Tuesday, May 17, 2022

Gambir, Kita Bertemu Kedua Kali—Puisi Isbedy Stiawan ZS

Gambir, Kita Bertemu Kedua Kali

sebagai pendatang. sama-sama dari kota berbeda
setelah percakapan panjang dan berharihari
dari sebuah bilik telepon genggam. lalu janji berjumpa

dari kota berbeda, jumpa di stasiun ini. kau menumpang
kereta dari utara. aku naik bis dari arah barat
lalu melepas syahwat. menikmati berahi kuda
serupa di padang rumput Sumba. “ayo! jangan
ganggu umbu, ia sedang samadi di seribu pura!” bisikku
merapat di telingamu,

sebelum kota ini menenggelamkan kita ke kubangan
lumpur. sebelum pagi benarbenar menggoda
untuk terus lelap. berpeluk dalam suka dan cita

kau yang datang dari utara
aku dayang dari barat
tapi arah kita satu; lebarkan
peta, hanya pada timur
kelak kita berkumul

melepaskan berahi harihari
yang terpendam di buku karangan
kita sendiri. berhalamanhalaman
ditulis dari setiap percakapan;

sampai pada lelah
segala kita sudahi

berludahludah ditampung
dengan lambung kota ini
yang tidak pernah mati!

sebelum menuju peristirahatan
gambar dulu munumen nasional
itu, sebelum menjadi siang

Terlalu Banyak Kenangan

aku sudah pergi sebelum hujan menepi
dan kutahu kau sampai di taman itu
lalu duduk di kursi panjang, kau rasakan
bekasku. kini basah sisa hujan yang juga
menempel di sana. kau ingin mencium
aroma di situ. seperti merasa aku di sana
menghabiskan popcorn bersama

kemudian memesan sebotol minuman
sampai tumpah di kursi itu. tanganku
menyenggol saat kupegang pipimu
ingin merapatkan wajah, layaknya
dalam filmfilm yang menyerbu

tapi keburu hujan datang
kau belum juga tiba

aku gelisah
mungkin kau cemas
tak ada hari esok

membayangkan kita susuri
namanama jalan di kota itu,
kota yang terlalu baru
kalau ingin diceritakan
oleh bibir remaja,
dan telah jadi dokumen
bagi nyala api berkalikali
bahkan, dua kali peristiwa
meninggalkan kursi istana

siapa pun akan bertanya
namun usah pakai tanda

di sini, di kota yang kelak
ditinggal ini, terlalu banyak
kenangan, airmata dan taburan bunga

Lampung, 2019/2020

Perempuan Di Kamar Mandi

hanya perempuan
berdiri telanjang
di kamar mandi
di balik kaca
segala teraba

mengajak datang
berorangorang
juga seorang

menawarkan syahwat
nikmat berahi,
lalu cacimaki

hanya perempuan
berdiri telanjang
di tubuhnya rahasia
untuk dijabarkan

jadi kabar

sebelum habis
dalam haus

hanyalah perempuan
di tepi jalan
melambaikan tangan
untuk singgah
sekadar riang

2019

Tak Mau Jadi Batu

setiap ingin suaramu
kuminta angin menemuimu
lalu membawanya untukku
sebagaimana air memekarkan
padi, lalu jelma dewi sri
dan menemaniku pagi-siang-malam
tak habishabis cumbuan

lalu kau panggil aku sri
tumbuh di seluasluas pematang
tanganku melambai pada angin
jika rinduku kian bertalu
“aku tak mau jadi batu
hanya dikunjungi tiap liburan,”
kataku

kau tahu apa yang kuminta;
baiklah, angin akan datang
bawakan suaraku. sebagai
penyubur batangbatang padi

aku sri?
itu hanya panggilan
jika pun harus sampai…

2019

Melempar Dapur Ke Ruang Tamu

kau ajak aku bertangan pisau
melempar dapur ke ruang tamu

“sesekali lupakan kalimat
ratu dan pelukcium. seperti
bumi ingin pula sunyi, hirup
udara tanpa polusi,” katamu

maka bumi kirim pandemi
orangorang ketakutan
diam di rumah. menguliti
harihari setipis ari

“sesekali kita kelahi
saling caci. untuk
lahir sebuah puisi,” pintamu

kukenakan pisau di tangan
tubuhku juga berdarah!

kau tertawa
sepanjang baris puisi

: aku mati dalam katamu?

kau ajak aku melampar
dapur ke ruang tamu
melompati kalikali keruh
agar segera tiba cepat
di banteng. “hari krida,
upacara!” katamu,

aku tak biasa apel
bangun tidur selepas
pukul 11 siang. bukankah
kau pula yang mengusik
demi menunda kematianku?

di lapangan upacara
kutemukan kembali
dapurku yang berantakan
tanpa ada lagi perabot
selain potongan jempolku
bergerakgerak…

2020


Isbedy Stiawan ZS lahir dan besar di Tanjungkarang, Lampung. Menulis puisi, ceroen, puisi, esai, dan karya jurnailistik. Karya-karya sastranya dipublikasikan di berbagai media Jakarta dan daerah. Buku sastranya lebih dari 20 judul diterbitkan oleh penerit major mauoun indie. Terbaru adalah Akamat Rindu Dikutuk Rindu, Seseorang Keluar dari Telepon Genggam (2019), Kini Aku udah Jadi Batu! (2020), dan Aku Betina Kau Perempuan (basabasi, 2020).
Share This Story!
Shares

More City & Poetry

Shares