Monday, February 6, 2023

Tak Ada Sajak di Kafe Kafe—Buku Sajak Sabiq Carebesth

Sabiq menghubungkan beberapa konsep yang berjauhan dan tidak berada dalam satu rumah tangga leksikal, menjadi jalinan struktur yang padat dan meledak. Sebuah pilihan atas bahasa yang bertenaga. Seolah-olah bahasa bisa dilihat, digenggam atau dipeluk melalui semacam internalisasi atas “jiwa bahasa” yang dilakukan penyair.

PROLOG

JUDUL BUKU: Tak Ada Sajak di Kafe-Kafe. PENULIS: Sabiq Carebesth. HALAMAN: 54 + xii hlm. UKURAN 14X19 CM. Toko Penjual: Togamas Yogyakarta. ISBN: (dalam Proses). HARGA: 70.000

Hampir seluruh puisi-puisi Sabiq Carebesth dalam kumpulan “Tak Ada Sajak di Kafe-Kafe” ini lahir sebagai gerhana bahasa dan gerhana waktu dari “dia-yang-kehilangan” itu. Saya degan sadar berusaha tidak menyertakan biodata mengenai Sabiq Carebesth untuk membaca kumpulan puisinya ini, hanya karena saya tidak ingin justru kehilangan “gerhana waktu” dan “gerhana bahasa” dalam puisi-puisinya. Kesadaran yang sekaligus membuat saya menemukan pantulan puisi yang berlangsung terus-menerus antara waktu sebagai dokumen dan waktu sebagai kehidupan. Di antara keduanya adalah kehilangan: ditabur dipemakaman cinta yang kita matikan sendiri, merupakan pantulan puisi yang saya kira merupakan inti dari negosiasi waktu yang kemudian dilakukan Sabiq antara kenangan dengan masakini. Ungkapan ini berlangsung dalam puisinya Asmara Tanpa Senggama.

Negosiasi waktu seperti itu, antara kenangan dan sejarah, melahirkan semacam persuasi terhadap sesuatu yang tidak berhenti, walau kenangan telah berhenti. Persuasi sebagai hasil dari perjalanan pencarian di luar sejarah masakini. Ketika kenangan berhenti, dan waktu terus bergerak, sejarah terus berubah, kenangan kemudian menempuh jalannya sendiri, menempuh pencariannya sendiri. Konsistensi seperti ini bagi Sabiq, dan saya menyetujuinya, adalah jalan kegilaan yang memang harus dilakukan. Karena kenangan tidak sama dengan rapuhnya bahasa yang ikut berubah bersama dengan perubahan sosial-politik. Dalam hal ini, kita tidak bisa berharap memperlakukan bahasa sebagai bagian dari infrastruktur sejarah. Karena, pada kenyataannya, sejarah juga dikonstruksi dengan “permainan bahasa”:

Puisi tidak berhubungan langsung dengan dialetika sejarah, karena ia bertopang pada kenangan. Konstruksi sejarah kadang dibuat untuk orang lupa kepada kebenaran, ketika sejarah seakan-akan digulirkan sebagai peristiwa publik. Menghidupkan kenangan menjadi cara untuk melawan lupa:  Puisi adalah ingatan/ Museum bagi jiwa yang kehilangan/ Waktu yang menjelma kenangan/ Agar tak musnah dalam kegilaan/ Dari zaman yang gemar lupa. Puisi juga menjadi ukuran untuk melihat kualitas kehidupan publik dalam rejim politik yang menindas: Puisi adalah kebohongan/ Dari kemerdekaan yang terpasung/ Oleh kebodohan dan ketakutan.

Cara memisahkan antara puisi dan penyair melalui ekstrim seperti dilakukan Sabiq tersebut, merupakan pembacaan yang diposisikan sebagai peristiwa dimana penulis atau penyair telah mati lebih dahulu sebelum sampai ke tangan pembacanya. Pembaca dilahirkan dari penyair yang terlebih dahulu “dimatikan” di dalam teksnya sendiri. Karena itu penyair merupakan kehadiran yang non-representatif dari puisi yang ditulisnya sendiri. Penyair telah dimatikan terlebih dahulu, sebelum pembaca melakukan hal yang sama berdasarkan berbagai strategi pembacaan. Dengan cara seperti ini pula “jarak” dibaca sebagai “optik”: titik yang menentukan penghadiran jarak dan segaligus titik yang menentukan bagaimana jarak itu dilihat atau diproyeksikan. Hubungan optik dan titik, dalam hal ini bisa dibaca sama sebagai hubungan antara penyair dan puisi; juga optik dan titik sebagai bahasa dan kata. Maka, ketika optik dilihat sama sebagai titik, pembacaan pada moment ini terjatuh menjadi peristiwa kecelakaan narasi. Dan bahasa yang juga terjungkal ketika ia dipaksa dibaca oleh bentukan-bentukan baru pada bahasa akibat perubahan politik maupun ekonomi.

