Tuesday, May 17, 2022

Menjelajah Barus, Membentang yang Silam

Oleh Setyaningsih—Esais

Tanah-tanah yang digali, meninggalkan tinggalan-tinggalan yang pantas diselami. Tanah menyimpan tuah dari sebuah masa. Peristiwa yang terkubur perlahan dibangunkan oleh kerja ekskavasi para arkeolog. Kita dibentangkan jarak dan waktu melalui buku Barus Seribu Tahun yang Lalu (2017) sebagai lanjutan dari Lobu Tua, Sejarah Awal Barus (YOI, 2002). Kerja menggali memang bukan kerja pasti dan sekali jadi. Penggarapan dua buku ini menunjukkan usaha menjenakkan diri pada hal-hal yang masih buram, tidak pasti, dikerubuti kabut misteri, dan membutuhkan rawatan atas pelbagai perkiraan.   

Claude Guillot bersama Marie-France Dupoizat, Daniel Perret, Untung Sunaryo, Heddy Surachman, Mohammad Ali Fadillah, Ludvik Kalus, Sugeng Riyanto, Sonny Ch. Wibisono, membawa kita ke situs Lobu Tua untuk membaca Barus di Sumatra ketika masih menjadi pusat perdagangan, persinggahan, penyemaian agama Islam, dan pertukaran kebudayaan. Sumber-sumber berita dan cerita sebelum abad ke-16, bahkan mewajahkan Sumatra bagian utara dengan hasil bumi yang mapan, tumbuhan, atau tambang. Pelabuhan dagang hidup karena hasil bumi dari pedalaman meramaikan perdagangan lintas bangsa. Sumber Arab menyebut Fansur atau Barus sebagai ladang kamper (Denys Lombard, 2014).

Di pengantar Lobu Tua, Sejarah Awal Barus dikatakan, “Barus termasuk dalam golongan kota-kota kuno yang terkenal di seluruh Asia sejak sekurang-kurangnya abad ke-6 M, berkat hasil hutannya, terutama kamper dan kemenyan. Selain itu, nama Barus juga muncul dalam sejarah peradaban Melayu dengan Hamzah Fansuri, penyair mistik terkenal yang baru-baru ini ditemukan kembali makamnya di Mekkah. Usaha untuk memecahkan rahasia sejarah Barus sudah dilakukan sejak hampir satu setengah abad yang lalu, khususnya dalam bidang epigrafi dan pembahasan sumber-sumber tertulis. Walaupun tidak lengkap, penelitian awal ini merupakan sumbangan yang sangat berarti pada sejarah Barus.”

Barus di Sumatra berdasarkan prasasti yang ditemukan, makam, pecahan keramik, tembikar, potongan kendi, logam, dan manik-manik, menujukkan Barus adalah pelabuhan besar atau pusat perdagangan internasional pada masanya. Inilah tempat temu persilangan budaya nusantara dan negeri-negeri asing (India, Sri Lanka, Timur Tengah, Cina) serta bagian dari jaringan persebaran Islam. Dunia Islam dan Melayu berpadu di Barus, menarik pencatatan bagi para penjelajah, peneliti, atau para pengarung lautan. Menuju penjelajahan seribu tahun lalu, Claude Guillot memulainya dengan mengajak kita meraba bentuk pusat kota yang telah dibagi-bagi ke beberapa sektor. Tradisi lokal, catatan mengenai Barus atau Fansur di sumber-sumber asing, dan data mengenai kamper sebagai komoditas ekspor utama Barus, dipakai untuk membuka sejarah yang terkubur. Rasanya, merekonstruksi ulang bentuk kota sama kaburnya dengan ditinggalkan kota yang kemungkinan dikarenakan serangan dari pihak luar.

