Connect with us

Milenia

Beauty and the Beast Yang Kini Lebih Humanis

mm

Published

on

Versi live-action tampil lebih humanis dibandingkan versi animasi.

Versi live-action dari film animasi buatan Disney, Beauty and the Beast, baru saja mulai tayang di bioskop-bioskop tanah air dan menuai atensi yang begitu besar dari masyarakat. Dibintangi oleh Emma Watson sebagai Belle dan Dan Stevens sebagai the Beast, film ini ternyata memiliki beberapa perubahan bentuk cerita dibandingkan versi animasinya yang rilis pada 1991 silam. Apa saja perbedaan tersebut? Berikut perbedaan nyata yang kami kutip dari laman The Insider.

  • Belle tidak terbang melintasi rak buku perpustakaan

Dalam versi animasinya, Belle diperlihatkan terbang seraya menari melintasi rak-rak buku di perpustakaan. Namun di versi live-action, Belle tidak digambar sebegitu ajaibnya untuk mampu terbang, melainkan hanya berjalan melintasi perpustakaan dan mengambil sebuah buku yang diminatinya.

  • Belle tidak mendongeng di hadapan sekumpulan domba

Sebelumnya, cerita animasi Beauty and the Beast menggambarkan adegan pembuka berupa kehadiran sosok Belle yang bernyanyi seraya membacakan dongeng dari sebuah buku kepada sekumpulan domba yang mengitarinya saat duduk di tepian kolam air mancur.

  • Cinta Gaston ditolak secara halus oleh Belle

Sesungguhnya penolakan Gaston oleh Belle di versi animasinya terlihat kasar sekaligus lucu, yakni sang pria kekar tersebut dilempar keluar dari rumah Belle dan terjatuh di kubangan lumpur dengan sambutan menggelikan dari para babi yang berkubang di sana. Adapun di versi live-action, Belle menolak Gaston dengan halus layaknya seorang wanita menolak pria yang menembak hatinya,

Dandelion atau dalam Bahasa Indonesia disebut bunga randa tapak, tidak ditampilkan sedikit pun di dalam versi live-action film Beauty and the Beast. Padahal adegan Belle meniup dandelion adalah salah satu yang paling berkesan di versi animasinya yang tayang pada 1991 silam. Adapun adegan pengganti di versi live-action adalah ketika Belle berbaring di atas rumput hijau setelah berlari dan bernyanyi di area terbuka.

  • Belle yang menghampiri Beast, bukan sebaliknya.

Di versi animasi, Belle digambarkan ketakutan menunggu sosok Beast muncul menuju cahaya di depannya. Namun sayang, ketegangan tersebut diganti dengan sikap penasaran yang ditunjukkan oleh Belle ketika akan bertemu Beast untuk pertama kalinya di versi live-action.

  • Apakah Gaston tetap bersikap misoginis?

Gaston digambarkan sebagai sosok misoginis yang gemar memamerkan otot di hadapan orang lain, terutama di depan wanita. Menariknya, di versi live-action, Gaston justru digambarkan sebagai pria kharismatik yang dikenal sebagai pahlawan muda yang melindungi kota tempat tinggal Belle dari serangan gerombolan perampok bengis. Lalu mengapa Belle tidak menyukainya? Lebih baik Anda menonton langsung untuk mencari tahu jawabnya.

  • Beast dan Belle tukar posisi saat bermain lempar bola salju

Dalam versi animasinya, saat lagu Something There dinyanyikan, Beast dan Belle digambarkan tengah bercana saling lempar bola salju denga akhir tumpukan salju di batang pohon jatuh di atas kepala Beast. Namun pada versi live-action, justru Belle yang terkena bola salju di wajahnya.

