Tuesday, May 17, 2022

Memandang Jakarta—Puisi Roz Ekki

Memandang Jakarta

-dari jarak 800 km
Dari puncak bukit
seorang bocah
memandang kaki langit,
mencari pucuk Monas
berlapis emas.
Namun hanya bias jingga
menjelang matahari senggama.

Azan magrib
menggema di layar kaca,
mengiklankan agama sebagai jeda
dari gosip sinetron dan berita.
Tiga wajah Jakarta,
menggoda mata dan angan
bocah ingusan.

Wajah pertama
tanpa bedak dan perona,
kusut dan kumal,
tapi dipoles efek adio visual
agar layak disajikan
sebagai tontonan.

Wajah kedua
disapu celak mata dan maskara,
dibuat menor dan glamor,
agar tak kalah pamor
dengan telenovela telly India
dan drama Korea.

Wajah ketiga
lebam dan luka,
dijejali potret wajah
orang-orang kalah,
sebab bila dijual
harga derita lebih mahal.

Ayam jantan
berkokok di dahan mangga
mengabarkan pagi tiba.
Kaki bocah kembali menapak
di atas puncak,
mencari kuncup Monas
berlapis emas.
Sebab ujung lingga yoni itu
putik susu ibu
yang ia rindu.

2020

Ibu Muda, Bapak Muda Dan Anak Pertama

-membeli kepercayaan ke kota
Ibu muda, bapak muda dan anak pertama
di sebuah plaza lantai pertama.
Mereka percaya
masa depan anak dimulai dari mainan,
karena itu mereka memburu kota
dengan praduga mainan desa
tidak baik untuk kesehatan.

Bapak muda melirik mobil
dan pesawat tempur,
tapi ibu muda mendelik.
“Jangan dekatkan anak kita
pada mesin perang itu!”

Bapak muda mengalihkan wajah
pada kuda dan singa,
tapi ibu muda menggelengkan kepala.
“Para kesatria gugur di atas kuda,
dan singa selamanya pemangsa.”

Bapak muda mengangkat kepala
menatap burung garuda,
tapi ibu muda memalingkan muka.
“Burung itu juga pemangsa,
bentang sayap dan cakarnya
selalu menjadi ancaman
bagi anak-anak ayam.”

“Hus, burung itu lambang negara!”
sergah bapak muda sambil menggamit
lengan ibu muda.

Ibu muda, bapak muda dan anak pertama
di sebuah palaza lantai kedua.
Mereka percaya
selain kehangatan kedua orang tua,
kehangatan pakaian
juga menentukan masa depan.

Bapak muda meraba-raba
sebuah jaket berbulu,
tapi ibu muda bergidik.
“Anak kita bisa menyembunyikan
botol susu di balik bulu.
Aku takut kelak botol itu
meperkenalkan diri sebagai molotov.”
Ibu mudamenjauhkan gendongan
dari muslihat jaket berbulu domba.

Ibu muda, bapak muda, dan anak pertama
di sebuah plaza lantai ketiga.
Mereka percaya
masa depan anak serupa puzzle
dari kepingan cerita masa lalu.

Bapak muda melihat dongeng tebal
seribu satu halaman,
tapi ibu muda menarik tangannya.
“Jangan kaubuka buku tebal itu,
sebuah tombol pumicu
bisa saja bersembunyi di balik
sampulnya!”

Ibu muda, bapak muda, dan anak pertama
di sebuah plaza lantai keempat.
Mereka percaya
selain gizi bahan mentah
peralatan masak dan cara mengolah
juga menentukan masa depan.

Babak muda tergoda
kemolekan panci monel,
tapi ibu muda tiba-tiba menggigil.
“Kabel dan panel
dirangkai menjadi rakit,
bukun menyusuri hulu sungai
tapi menjadi hulu ledak.”
Ibu muda komat-kamit
seperti membaca mantra
pengusir demit.

Ibu muda, bapak muda, dan anak pertama
di sebuah plaza lantai kelima.
Mereka tidak percaya
di atas sana ternyata
tidak ada apa-apa.

Ibu muda mengajak bapak muda ke atap.
“Tapi hanya orang pilihan
bisa naik ke atap
dan menatap langit langsung.”

Ibu muda mengajak bapak muda pulang.
“Tapi belum ada satu kepercayaan pun
yang berhasil kita beli.”

2017/2019/2020

Kota Dan Orang-Orang Sakti

-tanpa aji
Tak ada gua dan petapa.
Kota menyisakan sedikit hening,
selebihnya bising.
Tapi jika sakti itu melayang di udara
atau berjalan di atas air,
siapa bilang tak ada zaman sekarang.
Setiap hari ribuan orang terbang
menantang karpet jin dan Aladin.
Ribuan orang mengambang
di atas kapal pesiar
merasa sebagai umat Nuh
yang diselamatkan dari banjir bandang.

Tak ada gua dan petapa.
Kota menyisakan sedikit gelap,
selebihnya kerlap.
Tapi jika sakti itu bisa menghilang
atau menghilangkan,
siapa bilang tak ada zaman sekarang.
Setiap hari ada kaki dan tangan
menginjak dan mencekik.
Dengkul dan sikut memasang badan
tapi kepala dan otaknya
pergi jalan-jalan.
Jangan tanya saksi dan bukti.
Mereka pemeran iklan detergen
paling keren.
Setiap noda harus bersih seratus persen,
sebab sudah bertahun-tahun diajarkan
bahwa kebersiahan
sebagian dari iman.

Tak ada gua dan petapa.
Kota hanya menyisakan sedikit senyap,
selebihnya gegap.
Tapi jika sakti itu kebal,
senjata api mental,
siapa bilang tak ada zaman sekarang.
Setiap hari ada yang tertangkap
basah diguyur air cuci:
cuci uang-cuci tangan-cuci muka.
Tapi tak ada neraka bagi pendosa,
sebab di hadapan air cuci
hukum api mati.

Tak ada gua dan petapa.
Kota hanya menyisakan sedikit bening,
selebihnya pening.
Jika sakti itu bisa berjalan
meski kepala terpisah dari badan,
siapa bilang tak ada zaman sekarang.
Di tepi-tepi jalan
ribuan badan tanpa kepala merangkak,
kedua tangan mereka cagak,
menjadi kaki bagi kuda.
Kepala mereka tunduk
menjadi kaki lima:
khusuk menghormati hukum kota.
Sebab ia ibu
sedang mereka anak yang dikutuk
menjadi babu.

2019/2020

Share This Story!
Shares

More City & Poetry

Shares