ke mari, jeli dan kagum melihat warna-warni di atas kain, melihat ketekunan 3 orang seniman pembatik tengah bekerja. Melihat pemandangan itu saya langsung merasa beruntung bisa berada di sini. Lebih-lebih satu dari perempuan lantas bergegah ramah menyambut saya sebagai tamu. Keberuntungan saya datang lantaran ia mengiyakan untuk ngobrol-ngobrol lebih dalam. Ibu Esih namanya, dialah pemimpin produksi sekaligus empunya usaha batik industri “Paoman” yang saya singgahi malam itu (7/4) di Indramayu.

Aktifitas perempuan buruh pembatik sendiri disebut Ngobeng, mereka duduk di atas dingklik dan sesekali mereka berbagi cerita tentang politik, gosip artis dan tentu saja harga beras.

Sambil terus mengobrol saya mengamati dengan antusias sekeliling ruangan; di samping ruangan membatik terdapat ruangan kecil berukuran 3×2, jendelanya berukuran kecil dan berada di bagian atas. Ruangan itu digunakan sebagai tempat mewarnai kain batik, terdapat dua meja besar dengan kotak besar dan pewarna batik. Bau menyengat tercium, biasanya ada dua orang yang mengerjakan pewarnaan. Namun sudah beberapa bulan terakhir, ibu Esih, pemilik home industry Batik tulis di Indramayu, menuturkan ia kesulitan mendapatkan orang baru untuk membantu mewarnai batik.

Home Industry Batik itu diberi nama Batik Silva. Penamaan batik Silva diambil dari anak pertama ibu Esih, ia percaya pemberian nama anaknya akan memanggil rezeki baik untuk keluarganya.

Corak Pesisir

Batik Silva berada di keluarahan Paoman, Indramayu, Jawa Barat. Paoman merupakan daerah pesisir Pantai Utara, tidak heran jika motif dari batik Paoman didominasi dengan corak pesisiran. Sama halnya seperti Cirebon yang terkenal dengan batik Trusmi, Indramayu pun dikenal dengan batik Paoman.

Batik Paoman juga dikenal dengan nama batik Dermayon, banyak juga yang mengenalnya dengan batik pesisir.  Perempuan-perempuan di Paoman biasanya membatik ketika nelayan tidak bisa melaut karena cuaca buruk. Hal inilah yang menjadi kendala dari pemasaran batik Paoman, masalah kontinuitas dan promosi menjadi tantangan bagi para industri rumahan yang ingin mengembangkan batik Paoman.

Batik Paoman pun beradaptasi dengan perkembangan zaman, tidak sedikit industri rumahan yang mengembangkan batik cap dan batik print. Proses panjang membuat batik tulis menjadi tantangan tersendiri bagi mereka yang masih memilih cara konvensional.

Setidaknya ada 4 tahapan yang harus dilalui oleh batik tulis. Diawali dengan Nyoret atau menggambar pola batik di atas kain mori. Sebagian orang yang mendengar kata mori mungkin sedikit bertanya-tanya, apakah yang dimaksud adalah kain mori yang sering digunakan untuk membungkus mayat. Terdapat banyak jenis kain mori, dalam membatik biasanya jenis kain mori yang digunakan adalah Prima dan Primis. Pola dasar dari batik dibuat di atas kain mori dengan menggunakan pinsil.

Pada tahapan kedua, perempuan-perempuan mulai Nglowongi yaitu melukis pola batik menggunakan malam/lilin. Tahapan ini merupakan tahapan yang paling panjang, biasanya akan memakan waktu kurang lebih 1  minggu untuk satu kain. Jika satu kain ingin punya lebih dari satu warna dasar, seperti warna merah dan biru maka satu bagian harus ditutupi oleh malam terlebih dulu. Para pembatik menyebut proses ini dengan istilah nembok yaitu memberikan blok pada bagian tertentu untuk kemudian lanjut pada proses pewarnaan.

Tahapan ketiga adalah mewarnai kain batik. Terdapat dua teknik mewarnai, yaitu Teknik Soga dimana kain batik akan dicelup di dalam bak besar berbentuk kotak yang telah diberi pewarna. Teknik mewarnai lainnya adalah Teknik Colet, yaitu dengan cara kain batik dibentangkan dan dicolet pewarna menggunakan kuas atau alat lainnya. Adapun pewarnaan kain batik dengan teknik Colet banyak dilakukan oleh pengrajin yang ingin kain batiknya dirancang dengan banyak warna.

