Tuesday, May 17, 2022

“Satu-satunya perbedaan dengan sekarang adalah dunia ini kesepian denganku.”

Pandemi dan Warisan Kesepian

Tuisan ini adalah sebuah seri dari “Quarantine Reads” yang difasilitasi The Paris Review, para penulis menyajikan buku-buku yang membuat mereka mampu melewati masa-masa aneh ini.

Oleh Bindu Bansinath | (p) Regina N. Helnaz

Karantina membuatku merasa menjadi perempuan yang lebih kesepian, tapi aku selalu merengkuh warisan rasa kesepian perempuan lain. Di usia awal dua puluhan, ibuku meninggalkan rumah ibunya di Bengaluru untuk pindah ke New York, tempat suami barunya — ayahku — tinggal sejak beberapa tahun sebelumnya. Ibunyalah, atau nenekku, yang mengatur perjodohan mereka. Nenek sangat senang mengirim ibuku ke Amerika, meskipun ibuku tidak ingin menikah dan tidak mengidealkan datang ke Amerika seperti ibunya.

Kau bisa bahagia di mana saja, tidak bahagia di mana saja, kata nenek pada ibuku. Keduanya memiliki hubungan ibu-anak seperti yang ada di novel Jamaika Kincaid: penyayang tapi kontroversial, penuh kedisiplinan dan peringatan tentang betapa sulitnya menjadi seorang perempuan.

Ibuku mengingat kehidupan awalnya di New York sebagai semacam karantina mandiri. Sementara ayahku bekerja, dia menghabiskan hari-harinya terisolasi di apartemen studio kecil mereka, gelisah, memasak dan membersihkan dan menatap dinding putih. Seorang kerabat yang senang bergosip di tempat asalnya dulu menakut-nakutinya untuk percaya kalau dia akan dibunuh jika dia membuka pintu depan rumahnya di Amerika.

Sesekali, dia berbicara dengan perempuan yang ada di apartemen sebelah. Tetapi sebagian besar waktu istirahatnya, ibuku habiskan untuk tidur. Dia sering sengaja tidur dan sering, mencoba memasuki kembali kehidupan lamanya dalam mimpinya: berjalan-jalan dengan teman-teman kuliahnya ke truk pani puri, gonggongan anjing Pomeranian milik tetangga, denyut nadi kehidupan sebagai perempuan yang belum menikah, hidup dengan canda tawa dan kebebasan. Ibuku membenci ibunya karena menikahkannya. Mereka berbicara sebulan sekali, melalui panggilan internasional, di mana mereka berdebat tentang takdir. Dan kemudian ibuku akan menutup telepon, merindukan ibunya, dan tidur lebih lama lagi.

Pengalaman seperti ibuku ialah hal yang lumrah bagi banyak perempuan. Pengalaman itu sering kali dibuat fiksi dan menjadi novel tentang pengalaman imigran, novel yang banyak pembaca dari komunitas imigran sudah bosan dengannya. Tidak bisakah kita menceritakan kisah selain tentang datang ke Amerika dan berasimilasi? Namun, narasi-narasi itu menarik bagiku — berisi cerita tentang rasa kesepian para perempuan yang selalu saja memikatku.

Aku telah membaca Lucy karya Jamaica Kincaid berulang kali. Ini adalah novel yang kubaca lagi ketika mendambakan buku yang pernah kusukai sebelumnya. Terbit pertama kali pada tahun 1990, Lucy berkisah tentang seorang perempuan muda yang meninggalkan rumahnya di Hindia Barat untuk bekerja sebagai au pair bagi Mariah dan Lewis, pasangan kulit putih kaya di Amerika Serikat. Sekilas, Lucy tampak seperti novel yang dibuat untuk kucintai: Aku selalu ingin menjadi sosok perempuan yang berjuang untuk bangkit, jadi aku menyukai cerita tentang perempuan yang berjuang untuk bangkit. Dasar pemikiran Lucy menyiratkan narasi tentang kebangkitan sosial — seorang perempuan muda berpenghasilan, tipe pengasuh modern yang berdiri di atas kakinya sendiri. Di permukaan, novel itu nampaknya menjanjikan diri sebagai bildungsroman imigran lainnya, memetakan jalan proses pendewasaan seorang perempuan muda ke dalam masyarakat di mana hal-hal seperti tali sepatu dirayakan.

