Wednesday, November 30, 2022

Segelas Kopi  Di Kedai Kopi Tanjung Priok, 1969 – 1972—Puisi Sam Mukhtar Chaniago

Ayo Melautlah

: nelayan sepanjang pantai seribu pulau

ayo melautlah di lepas pantai seribu pulaumu
laut pantai utara meminta pada angin, pada belainya
agar tak lupa tak ragu menghembus angin pantai
hingga biduk tak ingin melepas garis-garis putih pasir
yang masih rindu pada batang-batang dayung.
tapi pukat harus disapa kerang dan karang
di laut Jakarta ini, di laut luas, katamu.

ayo kayuhlah bidukmu
bagaimana bintang kan mampu memberi tanda cintanya?
bagaimana kelam kan mampu membaca arah?
bagaimana ucap sayang bidukmu di hati nelayan?
bagaimana biduk kan melaju menuju laut?
kalau tambatan tak ikhlas
mencintai tambang-tambang ikatan, tanyamu.

ayo nelayan, melautlah
agar genangan air di kelopak mata anakmu
tak sempat menetes,
tak hendak menggenangi persada
agar bintang dan bulan tetap siaga menyapa malam
agar derai suara tangis anakmu
tak terdengar ikan-ikan di kedalamannya, bisikmu.

ayo cepat ke lautmu
di sepanjang pantai di seribu pulaumu
agar ikan dan kerang bersuka cita
mengisi jala-jala, kail, dan pukat
di hati anakmu dengan cintanya, teriakmu.

bekasi, 30 maret 2020

Segelas Kopi Di Kedai Kopi Tanjung Priok, 1969 — 1972

pojok jalan sulawesi dan jalan yos soedarso.
ada kedai kopi
ada segelas kopi hitam tergeletak.
di bangku panjang
ada tiga lelaki asyik bincang-bincang
sambil mendengar untaian kata peserta obrolan
tukang kopi terus meletakkan gelas-gelas kopi
pahit manisnya kopi menempel pada bibirnya
segelas kopi hitam masih mengepulkan kata demi kata
sambil mengaduk-aduk kata-katanya
peserta menyeruput hitamnya warna kata
tanpa ragu menuangkan kopinya di piring realita
pada selembar koran pagi itu
tertulis jumlah hutang negara di dalam segelas kopi
peserta meminum sekali lagi kata-kata di gelasnya
sambil terus meneriakkan hitamnya kopi
dalam sepiring realita
segelas kopi hitam masih tergeletak
masih terus mengepulkan kata-kata
yang hitam warnanya
sambil menyeruput kopinya
peserta menatap ke dalam gelas
terus berusaha mencari titik cerahnya

bekasi, 20 maret 2020

Tukang Jahit Dan Anak Lelakinya (I)
: Tanjung Priok, 1967 –1973

pojok jalan sulawesi dan jalan yos soedarso.
ada tukang jahit kaki lima
berbilang waktu dan tak tentu
menghitung detik dengan zikir
menarik benang ke jarum benang
menatap hari petang menuju pulang
walau tak terkait satu pun kain dengan benang
dalam hening kau berujar
: nak, besok kita berzikir dan bersholawat lagi
sambil menanti pagi menuju siang
sambil menanti siang menuju pulang
sambil menanti benang masuk sekoci

bekasi, 20 april 2020

Tukang Jahit Dan Anak Lelakinya (II)
: Tanjung Priok, 196

pojok jalan sulawesi dan jalan yos soedarso
pagi hari tanpa tanda waktu
anak lelaki sang tukang jahit
menghitung bilangan jumlah benang yang terpilin
mencari nama-nama yang tertera di benang sekoci
akhirnya dijumpai warna jingga dan hitam pekat
alhamdulillah, dia berujar lirih
: hari ini kita tidak hanya membawa sisa makan siang
emak akan tersenyum di bibir kuali
untuk sambal bekal esok hari

bekasi, 20 april 2020


Sam Mukhtar Chaniago: Lahir di Pesisir Selatan, Sumatra Barat, Minggu, 1 Mai 1960. Membuat puisi sejak SMP. Menjadi juara penulisan puisi di Radio Univ. Trisaksti (1977), Radio ARH (1978) dan IKIP Jakarta (1981). Puisi-puisinya pernah dimuat di Lembar Pendakian Harian Suara Karya Minggu (1985 dan 1986). Puisi-puisinya pernah pula muncul dalam berbagai antologi puisi, seperti: Puisi Tempe Radio ARH (1978), Puisi 365 hari Teater Taman (1984) Puisi Kemarau dan Kemiskinan IKIP Jkt. (1983), Puisi Penulis Muda GRJU (1978)., Doa Seribu Bulan” (PERRUAS, 2018), Peneroka (PERRUAS, 2019), Pesisiran” (DNP, 2019). Menerbitkan 3 kumpulan sajak Tunggal: “Derai Suara Ranting” (APM Publishing Jakarta, 2017), “Tembang Padang Senja”,(KKK, Nopember 2019), “Tembang Padang Lalang” (Terebooks, Pebruari 2020). Tahun 1986 sampai sekarang menjadi dosen di UNJ (Lektor Kepala Gol. IV B).
Share This Story!
Shares

More City & Poetry

Shares