Tuesday, May 17, 2022

La Symphonie Pastorale: Kitab Suci dan Asmara

Bandung Mawardi *)


Andre Gide (1869-1951), pengarang kondang asal Prancis. Di Indonesia, ia sudah terbaca sejak masa 1940-an. Chairil Anwar menjadi pembaca cerita-cerita gubahan Andre Gide, memberi terjemahan ke pembaca di Indonesia. Hasil terjemahan itu berjudul Pulanglah Si Anak Hilang (1948). Cerita menafsir Alkitab. Buku tipis itu jadi pembuktian keampuhan Chairil Anwar sebagai pembaca sastra dunia dan menjadikan bahasa Indonesia memiliki kekuatan dalam kerja penerjemahan. Chairil Anwar rajin menulis puisi tapi memiliki gairah atas prosa dunia. Di Indonesia, buku itu semakin membesarkan pengaruh sastra Prancis dalam perkembangan sastra modern di Indonesia.

Pembaca bersabar untuk mendapatkan terjemahan buku Andre Gide. Kerja lanjutkan dilakukan oleh Ali Audah dengan penerjemahan Theseus (1979). Buku tipis, 64 halaman. Buku mujarab bagi pemuja atau pembaca berselera sastra Prancis. Khazanah buku terjemahan sastra dunia berasal dari Prancis mendapat pembaca menggairahkan berbarengan acuan ke filsafat sedang bergolak di sana. Novel itu ditulis Andre Gide saat tua (70 tahun) dan berada di Afrika Utara. Ia melihat Prancis merana dalam Perang Dunia II. Theseus bisa dituduh “puisi berwujud prosa”. Theseus menambahi kemonceran Andre Gide di Indonesia (Jakob Sumardjo, Dari Khazanah Sastra Dunia, 1985). Jarak penerbitan Pulanglah Si Anak Hilang dengan Theseus cukup lama. Penerjemahan buku sastra asal Prancis di Indonesia sering Emile Zola, Alexander Dumas, dan Antoine de Saint-Exupery.

Pada 1987, pembaca disuguhi novel berjudul Simfoni Pastoral diterjemahkan oleh Apsanti Djokosujatno. Novel masih tipis, 74 halaman. Novel diterjemahkan dari edisi bahasa Prancis: La Symphonie Pastorale. Pembaca sudah mendapat tiga hasil terjemahan, berbeda cita rasa dan pesona pengisahan. Tiga buku masih bersandar ke Alkitab. Andre Gide memang berada di sastra religius dengan sekian kejutan makna dan dokumentasi situasi zaman. Andre Gide mungkin mulai diakui sebagai pengarang tenar oleh para pembaca di Indonesia meski jumlah buku diterjemahkan ke bahasa Indonesia masih sedikit. Penggemar Andre Gide tentu bertambah dengan keberadaan jurusan sastra Prancis di sekian universitas. Novel berjudul Simfoni Pastoral memberi kesan berkepanjangan bagi pembaca ingin mengetahui pengabdian sastra Andre Gide, dari masa ke masa.

Novel itu teranggap bukan puncak capaian bersastra oleh Andre Gide. Di Kamus Karya Sastra Perancis (1991) susunan M Bouty, kita tak menemukan ulasan untuk Simfoni Pastoral. Pilihan buku-buku di kamus mengacu ke patokan “paling mewakili dari chanson de geste dan roman berbentuk syair dari Abad Pertengahan, hingga roman dan drama kontemporer”. Sekian buku jarang dibaca tapi dianggap berpengaruh pun mendapat halaman-halaman ulasan. Simfoni Pastoral tak ada di situ. Pembaca mendapat ulasan buku-buku gubahan Andre Gide: Les Naourritures terrestres (1897), L’Immoraliste (1902), La Porte etroite (1909), Les Caves de Vatican (1914), Les Faux-Monnayeurs (1925), dan Si le grain ne meurt (1926). Tiga buku hasil terjemahan Chairil Anwar, Ali Audah, dan Apsanti Djokosujatno di luar kamus.

