Tuesday, May 17, 2022

Perjumpaan Iman dan Arsitektural

Oleh Setyaningsih—Penulis Kitab Cerita (2020)

Presiden Joko Widodo menamainya terowongan silaturahim. Sebuah tanda persetujuan dari bakal terowongan penghubung Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral yang tercetus dari dialog antar pemangku kedua rumah ibadah. Dua rumah Tuhan saling bertetangga harus semakin diharmonikan oleh infrastruktur fisik yang secara simbolik menopang gairah toleransi dan keberagaman dalam naungan kebangsaan (Republika, 14 Februari 2020). Bakal terowongan sudah tentu mencipta kesetujuan dan ketidaksetujuan. Yang mempertanyakan dengan istilah “apa urgensinya” atau “nilai strategis” menganggap (manusia) Indonesia lebih butuh infrastruktur sosial atau pembangunan di sektor (mental) ekonomi.

Pertanyaan tentang urgensi dengan penekanan sikap ‘mengabaikan’ pengagungan materialitas adalah ironi ketika hari ini semakin memasuki masa materialisme masjid. Inilah masa benar-benar membangun secara fisik menuju Indonesia jutaan masjid dari tingkat RT. Dalam radius beberapa meter, kita dengan mudah bisa bertemu masjid, termasuk lembaga-lembaga pemerintah atau non-pemerintah yang memiliki masjid atau musala sendiri di kompleks kerjanya. Sepertinya tidak ada elite-agamawan yang berani bertanya “apa urgensinya” karena berpura-pura tidak melihat sikap fanatik berpunya bangunan masjid.Fanatisme kepemilikan ini tidak jarang memicu konflik yang melukai iman. 

Sejak digagas dan dikembangkan pada 1954-1955 lewat sayembara perancangan masjid nasional, Masjid Istiqlal menaungi perjumpaan danbahkan pergolakan iman. Inilah proyek monumental Sukarno yang dilanjutkan pembangunannya di masa Soeharto.Sang arsitek, Friedrich Silaban, adalah seorang Batak Kristen. Dalam buku biografi arsitektur mewah berjudul Friedrich Silaban (2017), Setiadi Sapandi membabarkan kerja Silaban secara arsitektural sekaligus rohani-psikologis. Silaban menekuni bentuk demi menemukan jiwa dari ruang teologis yang kelak menaungi sembahyang orang-orang Islam. Silaban pun sempat resah karena merancang tempat ibadah yang bukan agamanya.

Perjumpaan iman dalam arsitektural jelas tidak bisa mengabaikan material-duniawi untuk sampai pada hal yang transendental. Di sini, rancangan Silaban berhasil menjembatani dua hal ini dengan kelegaan sekaligus kekudusan tidak saja bagi pemeluk Islam. Kita cerap, “Emper kelililing inilah yang mendefinisikan “emper raksasa”. Di area ini umat dihadapkan pada suatu pemandangan spektakuler komposisi arsitektural yang telah “dibersihkan” dari berbagai elemen kota; hiruk-pikuk jalanan, pepohonan, dan berbagai gangguan visual lainnya telah ditiadakan di luar “bingkai”. Yang disaksikan di hamparan raksasa ini adalah pucuk kubah, menara yang menjulang, deretan kolom jangkung agung, bingkai emper keliling, dan langit berawan Jakarta. Emper ini mempersiapkan kita memasuki ruang utama melalui celah-celah gelap di antara kolom-kolom raksasa, melewati batas suci, hingga bersujud menghadap kiblat di bawah kubah raksasa.”

Meruang

Di masa kolonial, nama CP. Wolff Schoemaker menempati lembaran penting dalam perancangan arsitektur tropis modern. Schoemaker turut dalam gairah perdebatan akademis tentang identitas-tropikalitas arsitektur Indonesia yang ditandai oleh dua hal penting; pembukaan sekolah arsitektur pertama di THS (Technische Hoogeschool) pada 1921 di Bandung dan pembentukan NIAK (Nederlandsch Indischen Architecten Kring atau Lingkar Arsitek Hindia Belanda) pada 1923. Di buku Arsitektur Tropis Modern (2018) garapan C.J. van Dullemen, Schoemaker tanpa sebab yang diketahui, berpindah dari agama Katolik ke Islam pada 1915.

