Tuesday, July 5, 2022

Rudi Rodhom, Soda Api, dan Suara Perlawanan yang Samar

by Damhuri Muhammad

Bila tiga prasyarat di atas dapat terpenuhi,  novel ini akan terasa sebagai akumulasi dari suara-suara minor (dengan segenap sinisme, umpatan, dan sumpah serapah), termasuk derita penulis pinggiran, yang hanyut begitu jauh setelah digulung arus besar kuasa kanon Sastra Indonesia yang agung dan adiluhung. Hampir mustahil menghadang arus besar itu, karena di sana mereka punya segalanya (nama besar,akses besar, media besar, jaringan luas, termasuk modal besar).  Bila ingin tetap selamat dan syukur-syukur beroleh pengakuan, sebagaimana yang dinginkan oleh Dea Anugerah pada kepengarangan Soda Api, satu-satunya cara adalah menyerah, mengaku kalah, lalu “menghamba” sebagai bagian dari kuasa kanon sastra itu sendiri.


Bila ditakar dari segi tebal-tipisnya, novel Hari-hari yang Mencurigakan(2022) karya terkini Dea Anugrah, mungkin dapat dituntaskan dalam hitungan jam sahaja (khususnya bagi pembaca terlatih). Hanya 102 halaman, itupun bisa melewatkan beberapa lampiran yang sengaja diblok hitam untuk membedakannya dari teks utama.  Tapi, ukuran itu tentulah untuk novel pada umumnya, yang mungkin tak bisa berlaku pada pengalaman baca terbitan anyar Marjin Kiri ini. Menurut saya, untuk menuntaskan pembacaan dengan tingkat ketertarikan yang maksimal atas anatomi pengisahan novel ini, menuntut beberapa prasyarat yang mendasar.

Pertama, pembaca harus percaya bahwa memang ada anak-anak muda yang bisa tergila-gila pada puisi, sebagaimana pengakuan karakter bernama Soda Api saat menceritakan kebiasaan ganjilnya bersama sahabat sesama mahasiswa di Jogja; Bodhi, bahwa mendengarkan orang membaca puisi adalah cara terbaik untuk mati pelan-pelan, setelah saling menendang dalam keadaan teler, (hal 3). Ditegaskan pula oleh Soda, bahwa hampir tidak ada acara pembacaan puisi yang tidak mereka ketahui, dan tak ada pula yang mereka lewatkan momentumnya. Anehnya, di panggung -panggung puisi itu, Soda dan Bodhi bukanlah undangan terhormat, tapi semacam “pendatang liar” dengan moralitas yang memuakkan. Keduanya kerap memplesetkan bait-bait puisi yang sedang dideklamasikan, hingga diusir panitia acara. Atau  sengaja menganggu kekhidmatan pembacaan itu dengan tertawa keras-keras (di  panggung besar) maupun bersendawa (di panggung kecil), hingga si penyair yang sedang berdiri di podium tidak bisa menahan diri, lalu mengajak mereka berkelahi.

Meski berperan sebagai penganggu, atau lebih tepatnya “benalu” di perayaan-perayaan puisi, Soda dan Bodhi adalah dua fanatikus yang intens menulis puisi itu sendiri. Merusuhi setiap aktivitas menyuarakan puisi, tapi juga tak henti-henti memproduksi puisi. Tak sekadar menulis, Soda dan Bodhi juga tercatat sebagai kontributor puisi di koran-koran gurem (hal 3) yang ketersiarannya terjepit di antara iklan-iklan obat kuat atau layanan telpon seks. Bayangkan, siapa yang mengingat puisi di tempat-tempat seperti itu? kata Soda. Fanatisme level dewa itu pula yang menggerakkan Soda dan Bodhi untuk nekat menerbitkan buletin sastra abal-abal bernama Ahasverosyang dibagikan secara cuma-cuma untuk kalangan mahasiswa. Sialnya, cetakan pertama yang dimassalkan dengan teknologi fotokopiitu tak mendapatkan sambutan yang semarak, bahkan ada yang sengaja membuang lembaran-lembarannya ke comberan. Begitu juga dengan 60 eks buletin Ahasveros edisi kedua. Lagi-lagi Soda dan Bodhi menyaksikan lembaran-lembarannya hanyut di comberan di sepanjang jalur mereka membagi-bagikannya. Bodhi tahu aku cuma makan sebungkus mi instan dan minum air putih selama dua hari untuk mencetak buletin kami, kata Soda (hal.5)

