Jorge Luis Borges Menelusur Keheningan

Jorge Luis Borges at home in Buenos Aires, Argentina, 1983. Photograph: Christopher Pillitz/Getty Images

Borges tak mengelak dari silsilah buku terbentuk di keluarga. Ia menjadi penerima warisan ketakjuban gara-gara ulah Gutenberg pada abad XV. Keluarga-keluarga mapan di pelbagai benua mengadakan koleksi buku di rumah setelah kemunculan rumah percetakan dan penerbitan. Masa demi masa, rumah-rumah dihuni buku-buku akibat mesin cetak Gutenberg menggairahkan keaksaraan.

Oleh: Bandung Mawardi

Rumah bukan tempat membosankan dan “penghukuman” menjadikan masa bocah sia-sia. Di rumah, Jorge Luis Borges bergairah dalam pengimajinasian, tak merasa sendirian. Ia malah terpikat buku-buku. Si bocah beruntung mengalami hari-hari bersama ribuan buku di rumah, tak mengharuskan pergi jauh atau memenuhi ketentuan-ketentuan rumit demi memangku atau memeluk buku.

Borges (1899-1986) pasti memicu cemburu Matilda. Kita teringat si bocah bernafsu membaca buku di perpustakaan. Bocah tak betah di rumah. Ia mengetahui buku-buku menghuni perpustakaan. Tokoh buatan Roald Dahl memerlukan buku-buku tapi rumah dihuni orang-orang memusuhi buku. Rumah tak memperkenankan keheningan bagi pembaca buku. Televisi terpenting di rumah ketimbang bacaan-bacaan.

Matilda dalam novel lucu itu diajukan sebagai pembaca buku. Ia menjadi peminjam buku, bukan bocah bercumbu buku di rumah setiap hari.

 Di rumah, Borges termanjakan ribuan buku.

“The Library of Babel” (Spanish: La biblioteca de Babel) is a short story by Argentine author and librarian Jorge Luis Borges (1899–1986), conceiving of a universe in the form of a vast library containing all possible 410-page books of a certain format and character set.
The story was originally published in Spanish in Borges’ 1941 collection of stories El jardín de senderos que se bifurcan (The Garden of Forking Paths). That entire book was, in turn, included within his much-reprinted Ficciones (1944). Two English-language translations appeared approximately simultaneously in 1962, one by James E. Irby in a diverse collection of Borges’s works titled Labyrinths and the other by Anthony Kerrigan as part of a collaborative translation of the entirety of Ficciones. Via Wikipedia

“Jika diminta menyebutkan pusat peristiwa dalam kehidupanku, aku harus menyebut perpustakaan ayahku,” pengakuan Borges. Di esai panjang, pembaca membuka babak-babak hidup Borges, sejak bocah sampai tua. Borges tak salah rumah. Ia tercipta seperti berperan sebagai penikmat buku-buku.

Borges mengingat: “Perpustakaan itu berada di salah sebuah ruang tersendiri dengan rak-rak buku berlapis kaca, dan mestinya berisi beberapa ribu jilid buku.” Bocah melihat tampilan sampul depan buku tapi sering menikmati punggung-punggung buku. Ia pun ditakdirkan menjadi pembaca.

Di buku kecil berjudul Esai Autobiografis (2019), kita turut terpana mengikuti pengakuan Borges saat masih bocah. Ia sering menatap deret buku tebal dan besar. Buku-buku disebut ensiklopedia. Para pembaca di dunia mengenali itu Britannica. Rupa buku mencipta kesan-kesan dan ingatan-ingatan sebagai “pemuja” bacaan. Kita terus mendapat bujukan kesan dan ingatan bila membaca cerita-cerita gubahan Borges. Sekian cerita kembali ke masa lalu, memungut lagi kedirian dan buku-buku pernah bersama setiap hari.

Diri bersama buku tak mudah berakhir. Pada saat dewasa, ia bekerja di perpustakaan. Ia terlalu lama mendapat “mukjizat” selalu meniti waktu dengan buku-buku. Risiko terbesar adalah ketekunan mencantumkan buku-buku dalam cerita-cerita. Sekian buku itu ada di khazanah pustaka dunia. Sekian buku sengaja diadakan demi fiksi.

