Tuesday, May 17, 2022

Puisi Kontemporer dan Fragamen Duka “si Aku”

Relasi Long Soldier yang tipis dan penuh kerinduan terhadap bahasa yang dipakai ayah dan kerabatnya yang lebih tua – “rasa sakit karena menjadi miskin bahasa” terutama ketika ia bersinggungan dengan Lakota – menunjukkan rasa ketidakcukupan, rasa gagal mengekspresikan pesannya bahkan setelah ia terus-menerus meraihnya. “Aku memanjat punggung bahasa,” kata dia


Bila beberapa karya lebih cocok untuk dibaca di atas pentas, puisi-puisi Layli Long Soldier justru sulit untuk dilepaskan dari pembacaan intim dengan bukunya langsung – meski ini tidak berarti puisinya terlihat nyaman berada di sana.  Justru sebaliknya. Setengah jalan dalam buku WHEREAS (2017), koleksi puisi pertamanya, yang juga finalis National Book Award, si penutur berkata, “Aku akan menulis setiap kalimat dengan hati-hati, sesuai dengan apa yang dikatakan dalam kiat-kiat penulisan.” Pernyataan ini sangat penting karena, sampai di titik tersebut, seperti yang diumumkan epigraf tersebut, Long Soldier tak terlalu berminat mengikuti aturan-aturan:

Now
make room in the mouth
for grassesgrassesgrasses

Dalam WHEREAS, bahasa memunculkan pergulatan utama: tarik-menarik antara merepresentasikan “si Aku” yang merupakan kedirian dan yang sekaligus bagian dari kolektivitas yang beragam – Indian-Amerika – di mana identitas tersebut lebih sering ditempelkan begitu saja. Bagi Long Soldier, yang adalah anggota dari suku Oglala Sioux dan sekaligus seniman visual yang mengajar di Diné College di Navajo Nation, sintaksis pun terputus oleh karena tarikan-tarikan itu.

Janji untuk menulis kalimat secara hati-hati tercantum dalam “38”, puisi 5 halaman yang menjadi semacam sendi penghubung antara puisi-puisi pendek di bagian pertama buku itu dan Pernyataan Whereas yang lebih panjang di bagian kedua dan bagian final. “38” menceritakan eksekusi ‘hukum’ paling masif dalam sejarah Amerika Serikat: 38 narapidana SIoux dihukum gantung, atas persetujuan Presiden Abraham Lincoln, pasca terjadinya Pergolakan Sioux di tahun 1862. Puisi “38” membangun kekuatannya dari kalimat-kalimat deklaratif yang tajam. Tiap kalimatnya seakan menjadi bait atau paragraf tersendiri.

Eksekusi hukuman gantung terjadi pada 26 Desember 1862 – sehari setelah hari Natal.

Ini terjadi di minggu yang sama ketika Presiden Lincoln menandatangani Pernyataan Emansipasi (Emancipation Proclamation).

[..]

The hanging took place on December 26, 1862—the day after Christmas.
This was the same week that President Lincoln signed the Emancipation Proclamation.

Di kalimat sebelumnya, saya mencetak miring frase “minggu yang sama” sebagai penekanan. Kaum Sioux memberontak karena mereka kelaparan. Mereka belum menerima bayaran sesuai kesepakatan dengan pemerintah Amerika Serikat. Mereka telah kehilangan lahan berburu mereka. Dan pedagang lokal menolak memberi mereka pinjaman untuk membeli makanan. Salah seorang pedagang seharusnya berkata, “Jika mereka lapar, biarkan mereka makan rumput.” Setelah peristiwa penggerudukan oleh ksatria kaum Sioux, jasad si pedagang ditemukan dengan mulut terisi rumput. Beberapa orang mungkin akan menyebut ini keadilan yang puitik. Namun, Long Soldier berjalan lebih jauh lagi.

Aku cenderung mengatakan aksi pejuang Dakota ini puisi.
          Ada ironi dalam puisi mereka.
          Tak ada teks.
          Puisi “sejati” itu “sejatinya” tak memerlukan kata-kata.

[..]

I am inclined to call this act by the Dakota warriors a poem.
There’s irony in their poem.
There was no text.
“Real” poems do not “really” require words.

Kemudian ia berpikir ulang. Lagipula, puisi tersebut dimulai dengan kata-kata sang pedagang, “tempatkan senjata puisi itu pada tempatnya.” Hal ini menggarisbawahi bahwa bahkan di bagian paling terus terang di buku ini, Long Soldier menempatkan bahasa guna menerangkan batasan-batasannya, untuk mengamati kegunaannya, untuk mengukur kejadian yang kongkrit dan kasat mata.

