Tuesday, July 5, 2022

Yury Nagibin: Teater Bolshoi

Eugenia tidak lagi bersama kami. Dia tidak ada waktu, begitu banyak keberhasilan yang dia perlukan! Eugenia berkata, bahwa dia ingin mati di dalam penerbangan luar angkasanya yang pertama, karena tidak boleh sama sekali menguasai ruang angkasa tanpa pengorbanan, dan kematian itu lebih baik baginya, lebih patut dihormati, dibandingkan hal yang lain. Kami mengetahui, bahwa dia berkata penuh keikhlasan dan dengan tidak bersyak wasangka terhadap keunggulan jiwa sendiri, hal yang demikian membuat kami jadi merasa rendah.

—Yury Nagibin


Berakhirlah pelajaran terakhir dari hari terakhir kehidupan sekolah kami.[1] Di depan masih ada ujian-ujian panjang dan sukar, tetapi pelajaran-pelajaran tidak akan pernah kami miliki lagi. Kuliah, seminar, kolokium – seluruh kata-kata yang mengandung kedewasaan tersebut – akan datang kepada kami, auditorium perguruan tinggi dan laboratorium pun akan datang, tetapi baik kelas maupun bangku-bangku sekolah tidak akan pernah datang lagi. Sepuluh tahun masa sekolah dirampungkan dengan bunyi lonceng keparau-parauan yang dikenal, yang muncul di bawah, di dalam ruangan para guru, yang lebih dulu dialiri oleh bunyi tersebut dan bunyi itu naik dengan sedikit terlambat ke arah kami di tingkat enam, yang di dalamnya tersebar kelas-kelas sepuluh. Kami semua, yang tengah tersentuh, terharu, bahagia dan menyesalkan sesuatu, yang merasa bimbang dan tersipu dengan perubahan sekejap mata sendiri dari anak sekolah menjadi orang dewasa, manusia, yang menikah saja pun bahkan boleh, berkeliaran di sepanjang kelas dan koridor, seperti ketakutan keluar dari tembok sekolah menuju dunia, yang menjadi tanpa batas. Dan ada perasaan yang demikian, seakan-akan ada sesuatu yang tidak terkatakan, tidak sampai, tidak terselesaikan selama sepuluh tahun yang telah lalu itu, dan seolah saja hari ini telah menemukan kami dengan tanpa diduga.

Berakhirlah pelajaran terakhir dari hari terakhir kehidupan sekolah kami.[1] Di depan masih ada ujian-ujian panjang dan sukar, tetapi pelajaran-pelajaran tidak akan pernah kami miliki lagi. Kuliah, seminar, kolokium – seluruh kata-kata yang mengandung kedewasaan tersebut – akan datang kepada kami, auditorium perguruan tinggi dan laboratorium pun akan datang, tetapi baik kelas maupun bangku-bangku sekolah tidak akan pernah datang lagi. Sepuluh tahun masa sekolah dirampungkan dengan bunyi lonceng keparau-parauan yang dikenal, yang muncul di bawah, di dalam ruangan para guru, yang lebih dulu dialiri oleh bunyi tersebut dan bunyi itu naik dengan sedikit terlambat ke arah kami di tingkat enam, yang di dalamnya tersebar kelas-kelas sepuluh. Kami semua, yang tengah tersentuh, terharu, bahagia dan menyesalkan sesuatu, yang merasa bimbang dan tersipu dengan perubahan sekejap mata sendiri dari anak sekolah menjadi orang dewasa, manusia, yang menikah saja pun bahkan boleh, berkeliaran di sepanjang kelas dan koridor, seperti ketakutan keluar dari tembok sekolah menuju dunia, yang menjadi tanpa batas. Dan ada perasaan yang demikian, seakan-akan ada sesuatu yang tidak terkatakan, tidak sampai, tidak terselesaikan selama sepuluh tahun yang telah lalu itu, dan seolah saja hari ini telah menemukan kami dengan tanpa diduga.

            Di jendela-jendela yang terbuka lebar warna biru langit yang pekat tampak melimpah, burung-burung merpati mendekut lantaran ingin kawin dengan suara yang kasar di bendul jendela, terasa ada bau yang kuat dari pohon-pohon yang sedang berkembang dan aspal yang meleleh.            

            Eugenia[2] Rumyantseva masuk ke kelas kami.