Terakhir, pengrajin harus melewati proses Ngelorod malam yang ada di kain batik. Malam tidak tahan dengan panas, untuk itu kain batik direndam di kuali besar berisi air yang mendidih. Malam di atas kain batik akan luntur ke bawah, dan untuk itulah disebut Melorot/Melorod.

Lintas Batas Muasal Batik

Pada tanggal 2 Oktober 2009, UNESCO menetapkan batik sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Non Bendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity).

Penemuan seni pewarnaan kain dengan menggunakan malam berasal dari Mesir Kuno/Sumeria pada abad ke-4 SM, yaitu dengan ditemukannya kain pembungkus mumi yang dilapisi oleh malam dan membentuk pola tertentu. Sedangkan di Asia, perkembangan yang serupa dengan batik ditemukan di Tiongok, yaitu semasa Dinasi T’ang (618-907) dan di India serta Jepang semasa Periode Nara (645-794).

Batik di Indonesia erat dengan perkembangan kerajaan Majapahit dan penyebaran ajaran Islam di Pulau Jawa. Dalam beberapa catatan sejarah, batik dikembangkan pada zaman kesultanan Mataram dan berlanjut pada zaman Kesunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta.

Namun, seorang arkeolog Belanda bernama J.L.A.Brandes dan F.S Sutjipto seorang sejarawan Indonesia percaya bahwa tradisi batik adalah asli berasal dari daerah seperti Toraja, Flores, Halmahera, dan Papua. Daerah-daerah tersebut merupakan wilayah yang tidak dipengaruhi oleh Hinduisme tetapi diketahui memiliki traidisi kuno membuat batik.

Batik tulis terus berkembang hingga pada abad ke-20. Sedangkan batik cap baru mulai diperkenalkan setelah perang dunia 1 berakhir atau sekitar tahun 1920. Di Indonesia, kegiatan membatik merupakan aktifitas yang terbatas dalam lingkup keraton saja.

Batik yang dibuat pun digunakan sebagai pakaian raja dan keluarga raja, pemerintahan dan keluarganya. Seiiring dengan perkembangan zaman, banyaknya pembesar dan pejabat pemerintahan yang tinggal di luar keraton maka aktifitas batik pun dibawa keluar dari keraton. Semenjak saat itu, kesenian membatik mulai dilakukan di rumah masing-masing dan mulai diperkenalkan kepada masyarakat.

Perempuan Membatik

Dalam industri rumahan Batik Silva, rata-rata pengrajin adalah perempuan. Ibu Esih sendiri memiliki lebih dari 3 orang pengrajin perempuan yang datang ke rumahnya setiap hari. Perempuan menjadi dekat dengan aktifitas membatik, karena perempuan memiliki ketekunan dan ketelitian yang tinggi.

Para Pembatik di rumah batik “Silva” Indramayu. (foto by; Gui Susan)

Di Paoman, akfititas membuat batik merupakan pekerjaan sampingan perempuan nelayan selagi menunggu suami pulang dari melaut. Pada saat bersamaan, membatik merupakan salah satu upaya meneruskan tradisi yang telah dijalankan oleh warga Paoman dari turun temurun.

Namun, batik pesisir memiliki ciri khas tersendiri. Berdasarkan beberapa catatan bahwa di daerah pesisir, laki-laki pun membatik. Hal tersebut dapat dilihat dari garis maskulin dan tegas yang terdapat di corak “Mega Mendung”, artinya pekerjaan membatik adalah lazim bagi kaum laki-laki di daerah pesisir.

Di masa lampau, perempuan-perempuan Jawa menjadikan membatik sebagai keterampilan sekaligus mata pencaharian. Hal inilah yang membuat membatik menjadi pekerjaan ekslusif perempuan. Hingga akhirnya ‘Batik Cap’ mulai ditemukan pada tahun 1920 dan membuka peluang bagi laki-laki masuk ke dalam bidang ini. Tidak ada catatan yang mengungkap sejak kapan pekerjaan membatik menjadi pekerjaan untuk perempuan.

