Friday, August 12, 2022

Ulasan “Genius and Ink” Karya Virginia Woolf – sebuah esai dalam ‘how to read’

Bagaimana Virginia Woolf sebagai kritikus muda menjadi novelis ternama? Buku ini menjawab pertanyaan tersebut.

Aida Edemariam


Pada usia 23 tahun, Virginia Woolf, yang baru menjadi yatim-piatu dan masih berjarak sepuluh tahun dari menerbitkan debut novelnya, ditugaskan untuk menulis ulasan untuk  TLS tahun 1905. Ia memulai, sebagaimana ditegaskan oleh Francesca Wade dalam kata pengantarnya, ia seperti pemula kebanyakan–dengan mengulas apapun yang diberikan oleh redaktur TLS kepadanya: buku panduan, buku resep, puisi, novel debut. Ia seringkali menyerahkan satu karya dalam seminggu, membaca buku pada hari Minggu, menulis–dalam TLS, media anonim, otoriter, dengan kata pengganti plural “kami”–hingga 1,500 kata di hari Senin, lalu turun percetakan pada hari Jumat. Ulasan tersebut membuahkan nama untuknya, setelah itu mereka menjadikannya seorang penulis.

Melalui karya-karya ini, ia “mempelajari kreasinya”, ia mengenangnya sebagai; “bagaimana cara memeras [ide]; bagaimana cara menyemarakkan”, bagaimana cara “membaca dengan pulpen dan catatan, dengan tekun”. Ia tentu saja tidak dapat melakukannya tanpa kebiasaan membaca sejak kecil (“waktu terbaik untuk membaca adalah di antara usia 18 sampai 24”, sebagaimana ia tuliskan dengan candaan, dalam “Hours in a Library”). Juga yang tak kalah penting adalah modal budaya yang ia dapatkan sebagai putri dari penulis tersohor, Leslie Stephen (dan yang ia sadari mempengaruhi karya Fanny Burney: “semua stimulus berasal dari keluar-masuk ruangan di mana orang dewasa membicarakan buku dan musik.” Ia memperoleh kepiawaian dari para jurnalis dan novelis (dari 107 pesta makan malam yang dihadiri Henry James dalam satu musim, misalnya, tanpa perasaan sungkan kepada mereka), dan kesantunan, paling tidak pada awalnya, untuk pintar-pintar mendapatkan perhatian dari “orang kantoran yang mengerjar kereta pagi hari” dan “orang penat yang baru pulang pada sore hari.”

Who better to serve as a guide to great books and their authors than Virginia Woolf? In the early years of its existence, the Times Literary Supplement published some of the finest writers in English: T. S. Eliot, Henry James and E. M. Forster among them. But one of the paper’s defining voices was Virginia Woolf, who produced a string of superb essays between the two World Wars.

The weirdness of Elizabethan plays, the pleasure of revisiting favourite novels, the supreme examples of Charlotte Brontë, George Eliot and Henry James, Thomas Hardy and Joseph Conrad: all are here, in anonymously published pieces, in which may be glimpsed the thinking behind Woolf’s works of fiction and the enquiring, feminist spirit of A Room of One’s Own.

Ia pun berlatih untuk menjadi seorang kritikus. Ia mempercayai bahwa, “kritikus yang hebat”—seperti seorang “Colerdige, terutama”- “adalah suatu kelangkaan” ; terlebih lagi, ia menuliskan drama dan sajak. Kritik bagi karya fiksi “berada pada tahap awal”, ia menyebutkan. Hal ini adalah kesempatan, sekaligus sebuah tantangan–di mana, sebagai anak muda, dan seorang otodidak, terdapat pertanyaan: apakah ia pantas? Kata pengganti “kami” yang bias terkadang terasa seperti jubah yang melingkupi dan melindunginya dengan pembenaran gaya congkak khas maskulin.

Sesuatu yang ia selalu banggakan adalah gayanya: kewenangan untuk membicarakan “apa yang ia sukai karena ia suka” dan “tak perlu berpura-pura suka atas apa yang tak disukainya”. Pendekatan ini dapat membuat seseorang menjadi bebal–tentang Ulysses, yang terkenal (“kekacauan yang terkenang– sangat menantang, bencana yang hebat”), dan lebih rumit saat menyentuh permukaan isu kelas (secara bergantian menyembah dan mengacuhkan kepada penulis “kota kecil” Thomas Hardy). Tapi hal tersebut juga merupakan asal dari seluruh wawasan terbaik datang, karena salah satu hal yang ia gemari adalah kegiatan yang penuh konsentrasi. Dan kesenangan dari koleksi seperti ini adalah menyaksikannya memburu kegiaan itu, yang menurut kita, seperti real-time: ini bukan keturunan Woolf, tapi seorang perempuan muda bekerja sesuai keyakinannya. Hal ini ternyata mendukung gambaran yang integral, alih-alih sekadar gambaran dekoratif; perasaan yang tulus berhadapan dengan perasaan manipulatif; dan sudut pandang yang jelas, antara  yang gamang dan yang lekat seperti halnya musim semi.

Perasaannya sebagai pembaca dan penulis ada dalam raganya–usianya, penyakitnya atau kesehatannya, konteks sosial dan geografinya, memori pribadi dan pengalamannya, terkhusus perkembangan emosionalnya–menghimpun keunggulan yang sangat berharga. Terlebih pada tanggapannya mengenai efek dari gender yang dimilikinya. Maka, ada pernyataan George Eliot, “the grave lady in her low chair”, dicibir oleh banyak kritikus lelaki karena tak menawan – “sebuah kualitas yang diidamkan perempuan”.  (kegagalan Eliot, bagi Woolf, terletak pada superioritas Woolf sebagai seorang heroine1, yang ia anggap memiliki kecerdasan lebih dibandingkan dengan orang udik lainnya.) atau Charlotte Brontë, yang ia anggap memiliki novel dengan “keganasan yang hebat”. Atau Aurora Leigh, dihinggapi oleh pencipta feminimnya. Menamai puisi Elizabeth Barrett Browning dengan “mahakarya dalam embrio” bukan omong kosong belaka.

Lalu terdapat deskripsi bahwa Eliot menggapai “yang dunia tawarkan bagi pikiran yang bebas dan selalu mempertanyakan”, hal itu, tentu saja, apa yang Woolf juga lakukan. Ulasannya penuh dengan hubungan dan gaung–antara dirinya dan subjeknya, namun juga antara bahasanya dan subjeknya. Maka ritme deskripsi dari buku terbaik Joseph Conrad menggemakan isinya–kalimat yang bergeming, hingga keanggunannya terlihat di atas geladak malam Conradian, menjelaskan capaian “sangat luhur dan elok” yang “melayang dalam kenangan seraya, di malam musim panas yang hangat ini, dengan cara yang agung, bintang pertama keluar diikuti yang lainnya”.

Dan keberaniannya, mengolok-olok hampir seluruh drama Shakespeare di era Elizabeth, dalam penyampaian yang mencitrakan kejadian riuh yang bertumpuk. Apa yang seharusnya pada akhir drama bukan karakteristik muram dan alur cerita yang menghibur, namun kurangnya keterpencilan dan juga kesunyian–dia benar-benar menggemakan tangisan hati sang novelis. (itu pada 1925, pada tahun Mrs Dalloway muncul). (*)

1 Heroine : tokoh utama perempuan yang dikagumi keberaniannya


by Tim Penerjemah Galeri Buku Jakarta, Safira, Regina, Addi M Idham

Share This Story!
Shares
- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Shares