Tuesday, May 17, 2022

Kegelisahan, Refleksi, dan Nostalgia: Membaca Frischa Aswarini dalam Tanda bagi Tanya

Bagaimana jika rasa takut membawa kita untuk selalu bersembunyi di dalam memori-memori yang tak akan menyakiti?

33 puisi dalam buku kumpulan puisi Tanda bagi Tanya(Gramedia, 2017) karya Frischa Aswarini ini, kurang lebih, menyajikan gelombang-perasaan yang menjawab pertanyaan di atas. Namun, sebelum lebih jauh membahas puisi-puisi dalam buku ini, ada baiknya kita mengenal Frischa Aswarini, seorang penulis muda dari Bali yang karyanya telah cukup banyak mengikuti festival kesusastraan di Indonesia dan mancanegara, juga pengalamannya mengikuti program Canada World Youth pada tahun 2014-2015. Latar belakang Frischa ini kelak dapat memberi gambaran dalam membaca puisi-puisinya.

Hal pertama yang menarik hati ketika membaca puisi-puisi dalam Tanda bagi Tanya adalah bagaimana kata-kata yang disusun dapat menghasilkan bunyi yang enak didengar. Ini tentu menjadi sesuatu yang menyenangkan. Mengenai kemampuan Frischa dalam memilih kata, sepertinya sudah tidak perlu diragukan, meskipun dalam beberapa puisi ada beberapa kata yang sering diulang seperti kata “igauan/mengigau”, “masa kecil/masa lalu” namun sedikit banyak bisa membantu dalam menyelami sifat puisi-puisi dalam buku ini.

Deskripsi mengenai alam juga banyak muncul. Tentu, keadaan geografis dan kultur Bali memiliki peranan penting di sini. Beberapa puisi sepertinya ditulis berdasarkan pengalaman penulis pergi ke tempat-tempat yang jauh, tidak lepas dari deskripsi keindahan, kesunyian, keinsyafan alam yang dialaminya.

Membaca Tanda bagi Tanya rasanya seperti ditarik masuk ke dalam hubungan emosional penulis dengan hal di sekitarnya. Memang, dalam puisi-puisi ini, ada hubungan yang begitu kuat antara penulis dan hal-hal familiar. Hal-hal familiar tersebut salah satunya adalah  keluarga. Puisi “Kepada Kakak” yang menjadi pembuka, “Sebuah Pagi bagi Kakek”, “Pengantar Tidur”, dan “Sabun Terbaik” adalah beberapa contoh bagaimana penulis membangun ikatan emosional dengan keluarga dan orang-orang terdekat. Keluarga dan orang-orang terdekat ini, bersamaan dengan rumah, lingkungan yang familiar dan jinak, membentuk dunia kecil dengan konsentrasi emosional yang tinggi. Maka, akan kita temukan banyak sekali puisi-puisi bertemakan rumah, alam, dan lingkungan yang nampaknya begitu akrab dengan penulis.

Hal-hal familiar lain adalah masa kecil. Ini dapat ditemukan dalam puisi “Di Kemenuh”, “Sekolah Hari Pertama”, “Taman Minggu”, dan “Sabun Terbaik”. Masa kecil (dan masa lalu, misalnya dalam “Di Katyn”) dan puisi-puisi lain yang berkaitan dengan kampung halaman selalu datang bersamaan dengan rasa rindu. Kerinduan ini digambarkan penulis melalui deskripsi dan romantisasi yang detail, membawa pembaca mengalami suasana dan mengetahui bagaimana hal tersebut bisa dan pantas dirindukan.

***

Sebelumnya telah disinggung bahwa beberapa puisi dalam buku ini terinspirasi dari perjalanan ke tempat-tempat yang jauh. Maka, saya membagi puisi-puisi dalam buku ini ke dalam dua kelompok, yaitu (1) lingkungan familiar dan (2) lingkungan non-familiar. Kelompok pertama adalah puisi-puisi yang mengambarkan tempat asal yang familiar, seperti di Bali, termasuk hal-hal familiar yang disebutkan sebelumnya: keluarga, rumah, dan masa kecil. Sementara kelompok kedua adalah puisi-puisi dengan latar yang jauh, yaitu Kanada, Mimika, Polandia, Jakarta, dan mungkin beberapa tempat-tempat imajiner yang baiknya dimasukkan ke dalam kelompok kedua.

Dalam kelompok lingkungan familiar, isu yang selalu muncul adalah nostalgia masa kecil dan masa lalu, kerinduan, kegelisahan, dan kekhawatiran terhadap masa depan. Penulis seakan membuat ketidakpastian dan masa depan sebagai sesuatu yang begitu menakutkan dan mengancam. Kebahagiaan masa kecil dalam “Sekolah Hari Pertama” harus diruntuhkan oleh realita masa depan yang menyulitkan, misteri menjadi sesuatu yang harus ditakuti dan diikuti dengan rasa pesimis seperti dalam “Taman Minggu” dan “Pijar”, serta masa kini yang tak pernah seindah masa lalu dalam “Sebuah Pagi bagi Kakek”. Ini membuat seolahdunia yang paling aman adalah dunia yang diciptakan oleh cangkang masa kecil, rumah, dan memori-memori yang dibangun mengenai hal-hal tersebut.

Sementara itu, dalam kelompok lingkungan non-familiar, penulis banyak berandai-andai mengenai kehidupan personal objek-objek yang ditemuinya dalam pengembaraan. Yang menarik, penulis berusaha membangun dunia personifikasi dari objek-objek yang dijumpainya, membuat seolah-olah dirinya masuk ke dalam dunia objek-objek tersebut, menjalin hubungan emosional dengan benda-benda dan orang-orang yang berkaitan dengan objek yang dijumpainya tadi. Misalnya, seperti dalam “Hutan Belakang Rumah” ketika penulis mencoba memasuki dunia dan perasaan manusia-manusia yang tinggal jauh di bawah puncak, percintaan angsa yang romantis dalam “Oktober di Laberge”, hubungan imaniah Philipus dan tuhannya dalam “Patung dari Kamoro”, kebahagiaan anak-anak ketika makanan sudah disiapkan oleh ibunya di rumah dalam “Rumah di Pulau”, kasih sayang ibu dan anak dalam “Memangkur Sagu”, bahkan meromantisasi memori masa kecil pada detik-detik menjelang kematian melalui Kaczynski. Lingkungan-lingkungan non-familiar ini berusaha disiasatinya agar terasa familiar melalui duniayang tak jauh-jauh dari keluarga, hubungan batin, dan kenaifan masa lalu, yang sebenarnya merupakan refleksi ketakutan atas dunia yang tidak familiar yang sedang dialaminya. (*)



Peresensi—Areispine Dymussaga Miraviori

Share This Story!
Shares
- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Shares