Tuesday, May 17, 2022

Mengapa Aku Berhenti Menulis Sajak

This Content Is Only For Subscribers

Please subscribe to unlock this content. Enter your email to get access.
Your email address is 100% safe from spam!

Saat aku berada di Harvard aku sempat mengenal Robert Fitzgerald, dan aku sering memperlihatkan sajak-sajakku padanya. Meskipun pada kenyataannya aku lebih tua darinya—aku seorang mahasiswa master dan dia saat itu mahasiswa tingkat dua—aku memiliki penghormatan yang besar padanya. Dia berpendidikan lebih baik dariku, dan berpendirian kuat, dan dia membenci apa pun yang bukan kualitas utama.

Suatu hari dia membaca sajakku dan kemudian melihat ke arahku, lebih seperti caramu memandang anak kecil yang membawa masalah, dan dia mengatakan, “Kenapa kau tidak menulis prosa saja?” Aku sangat gembira bahwa dia berpikir aku mampu menulis apa pun itu yang baru kuperlihatkan dan menulis prosa-seolah dia memberikanku izin untuk mencoba. Prosanya mengambil bentuk fiksi karena aku menyukai kisah-kisah dan tak memiliki genggaman yang terlalu kuat atas ide-ide.

*) William Maxwell

Share This Story!
Shares
- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Shares