Wednesday, November 30, 2022

Sajak-sajak Angga Wijaya

Siasat Kota

Kembali ke kota, topeng kupakai lagi
Bentuk yang banyak sesuai keadaan
Jika bertemu orang penting, pakaian
paling bagus aku kenakan. Agar dia
percaya aku bukan orang tak punya.

Kota banyak mengajariku bersiasat
Suara juga aku atur sedemikian rupa
Pemikiran para filsuf sering kupakai
Agar kelihatan pintar juga berbobot

Tak lupa sedikit menjilat kekuasaan
Politik kata orang kotor, tidak bagiku
Semua kupakai untuk bertahan hidup
Termasuk puisi yang kadang gombal

Mungkin kamu bosan tinggal di kota
Aku hanya ingin bilang bertahanlah
Desa juga tak bisa memberimu uang
Tanah dan sawah sudah lama dijual

Pulanglah jika ada kepentingan saja
Jangan sesekali bicara berlama-lama
Kedekatan kadang timbulkan masalah
Lidah bisa buatmu selamat juga celaka

2022

Tak Bisa Pulang

Pada akhirnya kita akan sendiri, melawan
kesedihan dan ketidakberuntungan diri.
Setiap orang menemui masalah yang berbeda.
keluarga, tak lain hanya ikatan semu dan palsu.

Menghadapi kenyataan dunia yang kejam, tak ada
yang memberik jawaban. Kata-kata seperti menguap,
sirna ditelan angin. Mesin waktu hanyalah khayalan
dalam film yang kerap diputar di televisi.

Aku rindu pelukan ibu kala senja, saat aku mencari
layangan tersangkut di pohon. Sebentar lagi gelap
menyelimuti, aku bergegas pulang dengan cemas
sementara kulihat ibu menungguku di pintu

Mereka yang kucintai kini sudah tak ada, potret
tersimpan di album tua, terkadang aku melihatnya,
kesunyian begitu terasa, bagai dini hari terbangun
karena mimpi buruk yang mengganggu

Dalam kesendirian, pikiran tak bisa diam.Hidup
kujalani kadang dengan penyesalan. Kegagalan
masa lalu terus menghantuiku. Berjalan dengan
kakigontai, tanpa peta penunjuk jalan.

2022

Hari Jadi Delapan Tahun Kemudian

Kita mungkin belum saling mengenal dengan baik
Tahun kedelapan akan segera kita rayakan. Makan
bersama di restoran, jemari kita tak lepas dari hape
Keterasingan jenaka yang makin sering kurasakan.

Percakapan menguap bersama malam di kota terang
Aku teringat ketika pertama kali kau datang ke sini,
menjelajahi tempat baru seperti kau baca di internet,
berakhir pada ciuman dan perpisahan di bandara.

Ingatkah kau saat-saat indah dulu?Saat kita berbagi
apa yang kita punya, tanpa pernah menyesali semua?
Banyak yang berubah pada diri kita, hidup kian berat
jika cinta berubah menjadi perhitungan—juga logika.

Aku selalu sabar menunggu, seperti lagu lama tentang
asmara berakhir bahagia. Semua menjadi biasa saat kita
sering berjumpa. Mencintai hal paling buruk yang tak
pernah kita tahu sebelumnya. Itulah cinta sebenarnya.

Setelah ini, kita akan menikah seperti rencana telah lalu
Atau terpaksa memutuskan berpisah, kita tak pernah tahu
Sebab waktu penuh ketidakpastian, aku tak mau berharap.
Hidup bukanlah ramalan, kartu tarot tak buatku bahagia.

2022

Setelah Ibu Pergi

Dulu, sewaktu ibu masih ada, beliau yang paling rajin memberi masukan
setelah membaca buku yang aku tulis. Beliau pembaca yang tekun juga
kritis.Tanpa basa-basi, menyebut sebuah karya bagus atau jelek.