Kecelakaan pembacaan itu merupakan bagian dari adanya dinding yang dibiarkan kosong pada puisi-puisi Sabiq yang bergantung pada kenangan sebagai dinding utamanya, dan metafor Gadis sebagai bayangan ruang dari dinding tersebut. Kritik terutama datang dari adanya dinding yang dibiarkan kosong itu. Kekosongan yang membutuhkan detil lebih banyak lagi untuk mewujudkan kesaksian kenangan menjadi perayaan kenangan atas waktu yang hilang. Dalam puisinya yang saya kutip sebelumnya di atas (Puisi untuk Puisi), memang dihadirkan subyek dinding sebagai dinding yang tidak berjendela. Dinding kusam dimana jendela dihadirkan tidak dalam bentuk fisiknya, melainkan sebagai lukisan pada dinding kusam itu. Ini merupakan visualitas yang provokatif untuk menghadirkan realitas dari waktu kehilangan, mata yang tak bisa memilih kata, dan telinga yang tak bisa mendengar bisikan. Visualitas yang sekali lagi menjelaskan sebuah masa dimana puisi dan senilukis masih berjalan sebagai kembaran bahasa antara kata dan titik, kalimat dan garis.

Sabiq menghubungkan beberapa konsep yang berjauhan dan tidak berada dalam satu rumah tangga leksikal, menjadi jalinan struktur yang padat dan meledak. Sebuah pilihan atas bahasa yang bertenaga, banjir dan muncrat—ekspresionisme. Konspirasi arbitrer antara bahasa dan kenyataan dialihkan atau dibelokkan ke arah “pengujar”, seolah-olah bahasa bisa dilihat, digenggam atau dipeluk melalui semacam internalisasi atas “jiwa bahasa” yang dilakukan penyair. Puisi-puisi karya Charles Baudelaire, naskah teater atau cerpen August Streindberg maupun para penyair sufi, sering digunakan sebagai rujukan untuk ekspresionisme. Penyair seolah-olah menjelajahi bahasa melalui jiwa, bukan melalui tubuh. Dalam senirupa misalnya tampak pada karya-karya S. Sudjojono, Affandi, Van Gogh atau lukisan Screm karya Edvard Munch yang terkenal itu.

—AFRIZAL MALNA, penyair.

KOMENTAR

Di antara semburan kata-kata, kita menemukan kristal-kristal puisi yang mewujud secara visual, bergaung dalam lantunan bunyi, atau membangunkan ingatan akan pergumulan kita sehari-hari di ruang kota. Pembaca dipersilakan memungut kristal-kristal puisi itu dari kumpulan antologi Sabiq Carebesth—dan memilikinya. —MELANI BUDIANTA, Guru Besar Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia.

Ia kerap muncul tiba-tiba, menghilang beberapa lama, lalu dating lagi dengan membawa sekian banyak rencana tapi ujung-ujungnya mengeluarkan draft buku puisi dari ranselnya. Sabiq adalah teka-teki yang belum terpecahkan bagi saya hingga kini. —DAMHURI MUHAMMAD, Esais dan Cerpenis.

TENTANG PENULIS

Selain bekerja sebagai penulis dan desainer, ia konsultan program dan media di lembaga non-profit mau pun bisnis, Sabiq merupakan pendiri dan editor Galeri Buku Jakarta. Buku kumpulan sajak “Tak Ada Sajak di Kafe-Kafe” karya Sabiq Carebesth berisi 30 sajak pilihan penyair yang ditulis dari 2010-2022. Sebagian besarnya telah dipublikasikan di berbagai koran dan majalah nasional seperti Kompas, Jawa Pos, Media Indonesia dan media lain. Buku sajak pertamanya “Memoar Kehilangan” terbiti pada tahun 2010 silam Bersama penerbit Koekoesan menyusul kemudian “Seperti Para Penyari” (2015), “Samsara Duka” (2020).

Share This Story!
Shares
- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Shares