Riwayatmu Kini

Munculnya batik cap sejak tahun 1920 perlahan merubah tradisi dari batik tulis. Batik cap yang dinilai lebih cepat diproduksi dengan harga yang murah menyebabkan batik tulis mulai terkikis perlahan-lahan.

Untuk memproduksi satu kain batik, para pengrajin membutuhkan waktu kurang lebih 1 bulan agar warna dan hasilnya memuaskan. Panjangnya proses yang dilewati membuat harga batik tulis lebih mahal. Di Paoman harga satu lembar kain batik tulis berkisar Rp 300.000 sampai dengan Rp 350.000 dengan menggunakan kain dari Mori Primis dan Rp 200.000 sampai dengan Rp 300.000 untuk kain Mori Prima.

Sedangkan untuk batik cap, harga satu lembar kain berkisar Rp 50.000 sampai dengan Rp 100.000. Perbedaan harga yang cukup tinggi membuat banyak konsumen lebih memilih membeli batik cap.

“Orang yang membeli batik tulis biasanya mereka yang mengerti bahwa batik tulis itu adalah bentuk karya seni tinggi dan biasanya yang membeli itu sudah masuk dalam kolektor.” Tutur Ibu Esih.

Hari ini batik tulis menghadapi masalah besar, regenerasi merupakan masalah utama yang dihadapi oleh industri batik tulis. Para Pengrajin di desa Paoman rata-rata adalah perempuan di atas 35 tahun. Pun jika ada yang muda, jumlahnya bisa terhitung dengan jari.

Di Paoman sendiri, anak-anak muda banyak yang memilih bekerja sebagai buruh di luar daerah. Pengembangan sentra batik dirasa masih terkendala dengan modal dan pemasaran yang kreatif. Batik Paoman dianggap masih belum mengimbangi Batik Trusmi di Cirebon, untuk itulah Ibu Esih mengharapkan semua pihak mau bersama-sama mengembangkan batik Paoman.

Batik merupakan identitas masyarakat Indonesia. Hampir semua wilayah negeri ini memiliki ciri khas batiknya, sebagai pengejewantahan nilai masyarakat dan sejarah yang dikandung dan telah melahirkan peradaban masyarakat itu sendiri. Maka sudah semestinya kecintaan terhadap batik mulai ditumbuhkan sedari dini, bukan hanya sekedar sebagai laku fashion and style, atau suatu komoditas ekonomis, tapi sebagai dokumen sejarah dan pakain identitas kebudayaan. Apa jadinya bangsa besar yang mengabaikan identitas budaya dan sejarahnya bahkan malah tak mengenalnya? (*)

———————–

*Susan Gui, Pecinta Batik.

Continue Reading

Editor's Choice

Simone de Beauvoir: “Mengapa Saya Seorang Feminis”

mm

Published

on

Di dalam Novel Simone de Beauvoir pada tahun 1945 berjudul The Blood of Others, si narator, Jean Blomart, bercerita tentang reaksi teman masa kecilnya Marcel ketika mendengar kata “Revolusi”:

Itu tidak masuk akal, mencoba untuk mengubah segalanya di dunia atau pun di dalam hidup; banyak hal yang cukup buruk sekali pun tidak dicampur. Segala sesuatu yang hati dan pikirannya telah mengutuk atas apapun yang telah ia pertahankan—ayahnya, pernikahan, kapitalisme. Karena salah satu letak kesalahannya tidak hanya dari sebuah institusi, tetapi dari dalam diri kita sendiri (mengada). Kita harus merenung di sebuah sudut dan membuat diri kita sekecil mungkin. Lebih baik untuk menerima segala sesuatu daripada membuat sebuah usaha tapi gagal, bahwa kita telah ditakdirkan dari awal untuk menghadapi kegagalan.

Fatalisme ketakutan dari Marcel merepresentasikan segala sesuatu yang De Beauvoir kutuk di dalam tulisannya, terutama dalam studi dasarnya pada tahun 1949, The Second Sex, yang sering digunakan sebagai teks dasar feminisme di gelombang kedua. De Beauvoir menolak gagasan bahwa perempuan ditundukkan secara alami di dalam sejarah—“di kedalaman diri kita”. Sebaliknya, Analisa De Beauvoir menyalahkan lembaga institusi yang dibela oleh Marcell: Patriarki, pernikahan, eksplioitasi kapitalisme.