Selengkapnya: AXEL ABYAN / http://www.esquire.co.id

Milenia

Bagaimana Menjadi Lebih Produktif dan Mengelola Waktu Dengan Efektif

mm

Published

on

Ihtisar:

  • Cari tahu apa motivasi Anda dan apa arti produktivitas bagi Anda.
  • Prioritaskan tugas sehingga Anda mengerjakan hal yang paling penting.
  • Cari akar dari penundaan pekerjaan sehingga Anda dapat mengambil langkah untuk membuat tugas Anda lebih mudah dikelola.

Oleh Allison Pohle / wsj.com

Anda mungkin berpikir bahwa Anda perlu menyelesaikan semua yang ada di daftar tugas Anda agar dapat menyebut diri Anda produktif, tetapi para ahli mengatakan produktivitas adalah tentang memilih tugas yang benar daripada mengerjakan semua yang ada di dalam daftar. Laura Mae Martin, penasihat produktivitas eksekutif di Alphabet Inc. Google, bertugas melatih staf agar lebih produktif. Ketika dia berbicara di depan kelompok, dia akan meminta mereka untuk menutup mata dan membayangkan satu hari di mana mereka sangat produktif. Dia kemudian meminta kelompok itu untuk mengangkat tangan jika hari yang mereka bayangkan melibatkan menonton Netflix sepanjang hari. Biasanya tidak ada yang mengangkat tangan. Menurut dia, seringkali orang mengasosiasikan produktifitas dengan mengerjakan banyak hal dari daftar tugas mereka. “Tapi menurut saya inti dari produktivitas adalah benar-benar memikirkan apa yang ingin Anda lakukan, dan jika itu menghabiskan waktu bersama keluarga, jika itu adalah hari di mana Anda hanya menonton Netflix, dan kemudian Anda melakukannya, bagi saya itu adalah hari yang produktif, ”katanya. Kami berbicara dengan para ahli tentang produktivitas tentang cara menjadi lebih efisien dengan cara yang masuk akal bagi Anda.

Identifikasi motivasi Anda.

Menentukan apa yang mendorong keinginan Anda untuk menjadi produktif dapat membantu Anda fokus. Mengejar produktivitas tanpa niat yang benar bisa jadi sia-sia, kata Khe Hy, pendiri RadReads, buletin dan situs web yang membahas produktivitas, uang, dan ambisi. Walaupun terdengar sederhana, jika Anda ingin menjadi lebih produktif, Hy menyarankan Anda untuk mulai bertanya pada diri sendiri, “Untuk apa Saya melakukan ini?”

Misalnya, jika Anda mengunduh aplikasi produktivitas, tanyakan pada diri Anda mengapa Anda ingin menjadi lebih produktif. Mungkin Anda ingin menyelesaikan lebih banyak tugas di tempat kerja. Dia kemudian menyarankan untuk bertanya pada diri sendiri, “Mengapa?” Mungkin Anda ingin menghasilkan lebih banyak uang. Pikirkan mengapa Anda menginginkannya — mungkin agar Anda tidak perlu khawatir tentang ketidakamanan finansial. “Kebanyakan semua ini dimulai dari menanyakan pertanyaan yang tepat,” katanya. “Jika Anda tidak bisa menghubungkan aktivitas dengan hasrat tertinggi Anda, Anda tetap bisa menjadi orang paling produktif di dunia — Anda hanya berenang ke arah yang salah.”

Tingkatkan efisiensi Anda dengan memprioritaskan daripada multitasking

Narasi budaya yang mengatakan bahwa menjadi produktif berarti Anda harus bekerja lebih keras dan melakukan lebih banyak hal dapat masuk ke dalam bawah sadar Anda, kata Chris Sparks, pendiri dan kepala eksekutif The Forcing Function, sebuah perusahaan peningkatan kinerja untuk investor, eksekutif dan pengusaha. Karena itu, banyak klien Sparks terkejut ketika dia mendorong mereka untuk melakukan lebih sedikit. Jika kita lebih memperhatikan tujuan dari tindakan kita, kita cenderung menghabiskan waktu kita untuk mengerjakan tujuan yang berarti, katanya. “Jika kita melakukan lebih sedikit, kita dapat melakukan hal-hal yang membuat kita maju lebih cepat.”

