Karet-Tenabang—Puisi Ervirdi Rahmat

Pencakar Langit

Sayatan apa yang membekas
di langit Jakarta?
garis diagonal,
spiral tak beraturan,
atau gurat wajahmu
yang menyimpan ragu
akan hari depan
dan hari-hari
yang lain lagi.
Selama langit masih ada
di atas kepala
manusia terus menengadah
Memeriksa hubungan antara bintang
dengan nasib. Antaramendung
dengan murung. Antara gelap
dengan terlelap.
Saat langitJakarta
dan pikiranmu
tertutup awan kelabu
kamu tersadar bahwa
banyak lembur
bikintubuh hancur
Kepalamu mandek
seharian hanya mendengar
Spotify discover weekly
tanpa pernahmenemukan
dirimu lagi
Bisakah kamu dan kota libur
barang sebentar saja?
Pergi ke tepi kolam
menabur makanan pada ikan
atau pergi mencari
apa yang selama ini kamu inginkan?
Aku masih punya sisa cuti 5 hari
mari kita membuat janji bersama
mencari cara mengobati
nyeri yang tertinggal di atas sana.
Aku ingin suatu hari nanti
luka itu sembuh. Tak peduli
masih meninggalkan bekasnya.
Aku ingin suatu hari nanti
kota kita tumbuh. Seperti padi,
tak berisik, tanpa membuat
luka yang lain lagi.
Sayatan apa yang membekas
di langit Jakarta?
Deret domino runtuh,
lantai berdecit
tergesek langkah
tergesa-gesa
Pelaju
Kau bergegas mengejar fajar
berlari menujukeretapaling pagi
Sebab mimpimu begitu mahal
danhari senin harga naik lagi

Sajak Pinggiran

1
Satelit memantulkan
gelombang (citra, warna,
sinar, cahaya, arus
barang dan jasa,
kesedihan dan gembira, harapan
dan kecewa)
kepada planet biru
yang pernah mengaku
pusat alam raya
yang maha luas
dan terus meluas
Tapi pusat itu ternyata
hanya satu titik kecil
di antara pendar yang lain
Kita adalah cahaya yang lekas jadi buyar
Bayangan yang kian susut
dan gampang dilupakan
2
Keangkuhan, katanya,
meruntuhkan
tapikotamasihberdiri
Sebabpenyangga
menopangnya
hari demi hari
3
Rumah di bantaran kali
mencari cara agar tidak digusur
kembali
Rumah di bantaran kali
mencari cara agar tidak hanyut
dibawa arus yang tak pasti
Rumah di bantaran kali
sampai kapan harus begini?


Karet

Pagi tak sanggup
menampung suasana,
karena wadah telah dipenuhi
getah dari goresan luka
Api tak sanggup
mengubahkenangan jadi abu,
sebab apa yang tak hancur
bertahan dengan lentur
Puisi tak sanggup
menebus derita
dari negeri samba
sampai kebun raya
*
Roda terus berputar
pada jalan jalan Jakarta,
bukan pada kehidupan
manusia manusia
sebab selalu ada yang di atas
dan terus di atas
dan yang tertindas
terus ditindas


Tenabang


Aku selalu kesulitan
membaca denah dan peta
dan garis batas imajiner
yang diciptakan manusia
“Blok A setelah blok B,” ujarnya.
Sebelum blok D-E, tepatnya.
Tak heran jika aku
selalu tersesat dan
selalu melihat
kota seperti labirin
Begitu banyak
orang masuk
penasaran dan
pergi mencari
Tersesat dan
tak kembali
Sekat-sekat pertokoan
memisahkan kita
untuk berjumpa lagi.


*) Penyair adalah pembaca yang selama masa pandemi berusaha untuk menulis beberapa puisi, cerita pendek, dan novel. Beberapa kali berhasil sampai selesai, lebih seringnya lagi gagal, tapi masih ingin terus mencoba.
Share This Story!
Shares
Shares
Exit mobile version