Connect with us

Milenia

Beauty and the Beast Yang Kini Lebih Humanis

mm

Published

on

Versi live-action tampil lebih humanis dibandingkan versi animasi.

Versi live-action dari film animasi buatan Disney, Beauty and the Beast, baru saja mulai tayang di bioskop-bioskop tanah air dan menuai atensi yang begitu besar dari masyarakat. Dibintangi oleh Emma Watson sebagai Belle dan Dan Stevens sebagai the Beast, film ini ternyata memiliki beberapa perubahan bentuk cerita dibandingkan versi animasinya yang rilis pada 1991 silam. Apa saja perbedaan tersebut? Berikut perbedaan nyata yang kami kutip dari laman The Insider.

  • Belle tidak terbang melintasi rak buku perpustakaan

Dalam versi animasinya, Belle diperlihatkan terbang seraya menari melintasi rak-rak buku di perpustakaan. Namun di versi live-action, Belle tidak digambar sebegitu ajaibnya untuk mampu terbang, melainkan hanya berjalan melintasi perpustakaan dan mengambil sebuah buku yang diminatinya.

  • Belle tidak mendongeng di hadapan sekumpulan domba

Sebelumnya, cerita animasi Beauty and the Beast menggambarkan adegan pembuka berupa kehadiran sosok Belle yang bernyanyi seraya membacakan dongeng dari sebuah buku kepada sekumpulan domba yang mengitarinya saat duduk di tepian kolam air mancur.

  • Cinta Gaston ditolak secara halus oleh Belle

Sesungguhnya penolakan Gaston oleh Belle di versi animasinya terlihat kasar sekaligus lucu, yakni sang pria kekar tersebut dilempar keluar dari rumah Belle dan terjatuh di kubangan lumpur dengan sambutan menggelikan dari para babi yang berkubang di sana. Adapun di versi live-action, Belle menolak Gaston dengan halus layaknya seorang wanita menolak pria yang menembak hatinya,

Dandelion atau dalam Bahasa Indonesia disebut bunga randa tapak, tidak ditampilkan sedikit pun di dalam versi live-action film Beauty and the Beast. Padahal adegan Belle meniup dandelion adalah salah satu yang paling berkesan di versi animasinya yang tayang pada 1991 silam. Adapun adegan pengganti di versi live-action adalah ketika Belle berbaring di atas rumput hijau setelah berlari dan bernyanyi di area terbuka.

  • Belle yang menghampiri Beast, bukan sebaliknya.

Di versi animasi, Belle digambarkan ketakutan menunggu sosok Beast muncul menuju cahaya di depannya. Namun sayang, ketegangan tersebut diganti dengan sikap penasaran yang ditunjukkan oleh Belle ketika akan bertemu Beast untuk pertama kalinya di versi live-action.

  • Apakah Gaston tetap bersikap misoginis?

Gaston digambarkan sebagai sosok misoginis yang gemar memamerkan otot di hadapan orang lain, terutama di depan wanita. Menariknya, di versi live-action, Gaston justru digambarkan sebagai pria kharismatik yang dikenal sebagai pahlawan muda yang melindungi kota tempat tinggal Belle dari serangan gerombolan perampok bengis. Lalu mengapa Belle tidak menyukainya? Lebih baik Anda menonton langsung untuk mencari tahu jawabnya.

  • Beast dan Belle tukar posisi saat bermain lempar bola salju

Dalam versi animasinya, saat lagu Something There dinyanyikan, Beast dan Belle digambarkan tengah bercana saling lempar bola salju denga akhir tumpukan salju di batang pohon jatuh di atas kepala Beast. Namun pada versi live-action, justru Belle yang terkena bola salju di wajahnya.