 “Jika Anda tidak bisa menghubungkan aktivitas dengan hasrat tertinggi Anda, Anda tetap bisa menjadi orang paling produktif di dunia — Anda hanya berenang ke arah yang salah.”

— Khe Hy, RadReads

Tetap fokus di hari kerja reguler biasa menjadi sebuah tantangan, apa lagi selama pandemi global. Jika Anda berangkat ke tempat kerja, Anda mungkin khawatir tentang kesehatan Anda. Masalah penitipan anak juga menjadi perhatian bagi banyak orang tua yang bekerja, sementara bekerja dari rumah bias menghadirkan serangkaian gangguan lain, kata Marie Poulin, konsultan alur kerja. Ini dapat membuat kita mengerjakan banyak tugas sekaligus. “Saya pikir multitasking adalah cara tercepat menuju kelelahan kerja,” katanya. Alih-alih mencoba melakukan semuanya sekaligus, ada baiknya bersikap metodis terhadap daftar tugas Anda.

Tip produktivitas

  • Luangkan waktu untuk membuat rencana. Orang sering lupa menyediakan waktu untuk membuat rencana, kata Poulin. Luangkan waktu untuk memikirkan tujuan Anda atau untuk mengeksplorasi apa yang Anda harapkan dari sebuah proyek.
  • Prioritaskan tugas. Selama merencanakan, Poulin mengidentifikasi tiga tugas teratas untuk setiap harinya. Meski begitu, cenderung ada satu tugas utama yang ingin dia selesaikan, katanya.
  • Singkirkan ponsel Anda. Agar tetap fokus, Poulin tidak membawa ponselnya ke ruang kantornya. Dia akan mengisi daya ponselnya di ruangan lain.
  • Temukan alat yang cocok untuk Anda. Untuk membantunya tetap produktif, Poulin menggunakan Notion, aplikasi pencatatan dan manajemen tugas, tetapi Anda juga dapat mempertimbangkan aplikasi kehidupan-pekerjaan lainnya, seperti Calendly untuk menjadwalkan janji temu atau Cozi untuk mengatur urusan keluarga.

Menjadi lebih fokus pada tugas dengan memblokir waktu Anda.

Jika pekerjaan Anda melibatkan banyak tugas yang harus dikerjakan silih berganti, petakan prioritas berulang, jangka pendek dan jangka panjang Anda, serta berapa lama menurut Anda setiap tugas akan selesai dikerjakan, untuk memastikan Anda tetap produktif, kata Emily Ballesteros, seorang pelatih manajemen kelelahan kerja. Jika Anda menemukan bahwa Anda sering terganggu dengan pertemuan dadakan dan gangguan lain dari rekan kerja, Anda dapat mencoba menetapkan batasan, kata Ballesteros. “Memblokir tanggal di kalender Anda bisa mengurangi ketersediaan Anda sehingga Anda bisa memiliki waktu untuk melakukan pekerjaan Anda.” Jika Anda tidak bekerja di kantor yang biasa meletakan blok pada kalender, dia menyarankan agar Anda mencoba mengganggu budaya perusahaan itu. Anda dapat berbicara dengan manajer Anda tentang mengalokasikan blok waktu hingga akhir kuartal, misalnya, karena orang lebih cenderung menyetujui perubahan sementara, katanya. “Seringkali peran seseorang berkembang untuk mengerjakan berbagai tugas yang menghilangkan tujuan awal Anda. Jangan takut untuk menetapkan batasan yang memungkinkan Anda untuk melakukan tugas utama yang seharusnya Anda lakukan di pekerjaan itu. “

