Tuesday, May 17, 2022

Geometri Jakarta—Puisi Faris Al Faisal

Geometri Jakarta

Melebar pandang mataku ke Jakarta
Sebuah lukisan kubisme, terpampang di sana
Geometri kota terpatri puisi, seribu cahaya
Potongan perca, kaca, dan kata
Himpunan sejuta warna. Cita dan cinta.

Dalam hangat pagi yang menyala
Aku duduk meneguk matahari Jakarta
Menikmati roda-roda, melintas di udara
Kiri dan kanan, di tempat yang sama
Himpunan manusia. Tiada kunjung reda.

Aku kemudian beranjak ke satu cerita
Berkunjung ke masa lalu, ke Batavia
Di sini, dulu pusat perdagangan benua Asia
Meninggalkan sisa; Kota Tua Jakarta
Dan kisah-kisah duka yang mulai terlupa

Ini kota penuh hikayat dan riwayat
Sejarah dan peradaban memahat
Peristiwa berganti-ganti, penjajah angkat
Pasang dan surut, lautan hidup naik ke darat
Jakarta, tubuhnya terus memadat.

Dengan kemegahan api emas berkilat
Hari-hari berlalu begitu cepat
Mungkin sekali atau dua kali, teringat
Gerigi mesin dan pabrik, melesat
Meninggalkan siapa pun yang melekat.

Di istana dan di rumah rakyat
Terserak daun-daun aspirasi, aku lihat
Tak satu pun memungut, membaca kalimat
Kata-kata bagai sisik ikan yang sekarat
Denyut urat nadi yang tersayat

Orang dan ruang adalah komposisi
Subjek dan objek dalam susunan lapis pelangi
Jakarta; dulu, kini, dan nanti
Melaju dalam sambun-menyambung instalasi
Tak berhenti, meniti mimpi. Untuk negeri.

Permisi, permisi, permisi
Barangkali aku pun harus minta diri
Ke kampung halaman, menempuh perjalanan puisi
Ke kota, lalu ke desa. Dari selai roti, merebus ubi
Ah, akan kukenang lagi.

Jalanan tak pernah sepi
Dan aku merasa paling sunyi
Perjuangan semakin berat, menjadi-jadi
Gerbong tak pernah kosong, selalu terisi
Aku pulang, tapi Jakarta tak boleh mati.

Indramayu, 2019-2020

Kota

Kaudatang kepadaku
Maka aku jadi ada
Di sini (mereka menyebutku kota) riuh gemuruh
Segala berlabuh
Orang-orang dan impian

Tapi kau tak pernah tahu
Aku adalah roda-roda gerigi
Saat mesin dinyalakan

Kau mendamba
Bergerak dengan cepat
Nasib dan peruntungan
Seperti meja-meja judi pada sebuah kelab malam
Lalu kau mengutukku karena kekalahan

Aku tak pernah bermimpi menjadi tujuan
Lalu kaulumuri wajahku:

Jelaga pabrik
Tempat kumuh
Bedak kosmetik dan perempuan binal
Lelaki-lelaki anjing
Koruptor
Arak dan narkoba

Kauteguk matahariku yang membakar
Kuncup oleh malamku yang menusuk
Bukan
Bukan aku yang mendatangkan ajal
Sebab angin nun di sela gedung-gedung masih berhembus
Mendandani kusam wajahku dan wajahmu
Terkepung laju orang-orang yang semakin kencang

Indramayu, 2019-2020

Variasi Ibu Kota

(a)
Sebuah kota dengan ibu di wajahnya
Berkemas sejak pagi belum bangun dari lelap malam
Jalanan aspal dan bunga berwarna-warni
Helai angannya berpucuk muda
Manik-manik embun mengumpul pada daun
Meleleh pada langkah pertama matahari

(b)
Jantung angin pun membelai patung raksasa
Memijit dua betisnya yang kesemutan
Tampak dari gedung berkaca
Gerak kendaraan bermotor bagai iring-iringan raja
Merapat ke bibir pintu-pintu tol
Begitu akrab seperti menangkap riuh

(c)
Reruntukan bintang berpijar pada bola lampu
Malam mendengus salju mendekap beku
Mesin-mesin pabrik bekerja siang dan malam
Air mata tak terasa mengering di pelupuk
Semua berjalan dan berlari dikejar bayangan
Seandainya semua dapat menghindar

(d)
Dari istana dan pusat pemerintahan ibu kota
Orang-orang berdemo sepanjang hari
Pikiran-pikiran melesat cepat bagai pesawat
Menerbangkan segenggam abu perjuangan
Pasang surut berlangsung seseru drama dan peran
Seperti lidah api emas menyala di ketinggian

Indramayu, 2019-2020


Faris Al Faisal lahir dan tinggal di Indramayu, Jawa Barat, Indonesia. Bergiat di Komite Sastra, Dewan Kesenian Indramayu (DKI) dan Lembaga Kebudayaan Indramayu (LKI). Namanya masuk buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia” Yayasan Hari Puisi. Puisinya pernah mendapat Juara 1 dan Piala bergilir ‘Lomba Cipta Puisi Anugerah RD. Dewi Sartika (2019), mendapatkan juga Anugerah “Puisi Umum Terbaik” Disparbud DKI 2019 dalam Perayaan 7 Tahun Hari Puisi Indonesia Yayasan Hari Puisi, dan pernah Juara 1 Lomba Cipta Puisi Kategori Umum Tingkat Asia Tenggara Pekan Bahasa dan Sastra 2018 Universitas Sebelas Maret. Tersiar pula puisi-puisinya di media lokal, nasional, dan Malaysia. Buku puisi terbarunya “Dari Lubuk Cimanuk ke Muara Kerinduan ke Laut Impian”penerbit Rumah Pustaka (2018).
Share This Story!
Shares

More City & Poetry

Shares