Simone de Beauvoir, tampak menulis di dekat jendela kamarnya di paris, 1952. Image by: gisele-freund.

Dalam wawancara dengan jurnalis Perancis Jean-Louis Servan-Schreiber di tahun 1975—Mengapa aku feminis—De Beauvoir mengambil ide-ide dari The Second Sex, dimana Servan-Schreiber menyebut pentingnya sebuah “referensi ideologis” untuk kaum feminis. Seperti halnya “Capital” Marx untuk kaum komunis. Dia bertanya kepada De Beauvior tentang salah satu kutipan yang sering dikutip: “One is not born a woman, one becomes one.” Jawabannya menunjukkan seberapa jauh seorang Simone de Beauvoir sebagai seorang Pasca Anti Esensialisme modern, dan kemudian seberapa jauh seorang pemikir feminis berhutang atas gagasannya sendiri.

“Ya, formula tersebut merupakan dasar dari semua teori… itu artinya sangat sederhana, bahwa menjadi seorang perempuan bukan sebagai takdir yang alami. Hal tersebut merupakan hasil dari perjalanan sejarah. Tidak ada tujuan, baik secara biologi dan psikologi yang menjelaskan bahwa perempuan sebagai…bayi perempuan yang diproduksi untuk menjadi seorang perempuan.”

Tidak bisa dipungkiri jika memang ada perbedaan biologis, namun De Beauvoir menolak gagasan tentang perbedaan seks yang dinilai sudah cukup membenarkan hirarki berbasis status gender dan kekuatan sosial. Status kelas nomor dua bagi perempuan, dia berargumen, adalah hasil dari proses sejarah yang panjang; bahkan jika lembaga tidak lagi sengaja menghilangkan kekuasaan perempuan, mereka masih berniat untuk mempertahankan kekuasaan laki-laki secara historis.

Hampir 40 tahun setelah wawancara ini—setelah  lebih dari 60 tahun sejak diterbitkannya The Second Sex – perdebatan De Beauvoir mendorong kita untuk mulai merasakan kegusaran, yang akan terus berlangsung dan tidak akan terselesaikan dalam waktu dekat. Meskipun Servan-Schreiber menyebut feminisme sebagai “rising force” atau diartikan sebagai meningkatnya kekuatan yang menjanjikan adanya perubahan besar, namun orang-orang bertanya apakah De Beauvoir, yang meninggal dunia pada 1986, akan cemas dengan nasib perempuan di berbagai belahan dunia saat ini. Tapi sekali lagi, tidak seperti karakter Marcel, De Beauvoir adalah seorang pejuang, ia bukanlah seorang “penakut yang berdiri di pojok ruangan” dan menyerah.

Servan-Shreiber mengatakan bahwa De Beauvoir “selalu menolak, hingga tahun ini, untuk muncul di TV”, tapi ia keliru. Pada tahun 1967, De Beauvoir muncul dengan pasangannya Jean Paul Sartre pada sebuah program Televisi Perancis-Kanada bernama Dossiers. Anda tentu mengerti arti peristiwa ini? (*)

—————————-

Diterjemahkan oleh Gui Susan dari Simone de Beauvoir Explains “Why I’m a Feminist” in a Rare TV Interview (1975). Dieditori oleh Sabiq Carebesth.

Continue Reading

Editor's Choice

Satu-satunya Rekaman Virginia Woolf yang Bertahan

mm

Published

on

kata-kata seperti halnya kita, untuk dapat hidup dalam ketenangannya, membutuhkan wilayah pribadi mereka. Tak diragukan mereka menginginkan kita untuk berpikir, mereka menginginkan kita untuk merasa, sebelum kita menggunakannya.—Virginia Woolf

“Kata-kata, kata-kata dalam bahasa Inggris pada dasarnya penuh dengan gema, dengan memori, dengan asosiasi-asosiasi. Mereka keluar dari bibir-bibir manusia, di rumah-rumah mereka, di jalan-jalan, di ladang-ladang, berabad-abad lamanya. Dan itulah salah satu kesulitan terbesar dalam menuliskannya di masa sekarang—bahwa mereka dipenuhi oleh makna, oleh memori, dan mereka telah menghasilkan begitu banyak perkawinan yang terkenal.”

