Wednesday, November 30, 2022

Kenapa Memilih Bahagia, Jika Kamu Bisa Menjadi Normal? 

Kadang-kadang dia menggambarkan proses dengan tepat. Namun, di waktu-waktu lain, bekas luka dari pengabaian pertama ini ditulis dalam bentuk prosa yang hambar. Seolah-olah dia berusaha menggerogoti kejeniusannya sendiri untuk mencapai kebenaran kenyatanya.

Sabiq Carebesth & Lika Fuaddah—Galeri Buku Jakarta.

Winterson menulis sedikit memoar dan itu pun dikerjakan dengan tergesa-gesa. Saking singkatnya, tulisan itu bahkan berbentuk seperti catatan-catatan saja. Namun, sebagaimana Zoe Williams melalui The Guardian, kesan tersebut rupanya bukan sebuah kecerobohan, melainkan urgensi putus asa untuk membuat para pembacanya mengerti. Tentu saja ini adalah buku Winterson yang paling menyentuh yang pernah saya baca. Buku ini juga yang paling bergejolak dan tak terkontrol.

Akhirnya, kekuatan emosional dari setengah paruh kedua buku ini membuat saya curiga bahwa kesederhanaan nyata dari setengah paruh pertamanya adalah tipu muslihat. Dalam gaya bahasa Lilliputian, narasi langsung dari kehidupan awalnya inilah yang mampu mengikat pembaca dengan ribuan tali kawat tak terlihat. Sehingga saat dia melepaskan duka yang mengerikan, tak ada pembacanya yang lolos atau memalingkan muka.

— Patricia Wall/The New York Times: Here is how Ms. Winterson introduces her on Page 1: “She was a flamboyant depressive; a woman who kept a revolver in the duster drawer, and the bullets in a tin of Pledge. A woman who stayed up all night baking cakes to avoid sleeping in the same bed as my father. A woman with a prolapse, a thyroid condition, an enlarged heart, an ulcerated leg that never healed, and two sets of false teeth — matte for everyday, and a pearlized set for ‘best.’ ”

“Kenapa Memilih Bahagia, Jika Kamu Bisa Menjadi normal?” adalah pertanyaan ibu angkatnya di kehidupan nyata, saat Winterson pada usia 16 tahun diusir dari rumahk karena punya pacar lagi (upaya untuk mengusir seksualitasnya, setelah gagal dengan yang pertama). Ada bagian dan frasa yang tidak asing bagi siapa pun pembaca “Oranges Are Not the Only Fruit.’ Ini tidak mengejutkan karena sejak itu Winterson dikenal dengan bakatnya sebagai penulis ‘roman a clef,’ yakni novel yang berangkat dari kehidupan nyata.

Ada anekdot dan lelucon yang muncul di kedua bukunya: sang ibu berkata bahwa pemilik toko permen yang lesbian punya ‘gairah tak wajar,’ dan Jeanette muda mengira bahwa artinya mereka mencampur bahan kimia tertentu ke dalam permen. Lalu tentang acara kerohanian dan juga radio CB, detail yang berkesan dari cerita-cerita tersebut terus disajikan. Tetapi intinya bukan bahwa cerita yang sama ini berulang-ulang.

Melainkan, cerita-cerita tersebut dimaksudkan sebagai pelengkap. Yakni untuk menata kisah yang ini di atas yang lainnya layaknya jejak-jejak pendukung. Oleh karena itu biarpun si pengarang secara puitik menolak kemungkinan atas suatu kebenaran absolut, di sana mewujud hal-hal yang benar-benar nyata terjadi.

Saya lupa betapa optimisnya ‘Oranges’ yang dibumbui tokoh-tokoh eksentrik dengan pahlawan perempuan yang ditahan dalam pengasingan aspirasi masa kanak-kanak yang lemah, tetapi ada sisi buruknya. “Saya kira hal yang paling menyedihkan bagi saya,” tulis Winterson sekarang, “Bahwa di ‘Oranges’ saya telah menulis cerita yang bisa saya jalani. Sementara, yang satunya terlalu menyakitkan, Saya tidak kuat.”

Pola asuh masa kecilnya seperti yang dia katakan sekarang jauh lebih suram; dia dipukuli, sering kelaparan, dikunci di luar pintu rumah sepanjang malam oleh seorang ibu yang sangat ortodoks. Depresi yang meresap dalam dan tanpa henti mungkin masalah pertama yang mempengaruhi kehidupan rumah tangganya. Dia tidak begitu dicintai. Tapi sepanjang pengamatan lain, ada unsur geopolitik yang begitu kuat, dan di waktu lain terlalu luas untuk meyakinkan: “Dalam sistem yang memunculkan kelompok masyarakat, individualisme adalah satu-satunya jalan keluar. Tetapi kemudian apa yang terjadi pada komunitas – dengan masyarakat?”