Relasi Long Soldier yang tipis dan penuh kerinduan terhadap bahasa yang dipakai ayah dan kerabatnya yang lebih tua – “rasa sakit karena menjadi miskin bahasa” terutama ketika ia bersinggungan dengan Lakota – menunjukkan rasa ketidakcukupan, rasa gagal mengekspresikan pesannya bahkan setelah ia terus-menerus meraihnya. “Aku memanjat punggung bahasa,” kata dia, “Memanjatnya sampai kelelahan – mungkin aku justru membatasinya ketika aku hendak melepasnya.” Karena bahkan dengan kekayaan bahasa yang dimiliki Long Soldier, bahasa Inggris menjadi instrumen yang cacat saat ia hendak menjelajahi sejarah kelam AS dan Sioux, yang diwariskan kepada Long Soldier sebagai warga negara dari keduanya. Ketika ia mengolah aspek visual dalam karyanya, ia sering menggunakan elemen spasial dari teks – elipsis, disjungsi, puisi kongkrit, ruang kosong – untuk menyampaikan ketidakpastian dan ketidakstabilan. Kesadaran untuk membangun rasa yang lindap ini mungkin menakjubkan, namun, ia meminta pembaca untuk menghadapi rasa tidak nyaman, abstraksi dan kerumpangan – dan tak berniat bertanya ke Long Soldier atas makna dari seluruh upayanya: Apakah puisi sanggup menangani tugas semacam itu?

Bagi Long Soldier, bahasa dan tubuh tak mampu benar-benar dipisahkan. Apologi menjadi bagian inti dari buku ini; dan gestur fisik menjadi bagian inti dari apologi semacam ini. Seperti ia katakan pada kita, “Di banyak bahasa ibu, tidak ada kata padanan untuk ‘meminta maaf.’ Hal yang sama terjadi pula pada kata ‘maaf’.”Ada banyak cara untuk mengakui kesalahan dan memperbaikinya. Judul yang dipilih, WHEREAS, datang dari bahasa resmi yang serba hati-hati dari apologi pemerintahan federal Amerika Serikat kepada kaum Indian Amerika – rangkaian klausa ‘whereas’ (Ind: bahwasanya) yang lembam dalam pernyataan Senat, yang kemudian dipotong hingga menjadi setengah halaman dan disempilkan ke dalam rancangan undang-undang pertahanan, yang ditandatangani oleh Presiden Barack Obama pada akhir pekan, 1 Desember, 2009, tanpa suatu pengumuman dan kehadiran satu pun wakil suku. Apologi pemerintah AS kepada kaum Indian-Amerika hampir sepadan dengan arti ‘ucapan kosong’.

Long Soldier menempatkan hal tersebut ke momen hening bersama ayahnya di suatu sarapan di dapurnya. Suara lirih keluar dari mulutnya, dan kemudian, “Dia meninju tangannya ke batang hidungnya, meremas matanya. Ia menangis.” Apa yang terlihat seperti bersin oleh si penutur pada akhirnya adalah isak tangis yang hampir tak bersuara – yang menumpahkan rasa sesal atas ketidakhadiran dan pengabaian selama puluhan tahun. “BAHWASANYA itu terjadi ketika pemaafan diulurkan,” tulis Long Soldier.

Aku memandang setiap gerakan bahu
mengembang atau mengempis, posisi kepala saat seluruh matanya menunduk atau lurus melihat melewatiku, Aku mencari suara retakan dalam ketukan kakinya atau dalam kata-kata yang ia pilih, apa sih yang Aku inginkan? Merasakan dan kau tahu aku merasa melalui indraku – Aku membaca setiap gerakan ototnya, Aku berharap kekuatan gerakannya mampu bergerak seperti sebuah puisi.

[I watch each movement the shoulders
high or folding, tilt of the head both eyes down or straight through
me, I listen for cracks in knuckles or in the word choice, what is it
that I want? To feel and mind you I feel from the senses—I read
each muscle, I ask the strength of the gesture to move like a poem.]

Sebuah bangsa tak akan mampu menahan napas dan menutup hidungnya, namun, ada banyak cara untuk menubuhkan bahasa. Si “Aku” liris dari Long Soldier yang retak dan diekspos dalam keterpotongannya, mencoba menciptakan sebuah puisi yang bisa menopang rasa sedih dan membangun darinya sesuatu yang baru – dicontohkan sang penyair saat berharap bahwa anak perempuannya, yang mempelajari bahasa Lakota dan Navajo, yang mulai mengapresiasi fragmen penyusun identitasnya, pada suatu hari akan memahami keutuhan dirinya, bukan dari apa yang hilang. Namun, atas semuanya itu – fragmen-fragmen itu. (*)

by Gabriel G Mahendra & Sabiq Carebesth
Share This Story!
Shares

Check out our other content

Check out other tags:

Most Popular Articles

Shares