Tuesday, May 17, 2022

Ibu Kota Laba-laba—Puisi Ros Aruna

Jalan Kota Kita

kita tinggal di kota dengan trotoar bongkar pasang
tiap tiga bulan ada perbaikan.

tujuh ribu kilometer panjang jalan raya.
terlalu panjang untuk diberi trotoar,
tetapi terlalu sedikit untuk menampung kendaraan
yang dijual bak kacang.

hari-hari kita habis dimakan jalanan.
sabar pun hanya cukup
untuk menghadapi kemacetan.
tidak ada lagi yang tersisa untuk anak kandung
dan anak buah.

jalan kota terus menjalar.
meliuk
menurun
menanjak
menukik
kita terkepung dan tercekik.

di manakah
penjinak jalan raya?
dapatkah dia segera
membebaskan kita
yang terpaksa hidup
di ibu kota?

2018

Ibu Kota Laba-laba

musim itu telah tiba.
jutaan orang terjebak di ibu kota laba-laba
yang tanpa henti memintal beton menjadi jalan raya.

bus, mobil, motor, kereta
mereka terus mengakali jebakan jalan raya
hanya untuk menolak takdir
menghabiskan hari lebih lama,
di ibu kota laba-laba.

“kau sudah sampai mana?
anakmu menunggu susu yang kaubawa kerja.”
ibuku bertanya
sambil menggendong cucu,
belum genap setengah tahun umurnya.

“maaf, bu.
malam ini hujan mencairkan aspal.
jalan makin lengket
mencengkram ban mobil,”
aku menjawab
sambil mendekap tas susu
yang ditunggu anakku.

2018

Memunguti Pecahan Hidup

tumit kakiku berdarah perih
saat pecahan hidup kupunguti
di lantai kamar mandi.

hidupku pecah berantakan:
awalnya hanya retak di sudut kiri,
karena aku tidak berhasil menebalkan alis
dan membuatnya simetris.

esoknya retak bertambah panjang lima senti,
akibat lipstik yang kupakai kurang kuat menempel di bibir
dan mengotori pipi suami.

retakan itu sudah cukup membuatku pusing,
marahku meledak dan lupa diri:
dengan berteriak melarang anak berlari,
dan tidak menggunakan kata-kata positif lagi.

lalu bodohnya aku mengajaknya ke mal di sore hari,
bukan taman main modern trendi
membelikannya makanan manis bergluten tinggi,
dan mainan di hidangan ayam cepat saji

retakan itu bertambah dari sisi ke sisi.
pusingku makin menjadi.
suatu hari, aku berhenti peduli,

anak di bawah pengaruh gula tinggi
berlompatan di perabot rumah minimalis terkini,
semua dinding digambari cacing.
tidak ada lagi rumah trendi,
yang membuat teman-teman memuji.

retak hidupku makin menjadi
puncaknya, sosial media berhenti kupelototi:
tidak tahu lagi apakah blus model ini masih digemari
masihkah orang mengikatkan saputangan di kepala
atau sudah pindah ke leher lagi?

lalu hidupku tak mampu menghadapi ketinggalan zaman ini
pecahlah ia berkeping-keping.

sambil melihat darah yang mengalir
aku menyadari:
ketinggalan zaman itu, tidak bikin mati

2017

Tiga Belas Menguning

satu kuning, dua kuning,
kenyang adalah kuning
pada sepiring nasi yang gurih di pagi hari

tiga kuning, empat kuning,
takut pada kuning yang bersemu di kulit anakmu
saat baru belajar menyusui

lima kuning, enam kuning,
bersiap ketika kuning menyala pada lampu
di persimpangan jalan raya

tujuh kuning, delapan kuning,
menunggu kuning dalam hangat kuah soto buatanmu
di hari minggu

sembilan kuning, sepuluh kuning,
mahkota bunga berjatuhan
menguning di trotoar,
bukan lemah tapi berbuah

sebelas kuning, kuntum adalah jantan
dan juga betina
tidak perlu memilih kelamin yang mana

dua belas kuning, dia menjulang mendekati awan,
meneduhkan jalan,
mana butuh perlindungan.

tiga belas kuning, terus berkembang
ketika kelopaknya berguguran
diterjang debu jalan.

2018

Share This Story!
Shares

More City & Poetry

Shares