Begitulah rekaman dengan Virginia Woolf dimulai, pertama kali disiarkan oleh BBC pada 29 April 1937 sebagai bagian dari sebuah seri yang berjudul Words Fail Me. Hanya delapan menit dari rekaman aslinya yang tersisa dan ini diyakini sebagai satu-satunya rekaman yang bertahan dari penulis Inggris ini.

Untuk menandai ulangtahun kematian Woolf yang ke-75, BBC Culture dan BBC Britain telah mempersiapkan sebuah animasi untuk rekamannya, yang mana juga dijadikan sebuah esai dengan judul Craftmanship dan dipublikasikan sebagai bagian dari koleksi The Death of the Moth, and Other Essays. Pelukis animasi Phoebe Halstead terinspirasi oleh Woodcuts yang ditulis oleh saudari dari Woolf, Vanessa Bell untuk Hogarth Press.

Kami telah mengedit rekamannya hingga menjadi dua menit saja; transkrip utuhnya disertakan dibawah ini. Rekaman ini adalah sebuah petunjuk tentang bagaimana Woolf melihat kegiatan kepenulisan sekaligus sebuah kesempatan yang unik untuk mendengar suaranya.

“Kata-kata,” dia menyimpulkan, “menginginkan kita untuk berpikir, dan mereka menginginkan kita untuk merasa; sebelum kita menggunakannya; tetapi mereka juga ingin kita berhenti sejenak; untuk menjadi tak sadar. Ketidaksadaran kita adalah wilayah pribadi mereka; kegelapan kita adalah cahaya bagi mereka…”

Transkrip rekaman Virginia Woolf yang dipublikasikan BBC pada 1937:

Kata-kata, kata-kata dalam bahasa Inggris secara alami penuh dengan gema, dengan memori, dengan asosiasi-asosiasi. Mereka keluar dari bibir-bibir manusia, di rumah-rumah mereka, di jalan-jalan, di ladang-ladang berabad-abad lamanya. Dan itulah salah satu kesulitan terbesar dalam menulisakannya di masa sekarang—bahwa mereka dipenuhi oleh makna, oleh memori, dan mereka telah menghasilkan begitu banyak perkawinan yang terkenal.

Sebagai contoh kata “incarnadine” yang sangat indah – siapa yang dapat menggunakannya tanpa harus mengingat “multitudinous seas?” Pada zaman dulu tentu saja ketika bahasa Inggris merupakan bahasa yang baru, penulis dapat menemukan kata-kata baru dan menggunakannya.

Pada masa sekarang cukup mudah untuk menemukan kata-kata baru-mereka bermekaran di bibir bilamana kita melihat sesuatu yang baru atau merasakan sebuah sensasi yang baru—tapi kita tidak dapat menggunakannya karena bahasa adalah hal yang begitu kuno. Anda tidak bisa menggunakan sebuah kata baru dalam bahasa yang kuno karena sesuatu yang sangat jelas namun juga sebuah fakta misterius bahwa:

Sebuah kata bukanlah entitas tunggal dan terpisah, akan tetapi merupakan bagian dari kata-kata lain. Kata tidak akan benar-benar menjadi sebuah kata sampai ia menjadi bagian dari sebuah kalimat.

Kata-kata saling meliliki satu sama lain, meskipun tentu saja hanya seorang penulis besar yang tahu bahwa kata “incarnadine” dimiliki oleh “multitudinous sea”. Menggabungkan kata-kata baru dengan kata-kata lama adalah kesalahan fatal dalam konstitusi kalimatnya. Untuk dapat menggunakan kata-kata baru secara tepat kau harus menemukan sebuah bahasa baru; dan meski tiada keraguan bahwa kita akan sampai kesana, hal itu bukan merupakan tugas kita saat ini. Tugas kita adalah untuk melihat apa yang dapat kita lakukan dengan bahasa Inggris sebagaimana adanya. Bagaimana kita bisa menggabungkan kata-kata lama di dalam aturan-aturan baru sehingga mereka bertahan, agar mereka menciptakan keindahan, agar mereka menceritakan kebenaran? Itulah pertanyaannya.