Pengimpor dan Pengekspor

Setiap serpihan temuan memang menentukan pewajahan Barus sebagai kota yang penting di Sumatra meski terlupakan. Kita cerap, “Dari hasil pembacaan katalog temuan, jelas bahwa sebagian besar dari artefak yang ditemukan di Lobu Tua berasal dari luar negeri. Namun artefak buatan lokal juga ada. Memang sebagian dari tembikar dengan jelas menunjukkan pengaruh dari luar dan sekaligus ciri-ciri sederhana yang mengingatkan pada pembuatan lokal. Selain itu, tungku-tungku “bersayap” lebar tentu juga buatan orang setempat dengan bahan yang sama dengan tembikar lokal.” Kehidupan multietnis pun tercipta yang kita mungkin patut mengenang lagi bahasa Melayu sebagai perantara nasib para pedagang yang saling membaur di Barus, “…bahasa Melayu digunakan di pantai barat Sumatra pada abad ke-10 M. Kehalusan, keluwesan, dan kemantapan bahasa Melayu yang dapat dinikmati dalam karangan abad ke-15, atau ke-16 dari penyair Hamzah Fansuri, seorang Barus, membuktikan bahwa bahasa tersebut sudah mempunyai tradisi yang lama di kota Barus.”

Di antara artefak, kendi menjadi menarik dibahas karena perabot yang kini menjadi amat sosialis di kehidupan religius dan agraris justru  tidak lahir di nusantara. Sezaman dan sesudah masa Lobu Tua, kendi ditemukan di Candi Gumpung (Muara Jambi), sebuah tempat ibadat abad ke10/11 M. Di Leran Jawa Timur, dihuni pada abad ke-10 M sampai ke-14 M. Ada juga di Banten pada abad ke-10 M. Kendi tipe halus dan bebas temper yang dibahas di halaman 191-201 dan banyak ditemukan di Lobu Tua, memungkinkan percaturan beberapa kebudayaan India, Cina, dan Timur Tengah di Teluk Benggala. Pembuatan dengan teknik roda cepat, menjadikan alasan kendi tidak dibuat di tanah Melayu. Namun, temuan tungku-tungku pembuatan di selatan Thailand, Pa-O, membawa kemungkinan lain. Yang sepertinya bisa kita tebak bahwa Barus memang menggerbangi peredaran aneka tembikar, kuali, mangkuk, kendi, pot sampai masyarakat lokal mengadopsi dan memroduksi sendiri dengan cita rasa yang khas, berkisar di peristiwa kultural yang khas mereka pula.

Penduduk Barus bisa dikatakan sebagai pengimpor barang-barang. Namun, Barus sempat menahbisakan diri sebagai pengekspor emas yang sempat membikin para peneliti heran, terutama karena jumlah penduduk yang relatif sedikit. Di sini ada lagi perhubungan etnis dan kerja sama perdagangan, “Di Jawa muncul mata uang pertama di Nusantara dan mata uang dari Barus jelas terilhami oleh mata uang perak Jawa: hiasan bunga cendana yang sama di sisi a dan sisi b. Berdasarkan penemuan prasasti dalam bahasa Jawa Kuno di Lobu Tua, jelas bahwa orang Jawa telah berperan penting di Barus, walaupun intinya belum dapat dipastikan.” Meski, pendulangan di sungai-sungai di Jawa kemungkinan tidak mencukupi kebutuhan emas. Mereka mendapat emas dari pertambangan di Sumatra. Claude Guillot dkk pun mewartakan sumber Arab paling kuno tentang Asia Tenggara, Akhbar al-Sin wa-I-Hind (851 M) yang mencatat tambang-tambang emas di Sumatra. Orang Cina mencatat Maharaja Sriwijaya yang mahakaya.  

Kerja para arkeolog membukakan pintu pada masa lalu berjalan di antara kelindan keraguan dan kepastian. Setiap langkah, mereka mengajak kita memperkirakan, berhipotesa, dan menduga-duga serupa menyimak cerita-cerita misterius yang membiakkan rasa penasaran. Kita memang harus berterima kasih kepada para arkeolog yang menguyupi diri dalam ekskavasi tiada putus demi menyajikan sejarah dan membuat kita malu melupa. Bentangan sejarah seribu tahun yang lalu terasa padu, terasa dekat atas sejarah kenusantaraan kita. (*)

Share This Story!
Shares
- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Shares