Tip produktivitas paling hebat

  • Buat pengaturan kerja jarak jauh yang konsisten. Anda tidak memerlukan ruang kerja untuk bekerja dari rumah, tetapi memiliki ruang khusus dapat membantu. Duduklah di tempat yang sama setiap hari, apakah itu di meja dapur Anda atau di meja ruang tamu, kata Martin. “Yang akan terjadi adalah otak Anda akan mengasosiasikan pemandangan, bau dan suara dari tempat itu dengan bekerja dan memikirkan tentang pekerjaan,” katanya. Demikian pula, tentukan tempat di mana Anda tidak akan pernah bekerja, seperti tempat tidur Anda, sehingga Anda menciptakan pemisahan fisik antara kehidupan kerja dan kehidupan rumah. Poulin juga menyarankan untuk mengatur ruang kerja Anda agar terasa seperti milik Anda sendiri. Kantornya, misalnya, dipenuhi tanaman.

“Saya pikir multitasking adalah cara tercepat menuju kelelahan kerja.”–Marie Poulin, konsultan alur kerja

Continue Reading

Milenia

Memaknai Nilai Ekofeminisme Dalam Gerakan Kendeng

mm

Published

on

Pengarusutamaan ekofeminisme kian banyak dikaji, baik oleh akademisi maupun mahasiswa di Indonesia, degradasi lingkungan serta konflik ekologi yang terjadi hari ini menjadi latar belakang munculannya kajian-kajian terkait ekofeminisme. Term ekofeminisme kerap digunakan sebagai pisau analisa dalam menilik permasalahan ekologi yang terjadi di Indonesia. Ekofeminisme pertama kali dipopulerkan oleh seorang Feminis Perancis Françoise d’Eaubonne pada tahun 1970-an melalui bukunya yang berjudul Le Feminisme ou La Mort (Feminisme atau Mati), ia menyatukan dua konsep dasar, yaitu ekologi dan feminisme. Term ekofeminisme ini melihat hubungan antara penindasan terhadap alam juga terjadi pada perempuan.

Studi mengenai ekofeminisme sangat melekat dengan pengandaian bahwa perempuan dan alam merupakan objek yang layak dieksploitasi. Dalam tulisan ini saya ingin melihat ekofeminisme melalui kacamata yang sedikit berbeda. Adalah Gun Retno seorang petani dari Kabupaten Pati, Jawa Tengah yang juga merupakan bagian dari masyarakat adat sedulur sikep yang menolak pendirian pabrik semen di wilayah Pegunungan Kendeng. Pada umumnya masyarakat sikep memiliki cara hidup yang berfokus pada ajaran Saminisme. Ajaran ini dicetuskan oleh leluhurnya Samin Surosentiko, seorang petani pada masa kolonial Belanda yang menolak untuk membayar pajak karena sistem yang mengopresi dan mengeksploitasi petani pada saat itu. Ajaran saminisme memiliki prisip mulia seperti belajar hidup dari alam. Hal tersebutlah yang kemudian mengakar pada keseharian masyarakat sedulur sikep, yang memilih untuk hidup melalui bertani. Yang unik dari kehidupan masyarakat sikep adalah, mereka tidak mengikuti sekolah formal, tidak berdagang, dan lebih banyak berguru pada alam.


Ekofenomenologi: Mengurai Disekuilibrium Relasi Manusia dengan Alam
by Saras Dewi
 
Gerakan ekologi dan etika lingkungan telah dengan tepat menunjukkan berbagai kerusakan alam dan kemerosotan lingkungan hidup akibat aktivitas-aktivitas manusia yang mengutamakan kepentingannya sendiri. Pandangan dunia yang antroposentrik dituding sebagai pangkal ketimpangan relasi antara manusia dengan alam sekitarnya.

Namun baik ekologi maupun etika lingkungan ditengarai masih terjebak dalam dikotomi antara ekosentrisme dengan antroposentrisme. Dikotomi ini membuat kedua gerakan tersebut kerap kesulitan dalam menjelaskan kepentingan manusia di dalam kerangka hidup bersama alam, misalnya dalam menjelaskan soal teknologi.

