Tuesday, May 17, 2022

Membaca Jakarta—Puisi Ganang Aji Putra

surat cinta untuk kekasihku

kekasihku rajin berdoa dalam setiap sembahyang malam. dalam doanya selalu ia selipkan harapan semoga dapur tetap gongsang-gongseng penuh kepulan. biarlah tak mengapa badan bau bawang saban hari asal perut selalu penuh isi. sebab kesunyian tidak berarti apa-apa di hadapan perut yang kenyang.

kekasihku kadang merengut sewaktu sepi menggerayangi tubuhnya. ia benci menangkap kabar kalau aku mesti pergi lembur. tetapi ia mafhum sebab nanti bakal senang juga melihat saldo awal bulan. selepas tiba di pelukannya lewat tengah malam, selalu kusindirkan bahwa hidupku adalah tetap miliknya meski waktu berupaya sedemikian rupa memberi jarak pada kami berdua.

aku dan kekasihku kangen hujan turun di tengah siang yang membuat kami segera turun dari ranjang. berputar, berlari, mandi air langit, berkecipak di tanah lembek, becek dan licin yang sering kali membuat kami jatuh bertubrukan dan berakhir saling bertindihan. meski setelahnya kami berdua sama-sama diserang flu dan meriang. bagi kami senang-senang yang utama. sebab dalam cinta, sakit di badan cuma nomor sekian.

dan kepada kekasihku, kuterangkan bahwa kami sepenuhnya dan separuhnya dan seperempatnya dan secuilnya dan seluruhnya adalah milik jakarta.
“kita tak bisa ke mana-mana, kasih. inilah hidup kita yang disandera jakarta. nikmatilah. sebab hanya itu milik kita satu-satunya.”

kalimalang, 2020

membaca jakarta

jakarta adalah tempat di mana manusia bingung memilih toilet duduk atau wc jongkok
jakarta adalah sepasang suami istri yang tak lagi mampu memberi waktu untuk cinta
jakarta adalah subsidi beras telur daging yang dikelola swasta yang memberinya label harga
jakarta adalah putaran roda berbensin segepok uang gaji bulanan
jakarta adalah mata elang yang berburu kredit motor tunggakan
jakarta adalah rentenir yang keliaran awal bulan
jakarta adalah matahari yang terbit dan tenggelam di selatan
jakarta adalah mandi konsumsi air kali
jakarta adalah harga ongkos kirim tiki yang mahal sekali
jakarta adalah internet turbo yang anti buffering
jakarta adalah pengepul sarjana-sarjana putus asa
jakarta adalah tangis dan tawa yang bersisian di sepanjang jalan
jakarta adalah doa jutaan orangtua yang tabah menunggu anaknya di hari lebaran
jakarta adalah bunga kamboja yang tersebar di setiap pemakaman
jakarta adalah tiket kereta menuju takhta kuasa
jakarta adalah sinisme yang menyala di tiap-tiap kota gelap tanpa listrik
jakarta adalah daerah istimewa jawa yang mengasingkan diri dari kejawasentrisan yang mengusik batin orang-orang seberang
jakarta adalah kita yang sedang asyik membicarakan jakarta di tengah kepungan hidup sulit yang tidak kunjung reda
jakarta
o!
jakarta
semoga saya selamat selalu
selepas tuntas membaca wajahmu
sebab saya percaya
dicinta atau dicerca
kau tetap nyalakan nyawa.

kalimalang, 2020

safari

di bawah kipas angin sanex yang tidak pernah capek menggeleng ada nasib yang menggiling di tengah gerah yang basah. seorang lelaki dan istrinya sama-sama mencari cara supaya bisa segera melarikan diri dari jakarta. mereka ingin pulang kampung tetapi di kampung tidak ada transjakarta. di kampung juga tidak ada ancol ragunan apalagi taman mini indonesia indah. mereka takut tidak betah. tetapi hidup di jakarta makin hari makin susah. mereka bimbang. sebab dipikir-pikir mereka tidak punya pulang. jakarta sudah kepalang menjadi keringat. sudah tidak ada bau kampung dalam badan. kampung sudah menguap sejak lama dari ingatan. tidak bersisa. tidak berasa. tetapi dalam mimpi mereka sedang dibawaperut bus. atapnya aurora borealis. di seberang jendela sepasangbukit berdampingan. tianglistrik membentuk barisan rapi dengan lilitan kabel yang bergelayutan. petak-petak sawah penuh padi merunduk. pepohon rimbun penuh buah. kalau diingat-ingatpersis seperti gambar pemandangan yang kerap mereka buat semasa kecil dulu. kursi-kursi kosong dan sepi menyisakan mereka berdua. mereka mencubit pipi masing-masing. ke mana kiranya mereka hendak menuju? si istri menggeleng. mulutnya komat-kamit. si suami tiba-tiba tuli tak mendengar apa kata istri. tapi dalam dialog suami istri mereka sudah saling mengerti meski tanpa suara sama sekali. suami mengacungkan ibu jari. mereka putuskan untuk tidur dalam mimpi. tetapi mereka tiba-tiba melek lagi. kaget. matanya melotot saling menatap. perut mereka usap-usap yang membikin mereka segera sadari—mereka sudah tidak merasa lapar lagi. kini mereka ngerti ke mana mereka akan pergi.

kalimalang, 2020

jakarta

wiyuwiyuwiyuw
tintiiiiiiin
woooiii!!!
kijang satu kijang satu
duaaarr
gumprang
ssssttt nanti tambah lagi
cincai
tolong kami pak
jangaaaaann
oeek oeeeek
tanah ini milik negara
sabar ya pak
sabar ya bu
sabar ya nak
tok-tok-tok
bismillah
alhamdulillah
umr-nya lumayan
sorry sorry maaf
ha-ha-ha-ha
🙁
:
.

kalimalang, 2020


Ganang Ajie Putra lahir di Jakarta, 14 September 1993. Menamatkan pendidikan di Universitas Indraprasta dengan jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Menulis puisi, cerpen, novel dan karya tulis lain. Puisi dan cerpennya dapat ditemui pada media cetak maupun daring. Salah satu puisinya pernah terpilih untuk disertakan pada kumpulan puisi Kepada Toean Dekker yang dihelat oleh Pemerintah Kabupaten Lebak. Pernah terpilih untuk mengikuti program HAI Journalist Experience untuk meliput konser Neck Deep di Jakarta. Saat ini menetap di Cibinong, Bogor. Mendirikan komunitas puisi di Cibinong bernama Ruang Suara. Buku puisinya yang baru saja terbit tata cara berbaikan (Rua Aksara, 2020).
Share This Story!
Shares

More City & Poetry

Shares