            “Seryozha[3], bolehkah barang sebentar?” Aku keluar ke koridor. Pada hari yang tidak biasa ini, Eugenia menunjukkan kepadaku mengenai dirinya yang sama sekali tidak biasa. Dia berpakaian, seperti keselaluannya, tanpa cita rasa: pakaian pendek, yang memang sudah kekecilan untuknya di tahun yang lalu dan lebih tinggi dari lututnya, koftochka[4] dari wol, yang tidak bertemu rapat di bagian dada, dan di balik koftochka, dengan warna jadi agak kebiru-biruan karena seringnya dicuci, terlekat bluzka[5]putih, serta sepatu anak-anak yang tidak lancip tanpa hak. Kelihatannya, Eugenia mengenakan pakaian adik perempuannya. Rambut Eugenia yang menggunduk  dan berdebu secara serampangan disatukan dengan jepitan rambut, harspel,[6]dan grebenka,[7]yang menyekitari wajah kecilnya dan tetap saja rambutnya itu menutupi bagian dahi serta lehernya, sedang satu untaian rambutnya selalu jatuh ke hidungnya yang agak pesek dan dia dengan rasa jengkel menepis-nepisnya. Sesuatu yang baru yang ada padanya adalah warna merah yang tipis merata, yang meronai wajahnya, dan sinar mata kelabunya yang besar, tampak dekat dan hidup, kadang serius – penuh kesibukan, kadang lengah – seperti tak melihat.

            “Seryozha, saya ingin mengatakan kepadamu: marilah kita bertemu selang sepuluh tahun lagi.”

            Percandaan sama sekali bukanlah ciri yang mendasar bagi Eugenia dan secara serius aku bertanya:

            “Untuk apa?”

            “Saya tertarik, akan jadi apa kamu nanti,” Eugenia mengibaskan untaian rambutnya yang menjengkelkan. “Pada tahun-tahun sekolah ini, kamu begitu membuat saya tertarik.”

—The Bolshoi Theatre is a historic theatre in Moscow, Russia, originally designed by architect Joseph Bové, which holds ballet and opera performances. Before the October Revolution it was a part of the Imperial Theatres of the Russian Empire along with Maly Theatre in Moscow and a few theatres in Saint Petersburg.

            Aku berpikiran, bahwa Eugenia Rumyantseva tidak mengenal baik kata-kata itu, maupun perasaan seperti itu. Seluruh hidupnya mengalir di dalam dua lingkungan: pada pekerjaan gugus generasi muda yang intens – dia merupakan pemimpin regu kami – dan pada cita-citanya tentang dunia bintang. Aku tidak pernah mendengar, pada waktu luang dari kesibukan kerjanya Eugenia mengatakan mengenai sesuatu yang lain, kecuali mengenai bintang-bintang, planet, orbit, suar matahari, dan penerbangan ke luar angkasa. Tidak banyak dari kami yang secara tegas dapat menentukan jalan kehidupan sendiri yang selanjutnya, tetapi Eugenia sejak kelas enam telah mengetahui, bahwa dia akan menjadi astronom dan bukan yang lain. Di antara kami tidak pernah ada kedekatan pertemanan, kami belajar di kelas berparalel dan kami bertemu hanya karena pekerjaan di gugus generasi muda. Beberapa tahun lalu akibat sebuah kesalahan aku agak hampir dikeluarkan dari gugus kepanduan. Para kawanku berdiri dengan teguh di belakangku dan aku akhirnya tetap menjadi bagian dari kepanduan. Hanya Eugenia seorang, anak baru di sekolah kami, yang sampai akhir menuntut pengecualian itu. Dan hal yang demikian memberi bekas di dalam relasiku terhadapnya. Tetapi kemudian aku mengerti, bahwa karakter tanpa iba Eugenia terjadi karena usaha untuk mempertinggi ketelitian bagi diri sendiri dan orang lain, sama sekali bukan karena hati yang jelek. Manusia itu sampai ke dasarnya haruslah jernih, berhati teguh, serta dapat dipercaya, dan dia ingin semua yang ada di sekelilingnya jadi seperti itu. Aku bukan seorang kesatria yang tanpa rasa takut dan tanpa cela[8] dan sekarang pengakuannya yang tanpa disangka, membuat aku bingung dan heran.

