Tuesday, May 17, 2022

Perihal Jakarta Dan Senoktah Diorama—Puisi Himas Nur

Nyala Mira

tepat sejak kota kian pekat, kala pandemi mulai lekat menjerat
empat april dua ribu dua puluh, pukul satu lebih tiga puluh
seorang transpuan dibakar hidup hidup
selepas babak belur dihantam enam asing terkutuk
MIRA
nyala api di tubuhmu, jadi nyalang kami berpadu
ruam sekujur badan, njelma ruang penuh perjuangan
kau tak sendiri
tapi satu dari sekian taji
yang dibunuh atas nama ekspresi
MIRA
namamu bara
mekar menyalak
jadi corong suara
sang liyan yang dihilangkan
untuk kemudian kekal tak terelakkan
MIRA
identitas yang ditebas
tepat sejak kota kian transfobik, di antara pandemi yang buat kawan rentan kian tercekik
empat april dua ribu dua puluh, pukul satu lebih tiga puluh
cilincing jadi saksi
betapa jakarta ialah sejujur jujurnya alibi
atas diskriminasi tak henti henti
dan keadilan yang muskil terberi

*110720 | 6:01

Perihal Jakarta Dan Senoktah Diorama

dik, jakarta merupa pelangi lagi
riwisnya telah lebih dulu melarungkan pesan padamu
perihal manusia yang seketika begitu religius
ketika samasama kita menuai ritus
perihal mereka yang menubuat dan meneriaki
ketika samasama kita meniti dan mendaki

dik, rupanya jakarta makin sepuh meranjak
orangorang begitu pialang menuang tuak
sambil sesekali berbuih mengatasnama kemanusiaan
atau satudua berorasi perihal persamaan
sementara paradewasa kian luput menjelma anakanak
mereka menanam alpa pada bilikbilik almanak
bagaimana cara tersenyum
bagaimana cara menyapa
bagaimana cara bermain
yang paradewasa tekuni
ialah bagaimana cara memandang
bagaimana cara memerlakukan
bagaimana cara meghujat
orangorang yang tak sama dengan mereka

dik, masih ingatkah kau
kala samasama kita cipta diorama
di rindang pilang tempat lena kita
kau kata tak seharusnya punya rasa
sebab kita ialah sama

namun dik, jakarta selamanya merupa pelangi
riwisnya masih meruang mejikuhibiniu
tepat di dadamu

Selasa Perdana Di Depan Gedung DPR

rupamu penuh sesak. berjubel di antara sederetan maskulinitas yang menjulang erat
pada puisi, lagu lagu, juga tajuk utama berita yang selalu kamu
kau yang gagah, keras, angkuh, kejam, kuat, dan kelam
kami lelah muak. diredam rekaman atas bingkai kota yang ramai pekak
bising di jalanan, sunyi di peradilan

selepas dengan mudah congor wakil rakyat berkata sulit
selepas itu pula godam menghantam kian lebam
pada ruam yang lukanya masih nganga
pada harap yang peluh sungguh miliki arah nyata

selasa perdana di depan gedung dpr
di sesela megah bangunan dan wajah kota metropolitan
berderet pelik kasus kekerasan seksual tak terselesaikan
pada angkutan kota, ruang kerja, juga rumah penuh nanah
tentang perkosaan, upah tak setara, juga beban ganda yang terwajarkan
sialan!
tak pernah kami temui serupa kidung atasmu
yang riuh nyala di tiap dinding dan sudutnya
sebab untuk menelusurimu yang kami miliki ialah ketakutan
di selasar jalan yang tak jua ramah pada puan

selasa perdana di depan gedung dpr
akan njelma entah yang kesekian
sebab keadaan kelewat bajingan
dibungkam kuasa ditikam stigma
dan kami tak miliki posisi tawar yang sepadan

kini masihkah mesti kami rapal ulang
tiap tiap definisi atasmu dan siapakah kamu
selain sebagai kota yang tak pernah sejati menjadi
ruang aman bagi kami tegak berdiri

*110720 | 18:54


*Himas Nur, tercatat sebagai mahasiswa Kajian Budaya dan Media Pascasarjana UGM serta Koordinator Divisi Acara Women’s March Yogyakarta.
Share This Story!
Shares

More City & Poetry

Shares