Meski pilihan iman tidak terlalu tercermin dalam garapan arsitektural, Schoemaker sangat tertarik dengan seni serta arsitektur Hindu dan Islam. Menurutnya, arsitektur Barat yang modern dengan India klasik adalah adaptasi pas untuk lingkungan tropis. Schoemaker hanya pernah merancang tiga rumah ibadah; dua gereja dan satu masjid. Dibangun pada 1934, Masjid Nijlandweg di Bandung menjadi salah satu bangunan penting dalam pencarian jati diri arsitektur di Hindia Belanda dan satu-satunya ekspresi perjumpaan Schoemaker dengan iman yang “baru” dikenalnya.

Kita cerap, “Orientasi masjid Nijlandweg sempurna, seperti yang diharapkan dari seorang arsitek Muslim. Wolff Schoemaker memasukkan semua elemen yang secara tradisional ada di masjid karena “pada kedua sisi masigit terdapat dua tempat wudu segi delapan yang dilapisi dengan ubin berglasir untuk ritual pembersihan diri”. Adapun masjid tidak memiliki menara minaret tempat azan dikumandangkan. Walaupun demikian, bagian tengah dinaikkan di atap piramida untuk memanggil jemaahnya melaksanakan salat. Puncak atap dihias dengan bola dunia dan bulan sabit dari keramik.” Tidak ada kubah, konstruksi masjid memang mirip pendopo Jawa.

Tubuh meruang memang peristiwa yang sangat ragawi. Di sini, para arsitek menentukan keruangan yang akan menaungi pengalaman teologis-personal banyak orang. Segala elemen arsitektural, entah pintu, jendela, lantai, dinding, langit-langit, atau atap yang membawa potensi menaungi dan meruangi, adalah sarana menuju pelukan ilahiah yang hening, hangat-bercahaya, dan hening. Tepat seperti yang dikatakan oleh arsitek sekaligus penyair Avianti Armand (2017), “…sesungguhnya sebuah rumah ibadah, lengkap dengan simbol-simbol dan kualitas sakralnya, hanyalah sebuah ruang transisi yang dimaksudkan untuk membantu kita pergi ke satu ruang yang lebih pribadi. Lebih sakral. Suwung.” Ruang dan Tuhan mengajari momentum kefanaan sekaligus kekekalan, yang material sekaligus spiritual.

Tidak banyak masjid yang semakin berhasil mengantarakan dua hal fundamental. Kita tidak tahu apakah setiap orang yang beribadah di masjid menyadari momentum bersujud itu sebagai peristiwa amat personal atau sekadar suatu rutinitas yang kolektif.Begitu banyak hari ini masjid dibangun, orang-orang dibuat melihatnya sebagai bangunan sangat material saja. Sedang di era wisata (bangunan) masjid ini, bentangan sajadah di pematang sawah atau alas di tanah lapang yang jelas tidak dinaungi secara spasial tidak lagi memiliki arti. Era wisata bangunan butuh memotret, berpose, dan mematri di Instagram. Ruang tinggal ruang untuk didatangi, lalu ditinggalkan.

Saya teringat adegan di film The Ottoman Lieutenant (Joseph Ruben, 2017). Pada sebuah masjid di Istanbul masa kejayaan dinasti Ottoman, secara sederhana terjadi pertemuan iman dari seorang perempuan Kristen di naungan arsitektural Muslim. Ada rengkuhan ilahiah bercampur takjub meski di balik arsitektural itu tersembunyi biografi perang, penaklukan, kuasa-menguasai. Saat menatap langit-langit masjid, perempuan Kristen itu berkata, “Seperti berada di dalam pikiran Tuhan.”

Ah, kita memang butuh masjid, tapi tidak perlu sampai jutaan jumlahnya! (*)

Share This Story!
Shares
- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Shares