Tuesday, July 5, 2022

Kisah Nyata—Puisi Septian Murival

Ada yang aneh di Ibu Kota
Sebagai mana huruf-huruf, Jakarta adalah kata-kata
Tempat dimana huruf-huruf polos disulap bergerilya
Berbaris takzim menuju ruang ganti tak bertulang
Memakai baju-baju, bersolek diri memakai gincu dari liur basi
Mereka akan dikirim ke sebuah peperangan abadi
Pertikaian tiada akhir, antara jalanan dan gedung-gedung tinggi
Jika itu terjadi, Tuhan pun tak sudi lalu memilih pergi
Segala kotoran dan aib-aib akan membanjiri
Korbannya adalah senyum-senyum dengan gigi-gigi

Tak lagi sama, tak lagi dikenal
Pada kolong langit dan bisingnya pergunjingan
Tutur-tutur desa yang bersahaja
Hanya tinggal dibuku pelajaran semata
Lalu terkubur sebagai fosil bersejarah yang menunggu digali
Dikenang dengan rasa takjub dan bangga
Kini, lebih dari itu
Sesuatu yang beda, semacam racun dan senjata. Kata mereka

Huruf-huruf di Kota, tak punya waktu berdiskusi
Dibesarkan dilingkungan penuh godaan yang sibuk sendiri
Nafsu-nafsu ria yang bertegur sapa
Pura-pura buta, sebagiannya pura-pura tuli
Menghambur dari lidah hulu lalu kehilir
Menyembur dari pikiran ke bibir-bibir
Huruf-huruf kaku tak berdaya
Kata-kata penuh kutu dan teraniaya, miskin makna
Berpikir hanya untuk hari ini dan esok lusa
Tertumpahkan ke segala penjuru, dari lantai hingga ke dermaga

Untuk kata-kata yang masih hijau
Kau lahir dari rahim siapa? Siapa ayah ibumu? Dari mana asalmu?
Huruf yang malang, tak ada yang peduli
Berkelanalah sesuka hati, diantara jeda dan tengah kami
Kata-kata sunyi dan menyendiri
Dipaksa membuat janji, dilain waktu menghakimi
Kau bilang ini bukan salahmu, sebab
Huruf-huruf benda mati
Kata-kata tak punya hati

Gagasan-gagasan mulia mengapung diselokan kota
Tak ada yang peduli,meski ada yang terbunuh dan bunuh diri
Hari ini, air mata Ibu Kota membasahi bangunan tua
Terisak-isak menangisi nasibnya
Teringat masa-masa sulit dan masih sederhana
Sebelum para pendusta dan pabrik-pabrik berkuasa

Susoh 01/03/2020 09:59

Share This Story!
Shares

More City & Poetry

Shares