Tuesday, May 17, 2022

Bekerja di Media Masa Kini, Antara Idealisme dan Realitas

Buku terbeli lebih karena adanya tanggung jawab belajar jurnalistik, meski mungkin amat telat. Suatu malam di toko buku, pembeli mengandaikan tahun 2020, yang akan dimulai dengan melakoni pekerjaan baru sebagai reporter. Setelah dua tahun sebelumnya mengalami sekian penolakan dari perusahaan media.

Buku lebih dulu dibaca daripada mengalami hari-hari berpeluh informasi sebagai bahan menulis berita. Hari-hari ke depan dibayangkan akan terlalu menantang, liputan ke lapangan, mewawancarai beragam orang, melakukan doorstop, tidak sempat makan siang karena dikejar tenggat tulisan, dan pelbagai macamnya. Segala bayangan ideal itu termaktub dalam pengalaman Sindhunata yang disusun jadi buku tebal berjudul Belajar Jurnalistik dari Humanisme Harian Kompas (GPU, 2019).

Sindhunata menceritakan pengalamannya sejak menjadi jurnalis muda di salah satu koran nasional. Termasuk persinggungannya dengan teman-teman wartawannya. Di pembuka buku misalnya, Sindhunata memulai pengisahannya tentang Kartono Ryadi, wartawan fotografi senior di kantornya. Kredo jurnalisme Sindhunata yang diamini sepanjang karir jurnalistiknyakonon diilhami dari sosok Kartono.

Menurut penceritaan Sindhunata, Kartono merupakan sosok yang amat tekun mengalami profesinya. Ia misalnya nekat menunggu pesut di Ancol yang diperkirakan akan segera melahirkansampai lebih dari pukul 00.00 WIB. Sehari-hari ketika turun ke lapangan bersama, Kartono tidak jarang meminta Sindhunata memberhentikan vespanya. Itu artinya, Kartono mendapat objek bernilai berita. Tanpa banyak bicara, Kartono akan menjepretkan foto beberapa kali. Setelah selesai, barulah ia berkata supaya Sindhunata melakukan wawancara terhadap objek yang sudah difotonya.

Mula-mula Sindhunata merasa tidak ada yang menarik, tapi acapkali ketika ia sudah melakukan wawancara akan ditemui sekian hal unik dan tidak terbayangkan sebelumnya. Sebagaimana ia mengenangnya. Pengalaman bersama Kartono mendorong Sindhunata untuk merumuskan sebuah pegangan jurnalistik yang ia yakini sampai sekarang, yakni: “Wartawan pada awalnya adalah pekerjaan kaki, baru kemudian pekerjaan otak”. Artinya, wartawan itu harus mencari objek berita dengan menggunakan kakinya, dengan berjalan terlebih dahulu, sebelum ia menggunakan otak dan pikirannya. Secermelang apa pun otak seorang wartawan, kalau ia malas menggunakan kakinya, ia tidak akan memperoleh berita yang autentik (hlm. 4).

Dilema Berita yang Autentik

Di tahun 1990-an, kredo jurnalisme Sindhunata jelas sangat relevan. Tapi kini, menyatakan bahwasanya pekerjaan wartawan pertama-tama ialah pekerjaan kaki rasanya kurang pas. Tak dimungkiri bahwa semua media massa baik cetak, daring, maupun televisi masih menugaskan wartawannya untuk meliput di lapangan. Tapi jumlah itu saya kira jauh lebih sedikit dibanding para wartawan yang dipekerjakan di hadapan layar komputer saja.

Satu orang turun ke lapangan dan menuliskan hasil liputannya, akan diikuti oleh empat atau lima orang yang memodifikasi hasil liputan wartawan lapangan menjadi beberapa angle tulisan. Mereka ini bekerja di hadapan layar komputer, entah di kantor, di rumah, di kafe, atau di mana saja. Kalau wartawan lapangan bertugas menulis hasil liputannya dalam bentuk kilas berita atau straight news, maka empat atau lima kawannya itu adakalanya dipekerjakan untuk mengolahnya menjadi tulisan yang tidak habis dalam sekali baca. Ataupun kalau tidak memungkinkan menjadi tulisan yang timeless, dipilihlah judul-judul yang kemungkinan bisa menarik lebih banyak pembaca, klikbait. Praktik yang demikian tentu sangat akrab bagi operasional media-media daring di Indonesia.

