Tuesday, May 17, 2022

Bertemu Puisi (Belum) Berlalu

Bandung Mawardi *)

Pada masa 1930-an, puisi tak cuma berebut tampil di halaman-halaman Poedjangga Baroe. Majalah itu memang memberi ruang terhormat bagi para pujangga pamer gubahan puisi bercap “baroe” atau modern. Sejak masa 1920-an, puisi-puisi ditulis oleh Muhamad Yamin dan Roestam Effendi dengan seruan agar para pujangga bergerak ke puisi modern berasal dari Eropa, meninggalkan “pantoen” dan “sjair”. Pengumuman itu disambut Ami Hamzah, Sanoesi Pane, Armijn Pane, Sutan Takdir Alisjahbana, dan JE Tatengkeng dengan segala tanggapan bermufakat atau membantah. Mereka menengok ke Barat, menggubah puisi-puisi dengan estetika “baroe” atau modern. Estetika masa lalu tetap  tak semua bisa ditinggalkan atau sirna. Para pujangga masih sanggup mengucap estetika lawas agar puisi “baroe” tak terlalu asing bagi pembaca di Indonesia. Majalah Poedjangga Baroe jadi rumah mentereng bagi ratusan puisi “baroe”. Penerbitan buku-buku puisi semakin menguatkan hasrat “baroe” dalam kesusastraan Indonesia. Di luar Poedjangga Baroe dan buku puisi, kita gampang abai atas kemunculan puisi-puisi di media berbeda.

Pada masa 1930-an, buku cerita bulanan Penghidoepan kadang memuat puisi-puisi gubahan para pujangga peranakan Tionghoa di halaman-halaman belakang. Penempatan di belakang mirip “hadiah”, setelah pembaca menuntaskan membaca cerita-cerita. Redaksi memberi nama rubrik puisi “Bajangan Penghidoepan.” Pemuatan puisi tak rutin tapi diminati pembaca. Buku cerita bulanan itu diterbitkan oleh Tan’s Drukkery (Surabaya). Pengirim puisi berasal dari pelbagai kota. Puisi-puisi bersemi, menghampiri pembaca. Pada masa 1930-an, puisi-puisi terkesan jadi selebrasi inklusif di Penghidoepan ketimbang di Poedjangga Baroe. Nama para pujangga di Penghidoepan memang tak kondang. Mereka telah menunaikan misi literasi, tak mengharuskan sesuai tata estetika “baroe” pada masa 1930-an. Keluguan itu membuat puisi-puisi di Penghidoepan tak pernah masuk dalam uraian sejarah puisi modern di Indonesia. Puisi mereka tak masuk dalam antologi puisi Indonesia, dari masa ke masa. Para peneliti puisi Indonesia atau kritikus sastra mungkin belum sempat bertemu dengan halaman-halaman belakang di Penghidoepan.

Buku Puisi Lama dan Puisi Baru susunan Sutan Takdir Alisjahbana tak memuat puisi-puisi gubahan pujangga peranakan Tionghoa. Buku Perkembangan Puisi Indonesia Tahun 20-an hingga 40-an garapan JS Badudu juga tak memberi halaman-halaman memadai bagi kehadiran puisi persembahan para pujangga peranakan Tionghoa. Puisi mereka berbahasa “Melajoe” atau Indonesia dan bercerita hal-hal di Indonesia. Bahasa dan tema tetap tak jadi pertimbangan masuk ke buku antologi. Buku Tonggak: Antologi Puisi Indonesia Modern, 4 jilid, susunan Linus Suryadi AG tak mengikutkan puisi-puisi berasal dari Penghidoepan. Perbedaan justru ada di buku berjudul Meneer Perlente: Antologi Puisi Periode Awal, editor Sapardi Djoko Damono dan Melani Budianta, terbitan Pusat Bahasa, 2009. Buku itu memuat puisi-puisi gubahan para pujangga keturunan Tionghoa di pelbagai surat kabar, sejak akhir abad XIX.

Kini, kita ingin menengok lagi Penghidoepan agar puisi-puisi tak mubadzir. Pada terbitan Penghidoepan No 116, 1934, redaksi memuat ceirta berjudul Dari Djoerang Siksa’an karangan Tjia Swan Djioe. Di halaman 113-116, setelah cerita tamat, redaksi memuat puisi-puisi dari para pelanggan dan pembaca setia Penghidoepan. Redaksi perlu memberi pengumuman berjudul “Sedikit Kabar Redactie”, memakai struktur puisi: Banjak pembatja ambil bagian dalem ini taman/ sair./ Selaloe kirim karangan, seperti ketarik ilmoe/ sihir./ Hingga bikin kita girang dan goembira berpikir./ Kerna banjak perasa’an hati, djadi toempah/ teroekir.// Sair doeka dan girang, senantiasa kita trima./ Jang penting dan moeloek lantas dimoeat sigra/ Satoe dan laen aken sama-sama petik/ kegoenaannja./ Artinja semoea boeat satoe dan satoe boeat semoea. Penjelasan itu tentu berbeda dengan cara Sutan Takdir Alisjahabana melakukan seleksi puisi atau menulis kritik puisi di Poedjangga Baroe. Redaksi Penghidoepan tak berlagak paling mengerti estetika. Kehadiran puisi justru dimaknai selebrasi bersama tanpa patokan-patokan ketat.

