Tuesday, May 17, 2022

Memo Dari Jakarta—Puisi Ardhi Ridwansyah

Memo dari Jakarta

Ranum cuaca rindang menerpa,
aspal ibu kota menyapa dengan deru kendara
teriak klakson bersahutan ramai menebas,
ingatan saat bersua hening rasa begitu kebas.

Telusur setiap langkah meraba indra.
Dengan secangkir wedang yang dibeli di Jatinegara,
Seruput hangat belai kasih yang tertinggal di sana.
Kala stasiun jadi tonggak awal perjumpaan kita.

Kerling mata, sayup suara dan desir darah menyambut.
Di samping bising kereta yang membuat kalut.
Elok terasa sedap dipandang kala genggam jarimu ada di lengan,
Mewadahi rasa dalam gejolak yang tak tertahan..

Jakarta menyambutmu ketika itu,
Dengan taman-taman yang tumbuh satu per satu,
Kita meracik kasih di tengah suropati,
Langkah mengiringi hati yang tak pasti.

Semerbak wedang buatku memandang
Bahwa kasih terpatri dalam rasaku yang meradang.
Kau jalan buntu yang mesti kutinggalkan,
Bersama Jakarta kuharap kau jadi ratapan.

Jakarta, 16 April 2020

Induk Tiga Belas Sungai

Kau renang dalam sungai kehidupan
Arungi tawa dan tangis berlumur lumpur,
Basuh luka dengan derai air mata.
Mencucinya dalam asa yang terbata-bata.

Ibu sebagai imduk dari tiga belas sungai.
Yang memadu kasih dalam jernih,
Namun tanpa empati ia bersedih.
Kala sampah kian buatnya pedih.

Alur air menjadi sketsa hidup,
Gelebah datang bersama sayup,
Darisuara orang-orang berwajah kuyu.
Menghuni sudut Jakarta dengan keluh.

Ingin rasa mengaduh,
Genggam ambisi dalam rasa yang gaduh.
Ketuk dengan rintih khas pinggir kali.
Dan berharap ibu mendengar lalu peduli.

Jakarta, 16 April 2020

Primadona

Setiap polah terus jadi sorotan,
Kala demo bergema kau menjelma primadona,
Saat pemilihan penguasa kau pun gagah,
Hadir dalam tiap warta yang buat terpangah.

Semua tertuju padamu beserta semesta yang melata.
Kasih dan benci dalam tiap pikir manusia,
Yang bergelayut di bahumu,
Bersantai di jemari kakimu.

Hiruk pikuk jadi nama belakang,
Sementara sibuk jadi panggilanmu.
Kumandang azan ia meramu kopi,
Sembari lihat bual politisi.

Singgah di kota tua, tak urung menua
Di antara jilat tugu monas yang dari kejauhan,
Tampak seperti es krim yang menyala,
Gugah selera ingin menikmatinya.

Hari ini Jakarta bercerita,
Tentang sendu dan rindu yang berkecamuk,
Dalam batin yang penuh isak dan tawa.
Dari himpunan manusia jemawa.

Jakarta, 16 April 2020

Share This Story!
Shares

More City & Poetry

Shares