Tuesday, May 17, 2022

Kalau Ibu Kota Negara Dipindahkan Jakarta Jadi Ibu Kita—Puisi Warake

Ciliwung

Ketika aku kecil Ibu brcerita;
Tentang sungai yang membelah kota
Airnya bening mengalir keteluk Jakarta
Gadis-gadis mandi, mencuci dan sembunyi
Dibalik batu.
Tapi ketika aku dewasa, tak kutemukan
Sungai yang membelah kota Jakarta
Cuma air mengalir diantara limbah
Sampah dan bagkai mengapung
Udara bertuba,
Orang-orang kehilangan Agama
Kota jadi berhala
Merekapun lupa arah pulang kerumah.
Beranak cucu aku dikotamu
Rumahnya air ditanami Mall dan Apartemen
Kini, air mencari rumahnya
Masuk kerumah warga kota
Banjir terus ada, karena kota diatas rawa
Keserakahan para penguasa bermain mata dengan penguasa.
Tak kutemui lagi warga kota
Kota telah kehilangan warganya
Karena tanah bukan lagi miliknya.

Jakarta, 19 April 2020

Potret Kotaku

Betapa cepatnya Jakarta berlari meninggalkanku
Orang-orang terpenjarakan oleh waktu
Terperangkap di gedung-gedung
Melukai drinya sendiri
Perempuan-perempuan belia mengejar mimpi
Dunia dalam genggaman
Jarak tersimpan di saku
Anak-anak menjadi dewasa,
Tanpa sempat bermain.
Kehilangan tanah lapang
Untuk berlari mengejar mimpi
Bayang-bayang tersangkut di gedung pencakar langit
Disini setiap orang harus berlari
Tak bisa tertidur
Ataupun duduk dikursi taman
Dunia dalam genggaman
Waktu tersimpan di saku
Koran-koran kehilangan berita
Terbenam di lorong-lorong di taman kota
Hilang ditelan malam tanpa rembulan.

Jakarta, 20 Maret 2020

Kalau Ibu Kota Negara Dipindahkan
Jakarta Jadi Ibu Kita.

Kalau Ibu Kota dipindahkan Jakarta jadi Ibu kita
Bersama kita membersihkan kakinya
Kita cuci tanganya
Agar menyuapi kita dengan cinta
Kita bersihkan matanya
Agar dapat mempersiapkan
Masa depan bagi anak-anaknya
Untuk pulang,
Membersihkan rumah dan halamanya
Jangan lagi tinggal di jalan
Karna rumah Ibu kita penuh cinta
Kita bersihkan telinganya
Agar bisa mendengar
Suara-suara yang lama dihilangkan oleh Penguasa
Suara-suara yang terpenjarakan dalam ketakutan
Tanah-tanah yang hilang dan dihilangkan
Berpindah tanga ke Penguasa dan Pengusaha
Yang bermain mata
Kalau Ibu Kota dipindahkan Jakarta jadi Ibu kita
Keserakahan Ibu kota Negara
Kemajuan yang mendarangkan musibah dan bencana
Tanah dan airBukan lagi milik kita
Penuh limbah orang-orang serakah
Hati nurani terkuburkan
Membangun isatana dengan darah dan airmata warga
Kalau Ibu Kota dipindahkan Jakarta jadi Ibu kita
Karna Ibu Kota Negara telah lama diperkosa
Para Cukong
Berulang kali ditiduri bersama Penguasa
Bergantian di hotel bintang lima
Kalau Ibu Kota dipindahkan Jakarta jadi Ibu kita
Night Club, Bar, para pelacur di jalan dan di hotel mewah
Kita kuburkan untuk menjaga
masa depan anak-anak kita
Jakarta
Ketika engkau tak lagi menjadi Ibu Kota Negara
Engkau akan jadi
Ibu Kota
Di Negara manapun.
Karna Ibu kita adalah Matahari dan Rembulan
Menjaga masa depan anak-anak Bangsa.
Meski ia tak lagi menjadi Ibu Kota Negara
Ia akan terus ada.

Jakarta, 19 April 2020

Share This Story!
Shares

More City & Poetry

Shares