Dengan memakai pendekatan fenomenologi yang bersumber dari filsafat Husserl, Merleau-Ponty, dan Heidegger, buku ini hendak meneliti hubungan ontologis manusia dengan alam secara lebih mendalam dan radikal. Sebuah perangkat baru hendak dibangun guna memahami alam secara substansial, yang bukan sekadar gejala kerusakannya atau hal-hal lain yang bersifat deskriptif, statistik, maupun etis belaka.

Sejak tahun 2007, Gun Retno beserta Masyarakat Kendeng telah melakukan penolakan terhadap pabrik semen yang masuk ke wilayah Pati. Masuknya PT. Semen Gresik kala itu membuat Gun Retno menginisiasi JM-PPK (Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng). Masuknya industri semen membuat petani dan masyarakat sekitar Pegunungan Kendeng khawatir, karena Pegunungan Kendeng merupakan daerah resapan yang menampung air selama musim hujan agar tidak terjadi bencana alam seperti banjir longsor.

Polemik panjang terjadi karena industri semen tidak hanya memasuki wilayah Pati, namun meluas hingga ke wilayah Rembang dan mulai mengerogoti wilayah-wilayah di sekitaran Pegunungan Kendeng. Tentu saja permasalahan Kendeng menjadi permasalahan yang begitu kompleks, mengingat begitu banyak lahan yang akan dimasuki industri, masalah yang terjadi pun menyangkut banyak hal terkait eksploitasi alam, perampasan lahan, ketimpangan gender, dan krisis iklim.

Penolakan terhadap pembangunan pabrik semen ini telah melewati babak yang sangat panjang, berbagai perlawanan telah dilakukan oleh masyarakat, mulai dari gugatan melalui jalur hukum hingga aksi-aksi yang dilakukan di depan kantor Gubernur Jawa Tengah dan di depan Istana Negara, aksi tersebut terbilang ekstrem karena Masyarakat Kendeng termasuk ibu-ibu petani yang dipimpin Sukinah mengecor kakinya dengan semen.

Pada pertengahan bulan maret 2020 lalu, saya berkesempatan tinggal di kediaman Gun Retno, plesiran tersebut saya lakukan berkaitan dengan pengumpulan data untuk naskah skripsi saya. Kurang lebih selama dua minggu saya menjalani kehidupan di Desa Baturejo, Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Selama hidup di Kendeng, saya belajar banyak hal terkait perjuangan masyarakat sekitar Pegunungan Kendeng yang mempertahankan ruang hidupnya dari industri semen.

Hal menarik yang dapat dipotret selama saya hidup di Kendeng adalah kesempatan untuk membela lingkungan terbuka bagi semua kalangan, baik itu perempuan, laki-laki, maupun anak-anak. Kesempatan yang terbuka bagi siapapun untuk memperjuangkan hak dan ruang hidupnya membuktikan bahwa visi ekofeminisme yang juga berpegang pada inklusifitas sejalan dengan apa yang terjadi di Kendeng. Masyarakat kendang saling bahu membahu membangun gerakan ini agar tetap kuat dan solid, lampauan dikotomi tentang apakah perempuan atau laki-laki yang lebih berhak membela alam pun sudah bukan menjadi permasalahan.

Berkaca dari hal tersebut, saya melihat bahwa spirit ekofeminisme seharusnya tidak hanya dibebankan kepada perempuan hanya karena perempuan diidentikan dengan alam melalui kerja domestik yang kerap dilakukan. Pengandaian tersebut cenderung patriarkis, karena perempuan dianggap berhak membela alam hanya karena ia bersinggungan dengan alam melalui kerja domestik. Padahal, lebih dari itu perempuan seharusnya dapat didengarkan suaranya di ruang publik, sebab ia memiliki hak yang sama seperti laki-laki.

