Tuesday, May 17, 2022

Terbingkai Foto

Oleh Setyaningsih—Esais

Tatkala Tuhan menciptakan manusia sebagai bentuk kuasa paling maha, manusia menciptakan teknologi foto untuk menandinginya. Kita akhirnya melihat di mana-mana, kedigdayaan foto mengabadikan raga-raga meski nyawa telah kembali ke pangkuan Tuhan. Wajah-wajah tetap terbingkai meski usia merenta. Manusia ingin mengawetkan usia dan menunda kematian. Aneka ekspresi dibekukan seolah tiada lagi pertemuan esok hari. Orang-orang dibuat tidak saling mengingat hanya dengan kata, tatapan, senyuman, jabat tangan, suara percakapan, atau ingatan meski samar-samar.

Nyaris bersamaan, Disney-Pixar meluncurkan buku sekaligus film berjudul Coco (Lee Unkrich, 2017). Berlatar peristiwa peringatan orang mati atau Dia de Los Muertos di Meksiko, foto jadi kunci mempertautkan orang-orang di Dunia Hidup dan orang-orang mati di Dunia Arwah. Setiap perayaan Dia de Los Muertos, para keluarga yang masih hidup meletakkan foto-foto anggota keluarga yang meninggal di ruang ofrenda (pengingat) agar para arwah bisa menyeberang dan pulang menjenguk keluarga. Tanpa foto, mereka tidak bisa datang. Para arwah yang tidak dipajang fotonya, berarti perlahan dilupakan dan dilenyapkan dalam ikatan keluarga.

Tokoh utama anak di film Coco, Miguel Rivera, memiliki tugas mahaberat. Miguel harus membawa foto kakek canggah, Hector, dari dunia para arwah ke dunia orang hidup dan memasangnya di ruang ofrenda agar Hector tidak mengalami kematian kedua: sirna dan tuntas dilupakan dari perigi ingatan keluarga yang masih hidup. Selama beberapa generasi, Hector dilupakan karena meninggalkan istri dan anak untuk bermusik bagi dunia. Tindakan ini membuahkan kutukan dilupakan dan tidak dimaafkan. Akhir yang mengharukan bahwa Coco sebagai anak dan generasi terakhir yang mengingat Papa Hector justru kembali merasakan kehadiran Hector dalam lagu Ingat Aku. Lirik lagu, kata-kata, mengembalikan kenangan, menggerakkan tangan-tangan keriput, dan membuat mulut renta Coco bersenandung sebelum sesobek foto.

Foto memasuki wilayah manusia dari yang sakral sampai profan. Ia disimpan di tempat paling usang sampai termewah. Di pelbagai zaman, foto itu sepertinya lebih hakiki menggantikan patung, relief, gambar gores tangan, atau benda-benda yang mewadahi memori visual atas narasi beragama, berkebudayaan, atau berpolitik di pelbagai peradaban. Lydia Kieven (2014) sempat melakukan penelusuran figur bertopi di relief candi masa Majapahit. Fungsi religius candi-candi Majapahit di Jawa Timur tampak dari patung-patung dewa yang menempati bilik-bilik candi. Merasakan keberadaan dewata sebagai peristiwa transendetal, tetap harus diwakili oleh patung yang mewakili rupa dan berkesan amat manusiawi. Termasuk relief-relief indah yang dipahatkan di candi, menjadi jalan bagi para peziarah menyatu dengan Yang Maha Kuasa atau penghubung ke masa lalu jati dirinya.

Keluarga Terbingkai

Sekarang, kita menyaksikan zaman yang keterlaluan sering membingkai keluarga dalam foto, mengalbumkan perasaan dalam sekali klik, dan memaku ekspresi dalam pose yang tidak lagi takut, terkejut, seolah mati seketika cahaya-suara menyerang. Sejak pembentukan keluarga baru atau membangun rumah tangga, keluarga tidak akan sah menjadi keluarga sebelum memiliki foto. Istilah “foto keluarga” setara pentingnya dengan anak, nasi, nafkah, pekerjaan, ataupun rumah. Terkadang, foto keluarga yang tampak sumringah justru ampuh dipakai untuk memanipulasi keretakan, kekoyakan, dan penderitaan emosional berkeluarga.

Di masa 80-an, majalah Femina sempat merawat foto-foto “tempo doeloe” kiriman pembaca untuk dipasang di halaman “Dari pembaca”. Redaksi mengatakan, “Bila Anda memiliki foto-foto nostalgia dari nenek-nenek 50-an tahun yang lalu (syukur-syukur kalau ada ratusan tahun yang lalu), kami gembira untuk memuatnya. Jangan lupa ceritakan isi foto tersebut: busana dan perlengkapannya, peristiwa pemotretan pada waktu itu, dan lain-lain. Sebaiknya foto tersebut Anda reproduksi dulu, copynya saja kirimkan pada kami.” Redaksi tidak ingin foto hanya sekadar jadi foto, tapi memiliki cerita. Dilihat dari usia foto, ada kesan kemewahan berfoto pada masa itu. Foto keluarga hanya dimiliki oleh keluarga kulit putih, Indo, bangsawan pribumi, atau kalangan pegawai negeri. Tidak banyak keluarga di Hindia Belanda yang bisa sengaja mengabadikan keluarga dan pelbagai momentum dalam selembar foto.

Femina edisi 10 Agustus 1982, memuat foto lawas bertahun 1918 keluarga kakek-nenek, kiriman Sjarief Chalik dari Jakarta Selatan. Foto berlatar di Lampung menampilkan keluarga berbusana serba putih. Kakek mengenakan setelan Barat lengkap berdasi kupu-kupu, nenek tabah dalam balutan kebaya serta jarik, dan Ibu Sjarief-bersaudara seturut dengan kakek dalam balutan busana Eropa. Kita cerap potongan cerita Sjarief, “Saya memang sengaja tidak menyebut nama keluarga, sebab bukan tokoh nasional ataupun orang terkenal. Kakek saya adalah orang biasa saja dari kalangan pegawai negeri, walaupun pernah berjasa karena membuat jalan yang menghubungkan Tarutung dan Sibolga.” Foto bercerita sejarah keluarga dan ada sebagai warisan klasik. Pengirim foto tidak selalu pernah mengalami pertemuan secara ragawi dengan beberapa sosok di dalam foto. Mereka hanya ditalikan oleh darah atau trah.

Masuknya teknologi kamera ke gawai, benda teknologis paling sering dipegang beberapa dekade terakhir, membuat orang-orang mudah diajak gila-gilaan berfoto secara selfie atau wefie. Kamera nyaris tidak terpisahkan untuk mengabadikan momentum keluarga liburan, makan, sekolah, wisuda, nonton, ngantor, arisan, tidur, bermain, dan bahkan beribadah. Foto bisa diproduksi sekaligus dimusnahkan setiap detik, tidak lagi dibingkai dalam pigura mewah atau album konvensional yang tersimpan sebagai kenangan langka nan penting. Media sosial telah menjadi album mahahidup, mengunggah kembali foto-foto yang bahkan telah dilupakan para pemiliknya. Foto-foto lekas berunjuk dan bertarung menunjukkan siapa yang paling berhasil (pura-pura) bahagia. Sungguh banyak foto, tapi cukup sering tidak berbicara apapun. (*)

Share This Story!
Shares
- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Shares