Tuesday, May 17, 2022

Memesan Hari Esok—Puisi Reni Lestari

Memesan Hari Esok

Kita kehilangan ibu kota yang tiba-tiba dibawa pulang orang-orang ke dalam kepalanya Mendadak kemacetan bergelung di ruang tamu
Dua-tiga percakapan main petak umpet di halaman belakang
Tetapi keramaian tetap saja sembunyi entah di bilik dada yang mana

Kita membawa pulang lenguhan panjang kereta dan bus kotayang terlambat tiba
Mengemasi pagi-pagi yang bergegas
Tetapi tetap saja tidak mendapati apa pun kecuali senja yang menebus segelintir doa

Seorang perantau bertanya apakah saya bisa memesan mudik yang ditunda negara?
Saya juga ingin memesan lebaran tahun lalu dan membungkusnya menjadi parcel buat orang-orang proyek
Tetapi layanan pesan antar sedang kelebihan muatan mengantar janji-janji agar kemacetan keluar dari ruang tamu dan ibu kota dimuntahkan dari kepala orang-orang

Bulan yang baru dan tahun yang akan datang merenung di kesepain dan menjadi kata sifat
Negara menimbunnya untuk dijual ketika nanti kita kembali menghirup kota

Tubuhmu Museum di Sebuah Kota Tanpa Ingatan yang Hanya Memajang Sepi

Tubuhmu museum di sebuah kota tanpa ingatanyang hanya memajang sepi. Kubayangkan diriku masuk melalui lorong-lorongnya yang lengang, memegang benda-benda yang mengasuh sejarah seperti membaca rentetan dusta.

Tetapi kota ini tidak memiliki kening untuk dikecup kekasih mana pun. Cuma ada kepentingan negara untuk dikenang.

Orang-orang menghirup kemacetan sebagai udara yang membesarkan masa muda. Atau menikmati demonstrasi sebagai orkestrasi yang mengiringi anak-anak kecil di tubuh mereka menari.

Sementara di atasnya, kita tetap tinggal dan membangun rumah. Diantara klakson yang berderak-derak dan malam yang tak pernah terpejam.

Semua orang melahap sepi yang sama dan menjadi asing senantiasa. Kau hanya akan dikenali dari caramu menggembalakan keberuntungan.

Suatu kali kau akan memintaku menjadi kota itu. Kau akan memintaku menjadi Jakarta yang gemar menimang negara. Tapi aku lebih senang andai bisa menjadi kesibukan yang berserakan di meja kerjamu. Aku lebih senang andai bisa menjadi kepulangan yang kau pesan saban lebaran.

Katamu,satu-satunya yang tak bisa dipesan di kota ini adalah kepulangan. Sebab setiap yang datang, menyerahkan dirinya untuk hilang.

Di Jalan Pulang

Malam mengendap di ampas kopi saat lampu-lampu dipadamkan. Lima menit lagi, penjaga toko akan meminta pengunjung mengangkat punggung dan membawa pulang asam lambung.
Aku pulang membawa keengganan pulang. Di rumah ada wajah ibu kelelahan tapa aku bisa menjadi sapu tangan.

Di jalanan, kupersilakan kebisingan membaca diriku beserta igauan-igauan panjang yang kau nyanyikan dalam kepalaku. Sudah lama kulupakan kabar-kabar kejahatan kemanusiaan, sengketa nyawa yang tak selesai di meja hijau dan pengulangan-pengulangan setelahnya.

Tapi masih tersisa bayangan petani kendeng menanam murka di depan istana. Murka-murka yang tak sampai meja kerja presiden dan muntah sepanjang medan merdeka. Aku ingin menangis untuk mereka tapi urung ditertawakan reklame-reklame yang berisi haha-hihi.

Semakin aku pulang, semakin aku enggan. Katamu, bulu mata yang mengimani sunyi lebih bisa dipercaya ketimbang janji-janji toleransi. Katamu lebih baik percaya pada kepura-puraan gareng dan petruk di sendratari.

Di jalan menuju rumah, kuputuskan untuk tak pulang. Biar bagaimana pun ingin kupeluk wajah ibu dan melangitkan kesusahannya.

Ibu, aku kehilangan peta menuju berandamu. Usia yang memutih pada rambutmu hanya menjadi bualan politisi senayan. Aku memikirkan wajahmu yang kelelahan tanpa aku bisa menjadi sapu tangan. Aku memikirkan ketidakmampuanku mengingat dan ketidakmampuanku berbuat.

Ibu, aku tidak pulang malam ini. Esok pagi biar kukirim sekeranjang demonstrasi sebagai penawar sepi.

Suara ibu kota

Aku ingin tinggal di ibu kota suaramu
Setelah sekian waktu kau menyewa sebidang ruang dalam diriku tanpa membayar dengan perjumpaan

Tapi aku ada di jantung sajak yang hilir mudik sepanjang partitur
Aku akan datang sebagai suara-suara yang tak kau kenali dan kemalangan-kemalangan untuk kau baca sepanjang outro

Lalu kembali menjadi bunyi-bunyi pada sekelompok sunyi

Di Jantung Puisi Ini

Di jantung puisi ini, kutaruh lautan sampah plastik.
Kuhimpun jutaan ton gas rumah kaca untuk kusumpal lubang-lubang pada luka di dadanya. Darahnya kan dialiri karbon monoksida, napasnya berbau nitrogen dioksida.

Pada bulu matanya yang selalu merontokkan rindu dan lelayu, kukirimkan pesan kepada keterlambatan cuaca. Kutulis dengan lumpur dari sawah-sawah yang gagal berbuah. Kulipat segi empat dan kubiarkan kerbau-kerbau mengecupkan kemarau.

Di ubun-ubunnya kutiupkan doa dari anak-anak ibu kota yang belum pernah dilahirkan. Dan kunyanyikan tangisan dari masa depan yang dititipkan hutan-hutan kebakaran.

Di jantung puisi ini sungguh akan kutaruh lautan sampah plastik. Kan kurangkai botol-botol air mineral, kemasan mie instan, dan cepuk pasta gigi yang kau buang bersama keluguan pemulung jalanan.

Kuhimpun dan kurangkai mereka jadi pulau-pulau. Lalu kan kutumbuhkan hutan belantara di atasnya. Supaya jadi sarang harimau sumatera, badak bercula satu, burung cendrawasih, orang utan, dan aktivis lingkungan yang mati ditebang kekuasaan.

Kuhimpun dan kubekukan sebagian lainnya menjadi gunung-gunung dan kutub-kutub yang dingin dan jernih.

Di jantung puisiku yang malang ini, lautan plastik mengembang seperti alam semesta yang agnostik. Dia menjadi samudera-samudera tempat manusia-manusia kota mencuci ingatan dan menghempas dosa-dosa pada ibunya.

Hingga akhirnya, di jantung puisi ini, sudah tak ada tempat untuk kata-kata. Tapi tetap saja, cuaca terlambat tiba dan hutan-hutan mengenakan baju kelabu.

Puisiku menitipkan tanya, perlu berapa jantungku untuk menampung celamu?


Reni Lestari. Bekerja sebagai wartawan di sebuah harian ekonomi yang berbasis di Jakarta. Selain menulis berita, juga gemar menulis dan membaca puisi, serta mengarang dan merangkai cerita-cerita keseharian yang sederhana tetapi seringkali luput dari perhatian.
Share This Story!
Shares

More City & Poetry

Shares