Andre Gide (1869-1951)

Pada 2008, kita mendapatkan lagi novel gubahan Andre Gide diterjemahkan ke bahasa Indonesia berjudul Pendidikan Istri terbitan YOI. Judul mungkin tak menarik. Pembaca awam menduga itu buku mendidik istri seperti buku-buku pernah terbit sejak masa 1950-an. Di toko buku, Pendidikan Istri bisa salah tempat, ditaruh di rak bertema perempuan atau keluarga. Kita mencatat lagi Andre Gide tetap sedikit mendapat perhatian dari pembaca, kalah bersaing dengan Emile Zola, Alexander Dumas, dan Antoine de Saint-Exupery. Pengetahuan kita agak bertambah dengan membuka Ensiklopedia Sastra Dunia (2019) susunan Anton Kurnia. Ada keterangan hampir sehalaman mengenai Andre Gide. Pengarang besar itu meraih Hadiah Nobel Sastra 1947.

Pada 2019, kita berhak membuat peringatan 100 tahun penerbitan Simfoni Pastoral meski bukan novel terampuh dari Andre Gide. Kita menempatkan novel dalam jalinan sastra dan religiositas. Kita agak meniru YB Mangunwijaya meski Simfoni Pastoral bukan pilihan penting di buku berjudul Sastra dan Religiositas (1982). Esai-esai garapan Romo Mangun terbit dulu, sebelum kita membaca Simfoni Pastoral. Kita menduga Romo Mangun mengenali dan membaca sekian cerita gubahan Andre Gide. Kita simak saja penjelasan Romo Mangun: “Religiositas lebih melihat aspek yang ‘di dalam lubuk hati’, riak getaran hati nurani pribadi; sikap personal yang sedikit banyak misteri bagi orang lain, karena menapaskan intimitas jiwa, du coeur dalam arti Pascal, yakni cita rasa yang mencakup totalitas (termasuk rasio dan rasa manusiawi) kedalaman si pribadi manusia.” Penjelasan mendalam dan mengena. Konklusi terpenting: “Semua sastra yang baik selalu religius”.

Ida Sundari Husen dalam buku berjudul Mengenal Pengarang-Pengarang Perancis: Dari Abad ke Abad (2001) memberi keterangan: “Andre Gide sangat terpengaruh oleh pendidikan Protestan yang ketat yang diterima semasa kecil. Tetapi, setelah dewasa ia sering mempersoalkan kepercayaannya kepada Tuhan, keragu-raguan serta rasa tidak percaya. Lama ia meninggalkan kepercayaannya itu. Namun pada tahun 1905 kembali ia merindukan seusana keagamaan yang pernah diyakininya.” Kedirian itu terasa di gubahan novel-novel.

Simfoni Pastoral bertokoh pendeta di kebimbangan dan keputusasaan. Kewajiban berdalih agama, rasa kemanusiaan, dan asmara-berahi memicu konflik demi konflik. Alkisah, ia mendatangi rumah dihuni orang-orang nestapa. Di situ, ia melihat wanita tua meninggal dalam derita. Di rumah buruk dan kelam, ia melihat pula gadis berusia belasan tahun dalam nasib tak tentu. Para tetangga mengatakan si gadis itu buta dan jarang bicara. Pendeta tak tega meninggalkan si gadis dalam penderitaan. Gadis itu diajak turut pulang ke rumah. Di perjalanan, pendeta itu berkata: “Dalam tubuh yang buram itu tentu ada jiwa yang menghuni, yang terkurung. Semoga suatu cahaya berkat-Mu menyentuhnya, ya, Tuhan! Dan mungkin Engkau akan memperkenankan kasihku menguakkan kegelapannya yang mengerikan.” Semula, tindakan membawa gadis itu ke rumah mendapat tanggapan kurang baik dari istri dan anak-anak.

Hari-hari berganti, gadis bernama Gertrude mengalami perubahan setelah diajari berbusana rapi, makan, dan bicara. Pendeta merasa bakal ada nasib terang bagi Gertrude. Pengharapan itu perlahan menumbuhkan masalah di rumah. Sang istri merasa ada tambahan tanggungan dan menganggap ada masalah sedang berbiak mungkin menghancurkan pelbagai hal. Pendeta tetap berdalih itu kewajiban agama dan kemanusiaan dalam memberi pengasuhan dan keselamatan untuk orang nestapa.