Selengkapnya: AXEL ABYAN / http://www.esquire.co.id

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Milenia

Es Kopi di Cikini

mm

Published

on

Di Kawasan Cikini, resto dan kafe “Bakoel Koffee” adalah tempat menikmati kopi favorit saya. Ada beberapa kafe lain mengapit kafe ini, tapi Bakoel Koffie paling istimewa buat saya. Soal selera tentu sifatnya subjektif, Anda juga tentu punya pilihan bebrbeda.

Di Bakoel Koffie, saya terutama paling menyukai sajian es kopinya, seakan-akan setiap kali perpaduan kopi arabika dan robusta yang difermentasi dalam proses yang “rahasia” itu mengaliri tenggorokan, dahaga saya luluh, kerontang batin saya seperti disiram oleh kenangan yang manis sekaligus telah menjadi jauh.

Dalam anganan sederhana bahkan saya berani bilang, cara mudah bahagia di kota ini bukanlah hal rumit, cukup bagi saya, bila bisa punya kesempatan untuk duduk di kafe ini menikmati segelas es kopinya (cold brew) sepekan sekali atau lebih sering.

Tentu bukan sekedar karena es kopinya enak, tapi dinding-dinding kafe yang tua, kursi dan ornamen kafe yang dipastikan menyimpan begitu banyak cerita, menggelar atmosfir jakarta yang lain, pemandangan jalan Cikini dari jendela kaca besarnya, kita melihat jalanan Jakarta yang hangat dan terasa akrab, mengingat kehadiran para seniman dan sastrawan yang dulu mudah kita dapati di Cikini, semua itu memberi saya perasaan bergaiarah dan kejernihan pikiran.

Kita seakan terasuki oleh orang-orang kreatif yang pernah duduk di kafe ini, melewati jalan-jalan sepanjang Cikini, betapa mengesankan semua itu. Seolah-olah berjalan-jalan ke Cikini atau duduk di kafe Bakoel Koffie adalah impian setiap orang dengan keinginan memulung inspirasi dan kejernihan pikiran. Meski hal itu seriang hanya mudah dalam kata-kata. Kenyataanya kita kerap duduk menghabiskan uang dan tak membawa pulang apa pun. Bisa jadi seni kadang memang perayaan kesia-siaan. Tetapi tidak benar-benar sia-sia. Selalu ambigu antara daya kehilangan dan spirit akan kebaruan mencipta. Entahlah..

*

Pada tahun-tahun yang lalu, Cikini bukan hanya nama jalan, Cikini adalah kiblat, ke mana mata memandang, ia akan menemukan kecantikan; orang-orang yang melintas, gedung, jalanan, lampu-lampu; kita seakan bermimpi bisa bertemu dengan para seniman beken yang selama itu bagi banyak orang cuma tahu karena membaca karyanya yang mengesankan. Di Cikini seolah mereka berujar; lihat dan temui saya di Cikini, bukan di tempat lain!

Tapi waktu berlalu, nama-nama seperti Afrizal, Rendra, Seno Gumira, Radhar Panca Dahana, Ahmad Tohari, kian ditelan zaman. Sementara generasi sesudahnya, generasi kita—telah memasuki abad baru keramaian bernama sosial media. Pelan tapi pasti hal itu mempengaruhi cara pandang, cara kerja, juga persepsi tentang romantika lama Cikini. Dan tentu saja, menemukan ruang baru selain Cikini.

Sosial media telah melahirkan artis-artis baru, seniman dan penulis baru yang segera populer sebagai “tokoh”. Usia karya mereka tak seberapa lama dan tidak akan menandingi daya klasik karya-karya lama sebelum era komunikasi disesaki oleh arketip individual seperti sekarang ini—tapi tidak dengan sosoknya sebagai tokoh atau artis baru. Sebagai sosok—tokoh—Ia terus eksis jauh melebihi usia karya itu sendiri, bahkan tak sedikit yang jadi kecanduan akan eksistensi (maya) semacam itu. Sehingga tidak heran banyak yang lupa bertahan pada proses kreatif menghasilkan karya-karya berkelas, lantaran “pokok” seringkali sudah tak lebih penting dari “tokoh”nya.