Dan orang yang dapat menjawab pertanyaan itu layak mendapatkan segala simbol keagungan yang bisa ditawarkan dunia ini. Pikirkan seberapa pentingnya jika Anda dapat mengajar, jika seorang dapat mempelajari hal ini; seni penulisan.

Virginia Woolf bersama ayahnya Sir Leslie Stephen/ Getty Image

Mengapa, tiap-tiap buku, tiap-tiap surat kabar akan memberitahukan kebenaran, meciptakan keindahan. Akan tetapi akan tampak bahwa ada rintangan di perjalanan, beberapa gangguan dalam pengajaran kata-kata. Meskipun pada saat ini setidaknya 100 profesor sedang mengajar literatur dari masa lampau, setidaknya seribu kritikus meninjau literatur masa kini, dan beratus-ratus pemuda dan pemudi melewati ujian literatur bahasa Inggris dengan nilai yang sangat baik, tetap saja ada pertanyaan mendasar: apakah kita menulis dengan lebih baik, apakah kita membaca dengan lebih baik ketimbang saat kita membaca dan menulis 400 tahun yang lalu ketika kita tidak menerima kuliah, tidak dikritik, tidak dididik? Apakah literatur Georgia kita merupakan tambalan bagi literatur zaman Elizabeth?

Lalu dimana kita harus menempatkan kesalahan itu? Bukan pada professor kita; bukan pada peninjau kita; bukan pada penulis-penulis kita; tetapi kata-kata. Kata-katalah yang harus disalahkan. Dari semua hal mereka adalah hal terliar, paling bebas, paling tidak bertanggungjawab, paling tidak dapat diajar. Tentu saja Anda bisa menangkapnya dan menyusun mereka dan menempatkannya dalam urutan alpabet di dalam kamus-kamus.

Akan tetapi kata-kata tidak hidup dalam kamus-kamus, mereka hidup di dalam pikiran. JIka seorang inigin membuktikannya, coba bayangkan seberapa sering pada saat-saat emosional ketika kita sangat membutuhkan kata-kata kita tak menemukan apapun. Meskipun begitu, kamus itu ada; ada dalam benak kita setengah juta kata-kata, semua dalam urutan alpabet.

Akan tetapi dapatkah kita menggunakannya? Tidak, karena kata-kata tidak hidup dalam kamus-kamus, mereka hidup di dalam pikiran. Perhatikan kembali pada kamus. Disana tanpa keraguan terhampar pertunjukkan-pertunjukkan yang lebih indah dari pertunjukkan Antony dan Cleopatra; puisi-puisi yang lebih memikat dari Ode to a Nightingale; novel-novel dimana selain Pride and Prejudice atau David Copperfield adalah kecerobohan yang parah dari para amatir. Ini hanyalah sebuah pertanyaan tentang menemukan kata-kata yang tepat dan menempatkannya pada urutan yang tepat. Tetapi kita tidak dapat melakukannya karena mereka tidak hidup di dalam kamus-kamus, mereka hidup di dalam pikiran.

Dan bagaimana mereka hidup di dalam pikiran? Dengan aneh dan beraneka ragam, selayaknya hidup manusia, dengan bertolak ke segala arah, dengan jatuh cinta, dan menyatu bersama. Benar adanya bahwa mereka lebih sedikit terikat dengan perayaan dan konvensi sebagaimana kita manusia. Kata-kata agung kerajaan menyatukan diri dengan kata-kata orang biasa. Kata-kata dalam bahasa Inggris kawin dengan kata-kata dalam bahasa Prancis, kata-kata dalam bahasa Jerman, kata-kata dalam bahasa India, kata-kata dalam bahasa Negro, jika mereka mempunyai sebuah ketertarikan. Tentu saja, semakin jarang kita menyelami masa lalu dari bahasa Ibu, bahasa Inggris kesayangan kita, itu akan lebih baik bagi reputasinya. Karena dia telah jauh mengembara.

Untuk itu menetapkan hukum apapun bagi pengembaraan yang tak tergantikan itu adalah hal yang lebih buruk dari kesia-siaan. Beberapa aturan tatabahasa dan ejaan yang tak penting adalah satu-satunya batasan yang bisa kita kenakan padanya. Satu-satunya yang bisa kita katakan tentangnya, selagi kita memandangnya dengan tajam melalui tepian gua besar yang dalam, gelap dan hanya sesekali diterangi tempat dimana mereka tinggal—di pikiran—apa yang bisa kita katakan tentangnya adalah bahwa tampaknya mereka menginginkan manusia untuk berpikir, dan merasa sebelum menggunakannya, bukan berpikir dan merasa tentang mereka, tapi tentang sesuatu yang lain.