Hari demi hari bergerak dengan pesona dan petaka. Gertrude perlahan tampil anggun dan menerbitkan pesona sulit ditampik oleh pendeta. Putra tertua pun mulai terpikat ke Gertrude. Asmara pun bersemi. Pendeta tetap berdakwah dan menunaikan tanggung jawab bagi keluarga. Ia berada di kubangan masalah, menanggung pergolakan iman dan asmara. Pendeta mengetahui bahwa putra tertua mencintai Gertrude. Ia belum rela. Ia pun ingin memiliki Gertrude, memadu kasih “terlarang” dengan memicu pedih dan dendam di keluarga. Novel memang tipis tapi pembaca sulit reda dari gejolak-gejolak para tokoh. Novel mengabarkan tafsir Alkitab, situasi zaman, tata keluarga demokratis, kemajuan ilmu kedokteran, dan penguatan humanisme.

Tokoh paling menderita buka pendeta tapi Gertrude. Ia menghadapi dua lelaki: bapak dan putra. Getrude sedang menempuhi jalan iman melalui khotbah dan cerita pendeta tapi “terlena” dalam percakapan manusiawi bersama putra tertua pendeta. Dua lelaki itu berseteru. Gertrude “terluka” saat mulai mendapatkan berkat dengan menekuni Alkitab. Di luar penerimaan kitab suci, asmara mendera tak keruan. Hari-hari menjadi amburadul dengan kebohongan dan kesakitan.

Pada suatu hari, Gertrude memiliki nasib “baik” dengan operasi mata. Ia bisa mentas dari gelap. Ia melihat dunia: terpana dan tersiksa. Pada hari-hari menjelang operasi, pendeta dan Gertrude berjalan berdua dalam ketegangan. Mereka bercakap tentang kitab suci dan asmara. Gertrude berkata lembut menumpahkan sindiran ke pendeta: “Kebahagiaan bukan hal utama bagiku. Aku lebih suka mengetahui. Ada banyak hal, tentunya yang sedih-sedih yang tidak dapat kulihat. Tetapi, Bapa tidak berhak membiarkan aku tidak mengetahuinya. Lama aku berpikir selama bulan-bulan musim dingin yang lalu. Bapa tahu, aku khawatir dunia seluruhnya tidak seindah yang Bapa gambarkan, bahkan mungkin jauh dari itu.” Gadis itu belum melihat dunia tapi menanggungkan seribu duka, khawatir, dan ragu. Ia mungkin tak terlalu ingin melihat dunia, melihat pendeta, dan melihat “kekasih” atau putra pendeta bernama Jacques. Dosa demi dosa dimengerti dengan keterbatasan: bertambah dan memberi siksaan batin.

Operasi itu berhasil. Gertrude melihat dunia dengan mata-duka. Ia malah memilih mati, menenggelamkan diri ke sungai. Gertrude tak melihat terang tapi berada di kegelapan perasaan. Iman menjadi peringatan atas nasib diri dan wanita bernama Amelie (istri pendeta). Tubuh dalam sakit dan perasaan tak keruan. Di ranjang, Gertrude berucap kepada pendeta: “Tetapi ketika aku tiba-tiba melihat wajahnya, ketika aku melihat wajahnya yang malang begitu banyak kesedihan, aku tidak dapat lagi menanggungkan pikiran bahwa kesedihannya itu adalah akibat perbuatanku. Tidak, tidak, jangan membantah. Biarkan aku pergi dan kembalikan kebahagiaannya padanya.” Pengakuan mengharukan bagi gadis menginginkan kematian. Gertrude sempat mengingatkan perkataan Kristus: “Sekiranya kamu buta kamu tidak berdosa.” Perempuan itu mati.

Novel berakhir dengan puncak kedukaan. Pembaca sulit mengelak dari timbunan konflik ditanggungkan para tokoh, terutama pendeta, Gertrude, Jacques, dan Amelie. Novel bergelimang duka, menguak iman dan asmara. Novel itu menuntun pembaca ke pergumulan sastra dan religiositas. Di akhir cerita, pendeta mengaku dalam sendu: “Aku sebenarnya ingin menangis, tetapi aku merasa hatiku lebih kering daripada gurun pasir.” Kini, kita mencatat Simfoni Pastoral berusia 100 tahun tapi usia “duka” berkaitan kitab suci dan asmara masih terasakan sampai sekarang. Begitu. (*)


Bandung Mawardi–Penulis buku Pengisah dan Pengasih (2019)

Share This Story!
Shares
- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Shares