Tapi semua itu berkelit kelindan dengan humor, Jeanette menggambarkan Nyonya Winterson, yang, di antara khotbah sengitnya dan kekerasan yang tidak jujur, seperti seorang tiran yang baik dengan berbagai absurditas penting. “Dia adalah salah satu perempuan pertama yang memiliki korset yang bisa dipanaskan. Sayangnya, saat korset terlalu panas akan muncul bunyi peringatan bagi penggunanya.  Karena korset secara definisi terletak di balik gaun, celemek, dan mantelnya, hanya ada sedikit yang bisa dia lakukan kecuali melepas mantelnya dan berdiri di halaman.”

Ada himne favorit Winterson yang unik (“Hiburlah orang-orang kudus umat Tuhan,” dimulai dengan kalimat, “Tidak ada yang perlu dikhawatirkan”). Itu merupakan penggambaran penuh cinta dan impresionistik dari para penulis klasik, dari TS Eliot hingga Gertrude Stein, seiring perjumpaan pertamanya dengan mereka. Dan bahkan dengan semua detail baru dan menyedihkan ini, kisah masa kecilnya berakhir dengan baik: berakhir dengan pelarian.

Lalu ada satu atau dua halaman aneh berjudul “Intermission”, dengan kalimat penutup: ‘Dari rahim hingga ke pemakaman sebuah kehidupan yang menarik- tapi saya tak bisa menuliskan kisahku sendiri, tidak akan bisa. Bukan ‘Oranges.’ Tidak sekarang. Saya lebih suka memandang diri sendiri sebagai fiksi daripada kenyataan… Saya akan memangkas waktu 25 tahun… Mungkin nanti…”

Dan tiba-tiba kita berada di wilayah yang mengkhawatirkan, bergejolakk, kadang-kadang benar-benar menakutkan; melewati seperempat abad, dan Winterson baru saja berpisah dari pacarnya, sutradara teater Deborah Warner. Dia menemukan surat adopsi milik ayahnya saat pindah ke rumah orang tua. Dia mengalami gangguan saraf dan melakukan percobaan bunuh diri.

“Teman-teman saya tidak pernah mengecewakanku dan ketika saya bisa bercerita, saya memang bercerita kepada mereka. Tapi sering kali saya tidak bisa bicara. Bahasa meninggalkanku. Saya berada di tempat itu sebelum saya punya bahasa. Tempat yang ditinggalkan.”

Kadang-kadang dia menggambarkan proses dengan tepat. Namun, di waktu-waktu lain, bekas luka dari pengabaian pertama ini ditulis dalam bentuk prosa yang hambar. Seolah-olah dia berusaha menggerogoti kejeniusannya sendiri untuk mencapai kebenaran kenyatanya.

Di satu sisi, kehadiran dalam narasi Susie Orbach, yang dikenalnya sesaat sebelum Winterson mulai mencari ibu kandungnya, berlaku sebagai jaminan bagi pembaca seperti halnya bagi penulis, titik tetap kepada siapa kita dapat kembali. Yang artinya, apa pun yang terjadi, tidak akan ada pengabaian lagi.

Jika tidak, saya pikir itu sungguh tak tertahankan. Pada satu titik, air mata saya bercucuran sampai membanjiri telinga.

Ada banyak hal di sini yang mengesankan, tetapi yang paling beda adalah caranya memperdalam simpati seseorang, untuk semua orang yang terlibat, sehingga karakter yang awalnya digambarkan seperti iblis, yakni ibu angkatnya dan juga ayah angkatnya kemudian, pada akhirnya, secara sederhana, rusak luluh lantak.

Dalam proses penyingkapan itu, dia susah payah membongkar trauma-trauma yang mereka imbaskan kepadanya. Kedamaian yang dia bangun dengan keluarga angkatnya lebih penting dan menggunggah daripada kedamaian rumit bermata dua yang muncul karena melacak ibu kandungnya. (*)

Share This Story!
Shares
- Advertisement -spot_img

1 COMMENT

  1. Jeannete Winterson memang seorang penulis ulung yang mampu menuangkan pikiran gundahnya ke dalam tulisan yang begitu simpatik dan menusuk. Dia memang begitu bersemangat dalam meramu karya-karyanya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Shares