Tidak ada yang salah dengan  keadaan semacam itu karena memang barangkali seoarang seniman hidup di zamannya; seberapa pun ia menolak menjadi bagian ia tak akan pernah bisa berpaling dari zamannya. Seni untuk zamannya, di dalam zamannya.

Maka Cikini yang dulu terutama dikenal dengan kawasan Taman Ismail Marzuki dengan aura bohemiannya, kini mulai ditinggalkan. Jejak mereka dihapus dengan alih fungsi tempat dan ruang. Pojokan tempat para seniman menempa diri atau sebagian lain memang hanya pemalas yang menghindari hidup—kini tergusur dari tempatnya.

Sementara para penontonnya, yang datang untuk menonton pagelaran hidup gaya lama, segera kecewa; tak ada lagi hal nyentrik yang dulu mereka anggap menggairahkan. Ya, hal itu terdengar sama anehnya bahwa orang-orang sebenarnya prihatin atas dirinya sendiri lantaran mereka datang sebagai pribadi resah yang butuh melihat dunia lain sambil secara ironis kerap menganggap para seniman lama itu adalah tontonan nyentrik kalau bukan aneh—orang-orang dari zaman purba! Sementara eksistensi dan nasib para seniman sendiri siapa peduli?

Taman Ismail Marzuki berganti rupa, ia sekarang seakan menjadi tempat di mana orang-orang datang untuk membeli dahaga intelektualitas; supaya terkesan paham seni, sesuatu yang sepantasnya dimiliki kelas menengah berkelas? Sekarang Cikini seperti tidak lebih dari itu. Pagelaran dihelat bukan lagi sebagai gelanggang dan siasat kebudayaan, melainkan tontotan yang dipersembahkan sebagai hiburan kaum berduit.

*

Sehari-hari, bertambah hari, TIM mulai pudar aura artistiknya. Orang-orang datang hanya saat ada tontonan atau pementasan teater atau pameran seni rupa—jika tidak ada, mereka datang untuk menonton bioskop, makan, lalu pulang.

Anda tahu bagaimana mereka datang meanonton? Turun dari mobil-mobil mewah dengan pakain mahal, duduk menonton, dan yang terpenting berfoto dengan semua penanda seni yang ada lalu pulang dan mencari waktu luang mengunggah di sosial media. Eksistensi TIM dan semua sisa aktifitas kreatifnya telah dipindahkan ke dalam individualitas berupa akun sosial media masing-masing pengunjungnya, dan kerap hal itu memang semu dan maya belaka.

Pada hari lain ketika tidak ada agenda pertunjukan, TIM adalah bangunan tua yang tampak membeku. Tak ada yang datang berkunjung baik penonton mau pun seniman dan artisnya.

Keramaian telah bergeser ke jalanan Cikini Raya, persis di sebelah gerbang TIM, di mana kafe-kafe berjajar dan orang-orang duduk untuk begitu banyak kepentingan; bisnis, politik, dan seni? Saya benar-benar tidak berani menakar eksistensinya.

Saya sendiri kerap duduk di antara kafe-kafenya, karena suka es kopinya, kenangannya; tapi jelas saya tak mungkin melakukannya setiap hari karena membutuhkan uang tidak sedikit untuk berada di antara tempat-tempat ini saban hari. Saya sadar untuk bisa duduk di sini setiap hari mustahil hanya dengan mengandalkan kerja menulis artikel, esai atau sajak-sajak—Itu jauh dari cukup.