Kita ajukan puisi berjudul “Satoe Kenangan” gubahan Liang. Puisi bersahaja, bermaksud berbagi amanat tanpa samar: Akoe pandang itoe boenga dengen pikiran/ melajang/ Sembari sedot dan rasaken ia poenja keharoeman/ Tapi, ah Goesti, akoe liat ia lantas djadi berarakan/ Kerna koembang djahat dateng timboelkan keroesakan// Akoe pikir, itoe sama sadja dengen keada’annja/ penghidoepan/ Dari manoesia jang bermoela tjantik, djadi/ rontok berantakan/ Seperti di permoelaan dalem kasenengan dan/ kegoembira’an/ Tapi kamoedian itoe semoea djadi moesna/ tiada keliatan. Puisi itu tak usah dibandingkan dengan puisi-puisi gubahan Amir Hamzah, Tatengkeng, Sanoesi Pane, atau Sutan Takdir Alisjahbana. Redaksi Penghidoepan memuat puisi Liang mungkin dengan pertimbangan berbagi pesan kehidupan pada pembaca tanpa metafora rumit. Pesan dianggap bisa berterima ke pembaca.  

GP Sie dalam puisi berjudul “Keloehan” juga berbagi pesan tanpa penggelapan estetika. Puisi termuat di Penghidoepan No 115, 1934. Sie seperti melakukan dokumentasi perasaan atas realitas masa 1930-an. Puisi sebagai dokumentasi berisi ungkapan-ungkapan dramatis dan mengacu ke cara tanggap pribadi. Puisi juga sesak nasihat. Kehadiran puisi “Keloehan” jadi bacaan sejenak untuk merenung. Sie menulis: Di doenia djarang teroendjoek kesoetjian/ Kerna bergolaknja orang poenja kenapsoean/ Lantaran roemah tangga poenja kesoesahan/ Mendjadikan soeami poenja hati ta keroean// Doenia penoeh dengen keloeh dan tangisan/ Dari kemiskinan dan berbagai kesedihan/ Ngeri, ngeri sekali ia poenja keada’an/ Hingga ia dinamaken djoerang kedoeka’an. Kini, setelah puluhan tahun berlalu, pembaca mungkin menuduh puisi itu cengeng. Puisi jadi luapan perasaan. Sutan Takdir Alisjahbana mungkin memberi cap melemahkan nasionalisme, mengganggu modernisasi, dan menghina optimisme kebaruan.

Rubrik “Bajangan Penghidoepan” menjadi ruang berbagi nasihat, renungan, atau pesan. Para pembaca merasa menemukan alasan menikmati puisi demi “memetik hikmah” atau menjalankan misi “mengingatkan” dan “mewartakan.” Urusan asmara, pernikahan, keluarga, nafkah, kemiskinan, spiritualitas jadi tema-tema berulang. Pembaca mungkin tetap menikmati, enggan bosan atau protes. Puisi terasa jadi cara berekspresi “terhormat” agar bisa berkomunikasi dengan sesama pembaca Penghidoepan. Tsiang-nien persembahkan puisi berjudul “Bingkisan Dari Satoe Ajah”, dimuat di Penghidoepan No 103, 1933. Puisi berisi nasihat bijak, gampang terbaca dan terpahami: Djadilah istri jang baek dan bergoena/ Djadilah djoega satoe iboe jang bidjaksana/ Itoelah apa jang soeami harep di mana-mana/ Biar sekarang, begitoepoen di djaman koena… Ati-ati djangan sampe kena penjakit djoedi/ Djoedi djahat melebihi segala setan memedi/ Bila kaoepoenja kawan adjak kaoe djoedi/ Djawablah dengen lantas: “Akoe tida soedi.” Kita anggap nasihat itu lumrah. Tata kata Tsiang-nien tak muluk sebagai puisi “baroe” tapi cenderung menginginkan ke pertimbangan pesan.

Pada masa 1930-an, nasihat bagi istri atau pembinaan istri dalam berkeluarga sudah jadi masalah besar dan genting. Modernisasi membuat orang-orang sering linglung nilai, tergoda paham-paham baru, atau repot beradaptasi dengan zaman kemajuan. Tema itu pernah diuraikan secara apik dalam buku berjudul Satoe Istri jang Doenia Impiken atawa Penoentoen Kebroentoengan Roemah Tangga oleh Ang Kiauw San, terbitan Ang’s Publishing House, Batavia, 1935. Buku “ditoelis boeat njonja-njonja dan gadis-gadis Tionghoa dari segala tingkatan dan pladjaran jang hargaken dan inginken kebroentoengan roemah tangga, tapi haroes dibatja oleh seswatoe orang lelaki.” Tebal 92 halaman. Puisi gubahan Tsiang-nien itu ringkas, pantas jadi rangsangan pembaca menuju buku karangan Ang Kiauw San. Tema dan isi puisi terasa tak basi, selalu jadi aktual.

Di Penghidoepan No 131, 1935, pembaca bertemu puisi nasihat berjudul “Saling Mengarti” gubahan YS Chan. Puisi bercerita nasihat kakek pada cucu. Kita mengandaikan para pembaca di masa 1930-an menjadi pembaca mendapat ribuan hikmah dari puisi-puisi di rubrik “Bajangan Penghidoepan.” Kita simak nasihat Chan: Tjoetjoekoe, kaloe kau djadi sepasang merpati/ Kau haroes hidoep roekoen dan saling mengarti/ Masing-masing koedoe berlakoe tiada menjakiti/ Tapi berlakoe mengindah en saling menghormati// Terhadep masing-masing djangan berparas asem/ Dari pada asem ada lebih baek saling mesem/ Tjoba tengok soedaramoe jang berada di Lasem/ marika sampe loepa daratan, kerna tersengsem! Nasihat sempat mengandung humor. Puisi untuk bernasihat itu lazim. Di Penghidoepan, pembaca dan penulis saling berbagi nasihat. Begitu.  

Bandung Mawardi. Penulis buku Dahulu: Mereka dan Puisi (2020)

Share This Story!
Shares
- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Shares