Tapi Lucy tidak peduli tentang kebangkitan sosial atau asimilasi. Kincaid tidak repot memikirkan tentang proses menjadi seorang perempuan, melainkan tentang keadaan aktual sebagai seorang perempuan. Bagaimana seseorang bisa menjadi seperti itu? Lucy bertanya-tanya, berulang kali. Apa yang dia inginkan — semua yang dia inginkan — adalah sendirian. Dia ingin mengisolasi dirinya sendiri sebelum masyarakat mengambil kesempatan untuk mengisolasi dirinya. Kesendirian adalah tindakan mempertahankan diri, sedangkan kesepian bisa menjadi tindakan kekerasan, sehingga setiap pilihan yang dibuat Lucy adalah mencari kesendirian. Dia memilih meninggalkan pulau itu. Dia memilih meninggalkan ibunya, seorang ibu yang, untuk semua keganasan cintanya, membesarkan putrinya dengan tangan patriarki yang sama yang juga telah membesarkannya.

Begitu sampai di Amerika, Lucy mengabaikan setumpuk surat yang dikirim ibunya, semua catatan tentang cinta, hukuman, dan kerinduan. Dia mulai menyayangi majikannya, Mariah, seperti sesosok ibu, dan keduanya membentuk ikatan meskipun ada jurang perbedaan kelas antara mereka. “Hal yang benar selalu terjadi padanya,” kata Lucy tentang Mariah. “Hal yang selalu dia inginkan terjadi, terjadi.” Setelah pernikahan Mariah hancur, Lucy berdiri di sisinya. Namun jarak di antara mereka melebar, dan akhirnya Lucy menyisihkan sejumlah uang yang cukup untuk meninggalkan ibu walinya juga. Dengan uang yang dia hasilkan sebagai au pair, Lucy dan seorang temannya pindah ke apartemen dan berbagi uang sewa. Di sana, setidaknya dia menemukan kesendiriannya, dia akhirnya membalas surat ibunya. Dia sengaja memasukkan alamat pengirim yang salah, memutuskan korespondensi mereka selamanya. Tetapi bahkan di apartemennya, dengan ruangan-ruangan kecil dan jendela kamar mandi berjeruji, Lucy masih belum lepas dari ibunya. Suara ibunya hidup di dalam dirinya — itu juga suara Lucy. Lucy terdiri dari dua perempuan: dirinya dan ibunya. “Aku tidak seperti ibuku,” katanya, “Aku adalah ibuku.” Seseorang yang merangkul dalam dirinya pengalaman manusia lain dengan segala rupa kondisinya, ia tidak akan pernah sungguh-sungguh kesepian.

Saat aku duduk, sendirian, di masa karantina, ini keempat kalinya aku membaca ulang Lucy, tapi aku masih ingat kali yang pertama. Aku masih kuliah, dan profesorku memperkenalkan setiap novel yang kami pelajari dengan kutipan di papan tulis yang diambil dari novel lain. Untuk Lucy, kutipan itu diambil dari Middlemarch karya George Eliot. Eliot menulis, dan aku tidak pernah lupa:

Jika kita memiliki penglihatan dan perasaan yang tajam akan semua kehidupan manusia biasa, rasanya akan seperti mendengar rumput tumbuh, dan detak jantung tupai, dan kita akan mati karena raungan yang terletak di sisi lain dari keheningan.