Kadang saya membayangkan, mungkin satu waktu, Cikini indah bukan lagi karena ia merupakan gelangang dan siasat bagi kebudayaan kita, melainkan karena segelas es kopinya seharga hampir 35 ribu beserta pajak restonya. Segelas es kopi yang hanya berumur 15 menit untuk meleleh sebelum habis direguk dan kita akan merasa tidak lagi punya hak duduk kecuali memesan segelas lagi…

Oh Cikini… Bagi sebagian orang kau memendam kenangan, mereka berjuang untuk datang berziarah, mengunjungi nisan kebudayaanmu sambil menabur bunga-bunga masa silam. Sampai nanti tiba tak seorang pun meangingat riwayatmu. Tergantikan oleh cerita baru, generasi yang baru, sajian yang baru… dalam segelas es kopi di Cikini…(*)

*Sabiq Carebesth, Penyuka Es Kopi, penulis buku “Seperti Para Penyair” (2017)

Continue Reading

Milenia

Memulung Inspirasi di Pasar Santa

mm

Published

on

Pasar identik dengan kesan kumuh, becek, berantakan, dan bau. Tapi tidak dengan Pasar Santa yang terletak di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Pasar Santa ini bersih, rapi, dan well organized. Asyiknya lagi, pasar yang dibangun sejak tahun 1971 itu dihuni stand-stand unik nan kreatif. Sampai sekarang, lebih dari 100 kios di lantai satu diisi berbagai macam stand modern. Mulai dari stand makanan, kudapan, fesyen, musik (vinyl, CD, dan kaset), jasa cuci sepatu, pangkas rambut, toko buku, hingga tukang jahit.

Sebagian besar kios-kios itu dikelola oleh entrepreneur muda. Sehingga produk-produknya pun inovatif. Misalnya, kios DOG (Dudes of Gourmet) yang berada tepat di depan tangga utama. Di sana, kita bisa merasakan sensasi hotdog hitam yang lezat. Ada juga kios Substore yang menyediakan koleksi piringan hitam. Keunikan stand-stand itulah yang membuat Pasar Santa selalu ramai dikunjungi kawula muda. Apalagi ketika weekend, Pasar Santa pasti berjubel dengan pengunjung yang ingin nongkrong sembari ngemil atau pengunjung yang ingin sekaadar berbelanja.

Suasana di dalam Pasar Santa. di Kafe-kafe dalamnya banyak generasi muda Jakarta melangsungkan agenda seni dan budaya seperti membaca puisi dan diskusi buku.

 

Meski dihuni stand modern, Pasar Santa tidak mengubah fungsi utamanya sebagai pasar tradisional. Pihak pengelola pasar tetap memertahankan pedagang konvensional di lantai dasar. Pengunjung pasar bisa tetap membeli kebutuhan sehari-hari seperti sembako, alat-alat rumah tangga, di Pasar Santa. Sebelum direnovasi setahun lalu, Pasar Santa nyaris menjadi pasar yang mati. Kehadiran stand-stand unik dari berbagai komunitas diharapkan bisa mendongkrak pula penjualan di toko-toko konvensional.

Konsep tradisional dan modern yang ditawarkan Pasar Santa terbilang sangat unik. Sebetulnya, perpaduan konsep tersebut telah banyak diaplikasikan di pasar-pasar Australia dan beberapa negara di Eropa. Kehadiran Pasar Santa diharapkan mengubah mindset masyarakat terutama kalangan anak muda supaya mau datang ke pasar. Hal itu sangat bagus untuk menghidupkan kembali denyut perekonomian pengusaha kecil dan menengah yang ada di pasar.

Oh ya, setiap minggunya Pasar Santa selalu menggelar acara yang asyik. Kalau tidak ingin ketinggalan infonya, silakan cek Instagram Pasar Santa. Selamat bersenang-senang di Pasar Santa!!

—————————————-

*Fikri Angga Reksa is a sociology researcher with an energetic demeanor. Ex daily newspaper journalist. Keen on literature and jazz. Contact him via Twitter @Iamfikry.