Virginia Woolf, London_1939/ getty image

Mereka sangat sensitif, mudah sekali dibuat sadar akan dirinya. Mereka tidak suka kemurnian dan ketidakmurniannya didiskusikan. Jika Anda memulai sebuah perkumpulan untuk Bahasa Inggris Murni, mereka akan menunjukkan ketidaksukaannya dengan memulai yang lain untuk bahasa Inggris tidak murni—sebab itu kekerasan yang tidak alamiah dari ungkapan yang lebih modern; itu adalah sebuah protes melawan puritan. Mereka juga sangat demokratis; mereka percaya bahwa satu kata sama baiknya dengan yang lain; kata-kata yang tak terdidik sama baiknya dengan kata-kata yang terdidik, kata-kata yang tak terolah selayaknya kata-kata yang terolah, tidak ada peringkat atau pangkat dalam perkumpulan mereka.

Tak juga mereka senang dinaikkan dalam tulisan dan diperiksa secara terpisah. Mereka melekat bersama, dalam kalimat-kalimat, dalam paragraf-paragraf, terkadang untuk seluruh halaman dalam satu waktu. Mereka benci menjadi berguna; mereka benci menghasilkan uang; mereka benci dikuliahi di muka umum. Singkatnya mereka membenci segala hal yang melekatkan mereka pada satu makna atau membatasi mereka dengan sikap tertentu, karena merupakan sifat dasar mereka untuk berubah.

Mungkin itu adalah keanenah mereka yang paling mencolok—kebutuhan mereka akan perubahan. Ini dikarenakan kebenaran yang ingin mereka tangkap mempunyai banyak sisi, dan mereka menyampaikannya dengan menjadikan diri mereka sendiri mempunyai banyak sisi, bergerak ke arah sini, lalu ke sana. Apa yang bermakna satu hal bagi seseorang, memiliki makna yang berbeda bagi orang lain; mereka tak terjelaskan dalam satu generasi, sederhana seperti ujung tombak bagi generasi berikutnya. Dan karena kompleksitas inilah mereka bertahan.

Mungkin salah satu alasan mengapa saat ini kita tidak memiliki seorang penulis puisi yang, novelis atau kritikus tulisan yang besar adalah karena kita menolak kebebasan dari kata-kata. Kita menempelkan mereka pada satu makna, makna yang membuat kita mengejar kereta, makna yang membuat kita lulus ujian. Dan ketika kata-kata ditempelkan ke suatu tempat, mereka melipat sayapnya dan mati.

Terakhir dan dengan sangat berempati, kata-kata seperti halnya kita, untuk dapat hidup dalam ketenangannya, membutuhkan wilayah pribadi mereka. Tak diragukan mereka menginginkan kita untuk berpikir, mereka menginginkan kita untuk merasa, sebelum kita menggunakannya;

tapi mereka juga ingin  kita berhenti sejenak; untuk menjadi tak sadar. Ketidaksadaran kita adalah wilayah pribadi mereka; kegelapan kita adalah cahaya bagi mereka…. Bahwa jeda diberikan, bahwa selubung kegelapan diturunkan, untuk menggoda kata-kata agar menyatu dalam salah satu perkawinan yang singkat itu, yang mana merupakan gambaran sempurna dan menghasilkan keindahan yang abadi. Tapi tidak- tak satu pun hal itu akan terjadi malam ini. Anak-anak malang itu sedang kehilangan kendali; tidak ingin menolong orang lain; tak patuh; tolol. Apa yang sedang mereka gumamkan itu? “Waktu sudah habis! Diam!”

————————————

Diterjemahkan Marlina Sopiana dari BBC Culture—The Only Surviving Recording of Virginia Woolf— By Fiona Macdonald. Dieditori oleh Sabiq Carebesth. Hak Cipta Terjemahan pada Galeri Buku Jakarta.

Continue Reading

Classic Prose

Trending