            Di dalam pencarian dengan perdugaan, secara berpikir-pikir aku berlari ke masa lampau, tetapi tidak ada apa pun yang kujumpai, kecuali sebuah pertemuan di Chistye Prudy.[9]

Suatu hari, ketika liburan, kami berkemas ke telaga[10]Khimkinskoye[11] untuk bersenang-senang naik perahu. Dalam perbincangan yang sengit, Chistye Prudy akhirnya ditetapkan jadi lokasi berjumpa. Akan tetapi sedari pagi hujan rintik turun dan ke pusat temu tersebut yang datang hanya aku dengan Pavlik[12]Arshansky, Nina Barysheva dan Eugenia Rumyantseva. Nina datang karena di hari libur dia tak ingin tinggal di rumah, aku datang karena Nina, Pavlik – karena aku, sedangkan mengapa Eugenia datang, bagi kami tampaknya ketika itu tidak jelas. Eugenia tidak pernah hadir di dalam pesta perjamuan kami yang sederhana, tidak pernah pergi bersama kami ke gedung bioskop, ke Park Kultury,[13] dan ke Hermitage.[14] Tidak ada seorang pun yang dapat menduga-duga sikap diam Eugenia, hanya dia memang tidak punya cukup waktu: dia mengerjakan suatu aktivitas pada kelompok astronomi di bawah Universitas NegeriMoskow[15] dan masih melakukan sesuatu di planetarium. Kami menghormati arah dari tujuan tertentu Eugenia tersebut dan tidak ingin mengganggunya. Kami pun akhirnya berkumpul di sebuah tempat besar yang tembus air, di bawah payung raksasa yang terbuat dari kayu di tengah jalan besar. Hujan kadang besar dan berisik, mendera tanah, kadang jadi mengecil ke hampir rintik-benang yang tidak terlihat dan tidak terdengar, tetapi tidak berhenti barang sebentar juga. Awan kelabu yang tak putus-putus tanpa celah cahaya menuju ke atap-atap rumah. Tidak ada pikiran lagi mengenai Khimki.[16] Akan tetapi Eugenia  dengan keras hati membujuk kami untuk pergi. Inilah untuk pertama kalinya dia membiarkan dirinya melakukan penyimpangan kecil terhadap aturan biasanya yang keras dan bagaimana pun itu perlu, bisa-bisa kami dapat sangat beruntung!. Pada kancing jaket beludrunya bergantung bungkusan roti dan lauk-pauknya. Tampak, bahwa sesuatu yang ada di dalam bungkusan itu sangat menyentuh hati. Bagi benak Eugenia, agaknya, tidak pernah sampai, bahwa dapat saja makan pagi di zakusochnaya,[17] di kafe atau bahkan di restoran, seperti yang kami lakukan pada saat perjalanan. Lantaran rasa iba terhadap bungkusannya itu aku pun menawarkan:

 “Mari kita bersenang-senang di kolam.” Aku menunjuk ke arah perahu[18]yang tua dan meretak, yang memiliki haluan menjulang dari bekas kayu penyangga gerbong pengangkut barang.[19] “Dan kita akan berimajinasi, bahwa kita sedang ada di Khimki.”

“Atau di laut Mediterranea,”[20] sela Pavlik.

“Atau di samudera Hindia!”[21]sambung Eugenia dengan penuh semangat. “Atau di pantai Greenland!”[22]katanya lagi.

“Kita tidak akan tenggelam?” tanya Nina. “Dan ini patut disesali: aku sebenarnya diajak ke pertunjukan pertama[23] di Moscow Arts Theatre,”[24] kata Nina lagi.

Dayung tidak ada. Kami pun mengambil dua buah papan di pinggiran, mengeluarkan air dari perahu dan kami memulai perjalanan berlayar keliling dunia. Sedikit kemungkinannya, bahwa seseorang dari kami, kecuali Eugenia, yang merasakan kesenangan akan hal itu. Ketika aku dan Pavlik dengan tanpa semangat mengayuhkan kayu di atas air, Eugenia mereka-reka jalur perjalanan. Begitulah kami melewati selat Bosporus,[25] melalui terusan Suez[26] kami masuk ke laut Merah,[27] dari sana ke laut Arab,[28] kemudian bertolak ke kepulauan Sunda Besar,[29] ke Philipina dan masuk ke lautan Pasifik.[30] Karakter kekanak-kanakkan Eugenia yang kasip tampak manis dan mengharukan, tetapi di dalam dirinya ada sesuatu yang ketika itu menyusahkan hatinya:

“Lihatlah!” kata Eugenia sambil menunjuk ke suatu arah, yang memperlihatkan, bahwa di balik ranting-ranting pohon yang berkilau lantaran hujan, pilar-pilar gedung bioskop Kolizei[31] yang basah tampak menghitam penuh kemuraman. “Itu pohon kelapa, pohon sulur-suluran,[32] dan gajah-gajah: kita terbawa ke pantai India!”

Kami jadi saling berpandangan. Hal itu biasa terjadi pada usia tujuh belas tahun, kita mempertahankan kehidupan pribadi sendiri, yang rapuh, yang mudah dilukai oleh lempeng baja ejekan yang disengaja, sinisme yang halus, dan kita tidak mengerti, bagaimana kita dapat begitu naif memperlihatkan diri sendiri.

“Kita mendekati kepulauan Solomon[33] yang mengerikan!” Eugenia mengumumkan dengan suara yang mendatangkan ketidakberuntungan.

“Benar!” Pavlik, orang yang paling baik di antara kami, mengulangi. “Dan itu orang-orang setempat-pemakan manusia,” tunjuknya ke arah sekelompok anak-anak Chistye Prudy, yang berhenti di sekitar pagar keliling telaga untuk merokok. Pelayaran kami yang menjenuhkan, yang menembus hujan, pun berlanjut. Eugenia dengan tanpa lelah memberikan perintah: “Kemudi ke kanan!”, “kemudi ke kiri!”, “naikkan layar!”, “turunkan layar!”, dan dia menemukan jalan berdasarkan letak bintang. Kompas kami rusak saat badai. Dan itu memberinya kesempatan untuk menjamu kami dengan kuliah astronomi, yang aku hanya ingat, bahwa di ekuator langit berbintang seolah-olah terbalik. Kemudian kami harus menanggung malapetaka, Eugenia memberi kami kue keringnya yang terakhir: roti dan lauk-pauknya yang jadi basah. Dengan murung kami mengunyahnya dan Eugenia berkata, bahwa dia sangat tertarik dengan kehidupan Robinson Crusoe.[34] Aku lelah, basah karena air, dan tangan yang memegang bilah papan-pendayung pun aku angkat. Itu membuatku jadi orang yang tak kenal rasa iba dan aku berkata, aku tidak tahu, jika ada buku yang lebih picik dibandingkan dengan buku Robinson Crusoe.

“Seluruh isi buku penuh oleh kesibukan sempit terhadap makanan, pakaian dan perkakas. Itu tabel harga makanan dan barang rongsokan yang tidak ada habis-habisnya! Itu himne bagi kehidupan rumah tangga yang khusuk!”

“Dan saya tidak tahu apa pun yang lebih menggelorakan dibandingkan hal itu, hal yang kau bilang sebagai tabel harga!” kata Eugenia dengan butiran air di matanya. “Betapa banyak kebebasan di buku itu, sajak-sajak dan mimpi…..”

Perdebatan kami dihentikan oleh Nina Barysheva. Dia tiba-tiba berkata:

“Hore! Di depan ada pantai!”

“Mana? Di mana?” kata Eugenia dengan terkejut.

“Itu, di dekat gerbong pengangkut barang,” kata Nina dengan suara yang sama dan sangat menjemukan. “Sudah, kita telah sampai! Kawan-kawan,[35] aku bisa mati kedinginan, tanpa segelas konyak[36] aku tidak akan mampu mengatasi.”

“Mari kita ke Pokrovka,[37] ke kafe musim panas,”[38] aku mengajak.

Eugenia memandang kami dengan tertegun, pipinya jadi berwarna merah jambu. “Ada apa?” katanya dengan begitu gagah. “Kalau pergi minum[39] ya pergi!”

Kami memasukkan perahu di bawah kayu penyangga gerbong pengangkut barang, kemudian keluar ke arah pantai dan seketika itu juga kami langsung berhadapan dengan Lyalik,[40] kenalan lamaku yang bukan teman. Selama tahun-tahun belakangan ini manusia muda yang berandalan tersebut ada di penjara. Dia sangat kuat, pundaknya lebar, memandang dengan mengernyit dan mengesankan dirinya sebagai penjahat kawakan. Setelah bersejajar dengan kami, Lyalik membenturkan pundaknya yang satu kepadaku, yang lainnya kepada Pavlik dan memaki-maki dengan kasar. Sekarang, di dalam lingkaran cahaya kejayaan perbuatan kriminalnya, dia tahu, bahwa dia tidak memiliki resiko apa pun. Rasa takut kami bukan dimunculkan oleh dirinya, melainkan oleh reputasinya. Dia menindas kami dengan keagungan yang muram dari takdirnya. Kami merasa diri sendiri seperti manusia rewel yang hina, seperti anak bunda yang manja. Bagaimana juga kami mampu bertanding kekuatan dengan manusia yang telah kehilangan akal seperti Lyalik.

—Teater Bolshoi, yang dijadikan judul terjemahan, terletak di kota Moskow dan didirikan atas perkenan Prince Peter Urusov pada tanggal 17 Maret 1776. Awalnya hanya 13 aktor dan 9 artis, 4 penari perempuan dan 3 penari laki-laki dengan seorang koreografer dan 13 pemain musik yang melakukan unjuk seni di sini. Bolshoi dibaca Balshoi: karena tekanan ada pada huruf o kedua, sehingga huruf o pertama dilafalkan jadi a dan artinya besar.

“Jangan kau berani memaki-maki, bajingan!” teriak Eugenia. Dia tidak tahu siapa Lyalik, yang dengan diam-diam berputar dan melangkah menuju kami. Akan tetapi Eugenia memotongnya di pertengahan jalan. Dia menarik ke bawah penutup kepala Lyalik yang usang dengan ujungnya  yang sudah patah ke arah hidung sang bajingan, dan dengan sekuat tenaga mendorong dada Lyalik. Sang bajingan pun melayang ke arah kawat pagar dan melewati kawat pagar dia berjungkir balik ke atas rumput, dan jelaslah seketika itu juga, bahwa Lyalik hanyalah seorang bocah, seperti halnya aku dan Pavlik. Dan seluruh tampangnya yang menyeramkan sama sekali tak ada harganya lagi.

“Mengapa kamu mendorongku?” gumam Lyalik dengan lirih, seraya berusaha menarik penutup kepala, yang ada tepat di kedua matanya. Kemudian kami duduk di kafe musim panas di bawah tenda payung dengan motif lajur-lajur yang basah, meminum kopi hitam dengan konyak dan makan gelato.[41] Eugenia, seraya mengernyit, meminum segelas kecil konyak dan tidak tahu bagaimana kejadiannya, jepitan rambut dan harspel-nya secara bersamaan jatuh dari rambutnya yang menggunduk dan lebat, wajahnya jadi memerah dan dia mulai menamai dirinya sebagai peminum berat dan seorang yang kehilangan jiwa. Kami jadi sedikit malu karena dia, kami khawatir, bahwa pekerja kafe tidak akan memberikan konyak lagi kepada kami, lantaran Eugenia masih belum menyerupai seorang gadis yang umurnya lebih tua dari yang seharusnya, seperti halnya di kafe tersebut, dengan rambut kusut dan pakaiannya yang di sepanjang waktu melampaui kedua lututnya. Dan Eugenia berkata, bahwa dia ingin mati di dalam penerbangan luar angkasanya yang pertama, karena tidak boleh sama sekali menguasai ruang angkasa tanpa pengorbanan dan kematian itu lebih baik baginya, lebih patut dihormati, dibandingkan hal yang lain. Kami mengetahui, bahwa dia berkata penuh keikhlasan dan dengan tidak bersyak wasangka terhadap keunggulan jiwa sendiri, hal yang demikian membuat kami jadi merasa rendah. Kami tidaklah seperti itu, bahkan meskipun di bawah pengaruh konyak dan kami memerlukan, meski entah bagaimana, kesempatan untuk bertahan.

Selebihnya Eugenia tidak lagi bersama kami. Bukan hanya sekali kami mengundangnya untuk hadir ke pertemuan kami, tetapi dia menampiknya lantaran tidak ada waktu, bisa jadi, dia memang sungguh-sungguh tidak punya cukup waktu, begitu banyak keberhasilan yang dia perlukan! Lantas bagaimana, jika pada hari satu-satunya itu dia datang karena aku dan karena aku juga dia pergi, setelah berkata dengan kejujuran yang berbesar hati: “Tidak berhasil…”  

            “Mengapa dulu kamu diam saja, Eugenia?” tanyaku.

            “Untuk apa mengatakannya kepadamu? Nina Barysheva begitu tertarik kepadamu!”

            Dengan perasaan kehilangan yang kecewa dan sedih, aku berkata:

            “Di manakah dan kapan kita akan berjumpa?”

            “Selang sepuluh tahun, tanggal dua puluh lima Mei, pada jam delapan malam, di bentangan tengah[42] di antara pilar-pilar teater Bolshoi.”

“Dan jika di sana jumlah pilarnya gasal?”

“Di sana ada delapan pilar, Seryozha…Pada waktu itu saya akan menjadi astronom ternama,” tambahnya dengan penuh keinginan, impian dan keyakinan yang teguh. “Sekiranya saya begitu berubah, kau dapat mengenaliku lewat potret-potret.”

            “Baiklah, pada saat itu aku juga akan menjadi terkenal,” kataku dan aku berhenti barang sebentar: aku masih benar-benar belum membayangkan, di dalam bidang apa, aku ditakdirkan akan menjadi tersohor dan aku bahkan masih belum mengambil keputusan, ke fakultas mana aku mesti menyerahkan semua dokumen:[43] “Bagaimanapun juga, aku akan datang dengan mobil sendiri…” Itu benar-benar bodoh, tetapi aku tidak menemukan apa pun untuk dikatakan.

            “Baguslah kalau begitu,” Eugenia tertawa, “kau akan mengajakku berkeliling kota…”

            Tahun-tahun berlalu. Eugenia belajar di Leningrad,[44]aku tidak mendengar apa-apa mengenai dirinya. Pada musim dingin tahun 1941, dengan keinginan yang besar aku berusaha mencari berita mengenai takdir kawan-kawanku, aku mengetahui, bahwa Eugenia pada hari pertama perang[45] meninggalkan institut dan masuk ke sekolah penerbang. Pada musim panas tahun 1944 aku terbaring di rumah sakit dan mendengar lewat radio keputusan tentang penganugrahan gelar pahlawan kepada mayor penerbang Rumyantseva. Ketika akukembali dari perang, aku baru mengetahui, bahwa gelar pahlawan itu diberikan kepada Eugenia karena dia telah gugur secara heroik di medan perang.

            Hidup terus berjalan lebih jauh. Kadang dengan tiba-tiba aku mengenang perjanjian kami dan untuk beberapa hari sebelum batas waktu aku merasakan kegelisahan yang begitu pedih, begitu menyakitkan, seolah seluruh tahun yang telah lalu hanya aku persiapkan bagi pertemuan tersebut.

            Aku tidak menjadi orang ternama, sebagaimana yang aku janjikan pada Eugenia, tetapi di dalam satu hal aku tidak menipunya: aku memiliki opel tua, yang aku beli dengan harga jatuhan di tempat pembuangan mobil rampasan. Aku mengenakan pakaian baru dan pergi ke teater Bolshoi. Sekiranya saja aku di sana bertemu Eugenia, aku akan mengatakan kepadanya, bahwa setelah semua pengelanaan akhirnya aku menemukan jalan sendiri: aku menerbitkan buku cerita, sekarang aku sedang menulis yang kedua. Itu bukanlah buku-buku, yang sebenarnya ingin aku tulis, tetapi aku percaya, bahwa aku akan menuliskan buku-buku tersebut sampai selesai.

            Aku memarkir mobil di dekat taman umum, membeli bunga bakung di seorang perempuan penjual bunga dan menuju ke tengah-tengah rentangan di antara pilar-pilar teater Bolshoi. Dan jumlahnya memang benar delapan. Aku tidak lama berdiri di sana, kemudian aku berikan bunga bakung tersebut kepada seorang perempuan kurus bermata kelabu dan pulang ke rumah.

            Aku ingin sekejap saja menghentikan waktu, menoleh pada diri sendiri, pada tahun-tahun yang telah terlewati, mengenang seorang gadis yang mengenakan pakaian pendek dan koftochka yang kesempitan, mengenang perahu yang berat, tetapi bergerak dengan cekatan,  mengenang hujan kecil, yang menaburi permukaan kolam yang berwarna kekuning-kuningan dengan sulur berduri,  mengenang teriakan yang mengharukan: “Kita terbawa ke India!”, mengenang kebutaan jiwa masa muda sendiri dan jiwa masa muda tersebut dengan begitu mudah melalui sesuatu, yang bisa saja menjadi takdir. (*)


[1] Terjemahan dalam bahasa Indonesia diberi judul Teater Bolshoi. Judul aslinya Zhenya Rumyantseva, yang merupakan bagian dari karya Yury Nagibin “Чистые прудые” atau Chistye prudy atau Clean Ponds dengan judul asli Zhenya Rumyantseva. Pada tahun 1965 novel ini diekranisasi -dilayarlebarkan- dengan sutradara Aleksey Sakharov dan penulis skenarionya Yury Nagibin sendiri dan Bella Akmadulina. Yury Nagibin merupakan suami kedua dari Bella Akmadulina, seorang penyair perempuan Rusia yang hebat dan merupakan alumnus dari Maxim Gorky Literature Institute. Teater Bolshoi, yang dijadikan judul terjemahan, terletak di kota Moskow dan didirikan atas perkenan Prince Peter Urusov pada tanggal 17 Maret 1776. Awalnya hanya 13 aktor dan 9 artis, 4 penari perempuan dan 3 penari laki-laki dengan seorang koreografer dan 13 pemain musik yang melakukan unjuk seni di sini. Bolshoi dibaca Balshoi: karena tekanan ada pada huruf o kedua, sehingga huruf o pertama dilafalkan jadi a dan artinya besar

[2] Di teks asli tertulis Zhenya, yang merupakan nama diminutif, dan di dalam terjemahan digunakan Eugenia: nama formal

[3]Nama diminutif Sergey

[4] Pakaian atasan, yang biasanya terbuat dari kain yang lembut

[5] Bahasa Rusia untuk kata blouse

[6] Sejenis tusuk rambut, misalnya yang dipakai oleh wanita berkonde

[7] Sejenis penyatu rambut yang bentuknya seperti sisir

[8] Ungkapan khusus yang menyatakan: manusia dengan martabat moral yang tinggi

[9] Artinya kurang lebih Kolam Jernih, merupakan nama stasiun subway yang diinsinyuri oleh Nikolai Koli di Moskow. Sebelum tahun 1703 namanya Poganey Prud. Selain nama stasiun subway, nama Chistye Prudy merujuk (secara lebih dulu) ke area kolam modern, yang memiliki area 1,2 hektar dengan kedalaman rata-rata 1,2 meter

[10] Di sini maksudnya telaga buatan. Telaga buatan Khimkinskoye memiliki volume air 29 juta m3, area seluas 4 km2, lebar 0,8 km, panjang sekitar 9 km dan kedalaman sampai 17 meter. Tempat ini merupakan tempat tamasya

[11] Bentuk kata sifat untuk kata benda Khimki

[12]Nama kesayangan dari Pavel

[13] Artinya kurang lebih Taman Budaya, merupakan nama stasiun subway, yang dibangun pada tanggal 15 Mei 1935. Lokasi subway dekat dengan Gorky Park of Culture and Leisure, yang terletak di sepanjang pinggiran sungai Moskow

[14] Merupakan museum besar di Saint Petersburg, tetapi di sini mengacu ke nama restoran yang sangat terkenal di Moskow. Sekarang gedungnya menjadi theMoscow School of Modern Drama Theatre

[15] Universitas ini dinamakan dengan nama seorang sastrawan dan akademikus Rusia abad 18: Mikhail Lomonosov, yang merupakan pendirinya di tahun 1755. Dulunya universitas ini terletak di tengah kota Moskow di jalan Mohovaya. Sampai sekarang beberapa departemen masih ada di sana. Bangunan induk kira-kira ada 60 gedung dan tower sentral, yang seperti wedding cake berlokasi di Sparrow Hills. Jumlah tampungan mahasiswa kira-kira 50.000 orang  

[16]Nama kota yang berasal dari nama sungai Khimka, sejak tahun 1939 masuk menjadi bagian dari kotaMoskow

[17]Snack bar, semacam tempat untuk makan makanan kecil

[18] Maksudnya ploskodonka, perahu yang dasarnya datar

[19] Maksudnya teplushka, gerbong pengangkut barang

[20] Nama lainnya Laut (-an) Tengah, merupakan laut yang berhubungan dengan Lautan Atlantik dan dikelililingi oleh Mediterranean region. Di bagian utara Lautan ini dibatasi oleh Anatolia dan Eropa, di selatan oleh AfrikaUtara dan di timur oleh Levant

[21] Samudera terbesar ketiga terbesar di dunia, yang menutupi kira-kira 20% permukaan bumi. Samudera Hindia dibatasi di utara oleh anak benua India, di barat oleh Afrika Timur, di timur oleh Indochina, Kepulauan Sunda dan Australia, dan di selatan oleh Samudera Selatan (atau tergantung pada penamaan, oleh Antartika)

[22] Merupakan pulau terbesar di dunia dan memiliki lapisan es terbesar kedua di dunia. Terletak di antara Artika dan Atlantik Utara

[23] Maksudnya première

[24] Maksudnya Moskovsky Khudozhestvenney Akademichesky Teatr, yang didirikan pada tahun 1898 oleh Konstantin Stanilavsky dan penulis drama-sutradara Vladimir Nemirovich-Danchenko. Moscow Arts Theatre merupakan tempat bagi teater naturalistik, yang kontras dengan teater-teater Rusia yang ketika itu didominasi oleh melodrama

[25] Dikenal juga dengan nama selat Istambul, merupakan selat yang membatasi Eropa dan Asia

[26] Merupakan terusan atau jalan air laut buatan di Mesir yang menghubungkan Laut Mediterranea dan Laut Merah. Dibuka pada bulan November 1869

[27] Merupakan teluk air laut  kecil dari samudera  Hindia, yang dibatasi di timur oleh India, di utara oleh Pakistan dan Iran, di barat oleh semenanjung Arab, di selatan, kira-kira, oleh garis di antara Guardafui di Somalia Timur Laut dan Kanyakumari di India

[28] Bagian dari samudera Hindia dan dibatasi oleh semenanjung Arab di sebelah barat dan semenanjung Hindustan di bagian timur Laut

[29] Merupakan gugusan pulau di Indonesia bagian barat, yang meliputi: Kalimantan, Jawa, Sulawesi dan Sumatra

[30] Nama lainnya lautan Teduh, merupakan bagian lautan bumi yang terbesar. Terbentang dari Artika di utara sampai ke lautan Selatan di selatan, dibatasi oleh Asia dan Australia di barat, dan Amerika di timur

[31] Terletak di bagian bernomor ganjil di Chistoprudney Boulevard. Gedung Kolizei (Coliseum) yang bernomor 19a ini dibangun kira-kira pada tahun 1904 dan diarsiteki oleh R. I. Klein. Sekarang menjadi teater Sovremennik

[32] Maksudnya liana, sejenis tumbuhan tropis yang merambat pada pohon lain

[33] Merupakan negara berdaulat di Oceania. Ibukotanya Honiara, yang terletak di pulau Guadalcanal dan merupakan anggotaCommonwealth of Nations

[34] Merupakan novel karya Daniel Defoe yang dipublikasikan pertama kali pada tahun 1719. novel ini merupakan otobiografi  fiksi dari Robinson Crusoe, yang terdampar selama 28 tahun di sebuah pulau tropis dekat Venezuela

[35] Maksudnya malchiki, para kawan laki-laki

[36] Maksudnya cognac, minuman brendi berkualitas tinggi, yang biasanya disuling dengan baik di Cognac di Perancis sebelah barat

[37] Nama jalan di Administrasi Distrik Pusat Moskow, yang didasarkan pada namatserkov’ Pokrova Bozh’yey Materi atau dalam bahasa Inggris disebut dsengan Church of the Intercession of the Mother of God. Tahun 1940-1992 nama jalan sempat diubah menjadi Chernyshevsky Street, untuk menghormati Nikolay Gavrilovich Chernyshevsky (12 Juli 1828 – 17 Oktober 1889): seorang revolusioner demokrat, kritikus, sosialis dan pemikir materialis

[38] Maksudnya kafe outdoor, kafe di luar ruang

[39] Maksudnya minum alkohol dalam kadar yang banyak

[40] Nama diminutif Alexey

[41] Maksudnya ice cream atau es krim

[42] Maksudnya bay, istilah arsitektur untuk menamai bagian gedung yang ditandai oleh elemen-elemen vertikal, dalam soal ini pilar teater

[43] Maksudnya ijasah dan hal-hal yang bertalian

[44] Penamaan untuk kotaSaint Petersburg pada tahun 1924-1991

[45] Perang melawan Jerman tahun 1941-1944

Share This Story!
Shares

Check out our other content

Check out other tags:

Most Popular Articles

Shares