Continue Reading

Milenia

Ke Taman Ismail Marzuki Yuk…

mm

Published

on

Kamu menggemari seni dan budaya? Sudah pernah berkunjung ke Taman Ismail Marzuki (TIM)? Jika belum pernah, maka kamu belum resmi mendapat gelar anak artsy. Berlokasi di Jl Cikini Raya 73, Jakarta Pusat, TIM merupakan salah satu pusat kesenian ternama di Jakarta. Sejak diresmikan pada tahun 1968, TIM menjadi kiblat para seniman di Indonesia. Dari dulu hingga sekarang, para seniman berbondong-bondong untuk menggelar pertunjukan di tempat yang dulunya bernama Taman Raden Saleh (TRS) itu.

Segala jenis kesenian mulai dari seni rupa, seni tari, drama, musik, dan cabang seni lainnya mendapatkan tempat istimewa di TIM. Ragam seninya pun bervariasi dari yang tradisional hingga kontemporer. Asyiknya lagi, kita tidak hanya menonton tetapi juga bisa mempelajari jenis seni yang kita minati. Sebab. ada puluhan sanggar seni yang rutin menggelar workshop di sana.

Jika ditilik dari sisi historisnya, TIM merupakan ruang ekspresi yang pembangunannya diinisiasi oleh Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin atau karib disapa Bang Ali. Sebelum menjadi pusat kesenian, TIM merupakan Kebun Binatang Jakarta yang sudah dipindahkan daerah Ragunan. Pemberian nama Ismail Marzuki tidak lain juga sebagai bentuk apresiasi terhadap komponis legendaris yang telah menciptakan lebih dari 200 lagu tersebut.

Di dalam TIM ada berbagai macam galeri pertunjukan. Mulai dari skala kecil hingga besar. Selain itu ada juga gedung Planetarium dan Obeservatorium Jakarta.  Di sana, kita bisa melihat pertunjukan Teater Bintang dan multimedia atau citra ganda. Jika beruntung, kita juga bisa melihat fenomena di atas langit yang menakjubkan seperti gerhana, komet, dan lainnya. Untuk yang mencintai sastra, harus mampir ke Pusat Dokumentasi Sastra HB Jasin. Ada sekitar 50 ribu dokumentasi sastra Indonesia yang disimpan di sana.

Salah satu sudut ruang pamer dan instalasi di TIM, Jakarta

Di sekitar area seluas sembilan hektare itu pula dibangun sebuah sekolah seni yang termasyhur di Indonesia yakni, Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Tak terhitung, jumlah sineas dan seniman hebat dan kreatif yang lahir dari IKJ. Sebut saja seperti Slamet Rahardjo, Didi Petet, Garin Nugroho, Mira Lesmana, Naif, White Shoes and The Couples Company dan masih banyak lagi.

Setiap minggunya, TIM selalu menyajikan penampilan para seniman berkualitas. Jadi, pengunjung tidak akan bosan datang ke TIM. Menariknya lagi, di TIM juga ada bioskop 21 Cineplex yang memutarkan film-film terkini. Namun bagi yang suka film indie atau film-film festival yang tidak diputar di bioskop mainstream, jangan kuatir! Ada Kineforum! Apa itu Kineforum? Kineforum merupakan bioskop mini berkapasitas kurang lebih 30 penonton yang sering memutarkan film indie. Letaknya di belakang persis 21 Cineplex.

Saya sendiri paling suka dengan gedung Teater Jakarta yang megah. Jika Australia punya Sydney Opera House dan Inggris punya Royal Albert Hall, maka saya bangga dengan gedung Teater Jakarta. Kendati tidak seluas gedung di luar negeri, Teater Jakarta mampu menampung 1200 penonton dan sudah didukung dengan teknologi mutakhir yang memungkinkan perhelatan akbar digelar di sini.

Komplek TIM memang menyajikan ruang hiburan dan edukasi seni budaya terlengkap di Jakarta. Jadi, kalau mampir ke Jakarta, jangan lupa mampir di TIM, ya!! (*)

——————————————–

*Fikri Angga Reksa is a sociology researcher with an energetic demeanor. Ex daily newspaper journalist. Keen on literature and jazz. Contact him via Twitter @Iamfikry.

Continue Reading

Trending