Borges tak mengelak dari silsilah buku terbentuk di keluarga. Ia menjadi penerima warisan ketakjuban gara-gara ulah Gutenberg pada abad XV. Keluarga-keluarga mapan di pelbagai benua mengadakan koleksi buku di rumah setelah kemunculan rumah percetakan dan penerbitan. Masa demi masa, rumah-rumah dihuni buku-buku akibat mesin cetak Gutenberg menggairahkan keaksaraan. Silsilah Borges pun berada dalam arus besar menjadi keluarga berbuku. Di biografi membaca, Borges menikmati buku-buku berbahasa Inggris dan Spanyol. Ia pun mengaku: “Suatu tradisi kesusastraan telah diturunkan melalui keluarga ayahku.” Borges menjadi ahli waris selera sastra dan bergelimang buku.

Gutenberg terlalu berarti bagi Borges. Di rumah, ia terpikat buku-buku. Pada saat bekerja di perpustakaan, ia bersama buku-buku. Pada saat keranjingan menulis cerita-cerita, ia menambahi jumlah buku diterbitkan dan menghuni rak atau lemari buku di dunia.

Buku-buku Borges terbit dalam beragam bahasa, terbaca jutaan orang. Sekian buku diam dan menunggu di pelbagai perpustakaan. Buku-buku itu menantikan tatapan mata dan sentuhan pembaca.

Kita beralih ke pengalaman tak semenakjubkan Borges. Nicholas Carr dalam buku berjudul The Shallows (2011) mengenang saat-saat mengesankan berada di perpustakaan, bukan berada di rumah berisi ribuan buku seperti Borges.

Carr membual dulu agar pembaca tetap takjub buku: “Selama lima abad terakhir, semenjak mesin cetak Gutenberg membuat membaca buku menjadi sebuah keasyikan umum, pikiran linear dan sastra telah menjadi inti dari seni, ilmu, dan masyarakat. Dengan lentur dan lembut, pikiran semacam ini telah menjadi pikiran imajinatif di Masa Renaissans, pikiran rasional di Masa Pencerahan, pikiran inventif di Masa Revolusi Industri, dan pikiran memberontak di Masa Modernisme. Tidak lama lagi, pikiran linear mungkin akan menjadi pikiran yang ketinggalan zaman.” Kita menduga itu bualan terindah saat orang-orang masih menginginkan sebagai pembaca buku (cetak) berharap di ruang hening dan melenakan.

Ruang itu mungkin perpustakaan.
Jorge Luis Borges at Argentine National Library, 1973

Pengalaman berlatar waktu dan tempat berbeda disampaikan Carr: “Namun, sebagian besar waktu saya di perpustakaan adalah menelusuri koridor tumpukan buku yang sempit dan panjang. Meskipun dikelilingi puluhan ribu buku, saya tidak ingat pernah merasakan kegundahan yang merupakan gejala yang sekarang ini kita sebut ‘informasi terbelah’. Ada sesuatu yang menenangkan di dalam keheningan buku-buku itu, kesediaan mereka bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun, menunggu kedatangan pembaca yang tepat dan menarik mereka dari tempatnya.”

Ia berada di perpustakaan, bukan di rumah. Pada abad XX, rumah-rumah masih memiliki buku-buku tapi hasrat menjadikan rumah terhuni puluhan ribu buku cuma dipenuhi segelintir orang.

Di keheningan buku, orang memandang buku dan membatin isi buku setelah melihat kata-kata tercetak di sampul atau punggung buku. Tangan membuka halaman-halaman buku menimbulkan pengalaman masuk “sejenak” dan pembuatan janji untuk menjadi pembaca serius. Di perpustakaan, durasi raga dan pengalaman batin berurusan buku berbeda dengan pengalaman termiliki  Borges. Pengarang besar asal Argentina itu mampu membedakan kebersamaan dengan buku-buku selama di rumah dan perpustakaan (umum). Ia masih bersama buku-buku saat mengalami kebutaan.

Kita berada di masa dan suasana berbeda bila ingin membandingkan pengalaman bersama buku-buku. Sekian orang mencukupkan menaruh puluhan atau ratusan buku di kamar. Rak atau lemari buku masih menguatkan janji sebagai pembaca buku. Sekian orang memilih mendatangi perpustakaan untuk meminjam buku. Pilihan terbaru tentu peminjaman buku dan mengoleksi buku bukan cetak melalui gawai. Orang-orang di zaman tak lagi terlalu meluhurkan Gutenberg. Pengalaman bersama buku dan menikmati keheningan perlahan terimajinasikan saja di zaman ramai dan sibuk akibat melulu digital. Begitu. (*)     

Share This Story!
Shares
Shares
Exit mobile version