Spirit ekofeminisme seharusnya dimiliki oleh siapa pun, tidak tergantung pada gender yang dimiliki. Prasyarat tersebut tentu menitip harapan bahwa perempuan dan laki-laki adalah setara. Dalam kacamata ekofeminisme tidak ada salah satu gender yang berhak atas satu hal. Selain itu, term ekofeminisme tidak boleh digunakan untuk mengatakan bahwa tugas membela alam hanyalah tugas perempuan, karena perempuan yang paling sering berurusan dengan alam. Sementara kita menyadari bahwa tanggung jawab membela alam adalah tugas bersama.

Saya pun melihat semangat ekofeminisme sebagai sebuah pegangan yang dapat digunakan untuk memberantas dikotomi antara kerja domestik dan publik. Karena dalam kaitannya dengan Gerakan Kendeng, dikotomi tersebut telah hilang, perempuan telah menyuarakan kegelisahannya melalui ruang publik, pun sama halnya dengan laki-laki yang juga ikut menunaikan kewajibannya dalam membela alam.

Menurut saya peran Gun Retno dalam perjuangannya dengan Masyarakat Kendeng menyiratkan secercah harapan, barangkali menyadarkan kita bersama, bahwa masih ada potret laki-laki pejuang lingkungan yang juga concern terhadap kesetaraan dan keadilan entah bagi alam maupun perempuan. Satu hal yang dapat saya pelajari adalah, musuh bersama yang sedang kita hadapi bukanlah laki-laki, namun sistem kapitalis-patriarkal yang menghimpit segala lini dan permasalahan lingkungan yang terjadi di Indonesia. Maka, sudah seharusnya kita menyadari tugas membela alam bukan hanya milik salah satu gender, sebab semua manusia bertanggung jawab atas kelestarian alam.

Pengajaran Gun Retno selama saya hidup di Kendeng meninggalkan memori indah tentang perjuangan dan keberaniannya membela alam. Penghormatannya terhadap alam patut diceritakan di sini, dalam hari-hari kelam yang masih dihadapi Masyarakat Kendeng, dirinya selalu menyisipkan semangat perjuangan dan mengatakan kepada saya bahwa “menanam adalah melawan” “sebelum Pegunungan Kendeng hijau, maka kami belum menang” dan ungkapan tanda kasihnya pada alam melalui kalimat “saya melihat pohon sebagai sebuah kehidupan, maka ia harus dijaga dengan baik”.

*Ayu Pawitriadalah mahasiswa Ilmu Politik tingkat akhir di salah satu perguruan tinggi di Bali. Sesekali menulis, ia dapat ditemui di media sosialnya (twitter/Instagram) @sayupawitri

Continue Reading

Milenia

GM dan SDD: Saling Meresensi

mm

Published

on

Oleh: Bandung Mawardi *)

Dua halaman, tiga belas puisi. Di majalah Horison edisi Februari 1969, pembaca disuguhi puisi-puisi gubahan Sapardi Djoko Damono. Ia di babak awal ketenaran sebagai penulis lirik. Pujangga di tahun-tahun benderang, “terlihat” dan “terbaca” oleh umat sastra bakal sebagai tokoh dan pokok berpengaruh dalam kesusastraan di Indonesia. Pada masa 1960-an, puisi-puisi “keras” melanda akibat situasi politik dan saling-serbu ideologi, bermula dari politik menjangkiti ke sastra. Sapardi Djoko Damono bergerak menjauh dari “politis”, menggubah puisi-puisi di keredaan malapetaka memuncak pada 1965. Ia pun berlirik.

Pujangga kurus itu memberi puisi berjudul “Pada Suatu Hari Nanti”. Dulu, orang-orang membaca dengan tenang agak terasa mencekam: Begini: kita mesti berpisah. Sebab/ sudah terlampau lama bertjinta, sebab anak-anak/ kita telah mengusir ibu-bapanja,/ dan sebab takada rumah lagi/ jang masih terbuka./ Mula-mula airmata, jang tjepat mendingin,/ kitapun pergi seperti apa kta kitab-kitab itu,/ sehabis makan malam./ Siapa jang mengantarkan kita? Puisi belum usai dalam pengutipan. Kita sejenak merasakan situasi pengusiran dan kepergian. Diksi-diksi lembut tapi mampu memedihkan, mengandung percik-percik kemarahan dan duka tak kentara.