Kutipan itu hadir di satu momen dalam Middlemarch ketika sang tokoh utama perempuan baru saja menikah. Dia menangis di bulan madunya. Suami barunya, sosok yang dia ingin setara dengannya, telah menurunkannya ke posisi pembantu. Penderitaan tokoh utama perempuan itu mendalam — friksi klaustrofobia dalam perkawinan, kesadaran bahwa pria adalah sosok yang sedari dulu memang seperti itu — tetapi itu pun hal biasa, dan narator cerdas Eliot tahu bahwa pembaca tidak bersimpati dengan rasa sakit yang biasa. Bersimpati dengan hal-hal biasa tidak praktis; itu artinya berlebihan dalam merasa.

Dalam kesendirian, Lucy melihat dunia dengan visi dan perasaan yang tajam. Yang biasa menggerakkan dia; dia melihatnya secara mendalam yang orang lain tidak lakukan. Beberapa dari kedalaman itu menyakitkan: Aku teringat satu momen saat Mariah bertanya pada Lucy apakah dia pernah melihat bunga dafodil sebelumnya. Bagi Mariah, bunga itu hanyalah bunga musim semi yang cantik. Tapi Lucy tidak bisa menghargai bunga itu. Baginya, dafodil berarti tumbuh di pulau yang juga merupakan suatu koloni. Bunga itu berarti suatu masa di Queen Victoria’s Girls School, ketika dia diharuskan menghafal puisi Inggris kuno yang merayakan bunga dafodil. Bunga itu berarti saat disuruh membacakan puisi itu dengan lantang, suara imperialisme terdengar dari mulutnya sendiri.

Dan beberapa dari kedalaman yang biasa itu indah: dalam perjalanan ke danau bersama Mariah dan Lewis, sebelum berpisah keluarga, Lucy bertemu dengan seorang laki-laki yang menarik minatnya. Mereka berbicara dan kemudian bersembunyi di balik pagar mawar liar. Laki-laki itu biasa saja dan mencium seluruh tubuh Lucy dengan “mulut biasa”-nya. Tetap saja, Lucy menikmati keintiman mereka lebih dari momen dengan laki-laki mana pun sebelumnya. Ciumannya bukan hanya sekadar ciuman, tapi juga ukuran seberapa besar Lucy merindukan rumah, sudah berapa lama sejak dia terakhir disentuh dan dicium.


“Aku tidak bahagia,” Lucy mengakui di akhir novel, di kamar tidurnya yang sunyi, setelah berhasil meninggalkan semua perempuan dan laki-laki yang dulu dicintainya. “Tapi rasanya aku terlalu banyak meminta.”


Beberapa bulan belakangan ini, aku telah melakukan perjalanan yang dilakukan banyak perempuan ini secara terbalik. Aku meninggalkan hidupku di New York dan kembali ke rumah ibuku. Rumah itu adalah rumah yang sama tempat aku dibesarkan, satu jam dari selatan kota, tempat ibu dan ayahku pindah setelah mengemasi studio mereka di Queens, satu putri kecil, satu putri lagi menyusul. Aku menghabiskan hari-hari dengan tidur berjam-jam di kamar tidurku semasa kecil atau menjadi gila karena suara detak jantung tupai dan rumput yang tumbuh, mesin cuci bergetar dan bunyi pelan dari kotak yang menumpuk di luar pintu depan rumah kami.

Terkadang aku mendengar suara seorang perempuan berduka di bawah sepraiku. Dan kemudian ibuku mengetuk pintu. “Kenapa kamu menangis?” dia bertanya. Dan aku ingin memberitahunya bahwa aku tidak bahagia, tapi sepertinya itu terlalu berlebihan. Sebaliknya aku bertanya padanya, saat dia hendak berbalik — Bukankah kamu kesepian? Dan dia hanya mengangkat bahu, layaknya seorang ahli sementara aku hanya seorang amatir. “Dulu aku merasa kesepian seperti ini,” katanya. “Satu-satunya perbedaan dengan sekarang adalah dunia ini kesepian denganku.”


*Diterjemahkan oleh Regina N. Helnaz
Share This Story!
Shares

Check out our other content

Check out other tags:

Most Popular Articles

Shares