Sudah menjadi rahasia umum, ongkos penugasan liputan ke lapangan jauh lebih besar daripada mempekerjakan wartawan hanya dari depan layar komputer. Terlebih di Indonesia yang mayoritas masyarakatnya belum merasa perlu mengonsumsi berita-berita aktual dan terpercaya. Perusahaan-perusahaan media bersiasat guna mempertahankan keberlangsungan hidupnya. Media daring mau tidak mau harus terus meningkatkan angka kunjungan halaman atau pageviews. Pasalnya mengandalkan iklan saja jelas tidak memungkinkan.

Di tengah kondisi seperti saat ini, apa yang diceritakan Sindhunata terasa sungguh diperlukan tapi sekaligus membuat hati gamang. Saat di mana media dituntut oleh keadaan untuk tidak keras kepala menjejakkan dirinya pada hal-hal fundamental belaka, tetapi lebih banyak kepada yang adhiapora. Hal-hal ringan dan permukaan yang cenderung dicari banyak pembaca.“…misalnya dengan memakai bahasa-bahasa yang kenes, vulgar, dan adhiaporis belaka” (hlm. 45). Dengan demikian, rasanya sulit untuk “tidak sekadar menghibur pembaca, tapi turut bertanggung jawab mendidik pembacanya jadi humanis” (ibid.).

Mengakhiri Mentalitas Klangenan

Kendatipun demikian, bukan berarti tak ada jalan lain bagi tujuan luhur media. Justru di tengah gempuran informasi sebagaimana yang kita alami sekarang, keberadaan media yang kredibel amat dibutuhkan untuk menyisihkan informasi-informasi bohong yang acapkali tak bisa dirunut pertanggungjawabannya. Media dituntut untuk mencari format-format baru yang bisa senantiasa selaras dengan zaman yang sedang berlangsung. Format baru yang menuntut mentalitas, disiplin, dan teknik kerja yang lain daripada dulu.

“Format baru itu sebagai lapangan sepak bola. Di sana ada aturan permainan, ada disiplin, ada batas, ada wasit, dan penjaga garis. Kalau semuanya ini ditaati dan dapat berfungsi akan lahirlah suatu “isi” sepak bola yang indah dan menarik. Tapi kalau itu semua tidak ditaati, dan kita hanya akan bermain dengan gaya lama, maka lapangan dengan segala disiplin dan peraturannya itu juga tak berbicara apa-apa. Dengan kata lain, saya percaya, bahwa format itu seharusnya membuat kita kreatif, tak kehilangan kebebasan, dan tidak membuat kita jadi mekanis belaka.” (hlm. 158).

Salah satu yang menonjol dari format baru (yang kini semakin gencar dilakukan perusahaan-perusahaan media di Indonesia) adalah “pendek”. Berita, feature, artikel, menjadi lebih pendek daripada dulu. “Memakai istilah jurnalistik Jerman, semoga kata “pendek” tidak dimengerti sebagai Verkurzung tapi sebagai Verdichtung. Verkurzung adalah perpendekan, pemendekan, penyingkatan, sedangkan Verdichtung berarti pemadatan, kondensasi.” (hlm. 161).

Kondensasi bertujuan untuk menarik lebih banyak pembaca. Berita yang pendek memiliki daya pikat lebih bagi kemauan membaca kebanyakan orang Indonesia. Tetapi berita yang pendek tidak berarti kehilangan esensinya. Alhmarhum Rudolf Walter Leonhard, mantan redaktur koran mingguan di Jerman pernah berseloroh bahwasanya tugas para jurnalis ialah selalu dan selalu mencari bahasa yang bisa dimengerti oleh setiap orang, dan di dalam bahasa tersebut semua hal bisa dibicarakan. Itulah sesungguhnya tuntutan kerja yang paling berat.Tsah! (*)


Peresensi: Rizka Nur Laily Muallifa

Share This Story!
Shares
- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Shares