Di gubahan berjudul “Dua Sadjak Dibawah Satu Nama”, pembaca diajak membuka atau kembali ke kitab suci: membaca manusia dan Tuhan di sejarah berwaktu. Puisi tentang masa permulaan-penciptaan dan tragedi terselenggara oleh manusia. Sapardi Djoko Damono menulis: kalau Kaupun bernama Kesunjian, baiklah/ tengah-hari kita bertemu kembali: sehabis/ kaubunuh anak itu. Ditengah ladang aku tinggal sendiri/ bertahan menghadapi Matahari/ dan Kaupun disini. Pandanglah duabelah tanganku/ berlumur darah saudaraku sendiri/ pohon-pohon masih tegak, mereka pasti mengerti/ dendam manusia jang setiap tetapi tersisih ketepi. Sekian puisi tak membuat kegirangan. Pedih, duka, gamang, sengsara, kehilangan, dan segala hal kemuraman.

Sapardi Djoko Damono (tengah) bersama Goenawan Mohamad (kiri) dan Subagio Sastrowardoyo. / Foto Koleksi Lontar Fooundation

Kita berpindah ke esai-resensi panjang, enam halaman buatan Goenawan Mohamad. Publik mula-mula menghormati Goenawan Mohamad sebagai esais tangguh di majalah Sastra dan Horison tapi ia juga penggubah puisi. Di Horison, enam halaman itu mendahului dua halaman memuat puisi-puisi gubahan Sapardi Djoko Damono. Kita mulai membaca tulisan berjudul “Njanji Sunji Kedua: Sadjak-Sadjak Sapardi Djoko Damono 1967-1968”. Di situ, Goenawan Mohamad berlaku sebagai kritikus sastra dan redaksi majalah Horison.

Awalan menjelaskan dan ingatan: “Masa lalu itu adalah, seperti jang kita ingat, periode tahun-tahun terachir dari pertengahan pertama dekade 60-an: suatu periode jang membajangkan desakan kuat pengaruh kesusastraan realisme-sosialis, baik dalam diri pengikutnja maupun para penentangnja. Ia dimulai dengan penulisan sadjak-sadjak ‘berdjoang’ oleh hampir siapa sadja, dan diachiri dengan sadjak-sadjak pergolakan tahun 1966 – dimana kepahlawanan, nasib sosial, prinsip-prinsip besar, pemudjaan kepada tanah air dan rakjat banjak serta optimisme sedjarah menjusun satu-satunja perbendaharaan tema milik bersama.”  

Penggubahan dan publikasi puisi-puisi Sapardi Djoko Damono ingin “berjarak” dari babak “memanas” di kalangan sastra 1960-an. Penulisan pada 1967-1968 memang dekat dengan keamburadulan politik dan perubahan kiblat sastra gara-gara malapetaka 1965. Terbitlah buku berjudul dukaMu abadi, berisi 42 puisi gubahan Sapardi Djoko Damono disebut oleh Goenawan Mohamad bukti “pembebasan dan penemuan kembali” dari latar sastra dan politik masa 1960-an.

Pilihan puisi mendapat ulasan: “Djarak”, “Ziarah”, “Pada Suatu Hari”, “Gerimis Ketjil Didjalan Djakarta, Malang”, “Dua Sadjak Dibawah Satu Nama”, “Sonet X”, “Prologue”, “Sadjak Putih”, “Haripun Tiba”, “Gerimis Djatuh”, “Dalam Doa II”, “Saat Sebelum Berangkat”, “Tiba-Tiba Malampun Risik”, “Kupandang Kelam Merapat Keposisi Kita”, dan “Solitude”. Goenawan Mohamad membaca: jeli dan mencatat. Ia berdurasi lama di hadapan puisi-puisi. Penghormatan atas puisi, sebelum menulis kalimat-kalimat untuk tanggapan. Ketenangan membaca dan kemauan di jeda-sejenak menghasilkan kesan mendalam: “Puisi Sapardi Djoko Damono adalah suara-suara kegelisahan dan kesenjapan, lirik jang lahir dari posisi kejatim-piatuan. Manusia tidak sebatang kara, tetapi ia ditinggalkan tanpa testamen jang tjukup. Manusia berada dalam sedjarah, tapi arah dan djawaban jang diberikan kepadanja ternjata belum pernah memadai untuk mengerti tekateki hidup dan kematian itu.”