Itu dulu, sebelum beliau meninggal dunia.Kini aku sering ditikam rasa
sepi. Puisi tak banyak ada, kekosongan kurasakan penuhi hari-hariku,
Tak ada lagi teman bicara yang tulus, dengarkan jiwa yang goyah.

Entah dimana ibu kini. Hanya kenangan tersisa menempel di relung
ingatan. Rumah tak seperti dulu lagi, ada yang hilang ketika kami,
anak-anaknya, pulang berkumpul saat hari raya atau libur panjang.

Buku-bukuku yang beliau pernah baca, aku simpan dengan baik.
Di sana kulihat jejak tangan yang pernah menyentuh lembaran
buku, kutulis pada malam-malam penuh kegelisahan.

Aku ingin pulang sekali waktu, kembali temui masa lalu yang
tak selalu buruk. Keburukan hanyalah manipulasi pikiran, itu
yang kurasakan saat ini. Mata yang melihat kekotoran di luar.

2021

Tahun Macan

Angin ribut menyertai hujan sore ini. Aku melihatnya
di beranda kamar kontrakan. Bulan depan tahun baru Imlek.
Biasanya memang disertai hujan sebelum hari-hari tersebut.

Macan adalah simbol tahun yang baru. Mereka yang tangkas
akan berjaya. Itu percakapan di grup virtual keluarga kami
seminggu lalu. Aku tak ikut berdiskusi karena sibuk bekerja.

Pertempuran yang nyata kutemui sehari-hari. Siapa yang
kuat dialah pemenang. Bukan karena tahun macan kita mesti
bergerak cepat. Itu hanya penafsiran sesuai penanggalan.

Tak sedikit mereka yang sudah bekerja keras tetap kalah.
Kita bisa katakan hal itu karena nasib dan tak takdir.
Setiap garis tangan punya perjalanan berlainan—tak sama.

Ada baiknya kita biasa-biasa saja.Bekerja sesuai kemampuan.
Ada saatnya mesti bergerak cepat, ada waktu menahan laju
sesuai keadaan. Tak harus selalu tergesa dalam kompetisi.

Ayahku pernah berkata: “jika di jalan menanjak pakailah
persneling rendah, di jalan datar bisa menambah kecepatan,
“gigi dua-tiga-empat”. Aku sering merindukan beliau kini.

2022


I Ketut Angga Wijaya, lahir di Negara, Bali, 14 Februari 1984. Mengawali karir kepengarangan sebagai penulis puisi sejak SMA tahun 2001 saat bergabung di Komunitas Kertas Budaya di kota kelahirannya, tempat ia menimba banyak ilmu pada Nanoq da Kansas, guru pertama yang mengajarinya menulis, bermain teater, membaca kehidupan, dan melihat dunia dari sisi lain.
Sejak awal 2018 ia telah menulis 6 (enam) buku kumpulan puisi, diantaranya Catatan Pulang (Pustaka Ekspresi, 2018), Dua Kota Dua Ingatan (Basabasi, 2019), Taman Bermain (Purata Publishing, 2019), Notes Going Home (Pustaka Ekspresi, 2019), Tidur di Hari Minggu (Mahima Institute Indonesia, 2020) dan Menulis Halusinasi (Lire Publisher, 2021). Juga, buku kumpulan esai Masa Depan Itu Nisbi (Pustaka Larasan, 2020), buku kumpulan artikel Aku Tak Lagi Mendengar Bisikan Suara (Megalitera, 2020), serta buku kumpulan esai Umbu, Simfoni, Sunyi (Narulis Publisher, 2021).
Selain penulis, ia juga bekerja sebagai jurnalis dan bergiat di Rumah BISAbilitas Denpasar, tempat ia berbagi ilmu tentang kepenulisan dengan mengelola portal sastra sebagai wadah berkarya bagi para penyandang disabilitas di Bali. Ia bisa dihubungi di akun Instagram @anggawijaya54.
Share This Story!
Shares

More City & Poetry

Shares