Dengan begitu, sampailah kita pada prasyarat kedua, yang dibutuhkan untuk membangun minat yang intens padanovel ini, yaitu pembaca harus percaya bahwa memang ada penulis puisi di Indonesia yang di masa-masa awalnya menderita sedemikian rupa. Banyak kisah yang dapat disuguhkan tentang ini. Di era  yang lazim disebut “sastra koran”misalnya, uang jajan bisa terkuras habis untuk membeli perangko balasan saat mengirimkan tulisan ke alamat redaksi koran-koran besar di Jakarta. Perangko balasan itu diperlukan agar redaksi koran tidak menanggung biaya kirim balik tulisan-tulisan yang tak layak. Selain itu, ada pula yang sudah bertahun-tahun memproduksi tulisan dan bertahun-tahun pula menawarkannya koran-koran, dan karena itu sampai lupa mencari pekerjaan (karena yakin sekali bahwa penyair adalah sebuah profesi)  hingga tanpa terasa sudah menganggur dalam waktu sangat lama. Dalam masa-masa yang penuh ketakpastian itu rupa-rupa kesulitan tak akan mudah reda, dan tak jarang bisa berujung pada frustasi. “Saya merasakan masa-masa sulit itu,” kata Dea Anugerah di forum Space linimasa Twitter. Kalau ada yang masih bertahan dengan status mahasiswa, skripsi mungkin terbengkalai, wesel kiriman orangtua sudah tersendat-sendat, biaya hidup keseharian akan terasa makin berat. Tapi cita-cita menjadi penyair tetap menyala-nyala, dan bisa membuat mereka siap menderita, termasuk derita menahan lapar.

Prayarat ketiga, pembaca harus percaya bahwa politik kanonisasi dalam iklim perpuisian di Indonesia benar-benar ada dan masih berlangsung hingga kini. Bahwa karena kuasa kanon-kanonan itu, ada nama-nama yang terpinggirkan karena tak punya akses (atau sengaja dijauhkan dari akses itu), atau karena bukan bagian dari kelompok besar tertentu, bahkan ada pula yang terus berkarya, tapi lantaran tidak berada di arus pusat kuasa lirisisme misalnya, ia harus tenggelam dan tak pernah dikenal di jagat puisi Indonesia. Bila mereka  punya terbitan berkala, akan dianggap sampah yang layak dicomberankan seperti Ahasveros. Bila punya kelompok, akan dianggap sempalan, kaleng-kaleng, dan tak mungkin sanggup menggeser kuasa orang-orang pusat. Situasi keterpinggiran inilah yang memotivasi Bodhi dan Soda untuk menghadirkan sebuah nama yang menurut stamina perlawanan mereka akan dapat membesarkan buletin Ahasveros. Nama itu adalah Rudi Rodhom, penyair misterius yang menghilang sejak 1998, setelah Soeharto meletakkan jabatannya sebagai presiden

Dalam petualangan menemukan keberadaan penyair yang dipercayai memiliki sebuah manuskrip yang belum pernah diterbitkan itu, Soda berperan seperti pion yang digerakkan oleh orang-orang tertentu. Yang paling mula tentu Bodhi dengan obsesi utama membesarkan buletin Ahasveros. Selanjutnya pemilik penerbit partikelir bernama Sunlie yang mengaku sudah memiliki banyak petunjuk tentang keberadaan Rudi Rodhom. Bodhi yang setelah berhasil menyelesaikan studinya juga menghilang, meninggalkan satu petunjuk tentang jejak Rudi Rodhom dalam lembaran novel 99 Steps karya John Buchan yang tersimpan di perpustakaan kota. Petunjuk itu pula yang kemudian membuat Soda terhubung dengan Sunlie yang juga sedang mencari manuskrip karya Rudhi Rodhom, untuk diterbitkan. Lagi-lagi  tujuannya hendak mengguncang kuasa kanon dalam peta perpuisian Indonesia. Bodhi dan Sunlie percaya bahwa dengan memberi tempat pada karya penyair misterius itu, maka kanon-kanonan dalam puisi Indonesia setidaknya dapat digoyang (ditumbangkan bila perlu). Atas pembiayaan alakadarnya dari Sunlie, akhirnya petualangan Soda sampai di Jakarta.

Tidak terlalu terang sebenarnya untuk siapa misi pencarian Soda dijalankan. Demi kejayaan Ahasveros atau untuk ketersohoran penerbit indie milik Sunlie? Tapi yang pasti, perjumpaan Soda dengan Kobra, perempuan muda bernama asli Glasnost Perestroika, membuat ia menimbang nama Rudhi Rodhom dengan cara yang berbeda dengan Bodhi dan Sunlie. Kobra rupanya juga sudah lama mencari keberadaan si penyair misterius itu. Bila dalam pencarian Rudi Rodhom itu Soda mengemban misi mulia hendak menyelamatkan martabat kepenyairan kelompoknya, motif pencarian Kobra justru dendam yang tak kunjung padam. Sodaakan menghidupkan nama yang sudah dianggap mati itu, Kobra justru hendak menguburkan nama itu selamanya. Kobra tidak lain adalah putri dari Rudi Rodhom, yang karena kelalaiannya di suatu masa telah membuat putrinya hidup dalam trauma yang mustahil dapat dibereskan. Maka, satu-satunya jalan bagi Kobra adalah membunuh penyair misterius pemilik manuskrip penting berjudul Hari-hari yang Mencurigakan itu.

Petunjuk lain yang sudah dikantongi Soda dalam pelacakan Rudi Rodhom adalah arsip majalah sastra Horison edisi 8 tahun 1992 yang menyiarkan satu judul sajak bertauk  Idee Fixe. Tidak banyak informasi pada satu-satunya sajak Rudi Rodhom yang tersiar di majalah sastra ternama itu, kecuali sedikit keterangan bahwa yang bersangkutan akan menerbitkan sbuku puisi berjudul Hari-hari yang Mencurigakan, yang hingga misi Soda berlangsung, tentu masih berbentuk manuskrip. Selain itu, ada pula sebuah lembaran dalam eksiklopedia yang disusun oleh penulis bernama Dea Anugrah. Nama  yang kebetulan sama dengan nama asli Soda Api; Dea Anugerah (dengan huruf e pada kata kedua). Penulis yang dalam pengakuan Soda telah merusak hidupnya lantaran kemiripan nama itu, hingga ia kemudian menggunakan nama samaran.

Bila ditimbang-timbang, posisi Glasnost Perestroika alias Kobra sejatinya sebelas-duabelas dengan posisi Soda. Keduanya sama-sama bagian dari suara minor dalam narasi besar kanon sastra Indonesia. Meskipun bukan fanatikus puisi, dan hanya menulis satu memoar, Kobra adalah juga seorang “perusuh” (dalam versi lain)di forum-forum sastra. Di Bentara Budaya Jakarta, dia bilang Eka Kurniawan seharusnya menjuduli novelnya dengan ‘Lelaki’ saja alih-alih ‘Lelaki Harimau’ karena harimaunya cuma disebut dua kali,” kata  Bodhi tentang Kobra (hal 23). Selain itu, di Balai Sudjatmoko, dalam peluncuran buku puisi Joko Pinurbo, dia bilang Jokpin patut dicurigai memperoleh kepuasan batin dari kegiatan-kegiatan yang ganjil misalnya menjilat gerigi roda angkringan (hal 23), juga kata Bodhi.

Puncak adegan  terjadi di ujung utara Pulau Bangka (Belinyu), di mana Kobra lebih dahulu menemukan Rudi Rodhom. Artinya, penyair misterius akan semakin misterius lantaran bakal dikirim ke neraka oleh Glasnost Perestroika. Seperti kecurigaan Soda sebelumnya (terutama dari pengakuan Kobra), si pemilik manuskrip Hari-hari yang Mencurigakan tidaklah seistimewa sebagaimana  dibayangkan Bodhi dan Sunlie. Ia tak lebih dari seorang kriminal tua yang ceking dan botak. Untungnya, eksekusi Rudi Rodhom dibatalkan oleh Kobra, karena ia merasa bahwa ada dosa-dosa yang bahkan kematian pun tak cukup untuk membayarnya. Lebih memuaskan bagi Kobra melihat ayahnya hidup dalam ketakutan. Saya akan mengunjungi bangsat ini sesekali, kapan pun saya mau, dan menyiksanya seperti ini (Hal 98).

Dalam situasi yang tegang itulah tiba-tiba Dea Anugrah (si penulis yang namanya tertera di eksiklopedia) muncul. Orang yang sejak awal mengendalikan seluruh peran Soda Api alias Dea Anugerah, mahasiswa filsafat penggila puisi. Soda akhirnya berkesimpulan, bahwa Dea Anugrah lah sutradara dari misi pencarian Rudi Rodhom. Jadi, maksudmu, kau ini Tuhan bagiku, bagi Kobra, mama Wulan, Wahyu, Rudi Rodhom dan seisi dunia ini?” (hal 100).Sang Ratu Adil yang bakal merebut kuasa kanon di jagat puisi Indonesia gagal dibangkitkan, alih-alih Ahasveros bakal berkibar dengan menyiarkan puisi dari manuskrip Hari-hari yang Mencurigakan, atau membesarkan penerbitan partikelir milik Sunlie, yang diinginkan oleh Dea Anugrah adalah Soda Api membuhul semua pengalaman dalam misi pentingnya itu menjadi sebuah novel biografi yang layak juara pada sayembara penulisan novel Dewan Kesenian Jakarta.

Bila tiga prasyarat di atas dapat terpenuhi,  novel ini akan terasa sebagai akumulasi dari suara-suara minor (dengan segenap sinisme, umpatan, dan sumpah serapah), termasuk derita penulis pinggiran, yang hanyut begitu jauh setelah digulung arus besar kuasa kanon Sastra Indonesia yang agung dan adiluhung. Hampir mustahil menghadang arus besar itu, karena di sana mereka punya segalanya (nama besar,akses besar, media besar, jaringan luas, termasuk modal besar).  Bila ingin tetap selamat dan syukur-syukur beroleh pengakuan, sebagaimana yang dinginkan oleh Dea Anugerah pada kepengarangan Soda Api, satu-satunya cara adalah menyerah, mengaku kalah, lalu “menghamba” sebagai bagian dari kuasa kanon sastra itu sendiri. Menurut saya, memang itulah yang terjadi. Kita semua memulai setiap cerita karena cinta, tetapi menyelesaikannya demi uang (hal 102). Demikianlah, perlawanan  atas kuasa kanon, akan segera padam, lantaran kebutuhan cicilan KPR, belitan utang, termasuk ancaman kelaparan…


Damhuri Muhammad–Kolumnis
Share This Story!
Shares
- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Shares