Tulisan panjang Goenawan Mohamad bertanggal 25 Desember 1968. Suasana religius di pembacaan puisi dan penulisan kritik. Di akhir, ia berpendapat: “Sadjak-sadjak dukaMu abadi membajangkan itu. Orang bisa mengatakan bahwa Sapardi Djoko Damono tidak teramat orisinil dalam mengutjapkannja, orang bisa melihat adanja pengaruh jang kuat dari penjair-penjair lain dalam puisinja…. Sikap itulah jang terutama menarik hati saja dalam menulis kritik ini, sebab saja beranggapan, bahwa sikap itu lahir setjara sah dari masa kita sekarang.” Puluhan tahun berlalu, esai-resensi itu tetap teranggap penting menandai pengukuhan pesona puisi-puisi gubahan Sapardi Djoko Damono.

Sampul Buku “Hujan Bulan Juni”–Grasindo, 1994. Di celah kata-kata dalam sajak Hujan Bulan Juni, nama Sapardi abadi.

Pada masa 1990-an, Goenawan Mohamad dan Sapardi Djoko Damono masih rajin menggubah puisi dan mengerjakan kritik sastra. Dua orang teranggap besar dan berpengaruh. Mereka pun terus “bercakap” dan saling bertaut di kesusastraan. Di Tempo, 9 Januari 1993, Sapardi menulis resensi berjudul “Kritik Sosial Puisi Gumam”. Ulasan untuk buku puisi berjudul Asmaradana. Buku berisi puisi-puisi “terseleksi” gubahan Goenawan Mohamad (1961-1991). Di Tempo, Goenawan Mohamad adalah pemimpin redaksi dan rutin memberi esai atau sejenis puisi panjang dinamakan “catatan pinggir”. Posisi bergantian: Sapardi Djoko Damono di hadapan buku puisi Goenawan Mohamad. Tulisan cuma sehalaman. Pendek.  

Penilaian serius: “Dalam puisinya, Goenawan Mohamad mempergunakan berbagai muslihat agar yang disindir merasa tersindir. Menyindir orang lain tentu membutuhkan wahana konvensional. Ini menjadi sangat pelik jika tujuan sindiran adalah diri sendiri. Muslihat yang dipikih bisa bersifat pribadi.” Sapardi Djoko Damono telah kukuh sebagai pembaca dan pengajar sastra berpengaruh. Di hadapan buku puisi, ia merasa “enteng” untuk memuji ketimbang bertele-tele memasang sangkaan dan argumentasi. Pujian diberikan ke Goenawan Mohamad sebagai “penyair lirik terkemuka”. Resmilah dua orang itu saling memuji berkiblat lirik (1968 dan 1991). Kita mendapati dua tulisan itu membuktikan dua pujangga dalam perhitungan “saling” selama puluhan tahun.

Kini, Sapardi Djoko Damono telah pamitan dari dunia. Goenawan Mohamad memasuki babak tua tapi tetap keranjingan menulis puisi. Ia beranggapan belum ada penentuan “pensiun” atau leren di kesusastraan telah berabad XXI. Ulasan dari masa lalu itu mengingatkan kita bahwa Goenawan Mohamad pembaca serius puisi-puisi gubahan Sapardi Djoko Damono. Ulasan itu pun teringat saat kita menghormati kepergian tokoh berpengaruh dalam sastra di Indonesia. Begitu. (*)

*) Esais

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending