Wednesday, November 30, 2022

Lupus dan Indonesia Bergelimang Cerita

Date:

9 Maret 2022, Hilman pamitan dari kita dan dunia. Kita mengaku masih bersama dengan membaca dan mengoleksi buku-buku. Pada suatu masa, kaum remaja keranjingan membaca buku dan majalah itu kebenaran. Kita berdoa dan mengenang Hilman telah membuat Indonesia pernah bergelimang cerita. Masa sulit berulang tapi kita sempat dan masih bahagia.

oleh Bandung Mawardi

Kaum remaja suka jajan. Anggapan bisa dibenarkan bila kita rajin membuka majalah Hai. Halaman demi halaman, sekian iklan disuguhkan agar kaum remaja sering kelaparan dan kehausan. Mereka digoda untuk jajan. Dua majalah itu “santapan” remaja masa lalu. Majalah dengan beragam rubrik menjadi nostalgia, tak mungkin dilupakan meski dunia mau kiamat.

Di majalah Hai edisi 14-20 April 1987, kita bertemu sehalaman iklan membuat lapar. Iklan dari Ultra Chips (Chiki Snack). Makanan ringan bukan godaan ringan bagi remaja merasa dikutuk oleh sekian mata pelajaran di sekolah dan kebosanan di rumah. Jajan menjadi penghiburan. Jajan memerlukan duit dan penentuan selera. Iklan di majalah Hai itu sulit ditolak!

Gambar dalam iklan adalah tiga remaja (dua cewek dan satu cowok). Iklan tak biasa bagi kaum remaja masa 1980-an. Cowok itu menebar imajinasi digemari ribuan remaja di seantero Indonesia. Cerita-cerita dipersembahkan untuk kaum remaja keranjingan membaca, bukan cuma dolan, tidur, dan pacaran. Cowok mengenakan kaus bergambar tokoh Lupus. Ia memegang sebungkus Ultra Chips. Tangan kiri mau memasukkan makanan ringan ke mulut. Penampilan cowok itu mengesankan bagi para remaja mengaku suka bacaan dan jajan.

Dua cewek di belakang berseru tampak ingin “merebut” bungkusan jajanan: “Lupus, bagi-bagi dong Ultra Chips-nya!” Lelaki pujaan menjawab enteng: “Beli sendiri ah…” Iklan untuk tatapan mata masa lalu tapi mengesankan bagi kaum remaja terbiasa membaca majalah-majalah dan menikmati buku-buku cap Lupus. Pada suatu hari, mereka juga menjadi penonton film-film cap lupus, tak lupa mendengarkan lagu-lagu.

Cowok itu bernama Hilman Hariwijaya. Di industri majalah dan buku, ia jaminan mutu dan laris. Pada suatu masa, Hilman memikat kaum remaja menikmati hari-hari dengan membaca buku-buku berukuran kecil terbitan Gramedia. Pada masa Orde Baru, Hilman dan ribuan pembaca membantah keluhan pejabat atau omongan kaum intelektual terbiasa menuduh ketiadaan minat baca kaum remaja. Terbantah! Indonesia terbukti bergelimang cerita gara-gara Lupus. Kaum remaja tak mau ketinggalan cerita-cerita di majalah dan terlambat membaca buku-buku cap Lupus.

“Biar si Hilman lahir di tengah hutan, tapi dia remaja yang cukup terkenal kok,” tulis di majalah Hai edisi 11 Januari 1983. Dua halaman untuk profil Hilman. Cowok kelahiran 25 Agustus 1964 itu sedang menjadi bintang pujaan. Ia masih murid SMA kelas III. Hai menjadi majalah penting bagi biografi Hilman selaku pengarang. Lumrah saja dua halaman digunakan redaksi Hai untuk makin memoncerkan Hilman.     

Semula, ia mengirimkan sebiji puisi ke majalah Hai. Hari demi hari menunggu. Puisi itu dimuat! Ingatan disajikan kepada pembaca: “Waktu itu dia baru kelas I SMP, tentu saja Hilman jadi girang banget.” Hari-hari berganti, Hilman terus menulis. Hilman ikut lomba mengarang cerita diadakan Hai. Menang! Hilman juara II. Pengarang makin girang itu mengenang: “Ya, saya memang bangga betul, terharu. Dan, waktu menerima hadiah, tahu nggak apa yang terjadi? Anak-anak ‘Hai Club’ pada ngejek saya. Sebab, mereka melihat tubuh saya yang kecil ini harus menenteng sebuah mesin tik dan buku-buku serta hadiah lainnya. Kan lucu kelihatannya, paling semrawut begitu sih.” Kemenangan itu memastikan ia makin tekun menulis dan berharapan menjadi pengarang.

Sosok pujaan dan panutan remaja masa 1980-an itu mengaku sebagai penggemar cerita-cerita gubahan Leila S Chudori. Dulu, Leila S Chudori duluan moncer sebagai penulis cerita anak dan remaja. Hilman wajar mengidolakan Leila S Chudori. Hilman juga penikmat cerita-cerita gubahan Arswendo Atmowiloto. Pada masa awal 1980-an, Hilman masih lugu tapi sudah diramalkan bakal bikin geger di Indonesia dengan persembahan cerita-cerita. Pada 1983, ia berhasil merampungkan dua cerita bersambung dimuat di majalah Hai berjudul Rapshody untuk Irvan dan Bulan di Atas Rawa.

Cowok terkenang sepanjang masa itu pernah berdalih tentang kepengarangan: “Saya pikir semua itu adalah karunia Tuhan. Jadi, saya nggak bisa bilang karena ini atau itu. Mungkin juga karena saya merasa nggak punya kepinteran apa-apa selain ngarang. Di sekolah juga saya tergolong orang yang jauh dari pinter.” Ia menempuh jalan benar dan berpahala. Tahun demi tahun, buku-buku cerita Hilman terbit dan laris. Indonesia semringah gara-gara kaum remaja tak mau memubadzirkan hidup. Mereka memilih membaca buku ketimbang bodoh dan malu sampai kiamat.

Pada masa 1980-an, daftar buku memanjang mencipta kegirangan membaca di seantero Indonesia. Kaum remaja membaca buku-buku cap Lupus berjudul Tangkaplah Daku, Kau Kujitak!, Makhluk Manis Dalam Bis, Tragedi Sinemata, Sandal Jepit, Cinta Olimpiade, Bangun Dong Lupus!, Topi-Topi Centil, dan lain-lain. Buku-buku mengobarkan gairah kaum remaja membaca buku-buku. Mereka pun tergoda menulis. Hilman dengan buku-buku bergerak ke pelbagai kota dalam acara selalu terkenang ramai dan seru sebagai “Jumpa Lupus”.

Para pembaca biasa mendapatkan kata-kata (mungkin) mutiara dan foto-foto dalam sekian terbitan buku. Kita mengutip pesan Hilman dalam buku berjudul Topi-Topi Centil (1988). Kalimat pendek mengesankan: “Buku ini khusus buat kamu yang rela nggak jajan seminggu karena beli buku ini, makasih, ya.” Di buku berjudul Sandal Jepit (1989), di bagian depan ada selembar foto Hilman sedang mengetik cerita. Di situ, tulisan tangan terbaca: “Terima kasih! Kamu membuat hidup saya lebih berarti…” Di bagian bawah, salam manis dan tanda tangan Hilman. Lembaran pantas dikoleksi para pengagum Hilman. Ia tercipta sebagai pencerita! Kini, 9 Maret 2022, Hilman pamitan dari kita dan dunia. Kita mengaku masih bersama dengan membaca dan mengoleksi buku-buku. Sekian penggemar tentu memiliki kliping bersumber koran dan majalah dalam mengenali Hilman, babak demi babak. Kita tak bakal melupa Indonesia semringah dan bergairah buku gara-gara Hilman. Pada suatu masa, kaum remaja keranjingan membaca buku dan majalah itu kebenaran. Kita berdoa dan mengenang Hilman telah membuat Indonesia pernah bergelimang cerita. Masa sulit berulang tapi kita sempat dan masih bahagia. Begitu. (*)   

Share This Story!
Shares

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Related articles

Ulasan “Genius and Ink” Karya Virginia Woolf – sebuah esai dalam ‘how to read’

Bagaimana Virginia Woolf sebagai kritikus muda menjadi novelis ternama? Buku ini menjawab pertanyaan tersebut. Aida Edemariam Pada usia 23 tahun,...

Kenapa Memilih Bahagia, Jika Kamu Bisa Menjadi Normal? 

Kadang-kadang dia menggambarkan proses dengan tepat. Namun, di waktu-waktu lain, bekas luka dari pengabaian pertama ini ditulis dalam...

Menjadi Diri Sendiri Menurut Carl Gustav Jung

Menjadi diri sendiri menandai keterbebasan dari warisan psikis kolektif yang memberati tiap individu. Proses memeroleh satu tahap kebebasan...

Jorge Luis Borges Menelusur Keheningan

Borges tak mengelak dari silsilah buku terbentuk di keluarga. Ia menjadi penerima warisan ketakjuban gara-gara ulah Gutenberg pada...
Shares